Assalamualaikum.

ADA YANG NUNGGUIN INI DAPET SEQUEL NGGAK HAHA /disambit sarung/ /abaikan saya/

.

.

.

"Kita tinggal di dunia dimana soulmate-mu tidak akan bisa menyakitimu secara fisik." Baekhyun pernah excited tentang hal ini. Namun sekarang ia mengutuk siapapun yang membuat pernyataan mutlak itu karena dirinya tak bisa menganiaya Park Chanyeol dengan bebas. "Mau aku tusuk?" / "Mending aku aja yang tusuk kamu." –Chanyeol.

.

.

Disclaimer: I own nothing but the story.


"Ohoo dia imut."

"Iya dong, kan aku nya juga tampan."

"Aku kasihan kau harus merelakan banyak waktumu hanya untuk bersama si maso ini."

"Heh, siapa yang maso?!"

Baekhyun menutup mulutnya rapat-rapat, melihat pria tinggi yang identitasnya baru saja terkuak sebagai soulmate-nya tengah berbincang dengan anggota eksekutif lain. Ia ingat pernah melihat pria dengan bentuk bibir hati itu di salah satu selebaran wanted yang terkumpul di ruangan bosnya. Ia tidak membaca namanya karena dirinya diperintah hanya untuk menghapalkan Park Chanyeol—orang yang seharusnya ia bunuh hari ini.

"Meskipun dia soulmate-mu, dia juga satu-satunya yang tersisa dari kelompok musuh di gedung ini. Kita perlu menjadikannya tahanan untuk diinterogasi. Kalau dia berhasil menerobos sampai sedalam ini, kurasa dia punya informasi senilai permata."

Baekhyun menjernihkan pandangannya yang mengabur karena melamun. Ia melihat pria bermata bulat itu menatapnya begitu tajam. Ia tidak seharusnya gemetar takut hanya dengan tatapan menusuk, tapi ia sempat membaca keterangan pria itu dalam data di organisasinya. Pria itu terkenal dengan sifat kejamnya, paling lihai dalam mengorek informasi dari tahanan musuh. Tidak tahu metode apa yang digunakan, ia pasti berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena kemampuan itulah dirinya diangkat menjadi anggota eksekutif mafia. Dengan fakta itu, ditambah kini semua senjata yang dibawa Baekhyun sudah disingkirkan Chanyeol—sialan memang—apalagi yang bisa ia rasakan selain kewaspadaan dan kecemasan. Ingat, kecemasan, bukan ketakutan.

What a great day—sarkas Baekhyun dalam hati.

"Jadi Chanyeol, kuharap kau bisa mengerti dan menerima prosedur mafia. Biarkan aku membawanya ke ruang interogasi…" tangan Kyungsoo terulur untuk meraih bahu si rambut merah, "..dan mendapatkan beberapa rahasia yang disimpan dalam otak cerdasnya." senyumnya terlihat seram—mode satansoo dalam status aktif.

Baekhyun tidak sempat memundurkan kaki untuk menjauh karena sepasang lengan besar melingkupinya lebih dulu, menariknya ke dalam pelukan protektif sepihak sampai wajahnya terbenam di dada bidang itu.

"Jangan sentuh dia."

Suara bariton berintonasi mengancam. Baekhyun agak kesulitan menjauhkan wajahnya, coz pelukannya erat banget. Ia bersusah payah dan akhirnya berhasil mengangkat kepala untuk melihat wajah Chanyeol dari bawah. Rahangnya mengeras, ekspresinya begitu tegas dan serius, ia dibuat terpana menatapnya.

Now, you're soft towards this man, eh?

"Chanyeol—"

"Aku sendiri yang akan mengorek informasi darinya."

Kyungsoo maju selangkah, ekspresinya menolak dengan mutlak, "Dengar, itu tidak adil. Kau tidak akan mampu mendapatkan rahasia apapun darinya. Kau pasti bersikap lembut padanya."

Chanyeol mengeratkan dekapannya, ia bahkan tak mempedulikan sesesak apa Baekhyun yang menempel padanya. Ia tidak mungkin menyerahkan his other half ke tangan Kyungsoo dengan suka rela. "Pasti berhasil. Aku akan mendapatkan apa yang kumau. Kau memang ahli dalam menginterogasi, tapi aku juga ahli dalam bernegosiasi."

Bahkan sekarang kau jago bernegosiasi, Park.

Kyungsoo hendak membuka mulut lagi, namun Jongin menahan dirinya. "Kita bisa tinggalkan hal itu padanya, Soo. Bagaimana pun juga dia salah satu anggota eksekutif yang profesional, bukan?"

Lihat? Ada yang luluh bukan?

Pria kecil itu tidak sepenuh hati menerima tapi Jongin mengusap-usap lengannya seolah berniat menenangkan. Jadi ia hanya menghela napas kasar, "Terserah kau saja, Park. Kalau kau tidak berhasil, aku akan mengambilnya darimu dengan paksa."

Baekhyun buru-buru menyahut—mumpung posisi kepalanya masih melawan sesak. "Pisahkan saja aku darinya sekarang juga."

Kyungsoo tersenyum mengejek, "Oh, dia belum luluh padamu."

Chanyeol menunduk, agak terkejut melihat Baekhyun yang mendongak padanya sehingga mata mereka langsung bertubrukan. Pandangan Baekhyun tidak bersahabat sama sekali.

"Aku jamin, kau tidak akan mau dibawa pria sadis ini. Dia bisa saja menarik lepas kukumu dari tempatnya untuk dibawa pulang sebagai hiasan kamar. Dia akan melakukan penyiksaan pelan-pelan sampai kau membeberkan segalanya. Dia tak akan berhenti sampai mendapat sesuatu. Meskipun kau bersikeras tidak membocorkan apapun, akhirnya dia akan memotong lidahmu diatasnamakan alasan kau tidak membutuhkan organ tak bertulang itu karena tak mau bicara."

Baekhyun refleks mengulum lidahnya di dalam mulut, bibirnya ikut bergerak serupa, pupilnya bergetar lucu. Chanyeol tersenyum puas melihat reaksinya.

"Kau membocorkan satu dari seribu teknik milikku." Kyungsoo memutar mata jengah.

"Yup, dan dia masih punya seribu cara lainnya." Chanyeol mengangguk mengakui fakta tanpa memutuskan pandangan dari si manis. Satu tangannya dilepas dari punggung Baekhyun, beralih mengusak rambut merah acak-acakan yang teksturnya seperti permen kapas. "Kau akan lebih suka dengan seribu satu caraku."

Rasanya Baekhyun ingin memungut pisaunya di lantai.


.

.

.

Soulmates

Chanbaek pairing

WARN: Sho-ai, BL, Yaoi

Sorry for typo(s)

.

.

.


Baekhyun tahu dia tidak mungkin diperlakukan seperti tahanan dengan Chanyeol di sampingnya. Ia juga memperkirakan kalau pria tinggi itu akan membawanya ke tempat persembunyian—tempat tinggal selama eksekutif mafia tidak memiliki misi. Ia juga sudah membayangkan refleksi apartemen mahal—pernah dilihatnya sekali milik bosnya—yang dipenuhi barang-barang berkualitas nomor wahid. Semuanya benar terealisasi.

Yang tidak ia ekspetasi adalah situasi saat ini.

"Tidak, tidak, tidak, tidak!" tolaknya kekeuh dengan kepala menggeleng kuat.

Tangannya menggenggam erat baju yang dikenakannya—tinggal kaos lengan panjang karena jaketnya sudah dibuang ke lantai lebih dulu oleh pemilik rumah, gespernya pun bernasib sama. Baekhyun tidak mungkin membiarkan yang satu ini terjadi tanpa perlawanan. Pokoknya dia tidak boleh patuh begitu saja!

Chanyeol masih memegangi bajunya bagian bahu, siap menariknya melewati kepala Baekhyun dan dilempar ke lantai. "Kau harus mandi, Baekhyun."

"Aku bisa melakukannya sendiri! Aku tahu caranya mandi!" Baekhyun mendongak dengan wajah memerah malu, melihat wajah Chanyeol yang sangat lempeng seolah ini perkara mudah. Demi apapun, dia butuh pisau kesayangannya sekarang juga!

Mana mungkin ia pasrah saja saat Chanyeol berkata mau memandikannya?

Hell no!

Ia sudah membiarkan dirinya menerima kenyataan mengerikan bahwa soulmate-nya adalah incarannya sendiri. Ia membiarkan bibirnya ditandai kepemilikan pria itu. ia membiarkan dirinya dibawa ke apartemen pribadi dibandingkan dibawa pulang Kyungsoo—ini mungkin satu-satunya yang ia terima dengan ikhlas. Tapi kemudian dipaksa mandi dan bukan melakukannya sendiri?

