Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina


Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekitar sepuluh hari menjalankan masa orientasi dengan dua hari diantaranya aku tidak masuk. Sungguh menyenangkan memikirkan saat dua hari itu teman-temanku dngan sukses dikerjadi oleh para seniornya. Memikirkannya saja membuatku tertawa didepan cermin sendirian.

Sekarang aku sedang berpakaian dan mencoba untuk merapikan dandananku. Memang kuakui pakaianku sangat kebesaran karena memang seragam ini aku ambil dari kakakku, Itachi Uchiha yang notabene merupakan alumni dari SMA Konohagakure dan sekarang ngekost didaerah Kirigakure, dirumah teman anehnya yang bernama Kisame Hoshigaki itu untuk kuliah di Universitas Akatsuki. Perlu waktu lama bagiku untuk melihatnya kembali.

"Sudah siap ?" Tanya Tou-chan yang sepertinya baru saja pulang dari kerja. Tou-chan selama seminggu ini kerja shift malam sehingga bisa mengantarku setiap hari selama seminggu pertama ini.

"Sudah, yuk berangkat" Kataku sambil tersenyum kecil dan berjalan menuju sepeda motor milik Tou-chan.

"Sasuke, kau dapat beasiswa. Jangan kecewakan Tou-chan yah" Kata Tou-chan sambil mengelus kepalaku pelan. Aku mengangguk mantap meskipun dalam hati aku tidak pernah berharap untuk mendapat nilai bagus.

Bagiku, nilai hanyalah nilai. Nilai tidak akan menggantikan pengetahuan. Pengetahuan adalah hal langka yang tidak semua orang mengerti didunia ini, dan itu tidak akan bisa didapat hanya dengan selembar kertas bertuliskan 'Ijazah' bernilai tiga puluh tiga koma sembilan sembilan. Itu hanya menjadi sampah di dunia jika itu hasil menyontek.

-0-

"Wah...! Tanganmu sudah sembuh ya, Sasuke" Kata Naruto yang saat itu sudah berdiri sambil berbincang-bincang di luar kelas dengan Chouji, Kiba dan juga Shino.

"Eh...! Kamu dapat seragam ini darimana ? Kulihat kau tidak datang kemarin" Cerocos Naruto begitu melihatku memakai seragam yang bertuliskan Itachi Uchiha didada kirinya.

"Wah...! Punya kakakmu ya ?" Tebak Kiba yng dengan tepat sasaran mengenaiku. Aku hanya mengangguk cuek sambil terus memperhatikan sekitar. Kenapa mereka semua memilih untuk nongkrong disini ? Kenapa gak masuk kelas aja sekalian ? Kan lebih enak tuh.

"Masuk aja yuk, capek nih berdiri terus" Kata Lee pada kawan-kawannya. Akhirnya, ada juga yang memahami ucapanku. Aku pun masuk dan meletakkan tasku di barisan tengah paling depan dan mulai duduk dengan tenang sambil mengutak-atik ponselku. Cuman ponsel jadul sih, Cross CB82, aku tidak tega pada Tou-chan yang bekerja keras tiap hari. Jadinya aku hanya minta ponsel yang murah aja dech, dan ini juga bekas.

"Oiy...! Itu tempat dudukku" Kata Shino. Aku pun bergidik merasakan aura membunuh keluar dari tubuh Shino, secepat kilat aku langsung berpindah ke deret paling kiri dan masih dalam barisan paling depan.

"Sasuke...! Kau bisa duduk denganku di belakang sana. Tempat duduknya udah di tentuin saat kemarin kau tidak masuk" Jelas Kiba dan sekarang aku sukses duduk di barisakn paling belakang pojok kiri bersama Kiba dan Naruto serta Chouji di depanku. Aku masih belum begitu mengenal mereka sih, bahkan aku belum begitu mengenal Naruto yang bersekolah sama denganku. Aku hanya bocah dengan kecuekan tingkat akut yang bersekolah demi ilmu pengetahuan tapi hanya dengan modal nafas. Bener-bener keterlaluan, dan juga merepotkan.

Tak lama kemudian seseorang dengan jenggot yang panjang sambil membawa sebuah koper yang entah berisi apa. Gayanya yang sangat sok itu sudah membuatku makin mual aja. Dia pun meletakkan tasnya di atas meja. Tasnya bener-bener tampak kempes seperti gak ada isiny, kayak gak niat aja ngajar bahasa inggris.

