"Breakup pt.2"
BTS Jimin X Reader || School-life romance, playlistfic || 999 words.
Bagian ke 2 dari 5.
Highlight - 아름답다
Sesenggukannya tidak lagi terdengar sekarang, tidak setelah sepuluh detik menjadikan bulu romaku meremang. Lelaki menangisnya tak lama, tetapi begitu dalam dan mengibakan. Hatiku mencelus lagi dan lagi setiap kali mengingat bagaimana matanya yang semula jernih berubah kemerahan dan basah, bagaimana bibirnya bergetar, bagaimana suaranya terputus di bagian akhir kala mengatakan "...kalau memang menurutmu itu yang terbaik," seolah kata-kata itu mencekik tenggorokannya sendiri.
Jimin sering merengek atau mencebik kesal padaku ketika sedang marah, namun ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Aku takut Jimin mematahkan hatiku, jadi aku memilih untuk mematahkan hatinya. Bukankah kebanyakan hubungan selalu berakhir seperti itu? Melukai atau dilukai, meninggalkan atau ditinggalkan. Egois sekali一dengan sengaja memilih yang pertama. Jimin memiliki jiwa yang tulus, murni, dia tidak layak mendapat perlakuan seperti ini. konyolnya, mengapa aku merasa sakit bila memikirkan itu semua? Apa aku berhak? Aku yang jahat ini, boleh memangnya ikut menangis setelah memutuskannya atas kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan?
Tidak.
Sejak awal, hatinya memang terlalu cantik untuk kumiliki. Aku tidak pantas untuknya. Harus kubuang jauh-jauh kehendak untuk memutar haluan demi kembali padanya.
Seratus menit, yang terasa layaknya keabadian, telah menjadi masa lampau selagi kami masih di tempat. Tidak ada yang ingin pulang, tetapi juga tidak satu pun yang memulai konversasi. Being alone together一menyendiri bersama. Saling melirik sesekali, kemudian mengalihkan pandang jika dilirik balik. Jenuh, kelabu, tapi rindu. Apa saja yang bergerak akan menarik untuk momen macam ini; kucing lewat, ranting jatuh, keredap lampu penerang jalan yang mulai kewalahan atas fungsinya, apa saja untuk mengelabuhi waktu agar berjalan lebih cepat. Kami bahkan tidak paham apa yang sedang kami tunggu.
"Pulang sana," usirku. "Kenapa masih di sini? Urusan kita kan sudah selesai." Ya, selesai, hubungan kita juga.
"Kamu tuh yang pulang. Tidak lihat langitnya makin gelap? Kamu tidak takut jalan ke rumah malam-malam? Tinggalmu kan di rawa-rawa."
"Memangnya nenek sihir tinggal di rawa-rawa?" Aku menggerutu. Rupa-rupanya mulai sekarang aku akan berurusan dengan Park Jimin一mantan yang bicara pedas tentangku. Tidak boleh protes, kan aku jahat.
"Pulang, sayang," bicaranya lembut kini, seperti baru saja menemukan dirinya yang lain, dan itu ternyata malah lebih buruk. Bagaimana bisa dia masih selembut itu setelah kujahati? Rasa sesal ini kian membuncah karenanya, aku tidak tahan lagi.
Lelaki itu ikut bangkit sewaktu aku beranjak pergi, aku menoleh padanya sekilas lalu bersikap acuh tak acuh. Begitu pula ketika keluar gerbang aku menikung ke kiri, tetap aku abai padanya yang meniruku一sementara rute menuju rumahnya lebih pendek jika dia memilih tikungan ke kanan. Mungkin jomblo kurang kerjaan, pikirku. Kucoba menghiraukan perasaan tidak nyaman akibat diperhatikan dari belakang, berupaya mengalihkan fokus pada apa pun yang kulewati, sampai-sampai beberapa penjaja makanan di pinggir-pinggir jalan yang sepi pelanggan tampak menaruh harap padaku agar membeli dagangannya. Tidak enak sendiri, aku kemudian menatap lurus saja.
Di perempatan selanjutnya, aku jalan lurus dan Jimin akan belok ke kiri.
Waktunya berpisah, orang yang kucinta.
Tapi bagaimana kalau dia tidak...
Nah, kan, dia ikut menyeberang. Apa coba, maunya?
"Jangan mengikutiku!" Aku menjeda langkah, menyergah. Rumahku tinggal satu blok lagi.
"Aku tidak mau penyihirku dibantai orang-orang desa karena berjalan sendiri tanpa pengawal," ucapnya dengan ekspresi tanpa dosa.