Ini orang sudah sinting!

"Kau tidak tahu cara memakai alat di sini kan?" Chanyeol masih berekspresi datar. Ia tidak menganggap Baekhyun yang akan polos tanpa pakaian itu hal memalukan—well, mereka kan soulmate, pikirnya cetek.

Tapi dikira ini mudah bagi Baekhyun?!

Sepasang hazelnya mengintip di balik bahu tegap Chanyeol, memandangi alat-alat di dalam kamar mandi dengan bingung. Ia seratus persen tidak tahu cara menggunakannya kecuali memutar keran di bak mandimalah dia juga masih ragu memutar keran untuk air hangat, panas, atau dingin. Terlalu banyak tombol asing diluar pengetahuannya. Angin lalu menerpa perut datarnya yang mengintip karena kaos tersingkap itu.

Ia panik, "Heoh! Jangan dilepas!"

"Lagian kau itu kotor, debu menempel dimana-mana bekas tempur tadi. Aku jadi tidak bisa melihat wajah cantikmu leluasa. Jadi biar aku saja yang membersihkannya,"

Baekhyun menampik tangan yang sudah mengangkat kaosnya sampai memperlihatkan nyaris keseluruhan perutnya. "Hoy, hoy, hoy! Jangan bersikap seenaknya!" wajahnya memerah parah, tidak ada seorang pun yang pernah melihat langsung tubuhnya.

Chanyeol berdecak, "Ini rumahku. Kau itu bukan kucing, jadi jangan berontak."

Kali ini ia memaksa, tarikannya lebih kuat dan berhasil melepas baju kotor itu. Baekhyun masih mengatainya sambil menampik lengan, menendang kaki, sampai nyaris melempar botol—yang diyakininya—shampoo. Tidak peduli dirinya yang jago bertarung dan dianggap anggota berbakat di organisasinya, pria tinggi ini jauh lebih kuat di atasnya. Dan juga pukulan yang dilayangkannya sama sekali tidak membuahkan rintihan dari yang lebih tua.

Memang dasar masokis.

Oke, skip. Biarkan adegan memandikan itu sepenuhnya menjadi rahasia.

Intinya, Chanyeol melakukannya dengan profesional. Niatnya murni hanya untuk membersihkan tubuh Baekhyun. Tapi tetap saja ini jadi trauma untuk anak itu. Baekhyun duduk dengan kaki yang dirapatkan pada dadanya, ia menutup wajah memerahnya dengan kedua tangan—malu sampai ke tulang. Chanyeol baru selesai mengatur temperatur pada bak mandi, cuma dia yang bersikap santai saat ini.

"Berendam lah sampai bahu biar tubuhmu hangat nanti. Kalau sudah keluar ya, bajunya ada di keranjang di samping wastafel." pesannya lalu melangkah keluar kamar mandi.

Baekhyun baru menurunkan tangan dari wajah ketika suara pintu tertutup menggema. Ia memukul air dengan kesal, "Dia melihat semuanya, sialan." merah sampai ke telinga menggelitiknya.

Ia agak membanting punggung sampai bersandar, mencoba memfokuskan diri menikmati air hangat. Kepalanya mendongak, melihat langit-langit terukir indah dengan mata lelah. "Kesempatan sekali dia bisa pegang-pegang badanku." cibirnya teringat kegiatan laknat bikin trauma tadi.

Tapi Chanyeol sungguhan tidak melakukan hal di luar garis. Entah kenapa itu membuatnya sedikit bersyukur meskipun rasa ingin membunuh pria itu lebih mendominasi. Ia menenggelamkan setengah wajah dengan sengaja, mengutuk perasaan lega yang terselip sekaligus menyamarkan rasa panas alami di wajahnya. Sementara itu Chanyeol baru melangkah sekali melewati pintu yang tertutup di belakangnya. Tangannya yang sedari tadi sibuk dikeringkan dengan handuk akhirnya bergerak dengan sangat cepat menutupi kepalanya. Ia berjongkok di tempat, ketenangannya runtuh.

"Astaga, astaga, astaga! Tubuhnya indah sekali!"

Ia menggeram heboh pada lututnya. Lengannya berpindah ke atas lutut, membiarkan wajah panasnya terbenam di sana. Ia sendiri syok karena bisa kalem selama itu. Well, tangannya yang dibundel dalam handuk tadi sudah cukup gemetaran sebenarnya. Kepalanya juga berasap, menahan pikirannya membayangkan yang aneh-aneh setelah melihat kulit putih itu seluruhnya. Ditambah rambut merah yang basah, kulit mengkilap karena air, wajah tersipu malu, sepasang hazel yang susah payah dialihkan namun juga beberapa kali bertabrakan—

—ASDFGHJKL MAU MIMISAN SAJAAAA.

Dikira Baekhyun saja yang tersiksa menahan malu? Chanyeol juga tersiksa menahan hasratnya.

.

.

Baekhyun memandang bayangan dirinya sendiri di cermin. Hidungnya mengerut melihat tubuh kecilnya tenggelam di balik hoodie hitam pemilik rumah, bahkan baju itu berakhir menutupi tiga perempat paha. Ia melirik keranjang lagi, tidak menemukan apa yang dicarinya.

"Hey, Park sialan!"

Ada suara langkah kaki mendekat ke pintu kamar mandi disusul suara berat, "Kenapa, Baekhyunie?"

"Sejak kapan aku memberimu izin memanggilku begitu?" Baekhyun mendelik ke arah pintu meski itu hal sia-sia karena pria tinggi di baliknya tidak bisa melihat, "Kau melupakan satu hal paling penting."

"Apa? Kau butuh bantuanku untuk mengeringkan badanmu juga?"

Ia menahan hasrat untuk membuka pintu dan menyambut wajah pria itu dengan alat cukur di atas wastafel, "Aku bisa sendiri! Yang kumaksud itu celana!"

Suara tawa Chanyeol terdengar, "Kukira kau tidak akan membutuhkannya."

Pintu kamar mandi dibuka tiba-tiba, membuat Baekhyun segera menyembunyikan diri di baliknya dengan kalap. Kepalanya mengintip sementara Chanyeol masih memegangi kenop pintu dengan tangan kanan dan celana pendek di tangan kiri.

"Nice try, Park." katanya sambil merebut celana dari tangan itu.

Chanyeol menyandarkan bahu pada sisi satunya, "Kau tidak mau keluar dulu?" senyuman miring muncul bermaksud untuk menggoda Baekhyun.

"Dan membiarkanmu melihatku tanpa celana? Dalam mimpimu."

"Padahal aku sudah melihat semuanya. Hanya saja melihatmu dikubur baju kebesaran menambah kesan imut dan menyegarkan mata." Baekhyun menendang pintu sampai menabrak kaki Chanyeol. Pria tinggi itu tidak mengaduh, justru puas tertawa dan melanjutkan, "Makan malam sudah siap. Ada makanan yang tidak kau suka?"

Baekhyun keluar dari balik pintu, mengikuti langkah Chanyeol menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur. "Aku tidak tahu."

Chanyeol menoleh, "Kok bisa tidak tahu?"

Baekhyun mengedikkan bahu acuh, "Aku tidak punya waktu untuk mencicip semua jenis makanan. Biasanya cuma makan roti atau makanan kalengan. Tapi aku juga pernah makan daging dulu."

Mereka duduk berhadapan. Chanyeol tidak bisa mengalihkan mata, Baekhyun terlalu sayang untuk dilewatkan. Rambut merahnya masih basah melekat di dahi, garis leher dan telinganya yang terlihat merona usai mandi begitu lucu. Ingatkan Chanyeol untuk menyantap makanan di atas meja, bukan di sebrang meja. Baekhyun melihat semua yang ada di atas meja, beberapa makanan tidak ia ketahui namanya. Matanya agak memicing, menaruh curiga pada resep makanan yang mungkin mengandung hal tak lazim atau obat tidur.

Chanyeol tertawa melihat ekspresinya, "Makanannya tidak beracun kalau kau penasaran. Atau kau tidak tahu cara makannya? Duduk dulu di sini baru kusuapi." tangan itu menepuk paha dengan main-main.

"Mau aku tusuk?" garpu makan diacungkan tangan kecilnya.

"Mending aku aja yang tusuk kamu."

Melihat senyum kotor Chanyeol sudah cukup memberi sinyal peringatan. Jadi ia mengabaikannya lalu mengambil makanannya sendiri, "Selama ada sendok dan sumpit, aku tahu caranya makan." Ia menyuap sekali lalu dibuat terpukau dengan rasanya. Matanya sampai berkelip senang, melupakan kecurigaan tadi sepenuhnya. Baru terasa perutnya meronta minta diisi.

Chanyeol menikmati perilaku Baekhyun yang menurutnya lucu, "Kau suka? Aku memasaknya sendiri."

