Insiden yang menciptakan problem circle di kehidupan Naruto setelah dia dihidupkan oleh sosok asing, sudah terlewat 5 hari yang lalu. Dia puas mempermalukan Rias Gremory pada fase awal untuk menunjukan dendamnya pada dia. Dan tentu, tindakan kerasnya telah men-trigger berbagai kejadian lainnya.

Kehidupan sekolahnya mulai tak tenang. Dia–meskipun tidak secara terang-terangan dilakukan, menyadari bahwa ada saja mata-mata kiriman Tomat Berputing itu untuk mengawasinya. Entah itu si Cassanova yang menurut dia lebih pantas jadi pemeran film The Gigollo dibanding pendekar pedang atau juga si pendeta wanita murtad yang kalau mengawasi seperti orang idiot karena pasti disekitarnya selalu ada laki-laki kelebihan obat kuat yang jelas saja menunjukan persembunyiannya.

Selain kelompok Gremory, Naruto juga tau bahwa ada satu kelompok iblis bangsawan dengan King-nya adalah Ketua Osis pecinta Flat Earth itu. Dia sepertinya tak menunjukan gerakan se-agresif sahabatnya dan Naruto juga tak punya dan tak mau membuat masalah dengan mereka.

Untungnya, persahabatannya dengan Ise masih terjalin baik meskipun sahabat cabulnya itu terlihat selalu kelelahan ketika mereka bertemu. Road to Harem, katanya dengan bodoh.

Itu sekelumit trouble yang menimpa kehidupannya. Dia memang merasa kesal dengan semua masalah dan sorotan yang menimpanya. Namun, dia juga masih bersyukur atas semua kelebihan dan kesempatan yang dia dapat di kehidupan keduanya. Dia memulai mempelajari misteri kebangkitan dan tubuhnya setelah insiden dengan Rias.

Dan kebetulan kosmik yang seperti ketiban dadanya Sora Aoi saat itu juga, Naruto baru menyadari kalau meskipun tubuhnya masih berwujud manusia seperti pada umumnya, aslinya tubuh luar biasa miliknya itu adalah seperangkat mesin luar biasa canggih yang mekanisme kerjanya lebih rumit dibanding tubuh manusia dan organisme lain yang pernah ada. Singkat kata, Naruto adalah seorang Android.

Karena itulah, Naruto yang sedari dulu menyukai mesin dan juga tertarik dengan teknologi dunia lain–khususnya makhluk yang menghidupkannya, mencoba mempelajari tubuhnya dan menguak rahasia apa di dalamnya. Sudah 4 hari plus lembur sejak dia memulainya dan sampai Naruto kelelahan hingga mengigau bertemu Mia Khalifa sedang tari tiang sekalipun, dia belum memahami tubuhnya. Bahkan mekanisme menembak tanpa peluru yang dia lakukan pada Rias dulu pun dia lupa.

Banyak refrensi sudah dia baca dan pelajari. Rujukan mahasiswa-mahasiswa segala disiplin ilmu lingkup teknik, penelitian-penelitian profesor soal robot dan semua hal yang ada di dunia. Naruto masih tak memahami tubuhnya. Harus diakui kalau teknologi di tubuhnya adalah teknologi mesin paling rumit.

Naruto hampir putus asa malam minggu itu.

Andai ... dia yang sedang bosan tengah menonton serial anime Frieza-sama di mana adegannya ada pelepasan jurus pamungkas bernama 'Kametameka' membuat Naruto secara tak sengaja mentransformasi lengan kanannya terbuka dan menunjukan meriam-meriam futuristik berkilauan.

Itulah malam pertama bagi Naruto mulai memahami tubuhnya.

Bahkan, tembakan "Bang" yang dia lakukan pada Rias beberapa hari lalu telah dia hapal mekanismenya dan dia sekarang bisa mem-variasikannya dengan berbagai kemampuan tanpa batas tubuhnya yang berhasil dia akses.

