Bab Dua.


.

PUKUL SETENGAH SEPULUH PAGI. Potongan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah tirai yang terbuka membangunkan Sasuke. Ia mencoba membuka matanya dengan amat berat dan sesaat langsung mengerjap seraya mengerang tertahan.

O, matahari sudah beranjak naik rupanya.

Sasuke berusaha meluruskan kakinya yang ditekuk selama tidur tadi. Sambil terus mengeluarkan suara erangan—sebab orang yang baru saja bangun tidur memang akan melakukan hal itu, Sasuke merasakan sebelah tangannya terulur meraba sisi tempat tidurnya.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Mata pemuda itu terbuka cepat dan ia segera memaksa dirinya untuk bangun. Dan apa yang dilihat oleh Sasuke selanjutnya memang benar adanya. Sisinya kosong. Sakura tidak ada di sana. Ah, sial. Dia kedahuluan oleh gadis itu untuk bangun. Padahal Sakura sendiri yang berkata bahwa ia sangat lelah dan jet-lag, namun entah mengapa malah gadis itu duluan yang terbangun dan meninggalkan Sasuke di atas tempat tidur.

Sasuke menarik napasnya dalam-dalam. Memenuhi seluruh dadanya dengan pasokan udara sebanyak yang ia bisa. Setelah itu ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian merentangkannya. Tak lama kemudian ketika pengelihatan Sasuke sudah sepenuhnya jelas, pemuda itu bangkit berdiri dan melakukan peregangan singkat menghadap jendela.

Lalu ia menyadari sesuatu.

Kepala pemuda itu tertoleh ke arah tempat tidur. Entah mengapa tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya. O, tidak. Jangan bilang bahwa beberapa jam yang lalu ia berbagi ranjang bersama Sakura. Sial. Itu gawat. Bagaimana jika saat mereka tidur tadi Sasuke tidak sadar dan melakukan sesuatu yang…. Nah.

Meski pun tidur bersama Sakura bukanlah hal yang baru bagi Sasuke, namun tetap saja. Usia mereka kini sudah memasuki kepala dua. Hal-hal buruk yang mungkin saja tidak diinginkan bisa terjadi. Apalagi dengan ikatan yang begitu dekat antara dirinya—dan gadis itu merupakan satu-satunya gadis yang paling akrab dengan Sasuke setelah ibunya sendiri. Bisa jadi, kan, Sasuke kelepasan dan membiarkan logikanya mati tidak berguna? Bagaimana pun, ia adalah seorang laki-laki. Dan normal.

Sasuke merasakan kepalanya pening dan ia berdecak. Bukannya ia ingin membatasi setiap interaksinya dengan Sakura. Hanya saja… entah mengapa setiap kali gadis itu menyentuhnya, memeluknya, menggandeng tangannya bahkan menciumnya, Sasuke merasakan seluruh darahnya seolah mengalir ke kepala dan mendadak ia tidak bisa berpikir jernih. Ada satu rasa aneh yang menggelitik di dalam perutnya hingga membuat Sasuke ingin sekali memiliki Sakura hanya untuk dirinya saja. Walau ia tahu semua perlakuan Sakura pada dirinya itu hanyalah ekspresi dari kedekatan mereka, namun tetap saja, kan.

Sekali lagi Sasuke berdecak. Sebelah tangannya bertengger pada pinggang. Sedangkan sisanya mengacak rambut yang ada di belakang kepalanya, mengusap tengkuknya yang terasa dingin kemudian meraup wajahnya sendiri sambil mengerang lagi.

Mencoba tidak terlalu memedulikan perasaan aneh yang tengah mengusik jiwa dan pikirannya, Sasuke menarik napas dalam-dalam dan mencari ponselnya. Benda itu tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sasuke kemudian meraih ponselnya dan menemukan ada beberapa pesan serta panggilan tak terjawab di sana. Dia harus datang ke kampusnya karena ada sebuah kelas mendadak pada siang ini.

"O, great," Sasuke menggerutu dalam gumaman. Setelah meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula, mata Sasuke menangkap secarik kertas berwarna merah muda yang terselip di bawah jam wekernya. Sasuke mengerutkan kening dan mengambil kertas itu. Sebuah pesan dari Sakura?

Sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali sampai aku tidak tega membangunkan. Saat ini mungkin aku sudah ada di kantor karena urusan pekerjaan, setelahnya aku akan langsung pergi ke kampus untuk kelas susulan -.-

O, ya, aku sudah menyiapkan roti panggang dengan ekstra tomat untukmu. (Dan jangan protes soal bagian yang gosong!) Jadi makanlah yang banyak dan jangan sampai melewatkan masakan chef Sakura-mu ini :p kita ketemu lagi nanti malam.

Love, Sakura

ps: segeralah cari kunci lemarimu! Jangan sampai hari ini hingga seterusnya kau berkeliaran tanpa busana. Iyuuh.

Sasuke mendengus kecil setelah membacanya. Sakura sudah mulai bekerja lagi meski pun baru tiba tadi pagi. Gadis itu seolah tidak peduli pada kesehatannya sendiri. Setelah meletakkan kembali kertas itu di atas meja, Sasuke segera beranjak dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Seketika indera penciuman Sasuke dipenuhi oleh harum segar yang menenangkan. Harum ini sangat tidak asing. Apakah Sakura mandi di sini? Bukan kamar mandi tamu yang ada di luar kamar?

Dan sekali lagi, Sasuke merasakan sebuah gejolak yang menggelitik di dalam perutnya.

"Kau sudah sarapan, Darl?"

Sakura mengangguk singkat. Sama sekali tidak mengalihkan pandangnya dari laptop yang menyala di depan matanya pada seorang wanita bertubuh tinggi bernama Shizune yang duduk di sampingnya. Saat ini ia berada di kantor dan tengah memeriksa final result dari pemotretannya beberapa waktu yang lalu.

Shizune menghela napas dan meletakkan mangkuk salad buahnya di pangkuan. Wanita itu mengikuti arah pandang Sakura sementara mulutnya masih terus mengunyah. "Semuanya keren, bagus, dan kau terlihat cantik. Tidak usah dipelototi begitu, kau juga sudah tahu."

Sebuah senyumam mengembang di bibir Sakura. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa bangga untuk pujian dari Shizune. Orang-orang selalu menyatakan bahwa hasil dari pemotretan Sakura amatlah sempurna dan memuaskan. Namun rasanya itu cukup memusingkan juga. Sakura jadi tidak tahu di mana kelemahannya dan apa yang harus ia perbaiki dari style-nya. Yah, walau pun sebenarnya ia akan lebih menyukai pujian daripada kritikan, sih.

Sakura baru saja akan mengklik opsi next pada laptop ketika Shizune mulai berbicara lagi. "O, ya, Sakura-chan. Kau sudah dengar siapa talent kita yang terpilih untuk membintangi iklan berseri besar-besaran dari perusahaan Amerika itu?"

"Apa?" sebelah alis Sakura terangkat saat ia mencoba mengingat-ingat. Ah, iya. Kalau tidak salah sekitar satu bulan yang lalu pimpinan agensi mereka, Mr. Orochimaru, sudah memberitahukan bahwa ada sebuah perusahaan Amerika yang akan mengiklankan produk mereka di Jepang. Kabar baiknya, perusahaan itu menginginkan salah satu talent yang ada pada kantor mereka untuk menjadi bintangnya.

Iklan itu akan menjadi sebuah iklan berseri yang saling berhubungan. Maka dengan demikian, proses syutingnya mungkin akan cukup lama dan panjang. Namun semenjak Sakura berangkat ke luar negeri, gadis itu sama sekali belum mendengar kabar kelanjutannya.

Sakura mengangkat bahunya ringan. Ia melirik Shizune sekilas dan mencomot seiris apel dari mangkuk wanita itu sebelum memasukkannya ke dalam mulut bulat-bulat. "Tidak tahu."

"Kau tidak tertarik?" Shizune bertanya heran. Setahunya semua aktor dan aktris, model, bahkan penyanyi besutan Orochimaru's Entertaiment menginginkan untuk menjadi bintang pada iklan tersebut. Selain karena bayarannya yang sudah pasti besar, prospek karir jangka panjangnya juga akan cerah. Karena perusahaan itu bukan perusahaan kecil dan sudah terkenal di seluruh dunia.

