Soonyoung menyelipkan anak rambut gadis di depannya ini. Senyumnya terus terukir di wajah tampannya membuat gadis di depannya itu tersipu.

"Kau mau makan apa? Pesan saja." Gadis di depannya menggeleng pelan membuat Soonyoung mengernyit heran.

"Nanti kau sakit, chan-ah!" Soonyoung mencubit pipi Chan yang agak tembam itu.

"Aku tidak akan sakit kalau kau selalu ada di sampingku, Soonyoung oppa." Dan detik itu juga entah mendapat dorongan darimana, Soonyoung memajukan kepalanya dan mencium bibir gadis bermata cokelat itu.

Di luar restoran, ada sepasang iris hitam yang memergokki kejadian tersebut. Gadis bertubuh mungil itu meremat bagian bawah kaos yang ia gunakan hingga tak berbentuk. Kepalanya ia dongakkan untuk menahan bulir air mata yang siap mengalir. Dengan langkah cepat gadis mungil yang mengenakan jeans hitam itu berlari mengikuti arah kakinya yang membawanya pulang dari tempat nista tersebut.


-gimmelatte-

PRESENT

Love Complicated

.

"Aku akan membahagiakanmu suatu saat nanti. Tunggu aku." –Kwon Soonyoung

"Aku akan menenagih janjimu saat itu." –Lee Jihoon

.

Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Slight! Meanie, Jicheol, Soonchan

.

Genre : Sad, romance, lit bit comedy.

Rating : M

.

WARNING!

typo(s), genderswitch for uke, au


"Bagaiana aku bisa sabar hiks-" lagi-lagi Jihoon menggantung ucapannya. Lagi-lagi air mata itu mengalir membuat hati Jihoon tercubit.

"Jelaskan kepadaku, Wonu-ya! Bagaimana aku bisa sabar jika yang Soonyoung cium itu sepupuku sendiri, Lee Chan, Jeon Wonwoo-ya, Lee Chan!" Jihoon menekan suaranya pada kata 'Lee Chan' dan sedikit menaikan intonasi suaranya. Wonwoo yang mendengar itu hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat membuat pemuda di depan gadis bermata onyx tersebut kebingungan.

"Jihoon-ah." Ujar Wonwoo lirih. Sungguh ia ingin menemani sang sahabatnya kali ini.

"Aku ingin memelukmu, Wonwoo-ya." Dan akhirnya liquid bening mengalir dari mata Wonwoo.

"Aku juga ingin memelukmu." Wonwoo tersenyum getir. Ia tahu bagaimana perasaan Jihoon sekarang.

"Wonu-ya, aku harus bagaimana?" Wonwoo terdiam.

"Kau harus lupakannya."

"Tapi bagaimana caranya, Jeon Wonwoo?"

"Kau bilang padaku sekitar satu bulan yang lalu, ayahmu akan mengirimu untuk belajar s2 benar kan?"

"Iya." Jihoon mengangguk.

"Ambil saja tawaran itu, siapa tahu saja kau bisa melupakannya seiring waktu di tambah dengan jadwal kuliahmu yang kemungkinan agak padat." Jihoon mencerna semua perkataan Wonwoo.

"Aku tidak yakin itu akan berhasil, Wonu-ya."

"Jangan pesimis dulu, kau pasti bisa."

"Akan ku coba."

"Yasudah jangan menangis lagi ya, tidak sepantasnya kau menangisi orang yang sudah menyakitimu tanpa menyadari kesalahannya yang dulu."

"Hmm." Jihoon hanya bergumam, mengiyakan perkataan Wonwoo.

"Sudah ya, aku ada kelas, ingat jangan menangisinya lagi, itu sama saja kau membuang air matamu sia-sia, aku sayang kamu." Jihoon tersenyum.

"Kau belajar yang benar jangan berpacaran terus dengan calon suamimu itu, aku sayang kamu juga." Kemudian Jihoon memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Jihoon berjalan gontai menuju kasur nyamannya. Ia butuh istirahat setelah membuang tenaga dengan percuma.

"Maaf, nomor yang anda telepon sedang sibuk, silahkan meninggalkan pesan setelah tanda bip." Soonyoung menghela napasnya kasar. Ini sudah panggilan ke delapan namun Jihoon tidak mengangkat teleponnya juga. Pikirannya makin kalut sekarang. Ia terus saja mendial nomor gadis mungilnya, namun tetap tidak ada jawaban.

"ARGGHH!" Soonyoung melempar ponselnya ke sembarang arah. Tidak di jawab lagi. Pemuda berumur 23 tahun itu mengacak rambutnya frustasi.

