Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

The Wrong Target © Daichi as KnS06

.

Warning : OOC, Typos, AkaKuro, BL, Don't Like Don't Read, No Flame

.

Malapetaka.

Tetsuya jalan terhuyung sejak meninggalkan sekolah setengah jam yang lalu. Pemuda itu tidak menyangka, bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya untuk menjalin suatu hubungan dengan seorang Seijuuro. Kapten basket Teiko berpredikat absolut yang mengaku-ngaku selalu benar.

Jujur, perasaan takut menyelimuti. Seijuuro yang menerimanya benar-benar sebuah tanda tanya besar. Apa mau pemuda itu? Terlebih bagaimana ia bisa menjelaskan ini pada mereka—Daiki dan Sei—tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kalimat mudah. Tentu tidak menyakiti satu sama lain.

"Hah," Tetsuya menghela napas. Terhitung sejak beberapa jam lalu, ini sudah yang ke sekian kali ia menghela napas, entah yang ke berapa.

Sikap Daiki juga. Tetsuya pikir pemuda berkulit eksotis itu setidaknya menunjukkan ekspresi lebih selain keterkejutan. Namun setelah pernyataan luar biasa itu, Daiki malah tertawa renyah; seolah menertawakan dirinya. Mengabaikan perasaannya yang seolah dicubit secara tidak kasat mata.

"Hah,"

.

Paginya, Teiko terguncang. Seorang Kuroko Tetsuya yang selalu rapi mendadak menjadi hantu. Rambutnya mencuat ke sana kemari dengan kantung mata tebal dan wajah kusut. Bahkan Kise Ryota sampai bergidik ngeri dan memeluk Atsushi yang sedang mengunyah snack Mabou, "Dare?"

"Aku yakin matamu masih awas untuk melihat siapa itu," Shintarou menaikkan kacamata, menenteng benda keberuntungan hari ini; kotak tisu.

"Kau baik-baik saja, Kuroko?" tanya Shintarou kemudian.

Melewati sang shooter 3 point di koridor, Tetsuya menjawab datar, "Ha'i. Aku baik-baik saja."

Tetsuya menghela napas lelah. Meletakkan kepala di atas meja, berusaha memejamkan mata sejenak sebelum bel berbunyi. Naas, sebuah tepukan menyentaknya ke alam nyata. Kepalanya bangkit dengan gestur kaku nyaris seperti patung. Aomine Daiki mengagetkannya.

"Jangan tidur. Nanti tidak ada yang membangunkanku kalau kau juga tertidur," ucap Daiki. Ace tim basket itu bersikap seperti biasa; jauh di luar perkiraan.

Tetsuya membuka mulut yang hanya berakhir terkatup. Daiki kembali menyela, "Kise dan Murasakibara tidak bisa diharapkan, sedangkan Midorima terlalu pelit." Pemuda itu mengerucutkan bibir, tidak sadar bahwa kelakuan kecilnya mampu mengembangkan sebuah senyum tersirat di wajah kusut Tetsuya.

Kedua mata berbeda warna menyipit. Berdiri di ambang pintu, Akashi Seijuuro tersenyum miring. Padahal ia ingin menyapa kekasih barunya, menjahili dengan dua atau tiga patah kata, tetapi urung. Bukan waktu yang tepat—pikirnya. Ia harus bersabar sedikit lagi.

.

"Kuroko, ikut aku!" perintah Seijuuro tepat setelah bel makan siang berbunyi.

Tetsuya mendadak kaku. Berusaha mengulur waktu dengan memperlambat gerakan; membereskan buku yang hasilnya sia-sia. Seorang Seijuuro tidak bisa dibohongi, "Hitungan ketiga, Kuroko ..." Seijuuro mengetuk meja sekali.

Tak tak ...

Seijuuro berdiri tegap seiring kedua mata menyipit; turuti atau tamat—kira-kira begitulah maknanya.

"Aomine-kun, aku harus pergi," ucapnya pelan mengikuti langkah Seijuuro yang tergesa.

"Oh, semoga beruntung." Daiki tersenyum manis, memberikan dorongan secara batin meski ia tidak bermaksud demikian. Namun, satu hal pasti adalah Daiki memberi perhatian lebih padanya.

.

"..."

Hening. Tidak ada yang bicara dari kedua pemuda yang kini sedang duduk berdua di bawah pohon rindang belakang sekolah.

Tetsuya sudah membuka bekalnya sejak tadi, tetapi jangankan disentuh, Seijuuro hanya menatap datar. Bukan ke bekalnya, melainkan wajahnya! Ada apa dengan kapten basket itu?

