OhMari presents
.
.
All I Have
.
Jeon Wonwoo (GS!)
Kim Mingyu
.
.
I gave you $10,
.
"Astaga, Gyu-ya, bagaimana kau bisa ada disini?" tanyaku khawatir pada pemuda tinggi yang berada di depan pintu apartemen kecilku. Mingyu duduk meringkuk di samping pintu dengan wajahnya yang nampak sangat berantakan. Aku memegang bahunya dan berusaha mengangkatnya agar ia berdiri.
Kutatap wajahnya, berharap mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Namun saat kulihat sorot matanya yang terlihat menyedihkan itu, yang ku tahu hanya ada satu orang yang bisa membuat Mingyu menjadi seperti ini. Aku membuka pintu agar kami berdua bisa masuk ke dalam dan membicarakan masalahnya lebih lanjut. Kami berdua masuk ke dalam dan duduk di sofa setelah aku mengunci pintu kembali.
Tanganku bergerak mengusap punggung tegapnya untuk menenangkan Mingyu. "Gyu, lihat aku, kumohon. Bicaralah." Kutangkupkan tanganku ke wajahnya dan menolehkannya ke arahku.
"Aku diusir oleh kakek."
"Apa? A-apa maksudmu, Gyu?"
"Dia menyuruhku untuk memilih perusahaan atau cita-citaku sebagai pelukis. Aku memilih menjadi pelukis dan disinilah aku." Aku paham sekarang masalah apa yang sedang dihadapinya, Mingyu juga sebenarnya telah membicarakan hal ini denganku beberapa kali.
"Kau tahu betul konsekuensinya kan, Gyu? Aku percaya apapun keputusan yang kau buat. Hanya saja, aku tidak ingin kau menyesal nanti. Kau tahu benar bahwa dengan memilih menjadi pelukis kau akan kehilangan dukungan kakekmu."
Mingyu menangkupkan tangannya ke tanganku yang berada di pipinya dan mengelusnya perlahan. Kemudian ia tersenyum sambil berkata, " Bukankah aku punya kau, Won? Berjanjilah bahwa kau akan selalu mendukungku apapun yang terjadi nanti."
"Percayalah, aku hanya akan pergi jika kau yang memintaku, Gyu. Kuharap kau sadar bahwa yang bisa kuberikan hanyalah dukungan dan cinta. Jadi-"
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Mingyu telah memotongnya, "Dan itu cukup untukku." Setelahnya senyum timbul dari kedua belah bibir kami dan ia memelukku dengan hangat.
.
"Jadi apa rencanamu sekarang, Gyu?" tanyaku sembari menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Mingyu yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh ke arahku lalu berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab, "Aku akan mencari pekerjaan part-time sementara ini sambil mencari order lukisan. Aku butuh uang untuk membeli perlengkapan melukis karena sebagian besar alat melukisku telah dibuang oleh kakek."
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum senang karena paling tidak Mingyu sudah merencanakan masa depannya. Masa depan yang ia impikan selama ini, bukan yang diingini kakeknya. Mingyu terlihat bahagia maka aku juga ikut bahagia. Aku mulai menata sarapan kami di meja makan. Hanya sekedar roti bakar dan susu, tapi aku yakin Mingyu tidak masalah akan hal itu.
"Baguslah, aku suka dengan rencanamu. Oh iya, setelah ini aku akan segera pergi bekerja hingga nanti sore. Kau mau bawa kuncinya atau bagaimana?" tanyaku lagi.
"Hmm, kau bawa saja. Sepertinya aku akan pulang lebih larut daripada kau. Dan, bisa tolong buatkan duplikat kuncinya?" kata Mingyu yang kujawab dengan anggukan mantap. "Baiklah, Gyu. Kudoakan yang terbaik untukmu. Semoga beruntung!"
.