"Nama saya Asuma Sarutobi. Saya akan mengajar pelajaran bahasa inggris panggil saya dengan sebutan abah" Abah ? Panggilan macam apa itu ? Semua guru disini ingin dipanggil dengan sebutan sensei. Lha dia ? Ingin dipanggil abah ? Dasar norak.

"Untuk pelajaran saya tidak menggunakan LKS tapi saya akan menggunakan sebuah fotocopy yang bisa di fotocopy di setiap bab. Dan untuk bab satu, akan saya berikan ini untuk di fotocopy" Katanya sambil menyerahkan sebuah buku yang kira-kira setebal seratus lima puluh halaman pada Sakura yang menerima itu dengan senang hati.

Sakura merupakan gadis yang cantik, yah kuakui hal tersebut. Tapi sesuatu yang sangat kubenci darinya adalah dia terlalu mengandalkan kecantikannya.

Dia selalu bergonta-ganti pacar dan itu membuatku muak. Apa semua gadis berlaku seperti itu ? Apa dia pikir dia bisa mendapatkan semuanya dengan kecantikannya ? Aku memang pernah menyukainya, tapi jangan salah paham. Aku langsung membencinya begitu tahu kalau dia cewek playgirl. Dia sering sekali meremehkan orang lain, terlalu narsis dan juga kasar sekali ucapannya.

"Apa begini model guru disini ya ?" Bisikku pada Kiba yang asyik cekakakan sendiri menggoda Chouji.

"Ya nggak tahulah. Terserah kata gurunya dech" Kata Kiba meremehkan hal itu. Aku hanya menatap tajam pada guru sombong tersebut. Tak terlihat selembar kamus pun dalam kopernya itu. Apa dia benar-benar ahli ? Kita lihat saja, mungkin aku bisa kasih sedikit pengertian padanya agar dia bisa sadar.

"Yah...! Bab pertama kita mengenai perkenalan. Sekarang perkenalkan diri kalian satu-satu, mulai dari Name, School, Hobby, and Personal Information. Lima menit selesai" Apa ? Ini sih penuntutan. Masa kita yang baru seumur jagung masuk sekolah ini langsung diberi tugas seberat itu. Kalau aku sih dengan sigap langsung membuat itu, tidak seperti Kiba yang langsung bingung tujuh keliling dan mengeluh kesah tentang lima menit yang diberikan oleh Asuma-sensei.

"Wah...! Masak masih baru masuk dan masih anget gini kok udah di kasih tugas berat kayak gini sih" Keluh Kiba. Naruto sih kayaknya udah mikir apa yang akan di bicarakan di depan nanti. Chouji masih ingin berbicara dengan Kiba yang sedang dengan serius mengerjakan tugasnya.

"Time Up, sekarang yang saya panggil maju" Kata Asuma-sensei sambil membaca daftar absen dan mulai mencari secara acak.

"Inuzuka Kiba" Panggil Asuma-sensei.

"Huapah...?" Kiba langsung berteriak dengan lebaynya. Pasalnya dia sepertinya masih belum hapak dengan dialognya. Akhirnya dengan tampang pasrah, Kiba maju dengan langkah gontai plus cengiran khas yang tak pernah lepas dari bibirnya.

"Hello Friend, My name is Inuzuka Kiba. And... And... And..." Tampak Kiba sepertinya masih berusaha mengingat naskahnya.

"And apa ?" Bentak Asuma-sensei ketika menunggu lama Kiba yang tak kunjung bicara.

"Belum hafal ya ? Push-up lima belas kali" Perintah Asuma-sensei. Guru ini sangat menyebalkan, masak gitu aja push-up lima belas kali. Sebagai seorang guru pun tidak boleh dengan seenaknya menjatuhkan siksaan fisik pada muridnya. Itu melanggar aturan guru, lha dia ? Sungguh menyebalkan.

Kulihat Kiba yang sedang push-up dengan hitungan dan komando dari Asuma-sensei. Dia bener-bener keterlaluan.

"Haruno Sakura" Panggil Asuma-sensei dan sosok berambut pink yang kubenci itu maju dengan sangat pedenya.

