One Massage for You
.
Pairing :
Akabane Karma, Shiota Nagisa
.
Genre :
Supernatural, Romance
.
WARNING :
Typo, OOC, agak melenceng dari cerita asli, gaje dll
.
Ansatsu Kyoushitsu selalu milik Matsui Yuusei
.
.
Iris mercury itu menatap pemuda biru yang selalu mengusik pikirannya akhir-akhir ini. Nagisa yang tengah membaca buku di kursi taman itu sangat entah mengapa membuat jantungnya berdebar. Bukan karena baru kali ini pemuda berambut merah itu menatap wajah serius Nagisa. Bukan pula karena buku yang pemuda berambut biru baca adalah sebuah novel picisan.
Tapi, rambutnya.
Rambut biru langit itu kini tak lagi diikat dua. Nagisa menggerainya dan helaian rambut itu kini menari lembut mengikuti hembusan angin sore. Anggap saja wajah tenang nan serius itu adalah poin tambah untuk kemanisan pemuda itu. Napas pemuda berambut merah itu tertahan. Untuk sejenak, paru-parunya seakan menolak oksigen masuk ke dalamnya.
Jika saja Nagisa itu perempuan, mungkin dirinya sudah berlutut dan memberikan pemuda manis itu seikat bunga yang ia petik sembarang dari pinggir taman. Ah, lagi-lagi kenyataan menusuk hatinya. Nagisa itu laki-laki. Bukan perempuan.
Karma tidak bodoh. Dia tahu apa yang kini dia rasakan pada pemuda bluenette itu–meskipun harus sedikit sakit hati karena ucapannya yang mengatakan kalau Nagisa itu temannya, tapi percayalah, itu dia lakukan demi melihat senyuman Nagisa, kok. Namun, mengapa ketika dirinya baru merasakan perasaan ini harus kepada laki-laki?
Mungkin rumput yang bergoyang dapat menjawabnya.
Angin sore berhembus sedikit kencang, membuat helaian biru itu bergerak asal hingga membuat Nagisa harus menahan rambutnya agar tidak terlalu berantakan. Iris azure itu memperhatikan pergerakan Nagisa dalam diam. 'Manis,' pikir Karma dalam hati. Untuk sejenak, Karma tertegun. Tanpa ia sadari, jantungnya berdegup kencang disertai perasaan hangat di dalam dadanya.
Dirinya benar-benar telah jatuh cinta.
Tepat setelah angin sore berhenti berhembus, iris azure Nagisa mendapati Karma yang berdiri beberapa meter. Menyadari itu, Nagisa tersenyum lembut. Pemilik rambut merah hanya bisa mengusap tengkuknya dengan sedikit kaku, ketahuan menatap pemuda manis itu dalam diam. Dengan berlahan, dia pun berjalan mendekat. Sebuah senyuman tipis pun ia buat dengan tangan yang sedikit ia angkat, "Yo.. Nagisa-kun." sapanya.
Nagisa yang melihat itu pun tersenyum lebar. Tangan kirinya yang tadinya digunakan untuk memegang buku kini beralih fungsi menjadi membalas sapaan Karma. "Karma-kun, tumben berdiam diri di sana."
"Hm? Siapa yang berdiam diri? Tadinya aku merasa salah lihat kalau ada malaikat turun ke bumi hanya untuk membaca novel." Karma melirik buku yang tengah di baca oleh Nagisa. "Novelnya novel picisan lagi."
Mendengar itu, Nagisa sedikit merengut. Pipinya sedikit memerah–entah karena malu atau kesal. Napas Karma sedikit melambat. Ekspresi imut itu terlalu menyilaukan bagi pemuda merah itu. "Karma-kun! Tolong jangan menggodaku seperti itu!" seru Nagisa sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.
Karma tertawa nista. Menggoda Nagisa adalah hal yang paling ia sukai saat ini. "Kenapa dimasukkan lagi? Nggak ngelanjutin bacanya?"
"Nggak. Nanti Karma-kun menggodaku lagi."
"Hee~ ada yang ngambek~"
"Aku nggak ngambek!"
Karma tertawa untuk kedua kalinya. Bukan tawa nista, melainkan tawa yang benar-benar lepas. Nagisa yang melihat itu pun tersenyum. Rasa kesalnya tadi sudah menghilang entah kemana. Beberapa detik kemudian, Karma menghentikan tawanya. Berdeham pelan, lalu melirik Nagisa yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Kenapa? Aku terlalu keren?" celetuk Karma dengan narsisnya. Senyum Nagisa meluntur–tergantikan aura sweatdrope akan kenarsisan teman berambut merahnya itu.