"Entahlah," Sakura menjawab seadanya. Ia bukannya tidak tertarik. Membintangi iklan berseri adalah hal yang bagus untuk dirinya. Karena ia adalah seorang mahasiswi jurusan drama dan perfilman, ia bisa belajar bagaimana sebuah adegan dibuat secara langung melalui iklan itu. Tidak hanya melalui praktek-praktek dan latihan yang sering ia lakukan di kampus.

Hanya saja untuk saat ini ia sudah lumayan puas dengan kegiatannya sebagai model di majalah dan catwalk. Walau pun ia juga suka wara-wiri di televisi untuk membintangi iklan kecil-kecilan, sih. Tapi begini saja dia sudah cukup puas.

"Apa ada sesuatu yang salah? Sepertinya kau benar-benar tidak berminat," ujar Shizune. Ia memandang Sakura yang masih terfokus pada laptop. Setelahnya wanita itu menghela napas gusar. "O, Darl. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus untuk karirmu, kau tahu?"

Sakura menghela napas kecil. Setelahnya gadis itu menyandarkan punggungnya pada kursi seraya meregangkan tangannya. "Mm. Aku tahu. Entahlah, aku hanya belum memikirkannya lebih jauh," kometar Sakura pendek.

Shizune mengibaskan tangannya cuek. "Sebetulnya tidak perlu dipikirkan pun, kau sudah tahu kalau itu akan sangat bagus, Sakura-chan. Kau hanya perlu membintangi iklan ini dan… voila! Kau jadi lebih terkenal," ucap Shizune. Dan wanita itu buru-buru menambahkan ketika melihat ekspresi wajah Sakura yang berubah geli. "Maksudku, itu kalau kau mau."

"Yeah, kau benar, sih," Sakura menyahut. Setelah mematikan laptop, gadis itu mengalihkan pandangnya ke luar ruangan—pada sekelompok tim penata cahaya yang tengah bersiap-siap untuk sebuah pemotretan. Entah mengapa melihat kilatan dan sinar-sinar lampu yang sedang diuji coba itu membuat Sakura teringat pada Sasuke. Pikirannya melayang dan ia membayangkan apa pada saat melakukan praktek dan tengah bersiap sebelum memotret, Sasuke juga melakukan hal yang seperti itu?

Pasti wajahnya yang serius itu akan semakin memikat banyak hati gadis-gadis. Tanpa sadar Sakura mendengus sendiri dan ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sial. Kalau begini Sasuke bisa segera mendapatkan pacar dan meninggalkan Sakura yang tetap saja masih single sampai saat ini—oh, malah belum pernah pacaran sama sekali.

"Siapa yang akan punya pacar?" Shizune bertanya pada Sakura.

Sakura mengerjap, kemudian mata gadis itu membelalak dan ia meneguk ludahnya. Pasti karena terlalu merisaukan Sasuke, gadis itu tidak sadar bahwa sedari tadi ia sudah meracau sendiri di dalam gumaman. Buru-buru Sakura menggelengkan kepalanya dan ia mendengus cuek.

"Tidak ada," dustanya. Gadis itu memandang Shizune. "Ngomong-ngomong, bukankah talent yang akan membintangi iklan itu adalah sepasang? Apa Onee-san sudah tahu siapa kira-kira orangnya?"

Shizune yang tadinya nampak tidak puas dengan jawaban Sakura, tiba-tiba saja tersentak. Mata wanita itu seketika membulat berbinar dan ia menepukkan kedua tangannya sekali. Sepertinya pengalihan perhatian yang dilakukan oleh Sakura berhasil.

"Itu dia!" serunya. Wanita itu terlihat begitu senang seakan ia memang sudah menunggu Sakura untuk bertanya daritadi. "Mr. Orochimaru memberitahuku bahwa bintang yang satunya sudah terpilih. Sayangnya bukan dari agensi kita. Tapi tidak apa-apa, sih."

Sakura mengangguk-angguk berlagak paham. Sebenarnya ia tidak tahu mengapa Shizune terlihat begitu senang. Namun perkataan Shizune yang selanjutnya membuat Sakura jadi mengerti juga.