"Hello...! My name is Haruno Sakura. My previous School is at SMP 1 Sunagakure. I think it is enough, any question" Sakura yang tadi maju dengan pedenya hanya menerangkan tentang namanya dan juga sekolah asal. Bener-bener memalukan.

Serentak banyak anak yang mengangkat tangan, terhitung ada lima orang anak yang mengangkat tangan.

"Karena keterbatasan waktu akan saya ambil dua pertanyaan. Kamu duluan" Kata Asuma-sensei sambil menunjuk seorang Shino yang sedang duduk didepan bersama dengan Lee.

"What is your hobby ?" Tanyanya, sangat sederhana dan simpel.

"My hobby is cooking and play volley ball"Jawab Sakura dengan nada yang terputus-putus. Sepertinya dia gugup dengan apa yang di jawabnya.

"Baik. Kamu" Kata Asuma-sensei sambil menunjuk seorang Hinata yang memang duduk tepat di depan meja guru.

"What is your favourite food ?" Aaah...! Pertanyaan gak mutu. Sakura menjawabnya dengan jawaban nasi goreng.

Dan setiap kali ada yang maju selalu yang bertanya dan mengacungkan tangan adalah Hinata dan pertanyannya selalu saja sama dengan yang tadi. Favourite food, favourite fruit, favourite band dan apapun yang mengandung favorit lah dan itu merupakan pertanyaan umum.

Tapi pertanyaan tersebutbisa memancing ketertarikanku pada Hinata yang sepertinya sangat lancar dan patas dalam berbahasa. Aku akan mencoba untuk mengujinya dulu saat dia maju nanti.

"Hello, guys...! My name is Hyuuga Hinata. I was studied at the same school with Sakura at SMP 1 Sunagakure. My hobby is study and playing game at laptop. Ok, any question ?" Aku pun mengangkat tanganku ketika aku menyadari jika tak seorang pun berani mengangkat tangannya.

"Ada apa, Kiba ? Kenapa tak ada seorang pun yang mengangkat tangannya ?" Bisikku pada Kiba.

"Dia murid terpintar di sini. NUNnya mencapai 37.90. Kau akan langsung kena checkmate bila berhadapan dengannya" Kata Kiba. Hah...! 37,90. Aku yang cuman 38.65 aja gak bangga tuh dengan NUN ku.

"Kamu" Asuma-sensei menunjukku yang saat itu masih mengangkat tanganku.

"Checkmate" Goda Chouji yang langsung membuat ide yang sudah dengan sukses terlintas di benakku.

"How can you got the highest value at this school ?" Pertanyaan itu langsung saja terlontar dari mulutku. Tampak seringai kepuasan tersungging di bibir Hinata.

"By studying hard" Jawabnya. Dengan belajar katanya. Geez...! It's so troublesome.

"Oh it is enough. That's a general reason. We must study hard to get a good value. I mean is the screet. How ?" Pertanyaanku langsung membuat Hinata garuk-garuk kepala di depan kelas sambil merancang kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.

"I don't know what is the screet. But, you must study hard to get a good value" Katanya dengan kebingungan. Ya elah, masak gitu aja kebingungan. Buat apa NUN 37.90 kalau pertanyaan gitu aja kebingungan.

"Yeah I know. But, what is study ? in your opinion ?" Pertanyaanku langsung buat Hinata speechless di depan kelas sambil memasang muka jengkel. Asuma-sensei melihatku dengan tatapan yang memang sangat sulit diartikan.

"It's enough. Sit down please" Kata Asuma-sensei memecah kesunyian yang baru saja terjadi setelah Hinata speechless. Dia pun langsung duduk dengan wajah menahan malu sementara aku menahan tawaku yang hampir meledak.

"Checkmate" Godaku pada Chouji yang masih belum mengerti apa yang kukatakan.

"Wah...! Kau hebat. Kenapa tidak kau tunjukkan sejak tadi" Tanya Kiba dengan nada bersemangat.

"Uchiha Sasuke" Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kiba aku sudah dipanggil untuk maju ke depan kelas. Aku pun maju dengan gaya khasdariku yaitu menundukkan kepala seperti biji padi yang berisi.