"Kepedean," gerutu Nagisa. Sedikit memajukan bibirnya sambil menggerutukan betapa narsisnya Karma yang membuat sang iblis hanya bisa mendengus geli. Melihat itu, ingin rasanya Karma tertawa tertawa lepas. Iris mercury itu pun menatap Nagisa dari samping. Pemuda berambut biru itu kini asyik menatap anak-anak yang mulai berdatangan untuk bermain.
Sepertinya waktu berduaan sudah habis, wahai Iblis Merah.
Karma ikut menatap arah pandang Nagisa dan mengendikkan bahunya tak acuh. Mau ada anak-anak, kakek-kakek atau orang lain pun pemuda itu tidak peduli. Yang penting bersama Nagisa–itu malah sudah lebih dari cukup. Terkadang Karma berpikir, dirinya adalah iblis merah yang sangat menyukai wasabi dan Nagisa adalah malaikat yang sengaja turun ke bumi untuk menikmati keindahan surga dari bawah.
Mereka sangat berbeda, tapi entah mengapa bisa berteman itu cukup diherankan. Tapi, menjadi temannya saja Karma sudah bersyukur–meskipun dalam hati meminta lebih–dan pemuda itu tidak ingin Nagisa jauh darinya. Karma menghela napasnya pelan. Bolehkah ia sedikit egois untuk permintaan yang ini?
Ia harap iya.
"Nee.. Karma-kun, kau takut dengan kematian?" tanya pemuda manis itu tiba-tiba. Karma mengernyitkan dahinya kuat. Apa maksudnya itu? Bisa-bisanya Nagisa menanyakan pertanyaan itu. Nagisa tidak mengalihkan pandangannya, tetap menatap anak-anak yang tengah bermain. Karma diam sejenak, memikirkan jawaban.
Mengalihkan pandangannya dari Nagisa–menatap langit biru sebagai pelampiasannya–pemuda merah itu mengangkat suara, "Entahlah." Karma mengendikkan bahunya sedikit tak acuh. Bola mata Karma bergerak menatap Nagisa sekilas. "Kalau Nagisa-kun sendiri? Takut, kah?"
Yang dibalas tanya tersenyum tipis, "Sedikit." jawabnya singkat. Kepala Nagisa bergerak ke arah kiri, menatap Karma. "Kalau doppelganger? Karma-kun percaya?"
Sebelah alis Karma naik. Kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan, membuat wajah pemuda merah itu semakin dekat dengan pemuda manis itu. Samar-samar aroma sampo yang dipakai Nagisa tercium. Dalam diam, Karma berusaha mengontrol detak jantungnya yang semakin menggila. "Makhluk pembawa pesan kematian itu, ya?" gumam Karma lalu memutar kedua bola matanya. "Itu cuma gosip. Jangan bilang kau percaya dengan kabar angin itu?"
Nagisa memandangnya sedikit datar, membuat Karma sedikit heran. "Kenapa?" tanya pemilik iris mercury itu sambil menegapkan punggungnya. "Apa aku salah ngomong?" lanjutnya sambil menatap wajah Nagisa secara keseluruhan, memperhatikan setiap detil pahatan ciptaan Tuhan yang terlihat sempurna di mata Karma.
Sudut bibir Nagisa tertarik perlahan. Pemuda manis itu tersenyum kaku sambil menatap tangannya yang dipangku. "Tidak ada," Nagisa menghirup napasnya dalam-dalam. Kemudian, pemuda bluenette itu menatap iris mercury Karma dalam-dalam. "Berarti Karma-kun tidak percaya doppelganger, kan?"
Jeda sejenak. Karma sedikit tidak mengerti mengapa topik pembicaraan ini bisa berlanjut. "Begitulah," jawab Karma singkat.
"Mari berandai-andai. Misalnya, Karma-kun melihat doppelganger Karma-kun sendiri bagaimana?"
'Kalau itu terjadi sih, terima nasib saja.'
'Mungkin akan mengurung diriku nantinya.'
Untuk kesekian kalinya, Karma terdiam. Kalimat itu seenaknya terlintas di otaknya. Padahal dirinya hanya menguping, tapi obrolan itu bisa tersimpan di otaknya hingga saat ini. Rahang Karma mengeras. Firasatnya mulai tidak enak. Entah mengapa dirinya tidak menyukai pembicaraan ini. Apa maksudnya? Nagisa melihat makhluk itu atau hanya sekedar rasa penasarannya saja?
Dengan alis yang sedikit bertaut, pemuda merah itu membalas tatapan Nagisa. "Kau melihat makhluk itu?"
