Gummysmiled's 31st fanfiction

A Broken World

.

.

.

Dunia yang Rusak

Tanah ini, tempat seharusnya hujan turun menyampaikan pesan berkah dari Tuhan. Semestinya ditumbuhi rerumputan dan bunga-bunga yang memikat mata. Mungkin akan banyak rusa-rusa cantik yang mencari makan, atau bisa saja hewan-hewan ternak yang ingin minum di danau.

Tanah ini, tempat seharusnya ladang-ladang terhampar. Bisa saja padi atau jagung, atau mungkin tanaman yang lain. Mungkin akan banyak tikus, namun selalu ada ular yang jadi sahabat petani.

Tanah ini, hadiah dari Tuhan untuk para pejuang yang menghabiskan hidup mereka demi menuntut hak asasi dan keadilan. Kado terindah bagi mereka yang senantiasa tidak berputus asa membisikkan puja-puji dan permohonan, agar diberi kesempatan untuk hidup dalam kebebasan. Agar menjadi insan merdeka.

Tanah ini, karunia yang dengan lancangnya dirusak oleh makhluk-makhluk laknat tanpa nurani dan belas kasihan. Diubah menjadi ladang ranjau dan kubangan darah. Danau hanya menjadi wadah bagi air merah pekat dan potongan-potongan tubuh. Mereka rampas nyawa rakyat yang tak berdosa, yang hidupnya dijerat rasa lapar dan gelisah. Mereka tak mengerti betapa ngerinya menanti ajal di tiap selingan detik.

Kami hanya terlalu berani bermimpi untuk terus hidup di hari-hari berikut. Membumbungkan harapan jika suatu saat semua penderitaan ini akan menemui kesudahannya. Kami hanya menipu diri sendiri, istri, juga anak-anak kami. Kami bahkan tak mengetahui kapan serdadu memporak-porandakan puing-puing tempat kami bersembunyi dengan rudal dan granat.

Tanah ini, terkubur jasad kami, tanpa nama dan tak diketahui asal-usulnya. Hanya rakyat yang tak berhak untuk mengais udara walau tersengal sekalipun.

.

.

A.B.W.

.

.

Posko Pengungsian Busan

Selasa, 29 Juli 2042

Tidur adalah kegiatan yang paling dinanti-nanti setelah lelah memerangkap diri. Meski hanya beberapa jam, aku benar-benar lega karena perasaanku jadi lebih baik setelah beristirahat.

Pukul 11 siang. Semua orang tenggelam dalam kegiatan mereka masing-masing, sedangkan aku disibukkan dengan menulis jurnal harianku. Taehyung kembali berdiskusi dengan para relawan tentang titik-titik di mana pasukan Bukjoseon (Korea Utara) berjaga. Yang aku tahu tidak seberapa. Rencananya kami akan berputar melalui Gwangju dan Daejeon jika memungkinkan, karena Daegu sudah tidak bisa dijadikan pilihan. Seandainya keadaan masih baik-baik saja, aku yakin Taehyung akan mengajakku untuk berkunjung ke rumah mendiang neneknya.

Aku berdiam diri di tenda. Ingin sekali menyapa para pengungsi di dalam posko, namun entah mengapa tubuhku belum tergugah untuk bergerak sedikit saja. Aku tak ingin kemana-mana sejak tadi pagi. Bahkan Dokter Yoongi yang mengantarkan sarapan untukku. Aku bersyukur setidaknya dia memahami keadaanku yang sedang tak berselera untuk diajak mengobrol.

Taehyung kemudian masuk ke dalam tenda. Tanpa berkata apapun, ia hanya menghempaskan diri ke bantal kesayangannya. Keningku mengerut heran, tak biasanya sahabatku begini.

Kuputuskan untuk bertanya, ketimbang hanya menimbun penasaran. "Ada masalah?"

"Sedikit." Taehyung menjawab, namun wajahnya tertutupi bantal. "Aku hanya mendengar desas-desus."

Aku menghela napas. Desas-desus apa lagi kali ini.

"Katakan saja padaku. Siapa tahu kita bisa buat persiapan, 'kan?"

Taehyung mengintip sedikit dari balik bantal. Akhirnya ia bergerak untuk duduk, menatapku lekat-lekat. "Aku dengar dari relawan, akan ada bom atom."

Bukan main terkejut rasanya. Jantungku seakan digenggam sampai remuk. "Bom atom katamu?"

Taehyung mengangguk yakin. "Tidak jelas kapan, tapi mereka bilang dalam beberapa bulan ke depan."

"Apa mereka kehilangan akal? Bom atom rakitan mereka daya ledaknya seribu kali lebih kuat dari bom Hiroshima!" seruku tak habis pikir, sampai-sampai terdengar seperti jeritan. "PBB tidak mungkin tinggal diam!"

Taehyung pasti sudah tahu itu. Ia hanya mengangkat bahu. "Dari dulu Korea Utara selalu punya cara ajaib menjawab tekanan internasional."

Aku mengusap wajah. "Orang-orang tolol itu bahkan bisa menghancurkan Semenanjung Korea."

"Ya, dan itu jika target mereka memang untuk 'bunuh diri'. Mereka punya rudal dengan daya jelajah ribuan kilometer, dan sepertinya mereka tidak akan berhenti sampai di sana." ujar Taehyung berspekulasi.

"Tuhan, ini sungguh gila."

Taehyung hanya mengangguk mengamini. "Hanya jika seluruh dunia bergejolak, baru mereka akan berhenti."

