Disclaimer : KnB (c) Fujimaki Tadoshi sensei
Warning : Typo, OOC, Au, Dsb.
Genre : Supernatural n Fantasy
Pair : HIMITSU ;)
.
.
Chapter 2
Kagami memasuki kelasnya dengan malas. Akhir-akhir ini badannya tidak enak. Membuat ia ogah-ogahan untuk melakukan apapun. Setelah sampai di bangkunya pemuda itu langsung membenamkan kepala ke meja.
"Ada apa denganmu Bakagami? Putus asa karena selalu kalah denganku? Ah, tidak menarik."
Suara sapaan dengan nada berat serta remeh itu membuat Kagami mengangkat wajahnya dengan kesal. "Cih, sialan kau Ahomine. Aku sedang tidak selera meladeni mu, sana, biarkan aku tidur."
Lawan bicaranya yang berkulit dim itu mendecih. "Kalau lagi malas ya bolos saja."
Kagami mendengus walau wajahnya sudah terbenam lagi diantara lipatan lengannya. "Aku bukan tukang bolos mesum sepertimu."
Aomine langsung naik pitam. "Kau ngajak berantem?!" tapi sebelum dia menggebrak meja Kagami, kepalanya terlebih dahulu kena pukul dengan papan clipboard.
Duk!
"Aw?!" Aomine menoleh pada pelakunya dan melempar tatapan sengit. Seorang gadis berambut pink panjang sedang berkacak pinggang dan membalas pelototannya.
"Dai-chan, kau jangan coba-coba bolos dan baca Mai-chan mu itu di atap!"
"Urusai Satsuki." Dengus Aomine sambil mengelus kepalanya yang masih sedikit nyeri.
"Kagamin, kalau kau tidak enak badan ke UKS saja," saran Momoi yang beralih pada Kagami dengan raut Khawatir. Tak biasanya temannya yang satu ini diam saja diganggu Aomine.
"Tak apa Momoi, aku dikelas saja, di Uks agak membosankan." Kagami mengangkat wajahnya sebentar saat bicara.
"Ya sudah, tapi kalau tambah tidak enak ke Uks saja."
"Hm," gumam Kagami.
"Ah, Ohayou Akashi-kun."
Kagami dapat mendengar suara Momoi yang keras menyapa seseorang. Kagami tidak tahu kenapa bergidik mendengar nama yang disebut.
Dari sudut matanya Kagami mengintip orang yang disapa oleh gadis ceria itu. Pemuda berambut merah terang dengan manik heterechome. Aura orang itu sangat hebat. Tidak perlu jadi peramal atau apalah untuk mengetahuinya.
Bahkan Aomine yang-menurutnya- sangat Aho itupun dapat merasakannya. Walau saat ini pemuda berambut merah menyala tersebut terseyum. Senyum ramah.
Kagami memilih untuk kembali menidurkan kepalanya. Kalau dia beruntung mungkin ia bisa tidur tanpa ketahuan guru, dua atau tiga jam mata pelajaran.
Sayangnya harapan itu tak terkabul karena kasak-kusuk kelas.
"Kalian tahu kalau kita akan kedatangan murid baru?" suara para gadis teman sekelasnya terdengar heboh bahkan pagi baru saja mulai.
"Ya, kudengar dia murid laki-laki."
"Menurut kalian dia seperti apa?"
"Tampan tidak ya?"
Kagami mendecih. Dia jadi tidak bisa tidur tapi juga terlalu malas untuk ke UKS. 'Abaikan saja.'
"Kagamichii, kau tidak penasaran dengan murid baru itu ssu?"
Kagami mengeluh dalam hati. Orang paling berisik datang.
Kagami tidak perlu menoleh pada Kise yang kini menarik kursi disampingnya dan mendekatkan dirinya.
"Kise, jangan ganggu dia, kau tidak lihat dia sedang tidak enak badan nodayo?"
Suara dengan logat khas itu membuat Kise menoleh dengan cemberut. "Midorimachii, aku tidak mengganggu ssu."