"Akashi-kun?"

"Hn?"

"Apa Akashi-kun tidak lapar?" tanya Tetsuya takut-takut.

"Bagaimana mungkin kau berpikir aku tidak lapar?" Seijuuro menopang dagu, memperhatikan detail sang pemain bayangan hingga pemuda mungil itu salah tingkah.

"Habisnya—"

"Karena aku hanya diam?"

Seijuuro tertawa renyah, "Ayolah Kuroko ... bagaimana mungkin kau membiarkanku dalam keadaan seperti ini?"

"Keadaan seperti apa maksud Akashi-kun?"

Seiijuro menghela napas sebelum beralih meraih sumpit, membelahnya menjadi dua bagian; mengambil sosis goreng untuk kemudian ia suapkan pada Tetsuya.

Tetsuya membekap mulutnya, malu.

"Enak?" Seijuuro tersenyum tulus. Ada sesuatu yang menggelitik perutnya ketika melihat rona merah menjalar di wajah Tetsuya hingga ke telinga.

Dan sosis goreng berbentuk kelinci itu tertelan dengan susah payah, "Aku bisa makan sendiri."

"Kau pikir siapa yang mau menyuapimu? Aku hanya mencontohkan hal yang harus kau lakukan, Kuroko ..." kata Seijuuro datar. Nyaris sangat datar hingga Tetsuya lupa caranya bernapas.

Ayolah, siapa yang tidak kaget dengan perubahan sikap sedrastis itu hanya dalam hitungan detik?

Akashi Seijuuro benar-benar mengerikan. Tetsuya harus segera putus atau dia benar-benar akan menggila.

.

"Melamun, eh?" Ryota menyenggol bahu Daiki kasar, berniat bercanda tetapi pergerakan Daiki secara tiba-tiba malah membuatnya hampir terjungkal.

"Bersikaplah manis, Aominechi ... kau sama sekali tidak seperti Kurokochi," sang model mengeluh.

"..."

"Hah?" Ryota mengkeret. Tatapan Daiki sangat tidak mengenakkan. Jadi, daripada menjadi bulan-bulanan, lebih baik ia mundur teratur.

Daiki menghela napas kasar. Sesuatu telah mengusiknya meski ia tidak tahu apa. Jadi ketika jam pelajaran usai telah berbunyi, ia segera menyabet tasnya menuju lapangan basket. Menghiraukan sosok Tetsuya yang berusaha mengimbangi jalan cepatnya.

Aomine Daiki tidak buta untuk tidak melihat apa yang Tetsuya dan sang kapten basket lakukan di belakang halaman sekolah.

Agaknya Daiki sedang dalam mood tidak bagus—pikir Tetsuya.

.

"Kencangkan tanganmu, Kuroko?!" Seijuuro berteriak dari pinggir lapangan. Pasalnya pemain bayangan mereka yang kini merangkap menjadi kekasihnya itu berkali-kali salah oper. Harusnya, Tetsuya mengoper pada Daiki, tetapi bola malah sering diterima oleh yang lain.

Bukan dia yang salah—bentak Tetsuya dalam hati—karena operannya tidak akan pernah salah. Daiki lah yang menghindar dengan apik dari operannya hingga bola berbelok ke arah lain.

Tetsuya terengah, menatap Daiki dengan pandangan kesal. Belum reda, Seijuuro datang membawa perkara. Pemuda bermarga Akashi itu berdiri tepat di belakang Tetsuya dengan segala aura keabsolutannya.

"Kau kemanakan matamu, Kuroko? Kalau ini pertandingan, mereka pasti akan kelabakan,"

Tidakkah kau berpikir begitu?"

Ryota menyela, "Aka—"

"Diam, Kise. Aku sedang bicara padanya."

"..."

"Jawab aku," Seijuuro menuntut tanpa belas kasihan.

Tetsuya tersenyum culas dibalik wajahnya yang tertunduk. Seijuuro bicara seolah-olah hanya dia yang salah. Padahal penyebab semua ini adalah dia—Aomine Daiki yang hanya diam mematung tanpa mengeluarkan satu pun kalimat pembelaan untuknya.

Menggigit bibir pelan, ia pun berkata, "Maaf."

Singkat padat dan jelas. Cukup jelas di telinga Seijuuro hingga ia diam-diam menyeringai.