Dan aku tidak bisa lebih setuju dari itu. "Manusia yang menghancurkan dunia, maka manusia pula yang harus membalik keadaan. Aku yakin demonstran dari berbagai negara akan mengecam rencana mereka."

"Itu jika memang hanya rencana, Jimin-ah." ucap Taehyung dengan ekspresi yang tak bisa kumengerti. "Tapi bagaimana jika rencana itu bertemu kenyataan?"

Maaf Taehyung-ah, aku tidak sanggup memikirkan jawaban dari 'bagaimana' itu.

.

.

A.B.W.

.

.

Matahari telah turun dari singgasananya, bersembunyi dibalik pegunungan Sobaek yang kokoh. Seharian aku mengurung diri dalam tenda. Menyiapkan tekad dan mental, dua hal yang amat kubutuhkan saat ini. Barang-barangku sudah dikemas sejak sore. Pakaian sampai kartu persku pun telah tersusun rapi dalam ransel.

Aku melihat penunjuk waktu di ponsel. Sudah hampir jam 7. Sebentar lagi Seokjin pasti akan sampai. Seokjin adalah kakak Jungkook, yang sedang mengikuti wajib militer. Karena keadaan dalam negeri masih rawan, ia tidak bisa begitu saja meninggalkan Korea. Aku yakin alasan Jungkook tidak mengungsi ke Jepang karena menunggu Seokjin.

"Jimin-ssi."

Aku dikejutkan oleh suara Yoongi. Dengan terburu-buru aku menurunkan reusleting tenda. "Ah, Yoongi hyung. Apa Seokjin hyung sudah sampai?"

Pria pucat itu mengangguk. "Baru saja."

"Baiklah."

Aku melangkah meninggalkan tenda. Taehyung sudah di luar sejak beberapa jam yang lalu. Mataku tak henti-henti mencari sosok tinggi tegap di antara para tentara yang sedang berbincang, dan aku tak bisa menahan senyumku saat pandangan kami bertemu.

"Seokjin hyung!" Aku berlari seperti anak kecil lalu menerjang Seokjin. Memeluk pria itu erat-erat.

"Jimin, astaga. Sudah berapa lama aku tidak melihatmu? Kau belum bertambah tinggi, ya?" Seokjin balas memelukku hangat. Tak lupa dengan lelucon menyakitkannya.

"Maksudmu 'tidak bisa' bertambah tinggi, hyung." koreksiku sambil menyengir, tak tertarik membalas ejekannya.

Taehyung tiba-tiba datang, bersama Namjoon, Hoseok, dan dua relawan lain yang kuketahui berasal dari Jepang dan Taeguk, bernama Yuta dan Ten. Ada Yoongi juga.

"Ah, ini teman-temanku, hyung." Aku bergeser sedikit, dan mereka membungkuk pada Seokjin.

Seokjin hanya tersenyum. "Terima kasih untuk bantuan kalian. Markas tentara di Seoul sedang kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan, namun kami menyaring ketat relawan yang datang."

Kami mengerti alasan itu. Basecamp tentara juga merupakan benteng pertahanan. Tentunya sangat berbahaya bila sembarang orang bisa keluar masuk dari sana.

Tanpa buang-buang waktu kami segera memindahkan barang-barang yang akan dibawa ke dalam mobil patroli. Setelah selesai, kami mengambil posisi duduk dengan tenang. Seokjin duduk di kursi kemudi, kemudian kami pun memulai perjalanan.

"Aku dengar Pyeongtaek akan jadi destinasi tentara Bukjoseon selanjutnya." ucap Namjoon yang duduk di sebelah Seokjin.

Kami semua memasang telinga baik-baik.

"Benar, namun hanya sampai pelabuhan, tidak sampai daratan. Mereka membangun pertahanan di sana. Tapi kita akan lewat Suwon untuk berjaga-jaga." ujar Seokjin. Aku rasa pilihan menghindari Pyeongtaek adalah yang terbaik.

"Aku khawatir Korea Utara akan beralih menyerang Jepang jika Korea sudah luluh lantak." gumam Ten. "Mungkin evakuasi harus dialihkan ke Taeguk atau Minguk."

Diam-diam aku juga berpikir demikian.

"Jika pengungsian terfokus pada Jepang, bisa saja Kim Jongun dan Kim Ju-Ae akan menargetkan Jepang sebagai sasaran juga." Hoseok akhirnya mengutarakan suaranya.

"Kuharap tidak, karena Jepang benar-benar tidak terikat dengan blok manapun saat ini, begitu pula dengan Jerman dan Italia. Kami benar-benar terpuruk setelah perang dunia kedua." Yuta memberi pendapat.

"Aku setuju." timpal Taehyung. "Hanya Miguk dan Rusia yang tak henti bersaing."

"Bahkan hampir seratus tahun setelah The Second World War, tapi mereka masih terlibat perang dingin." ujar Yoongi setelah lama menutup mulut.

Ya, satu abad telah berlalu, dan mungkin para pendahulu tak pernah mengira bahwa perang akan meletus kembali setelah Perjanjian Versailles ditandatangani. Aku khawatir, karena banyak negara yang direpotkan oleh konflik internal mereka. Pemberontakan terjadi di sana-sini. Miguk (Amerika Serikat) masih saja betah bersaing dengan Rusia. Perpecahan dua Korea juga akibat perang dingin mereka. Hanya Jepang yang teguh akan janji untuk tidak terlibat dalam perang apapun, akibat trauma mendalam mereka atas kekalahan perang dahulu yang membawa derita begitu pedih.

Kami semua terdiam, terjebak dalam pikiran masing-masing.