Dan ketika mendengar pertanyaan itu, Nagisa hanya tersenyum.
.
Suara jangkrik disertai kehangatan sinar matahari menjadi poin tersendiri di bukit belakang sekolah saat ini. Karma menatap langit yang terlihat dari sela-sela dedaunan. Sebelah tangannya ia jadikan bantal dan sebelahnya lagi ia biarkan bergantungan. Iris mercury itu bergerak, menatap Rio yang tengah berenang di kolam yang dibuat oleh gurunya–Koro-sensei.
"Oooiii, Karma! Kau yakin tidak mau berenang saat ini? Airnya seger banget loh!" ajak perempuan pirang itu sambil memainkan air. "Siang-siang begini memang sangat pas buat berenang. Untungnya si Gaku-chan sedang ada urusan OSIS tadi–makanya bisa bolos."
Karma hanya diam mendengarnya. Memang dia menyetujui ajakan temannya itu untuk bolos, tapi sayangnya pemuda merah itu sama sekali tidak memiliki niat untuk berenang. Karma lebih memilih tidur-tiduran di atas dahan pohon sambil menikmati angin yang kebetulan lewat. Terkadang burung-burung yang tengah hinggap di ranting menjadi objek pandang tersendiri bagi pemuda merah itu.
Saat ini hatinya bimbang tak menentu. Obrolannya dengan Nagisa kemarin sore mengianginya semalaman. Kematian dan doppelganger. Dua kata itu cukup menganggunya saat ini–padahal sebelumnya dirinya cuek bebek dengan hal-hal yang menyangkut dua kata itu.
"Karmaaa! Kaga seru kalau cuma aku yang berenang, woi!" teriak Nakamura Rio. Raut wajah perempuan itu terlihat sedikit kesal. "Kalau tahu kau hanya tidur-tiduran, mending tadi aku ajak yang lain."
Karma tersenyum meremehkan, "Memangnya kau mau mengajak siapa? Gakushuu?" tanyanya merendahkan. "Kau mengatakan itu seperti mempunyai teman yang bisa diajak bolos saja." lanjut Karma setelahnya.
Rio yang mendengar itu menghentakkan kakinya kesal, "Berisik kau, Karma! Kau juga senasib denganku!" balasnya sambil menunjuk pemuda merah yang masih asyik tidur-tiduran di dahan pohon.
Karma mendudukkan dirinya, dengan kaki kiri yang terlipat dan kaki kanan yang bergantungan. Kedua tangannya ia letakkan di atas kaki kirinya yang terlipat. Rambut pemuda merah itu terlihat semakin berantakan–namun itu justru manambah kesan keren. "Jangan salah," ucap iblis merah itu memberi jeda. "Gini-gini aku punya teman selain kalian berdua, loh~"
Rio memandang Karma dengan tatapan tak yakin, "Oh, ayolah jangan berkhayal. Kita bertiga sudah berteman sedari kecil, dan aku yakin kau pasti tidak dengan mudahnya berteman dengan orang lain."
"Hei, aku serius!" ujar Karma. Di detik setelahnya, pemuda merah itu melompat turun dan duduk di pinggiran kolam renang. "Meskipun sedikit tidak rela mengatakannya 'teman' sih." lanjutnya sambil memainkan air dengan kaki.
"Beneran serius?"
"Iyeee Bule nyasar..."
"Karma sang Iblis Merah Pecinta Wasabi–disingkat IMPW–itu bisa berteman selain aku dan Gaku-chan?"
Karma memutar kedua bola matanya bosan. Tau, ah. Percaya kaga percaya sekarang sih udah bodo amat.
Untuk beberapa detik, Rio terdiam. Iris birunya menatap Karma dengan pandangan tak percaya, "Hah?! Seorang Iblis sepertimu beneran bisa berteman selain aku dan Gakushuu?!" teriaknya mengulang kalimat sebelumnya dengan nada yang berbeda, seakan-akan Karma berubah menjadi batu. "Hei, siapa itu? Aku penasaran dengan orang yang kurang beruntung bisa berteman denganmu itu?"
Iris mercury itu memandang datar Rio yang kini ikutan duduk di sampingnya. Karma sedikit menggeser duduknya, menjauhi Rio yang kini basah kuyup. "Maaf saja jika kau termasuk orang yang kurang beruntung itu, Rio."
Rio menyenggol pemuda merah itu, "Hei! Kecuali aku dan Gaku-chan maksudnya. Kau lihat saja selain kami berdua, memangnya ada yang mau berteman dengan iblis merah sepertimu?! Baru satu menit berkenalan, mereka semua langsung tidak tahan dengan kejahilanmu tahu!"