Baekhyun menelan dengan cepat, "Kuakui ini enak. Aku tidak menyangka anggota eksekutif mafia bisa melakukan hal rumahan seperti ini. Kau punya banyak waktu luang, ya?"

"Aku tidak mau menerima resiko keracunan kalau memakan masakan luar."

"Oh benar. Aku yakin, saat ini pun kau masih diincar musuh-musuhmu di luar sana."

Chanyeol menumpu dagunya dengan tangan, "Tenang saja. Aku tidak akan semudah itu mati. Apalagi sudah ada kau di sini, aku jadi punya alasan hidup yang lebih kuat."

Baekhyun menendang kakinya di bawah meja tanpa berkata apapun. Sibuk mengecap makanan dengan bahan berkualitas. Ia lupa kapan merasakan makanan seenak itu. Makan malamnya bersama Chanyeol kali ini adalah yang terbaik yang pernah ia ingat. Setelah itu, Chanyeol membiarkannya menggunakan kamar tamu yang hanya ada satu untuk beristirahat. Itu cukup menyentuh. Akhirnya Baekhyun diberi kebebasan privasi.

"Kamar ini pernah digunakan?" tiba-tiba ia ingin bertanya. Karena saat berpakaian di depan cermin tadi, ia mendengar langkah kaki bolak-balik. Mungkin Chanyeol sibuk membereskan sesuatu.

Chanyeol mengelap tangan setelah membereskan piring. "Itu cuma formalitas. Aku tidak pernah membiarkan siapapun tidur di sana, rekan sesama anggota eksekutif pun tidak. Tempatnya tidak berdebu kok."

Baekhyun masih berdiri di ambang pintu. Bukannya ragu untuk masuk dan langsung mengunci pintu kamar—pengen banget malah—tapi masih sibuk menelusuri tiap sudut. Memastikan tak ada hal aneh di sana. Tanpa disadarinya, Chanyeol berdiri di belakangnya, merendahkan leher untuk berbisik dari belakang.

"Kalau kau takut tidur sendirian, denganku saja tidak apa-apa."

Baekhyun merinding, tiupan diakhir kalimat pada telinganya itu menggelitik sampai ubun-ubun. Ia menoleh, mendapati senyum miring pria tinggi yang sangat minta ditempeleng dengan loyang nastar. "Aku lebih memilih tidur di sofa ruang tamu daripada denganmu." ujarnya penuh penekanan.

Chanyeol tersenyum lebar, mengucapkan selamat malam dan tambahan godaan lagi sebelum berlalu ke kamarnya sendiri. Ketika Baekhyun sudah mendaratkan punggungnya pada kasur empuk, ia baru sadar betapa lelahnya dirinya. Lelah karena misi yang gagal dan menghadapi tingkah laku eksekutif mafia itu. Pikirannya masih berkecamuk menolak tidur meski tubuhnya minta segera terlelap. Ia memandangi langit-langit, membayangkan keadaan organisasinya saat ini. Mungkin saja mereka panik mencari Baekhyun yang menghilang. Atau mereka mengira dirinya sudah killed in action karena tak ada kabar.

Apa reaksi bosnya?

Berapa banyak yang berhasil kembali ke markas?

Ia memang tidak punya orang dekat di sana. Ia cuma seorang anak yang tak tahu asal usulnya dan ditangkap bos saat penyerangan di pelabuhan enam tahun tahun lalu. Dia terlantar di tempat itu, terbiasa tinggal sendirian di daerah berbau laut dengan sebilah pisau untuk hidup. Hanya karena keterampilannya itu sang bos merekrutnya paksa ke dalam organisasi. Ia tidak menyukai tempat barunya, tapi juga tidak melawan perintah karena diberi kebutuhan dengan layak. Bahkan sampai saat ini, ia masih tidak tahu apakah sang bos hanya memanfaatkannya atau mengasihaninya.

Ia memutar posisi dengan tak nyaman, tidak juga berhasil membujuk pikirannya tenang. Mulai mengambil kesimpulan bahwa tidak ada ruginya jika ia keluar dari organisasi. Dilanda pening karena kebanyakan pikiran, ia bangkit dari tempat tidur. Tangannya membuka kenop pintu, berjalan ke arah sofa ruang tamu, berpikir bahwa tempat itu bisa membuatnya nyaman. Ia juga tak terbiasa berada di tempat seluas kamar tadi sendirian.

Baekhyun baru duduk di sofa ketika suara pintu terbuka terdengar.

"Aku kira kau mau kabur."

Chanyeol berdiri di ambang pintu, wajahnya agak mengantuk tapi was-was disaat yang bersamaan.

Baekhyun mengangkat satu alisnya, "Aku bisa saja melakukan itu."

Chanyeol berjalan mendekat ke arahnya, tangan kanan terulur padanya, "Ikut aku."

"Ha?"

"Kau tidak bisa tidur dengan tenang, bukan? Aku juga."

Baekhyun menurutinya, lelah yang menguasai tidak membuatnya protes banyak hal. Tangannya digenggam penuh, telapak tangan kecilnya tenggelam dibalut tangan besar itu. Ia terbuai kehangatan yang diberikan, bahkan membiarkan dirinya ditarik dalam selimut untuk tidur di sebelah Chanyeol.

Ini juga rasanya asing.

Ia terbiasa tidur sempit di single bed bertingkat, satu kamarnya ada empat orang—tetap saja tak ada yang ia kenal pasti selain nama. Chanyeol tidak melepaskan tautan tangannya, membuat mereka berbaring berhadapan. Wajah was-was itu luntur, digantikan ketenangan yang menular pada Baekhyun.

Baekhyun jadi penasaran, "Kenapa kau tidak bisa tidur?"

Chanyeol yang sempat memejamkan mata kemudian menatapnya kembali, "Aku memikirkan seseorang yang saat ini dilanda kekalutan luar biasa dengan segala hal-hal asing di sekitarnya. Aku takut orang itu akan pergi karena tidak bisa menerima ini semua. Aku takut terbangun esok hari hanya untuk menemukan kau yang menghilang."

Genggamannya mengerat. Baekhyun harusnya masih bisa menolak Chanyeol mentah-mentah seperti sebelumnya. Tapi sesuatu mendobrak dirinya, menghentaknya dengan lembut sampai berbuah degupan jantung meningkat. Melihat sisi lemah dari eksekutif mafia ini membuatnya mau mendengarkan. Ia tidak sanggup memalingkan mata dari sorotan yang memancarkan kehangatan asli. Lagipula Chanyeol memang tidak sepenuhnya salah, hanya saja Baekhyun masih sulit menerima.

"Aku mengerti kalau kau masih menolakku. Aku akan mengajarimu pelan-pelan, seperti janjiku. Dan kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, aku mau kau memberitahunya padaku. Kita selesaikan bersama."

Kalau dunia tahu, mereka pasti akan mengatakan betapa beruntungnya Baekhyun—

"Omong-omong siapa tadi ya yang bersikeras tidak mau tidur denganku,"

—tapi bohong. Keberuntungan itu hanya sekilas.

Baekhyun menarik tangannya paksa setelah melihat senyum jahil terpampang jelas di depan muka—minta digiles sumpah. "Aku lelah, oke?" ia tidak menemukan alasan lain yang cocok. Kepalanya sudah cukup stress memikirkan banyak hal.

"Aku bercanda." Kekehan rendah Chanyeol menenangkannya dengan cara yang menyenangkan, "kau ada di sini bersamaku, jadi jangan takut."

"Aku tidak takut!" sungut Baekhyun.

Chanyeol membenarkan letak selimut karena Baekhyun bergerak tak santai selama membalas obrolan. "Kalau begitu cobalah percaya padaku." tangan yang menjauh dibawa mendekat kembali, kelima jarinya diberi kecupan singkat dengan cara yang manis—yasalam Baekhyun jantungan dadakan rasanya, "tidurlah Baekhyun, aku tidak akan kemana-mana."

Baekhyun tahu mulutnya tak mau diam, pikirannya sudah membalas lebih dulu ucapan selamat malam itu dengan hinaan. Namun ia memilih untuk memejamkan mata. Hangat selimut itu sudah cukup membuatnya mengantuk. Wangi yang berseliweran apik berasal dari hoodie hitamnya. Perlahan menyadari bahwa wangi itu memenuhi dirinya, dari baju, dari alat-alat mandi, dari selimut, dari sprei—semuanya sama dengan aroma Chanyeol. Deru napasnya melambat mengikuti pria di sebelahnya. Dan dekapan Chanyeol selanjutnya membuat ia bisa tidur dalam hitungan detik.

.

.


.

.