Semalaman sampai pagi Naruto mengeksperimenkan "Bang"-nya yang tentu saja mengganggu tetangga sekitar. Dia belum berani memakai serangan selain "Bang" miliknya. Meningat tak ada yang tau atau catatan bagaimana daya hancur serangan-serangannya.

Dia keasyikan meneliti. Sampai tak sadar akibat perbuatannya yang menimpanya di minggu pagi itu.

"Kenapa aku ditahan Polisi?!"

Ibu-ibu rempong tukang gosip tetangganya itu hanya bisa menatap puas padanya bak Vincent van Gogh baru saja selesai menggambar doujin hentai.

.

.

.

.

I Don't own Naruto and Highschool DxD. Both belong to Masashi Kishimoto and Ichie Ishibumi. There is no personal benefit from making this fanfiction

.

Inuyashiki

.

Presented by The Bogeng

.

.

.

Date : 07 May. 19

.

Chapter 2 : Celestial's Product

[Bagian 1 ... ]

" ... Jadi begitulah Pak Polisi. Namikaze Naruto bermain terlalu keras semalam, aku tidak merasa sebagai korban karena kami ada rasa. Jadi, kumohon pertimbangkan penindakannya."

Di ruang tahanan Kantor Polisi Kuoh, Naruto yang baru saja ditahan karena laporan ibu-ibu tetangganya bahwa dia dicurigai sebagai teroris karena semalaman terdengar suara-suara bising karena eksperimennya itu hanya memasang wajah datar. Sedatar lemak yang disebut susu yang menggantung di dada wanita berkaca mata itu.

"Aku tak mau berterima kasih, Kaicho."

Selepas interogasi yang untungnya diselesaikan oleh gadis yang duduk di hadapannya itu, Naruto hanya berdua dengan gadis berambut hitam gaya bob dengan kaca mata yang dia tau adalah Sona Sitri itu. Dia salah satu wanita gila yang bisa dia ingat.

"Kalau begitu, kau bisa membayar jasaku dengan curhat, bagaimana?" Sona membenarkan letak kaca matanya menatap serius pada Naruto. Sengaja dia yang memang mengawasi remaja pirang itu dengan caranya sendiri karena informasi dari Rias datang ke Kantor Polisi karena tau hal konyol yang menimpa remaja itu.

Motif Sona tak sama seperti Rias. Dia tak begitu gila akan kekuatan yang Naruto tunjukan dengan membuat budak Rias Yuuto Kiba-kun terluka parah. Dia melakukan pengawasan dan sampai sekarang menolong pemuda itu hanya karena satu hal. Satu hal yang menambah emosinya setelah melihat kejadian Naruto dengan tubuhnya semalam.

"Dengan siapa? BK gitu? Karena ada berita bahwa Ketua Osis Sona Sitri mengaku Skidipaap denganku di Kantor Polisi?"

Sona Sitri tersenyum dengan misteriusnya. Soal berita itu bukan hal besar dan dia bisa menghapusnya dengan mudah sesuka hati. Yang terpenting, keinginannya untuk mengetahui misteri dari tubuh Namikaze Naruto dan pembuatnya bisa terpenuhi mulai dari sekarang.

Ya! Aku penasaran pengetahuan yang menyelimutimu, Namikaze-kun.

"Aku akan membantumu ... mengetahui rahasia tubuh mesin dan penciptamu,"

Mata safir itu melebar yang selanjutnya menatap perhitungan pada gadis berkaca mata itu.

"Ne ... Inuyashiki-kun."

.

Pada dasarnya, sifat suatu makhluk itu tergantung lingkungannya. Jika lingkungamu adalah lingkungan religius pasti men-sosialisasi kepribadianmu menjadi alim, pun begitu sebaliknya. Teori itu berlaku untuk makhluk yang memiliki akal seperti juga Iblis. Beda dengan manusia, Iblis yang biangnya lingkungan-lingkungan bobrok moral di manusia pasti lebih brengsek lagi kepribadiannya.