Orang bilang bahwa jika kita menjadikan hobi sebagai pekerjaan, maka kita tidak akan merasa bahwa kita sedang bekerja, dan harus kuakui bahwa perkataan itu benar. Aku memang tidak mempunyai hobi yang spesifik, aku hanya merasa sangat senang berada diantara anak-anak kecil. Untunglah aku dapat memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kondisiku itu. Bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak memang tidak bergaji terlalu besar, tapi aku menikmati setiap detik yang kuhabiskan dengan calon-calon penerus bangsa itu.
Sebelumnya aku pernah bekerja kantoran, dan aku merasa tidak nyaman setiap waktu. Jadi ketika takdir memberiku pekerjaan baru sebagai guru TK, tak ada yang bisa kulakukan selain bersyukur dan bersyukur tanpa henti. Guru TK mungkin dianggap sebagai pekerjaan sepele bagi sebagian orang, tapi tidak bagiku. Justru aku merasa bahwa takdir seorang anak ditentukan saat ia masih kecil, maka dari itu aku berusaha membuat semua anak didikku bahagia dan tidak takut dengan masa depan mereka.
Pengalamanku inilah yang membuatku dapat merasakan apa yang kekasihku rasakan. Ia adalah seorang pelukis handal, namun tidak ada satupun dari keluarganya yang mendukungnya. Ia tersiksa, Mingyuku menderita ketika tidak ada yang menghargai bakat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Entah apa yang terlintas di pikiran kakeknya hingga beliau tidak mengakui bahwa cucunya sangat berbakat hingga membuat Mingyu menjadi rendah diri dan tidak yakin pada dirinya sendiri.
Aku dan Mingyu sama-sama sebatang kara tanpa orangtua selama ini. Bedanya, ia memiliki seorang kakek kaya raya, sedangkan aku hanya mempunyai diriku sendiri. Namun, aku memiliki kebebasan melakukan hal yang kusukai sedangkan ia harus terkungkung dalam penjara buatan kakeknya. Mingyu memang tidak terlihat lemah dari luar, tapi aku mampu melihat betapa hancurnya ia saat kakeknya tidak memperbolehkannya menjadi seorang pelukis. Mingyu memiliki dukungan kakeknya hanya selama ia mau menurut dengan keinginan kakeknya saja.
Tapi kini, yang kami berdua miliki adalah satu sama lain. Aku tidak memiliki bakat seluar biasa kekasihku, tapi aku selalu berusaha untuk mengimbangi dirinya. Aku berusaha untuk selalu ada untuknya, terutama di saat-saat seperti ini. Aku sadar aku tidak bisa berbuat apa-apa dan menengahi perseteruan Mingyu dan kakeknya. Jadi, aku melakukan apa yang bisa kulakukan dan memberikan apa yang dibutuhkan Mingyu.
Kepercayaan. Ya, aku percaya padanya dan akan terus percaya padanya hingga ia juga bisa percaya pada dirinya sendiri.
"Ssaem?" Suara imut itu mengagetkanku dari lamunanku. Kulihat pemilik suara itu sambil mengulaskan senyum, " Ya, Channie?".
"Tidak apa-apa sih, hehehe. Chan cuma bingung kenapa Won-ssaem diam saja dari tadi," ucapnya polos. Kuusap kepalanya dengan penuh kasih yang dibalas dengan cengiran lucu dari bocah 6 tahun itu. Inilah yang membuatku betah dengan makhluk-makhluk kecil nan lucu ini. Mereka memang terkadang nakal, tapi melihat senyum lucu mereka adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan.
"Bagaimana? Gambarmu sudah selesai? Sini, ssaem mau lihat." Chan berlari kecil menuju bangkunya untuk mengambil gambarnya lalu menunjukkannya padaku. Saat kulihat gambarnya, aku tidak tahan untuk tidak tersenyum. Seperti biasa, walaupun gambarnya masih berantakan khas anak kecil, tetapi gambar tersebut selalu ceria dan penuh warna.
"Wah, Chan memang hebat! Ssaem suka dengan warnanya yang cerah!"
"Hehehe, ssaem tidak bohong kan?"
"Chan sayang, buat apa ssaem bohong? Teruslah berlatih dan ssaem yakin gambar Chan akan semakin bagus." Chan menganggukkan kepalanya penuh semangat.