Pemuda berambut hijau yang duduk dibelakang Aomine mendengus. "Apanya yang tidak mengganggu nanodayo."
Bunyi bel menghentikan Kise yang masih ingin membalas perkataan Midorima. Para murid itu buru-buru ke kursi masing-masing dan duduk dengan tenang.
Guru mereka memasuki kelas dan berdiri dibelakang mejanya. "Anak-anak hari ini kita mempunyai teman baru."
"Lho Sensei, dimana murid barunya?"
Seruan itu membuat Kagami mengangkat kepalanya. Dia memicingkan mata. Memang tidak ada siapapun disamping gurunya. Pantas saja teman-teman sekelasnya heboh.
"Anoo, saya disini kok."
Eh?
Kagami memindahkan matanya dan menemukan seorang pemuda bertubuh mungil dengan rambut berwarna biru terang berdiri didepan papan tulis.
"HEH?!"
Itu teriakan anak sekelas. Kagami sendiri juga terkejut. 'Kapan dia disana?!' bahkan batin Kagami saja menjerit kaget.
Mata Kagami memperhatikan detail dari pemuda didepan sana. Tubuhnya mungil, kulitnya putih cerah, matanya besar dan jernih berwarna biru. 'Seperti langit musim panas' batin Kagami.
"Hajimemashitte, ore wa Kuroko Tetsuya desu. Yoroshiku." Pemuda berambut biru langit itu membungkuk sopan.
"Saa, Kuroko-kun sekarang duduklah."
"Ha'i."
Kagami memperhatikan pemuda itu yang berjalan melewatinya dan duduk di bangku belakangnya. Sekilas rasanya ia melihat pemuda itu tersenyum tipis. Tapi Kagami tidak yakin, rautnya terlalu datar dan sulit dibaca.
.
.
"Menurutmu bagaimana dengan murid baru kita itu?" Aomine bertanya disela kunyahannya. Akashi dan Midorima menyipitkan mata tanda tak suka.
"Jangan bicara sambil mengunyah Aomine," ketus Midorima namun sepertinya Aomine tidak mau mendengar.
"Menurutku dia manis," seru Momoi dengan senyum terpampang lebar.
"Aku tadi kaget sekali ssu, dia tiba-tiba saja ada didepan padahal tadi aku sama sekali tidak melihatnya," seru Kise.
Murasakibara hanya menganggukkan kepala menyetujui tanpa melepas kegiatannya makan. Kagami tampak tak tertarik dengan pembicaraan mereka dan berkonsentrasi pada makanan yang menggunung itu, tapi Akashi tahu dia tetap mengikuti dengan cermat.
Akashi sendiri hanya mendengarkan sembari mengunyah perlahan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Matanya melirik ke sudut ruangan kantin sekolah. Seseorang menarik atensinya. Dua manik berbeda warna itu menyipit saat merasa sulit untuk fokus pada objeknya.
Entah perasaan Akashi saja atau orang itu seolah kasat mata. Sulit dilihat dan seolah selalu mencoba menghindari retina yang bermaksud terarah padanya.
"Ada apa Akashi-kun?"
Suara Momoi yang terdengar agak heran membuat Akashi tersentak kecil. Gadis itu peka dan observan seperti biasa.
Akashi memasang senyum tipis. "Iie, tadi hanya merasa ada seseorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya."
Kepala Momoi berputar ke tempat Akashi menoleh tadi. "Siapa?" mata gadis pinky itu menjelajahi ruangan kantin.
Akashi menoleh ke tempat tadi. Tapi yang dicari tidak ada lagi.
"Ah, lupakan saja, sepertinya ia sudah pergi."
.
.
Akashi menaiki satu per satu anak tangga menuju ke atap. Jangan salah sangka dulu, dia tidak berniat membolos seperti Aomine kok. Lagipula sekarang masih jam istirahat.
Membuka pintu perlahan yang menampilkan hamparan beton yang disiram cahaya matahari siang, Akashi melayangkan pandangan.