Latihan selesai. Tetsuya mengambil tasnya begitu saja di ruang ganti tanpa berganti pakaian. Kekejaman Seijuuro benar-benar membuat darahnya mendidih. Padahal seingatnya dia tidak seperti ini beberapa waktu lalu.

"Tetsu, aku ingin bicara," Daiki berdiri di depan menghadang Tetsuya.

Baru saja bibirnya hendak mengeluarkan makian, tiba-tiba Seijuuro sudah menarik tangannya. Membawa tubuh kecilnya ke balik punggung, "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kau tidak akan bicara padanya."

"Aka—"

"Jika kau ingin bicara, harusnya tadi, bukan sekarang. Karena Kuroko tidak pernah akan mau dengar," Seijuuro melangkah mendekat. Menepuk bahu Daiki ringan sambil memiringkan kepala. Entah apa yang diucapkan, wajah Daiki tiba-tiba memucat.

Lagi-lagi Akashi Seijuuro tersenyum miring.

"Kuroko, ayo pulang."

.

"Kau marah padaku?" tanya Seijuuro saat keduanya jalan beriringan.

Tetsuya diam, cukup menjawab apa yang sang lawan tanyakan.

Tersenyum sesaat, Seijuuro lantas menarik dagu Tetsuya pelan. Membimbing netra biru lembut itu untuk menatapnya secara paksa, "Jangan abaikan aku," ucapnya dengan nada lembut yang terkesan menuntut.

Sebuah kemutlakan yang tidak bisa diganggu gugat.

Tetsuya meneguk ludah kasar. Berada di dekat Seijuuro benar-benar membahayakan kinerja jantungnya. Padahal ia yakin tadi ia marah padanya, tetapi tubuhnya bereaksi lain. Sentuhan Seijuuro bagaikan sengatan kecil yang mampu membuat persendiannya seakan lumpuh dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Pelan dan mematikan. Lembut dan mengerikan. Akashi Seijuuro punya keempat sisi itu.

"Kuroko ..." suara itu memanggil, menyentaknya kembali ke alam nyata.

"Maaf," hanya itu yang bisa Tetsuya ucapkan. Karena ia tahu, apa pun alasan dan jawaban lain yang ia jawab akan berbuntut panjang.

"Tapi ..."

Harusnya Akashi-kun tidak mengatakan itu. Aomine-kun 'kan teman kita," Tetsuya melepaskan tangan Seijuuro dari wajahnya.

"Teman?" Seijuuro tersenyum miring, membungkam habis pemuda yang baru saja buka suara.

"Mulai besok, aku akan menjemputmu. Jadi tunggu aku,"

Ini perintah?!"

.

Keposesifan Seijuuro benar-benar masalah. Sejak menjalin hubungan, tidak sekali dua kali Tetsuya dihempaskan ketika baru saja merasakan awan. Pemuda itu terlalu lihai. Sangat teliti tanpa celah. Masa hubungan yang awalnya Tetsuya perkirakan hanya akan bertahan paling lama dua minggu, menjadi satu bulan. Hari ini tepat satu bulan dan sikap pemuda itu kian menyusahkan.

Semalam Seijuuro mengirim pesan. Memberinya list menu makan siang yang dia inginkan. Namun, Tetsuya malah berujung sendirian. Pemuda itu tidak datang hingga jam makan siang berlalu. Muncul tanpa dosa dengan sejuta pesona, hingga rasa amarah itu mau tidak mau luntur.

Daiki berdiri saat Tetsuya baru saja masuk kelas. Pemuda itu terang-terangan membolos—lagi.

"Mau ke mana?"

"Tidur."

"Tapi Aomi—"

"Tch! Berisik?!"

Tetsuya bungkam. Tetapi bukan Kuroko Tetsuya jika tidak mengekor. Pemuda itu sudah cukup bersabar satu bulan ini, tetapi Daiki malah menyulut.

"Aomine-kun, jika kau ingin marah, marah padaku. Katakan sesuatu," kata Tetsuya setelah berhasil mengejar Daiki sampai atap sekolah.

"Kenapa aku harus?" ucapnya dingin menyentak Tetsuya.

"Kenapa diam, huh?"

"Kalau begitu, maafkan aku. Aku akan pergi," Tetsuya berpaling. Perkataan Daiki menyakitinya. Namun, sebuah pelukan membuat kedua matanya membola.

Daiki memeluknya.

"Jangan pergi,"

"Eh?"

"Tch, sial?!" gumamnya pelan.

Tetsuya terdiam cukup lama. Daiki belum bicara lagi hingga secara tiba-tiba memanggil namanya dengan nada lembut, "Tetsu ..."

Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan padaku? Huh?"

"Apa maksud Aomine-kun?"

"Jika aku tahu apa maksudku maka aku tidak akan bertanya, bodoh?!"

"..."

"Apa maksud Akashi dengan kau miliknya?" lanjutnya.

Degh ...

Kapan?

Dahi Tetsuya berkerut, sebenarnya apa yang sudah Seijuuro katakan?

Dan kedua matanya membola ketika menyadari arti gestur aneh Seijuuro waktu itu. Saat pemuda itu menepuk pundak Daiki dengan senyum samar sejuta makna.

Lidah Tetsuya kelu. Bagaimana ia bisa mengatakan pada Daiki bahwa Seijuuro hanya salah paham? Jika ia melakukannya, maka ia akan menyakiti Seijuuro. Namun diam juga perkara. Keduanya bagaikan pisau bermata dua. Semua pilihannya memiliki risiko sama.

Hingga—Daiki mendorongnya. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Dan lagi-lagi menyinggung Tetsuya yang pada dasarnya sensitif. Alih-alih marah, Tetsuya malah menendang tulang kering Daiki. Satu pukulan telak untuk membuat ace tim basket itu mengampun penuh iba.

"Senang, eh?" tanya Seijuuro dari balik tangga. Awalnya dia hendak mengejar Tetsuya, tetapi melihat bagaimana Daiki memeluk kekasihnya posesif, ia urung. Memilih diam dengan segala pikiran absolutnya.

"Sejak kapan?" Tetsuya mematung.

"Sejak awal."

"Bagaimana rasanya dipeluk Aomine? Kau tampak sangat menikmatinya," pemuda itu tersenyum, kontras dengan apa yang diucapkan.

"Itu tidak seperti yang Akashi-kun maksud," Tetsuya kelabakan.

Bagus.

"Memang maksudku seperti apa? Hmm?" Seijuuro mengusap wajah Tetsuya dengan jari telunjuknya pelan. Sebuah belaian yang sukses membuat sang kekasih menegang.

Bagus.

"Akashi-kun, jangan seperti ini," Tetsuya mundur teratur. Sikap Seijuuro menyalakan alarm tanda bahaya; siaga satu.

"Seperti apa?" Seijuuro semakin mendekat, membelai leher Tetsuya dengan sentuhan mematikannya.

Tap

Tetsuya tersudut. Tidak ada tempat untuk mundur. Belum sempat ia bereaksi, Seijuuro tiba-tiba mendekat. Wajah pemuda itu sangat dekat, bahkan helaan napasnya dapat Kuroko rasakan. Harum dan lembut.

Dia pasti gila! Kuroko tidak bisa berkutik meski logikanya sudah melolong. Jadi ketika hidung Seijuuro sudah menyentuh hidungnya, kedua mata Kuroko pun terpejam erat.

Daiki mengeratkan kedua tangan. Padahal mereka baru saja berbaikan. Baru lima menit lalu tetapi kini ia malah disuguhkan sebuah pemandangan tidak terduga.

Akashi Seijuuro mencium Kuroko.

Tidak boleh. Tidak seharusnya seperti ini.

Daiki menekan dada kirinya yang berdenyut tidak nyaman. Rasanya menusuk hingga sudut hatinya terasa ngilu.

Dan sekarang, ia tahu. Sesuatu yang mengusik, perasaan aneh sejak waktu itu, ia tahu apa. Terlebih sejak Akashi membisikkan dua kalimat—dia milikku. Meski sulit mengakui, pada kenyataannya seorang Aomine Daiki yang digadang-gadang tidak peka, merasakan cemburu.

.

.

.

To be continued

Minna-san~ Yoroshiku.

Perkenalkan, aku Daichi, author baru di dunia perfanfictionan. Sebenarnya aku tidak bisa menulis, tapi Chichi bilang dia mau aku coba lanjutin karya dia karena aku juga penggila Kurobass.

Berbekal nekat bin nekat, aku coba tulis. Dan hasilnya? Aku tidak tahu~

Sebenarnya aku bukan fujoshi. Aku suka semua genre tanpa terkecuali tapi punya kesukaan spesial; Hurt. Maaf jika aneh, banyak typos atau apa.

Oh ya, sedikit info; Di sini Kuroko, Aomine, Kise, dan Mirasakibara satu kelas. Sedangkan Akashi dan Midorima beda kelas dengan mereka.

Yosh ... sudahi cakap-cakap kita. Terimakasih sudah membaca~