Chapter 2
Aroma musim semi menemani sepanjang jalan Oreki menuju sekolah. Lambaian pohon bermahkota merah muda yang sedang indah-indahnya seolah merayunya, menyalurkan energi positif dan semangat masa muda yang bergairah. Sayangnya tak sedikitpun seorang Oreki Houtarou tepengaruh dengan pemandangan demikian. Sepasang mata emeraldnya masih dinaungi kelopak mata yang selalu redup, padahal ia selalu tidur dengan porsi yang cukup.
Awal semester yang sungguh biasa. Ia berekspektasi bahwa hari pertama sekolah menandakan tak ada banyak hal yang perlu diurus. Cukup datang, upacara, mencari kelas, ketemu, dan sudahlah! Kegiatan klub tidak mungkin dimulai di hari pertama 'kan? Masih terlalu awal, setiap siswa pasti masih mengurus urusannya masing-masing. Itulah yang Oreki percaya hari ini.
"Selamat Pagi, Oreki-san..!"
Suara riang itu membuat paginya tak lagi biasa. Entah sejak kapan Oreki lupa cara menahan senyum. Senyum gadis bermata violet di sebelahnya memang menular.
"Oh, Chitanda-san? Pagi!"
"Bagaimana kabarmu?" tanya Chitanda dengan masih menuntun sepedanya.
"Aku baik, sepertinya kau juga," jawab Oreki ala kadarnya.
"Ah, lama sekali kita tidak berkumpul, aku tidak sabar segera memulai kegiatan klub!" seru Chitanda.
"Bukankah kita berdua baru saja menghabiskan waktu bersama di festival bulan lalu?"
"Eh? Maksudku, kita berempat, Fukube-san dan Mayaka-san juga, coba bayangkan betapa serunya kegiatan kita awal semester ini!"
Oreki memalingkan muka demi menyembunyikan sembuat merah di pipinya. Kita berdua, heh?
"Semoga tidak ada hal yang merepotkan," gumam Oreki yang ternyata didengar Chitanda.
"Oh, masih menghemat tenaga seperti biasa ya, Oreki-san? Kalau merepotkan sih semoga saja tidak ada, tapi ..." Chitanda menjeda kalimatnya, suara riuh penyambutan siswa-siswi kelas sepuluh begitu mendominasi pendengaran. Sepanjang halaman depan menuju gedung utama beramai-ramai para siswa senior mempromosikan klub mereka masing-masing. Benar, SMA Kamiyama dengan berbagai macam klub ini.
"Tapi ya, Oreki-san ..." Suara Chitanda yang sedikit lebih keras menarik kembali atensi Oreki, "awal semester ini kita akan ada perekrutan anggota baru, aku tidak tahu bagaimana kategori merepotkan bagimu, tapi percayalah, ini akan menyenangkan!"
Sebentar, separuh kesadaran Oreki terbawa angin ketika melihat kerumunan itu. Beberapa detik kemudian barulah ia cerna kata-kata Chitanda.
"Perekrutan ... Perekrutan? Apa?!"
Chitanda hanya tersenyum.
*
Mari katakan bahwa hari ini tak sesuai ekspektasi Oreki. Pemuda loyo itu tak mengira akan ada rapat klub yang semestinya —untuk klub yang kurang populer seperti kotenbu ini— tidak penting. Perekrutan anggota baru? Pentingkah? Siapa yang mau bergabung dengan klub membosankan ini? Memangnya apalah kegiatan rutin klub ini selain mengobrol dan diskusi tentang kasus-kasus misteri?
Ah, apa sebaiknya klub ini diganti menjadi klub detektif? Tidak, Oreki tak mau disebut detektif, ada kenangan buruk tentang itu. Bagaimana kalau klub misteri? Ah, sudahlah! Jika tidak lagi bernama kotenbu sebaiknya Oreki harus keluar. Kenapa? Karena ia hanya terpaksa menuruti perintah kakaknya agar bergabung di kotenbu, bukan yang lain.
"... Ki! Ooreekiii!"
"Apa???"
Seruan Ibara membuyarkan lamunan Oreki.
"Aduh! Ini hari pertama kegiatan! Bisa tidak, sih, mukamu itu semangat sedikit?! Tidak enak banget dilihat, tahu!" omel Ibara panjang lebar.
"Ya sudahlah, jangan dilihat!" balas Oreki sewot.
"Parah, deh, manusia satu ini! Apa perlu ada festival boneka setiap hari agar kau terlihat bergairah penuh semangat?" timpal Fukube dengan seringai jahilnya.
"Festival boneka?" sahut Chitanda. 'Watashi kininarimasu' nyaris ia lontarkan, penasaran tentang apa hubungannya semangat Oreki dengan festival boneka. Namun, aura gelap tampak menguar di sekeliling Oreki.
"Aduh, serem!" ledek Fukube.
"Ah, iya, festival boneka bulan lalu memang menyenangkan, t-tapi Oreki-san ... Kegiatan klub tahun ini juga pasti menyenangkan, kau tahu kenapa?" kata Chitanda mulai mengoceh, "karena ... Karena dengan adanya anggota baru kelas sepuluh, kita akan dipanggil senpai, Oreki-senpai!"
Simsalabim! Wajah Oreki yang datar tiba-tiba memerah ketika Chitanda memanggilnya demikian.
"Oreki-senpai? Oreki-senpai makhluk no life bikin semangat luntur saja! Bukan tipe idaman adik-adik kelas!" sindir Ibara.
"Pun aku tidak berminat menjadi idaman mereka!" jawab Oreki tak peduli.
"Benar, yang penting jadi idaman si doi saja," timpal Fukube pasang tampang bodoh.
"Sudahlah, jangan menyudutkan Oreki-san terus, kalau sampai marah beneran bisa gawat, lho!" jawab Chitanda.
"Oreki mana mungkin bisa marah."
Kata-kata itu sungguh menggelitik perasaan Oreki. Perlukah suatu hari nanti Oreki tunjukkan kemarahannya atas sesuatu? Terlebih lagi di hadapan Chitanda, mungkinkah? Bagaimanapun kata-kata itu benar. Oreki tak akan bisa marah. Ia akan tetap tinggal di klub ini. Tak peduli betapa pun tajamnya kata-kata temannya.
"Jadi, teman-teman, untuk promosi sebaiknya kita bikin poster seperti klub-klub lain, tolong bantu desain ..." Chitanda selaku ketua klub mulai memfokuskan kembali arah diskusi. Ah, gadis itu.
Oreki tak mungkin meninggalkan klub ini selama ... Selama, ya, selama ada Chitanda di sini. Kenapa pula Oreki harus keluar ketika kotenbu sudah menjadi tempat yang nyaman baginya?
.Bersambung.