.

.

A.B.W.

.

.

Kami bergantian untuk tidur dan menemani Seokjin yang masih menyetir. Tadi adalah giliran Yoongi, Hoseok, dan Namjoon yang terjaga selama dua jam. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan seru. Topiknya tak jauh-jauh dari pertumpahan darah. Muak aku mendengarnya. Saat ini seharusnya aku dan Taehyung yang berjaga menemani Seokjin, tapi ternyata Taehyung malah kebablasan tidur. Anak satu itu memang sukar menahan kantuk.

Jadilah hanya aku yang terbangun. Hoseok dan Namjoon sudah terlelap. Setelah ini, gantian Yuta dan Ten yang harus berjaga.

"Kau melamun, Jim."

Aku tersentak kecil. Menatap wajah tampan Seokjin yang ternyata sedang melihat ke arahku dengan cemas.

"Tidak, tidak apa-apa." Kupasang senyum terbaikku, meyakinkan pria itu untuk tidak khawatir.

"Baiklah."

Selanjutnya tak ada percakapan di antara kami. Seokjin juga terlihat tak ingin membicarakan apapun. Tapi tetap saja, jika aku biarkan maka ia bisa mengantuk. Itu dapat membahayakan keselamatan kami semua.

"Hyung."

"Ya?"

Aku menelan ludah susah payah. "Bagaimana keadaan Jungkook?"

Seokjin terpaku sebentar sebelum ia menjawab, "Baik. Tapi tidak lebih baik dibanding saat kau masih ada."

Napasku tertahan. "Apa maksudmu, hyung? Jungkook yang menghilang selama setahun, dan aku selalu di sini. Menunggunya."

"Aku tahu. Dia yang membuat dirinya sendiri menderita."

Aku berusaha mengatur diriku sendiri. Jangan sampai terbawa emosi atau aku akan jadi lemah lagi, dan aku tidak mau itu terjadi.

"Jungkook selalu merindukanmu." lirih Seokjin.

Aku ingin percaya itu hanya omong kosong, namun hatiku malah bergemuruh. Aku tak ingin mengingat-ingat kenangan saat kami masih bersama. Terlalu perih jika ditampar realita saat ini.

"Maafkan aku, Jimin. Aku tak bermaksud—"

"Sudahlah, hyung. Jangan menganggapku barang pecah belah, aku baik-baik saja. Aku pun merindukan bedebah sialan itu." ujarku dengan senyum. Tak boleh terlihat menyedihkan.

Seokjin berusaha mencuri pandang ke arahku beberapa kali, tapi aku memutuskan untuk tak peduli. Membuang perhatian ke arah jalanan berbukit yang kami lewati.

"Emm, hyung. Bagaimana tentang penyerangan di Seoul?"

Aku hampir terlonjak dari tempat dudukku saat tiba-tiba suara Yoongi memecah keheningan. Aku melirik dari kaca spion, pria itu duduk tepat di belakangku. Tampaknya ia terbangun, dan sekarang malah menatapku balik. Sial, wajahku memerah tak terkontrol.

"Cheong Wa Dae adalah targetnya. Mereka meluncurkan misil berdaya ledak ke halaman istana. Bagian depan rusak parah, dan rakyat yang berlindung di sana sebagian dipindahkan ke markas tentara. Oleh karena itu kami kekurangan banyak stok." jelas Seokjin.

"Aku tidak menyangka mereka akan menyerang istana presiden." gumamku. Tentara Korut benar-benar keji. Mereka tak hanya mengincar pemerintah, namun juga rakyat yang bahkan tak tahu apa-apa.

Seokjin mengangguk setuju. "Jika saja Kim Jongun tidak sedang dirawat di rumah sakit, bisa saja serangan yang terjadi lebih parah."

Yah, setidaknya para petinggi Korut sedang kalap karena pemimpin mereka yang jatuh sakit.

"Ini bagus untuk beritamu, Jimin-ssi." celetuk Yoongi. "Sepertinya banyak narasumber untuk wawancaramu."

Aku akhirnya teringat tujuan utamaku kembali ke Hanguk. Entah mengapa aku jadi bersemangat untuk liputan terakhirku. Aku harus mengakhiri karir yang sudah kujalani sekian lama ini dengan sempurna.

"Ya, Seokjin hyung juga sudah menjadi narasumberku." Aku menyengir ke arah pria itu, dan Seokjin balas terkekeh.

Syukurlah keadaan tidak secanggung tadi. Terima kasih Dokter Min—eh, maksudku Yoongi.

.

.

A.B.W.

.

.

Aku rasa... tubuhku melayang. Mimpi yang sangat aneh. Padahal aku ingat tadi aku sedang asyik berkebun dengan Eomma, namun tiba-tiba aku merasa tidak menapak tanah. Tunggu, apa aku masih bermimpi?

Kelopak mataku langsung terbuka saat aku merasa tubuhku diangkut seseorang. Semua benar-benar terasa asing, kecuali—

"Jimin hyung, kau terbangun?"

"FUCK!" Aku benar-benar melompat kali ini. Orang itu menggendongku ala pengantin. Tentu saja aku tidak bisa tidak terkejut dan jatuh konyol di atas tanah.

"JEON JUNGKOOK?!"

Aku rasa tubuhku tersengat arus listrik. Ya Tuhan, apa harus aku mati dengan cara dikejutkan terus menerus. Kali ini apa? Pria tegap dengan kaos oblong hitam dan training loreng-loreng berjongkok tepat di depanku. Aku tidak masalah jika saja itu bukan—

"Kenapa kaget sekali, hyung?"