Baekhyun menarik ujung kemeja putihnya ke bawah lalu memandangi cermin sekali lagi. Baju yang disiapkan untuknya pagi ini benar-benar sesuai ukuran, membuatnya heran kapan Chanyeol sempat menyediakannya. Atau dia menyuruh anak buah bos membelikannya—aromanya khas baju baru, berbeda dengan wangi menenangkan yang semalam. Uhuk. Kayaknya ada yang kecanduan. Meski cocok di tubuhnya, jenisnya sama sekali bukan dirinya. Ia biasa menggunakan kaos dan sneakers bukan kemeja dan pantofel.

"Hey, masokis Park, kenapa bajunya formal sekali? Ini tidak nyaman."

Ia merasa sesak dengan kerah itu, memutuskan tidak mengancingkannya sampai atas. Pemilik rumah muncul di ambang pintu, baru saja menerima panggilan. Chanyeol berjalan mendekati kasur, meraih dasi hitam yang tergeletak di sana.

"Karena kita akan bertemu Black Boss." tangan besarnya memasangkan dasi dengan perlahan, memastikan Baekhyun memperhatikan gerakannya. "Ingat caranya baik-baik. Suatu saat nanti, kau yang memasangkan dasiku."

"Kau punya tangan. Pakai saja sendiri." ketus Baekhyun. Padahal matanya tak lepas dari kain yang diikat sedemikian rupa di sekitar lehernya, menghapal setiap lipatan. "Bertemu bosmu untuk apa? Mau mengadili aku?"

Chanyeol tersenyum menggoda, "Untuk minta restu."

"Ha?"

"Kan aku bilang kemarin untuk mengganti namamu jadi Park Baekhyun." Baekhyun sungguhan penasaran kemana pisau kesayangannya pergi disaat yang paling ia butuhkan. Senyumannya berubah jenaka, "Jangan merengut begitu, minta dimakan saja."

Baekhyun segera melangkah mundur dan membenarkan kerahnya sendiri. Kemudian memperingati, "Aku bisa menganiayamu hanya dengan dasi ini."

"Oh?" sejak kapan satu alis yang terangkat main-main begitu menggoda, Baekhyun menahan napas. "Simpan itu untuk malam pertama." Chanyeol memperparahnya dengan senyum menawan, Baekhyun lupa cara bernapas. "Tapi kalau kau tidak sabar, aku siap—"

"Berhenti bicara, Park!" Baekhyun menyela dengan tanda seru. Refleks berseru untuk menyadarkan dirinya sendiri yang sempat berpikir bahwa pria tua itu rupawan juga, sekaligus mencegah obrolan mencapai tingkat danger.

Chanyeol berdecak keras, "Panggil namaku dengan benar."

Baekhyun menggeleng kuat, "Tidak mau. Jarak umur kita terlalu jauh."

"Kalau begitu panggil sayang saja."

Sumpah. Baekhyun rindu senjata tajamnya. Salah apa dia selama tujuhbelas tahun hidupnya sampai harus terikat satu takdir bersama om-om bermulut manis bin masokis?

.

.

.

.

.

Apa yang terbayang dalam kepala tentang bos dari organisasi mafia?

Pria seram mengenakan pakaian formal serba hitam dan kacamata hitam berikut tongkat angkuh bangsawan. Belum lagi berpuluh-puluh penjaga kekar yang mengikutinya di belakang sambil menenteng koper dan menyembunyikan senjata api dibalik jasnya. Ruangan kerjanya juga dengan tidak masuk akal rapi, lenggang, dan meninggalkan kesan misterius.

Baekhyun juga membayangkan hal yang sama.

Jadi jangan salahkan dia kalau hampir terjungkal begitu melangkah masuk melewati pintu. Perutnya dilingkari lengan Chanyeol, menahan agar dia tidak terbaring memalukan di lantai. Baekhyun kembali berdiri tegap di atas kedua kakinya lalu Chanyeol melangkah ke depan dengan santai. Baekhyun menunduk, memperhatikan barang-barang yang berserakan di atas lantai dengan rahang jatuh.

Benda yang membuatnya nyaris terjungkal memalukan adalah kereta mainan yang melintasi rel melingkar di dekat pintu, tak lupa potongan lego yang tersebar di tengahnya. Matanya mengikuti gerak gerbong kereta sampai tiba pada objek baru berupa puzzle setengah selesai. Belum lagi papan catur model kelas atas berada di sebelahnya. Dan jangan lupakan bola bowling mainan yang teronggok di sudut ruangan bersama antek-anteknya. Tinggal tambah pohon cemara berhias lampu membiaskan pelangi plus bintang di puncaknya, tumpukan kado di bawah dahannya, dan pria tua di balik meja menggunakan kostum merah santa claus berjanggut alih-alih seragam formal—seperti natalan.

Sebentar.

Ini ruangan bos mafia, kan?

Bukan toko mainan Skotlandia?

"Oh jadi dia Byun Baekhyun."

Mendengar namanya disebut, Baekhyun mengangkat wajah. Kali ini ekspetasinya sesuai kenyataan. Pria tua itu terlihat angkuh, tegas, menyimpan rahasia, berwibawa dan ramah disaat yang bersamaan. Ia tidak yakin dengan observasi yang terakhir, tapi sorot mata akrab itu sungguhan nyata.

"Kau yakin ingin merekrutnya?"

Sepasang hazelnya membesar lalu kepalanya menoleh pada Chanyeol menuntut penjelasan. Dia tidak diperingati tentang hal ini. Namun pria tinggi itu tidak memandangnya sama sekali, mengabaikan protes tersiratnya. "Dia punya kemampuan sekelas eksekutif. Dia bisa menyusup dengan cepat dan ahli pertarungan jarak dekat."

Bos mengetuk meja dua kali dengan telunjuknya, "Terdengar seperti pengawal yang ideal untukmu."

Chanyeol tanpa izin merengkuh pinggang remaja di sampingnya, memotong kontra yang siap diluncurkan Baekhyun dengan dua kalimat, "Mungkin terlihat seperti itu. Tapi dia adalah soulmate-ku."

Baekhyun merapatkan bibirnya sampai segaris, mencuri pandangan pada pria tua di sebrang meja. Black Boss tidak mengubah ekspresinya sedikit pun—tipe yang sulit dibaca. Keheningan muncul dengan tak mengenakkan. Ia ingin melepaskan rengkuhan Chanyeol, namun tangan itu meremat pelan pinggangnya seperti memberi peringatan. Ia tidak cukup berani untuk melihat wajah Chanyeol sekarang—tidak mau dianggap membutuhkan pertolongan.

"Jadi yang dikatakan Kyungsoo benar."

Chanyeol mengangguk mantap, "Aku akan memperlakukannya sebagaimana seharusnya. Jika ia tidak diterima di sini, maka aku juga tidak akan menetap di sini." tatapannya serius.

Tulang pipinya terangkat, kulit di sudut bibir mengerut saat membentuk senyum, "Tenang saja, Chanyeol. Kalau statusnya adalah soulmate-mu sudah lebih dari cukup menjadi alasanku menerimanya di sini. Aku yang akan mengurus masa lalunya di organisasi musuh."

Baekhyun meletakkan tangannya di atas meja, "Anda tidak perlu melakukannya. Mereka pun pasti tidak merasa kehilangan anggota sepertiku."

Chanyeol tersenyum dengan fakta bahwa Baekhyun tidak menolak untuk direkrut. Setidaknya itu lampu hijau yang diberikan sebagai tanda Baekhyun bersedia menerimanya perlahan.

Black Boss tidak melunturkan senyum ramahnya, beralih menatap remaja yang terlihat bimbang, "Kalau ini menyangkut Chanyeol, aku akan melakukannya dengan sedikit perhitungan. Apalagi menyangkut pasangan hidupnya, harus ada campur tanganku untuk memastikan kalian baik-baik saja."

Baekhyun jadi mengerti kenapa Chanyeol begitu patuh pada bos mafia ini. Mereka punya hubungan dalam yang rumit, tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang berniat mengkhianati. Satu titik puncak dimana kepercayaan membuat mereka bertahan. Dan itu pasti sulit untuk dilakukan. Baekhyun tidak bisa membayangkan untuk mempercayai orang lain sampai rela mengorbankan apapun di dunia kotor ini. Argumennya ditelan kembali ke dasar tenggorokan.

"Kalau begitu kau bisa jalan-jalan di gedung ini. Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan dengan Chanyeol."

Baekhyun mendongak memandang Chanyeol dengan sorotan bertanya. Chanyeol melepas rengkuhannya, menatap balik sambil mengangguk. Maka ia berjalan keluar ruangan. Kali ini dengan antisipasi agar tidak tersandung rel kereta lagi.

Dia masih menyimpan pertanyaan: semua mainan itu punya siapa sih?

.

.

.

.

