Asap nikotin tampak mengepul di bibirnya. Jarinya mengetuk rokok yang telah habis setengahnya. Pria itu sibuk memainkan permainan judi online di ponsel. Bibirnya menukik senyum ketika ia mendapat notifikasi memenangkan permainan tersebut. Jarinya menekan tombol untuk melanjutkan permainan. Sepertinya menang sekali tidak membuat dirinya puas.

"Taehyung, kemarin kau membunuh warga sipil? dasar tidak berperikemanusiaan." pria dengan surai silver itu terkekeh melihat judul berita yang terpampang di koran harian. Jarinya langsung membalik kertas ke halaman 11, "Terjadi pembunuhan di persimpangan rumah warga, korban dengan inisial KS ditemukan tewas tanpa otak."

"Kemarin aku sedang kesal karena seseorang nyaris melukaiku dengan gelas wine." jawab pria itu acuh tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Jadi kau membunuh orang karena kau kesal? Menarik sekali."

"Kau tahu benar sikapku 'kan, Jimin?"

Pria yang dipanggil Jimin itu terkekeh lagi. Koran yang sempat menyita perhatiannya ia lemparkan begitu saja ke tempat sampah. Ia mengambil smartphone hitam dalam sakunya. "Hari ini kita harus meneror agensi mafia milik Kim Namjoon. Aku malas membunuh, jadi aku hanya akan menghack semua situs keuangan mereka. Aku pembunuh yang bermain bersih 'kan?"

"Hm."

Jimin menghela napas mendengar jawaban acuh temannya itu. Tangannya menekan galeri ponselnya dan memasukan beberapa kata sandi di galeri tersebut. Senyumnya mengembang ketika melihat ratusan foto seseorang dengan baju bartender yang sangat cocok dikenakan pemuda berkulit porselen itu.

"Aigoo.. dia manis sekali. Ingin rasanya kuperkosa dia." Jimin tersenyum sendiri melihat ratusan foto pemuda kesayangannya itu, "Min Yoongi, saranghae~"

Perhatian Kim Taehyung teralihkan, "Min Yoongi? hyungnya si kelinci manis?"

Alis Jimin bertaut, "Kelinci manis? siapa itu?"

"Lupakan."

"Bercanda. Jeon Jungkook 'kan? iya." Jimin memperlihatkan salah satu dari sekian ratus foto Min Yoongi kepada Kim Taehyung, "Kau tahu? Kemarin aku mendapatkan foto screenshoot Yoongi yang sedang ganti baju lewat kamera tersembunyi yang kupasang di ruang ganti para bartender."

Sedikit terkejut Taehyung mendengarnya, "Wow, Licik juga. Aku bahkan tak kepikiran melakukannya."

"Astaga... melihat dada mulusnya saja sudah membuatku turn on. Kau harus tahu kemarin malam aku menderita sekali karena harus tertidur dalam keadaan horny parah. Meski sudah menuntaskannya di kamar mandi, tetap saja 'bangun' lagi." Jimin menggeser layar touch screen—memperlihatkan semua foto topless Min Yoongi kepada temannya itu.

Taehyung hanya menatap datar setiap foto yang diperlihatkan temannya itu. Semuanya Tidak menarik—

—sampai netranya menangkap foto pemuda yang disukainya tengah melepas kancing atas kemeja putih dan memperlihatkan leher jenjangnya.

"Lho? Kenapa ada foto Jungkook di sini? sepertinya kemarin aku salah save. Dia sama menggodanya dengan Yoongi sih." Jimin berniat menghapus foto itu sebelum tangan Taehyung mencegahnya.

"Jangan dihapus. Kirimkan padaku."

"Dasar Kim Taehyung, giliran foto Jeon Jungkook saja langsung buas."


V UCK YOU

BTS (c) Big Hit

Fanfiction by Rikka-Yandereki

Pairing: Kim Taehyung (V) x Jeon Jungkook

VKOOK

Killer!V x Bartender!JK

Rated: M

WARNING: Typo, Dirty Talk, OOC dll.

Bagi yang tidak nyaman dengan konten tersebut mohon tidak membacanya.