—bocah gila gigi kelinci yang meninggalkanku begitu saja setahun yang lalu dengan sederet luka dan setumpuk rindu.

Aku tak bisa menahan diri lebih dari ini. Tanpa repot-repot melihat keadaan sekitar, aku langsung bangkit dan memeluk tubuhnya erat.

Ini nyata. Semua ini nyata!

Bahkan aroma citrus bercampur keringat khas seorang Jeon Jungkook menyeruak dalam penciumanku.

Dan Park Jimin resmi memutuskan untuk jadi cengeng lagi saat ini.

"Terkutuk kau bocah titisan setan." Tangisku pecah seketika.

Aku dapat mendengar ia tertawa. Demi apapun, aku tak menyangka Tuhan mengabulkan do'aku semalam secepat ini. Aku dapat merasakan tubuh itu jauh lebih tinggi. Lebih kokoh dari terakhir kali aku memeluknya. Lebih bidang, dan bahkan lebih hangat.

"Aku rindu kamu, Jimin hyung."

Lima kata itu menancap di dasar hatiku, dan tiba-tiba saja bibirku disandera oleh miliknya yang tipis.

Biarkan aku jadi gila untuk momen ini. Mungkin aku berada di markas tentara. Mungkin banyak pengungsi yang melihat. Mungkin Taehyung juga menonton. Aku telah begitu rusak dan tak punya opsi selain balas menyesap dalam-dalam rasa yang begitu lama tak menghampiri bibirku.

Jungkook merengkuh pinggangku, dan gerakan itu membuat pikiranku seakan dikendalikan, karena saat ini aku bahkan mengalungkan lengan di lehernya. Meneruskan ciuman yang terasa asin karena air mataku.

"Aku tahu aku hina karena jomblo memang tak pantas mengganggu orang pacaran, tapi bisakah kalian minggir sedikit? Kalian menghalangi jalan."

Dan sindiran sarkas Taehyung membuatku maupun Jungkook terpaksa memisahkan diri. Astaga, aku rasa aku akan meleleh seperti es krim setelah ini, karena aku dapat melihat bibir Jungkook memerah dan benang saliva bahkan belum terputus antara kami.

"Taehyung-ssi dan aku bisa saja begitu terpukul karena harus melihat kalian, jadi, kapan kalian bisa bergeser?"

Aku tertawa mendengar gerutuan itu. Rupanya ada Yoongi juga. Bersama Taehyung membawa tumpukan kardus berisi bahan makanan.

"Kalau sudah selesai cepat bantu kami, dasar penghianat." rutuk Taehyung, dan pasti ia akan marah padaku karena membuatnya menonton adegan ciumanku sedangkan ia harus berkutat memindahkan barang-barang.

"Tentu saja!" Aku melambai-lambaikan tangan ke arah Taehyung yang masuk ke dalam gedung. Rupanya benar, ini adalah markas tentara Seoul.

Jungkook membelai pipiku, dan perhatianku teralihkan. Mataku basah saat wajahnya terlihat jelas di mataku, dan ia semakin tampan saja.

"Maaf telah meninggalkanmu, hyung."

Aku menggeleng. "Jangan bahas itu sekarang, Jungkook-ah. Lebih baik kita bantu yang lain berbenah dulu, oke?"

Untungnya Jungkook setuju, dan kami bergerak menuju mobil patroli Seokjin.

"Kau bilang ada pemeriksaan ketat?" tanyaku sambil meraih beberapa kardus di bagasi, begitu pula dengan Jungkook.

"Memang. Kalian semua digeledah di tempat, namun kau dengan ajaib masih bisa tidur sambil berdiri." jawab pria itu dengan nada geli, membuatku terbahak mendengarnya.

"Sebenarnya apa yang membuatmu tertahan di tempat ini, Jungkook-ah?" tanyaku saat kami melangkah masuk ke dalam gedung.

"Tentu saja karena Seokjin hyung."

"Tapi aku yakin ada alasan lain." desakku. Aku tahu dengan baik saat Jungkook menyimpan sesuatu dalam pikirannya. Ia terlalu mudah dibaca, seperti buku yang terbuka lebar.

"Kau tahu aku begitu baik. Akan kuberitahukan nanti." balas Jungkook.

.

.

A.B.W.

.

.

Markas Besar Tentara Korea Selatan

Rabu, 30 Juli 2042

Aku menganga melihat betapa banyak warga yang masih berada di markas tentara, mungkin sekitar 1000 jiwa. Ada tiga aula raksasa, dan syukurnya dapat menampung semua orang. Kali ini aku benar-benar berbaur dengan mereka, karena kami diharuskan untuk tidur di dalam juga.

Ada beberapa dokter di sana, namun mereka tampak jelas kewalahan. Yoongi, Yuta, dan Ten dengan tanggap segera mengambil tindakan untuk warga yang melaporkan beberapa keluhan tentang kesehatan. Hoseok dan Namjoon membantu menyiapkan makan malam, dan Taehyung tampak sedang bertanya dengan beberapa kepala keluarga.

Jungkook mengajakku untuk duduk di sudut ruangan agar kami bisa lebih leluasa bicara.

"Jadi selama ini kau bersembunyi di sini?" tanyaku sembari menatap Yoongi dari kejauhan. Tampak lebih sibuk dibanding dengan kemarin di Busan.

Aku melihat Jungkook menggeleng. "Baru enam bulan. Aku memutuskan untuk menetap bersama Seokjin hyung sampai masa wamilnya selesai lima bulan lagi."