Baekhyun ingin melepas pantofel hitam ini, kakinya serasa dipaksa mengikuti bentuknya. Barang yang dirindukannya bertambah satu—sneakers kesayangan. Oh dan dasi yang dipasangkan dua jam yang lalu juga sudah ditarik melonggar dari posisi awal.

Segelintir anggota mafia yang berlalu lalang di lorong, memegangi selembar kertas seperti ingin absen kehadiran kalau tidak tertera misi. Tapi itu kamuflase yang bagus. Jika orang biasa masuk ke sini, yang dilihat hanya lah kantor biasa tanpa jejak bau darah. Berjalan hampir delapan menit, ia tak kunjung menemui ujung lorong.

Ini gedung seluas apa sih?—pikirnya.

Dan tentang perekrutan tiba-tiba itu agak sedikit mengganggunya. Haruskah dia menolak dan kembali ke organisasi lamanya? Atau menerima saja karena tidak ada ruginya? Ia menjadi kalang kabut menyadari keraguan menyeruak. Selain itu, dia masih menuntut penjelasan karena Chanyeol justru membuat kesepakatan untuk membawanya masuk ke mafia bukannya tentang perubahan marga. Oke, itu harus dia syukuri sebenarnya. Ia tidak perlu paranoid dengan Chanyeol yang mengenalkan dirinya sebagai calon menantu pada Black Boss.

'Cobalah percaya padaku'

Tiga kata itu menenangkan dirinya dalam sekejap. Perasaan tak nyaman di tempat asing ini juga kandas hanya dengan mengingat kalimat itu. Ia menggigit bibir bawah, merasakan sesuatu yang hangat menyeruak dalam dirinya. Ia sedang menerka-nerka berapa langkah yang dibuahkan untuk berjalan sampai sini saat tak sengaja menabrak seorang pria bertopi hitam.

Ia mengusap hidung sambil membungkuk, "Maaf." ucapnya refleks.

Namun lengannya ditarik. Ia keburu berspekulasi aneh-aneh dalam kepala seperti, anggota mafia ini akan memberinya pelajaran karena sudah tidak memperhatikan jalan. Menyadari kebiasaan buruk pemikirannya, ia memaksakan diri untuk mengangkat kepala. Pria itu masih mencengkram lengannya, membawa dirinya berbalik arah. Ia berusaha menghentikannya.

"Tunggu sebentar—"

"Diam dan ikuti."

Suara tegas itu familiar di telinganya. Jadi ia membiarkan saja saat pintu tangga darurat dibuka dan dirinya didorong ke dalam. Ia berbalik untuk mendapati pria itu membuka topinya.

"Sudah kuduga. Kak Minseok kenapa ada di sini?"

Mata kucing milik seniornya di organisasi menatap tajam, "Syukurlah kau masih utuh. Kau tidak dijadikan tahanan mereka, bukan? Apa mereka sempat menyiksamu atau—"

"Aku baik-baik saja. Kak Minseok kenapa ada di sini?" Baekhyun mengulang pertanyaan tanpa ciut. Ia harus segera mendapatkan jawaban karena saat ini spekulasinya tengah mencapai hasil yang tidak menyenangkan.

Satu alis terangkat, "Kenapa bertanya lagi? Sudah jelas untuk menyelamatkanmu. Ada pasukan kode III yang menunggu di bawah. Menunggu perintahku untuk menerobos masuk dan membuat keributan selama kita melarikan diri."

Ho? Tumben responnya cepat?

Kim Minseok memang seniornya dalam keahlian menyusup dan menembak. Ia tahu persis kalau sampai pria itu yang diterjunkan langsung pasti bosnya memulai pergerakan serius. Tapi apa sang bos tidak memikirkan akibat dari pengambilan keputusan terburu-buru? Ada yang aneh. Baekhyun merasakan tengkuknya bergetar disapa angin imajiner.

"Menyusup lagi? Bahkan dengan rencana yang sama namun ini digunakan untuk penyelamatan?"

"Tentu saja juga membunuh Park Chanyeol kalau pria itu sampai terlihat." Minseok menarik tangan Baekhyun dengan tak sabar menuruni tangga, "Bos merasa bersalah karena anggota lain meninggalkanmu di sini. Aku berharap bisa bertemu orang yang berhasil menangkapmu lalu membunuhnya—atau setidaknya mematahkan tangan kotornya."

Baekhyun menarik tangannya berusaha menyentak cengkraman itu, "Kak Minseok! Aku tidak bisa kembali!"

Minseok tidak memelankan langkahnya sama sekali, "Apa mereka mengancammu? Kau tidak perlu takut! Pasukan di bawah sana bisa naik ke sini sekarang juga karena ada orang yang membantu kami."

Baekhyun menautkan alis dengan bingung yang kentara. "Orang dalam? Pengkhianat dari pihak mafia?"

"Ya. Orang yang sama saat meminta kita untuk membunuh eksekutif mafia itu."

Sepasang hazelnya melebar. Menyadari hal janggal yang mengganggu pikiran Chanyeol pada hari ketiga teror beruntun. Ia mendesak paksa, "Kak! Ini aneh! Kalau itu orang yang sama, tidakkah itu patut dicurigai? Pasti ada kesalahpahaman, aku yakin!"

"Baekhyun," suara Minseok bernada mengancam, "kita tidak peduli apa yang terjadi pada mereka. Bos kita cuma menerima misi ini dan meminta kita menjalankannya. Jangan berspekulasi hal yang tidak menguntungkan pihak kita."

Baekhyun merasakan sesuatu membakar dirinya. Ia tidak terima diperintah seperti ini.

"Aku harus bertemu Chanyeol!"

Keduanya sama-sama terkejut. Kali ini langkah kaki mereka berhenti. Baekhyun berhasil menghempaskan tangannya didorong rasa kepedulian yang menyeruak pada eksekutif mafia itu. Ia sendiri cukup kaget karena berani berteriak demi Park masokis Chanyeol. Minseok menoleh padanya dengan tatapan menusuk dan menuntut.

"Sejak kapan kau menyebut namanya dengan intonasi khawatir begitu?"

"Kak—"

"Baekhyun, tidak. Kau tidak mungkin sudah dicuci otak, ya kan?"

"Kak Minseok!" Baekhyun berhasil mencapai titik dimana dirinya layak untuk didengarkan, "aku tidak bisa meninggalkan tempat ini. Aku harus bertemu dengan Chanyeol."

Minseok hendak membuka mulut sampai suara lirih Baekhyun merangsek masuk pendengarannya.

"Aku harus bicara pada soulmate-ku."

Lalu suara bel menggema di sepanjang lorong.

.

.

Chanyeol keluar dari ruangan bosnya dengan cepat. Ia agak berlari di sepanjang lorong hanya untuk mencari kemana perginya Baekhyun. Jumlah menit yang terlewat semenjak Baekhyun meninggalkan ruangan sudah cukup untuk menamparnya dengan kenyataan bahwa lelaki itu berada jauh dari radarnya. Bosnya sudah lebih dulu mengibaskan tangan sebagai tanda untuknya pergi menyusul Baekhyun sementara pria tua itu menetap untuk mengecek keadaan melalui serderet monitor yang tersembunyi di balik dinding.

Bel peringatan ini tanda penyusup terdeteksi atau kemungkinan kedua: penjaga di lantai bawah sudah tersapu semua.

Chanyeol lupa kapan dia pernah sepanik ini—bahkan ia tidak merasakannya terhadap keselamatannya sendiri. Ditambah fakta bahwa dia dan Baekhyun pasti masih diincar.

Ia membelokkan langkah pada tikungan dan menabrak seseorang. Beban orang itu mendorongnya jatuh terduduk di atas lantai. Mengangkat wajah, yang dilihatnya adalah sosok kepala penjaga.

"S-Sir… tolong pergi dari sini…"

Ia mencengkram bahu pria tua itu, menyingkirkan tubuh lemasnya ke samping dan melihat bercak darah menodai kemejanya. "Shit, situasinya lebih gawat dari yang kubayangkan."

Ia melihat benda tajam yang menancap pada punggung pria itu. Mencoba mengenali modelnya, perutnya serasa disiram dengan es batu, dingin menghujam mematikan rasa. Bentuk pahatan di gagang itu sama dengan pisau kesayangan milik Baekhyun. Ia mengangkat kepala dengan cepat begitu mendengar suara tapak sepatu pada lantai dengan keras. Sekelompok orang itu terdiri dari enam pria dewasa, wajahnya sudah dikenali Chanyeol sejak setahun ke belakang.

Tim yang dikirimkan Black Boss untuk menjadi pengawalnya.

"Halo, Tuan Park."

Chanyeol menelan rasa terkejutnya ke dasar lalu memunculkan senyum ramahnya. "Cara kalian menyapaku kali ini sangat tidak terduga." Ia menepuk debu imajiner pada kemeja sambil berdiri, "jadi kalian sudah berganti peran menjadi sekelompok pengkhianat?"