"Mr. Orochimaru mengatakan bahwa ia adalah seorang model sekaligus penyanyi berdarah Jepang. Namun ia lahir di Korea Selatan dan melakukan debut di sana. Dia sangat terkenal dan memiliki jutaan penggemar. Tapi yang paling penting…" Shizune menggantung kalimatnya, "Dia adalah laki-laki! Itu artinya, otomatis talent dari agensi kita yang akan menjadi pasangannya adalah perempuan. Maka dari itu aku bertanya padamu. Tapi sepertinya kau memang benar-benar tidak tertarik, Sakura-chan."

Sebelah tangan Sakura terangkat dan ia mengelus dagunya sendiri seolah berpikir. Penjelasan Shizune sudah cukup jelas. Pantas saja tadi saat ia baru tiba di kantor orang-orang terlihat begitu antusias membicarakannya sedangkan Sakura yang sudah ketinggalan banyak hal jadi seperti terasingkan ke dunia yang lain.

Mendengus setengah tersenyum, Sakura mengangkat bahunya lagi ketika menarik sebuah napas yang amat dalam. "Yah…" gumamnya. "Entah mengapa aku hanya berharap kalau yang akan membintangi iklan itu bukanlah aku."

Sasuke memasang kembali lensa kameranya. Pukul setengah enam sore dan kelas sudah usai sejak sepuluh menit yang lalu. Saat ini Sasuke tengah berada di taman kampus bersama kameranya. Dia berencana akan memotret di sekitar taman.

Setelah selesai dengan setting kameranya, Sasuke berjalan pelan menuju ke pinggiran taman dan menghadap ke sebuah kolam besar di sana. Ia mengangkat kamera dan mulai membidik. Lima menit berlalu dan Sasuke masih berada pada posisinya. Entah sudah berapa banyak potret-potret dengan angle memukau yang berhasil diabadikannya. Ia lebih suka mengambil gambar pemandangan dan kegiatan-kegiatan secara alami dibandingkan foto manusia.

Sasuke baru saja hendak menekan tombol kamera ketika ia merasakan sebuah tepukan pada punggungnya. Ia berbalik dan mendapati sosok Nara Shikamaru—teman kuliahnya—berada di dalam lensa kameranya. Sasuke lantas menurunkan kameranya, dan ia memandang Shikamaru dengan pandangan bertanya.

"Hei, Teman," Shikamaru melambaikan tangannya singkat.

Sasuke mengangguk menanggapinya.

"Ah… Pernahkah kukatakan padamu bahwa wanita itu merepotkan?" tanya Shikamaru. Wajahnya tiba-tiba saja menampakkan raut gusar dan tidak nyaman.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Ya, Shikamaru seringkali mengatakan bahwa wanita memang merepotkan. Tapi Sasuke tidak mengerti apa maksudnya sekarang tiba-tiba mengatakan hal itu. Setidaknya, sampai saat pemuda berambut nanas itu mengendikkan kepalanya ke arah belakang punggung Sasuke.

Mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Shikamaru, Sasuke segera berbalik. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia mengerti. Sesosok gadis berambut panjang dengan warna oranye tengah berdiri tak jauh darinya. Wajah gadis itu terlihat sedikit gugup dan entah ini permainan cahaya matahari sore atau bukan, Sasuke bisa melihat rona merah di sekitar pipi gadis itu.

Fuuma Sasame.

Sasuke mungkin saja akan masih berdiri diam di tempatnya kalau saja Shikamaru tidak merebut kamera Sasuke cepat. "Sana, pergi," kata Shikamaru. Ia mulai mengotak-atik kamera Sasuke. "Dia memintaku untuk menemaninya menemuimu. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang harus ia katakan."

Sesuatu yang penting yang harus dikatakan? Apa itu?

Kening Sasuke berkerut. Sasame adalah teman kuliahnya juga. Seharusnya jika ada sesuatu yang ingin gadis itu katakan padanya, tidak perlu pakai perantara segala. Namun Sasuke mencoba untuk tidak memusingkannya dan dengan patuh ia berjalan mendekat pada Sasame.

"Hai, Uchiha-kun," Sasame menyapa dengan agak ragu. Sebelah tangannya terangkat melambai dan cepat-cepat diturunkan kembali ketika melihat Sasuke yang mengangguk singkat padanya. "Aku…" gadis itu terlihat menarik napasnya. Setelahnya ia mengangkat tangannya yang satu lagi dan menyodorkan sebuah bungkusan pada Sasuke.