Aku mengangguk, mengerti dengan alasan itu. Seokjin adalah keluarga Jungkook satu-satunya. Mereka telah yatim piatu sejak kecil. Tentu saja Jungkook tak akan meninggalkan kakak kesayangannya.

Kami hanya terdiam saja. Aku menahan mati-matian pertanyaan yang selama ini menghantui relung hati. Terkadang aku ingin sekali menuntut jawaban, karena aku merasa hanya aku sendiri yang terluka selama ini. Aku ingin tahu mengapa dia meninggalkanku.

"Jungkook-ah."

"Hm?"

"Kenapa kau—" Namun keinginanku tak pernah lebih kuat dari rasa takutku. Aku tidak siap mengetahui alasan yang selama ini kubayangkan ternyata adalah sebuah kebenaran. Aku takut jika Jungkook sudah lama kehilangan cinta untukku.

Jungkook mengerutkan dahi, tapi enggan melontarkan kalimat.

"Kenapa kau... masih di sini?" Sial. Jimin malang yang tak akan menang melawan ketakutannya.

Jungkook tampak bingung, namun raut itu bertahan sebentar saja. Ia segera memahami maksud pertanyaanku—yang bahkan tak kumengerti apa maknanya.

"Sebenarnya aku sedang berusaha membawa anak-anak dari Bukjoseon. Mereka datang bersama ibu mereka beberapa bulan belakangan, dan kami menunggu saat yang tepat untuk kabur dari sini."

Aku terpaku seperti orang bodoh. Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku mencerna perkataan Jungkook.

"Kau bercanda? Kau bertahan di sini hanya karena mereka?!" Aku menahan diriku sekuat mungkin agar tidak lepas kendali. Bagaimana bisa Jungkook menarik-ulur kesempatan hidupnya segampang memainkan layang-layang?

Namun jawaban yang kudapat hanya anggukan tanpa ragu dari sosok di depanku. "Mereka membutuhkan kita."

Aku benar-benar tidak terima. "Harusnya kau mengutamakan keselamatanmu, bajingan tolol! Apa kau mengerti seberapa lelahnya aku mencarimu demi mengeluarkanmu dari Korea? Dan barusan kau bilang apa? Kau berusaha membawa serta anak-anak dari Bukjoseon dan ibu mereka, sedangkan nyaris separuh Korea Selatan dikuasai ayah mereka!"

Jungkook tampak tak percaya mendengar jawabanku. Ya Tuhan, mungkin aku terlalu berlebihan dalam berkata. Terkutuklah Park Jimin dan mulut besarnya.

"Dengarkan aku, Jungkook." ujarku, melunakkan ekspresi dan nada bicara. "Kita harus berjuang demi diri sendiri. Saat ini tak ada yang lebih penting dari nyawamu. Aku yakin kau belum dengar ini, tapi tentara Bukjoseon akan menjatuhkan bom di tanah kita. Bisa saja bukan hanya Seoul yang akan hancur, tapi juga Semenanjung Korea."

Aku tak menyangka saat Jungkook malah mengeraskan rahangnya. Menatapku tajam seakan aku adalah musuh negara yang wajib dilenyapkan. "Kenapa aku harus menyelamatkan diriku sendiri sedangkan aku bisa menyelamatkan nyawa banyak orang?"

"Apa maksudmu—"

"Kalau kau hanya peduli pada dirimu sendiri, kau sama saja dengan politikus-politikus bangsat itu, hyung."

Aku terkesiap. Jungkook terlihat amat serius, dan perkataannya membuat nuraniku seakan dicubit.

"Mereka juga berhak hidup. Anak-anak itu harus sekolah, harus punya karir yang mapan, harus jadi manusia yang berkarakter. Kau tahu untuk apa?" Pria di hadapanku menaruh kedua tangannya di masing-masing bahuku, menggenggam dengan erat. "Agar mereka kelak tak menjadi pemimpin yang bengis dan haus harta. Supaya mereka bisa tumbuh menjadi sosok-sosok yang mampu memperbaiki dunia kita yang sudah rusak, Jimin hyung."

Dunia kita yang sudah rusak.

Aku tersenyum kecil. Paham dengan niatannya, pun bangga dengan upayanya. Hanya saja aku takut. Takut sekali, jika bayaran dari itu semua adalah nyawanya.

"Tak bisakah orang lain saja yang menggantikanmu? Maksudku, kenapa harus kau, Jungkook?" Aku tak ingin kehilanganmu.

Jungkook tak menjawab. Mungkin benar dugaanku, tak ada lagi perasaan istimewa yang tersisa untukku. Mungkin dia tak pernah memikirkanku sebanyak aku memikirkannya.

"Setelah aku mengambil berita, bisakah kita pergi? Kau juga harus mengajak Seokjin hyung." Tapi kumohon, tetaplah bersamaku apapun keadaannya.

Aku menatap Jungkook lekat-lekat. "Kau tak perlu melakukan semua itu sendiri, bukan?"

Namun yang kudapati malah raut kecewanya, serta satu sudut bibir yang terangkat. Mengundangku untuk terjun dalam lautan bingung.

"Aku tidak tahu kau begitu egois, hyung."

Berat bagiku untuk tak bersikap begitu asal kau tahu. Kau melukaiku tapi aku tak boleh memaksamu. Lalu mengapa kau menciumku? Berkata kau merindukanku? Bukankah kau yang egois?

"Jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi pada Jimin." Aku terkesiap saat Taehyung tiba-tiba datang dan menarik tanganku untuk berdiri. Aku bahkan tak berani melihat mereka berdua.