"Jihoon-ah jangan seperti ini." Soonyoung bermonolog sendiri. Pemuda bersurai cokelat tersebut meraih ponselnya yang terselip di antara bantal dan ia langsung membuka pesan.

'Lee Jihoon, ku mohon angkat teleponku. Aku ingin jelaskan semuanya.' Soonyoung mengirim pesannya tersebut. Soonyoung mengentak-hentakkan kakinya. Ia merasa amat bodoh sekarang.

"Soon-ah!" sang ibu mengetuk pintu kamarnya hingga Soonyoung terdiam.

"Seokmin di depan, nak. Keluarlah." Soonyoung menatap pintu dengan antusias. Pasalnya Seokmin merupakan kakak dari Chan.

"Suruh dia masuk saja." Soonyoung meringsutkan badannya di lantai dan tiduran telentang di lantai yang dingin.

"Hyung?" pemuda bermata sipit itu menolehkan kepalanya saat suara yang sangat amat ia kenal memanggil namanya. Ia melihat pemuda yang lebih muda darinya itu berada di ambang pintu dan menyengir lebar kearahnya.

"Masuk." Dan Seokmin yang jauh lebih tinggi darinya itu berjalan memasuki kamar megah Soonyoung setelah menutup pintunya.

"Bangun kau, nanti sakit." Seokmin menendang pelan kaki pemuda yang lebih tua darinya itu

"Biarkan saja kalau aku sakit. Itu juga masih belum bisa mengurangi rasa sakit hati Jihoon." Seokmin berhasil di buat bingung dengan ucapannya.

"Wae? Ceritakan padaku." Seokmin kemudian duduk tepat di sebelah Soonyoung.

"Aku putus dengannya." Seokmin melotot kearah Soonyoung.

"Bagaimana bisa?"

"Ini juga ada sangkut pautnya dengan adikmu." Seokmin menatap tajam Soonyoung membutuhkan penjelasan.

"Kenapa kau selalu hobi membawa orang ke dalam masalahmu dengan Jihoon?"

"Kau tidak mengerti saat itu, Seok-ah!" Soonyoung mendudukkan badannya menghadap Seokmin yang terus saja melihatnya dengan tatapan meminta penjelasan.

"Jelaskan!"

"Ne, aku jelaskan, sabar." Kemudian Soonyoung menghela napas panjang sebelum berujar.

2 week later

Jihoon memasukkan semua bajunya ke dalam koper merah marun yang berukuran cukup besar dan menatanya dengan rapih. Ia harap keputusannya kali ini benar. Jihoon menutup kopernya saat semua barang yang ada di lemari dan nakas kecilnya sudah masuk ke dalam dua koper berbeda.

Jihoon menyambar paspor miliknya yang terselip tiket di dalam buku tersebut, kemudian menyambar tas ransel hitam miliknya dan tas jinjing berwarna hitam lalu memasukkan paspor dan ponselnya ke dalam tas jinjingnya.

Ia melihat penampilannya dari cermin. Rok putih selutut dipadu padankan dengan sweater merah muda, dan bandana putih yang menghiasi rambut hitam legamnya mempuat ia makin cantik. Jihoon membalikkan tubuhnya dan mengambil lip balm kemudian mengolesnya di bibir tipis miliknya. Jihoon mengerlingkan sebelah matanya sebelum ia berjalan keluar kamar dengan koper merah marun dan hitamnya.

"Aigoo anak appa, sini appa bantu." Tuan Lee mendekati sang anak yang tengah mendorong kopernya.

"Tidak usah, appa. Ini sangat berat." Jihoon mengangkat koper hitam yang ukurannya lebih kecil dan berjalan menuruni anak tangga. Sang ayah tetap saja tidak mendengarkan kata sang anak. Tuan Lee menaiki tangga dan menurunkan koper berwarna merah marun tersebut dengan hati-hati dan perlahan.

"Ini tidak berat kok, hanya kelebihan barang saja di dalamnya." Kemudian sang ayah tertawa membuat Jihoon juga tertawa. Saat sang ayah berhasil menurunkan kopernya, gadis mungil itu bertepuk tangan dan tersenyum bangga kepada sang ayah.

"Aku akan merindukan appa." Jihoon memeluk sang ayah dengan erat, seakan ia tidak mau pisah dari sang ayah.

"Kalau umma?" Nyonya Lee muncul dari arah dapur dengan wajah masam yang dibuat-buat.

"Uuuuu, aku juga akan merindukan umma." Iihoon merentangkan tangannya menghampiri sang umma kemudian memeluknya manja.