Sasuke sedikit terkejut dan ia menatap Sasame. "Apa ini?"

"Ini…" jeda, Sasame menundukkan kepalanya menghindari tatapan Sasuke. "Kudengar belakangan ini Uchiha-kun sering melewatkan makan malam karena setiap hari pulang larut. Dan karena Uchiha-kun tinggal sendirian, kupikir Uchiha-kun memang tidak sempat untuk memasak di apartemen. Jadi…." Sasame mengulurkan bungkusannya lagi. "Aku tidak tahu apakah Uchiha-kun akan menyukainya atau tidak, tapi aku memasak ini dengan bersungguh-sungguh."

Sasuke terdiam dan ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ini memang bukan pertama kalinya seorang perempuan membuatkan bekal atau makanan untuk dirinya. Namun dulu, Sasuke seringkali berlagak tidak membutuhkannya dan ia menolak. Tapi kini, entah mengapa ia jadi sedikit merasa tidak enak pada Sasame apabila ia menolak pemberian dari gadis itu. Mungkin karena gadis itu terlihat bersungguh-sungguh?

Tangan Sasuke terulur dan ia menerima bungkusan itu. Selama beberapa saat Sasuke hanya memandanginya dan akhirnya ia melemparkan sebuah senyuman yang amat sangat kecil. "Kau tidak perlu melakukan ini," kata Sasuke. "Tapi terima kasih."

Sasame tersentak. Kali ini bukan hanya pipinya saja, melainkan seluruh wajah gadis itu memerah seperti udang rebus.

Matahari sudah tak tampak lagi saat Sakura turun dari taksi. Ia baru saja tiba di depan gedung apartemennya Sasuke. Tadi sebelum pulang, ia sempat mampir ke The Akimichi's untuk membeli makan malam. Well, Sasuke yang mungkin sudah pulang duluan pasti belum menyiapkan apa pun apalagi memasak.

Sakura menaiki lift yang kemudian membawanya menuju ke lantai tujuh gedung. Ia meneruskan perjalanannya menelusuri koridor dan berhenti tepat di depan pintu yang berada paling ujung dari sana. Apartemen nomor 23 yang ditinggali Sasuke. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Sakura menggunakan sebelah tangannya untuk membuka pintu.

Dan seperti tebakannya, pintu itu tidak dikunci. Sasuke mungkin sudah hapal kebiasaan Sakura yang tak suka menunggu di depan pintu yang tertutup dan mengetuk seperti orang gila, jadi pemuda itu tidak akan menguncinya sebelum Sakura pulang.

"Aku pulang," Sakura menyeru ceria. Ia kemudian melepaskan sepatunya dan segera memakai sandal rumahnya yang ada di rak.

"Hn."

Tidak perlu memiliki otak yang jenius untuk tahu siapa yang menyahut tadi. Pasti Sasuke. Walau pun sebenarnya itu lebih pantas disebut gumaman daripada sahutan, sih. Sakura lantas berjalan masuk setelah akhirnya menutup pintu. Gadis itu kemudian mendapati sosok Sasuke yang tengah duduk bersila di lantai. Mata gelap pemuda itu terfokus bergantian pada kamera dan laptop-nya yang menyala.

Sakura mendengus tersenyum. Ia mendekati Sasuke dan mengacak rambut pemuda itu seenaknya, "Serius sekali."

Kepala Sasuke bergerak menghindar dan ia mendelik memandang Sakura. Namun sepertinya gadis itu tak ambil pusing karena selanjutnya Sasuke mendapati Sakura tengah berjalan cuek menuju ke dalam kamar.

"Kau sudah makan malam, Sasuke-kun?" teriak Sakura dari dalam kamar. Sasuke baru saja akan menjawab, sayangnya Sakura sudah berteriak lagi. "Hei, kau membobol pintu lemarimu, ya?!"

Setelahnya sosok Sakura terlihat mengintip dari balik kamar. Gadis itu hanya mengenakan sebuah terusan tanpa lengan yang menutup hingga sampai ke lututnya. "Apa kuncinya benar-benar hilang sampai kau harus melakukan itu?"