.
Tok.. tok.. tok..
Kudengar seseorang mengetuk pintu apartemenku, yang kuyakini adalah Mingyu. Aku cepat-cepat menutup panci sup yang sedang kumasak dan mengambil kunci untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, benar saja, wajah tampan itulah yang kulihat. Sayangnya, wajah itu tidak tampak bersemangat. Aku berharap aku bisa pura-pura tidak tahu apa yang terjadi, tapi sayangnya, aku tahu.
Kuraih tangannya sambil menariknya masuk setelah itu pintu kukunci kembali. Ia telah berjalan mendahuluiku dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Aku menghela napas perlahan saat melewatinya karena aku masih harus menyelesaikan kegiatan memasakku.
Tak lama, sup yang kumasak telah matang. Aku segera mematikan kompor dan mengambil dua buah mangkuk untuk aku dan Mingyu. Kutuangkan sup di masing-masing mangkuk dan setelahnya kutaruh di atas meja makan bersama dengan dua mangkuk lagi yang berisi nasi. Setelah meja makan telah siap, saatnya aku memanggil Mingyu untuk makan.
Ketika aku telah berada di hadapannya, wajah Mingyu tetap sama seperti tadi. Sepertinya hari ini merupakan hari yang berat baginya. "Gyu? Ayo makan dulu." Pria tampan itu memandangku sejenak lalu menatapku heran. "Kau tidak mau menanyakan kabarku dulu?"
Aku terkekeh pelan, "Untuk apa? Aku tahu kau baik-baik saja. Ini hanyalah hari yang buruk, bukan hidup yang buruk."
"Tega sekali kau," ucapnya setengah merajuk.
"Aku tahu kau sedang ada masalah, tapi bukan berarti aku akan ikut larut dalam kesedihanmu, Gyu. Perjalanan panjangmu baru akan dimulai, aku tidak mau kau sudah menyerah disini."
"Bisakah tidak mengomel dulu, Won?"
"Ya tergantung..."
"Wonnieee."
"Kalau kau bisa menghapus wajah kusutmu yang jelek itu, aku akan berhenti mengomel."
"Hmm, baiklah, dasar cerewet." Aku seketika menjitak kepalanya karena kesal dibilang cerewet. "Sudah, sana ayo makan. Aku lapar," ujarku. Mingyu lalu berjalan menuju meja makan dengan bibir yang masih dimajukan. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.
Sebenarnya aku juga sedih melihatnya sedih, namun aku harus menyimpannya sendiri sementara ini. Kami berdua harus saling melengkapi, jika ada yang sedah sedih, yang satu harus mampu menjadi kekuatan bagi yang lain. Aku tidak mau menunjukkan kekhawatiranku kepadanya karena aku takut ia akan semakin meragukan dirinya sendiri.
"Wooooniiieee, katanya lapaarr, ayo cepat." Terdengar suara malasnya dari meja makan yang membuyarkan lamunanku. Aku segera menyusulnya di meja makan dan mendudukkan diriku tepat di depannya. Setelah itu, kami berdua makan dengan tenang dalam diam karena kami memang terbiasa tidak berbicara saat mengunyah makanan.
Hanya butuh waktu sekitar 20 menit bagi kami berdua untuk menyelesaikan makan malam. Mingyu memutuskan untuk menonton TV sambil melihat-lihat dokumennya, sedangkan aku masih di dapur untuk membuat teh. Tidak ada jarak antara dapur dan ruang tengah karena apartemenku memang kecil sehingga kedua tempat tersebut beserta ruang makan menjadi satu.
"Besok hari kedua, Gyu. Kau masih semangat kan?" tanyaku sambil membuat teh untuk kami berdua. Mingyu hanya menjawabku dengan sebuah anggukan singkat karena ia tengah merapikan dokumennya.