Aku bersumpah, Jungkook. Aku tidak datang untuk cinta.

"Kita datang bukan untuk cinta, Jimin-ah." Taehyung selalu mengerti isi hatiku, dan aku tak pernah menolak hangat genggamannya di saat aku rapuh.

Jungkook ikut berdiri. Emosinya pasti tersulut, tapi aku tahu Jungkook bukan tipe yang gampang meledak-ledak sepertiku.

"Biarkan dia dan fokus saja dengan pekerjaan kita. Relawan sepertinya punya hal yang berbeda untuk diurus." ujar Taehyung dengan nada rendah. Ia pasti berusaha mengintimidasi Jungkook, dan aku selalu gagal untuk mencegah Taehyung terlalu melindungiku.

Aku tahu Jungkook menyesal. Tangannya terulur untuk menahanku, namun sayang. Taehyung terlanjur menyeretku entah kemana.

.

.

A.B.W.

.

.

Aku sibuk menyisir rambutku yang basah. Akhirnya aku punya kesempatan untuk mandi setelah dua hari menempuh perjalanan panjang. Bukan sekadar mencari segar, namun aku dan Taehyung akan mengambil liputan pagi ini.

Semalam aku menangis lagi dalam pelukan Taehyung. Ia hanya diam, tak keberatan meminjamkan dadanya untuk kubasahi dengan ingus dan air mata. Aku bersyukur Taehyung tahu semua hal yang dapat membuatku merasa lebih baik.

Kali ini kami mengambil latar lapangan markas tentara Seoul. Taehyung sudah menemukan narasumber dari pihak warga. Ia sedang mengatur kameranya, dan aku berusaha memperbaiki letak mic kecil di bawah kerah kemejaku.

"Kau siap, Jimin?"

"Tentu." Aku memasang badan, menunggu Taehyung memberi aba-aba.

"Baiklah, kau bisa mulai."

Aku mengangguk kecil.

"Park Jimin di sini melaporkan. Saat ini kami tengah berada di markas tentara Seoul, Korea Selatan. Seperti yang telah diberitakan, telah terjadi penyerangan di istana kepresidenan Cheong Wa Dae pada hari Senin, dua puluh delapan Juli sekitar pukul 3 dini hari. Penyerangan diduga kuat dilakukan oleh Korea Utara dengan peluru kendali jarak jauh. Kerusakan yang ditimbulkan cukup masif hingga mengharuskan pemerintah mengambil tindakan pengalihan pengungsian ke markas tentara nasional. Di sini kami bersama salah satu narasumber dari pihak angkatan bersenjata."

Aku tersenyum melihat Seokjin berdiri dengan kikuk di sebelahku.

"Bagaimana pendapat pemerintah mengenai penyerangan ini?"

Seokjin berdeham sedikit, "Tentu kami mengecam keras sekaligus menyesalkan kejadian ini. Sejauh ini tidak ada korban jiwa, namun sebagian warga dipindahkan ke sini. Untuk selanjutnya, militer di perbatasan akan bersikap tegas. Kami tidak segan melakukan apapun untuk melindungi warga."

Hatiku terasa sejuk mendengar perkataan itu. Untung saja banyak ksatria yang menjadikan negeri ini sebagai harga mati. Rela melindungi tanah air sampai jiwa lepas dari raga.

"Apakah ada upaya lain untuk mencegah jatuhnya korban jiwa?"

"Tentu. Kami sedang mengupayakan untuk mengevakuasi seluruh warga yang masih berada di Seoul dan sekitarnya untuk pindah ke posko di Busan. Dipastikan akan menyusul untuk dievakuasi ke Jepang atau Taeguk."

"Lalu apakah Daehan Minguk akan mengeluarkan deklarasi perang?" tanyaku sebagai tambahan.

"Secepatnya. Segera setelah persiapan telah rampung. Kami tidak ingin ada lebih banyak warga sipil terluka. Masyarakat adalah prioritas nomor satu."

Aku mengangguk mengerti. "Saat ini kami juga telah bersama salah seorang warga yang masih menetap di markas tentara. Apakah ada masalah selama berada di basecamp, Kang Seulgi-ssi?"

Seorang wanita cantik berdiri di sampingku. Mahasiswi Seoul National University. Tangkapan Taehyung yang semalam berburu narasumber.

"Sejauh ini tetap aman. Kami mendapat pelayanan yang baik. Sempat terjadi kekurangan stok pangan dan obat, namun teratasi dengan lancar."

"Baik, lalu apakah Anda bersedia untuk dievakuasi?"

Wanita itu mengangguk. "Itu adalah pilihan terakhir. Berat rasanya meninggalkan Hanguk, namun kami tidak bisa menetap dengan banyak risiko. Warga butuh kepastian hukum. Aku berharap keadaan segera membaik dan dapat melanjutkan kuliahku."

Aku tersenyum. Berharap keadaan membaik merupakan do'a semua orang. "Kami harap juga demikian."

Taehyung terlihat mengacungkan jempolnya. Tanda bagiku untuk menutup acara.

"Baiklah, sekian informasi yang dapat kami sampaikan. Park Jimin dan Kim Taehyung, melaporkan langsung dari markas tentara nasional Korea Selatan."

"Selesai." Taehyung menjentikkan jari sebagaimana biasa, dan aku bernapas lega karena semuanya berjalan cukup memuaskan.

"Terima kasih untuk bantuannya." Aku membungkuk ke arah Seokjin dan Seulgi, kemudian dua orang itu kembali masuk ke dalam gedung.