Jam menunjukan pukul 9 pagi. Waktu yang pas untuk berjalan keluar rumah menikmati udara pagi sambil menjalankan aktivitas seperti biasa. Pemuda dengan surai coklat gelap itu tampak berjalan di jalanan kota dengan perasaan senang. Oh, ia tidak berjalan sendirian. Hari ini ia berjanji menemani Yoongi—hyung kesayangannya membeli boneka kumamon.

Toko yang mereka tuju sebenarnya cukup jauh, tetapi Yoongi bersikeras tidak mau menaiki bis atau kendaraan lain. Ia ingin menghabiskan waktu berjalan kaki bersama teman kecilnya itu—Jeon Jungkook. Sudah lama mereka berdua tidak memiliki waktu luang seperti ini. Biasanya mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka hingga waktu kebersamaan mereka menjadi sangat minim. Oleh karena itu, kesempatan seperti ini merupakan hal langka yang tidak boleh disia-siakan.

Langkah mereka terhenti di depan mesin penjual minuman yang menampilkan berbagai macam merk minuman. Awalnya Yoongi ingin membeli beer, tetapi Jungkook melarangnya. Tidak baik mengawali pagi hari dengan minum minuman keras katanya. Jungkook dengan cepat memasukan uang dan menekan tombol minuman kaleng bergambar sapi.

Ya sudahlah. Hari ini Yoongi akan menjadi anak baik dengan minum susu cokelat di pagi hari.

"Yoongi hyung," Jungkook menatap Yoongi yang mulai meneguk susu cokelat itu. Likuid cokelat tampak menempel di sudut bibirnya, "sebenarnya... pria yang bernama Kim brengsek itu siapa sih?"

Susu kaleng yang diteguknya nyaris menyembur keluar. Mata sipit Yoongi melotot, "Astaga Jungkook, jangan ucapkan nama Taehyung dengan kata seperti itu!"

Jungkook memiringkan kepalanya bingung, "Hah? Memangnya kenapa, hyung?"

"Astaga kau benar-benar tak mengenal Kim Taehyung?" Yoongi menghela napas melihat temannya itu menggeleng. Ia berniat menceritakan sebagian pengetahuannya tentang Kim Taehyung.

"Yang kutahu sih, Kim Taehyung itu pembunuh bayaran yang paling mengerikan. Dia bisa membunuh korbannya tanpa menyentuhnya. Bahkan ada kabar burung yang mengatakan bahwa hanya dengan kata-kata yang diucapkannya bisa membunuh korban." Yoongi memukul kepala Jungkook pelan, "Makanya kemarin aku memarahi mu saat kau berbuat tidak sopan terhadapnya. Jangan cari masalah. Kalau kau mati dibunuh dia, aku tidak bisa hidup lagi. Pokoknya kau mati, aku juga mati."

Jungkook mengusap kepalanya, "Kalau aku mati, Yoongi hyung tetap hidup."

"Kau itu satu-satunya teman dan keluarga yang kumiliki. Aku tak bisa hidup tanpamu."

"Aku bisa hidup tanpa hyung."

"Bocah kurang ajar."

Yoongi mencubit pipi Jungkook gemas. Yang dicubit mengaduh sakit sambil tertawa.

Ah, senang rasanya menjadi manusia pagi yang menikmati suka cita. Setidaknya hidup mereka tidak sepenuhnya berada di dunia malam.

.—.—.

"Selamat datang."

Senyum pegawai wanita itu tampak mengembang di kedua belah bibirnya. Dengan sopan ia mempersilakan Yoongi dan Jungkook memasuki toko boneka itu. Jungkook yang melihat betapa ramahnya perempuan itu juga ikut tersenyum. Mereka memasuki ruangan yang dipenuhi berbagai macam boneka baik di dalam rak ataupun etalase. Mata Yoongi berbinar begitu netranya menangkap boneka beruang hitam dengan siluet lingkar merah terpampang jelas di salah satu rak belakang. Ia langsung berlari meninggalkan Jungkook.