"Ah, iya, Gyu. Aku mau menunjukkan sesuatu. Sebentar akan kuambilkan." Sebelum beranjak, aku meletakkan dua cangkir teh diatas meja, "Ini tehnya." Setelah itu, aku melangkahkan kakiku menuju ruang baca kecil-kecilan ku yang berada di sebelah kamar. Aku berjalan ke belakang meja dan mengambil sebuah kanvas berukuran sedang dan sekotak kecil alat lukis yang memang pernah Mingyu titipkan padaku karena ia takut kakeknya tahu kalau Mingyu masih membeli alat lukis.
Untung saja kanvas dan kotak itu tidak terlalu berat, jadi cukup mudah bagiku untuk mengangkatnya sampai ke ruang tengah. "TADAAAA! Kau ingat? Kau pernah titip ini padaku," ucapku bahagia. Mingyu yang saat itu tengah meminum teh mendadak sedikit tersedak. Matanya berbinar senang dan ia segera berdiri untuk memelukku.
"Aah, aku benar-benar lupa. Dengan ini aku bisa membuat 1 lukisan yang bisa kujual nantinya," kata Mingyu antusias setelah melepaskan pelukannya padaku. Lelaki tinggi ini segera mengambil alih semua peralatan lukis yang sebelumnya kupegang dan melihatnya dengan pandangan tak percaya.
"Haish, iya, sudah, ditaruh dulu, Gyu. Sekarang saatnya istirahat dulu, besok kau harus mencari kerja lagi. Aku besok libur, jadi kalau kau mau makan siang di apartemen, SMS saja dan akan kumasakkan."
Mingyu mengangguk kemudian menaruh alat lukisnya dengan rapi di sebelah TV. Lalu ia mengambil dokumen lamaran kerja yang telah ia rapikan sebelumnya dan menaruhnya di dalam tas lagi. "Doakan aku sukses ya, sayang. Aku masih mau menonton TV sebentar, kau tidurlah." Mingyu meraih pipiku kemudian mengecup dahiku lembut.
"Tentu. Semoga beruntung. Aku tidur dulu ya. Jangan tidur terlalu malam."
.
MINGYU's Side
Ini sudah hari kedua bagi lelaki rupawan ini untuk mencari pekerjaan part-time. Seharusnya memang tidak sesulit itu untuk mencari part-time, tapi kesulitan berada di pihak Mingyu yang selektif. Alasannya bukan sesepele karena ia gengsi, tapi Mingyu mempertimbangkan gaji akan ia peroleh. Ia berpikir bahwa dirinya tidak punya terlalu banyak waktu untuk dibuang dengan bekerja di tempat kecil, Mingyu butuh uang yang cukup banyak untuk segera memulai karirnya sebagai pelukis walau harus menentang kakeknya.
Alasan utama sang kakek tidak setuju adalah pengalaman ayah Mingyu sendiri yang dulu juga merupakan seorang pelukis. Awalnya kakek Mingyu membiarkan ayah Mingyu untuk mengejar mimpinya atas permintaan sang istri yang juga nenek Mingyu meskipun ia tidak rela.
Sayangnya, setelah sang nenek meninggal, ayah Mingyu kembali dipaksa oleh kakek Mingyu untuk berhenti menjadi pelukis dan meneruskan usaha keluarga. Ayah Mingyu yang saat itu sudah menikah saat sang ibu meninggal tetap kukuh ingin terus menjadi seorang pelukis. Sebenarnya ayah Mingyu sudah cukup sukses saat itu, namun karena terus menerus dicerca oleh sang ayah, ayah Mingyu kemudian stress dan karirnya menurun tajam.
Ayah Mingyu terpaksa kembali ke rumah dan bekerja di perusahaan keluarga. Ia melakukannya karena ia butuh uang untuk menghidupi istrinya juga anaknya, Mingyu. Sang kakek merasa sangat senang karena anaknya mau kembali dan meneruskan usahanya tanpa mempedulikan perasaan ayah Mingyu yang sangat hancur karena impiannya runtuh begitu saja.