Orang yang wajahnya paling songong menjawab, "Ada tawaran uang yang lebih tinggi dibandingkan gaji yang disediakan bos kesayanganmu."

Dasar anak buah mata duitan.

Ini termasuk salah satu alasan kenapa Chanyeol tidak mau merekrut bawahan. Ia tahu persis dirinya tak bisa mempercayai siapapun lagi. Ia pernah dikhianati.

"Jadi kalian menjual kesetiaan kalian pada orang licik itu? Sampai tega melukai orang yang selama ini membimbing kalian?" tatapannya beralih sejenak pada kepala penjaga yang mungkin hilang kesadarannya. Noda darah yang sudah mengotori lantai menjadi pendukung.

"Apa yang perlu dicari di dunia kotor ini? Tanpa uang dan status tinggi, kita tidak bisa bertahan hidup. Tidak seperti anda yang menikmati langsung aliran uang dari Black Boss. Terus setia padanya seperti anak anjing."

Fitnah.

Chanyeol menggunakan uang hasil misinya, hasil kerja kerasnya, hasilnya memeras keringat dan otak. Tidak peduli statusnya sebagai anak pungut bos, ia tak pernah sudi untuk menjilati sepatu demi uang. "Apa kalian juga yang mengirimi permintaan pada organisasi musuh untuk membunuhku?"

Mereka berenam tertawa lalu salah seorang berkata, "Lucu sekali karena kau baru menyadarinya, Tuan Park. Mereka bahkan bersedia menyongsong kami dengan persediaan senjata." sambil mengacung-acungkan pisau di tangan.

Chanyeol masih tersenyum, kali ini malah mirip tersipu malu, "Aku sangat berterima kasih. Karena hal itu, aku jadi bertemu dengan Baekhyun."

Enam lawan bicaranya speechless. Masih saja dibuat syok dengan pribadi atasan mereka yang dari dulu tidak ada normalnya. Dan mereka mengenali nama yang disebut karena Baekhyun ditunjuk peran paling krusial dalam penyusupan kemarin.

Chanyeol melepas jas hitamnya lalu dibuang asal ke lantai. Ia juga menjatuhkan kedua senjata api yang selalu terikat di badannya dengan rapi tanpa pikir dua kali. "Bagaimana kalau one on one? Pertarungan jarak dekat dengan tangan kosong. Mengutamakan fisik tanpa ada senjata. Itu kesempatan terbaik untuk membunuhku."

Neegosiasi memang bidangnya, tapi ini nekat. Bahkan pisau lipat di kantong gesper juga dilempar. Kedua matanya dibayangi poni hitam sampai menyamarkan ekspresi. Mereka memandang satu sama lain selama tiga detik. Berpikir simple bahwa mereka menang jumlah. Lalu menyetujui dan mengirimkan satu orang untuk maju ke depan. Chanyeol meregangkan tangan, memperlihatkan bisep trisepnya yang terbentuk padat. Ia bicara dengan nada biasa seperti saat memberi perintah.

"Aku ingin memastikan satu hal. Kalau kalian dalang keributan ini, maka organisasi Baekhyun bersih dari tuduhan, ya kan?"

"Tentu saja. Mereka cuma rekan sementara."

Senyumnya semakin lebar. "Lega sekali mendengar itu," lehernya diputar sampai berbunyi, "jadi aku tidak perlu menahan diri untuk menghabisi kalian." kepalanya kembali menghadap lurus ke depan, senyuman kejam menyengat diberikan.

Hanya dalam lima menit, setengah dari pengkhianat sudah babak belur di tangannya. Ia hanya butuh waktu kurang dari dua menit untuk menumbangkan satu orang. Tiga orang sisanya tidak gentar dihadapi kenyataan. Chanyeol menggulung lengan kemeja sampai siku lalu meludah darah yang tercampur di mulutnya dengan senyum remeh. Sial, luka di tulang pipinya sakit sekali.

"Masih ada lagi?"

Tidak terima harga dirinya diinjak, orang bermulut besar yang bicara padanya dari tadi akhirnya maju. Memberikan pukulan yang masih disanggupi Chanyeol. Suara desingan peluru dari tempatnya menghentikan mereka berdua.

Chanyeol memfokuskan matanya, melihat Baekhyun berlari dengan seseorang tak dikenal dari sebrang. Tembakan tadi mengenai kaki dua orang pengkhianat yang masih berdiri tegap sampai jatuh tersungkur. Wajahnya dipenuhi kelegaan luar biasa mendapati Baekhyun baik-baik saja.

"Baekhyun," lirihnya pelan.

Memanfaatkan kesempatan, seorang pengkhianat yang menahan kepalan tangannya beralih menarik pisau—yang dengan curangnya disembunyikan dibalik baju. Senjata tajam diputar, bergerak menusuk ke depan mengenai perut eksekutif mafia. Chanyeol terdorong ke belakang karena tekanan itu, kakinya terpeleset genangan darah bekas perkelahian sebelumnya lalu jatuh telentang. Auw, kepalanya menghantam lantai cukup keras.

Minseok tidak melihat sepenuhnya yang terjadi, tapi Baekhyun yang berlari paling depan jelas sekali menyadari pisau menancap di tubuh soulmate-nya. Perutnya melilit dihantam murka kelewat batas yang tak pernah dirasakannya, titik dimana ia tidak kenal ampun. Ia menarik pelatuk tanpa keraguan, meloloskan tembakan lagi dari pistol milik seniornya. Timah panas itu menembus bagian belakang kepala orang terakhir yang langsung tumbang. Ia membuang senjata api setelahnya, dengan kalap mendekati Chanyeol untuk berlutut di sampingnya.

"Chanyeol! Jangan bergerak dulu, biarkan aku mencabutnya."

Tangan kecil itu tanpa gemetar menarik pisau sampai terlepas. Meski begitu, napasnya terengah sehabis berlari dan bibir tipisnya gemetar antara sibuk mengatur pernapasan atau menahan gejolak yang membakar dari dasar perut sampai ubun-ubun. Lukanya tidak terlalu dalam namun mengeluarkan darah yang cukup membuat panik. Wajah tampan yang penuh luka memar itu tidak terlihat kesakitan sama sekali.

"Aku sangat senang." katanya tiba-tiba.

Baekhyun mendelik padanya, "Kau… masokis sialan." bahkan suaranya ikut bergetar karena amarah.

Chanyeol menggeleng lemah, merasakan perihnya darah yang terus merembesi kemeja. Tapi ia masih bisa memberikan senyum terbaik untuk pasangan hidupnya. "Bukan, bukan itu maksudku, Baekhyun. Tapi aku senang kau akhirnya memanggil namaku."

Baekhyun ingin memaki pria itu agar sadar situasi. Tapi argumennya melempam disuguhi ekspresi Park Chanyeol yang begitu bahagia dengan pencapaian yang tak seberapa. Ia mencoba menenangkan diri dari ledakan amarah sampai matanya berair. Ia tidak pernah merasa seberantakan ini.

"Kau yang paling bodoh, Chanyeol. Menghadapi enam orang sekaligus? Benar-benar masokis." Chanyeol hendak memprotes namun Baekhyun mendahuluinya, "Aku akan membunuhmu duluan sebelum orang lain melakukannya." Bibir bawah digigit, semua perasaannya tumpah membuat suaranya menciut kali ini, "Jadi jangan mati… kumohon, jangan sekarang."

Chanyeol sampai kehabisan ekspresi untuk diberikan pada Baekhyun. Tidak ada yang bisa mengungkapkan perasaannya kali ini mendengar permohonan itu. "Sudah kubilang alasan hidupku itu kuat. Kau masih ada di depanku, jadi aku tidak boleh mati dulu."

Baekhyun melepas jas hitam barunya, merobeknya untuk ditekan pada luka tusukan. Chanyeol mengerang tertahan, merasa ngilunya menjadi-jadi.

"Tahan sebentar. Aku harus menghentikan pendarahannya. Dan tolong jangan bicara apapun."

Lalu jas yang tak utuh itu dililitkan Baekhyun pada perut Chanyeol. Di tengah kesibukannya, suara derap langkah menyusul dari arah Minseok berdiri. Baekhyun menoleh ke sana, mendapati pasukan III yang dipimpin seniornya berdiri utuh dengan senjata lengkap di tangan.

Minseok sendiri terkejut melihat pasukannya, "Tunggu, siapa yang memberi izin? Aku belum melancarkan tanda pada kalian."

"Maaf, pak. Tapi kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi di bawah—"

Suara agen itu kalah oleh seruan orang lain di belakangnya. "Itu Park Chanyeol! Tombol jackpot dari misi ini! Dia incaran kita yang sebenarnya!"