"Hyung, hati-hati." Jungkook tersenyum ketika Yoongi meninggalkannya menuju boneka beruang hitam itu. Padahal umur Yoongi itu 24 tahun, dan itu bukanlah umur yang pantas untuk seorang pemuda yang menyukai boneka. Ya sudahlah, biarkan Yoongi bersenang-senang untuk pagi ini.

"Tuan, apa dia temanmu?" Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah pegawai wanita yang lebih pendek beberapa senti darinya.

Jungkook tersenyum ramah, "Lebih tepatnya hyung kesayanganku."

Yoongi menatap Jungkook dari kejauhan. Oh, temannya itu sedang asyik mengobrol dengan pegawai toko. Dirasa cukup mengamati keadaan temannya, matanya kembali meneliti tiap boneka di hadapannya. Boneka kumamon kesukaannnya itu memiliki berbagai ukuran dan bentuk. Yoongi ingin membeli semua boneka kumamon itu—satu toko boneka ini kalau perlu. Sayangnya ia tidak membawa uang banyak hari ini. Bibirnya mengerucut melihat harga yang bisa membuat dompetnya menipis saat itu juga.

"Aku beli kumamon yang kecil dengan jumlah banyak deh." Akhirnya pemuda itu memborong boneka Kumamon berukuran kecil dengan jumlah banyak, berhubung harganya lebih murah juga katanya.

Saat Yoongi berjalan mendekati kasir, tak sengaja salah satu boneka kumamon yang dipegangnya terjatuh. Bibirnya kembali mengerucut ketika ia kesulitan mengambil boneka yang jatuh itu. Ayolah kedua tangannya sudah penuh dengan boneka kumamon kecil ini.

"Ini boneka mu 'kan?"

Manik hitam Yoongi mengerjap pelan. Ia menatap pemuda di hadapannya. Surai silver indah itu membuatnya terpana beberapa detik.

"Namaku Jimin. Senang bertemu denganmu, Min Yoongi."

Manik Jungkook mengernyit heran melihat Yoongi bersama pemuda bersurai silver itu dari kejauhan. Siapa pemuda itu—dan kenapa Yoongi hyung dipeluk seposesif itu!?

Baru saja Jungkook ingin mengamuk menghajar pemuda silver itu—kalau saja sebuah tangan tidak melingkari pinggangnya dari belakang.

"Halo, kelinci manisku."

Jungkook terkejut bukan main. Suara ini adalah suara yang sangat ia benci dari salah satu pelanggan kemarin malam.

"Astaga Kim brengsek!" Jungkook meronta. Ia mencoba melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya itu.

"Hei, namaku Kim Taehyung bukan Kim brengsek." bukannya melepaskan, Taehyung semakin mengeratkan pelukannya. Ia semakin merapatkan tubuhnya hingga Jungkook merasakan ada sesuatu yang menusuk belah pantatnya.

"See? Aku sedang horny sekarang. Maukah kau membantuku untuk menuntaskannya?" Taehyung menyeringai. Ia mengembuskan napasnya di telinga Jungkook untuk menggodanya. Tentu saja pemuda kelinci itu bergerak risih. Telinga adalah bagian sensitifnya.

Jungkook semakin panik ketika pemuda brengsek di belakangnya mulai meraba bagian selatannya. Holy shit—

"Oh? inikah yang dinamakan double date?"

Taehyung menghentikan kegiatannya. Baik Taehyung ataupun Jungkook langsung menatap kearah sumber suara. Jungkook melihat Yoongi dan pemuda bersurai silver itu tengah bergandengan tangan.

Bergandengan tangan?!

Jungkook semakin terkejut.

"Cih, kau menggagguku Jimin." Taehyung mendengus tak suka. Kegiatan meraba tubuh kelinci kesayangannya jadi tertunda karena kedatangan temannya itu.

"Tahan napsumu, kawan. Kau bisa membuat pegawai wanita itu panas dingin melihatnya." kata Jimin sambil melirik ke arah pegawai wanita itu. Taehyung memutar matanya malas. Persetan dengan pegawai wanita yang melihat perbuatan mesum mereka, Taehyung tidak peduli.

Jungkook merasa tangan yang melingkar di pinggangnya mengendur. Ia langsung memanfaatkan kesempatan itu.