Karma memutar kedua bola matanya bosan. "Yaa..yaa..terserah apa katamu sajalah, Bule nyasar." ucap Karma sambil mengorek-ngorek telinganya dengan jari kelingking. Dengan sigap, Karma menghindari pukulan Rio dan tersenyum mengejek. Perempuan berambut pirang itu bergerutu kesal sambil memainkan air kolam
"Dia orang yang manis. Aku tertarik dengannya ketika pertama bertemu." Karma memulai ceritanya. Kepala Rio tertoleh pelan, iris birunya melihat Karma yang kini memandang langit. "Dia sama seperti langit. Begitu indah dan menenangkan."
Rio sedikit memiringkan kepalanya, "Temanmu itu?"
Pemuda merah itu tidak menjawab. Diam berarti iya dan Rio sudah siap mendengarkan cerita Karma lebih lanjut lagi. "Matanya. Aku sangat menyukai iris azurenya yang menatapku. Tangannya yang mungil dan rambutnya yang halus itu juga termasuk hal yang kusukai darinya. Namun, yang paling utama itu adalah senyumannya yang bagai–"
"Tunggu. Bukannya kau mengatakan itu temanmu tadi? Sekarang kau malah terlihat sedang jatuh cinta, Karma." potong Rio.
Mendengar itu, Karma tersenyum miris, "Bukannya tadi sudah kubilang, kalau aku sedikit tidak rela menyebutnya teman." ujarnya kemudian menghela napas frustasi. "Hanya karena dia anak yang kurang percaya diri, makanya aku bilang dia temanku."
"Jadi kau terpaksa, gitu?"
"Ho'oh. Terpaksa banget." keluh Karma. "Tapi setelahnya aku ngeliat senyumnya sih, jadi nggak terlalu nyesal juga." Karma tersenyum lebar ketika membayangkan senyuman Nagisa di hari itu. Iris mercury itu menatap Rio, hanya sekedar ingin melihat reaksi wajah yang akan ditunjukkan oleh temannya itu.
Sebelah alis Karma naik ketika mendapati ekspresi Rio ternyata lebih mengerikan dari yang ia kira, "Lu ngapa?" tanya Karma sambil mencolek-colek teman pirangnya itu.
Senyum kaku pun terukir. "Ma, pas kamu lagi jatuh cinta gini emang ngeri sih..," ucap Rio dengan nada yang cukup pelan. Karma mengernyitkan dahinya kuat, tidak mengerti maksud Rio. "Tapi saat ini ada yang lebih ngeri. Aura gelapnya itu loh mematikan," lanjut Rio sambil menggerakkan kepalanya, mengkode seseorang di belakang Karma.
Air liur ditelan dengan paksa. Oke, sekarang dirinya cukup mengerti maksud Rio. Entah dirinya yang kurang pengawasan atau memang aura itu yang menyembunyikan keberadaannya, intinya saat ini Karma baru merasakan aura hitam itu sekarang. Perlahan, pemuda itu menggerakkan kepalanya ke arah belakang. Iris mercurynya mendapati Asano Gakushuu berdiri di sana dengan tangannya yang terlipat di dadanya. Matanya menatap tajam Karma seolah pemuda merah itu memiliki hutang banyak kepadanya.
Like a boss. Sekiranya itu yang terlihat dari sudut pandang Karma saat ini.
"Oh, ternyata itu kau , Gaku-chan. Yoo~ apa kabar~" Karma mengatakannya dengan sangat santai. Tangannya melambai pelan, terkesan mengejek.
"Hai, Gaku-chan, udah lama berdiri di sana, kah?" sapa Rio dengan maksud mengurangi aura hitam yang mengelilingi ketua OSIS itu. Rio menahan napasnya sejenak ketika sang ketua OSIS itu justru menatap tajam dirinya. Bukannya berkurang, aura hitam itu justru semakin pekat.
"Hee~ Gaku-chan, memangnya bel pulang sudah berbunyi? Tumben-tumbennya datang ke sini di jam sekolah." sindir sang iblis merah tanpa rasa takut. Senakal-nakalnya Rio, perempuan itu selalu bungkam ketika salah satu teman kecilnya itu marah–meskipun nggak pernah kapok. Lain halnya dengan Rio, Karma justru menikmati ini.
Dehaman cukup keras menjadi bel pertanda sang ketua akan memulai sesi 'pembantaian'. "Rio dan Karma," panggilnya sambil menatap kedua teman kecilnya itu dengan emosi. "Harus berapa kali kubilang untuk jangan bolos, hah?!"