Akashi merasa ia perlu kesini. Hanya feeling. Tapi prasangka dari seorang Akashi Seijuurou tidak pernah bisa dianggap remeh.
Tubuh Akashi tertimpa bayangan, siluet manusia, sehingga dia mendongak kearah atas dari pintu dibelakangnya.
Akashi mendapati seseorang yang sedang duduk bermandikan cahaya matahari. Salah satu kakinya diselonjorkan sedang yang satu lagi lututnya dinaikkan, menjadi penyangga tumpuan tanganya yang juga menumpu kepalanya. Tangan yang satu lagi ia gunakan untuk memegang sebuah buku.
Sinar matahari memantulkan putih dari kulit orang itu. Membuatnya tampak bersinar- dan sejenak Akashi merasa bodoh karena berpikiran bahwa itu tampak menawan. Surai soft graynya bergoyang karena ditiup angin dan entah kenapa memberi efek dramatis. Matanya fokus pada buku walau sorotnya tak tajam. Wajahnya datar nyaris tanpa ekspresi. Oke ralat, benar-benar tanpa ekspresi.
Mata tajam Akashi melihat tiga bintang dikerah blazernya, menandakan kalau pemuda itu adalah anak kelas tiga.
Hm... Kenapa Akashi tidak pernah melihatnya sebelum ini?
Pemuda itu tiba-tiba menolehkan kepalanya, menatap Akashi dengan mata tanpa ekspresi. Akashi tersentak kecil.
Walau wajahnya datar Akashi dapat melihat alisnya yang berkerut halus. Tapi tak lama kemudian pemuda berambut soft gray itu membuang muka. Kembali membaca.
Kening Akashi berkerut samar, dia diacuhkan? Oke, seorang Akashi tidak bisa diacuhkan seperti itu.
Akashi berdeham kecil dan pemuda itu menoleh. Hanya mengangkat sebelah alisnya. 'Tidak sopan!' geram Akashi.
"Maaf kalau mengganggu, tapi sepertinya aku belum pernah melihatmu disini." Akashi berusaha bicara dengan sopan.
"Hn, aku murid baru." Pemuda itu menjawab pendek.
"Oh."
Hening sebentar dan pemuda itu kembali pada bukunya. Akashi benar-benar jengkel saat ini. 'Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?!'
"Mengacuhkan seseorang itu tidak sopan," sahut Akashi dengan nada datar. Pemuda itu kembali menoleh pada Akashi dengan kening yang lebih berkerut. Dia menutup bukunya.
"Saa, kau mau bagaimana?"
"Aku hanya ingin tahu kau siapa."
Pemuda itu menaikkan sebelah alis. "Mayuzumi Chihiro desu. Kelas 3-A."
Pemuda itu berdiri dan melompat turun, mendarat tepat didepan Akashi dengan lembut. Akashi harus mendongak karena selain pemuda itu lebih tinggi, ia juga berdiri sangat dekat dengannya saat ini.
Pemuda itu sedikit membungkuk. Mulutnya berada didekat telinga Akashi. Membuat Akashi sedikit waspada.
"Salam kenal. Akashi Seijuurou."
.
.
TBC
A/N:
Ai lagi ^^
Chihiro: "Gak ada yang peduli."
Ai: "Hidoi ssu yo." /pout.
Tetsuya: "Ai, jangan suka niru Kise-kun."
Chihiro: "Chapter 2 ini masih kayak prolog bagi ku."
Ai: "Biarin aja alurnya lambat gini dulu. Berhubung ide masih ngawang."
Tetsuya: "Masih banyak yang dipikirin dan ditambahin. Refrensinya jadi harus di searching lagi."
Chihiro: "Gimana soal pair?"
Ai: "Masih secret dong. Yang penting Patron nya udah ke dunia Manusia."
Tetsuya: "Chapter ini terlalu jelas sampai nggak ada yang perlu dijelasin."
Chihiro: "Ya udah kalo gitu, tutup aja. Mohon kemurahannya untuk ngasih Review pada bocah ini."
Ai: "Oi!"