Jungkook berbalik menghadap Taehyung dan—

"ARGH! BRENGSEK!"

menendang kejantanan Taehyung tanpa perasaan.

Jimin terkejut, "Ah, Yoongi—"

Jungkook langsung menarik tangan Yoongi dengan cepat—hingga tautan jemari Yoongi dan pemuda silver itu terlepas begitu saja. Langkahnya berlari keluar dari toko boneka itu. Intinya mereka harus pergi dari dua orang mesum yang tidak jelas identitasnya itu.

"Argh—kembali kau—JALANG JEON JUNGKOOK!"

Jimin menutup kedua telinganya. Maniknya sedikit membola karena untuk pertama kalinya ia mendengar seorang Kim Taehyung berteriak seperti itu.

Baru saja Taehyung ingin mengejarnya, tetapi sosok Jeon Jungkook sudah hilang dibalik kerumunan orang yang berlalu lalang.

"Aduh, kelincimu jahat sekali. Tautan jemariku dan Yoongi dihancurkan begitu saja." Jimin menghela napas kecewa menatap telapak tangannya yang sedikit memerah karena Jungkook melepaskannya dengan kasar.

"Sialan." Taehyung mengacak surainya frustasi. "Kenapa Jungkook selalu menolak ku sih?!"

Jimin tertawa melihat temannya yang mengumpat kekesalan seperti itu. Pemandangan langka menurutnya, "Justru di situ sisi menariknya 'kan? Akhirnya kau bertemu seseorang yang sulit ditaklukan."

"Tapi dia terlalu brengsek untuk kutaklukan. Bocah sialan." Taehyung meringis memegang selangkangannya yang ngilu.

"Setidaknya masa depanmu tidak suram ditendang oleh orang yang kau sukai." Jimin tertawa lagi.

"Ah, sialan!" Taehyung mengeluarkan revolver 44 dibalik jasnya. Maniknya menatap tajam pegawai wanita itu dengan aura membunuh. Sorot matanya menggelap. Moncong revolver diarahkan tepat di dahi sang wanita.

"T-Tuan Anda mau ap—"

DOR!

.

.

.

.

.

.

"Hah..Hah..."

Baik Yoongi ataupun Jungkook meraup oksigen seperti orang kesetanan. Napas dan detak jantung mereka tidak beraturan. Rasanya seperti orang yang habis melakukan olahraga maraton. Saat ini mereka berada di taman yang cukup jauh dari tempat tadi. Mereka sangat lelah, hingga selama 20 menit lamanya tidak ada yang memulai pembicaraan. Rasanya kaki mereka mati rasa. Mereka masih belum berniat meninggalkan kursi taman itu.

"Jungkook." Yoongi memulai pembicaraan meski masih mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia menatap temannya yang masih memejamkan mata mengambil napas. "Hei—"

"Aku...hah...mendengarkanmu, hyung." Jungkook masih memejamkan matanya.

"Kenapa... kau lari?"

Manik cokelat itu perlahan terbuka. Sorot matanya menerawang. Ia belum berniat menjelaskan alasannya kepada hyungnya. Ayolah, mana mungkin ia menjelaskan kalau ia harus kabur karena Kim Taehyung meraba-raba tubuhnya? itu terlalu memalukan.

"Karena... ada Kim Taehyung." Jungkook mempertimbangkan alasan yang paling logis yang justru membuat Yoongi semakin mengernyit heran.

"Hah? Jangan bohong. Aku melihat Kim Taehyung memelukmu dari belakang dengan erat. Kalau alasanmu mengatakan karena ada Kim Taehyung, seharusnya saat itu juga kau sudah pergi." perkataan Yoongi membuat Jungkook semakin tersudut.

'Tetapi masalahnya si Kim brengsek itu mengunci pergerakanku sehingga aku tak bisa kabur.' batin Jungkook membela diri.

"Yoongi hyung sendiri juga berpelukan dengan orang asing bersurai silver itu! Kau pikir aku tak melihatnya? Aku lihat kalian berpelukan begitu posesif dan kalian bergandengan tangan saat melihat kami!" Jungkook marah. Sifat keras kepalanya yang tak mau kalah akhirnya keluar.