"My name is Uchiha Sasuke. I was studied at SMP Konohagakure. My hobby is reading,it's no matter what kind of the text. It's maybe an article, newspaper, a fiction, a scientist book, even a M-rated fiction. It's OK. Any question ?" Pertama kali kulihat Hinata pun mengacungkan tangannya. Mau balas dendam dia rupanya. Tak kulihat seorang pun mengacungkan tangan selain Hinata, mereka pada takut kali ya.

"What is the mean of study ? in your opinion" Dasar gak kreatif, aku sudah susah payah membuat pertanyaan itu dan dia hanya mengopynya saja. Harusnya bayar royalti nih.

"It's so easy. Study is a process at human life to learn a something new" Kataku dengan sangat lancar sekali dan itu sukses bikin Hinata speechless. Tapi sepertinya dia tidak mau kalah begitu saja denganku.

"In your opinion, what is the easiest way to get better value ?" Katanya.

"It's so easy and fun. To get a better value we can look at the book and write the answer based on the book. It is so easy, right ?" Aku pun nyengir menggoda kearah Hinata.

-0-

"Sasuke...! Kekantin yuk" Kata Kiba mengajakku kekantin. Tapi sepertinya aku masih males dengan hal itu. Kulihat Hinata yang sepertinya sedang memakan snack yang baru saja dibelinya sehabis pelajaran bahasa inggris tadi. Kuakui dia memang begitu pintar, tapi sepertinya dia salah mengikuti jalan. Jika aku lihat, dia terlalu bertingkah kekanak-kanakan. Dia kurang mempunyai motivasi dan aku masih mengenalnya beberapa hari jadi aku belum tahu benar apa yang ada dalam benaknya.

"Kau suka pada Hinata ya ?" Goda Kiba yang ternyata memperhatikanku sedari tadi. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum sinis.

"Aku akan melantiknya menjadi saingan terbaruku" Kataku sambil menyeringai.

"Kenapa kau bisa sekolah disini ? Kenapa gak sekolah di Kumogakure aja ? Sekolah disana bagus-bagus lho ? Apalagi buat yang pintar seperti kamu ?" Kiba yang dengan sangat tiba-tibanya menyerangku dengan rentetan pertanyaan gak bermutu darinya langsung bikin aku speechless seketika itu juga.

"Suka-suka gue dong" Balesku seenaknya.

-0-

Pelajaran berikutnya adalah Geografi dan gurunya adalah Kurenai-sensei yang gak killer juga sih tapi caranya mengajar itu kesannya seperti menggurui saja. Tapi, emang dia guru kan ?

"Hei...! Kamu" Aku pun langsung waspada begitu diteriaki dengan suara yang cukup keras yang dengan begitu menyalakan alarm kemarahan guru bermata merah tersebut.

"Cepat berikan ponselnya" Seketika itu nyaliku langsung ciut begitu melihat ponsel dari kawanku yang bernama Tenten yang duduk di belakang Hinata itu dirampas ponselnya dengan paksa oleh sensei berambut gelombag tersebut. Ponsel Nokia berwarna pink itu langsung di kantonginya begitu saja tanpa memedulikan tatapan puppy eyes dari Tenten. Ok, aku pun hampir muntah melihat tatapan puppy eyes dari cewek tomboy tersebut. Kukira dia akan menonjok dan menghajar guru tersebut jika berani macem-macem dengannya.

"Baiklah, akan kulanjutkan lagi. Jadi saya tidak mau bla bla bla" Guru-guru disini memang aneh dan membosankan. Aku tidak tahu apakah aku bisa tahan dengan hal ini atau gak. Benar-benar menyusahkan.

-0-

Kulihat jam dinding di depan kelas yang sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua belas. Aku mendesah nafas kesal mendengarkan ceramahan dari guru yang memang gak killer tapi kalau marah bisa ngalahin singa betina tuh. Bisa jamin dech kalau kena marahannya bisa langsung down staminanya gara-gara kuping yang harus menerima korban dari suara orang itu. Tapi kuakui kalau sensei yang satu ini cukup pintar.

TBC


Ini merupakan pengalaman author saat pertama kali ikut pelajaran dan tepatnya guru yang paling menyebalkan. Kisah cinta author mungkin akan mulai chapter depan

Reviiieewww...!