Aku berlari kecil mendekati Taehyung. "Bagaimana? Apa aku terlihat buruk? Rasanya beda sekali jika kita meliput sesuatu tentang perang. Semua jadi terdengar mengerikan." ocehku.

Taehyung mengibaskan tangan santai. "Wajahmu terlihat tegang."

"Astaga, apa perlu diulang? Seburuk itukah?" tanyaku panik. Ini adalah liputan terakhir kami, dan aku tidak ingin tampil memalukan tentu saja.

Taehyung malah mengusak-usak rambutku yang sudah kutata rapi susah payah. "Jangan khawatir. Kau itu jelek, jadi semua liputan kita selalu jelek."

"HEI!" Aku meraih tangan Taehyung untuk digigit, dan ia meraung lalu tertawa keras-keras.

Aku mengapit lengannya, kemudian menyeret pria itu untuk masuk ke gedung. Jika proses edit telah selesai, kami tinggal kembali ke Jepang untuk menyerahkan liputan ini dan kami bisa berkumpul lagi dengan keluarga untuk waktu yang lama.

Aku beristirahat di tempatku dan Taehyung tidur semalam, sedangkan rekanku itu pergi ke toilet. Kami hanya menggelar tikar dan tidur dalam satu selimut, mengingat aula sudah cukup sesak dan kami harus menghemat tempat.

"Bagaimana hari ini? Lancar?"

Aku menaikkan kepala. Yoongi dengan jas dokternya berinisiatif duduk di sampingku. Mungkin baru mendapat istirahat setelah semalaman tidak tidur. Ia meneguk air dari botol mineral. Pandanganku tidak lepas dari setitik air yang lolos dari bibirnya. Turun ke leher perlahan. Melewati jakunnya yang naik turun menggoda. Masuk ke sela bajunya, dan berlanjut ke arah—

"Astaga, Park Jimin, apa yang kau pikirkan?" Aku menampar pipiku sendiri karena bisa-bisanya aku berpikir kotor hanya karena Min Yoongi dan air sialan itu.

"Apa yang kau lakukan?" Yoongi bertanya dengan cemas saat aku tak henti menampar wajahku. "Hentikan itu, bodoh."

Aku memanyunkan bibir. "Lupakan saja."

Yoongi menghela napas, sepertinya lelah dengan sikap anehku. Terserahlah, yang penting pria ini tidak mengetahui apa yang baru saja terlintas dalam otakku.

"Aku tadi bertanya padamu, tapi kau malah melamun." tegur Yoongi. Ia menatapku lamat-lamat dengan matanya yang tajam. Membuat pipi babi ini merona dengan mudahnya.

"Apa kau sakit?"

Aku menggeleng cepat-cepat. "Tidak, sama sekali tidak. Uh, liputannya berjalan lancar. Kata Taehyung wajahku terlihat tegang, tapi tidak masalah."

Yoongi mengangguk mengerti. "Aku yakin itu tidak mengganggu. Justru terlihat aneh jika wajahmu terlalu santai seakan-akan kau adalah dalang dari perang dunia."

Aku tersenyum mendengar leluconnya yang payah. Tapi aku yakin ia berusaha keras untuk menghiburku. "Terima kasih, hyung."

Aku sedang merapikan selimut dan barang-barangku ketika tiba-tiba Yoongi berceletuk.

"Uh, apa Jeon Jungkook-ssi kekasihmu?"

Ya ampun, aku hampir tersedak karena mendengar pertanyaannya. Konyol sekali.

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanyaku penasaran, dan mungkin mataku saja yang bermasalah atau aku memang melihat Yoongi memasang wajah masam.

"Kau berciuman dengannya seperti remaja tak tahu malu." ujarnya blak-blakan.

Aku tertawa canggung. "K-Kami hanya mantan kekasih."

Yoongi malah terlihat tidak percaya. "Benarkah?"

"Kami berpisah setahun yang lalu."

Pria itu menggaruk kepalanya, merasa bersalah. "Maafkan aku."

"Tidak perlu minta maaf, santai saja."

Yoongi mengangguk kecil. "Aku akan menemui temanku."

"Baiklah."

Si dokter pergi begitu saja ketika Taehyung datang dengan ekspresi yang lagi-lagi tidak kumengerti.

"Kita akan pulang nanti malam. Jungkook punya rencana menarik dan kau harus dengar."

.

.

A.B.W.

.

.

Kami berkumpul di ruangan pribadi Seokjin—gudang amunisi. Hanya ada aku, Taehyung, Jungkook, dan Seokjin sendiri, mengingat ruangan ini tidak boleh dimasuki orang awam sebenarnya. Kami duduk membentuk lingkaran, mendengar rencana mengenai evakuasi.

"Kita akan membawa sekitar dua puluh mobil tentara. Satu mobil berkapasitas tiga puluh orang. Akan memakan waktu kurang lebih satu setengah bulan jika berjalan lancar, karena kita hanya dapat bergerak pada malam hari." ujar Jungkook. Tangannya mencorat-coret sebuah kertas dengan pena, menggambarkan skenario yang ia susun.

"Akan ada lima helikopter menuju Jepang. Sehari mereka bisa mengangkut tiga kali, setahuku maksimal lima orang pengungsi." Seokjin menulis kata helikopter, melingkarinya lalu menambahkan angka 5 dikali 3.

Kami mengangguk paham.

"Setidaknya itu bisa memudahkan evakuasi." ujarku.

"Ya, karena jalan darat lebih berisiko. Butuh waktu delapan jam untuk ke Busan, dan hampir enam jam untuk ke Jepang dengan jalan laut." timpal Taehyung.