"Aish, Sudahlah. Aku tak mau berdebat denganmu. Sekarang ayo kita pulang dan istirahat. Kurasa nanti malam akan banyak pelanggan dan kita akan semakin sibuk." Yoongi bangkit dari kursi taman itu. Tak lupa ia membawa sekantung plastik penuh boneka kumamon.

Jungkook menghela napas. Ia ikut berdiri dari kursi taman itu. Mereka pun berjalan kembali ke rumah dengan hening yang menyelimuti perjalanan mereka. Selama perjalanan, Jungkook tak bisa berhenti memikirkan kejadian dimana Kim brengsek itu memeluknya begitu erat dan meraba area vitalnya.

Dan Jungkook melotot ketika merasakan bagian depan celananya menggembung.

"Astaga."

.—.—.

Musik diskotik menggema di dalam bangunan bertuliskan Suga's Bar. Kali ini Jungkook dan Yoongi kembali ke rutinitas malam seperti biasa, menjadi seorang bartender. Seperti biasa mereka akan meladeni para ahjussi, yeoja atau namja kaya raya dengan membuatkan minuman sesuai dengan permintaan mereka. Mereka juga terbiasa digoda oleh pelanggan mereka karena mereka memiliki paras kelewat tampan dan manis.

Jungkook melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 11 malam dan pelanggan yang datang pada hari ini bertambah 2x lipat.

"Jungkook Oppa hari ini senggang? mau pergi denganku?" Jungkook melirik seorang yeoja dengan busana yang cukup berkelas dan seksi. Ia dapat melihat belahan dada yang tercetak jelas di sana tetapi ia tidak tertarik.

Jungkook memberikan gelas berisi likuid brandy yang pekat pada yeoja itu, "Maaf saat ini aku sibuk. Lain kali saja ya?"

"Oppa selalu berkata lain kali, tetapi kau tidak pernah punya waktu." Yeoja itu mengerucutkan bibirnya yang seharusnya dapat membuat pria manapun akan luluh dan menuruti perkataan gadis itu. Tapi sekali lagi, Jungkook tidak tertarik.

"Mianhaeyo. Kau salah mengajak pergi pria sibuk seperti aku." Jungkook tersenyum. Tangannya meracik Liqueurs dan memasukannya ke dalam kopi. "Aku tak pernah memiliki waktu luang yang cukup. Ah, kemarin adalah waktu luang ku tapi sudah kuhabiskan bersama temanku haha."

Yeoja itu semakin cemberut. Tangannya bertumpu pada dagunya, "Oppa jahat—"

BRAK!

Semua pelanggan sedikit terkejut mendengar suara pintu bar yang dibuka—dibanting cukup keras. Pria dengan surai hazel yang ditata sedikit berantakan namun memberi kesan maskulin itu berjalan mendekat ke arah meja bar. Bunyi pantofel yang menggema di ruangan yang mendadak sunyi itu cukup membuat seluruh manusia di dalam ruangan itu menunduk takut. Sosok yang berlalu itu seakan-akan adalah sosok yang paling disegani dan ditakuti.

Jungkook menghela napas begitu tahu siapa pria yang seenaknya membanting pintu bar itu. Sepertinya Yoongi hyung harus membeli pintu baru. Manik cokelatnya juga menangkap sosok pemuda bersurai silver yang ia temui di toko boneka tadi pagi. Bedanya adalah penampilan pria itu lebih berkelas.

Kedua pemuda itu berjalan semakin mendekat ke arah meja bar. Jungkook menatap pria bersurai hazel itu dengan tatapan tidak suka.

"Halo, Yoongi~" Pria bersurai silver yang bernama Jimin itu tersenyum manja menatap bartender di depannya.

Yang disapa hanya bisa terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu pemuda itu lagi di tempat seperti ini.

"J-Jimin?" Yoongi terbata-bata. Ia masih tak percaya dengan pertemuan mendadak ini.

"Yup, That's me. Aku datang lagi—Ah, jangan tanyakan apa pekerjaanku nanti kau terkejut. Anggap saja kita kebetulan bertemu di tempat ini."