Sasuke menarik napasnya berat. Ia sudah berusaha keras mencari kunci itu namun tetap saja tidak bisa ia temukan. Karena ukurannya amat sangat kecil, dan Sasuke yang tidak memberinya gantungan apa pun agar mudah terlihat, sangat memungkinkan kunci itu untuk hilang begitu saja.

"Aku sudah mencarinya," Sasuke menukas. "Tapi tetap saja tidak bisa kutemukan."

Setelahnya pemuda itu meletakkan kameranya di atas meja. Ia beranjak bangun dan berjalan menuju ke meja makan. Sakura memerhatikan Sasuke seraya memutar bola matanya bosan. Meski sangat telaten dan disiplin, Sasuke bisa menjadi amat ceroboh dan cuek kalau ia mau. Akhirnya gadis itu menyerah. Ia kembali ke dalam kamar dan mengambil makan malam yang ia beli dari The Akimichi's.

Namun apa yang tengah Sakura lihat selanjutnya membuat langkah kaki gadis itu terhenti. Ia buru-buru menyembunyikan bungkusan makan malamnya ke belakang tubuh ketika mendapati Sasuke yang ada di dapur. Pemuda itu sedang membuka sebuah bungkusan—bento yang bertingkat-tingkat. Sakura mengerutkan keningnya dan ia menarik sebuah kursi untuk meletakkan bungkusannya di sana sebelum terlihat oleh Sasuke.

"Apa ini? Kau yang membuatnya?" Sakura bertanya dengan matanya yang bergantian mengawasi Sasuke dan bento itu. Terlihat isinya berbagai jenis masakan pengunggah selera. Dari aromanya saja, Sakura sudah bisa memprediksi kalau itu sangatlah lezat.

"Bukan," ujar Sasuke. Ia masih sibuk menyusun kotak-kotak bento di atas meja.

Sakura mengerutkan keningnya. Mendadak rasa penasaran langsung menelusup ke dalam dada gadis itu dan cepat-cepat ia membuka suara. "Kau membelinya? Atau seseorang memberikannya padamu?'

Namun Sasuke yang masih tetap bergeming membuat rasa puas sangat jauh berada di dalam angan Sakura. Pemuda itu malah menarik sebuah kursi dan mendudukkan dirinya di sana. Tangan Sasuke terulur dan ia mengambil dua pasang sumpit, yang akhirnya ia bagi untuk dirinya dan Sakura. "Kau pasti belum makan," tebak Sasuke. "Kita makan sekarang."

Sakura menerima sumpit itu dengan resah. Sasuke sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Namun ia terlalu enggan untuk mendesak. Akhirnya gadis itu menyerah dan menurut pada Sasuke. Ia mengambil satu per satu makanan yang ada di sana. Dan sialnya, rasa makanan itu benar-benar sangat enak. Sakura jadi curiga, sepertinya ini memang bukan makanan buatan restoran atau pun toko.

Lima belas menit sudah berlalu dan mereka telah menyelesaikan acara makannya. Sasuke bergegas bangkit dan mulai membereskannya. Awalnya Sakura ingin membantu mencuci piring, tapi setelah tak sengaja matanya memandang pada bungkusan makanan yang sengaja disembunyikannya di kursi yang lain, gadis itu dengan cepat menyambarnya dan segera membuka lemari es.

Sakura menyimpannya pada bagian terbawah agar tak terlihat. Mungkin jika disimpan, makanan ini akan awet dan ia bisa menghangatkannya esok pagi dan dijadikan sarapan. Gadis itu mengangguk sendiri. Setelahnya ia beranjak merapikan meja makan dan melipat kain pembungkus bento tadi. Sementara Sasuke sepertinya terlihat asik di depan bak cuci piring.

"…Sakura?"

Mata Sakura mengerjap dan cepat-cepat ia mengalihkan pandangnya pada Sasuke. "Ha? Apa kau mengatakan sesuatu?"

Sasuke terlihat memutar bola matanya bosan. Ia mendenguskan napas kecil seraya mengeringkan tangannya. Rupanya pemuda itu telah selesai mencuci piring dan Sakura sama sekali tidak menyadarinya. "Aku bertanya, bagaimana harimu?"