"Oh, ada penggemar." celetuk Chanyeol yang kemudian dihadiahi lirikan pedas Baekhyun.

Ia juga dengan sengaja menekan kain di perut lebih keras, menghasilkan erangan sakit dari yang terluka. Menyadari tubuh eksekutif mafia itu terbaring di lantai bersimbah darah, mereka semua mengarahkan senjata api, memanfaatkan keadaan bersiap mengakhirinya dalam sekejap. Minseok merentangkan satu tangan mencoba menahan mereka.

"Tunggu dulu! Jangan langsung membunuh dia."

"Perintah bos adalah mengeksekusinya langsung setelah bertemu."

Sementara itu langkah yang lebih sedikit terdengar dari sebrang. Baekhyun yang sibuk menghentikan pendarahan akhirnya beralih untuk melihat salah satu anggota eksekutif mafia yang dikenalnya kemarin. Kyungsoo, Jongin dan dua orang pengawal mereka juga menyiagakan senjata api di tangan.

"Aha, kau sungguh payah Chanyeol. Dikepung seperti ini." suara Kyungsoo berintonasi merendahkan, senjata di tangan teracung tinggi pada kepala senior Baekhyun. Meski mengejek, dirinya tidak ragu untuk melancarkan baku tembak berbahaya hanya untuk menyelamatkan pria tinggi itu.

"Do Kyungsoo, anggota eksekutif lain yang juga ada di daftar hitam." kata Minseok dengan suara pelan. Ia memang sudah membuat kesepakatan dengan Baekhyun untuk tidak menyentuh Park Chanyeol barang seujung jari. Tapi tidak dengan pria pendek bermata bulat ini.

"Whoa, senang berkenalan denganmu. Aku juga penasaran siapa namamu."

"Kyungsoo, kita tidak punya cukup orang di sini."

"Diam, Jongin. Aku bisa melumpuhkan empat orang sebelum ada peluru yang menembusku."

"Kalian semua, arahkan senjata pada pria itu. Do Kyungsoo adalah target kita sekarang."

"Tapi pak, kita harus menembak Park Chanyeol dulu. Dia target utama kita."

Baekhyun naik pitam.

"HENTIKAN!"

Suaranya cukup menggema di lorong itu, tidak terdengar nyaring sama sekali, malah ampuh untuk membungkam semua orang di sana. Ia bahkan berani memberikan tatapan membunuh pada Kyungsoo dan Minseok. Chanyeol sampai ingin memberinya applause sekaligus kecupan di pipi kanan-kiri sebagai penyalur rasa bangga.

Abaikan yang terakhir.

"Ada rahasia yang akan kubeberkan setelah ini. Jangan menembak rekan-rekanku." tiap kata ditekan kuat-kuat. Tahu persis kata 'rahasia' bisa membuat Kyungsoo mau mendengarkannya.

Baekhyun beralih pada pasukan organisasinya sendiri. Menatap mereka seperti ingin mengulitinya satu persatu. Bahkan Minseok sampai bergerak menepi agar tidak ikut dihujam sepasang hazel berkilat merah sewarna rambutnya.

"Tidak akan kubiarkan kalian menembak Chanyeol."

"Maaf? Kau bisa dicap pengkhianat karena melawan perintah bos—"

"Hadapi aku kalau kalian mau membunuhnya!"

Baekhyun berdiri dengan cepat, menghalangi pandangan mereka dari tubuh pasangan hidupnya. Ia marah. Sangat marah. Tidak lagi mempedulikan jika perintahnya tidak didengarkan. Ia tak lagi membutuhkan pisau kesayangannya untuk menghabisi siapapun yang berani menyentuh Chanyeol. Ia akan menggunakan tangan kosongnya, kakinya, atau apapun yang tersisa di tubuhnya selama itu bisa berguna.

Chanyeol ingin bangun kalau bisa, menarik Baekhyun ke dalam dekapannya dengan sangat erat. Ia tidak mungkin membiarkan lelaki mungil itu menjadi perisainya. Ia tidak mungkin sanggup melihat Baekhyun terluka karena melindunginya. Tapi kulit yang mengucurkan keringat dingin tidak juga membaik, sedetik kemudian sesuatu mulai memburamkan pengelihatannya.

"Apa aku perlu menyiapkan meja teh untuk berbincang?"

Suara pria tua yang baru dihapal Baekhyun terdengar tiba-tiba. Pemandangan Black Boss berdiri dengan tongkat bangsawannya tanpa pengawal satu pun adalah hal terakhir dilihat Chanyeol sebelum hilang kesadaran.

.

.

.

Chanyeol terbangun di ruangan yang dikenalinya masih berada di dalam gedung mafia. Ia bangkit duduk dan langsung meringis kesakitan bagian perut. Ia merunduk, mengangkat kemeja kotornya dan mendapati balutan putih bersih baru di sana. Menghela napas sekali, matanya menelisik ruangan mencari Baekhyun. Hanya ada dokter khusus yang melayani organisasi mafia di sudut ruangan. Ia menyandarkan punggungnya dengan perlahan.

"Kalau kau mencari remaja bernama Byun Baekhyun, anak itu sedang ada urusan penting."

Chanyeol menggenggam ujung selimut, "Dia baik-baik saja, kan?"

"Oh aku yakin seratus persen tidak ada yang berani menyakitinya. Dia berhutang penjelasan dan akan memberikannya dengan sukarela."

Chanyeol merasakan bahunya lebih ringan. Informasi jauh lebih bernilai dari nyawa manusia—itu adalah hukum tak tertulis di dunia gelap. Kau bahkan bisa mendapat bayaran lebih fantastis kalau berhasil menangkap orang penting hidup-hidup dibanding tinggal kepala.

"Dia galak sekali. Mendesakku untuk mengobati lukamu." dokter kembali mengajak bicara.

Chanyeol merasakan bibirnya membentuk senyum dengan cepat.

"Senang ya punya seseorang yang mencemaskanmu sedemikiran rupa? Dia juga berpesan padaku bahwa dirinya tak kemana-mana supaya saat kau bangun nanti tidak panik mencarinya. Sampai diulang-ulang, loh."

Chanyeol terkekeh seperti orang bodoh sebagai balasan. Kepalanya tertunduk melihat potongan jas hitam berlumur darah di atas lantai, merasakan kembang api meletup dalam dadanya. Ia tidak bisa melupakan wajah cemas dan tangan cekatan Baekhyun demi menolongnya.

Kepalanya terangkat begitu mendengar pintu berderit terbuka.

Pandangan mereka bertemu. Ia ingin menyapa dengan hangat namun Baekhyun sudah lebih dulu melempar dirinya untuk memeluk Chanyeol dengan erat. Saking syoknya, respon tubuhnya melambat. Mendadak menahan napas.

"Masokis sialan. Aku tidak pernah melihat wajah seseorang begitu bahagia karena ditusuk sebilah pisau." suara Baekhyun teredam di lehernya.

Chanyeol dibangunkan oleh suara itu, mendadak ingin mencubit hidungnya, "Aku sudah bilang bukan itu poinnya."

Chanyeol melihat sang dokter yang memberikan senyum sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan. Kemudian tangan besarnya bergerak membalas pelukan sama eratnya. Dahinya beristirahat pada bahu Baekhyun, memberanikan diri menghirup aroma yang pernah dirasakannya diam-diam semalam. Ia tidak butuh apa-apa saat ini. Ia hanya ingin fokus pada atensi berharga di lengannya.

"Aku masih takut kalau ini mimpi. Kau peduli padaku, kau rela mengorbankan dirimu untukku, bahkan sekarang kau memelukku."

Baekhyun mendorongnya menjauh. Tangannya beralih menangkup wajah Chanyeol, dengan kesadaran penuh mendekatkan diri untuk memberikan virgin kiss tiba-tiba. Sangat lembut seolah membalik lembaran usang buku kesayangan, begitu takut untuk merusaknya namun juga menggebu-gebu ingin membacanya.

"Apa setelah ini kau masih bermimpi?"

Chanyeol tidak bisa menahan senyum. Baekhyun agak tersipu. Ia melancarkan jari cantiknya untuk menapaki bagian tulang pipi yang memar itu dengan perlahan. Sentuhan penuh kesayangan seolah menyalurkan kata maaf yang tidak bisa diucapkan secara verbal.

"Bagaimana kelanjutan yang tadi? Kau tidak diapa-apakan sama mereka, kan?"

Jarinya berjalan menyentuh bawah mata Chanyeol yang berubah keunguan. "Sudah selesai. Aku dilepaskan organisasi lamaku dan bergabung di sini. Dua pengkhianat yang ditembak tadi juga akhirnya membocorkan semua kelakuan mereka. Jadi semua baik-baik saja. Oh dan juga kepala penjaga itu sudah ditangani."