"Baik-baik nanti di sana, jangan sampai telat makan, kalau kau sudah belajar seharian penuh pasti akan lupa yang namanya makan." Sang ibu menyisipkan anak rambut sang anak di belakang telinga Jihoon.

"Aku tidak akan lupa itu. Akan ku sempatkan sebulan sekali untuk menengok kalian." Jihoon tersenyum hangat kepada sang ibu dan sang ayah secara bergantian.

"Cha, kajja, kita ke bandara nanti kau ketinggalan pesawat." Sang ayah mendorong kedua koper milik anaknya dan hal itu di sambut gelengan dari kedua wanita yang berada di dalam rumah ini.

Wonwoo memeluk Jihoon erat seakan ini pelukan untuk terakhir kalinya. Wanita bermata onyx itu menepuk pundak Jihoon pelan agar sang sahabat yang berada di dalam pelukannya ini tidak menangis.

"Jaga dirimu baik-baik di sana, arra?" Wonwoo menatap lekat manik hitam Jihoon.

"Kau juga jaga dirimu baik-baik di Perancis, Kim Mingyu tolong jaga istrimu dengan baik okay?" Mingyu mengacungkan ibu jarinya dan mengangguk mantap kemudian berjalan mendekati Jihoon.

"Aku akan merindukanmu, Noona." Mingyu memeluk Jihoon sebentar. Jihoon merupakan orang yang paling berjasa dalam hidupnya karena sudah bisa membawa Wonwoo dan menjadikan Wonwoo istrinya empat hari yang lalu.

"Aku request sama kalian." Perkataan Jihoon membuat Wonwoo dan Mingyu kebingungan.

"Saat aku kembali ke Korea dengan gelar baru di namaku, aku mau melihat keponakanku menyambutku disini juga nantinya." Dan hal itu tentu saja membuat pipi Wonwoo memerah padam.

"Aku janji. Akan ada dua orang malaikat yang akan menyambutmu di sini dua tahun lagi." Dan perkataan Mingyu itu sukses membuat Wonwoo makin merona. Sang ayah dan ibu dari Jihoon hanya terkikik dan sekali-kali menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan suami istri yang baru saja menikah.

"Aku minta suatu boleh?" giliran Wonwoo sekarang untuk menggoda Jihoon.

"Apa?"

"Aku ingin saat kau kembali ke Korea, kau membawa kekasihmu, perkenalkan ke orang tuamu dan sahabat-sahabatmu." Dan perkatan Wonwoo itu sukses membuat manik hitam Jihoon melebar.

"Aku tidak janji." Kemudian Wonwoo tertawa saat Jihoon memasang muka masamnya.

"Sudahlah, sayang jangan di goda seperti itu." Mingyu membela Jihoon.

"Kau lebih membelanya?"

"Aigoo, dasar orang baru menikah sukanya tebar pesona." Jihoon menatap sinis kearah Meanie.

"Interaksi natural." Wonwoo membela dirinya. Tak lama setelah itu, panggilan pesawat yang akan di tumpangi Jihoon mengalun di seluruh penjuru bandara.

"Sudah di panggil." Ibunda Jihoon mendekati sang anak kemudian menyampirkan mantel di tangan kanan sang anak.

"Ingat, raih cita-citamu di sana. Jaga diri baik-baik." Sang ibu mengecup kening sang anak cukup lama membuat air mata Jihoon mengalir dengan sendirinya.

"Umma, aku akan merindukanmu." Jihoon memeluk sang ibu dengan erat. Kemudian sang ayah dan pasangan suami istri yang baru menikah juga mendekat kearahnya dan bersama-sama memeluk Jihoon.

"Umma, appa, Wonu-ya, Mingyu-ya, aku berangkat dulu, annyeonggiseo." Jihoon membungkuk hormat cukup lama. Ia benar-benar akan meninggalkan negara kelahirannya selama dua tahun ke depan.

"Annyeonggiseo, chagia, saranghae." Ucap sang ibu kemudian melambaikan tangannya kearah Jihoon yang juga melambaikan tangannya.

Tbc.


Annyeong!

Balik lagi bawain ff gaje bin abal ini:) alurnya kecepetan ya? Ya namanya juga baru permulaan jadi harap di maklumi ya, terus sempet ada kendala dengan hampir nyerah karena otak udah mentok dan ga ada ide lagi:'( Tapi, gim bakal berusaha ngeimprove semuanya:)

Makasih banget buat reviewnya guys~

Sekali lagi gim minta maaf kalo jadi gaje gini dan makasih banyak atas reviewnya[]

Sampai ketemuu di chapt selanjutnya^^

Annyeong!