"Oo…" Sakura mengangguk kaku. Entah mengapa ia menjadi kikuk dan merasa aneh sekarang. Biasanya dirinyalah yang akan dengan spontanitas penuh bertanya dan mengajak Sasuke berbicara. Namun kali ini ia merasa lain. Ada sesuatu yang entah sejak kapan mengusik pikirannya. "Ngg… Seperti biasa. Hal-hal yang hebat, sih, tidak…" Sakura menerawang. Jari telunjuknya bertengger di dagu. "Hal yang menyebalkan," katanya sambil melirik ke kain bento di atas meja. "Ada."

Sebelah tangan Sasuke terjulur dan ia mengacak rambut Sakura sampai berantakan. Sakura memekik dan ia menghindari Sasuke. Namun rambutnya sudah kepalang hancur. Gadis itu melempar pandangan kesal pada Sasuke yang berlagak cuek dan berjalan menjauhi dirinya. Sakura menyusul dan pura-pura mencekik Sasuke dari belakang, hingga akhirnya Sasuke menangkap tangan gadis itu dan mengunci tubuh Sakura dalam sebuah dekapan.

Sakura memekik setengah tertawa.

"Baka," ejek Sasuke. Pemuda itu menggunakan sebelah tangannya untuk mencubit hidung Sakura.

"Aduh... duh… duhh…" Sakura mengaduh sambil berusaha melepaskan tangan Sasuke yang menjepit hidungnya. Setelah berhasil, gadis itu dengan cepat mendorong tubuh Sasuke main-main. Sakura hampir tertawa keras melihat Sasuke yang sedikit terhuyung dan menabrak sofa.

"Kau bermain kasar," cibir Sasuke sambil mendengus. Pemuda itu menatap Sakura sengit. Kemudian berjalan menuju ke arah meja dan kembali duduk di lantai menghadap laptop.

Sakura berkecak pinggang. Apa kata Sasuke barusan? Ia bermain kasar? Bagaimana dengan Sasuke yang tadi mencubit hindungnya sampai tidak bisa bernapas? Sakura mendengus keras dan ia mengempaskan dirinya di atas sofa. "Kau duluan yang bermain kasar!" hardik Sakura.

Sasuke berdecak. "Hn. Setelah sebelumnya tanpa permisi kau mengacak rambutku."

O, ya. Tadi Sakura duluan yang mengacak rambut Sasuke saat ia baru saja masuk. Mencoba untuk menyela, namun diurungkannya. Sakura menurunkan diri dan duduk bersila di sisi Sasuke.

"Kau sedang apa, sih?" tanya Sakura. Ia menolehkan kepalanya dan dengan sangat jelas bisa melihat wajah Sasuke yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahya. "Sepertinya sibuk sekali. Ah, ya. Kau bilang kemarin kau pulang larut malam. Apa sedang ada project?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia memilih untuk memasukkan memory kameranya kepada lubang yang ada di sisi laptop-nya. "Hn. Tugas kuliah."

"Oo, jadi apa itu?" tanya Sakura lagi. Suasana hati gadis itu sepertinya sudah mulai membaik hingga ia jadi banyak bicara. Tanpa sadar Sakura semakin mendekatkan dirinya pada Sasuke. Dagu gadis itu bertumpu pada sisi bahu kanan Sasuke hingga pemuda itu mungkin bisa merasakan pipi Sakura yang menempel pada lehernya.

Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab. Bahkan Sakura merasakan bahwa pemuda itu sedikit terperanjat.

"Hei, jawab aku," bisik Sakura. Gadis itu mengembungkan pipinya sebal.

Sasuke yang masih bergeming, berusaha melirikkan matanya menatap Sakura. Entalah, apa pun yang tengah pemuda itu pikirkan sepertinya benar-benar membuatnya… gugup? Sakura melepaskan dirinya dari Sasuke ketika pemuda itu mendadak bergerak dan bangkit dari posisi duduknya.

"Aku mau ke toilet," kata Sasuke pada akhirnya.

Sakura mendengus tak percaya dan ia menjulurkan lidahnya pada sosok Sasuke yang berlalu. Setelahnya gadis itu mendengus dan bertanya-tanya di dalam hati. "Dia itu kenapa, sih?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelahnya Sakura menggeser duduk agar bisa menghadap laptop-nya Sasuke. Tangannya bergerak menyentuh touch pad dan ia memilih untuk melihat hasil jepretan yang ada di dalam kartu memori kameranya Sasuke. Setahu Sakura, Sasuke amat sangat berbakat dalam mengambil sudut pandang gambar yang bagus. Jadi ia merasa sedikit penasaran.