Jungkook menggambar sebuah mobil ala kadarnya. "Kalau begitu, aku pikir harus ada beberapa orang yang berangkat duluan untuk memastikan jalur mana yang aman dipakai untuk ke Busan. Agar tidak mencolok, sepertinya harus memakai jeep biasa."

Aku mengerutkan kening, "Dan maksudmu beberapa orang itu adalah kita?"

Kami semua menoleh ke arah Jungkook, dan anak itu mengangguk.

"Mengapa tidak tentara saja yang duluan? Akan riskan bila kita yang tak membawa senjata berangkat pertama kali." Aku mengutarakan hal yang sedari tadi kukhawatirkan.

"Tentara akan sangat mencolok. Lagipula orang-orang yang masih di basecamp juga butuh perlindungan." jawab Jungkook, masuk akal sebenarnya.

"Benar. Tentara harus mempertahankan negeri ini sampai akhir, dan bagi yang mengikuti wajib militer diperkenankan untuk mengungsi bersama warga yang lain." tambah Seokjin.

Aku menghela napas, merasa ada yang kurang dalam rencana ini. Tiba-tiba saja nama Min Yoongi melintas begitu saja di kepalaku.

"Bagaimana dengan Dokter Min?"

Jungkook menatapku bingung. "Dokter Min?"

"M-Maksudku paramedis. Bisakah mereka berangkat setelah kita?"

Jungkook terlihat tidak yakin. "Mereka akan berangkat bersama warga yang sakit."

Entah mengapa firasatku mengatakan Yoongi harus berangkat bersama kami. Atau paling tidak dia harus pergi sesudah kami. Bagaimanapun caranya.

"Bisakah Dokter Min berangkat setelah kita?" pintaku memelas. Perasaanku benar-benar tidak enak.

"Jimin hyung—"

"Kalau kau tidak bersedia, aku akan berangkat dengan Dokter Min saja." kataku bersikeras.

"Dan aku akan pergi bersama Jimin. Aku tidak akan meninggalkannya." Lagi-lagi Taehyung berucap santai. Selalu di pihakku.

Jungkook menatapku dalam diam, dan aku tidak akan gentar. Firasatku berkata bahwa kami akan membutuhkan Yoongi. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku yakin aku harus menuruti kata hatiku.

"Baiklah. Dokter Min akan berangkat bersama relawan yang kalian bawa. Rombongan pengungsi akan berangkat setelah mereka." ucap Jungkook final.

Aku tersenyum lega. "Terima kasih, terima kasih banyak."

"Kalau begitu kita sudah harus mulai berkemas. Aku akan memberitahu komandan mengenai rencana ini. Warga juga mesti memahami apa yang akan mereka lakukan." ucap Seokjin.

Kami mengangguk mengerti, lalu segera membubarkan diri. Aku dan Taehyung kembali ke tempat kami. Secepat mungkin membereskan barang-barang kami. Tidak boleh ada yang tertinggal.

"Kameramu jangan sampai hilang. Kau punya data liputan kita, 'kan?" tanyaku pada Taehyung untuk memastikan.

Pria itu mengangguk. "Tenang saja, semua aman denganku."

Aku menggenggam tangan sahabatku, membuatnya memberiku pandangan tidak mengerti. "Terima kasih, kau sudah banyak membantuku."

Taehyung mengulas senyum, dan aku sangat suka melihatnya. Senyum yang mampu membuatku merasa kami akan baik-baik saja.

"Kau juga, Jimin -ah. Tetaplah kuat. Kita akan pulang ke keluarga kita, jadikan itu penyemangat bagimu."

Aku yakin Taehyung selalu benar, dan aku percaya padanya.

"Omong-omong, kenapa Jungkook mengajak kita, ya? Setahuku dia akan membawa keluarga dari Bukjoseon."

Taehyung mengendikkan bahu. "Aku sudah mendengarnya, tapi kata Seokjin hyung anak-anak itu akan berangkat bersama warga yang lain."

Aku merasa heran. Aku pikir Jungkook lebih memilih pergi bersama keluarga pengungsi dari Korut, mengingat pertengkaran kami tadi malam yang tak menemui titik terang.

"Aku yakin dia ingin pergi bersamamu dulu, Jimin-ah. Oleh karena itu Jungkook membawa Seokjin hyung juga, dan pasti dia tahu jika kau ikut bersamanya maka aku juga harus ikut." jelas Taehyung.

Aku memiringkan kepala, tidak mengerti sama sekali.

"Intinya dia ingin tetap denganmu. Dia mau menyelamatkanmu terlebih dahulu."

Aku terkesiap mendengar itu.

Benarkah?

.

.

.

.

.

To be continued.

-Author note-

Wah, ini chapter 2 nya temen-temen. Mungkin endingnya chap depan nih. Di sini settingnya tahun 2042 ya. Semua ini murni fiksi belaka, dan aku juga berharap dunia tetep aman tenteram damai :')

YoonMin, KookMin, VMin. Kira-kira mana yang bakal jadi pasangan sesungguhnya dari cerita ini? xD Coba tebak~

Di sini Jungkook rela gak berangkat bersama keluarga dari Korut demi Jimin. Dan kenapa Taehyung seakan tahu segalanya tentang Jimin? Terus kenapa Jimin maksa Yoongi harus berangkat seenggaknya sesudah mereka ya? Hmm.. #sokmisterius.

Nantikan jawabannya di chapter selanjutnya hehehe. Makasih udah baca sampai sini temen-temen.

Last, mind to review?