Aku merapatkan bibir, berdecak, bergeleng-geleng pasrah lalu memutar badan dan berjalan cepat. Bisa kudengar Jimin ikut menaikkan ritme gerak kakinya, maka aku berlari, dia mengejarku. Sialan, apa-apaan, sih, ini? Pakai acara kejar-kejaran setelah putus, dia kira ini syuting telenovela? Sial, ih, seram dia seperti orang kesetanan. Aku berharap petugas satuan pengamanan di persimpangan akan menghentikan adegan sialan ini, menuduh Jimin pemuda mabuk yang hendak memperkosaku atau apalah, namun kenyataannya dia diam saja, berasyik-masyuk menggoda janda penjual baso ikan di sebelah posnya. Oh, iya, dia tahu Jimin pacarku. Sial sekali.
Sekarang bukan pacarku, Pak. Bukan lagi.
Jimin berhenti di depan pagar, tidak membuntutiku sampai ke rumah. Bagus. Bagus... kan? Aku tidak berharap dia menyusulku, kan? Begini lebih baik, ya, seharusnya iya. Aku perlu menenangkan diri tanpa melihat parasnya, tanpa mendengar deru napasnya, tanpa menghirup aroma parfumnya. Ayo mulai menjalani hidup dengan baik, tanpa Park Jimin.
Lamat-lamat suara iklan komersial televisi menyusup telinga ketika aku meletakkan alas kaki pada rak sepatu, orang-orang rumah pasti ada di ruang tengah. Aku tidak akrab dengan keluargaku, tidak berpikir mereka perlu tahu anak gadisnya tengah patah hati pasca putus cinta dengan salah satu cowok tengil di sekolahnya. Tidak usah cerita, buat apa? Paling-paling nanti cuma diejek; cengeng menangisi cinta monyet. Mereka toh akan tahu sendiri aku putus dengan Jimin pada akhirnya, sebagaimana mereka tahu kami jadian dulu.
Kamar mandilah yang pertama kutuju, mari singkirkan lapisan BB krim dan kawan-kawan sialannya ini dari wajah sebelum pergi tidur. Tidur一sesuatu yang mungkin dilakukan atas dua kondisi; ketika semuanya sudah beres, atau ketika ingin melarikan diri sejenak dari kenyataan. Aku tidak yakin yang mana kondisiku sekarang. Perasaan hampa itu datang lagi. Sejak kapan kucuran air dari keran belajar menyanyi lagu sendu? Lagu yang liriknya hanya satu baris;
Jimin bukan pacarmu lagi...
Jimin bukan pacarmu lagi...
Olok-olok yang menohok sekali. Kedua mataku memanas saat kugelung rambut ke atas. Kekasih... Belahan jiwa, kata orang. Jiwa itu letaknya di mana? Di otak? Di jantung? Dua-duanya sakit. Penjelasan dari sisi pandang biologi mungkin menyangkut tekanan darah yang tidak stabil akibat stres? Atau barangkali kehilangan dia yang teramat berharga bagimu itu seperti efek menyetop konsumsi obat yang telah menjadi candu. Sakau, ya? Sakau cintanya Jimin. Keparat.
Tapi apa iya aku 'kehilangan' Jimin? Bukannya aku sengaja 'menghilangkan' Jimin? Analoginya pecandu alkohol, sigaret, narkotika... Karena tahu itu semua menyebabkan sakit makanya mencoba berhenti seketika. Bego bukan main. Idiot. Dikira mudah kabur dari yang namanya kecanduan? Apalagi kecanduan cinta.
Dan, demi Tuhan, apa yang sebenarnya kulakukan pada Park Jimin? Kubilang aku mencintainya, semua orang tahu cinta benar berbahaya, tetapi bisakah kita menyamakannya dengan virus pembawa penyakit? Layaknya racun, toksin mematikan? Tepatkah keputusanku menyingkirkannya dari hidupku?
Park Jimin yang memilihku walau dia populer.
Yang diam-diam mengawalku pulang.
Senyum permen kapas.
Pencuri langit.
Lelucon garingnya.
Perhatiannya.
Jimin.
Sayang.
Aku di luar kendali kewarasanku, teracuni berliter-liter kenangan manis. Ketika sadar, kudapati diriku meringkuk di lantai kamar mandi dengan air mata menderas keluar. Nyanyian sendu keran air masih mengalun, seolah ikut menangis.
.
.
.
***bersambung***
.