Telunjuk dan jari tengahnya melangkah ke plester di hidung Chanyeol. Tekanan kulit bertemu kulit terasa seringan kapas. Baekhyun tidak ingin memunculkan rasa sakit, ia bahkan meringis sendiri membayangkan rasa tulang hidung yang mungkin patah. Nyeri sekali.

"Terima kasih, Baekhyun. Kau mau menerimaku."

Masih terus berjalan sampai buku jarinya mengusap halus kassa putih di rahang bawah Chanyeol. "Aku yang seharusnya berterima kasih." ucapnya pelan.

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dengan mudah, memindahkannya ke atas pangkuan yang lebih nyaman daripada serong di pinggir ranjang. Baekhyun menahan protes yang ingin dilayangkan, dia mencoba untuk tidak merusak suasana meski posisi baru membuatnya malu sampai ke tulang. Ia mendaratkan telapak tangan pada bahu padat itu.

"Chanyeol, lukamu—"

"Kau dan spekulasi berlebihanmu itu hebat, Baekhyun." sela Chanyeol, "soulmate-ku istimewa sekali." mengulang kalimat yang pernah terucap di pertemuan pertama mereka.

Baekhyun merona, tidak lagi menutup-nutupinya. Jarinya bergerak lagi mengusap tiap luka yang ada di wajah Chanyeol dengan penuh kehati-hatian. Ia merasa perlu melakukannya, tidak ada alasan khusus. Tapi Chanyeol memundurkan kepala.

"Tidak, Baek. Jangan."

"Kenapa?" ia bertanya dengan tatapan murni kebingungan.

Chanyeol hanya menggelengkan kepala.

"Tapi aku ingin melakukannya."

"Kubilang tidak." tegas Chanyeol.

"Kau tidak suka? Tanganku bersih kok, lukamu tidak akan terinfeksi."

Seriously, Baek? Kurang lebih begitu tatapan Chanyeol sekarang. Ia menjauhkan tangan Baekhyun, beralih mendekatkan wajah untuk berbisik rendah di depan hidung, "Melihatmu merona di depanku sudah cukup menguji iman. Apalagi ditambah sentuhan perhatian dan duduk di pangkuan, kalau tidak ingat perban di perut, aku sudah membantingmu ke atas kasur sekarang juga."

Merahnya bertambah parah. Baekhyun hampir tersedak liur sendiri mendengarnya.

Chanyeol terkekeh, "Malu ya?"

"Siapa yang tidak malu mendengar gombalan itu, Chanyeol?" balas Baekhyun.

"Manisnya Baekhyunku kalau sedang malu."

Kalimat itu tidak membantu sama sekali.

Chanyeol merapatkan pelukannya, "Aku menyukaimu, tidak peduli misal kita bukan ditakdirkan bersama, aku tetap menyukaimu. Yang kusukai bukan soulmate-ku tapi Baekhyun. Aku menyukai Baekhyun dengan segala sikapnya."

"Kau menyebut kata suka empat kali." kata Baekhyun polos sambil memainkan helaian rambut belakangnya.

Chanyeol agak mendengus, "Ya. Dan aku belum dibalas satu kali pun olehmu."

Baekhyun menahan tawa karena jarak mereka begitu dekat. Suaranya seindah alunan biola ketika mengatakan, "Aku menyukaimu juga, Chanyeol."

Seperti gerbang menuju taman hiburan yang dinanti-nanti telah dibuka lebar, ia diberikan keseruan dan kepuasan menikmati wahananya. Penantiannya yang dibumbui rasa iri terhadap kolega selama setahun ke belakang terbayar manis. Cukup tiga kata membalas perasaan dengan sisipan nama sudah membuatnya diterbangkan. Jadi ini rasanya ketika soulmate-mu akhirnya menerimamu?

Chanyeol merekamnya baik-baik, menyimpannya dalam memori jangka lama untuk diputarnya kembali hari esok, esoknya lagi, dan semua hari yang akan mereka habiskan bersama.

Jarak dihapus, bibir bertemu bibir. Chanyeol tidak perlu menanyakan izin lagi karena Baekhyun menyambutnya sepenuh hati. Hazelnya menyelam pada manik hitam Chanyeol secara perlahan-lahan, menyadari dirinya tak bisa menolak. Terbawa arus oleh tekanan lembut yang diterima bibirnya dan dibuat meleleh merasakan benda lunak menyapunya.

Chanyeol memejamkan mata lebih dulu, memiringkan kepala dan memindahkan tangannya dari pinggang ke tengkuk sensitif itu. Menekan perlahan digoda perasaan menggelitik. Baekhyun mengikuti, membuka mulutnya sedikit tanpa unsur tidak sengaja seperti waktu lalu. Ia sepenuhnya sadar memberikan undangan. Bahkan tangannya yang memainkan anak rambut hitam itu berubah memberikan remasan kecil.

Chanyeol menerimanya tanpa jeda, menyukai apa yang dilakukan jemari cantik itu di kepala belakangnya. Berbuah menyentuh keseluruhan spot lembut dengan lidahnya dalam mulut si rambut merah sampai melenguh tak kuasa. Napas mereka berubah pendek, rasa menyempit sesak meminta oksigen namun tidak ada yang mampu mengakhiri tautan. Pusat dunia mereka berhadapan satu sama lain. Pegangan di tengkuk didorong menuntut selagi bibirnya melumat habis si manis. Baekhyun kewalahan, tenaga dan pengetahuannya tidak sebanding dengan pria yang lebih tua darinya.

Sedikit lagi sampai pada titik dimana tombol mode liarnya tersentuh, Baekhyun memutuskan ciuman. Great timing, Byun.

Deru napas menerka masing-masing.

"Aku punya pertanyaan."

Chanyeol membuka mata, seketika diberi kenikmatan lain setelah suara serak itu dengan melihat wajah merah padam terengah-engah, bibir tipis yang lebih bervolume berkilat dan sepasang hazel menyayu menampilkan pantulan dirinya. "Apa?" tanya nya singkat, ibu jari bergerak menghapus basah di dagu soulmate-nya. Berusaha keras menahan keinginan memporak-porandakan bibir itu lagi.

Demi apapun, Baekhyun sungguh menggoda sampai membuatnya berkabut.

"Mainan di ruang bosmu itu punya siapa?"

Kalau ada backsound, piring pecah atau petir menyambar sepertinya cocok.

Keinginannya berubah seketika: menggelindingkan Baekhyun dari pangkuannya—tentu saja ia tidak tega. Jadi ia hanya memasang wajah jengkel, "Serius, Baekhyun? Kau menjeda ciuman kita cuma untuk pertanyaan konyol itu?"

"Bukannya malah lebih konyol kalau aku menganggap bosmu punya fetish aneh terhadap mainan anak-anak?" balas Baekhyun tak kalah kesal.

Chanyeol sungguh ingin memakannya. Boleh tidak?

Ia mencoba menjelaskan, "Dia punya keponakan, sayang. Dan anak itu menggunakan ruang kerjanya sebagai taman bermain."

"Tapi aku tidak melihat anak kecil—"

Kalimat terputus sampai di sana karena Chanyeol tidak sabar membawanya ke dalam ciuman lagi yang lebih memabukkan sampai Baekhyun lupa mau bicara apa. Temponya lebih acak, Chanyeol tidak lagi menahan diri dalam kecepatan. Menghisap dan mengulum bibir atas bawah itu bergantian dengan terburu. Terkadang menjeda tiga detik, menikmati napas hangat Baekhyun yang terengah di depan bibirnya itu sebelum menciumnya lagi. Sambil menyisipkan pernyataan yang membuat Baekhyun hampir menggigit lidahnya di sela pagutan.

"Jadilah kekasihku,"

Menarik kepala, bibir merekah basah itu agak mengerucut, "Memangnya belum ya?"

Gantian alis Chanyeol bertaut, "Lah memangnya sudah?"

Sisi polos Baekhyun menganggap bahwa soulmate tidak butuh confession.

.

.

.

.

.


end


a/n: SUDAH MEMUASKAN KAH?

Udah ya. Iya aja udah. /maksa/ Soalnya saya nggak kebayang lagi mau ngetik apa hehe, ini udah panjang kan

AND OF COURSE, makasih banyak buat yang udah baca, ninggalin jejak maupun siders. Kalo yang review kadang bikin saya ketawa sendiri hehe, kalian sumber semangatku! (ps; kadang sampe discreenshot cuma buat senyam senyum sendiri)

Malem takbir nih, mohon maap lahir batin wahai readers terhormat, saya banyak salah sama kalian—ngegantungin cerita contohnya haha. Kalo lagi mudik begini, di kampung halaman kebanyakan nganggur, ujung-ujungnya ngetik lagi saya :D

Terima kasih sudah membaca