Perusahaan keluarga Kim berjalan sukses selama bertahun-tahun berkat bantuan dari ayah Mingyu juga, sehingga sang kakek merasa sangat puas dengan keputusannya sendiri. Akan tetapi, suatu musibah terjadi hingga menyebabkan ayah dan ibu Mingyu tewas dalam kecelakaan. Mingyu yang saat itu tengah beranjak dewasa kini menjadi sasaran sang kakek untuk menjadi penerusnya. Kakeknya selalu menekannya untuk mengikuti semua keinginannya.
Ya, akhirnya kakek Mingyu memang memperbolehkan Mingyu kuliah seni asalkan cucunya itu bersedia meneruskan perusahaan keluarga mereka. Mingyu saat itu memang tidak terlalu berambisi, jadi menurutnya asal bisa kuliah di jurusan seni sudah cukup baginya. Namun, sejak bertemu Wonwoo, ia menyadari bahwa ia terlahir dengan jiwa seni yang kuat dan ambisinya untuk menjadi pelukis tumbuh saat itu.
Saat ia mengungkapkannya kepada sang kakek, beliau sangat murka dengan cucunya. Beliau memberi Mingyu dua pilihan, meneruskan usaha keluarga atau pergi dari rumah dan melakukan apapun yang ia mau. Mingyu akhirnya memilih pilihan kedua hingga kini ia harus berdiri di atas kakinya sendiri untuk meneruskan kehidupannya.
Mingyu adalah seorang yang berpendidikan tinggi dan lulusan seni sehingga seharusnya tidak sulit baginya untuk mencari kerja. Beberapa perusahaan memang membutuhkan part-timer yang berkualitas seperti dirinya. Sayang sekali banyak perusahaan yang membutuhkan pekerja yang bukan lulusan seni, melainkan ekonomi atau IT.
Sedangkan di perusahaan yang berlandas seni, hanya tersedia pekerjaan part-time bergaji sangat rendah. Alasan lain adalah, Mingyu belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk menempati posisi yang baik dan gajinya pas walaupun hanya part-time. Hal ini membuat Mingyu sangat kacau, terutama karena ia telah mengalami hal ini selama 2 hari penuh.
Dengan hati yang panas, Mingyu kembali menuju apartemen kekasihnya yang sekarang menjadi tempat tinggalnya juga. Ia membuka pintu dengan kunci duplikat yang telah dibuatkan Wonwoo kemarin. Lelaki jangkung itu kemudian menutup pintu dengan kasar sehingga membuat penghuni yang satu lagi menjadi terkejut dan menghampirinya.
"Astaga! Ada apa ini? Kenapa kau kasar sekali menutup pintunya," kata Wonwoo.
"Diamlah sebentar, aku sangat lelah," jawab Mingyu malas.
"Apa ada masalah?"
"Hmm, ya. Aku masih belum dapat kerja."
"Ah, begitu. Tapi tidak usah membanting pintu juga kan, Gyu?"
"Hmm."
"Gyu, jawab yang benar."
"Won, diam."
"Baiklah, maafkan aku. Kau mau mandi atau mak-"
"DIAM!" Mingyu yang kesal akhirnya menghardik Wonwoo. Sang gadis hanya bisa membulatkan matanya kaget dan menunduk sedih. Melihat kekasihnya begitu, Mingyu sebenarnya tidak tega, namun ia sedang banyak pikiran saat ini dan ia tidak mau diganggu.
"Aku sedang ingin sendiri, tolong jangan ganggu aku untuk beberapa saat, Won." Kemudian Mingyu berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan Wonwoo yang masih shock setelah dibentak tadi. Gadis manis itu akhirnya beranjak menuju dapur untuk menyiapkan meja makan lalu duduk di salah satu kursinya untuk menunggu Mingyu.
Tak lama, Mingyu telah keluar dari kamar mandi dan langsung pergi ke kamar tidur. Wonwoo ingin mengajak kekasihnya untuk makan dulu, tapi ia takut akan dibentak lagi. Maka, malam itu, Wonwoo makan sendiri dalam diam hingga tanpa terasa tetes demi tetes air mata mengalir di wajah cantiknya.
AUTHOR'S NOTE:
Hayhay, ditunggu reviewnyaa, saran dan kritik bener2 dibutuhin. Sankyuu