Dan benar saja. Semua foto yang dilihat Sakura amat sangat memukau. Seperti air yang beriak tidak tenang, langit senja yang berwarna jingga, dedaunan yang bergerak di atas dahan, bayangan orang-orang yang tengah berlalu lalang, bahkan sampai seekor katak yang tengah melompat pun diabadikan secara sempurna.

"Wahh…" Sakura bergumam kagum. Dengan bakat yang seperti ini, seharusnya Sasuke sudah bisa membuat galeri dan pameran. Ia juga jadi membayangkan apakah nanti kira-kira Sasuke akan memotretnya sebagus itu. Namun ketika mengingat bahwa Sasuke lebih suka memotret pemandangan dan hampir tidak pernah memotret manusia, Sakura membuang jauh-jauh pikiran itu.

Gadis itu meneruskan kegiatannya melihat-lihat. Lalu ketika slide show menampilkan sebuah foto yang lain, Sakura tersentak dan ia mengerutkan kening. Gambar seorang gadis yang berambut oranye panjang yang tengah berdiri di depannya—dan sepertinya gambar itu diambil dari posisi menyamping. Namun bukan itu yang menjadi fokus Sakura. Melainkan pada foto itu si gadis terlihat gugup dan ia memegang sebuah bento.

Sakura mendecakkan lidahnya. Ternyata, bukan hanya itu saja. Masih ada sekitar tiga foto lain yang menampilkan gadis berambut panjang itu. Gadis itu yang tengah mengulurkan bento, gadis itu yang menunduk, dan gadis itu yang tersenyum. Sakura hampir tidak percaya. Ia kemudian sibuk dengan pemikirannya sendiri sampai-sampai tidak menyadari bahwa sedari tadi ia bahkan tidak bernapas secara normal.

Sejak kapan Sasuke suka memotret manusia? Siapa gadis itu? Apakah itu bento…

Sakura buru-buru mengalihkan pandangannya pada kain pembungkus bento yang masih terlipat rapi di atas meja. Setelahnya ia kembali menatap laptop dan keningnya makin berkerut saja. Gadis itu… yang memberikan bento tadi pada Sasuke?

Entah mengapa Sakura merasa sedikit kecewa dan ia menundukkan padangannya bingung. Pantas saja… Pantas saja tadi Sasuke tidak menjawab. Apa karena ini adalah pemberian dari seorang yang istimewa sampai-sampai Sasuke tidak mau mengatakannya pada Sakura?

"Oh, my darling…" Sakura menggumam tidak jelas dan ia segera mengklik opsi close. Gadis itu beranjak menuju kamar dan ia mengeluarkan sebuah senyuman masam yang terasa aneh. Namun setelahnya Sakura tergelak dan tertawa sendiri. Sungguh, ini sangat tidak wajar dan betul-betul membingungkan.

Sepertinya, Sasuke benar-benar akan segera mempunyai seorang pacar, ne?[]

.


A/N: Jadi, ini memang multichap. Awalnya saya ngetik fict ini karena ingin melatih tulisan saya yang masih berantakan. (Dan saya mau lihat sejauh mana saya bertahan dengan ide cerita yang beginian). Konsepnya begitu sederhana, dan plotnya juga biasa-biasa saja jadi saya bisa dengan cepat menyelesaikan satu chap atau bab-nya. Tapi ternyata, respon yang diberikan oleh readers sekalian bagus juga.

So, thank you very much for Baby Kim, MewMewMeoong, Hikaru-Ryuu Hitachiin, mari-chan.41, kimya, Natsuyakiko. 32, Poetrie-chan, the autumn evening, Zukazuka, queenof. phoenix .3, sasa-hime, mako-chan, salsalala, Bunga Sakura, Pita-chan, dinosaurus, Ah Rin, Api Hitam AMATERASU, Angela M, Guest, Naomi Kanzaki, dan hanazono yuri. Terima kasih untuk semua dukungannya, ya. Saya mengapresiasi kalian.

Dan untuk chapter ini, any feedback? :)