Lain Jimin, lain pula Taehyung si surai hazel. Tentunya Taehyung memiliki cara tersendiri untuk menyapa orang yang disukainya.

"Kukira kau sudah mati karena aku sudah menendang 'milikmu'." Jungkook memutar bola matanya malas, "Ternyata kau masih hidup, ya?"

Taehyung tersenyum tipis. Ia tak menanggapi guyonan lawan mainnya itu.

"Aku tak memintamu menjadi patung gratisan, Kim brengsek. Kalau tidak memesan apa-apa pergi saja." Yoongi yang mendengar kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jungkook sontak terkejut. Ia berniat menghentikan Jungkook, namun Jimin meraih pergelangan tangannya sambil menggeleng pelan.

"..."

"Kau bisu, eh? Tapi seingatku kejantanan yang ditendang tidak akan membuat orang bisu." Astaga Yoongi melotot lagi mendengar ucapan Jungkook. Padahal tadi pagi ia sudah berpesan pada Jungkook untuk tidak mencari masalah dengan Kim Taehyung.

"Hei, Kim breng—"

Ucapan itu terhenti ketika Jungkook merasakan sebuah benda dingin menyapa dahinya.

Sebuah revolver.

Jungkook terdiam. Ia masih menatap netra sewarna dengan surai pemuda di depannya. Ia sedikit terkejut tetapi ekspresi tidak menunjukannya.

Mungkin ini yang dinamakan profesional seorang Jeon Jungkook.

"Sekarang pilih mati atau serahkan tubuhmu."

Jungkook masih terdiam mendengar pilihan yang dilontarkan Taehyung. Beberapa detik setelahnya ia tersenyum.

"Aku tak mau keduanya." kata Jungkook tenang.

"Kalau begitu aku akan menyetubuhimu setelah itu langsung menembakmu."

"Kenapa kau menyebalkan sih? Tak bisakah kau menyetubuhi seorang yeoja saja? kenapa kau sebegitu inginnya mendapatkan tubuhku?!" Jungkook emosi. Persetan dengan moncong revolver yang semakin menekan dahinya.

Senyum menukik di paras tampan Taehyung, "Aku hanya menginginkanmu."

"Sekali lagi..." Jungkook menggeram, "Aku. Tidak. Menginginkanmu." ucapnya dengan penuh penekanan.

Jungkook terkejut ketika Taehyung tiba-tiba melompati meja bar. Yeoja yang sempat berbincang dengannya sontak menjerit. Pemuda kelinci itu mundur menciptakan jarak meskipun ia tahu di dalam meja bar tidak begitu luas. Maniknya menatap horror ketika Taehyung semakin mendekat dan—

"Hmphh!"

—Membekap mulut Jungkook dengan tangannya.

"Hei, Taehyung hentikan!" Yoongi berniat menolong Jungkook. Sikap Taehyung kelewat tidak sopan sudah melompati meja bar, tetapi kelakuan Jungkook juga tidak sopan menyulut emosi pelanggan.

"Jimin, urus Yoongi." perintah Taehyung kepada sahabatnya itu.

"Oke~"

Jimin meraih pergelangan tangan Yoongi untuk menghentikan pemuda porselen itu menolong Jungkook. Pembatas meja bar tidak menjadi halangan Jimin untuk menghentikan Yoongi.

"Maaf Yoongi, tetapi kelinci ini kuculik dulu."

"Hmpph! Hmmffh!" Jungkook semakin meronta ketika Taehyung memaksanya keluar dari meja bar dan membawanya ke dalam ruangan yang sangat ia benci.

Ruangan di mana banyak insan yang selalu melakukan hubungan seksual.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Terima kasih untuk yang sudah membaca! Semoga suka ya~ Btw chap ini belom kumunculin sisi 'crime' nya. Baru kuperlihatkan sedikit2. Aku juga berusaha ga OOT dari tema nya.

Akhir kata, silahkan tinggalkan kesan kalian di kotak review. Bagi yang ingin mengutarakan pendapat juga bisa. Siapa tahu bisa aku jadiin inspirasi untuk chapter selanjutnya. Sekali lagi terimakasih! ^^