"Sampai Gaku-chan insyaf dan ikut kita bolos," jawab Rio sekenanya. Matanya menatap polos Gakushuu sambil memeluk kedua kakinya. Rasa takutnya menghilang seiring aura hitam Gakushuu yang mulai pudar.
Karma menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan jawaban Rio, "Tidak, sampai Bapak Gakuhou dan Koro-sensei bersatu–jika tidak dengan Karasuma-sensei juga boleh. Kalau bisa, sampai Gakushuu punya adik tuh sekalian."
Gakushuu memijit pelipisnya pelan. Cukup. Dirinya sangat lelah memiliki dua teman kecil pembuat onar seperti mereka. Entah mengapa hingga saat ini pemuda itu bisa berteman dengan mereka berdua. "Ini tidak ada hubungannya dengan ayahku, Karma."
Karma mengendikkan bahunya tak acuh. Masa bodo dengan ucapan sang ketua OSIS itu. Kaki Karma bergerak memainkan air. "Oi, Gakushuu, mumpung di sini, mending ikutan berenang sama Rio gih. Tuh anak udah terlanjur nyebur tadi."
Helaan napas lelah terdengar oleh kedua makhluk pembuat onar. Kedua bola matanya menatap Karma dan Rio pasrah. Mau bagaimanapun kenakalan mereka, Gakushuu tidak pernah bisa benar-benar marah. "Ayo cepat kembali ke sekolah. Istirahat akan berakhir lima menit lagi." perintahnya. Iris ungunya menatap Rio, kemudian pemuda itu melepas blazernya. "Untuk sementara pakai ini dulu. Aku akan menghubungi Ren untuk menyiapkan seragam cadangan." Pemuda berambut jingga itu melempar blazernya dan merogoh saku celananya, mencari handphone.
"Ayo cepat, aku tidak ingin mengurusi kalian lebih lanjut jika terlalu sering membolos." ujar Gakushuu sambil mulai berjalan. Tangan pemuda itu bergerak mencari nomor dan di detik setelahnya Gakushuu sudah sibuk dengan urusannya.
Rio memakai blazer Gakushuu dan berdiri di samping Karma. "Ngomongnya sih gitu, tapi nyatanya dia peduli juga sama kita–meskipun ngomelnya kaya emak-emak sih," Karma menganggukkan kepalanya setuju. Memang, si ketua OSIS itu tsundere tingkat akut.
"Btw, nama 'teman baru'mu itu siapa? Sepertinya cukup keren juga sudah menaklukkan iblis merah." tanya Rio sambil mengikuti Karma yang juga mulai berjalan. Langkahnya tidak terlalu besar ataupun lambat, namun memperjarak antara mereka berdua dan Gakushuu yang sudah beberapa meter di depan mereka.
"Shiota Nagisa."
"Wow, nama yang imut." komentar Rio sambil menatap Gakushuu yang menghentikan langkahnya.
Pemuda berambut jingga itu membalikkan badannya dan menujuk kedua temannya dengan perasaan kesal, "KALIAN BERDUA! JALANNYA YANG CEPAT, BEL MASUK AKAN BERBUNYI, TAHU!" teriak sang ketua OSIS sambil berkacak pinggang, menunggu Rio dan Karma.
Rio tertawa pelan, "Lihat, dia sudah marah."
Lain halnya Rio, Karma justru tersenyum tipis. "Memang namanya seimut orangnya." ujar pemuda merah itu tidak nyambung. Rio memutar kedua bola matanya. Nih anak kalau lagi kesambet panah cupid sepertinya perhatiannya sulit dialihkan. "Tapi sayang, dia laki-laki." Dan setelahnya Karma berlari menuju Gakushuu.
Rio terdiam di tempat. Otaknya mencerna kalimat terakhir yang dilontarkan Karma. Dengan ekspresi aneh, perempuan itu pun mengorek kupingnya dengan jari kelingking. "Itu...nggak salah denger, kan?"
"RIOOO! JIKA KAU TIDAK KESINI DALAM TIGA DETIK, KAU HARUS MEMBERSIHKAN TOILET PULANG SEKOLAH NANTI!"
"Ck, iya..iya..dasar Gaku-chan. Kalau sering marah cepat tua loh." gerutunya sambil berlari.
.
.
.
.
Yoshh... sekiranya baru itu yang dapat dituliskan :v
Tidak ingin berkomentar banyak sih–soalnya nggak tahu apa yang mau dikomentarin selain yang tadi. Jadi, akhir kata, terima kasih sudah membaca. Kritik, saran dan komentar dipersilahkan banget~ :3 Maaf jika alur cerita gaje dan ditemukan typo yang amburegul... :v *plak* ~(^ w ^~)