Naruto yakin Sigmun Freud sekalipun akan setuju kalau semua iblis itu tak berbeda perangainya. Tak si Tomat berputing atau Kacamata kekurangan susu sekalipun.

Baru tadi pagi dia dengan tanpa minta sedikitpun diselamatkan dari Polisi oleh Sona-Kaicho, sorenya perempuan itu seenaknya saja datang ke rumahnya dan SKSD dengannya.

"Mari pikirkan secara rasional, Inuyashiki-kun. Siapa kira-kira penciptamu dan apa motifnya? Apa kau pikir mereka bagian sebuah mitologi? Atau masih umat manusia itu sendiri? Bagaimana?" Sona datang ke rumahnya tak bertangan kosong. Dia membawa tumpukan buku dengan berbagai isi yang relate dengan mesin dan legenda juga sejarah. Seenaknya pula dia membuat teh dan menikmatinya.

Ini rumahku bogeng!

"Kau ini mau ku rape apa? Seenaknya datang dan membuat kesepakatan denganku? Aku tak ada dendam dan tak mau berurusan dengan makhluk sebangsa si Rias selain dia kau tau." Bahkan Naruto kini masih memakai handuk di sekitaran selangkangannya karena dia sedang mandi ketika Sona datang.

Entah ada angin apa, Sona menatap Naruto dengan serius. Wajah serius yang sangat cantik dan membuat Naruto berpikiran bahwa dihadapannya adalah cucunya Shigeo Tokuda flat version.

Wajah keturunan bangsawan Sitri itu sangat serius. Dia bertatapan dengan safir Naruto dan bergerak meneliti tubuh pemuda itu dari atas sampai bawah.

"Penismu masih bekerja?"

"Sialan! Kau mau kubuktikan hah?!"

"Maa ... Juts Kidding." Sona dengan sebuah buku ditangannya berjalan menuju sofa ruang tamu. Entah angin bego darimana Naruto mengikutinya. "Tapi serius, tubuh mesinmu masih memungkinkan penismu menyemprotkan sperma? Eh, apa masih bekerja testis milikmu itu? Itu Sperma apa oli?"

"Sialan! Kau pentil di tengah lapang!"

"Oke serius Inuyashiki-kun. Aku kemari untuk membantumu membongkar rahasia tubuh dan penciptamu," kali ini wajah serius Sona tak sempat Naruto kaitkan dengan cucunya Shigeo Tokuda. "Aku tau kau juga penasaran dengan rahasia itu, 'kan?"

"Kenapa ... apa motif mendasarmu?"

Begitu angin lebay yang menerpa antara mereka berdua hadir yang secara memalukan menerbangkan handuk di sekitaran selangkangan Naruto terlepas menunjukan jonny pada Sona, wanita mungil itu berkata dengan wajah merona.

"Knowledge is everything, Inuyashiki-kun."

Naruto tak merespon karena dia berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan menutupi rasa malunya menunjukan Jonny pada wanita dan itu pertama kalinya. Sementara Sona hanya membenarkan letak kaca mata miliknya dengan senyuman dan rona di wajah.

"Gede juga ... "

.

"Jadi, bisa kau jawab pertanyaanku awal tadi? Inu–"

"Stop! Aku tak tau kau darimana tau nama itu, namun, hentikan panggilan aneh itu. My name is Namikaze Naruto. That is it!"

"Oke," balasnya datar.

"Dan lagi, aku belum mengatakan sepakat untuk kesepakatanmu dan hari ini aku belum mau bekerja sama denganmu, Kaicho."

"Oke," lagi-lagi datar.

Kamvang ... Si Bogeng ini.

Sona menghela napasnya panjang. Naruto yang hendak menghardik wanita tak tau sopan santun itu mengurungkan niatnya. Dia melihat gadis itu kembali menatapnya dengan tatapan mata yang serius. Lagi.

"Aku ingin berdiskusi sebentar sebelum pergi hari ini. Apa yang kau dapat soal tubuhmu dan penciptamu sampai hari ini, Naruto-kun?"

Kemudian suasana menjadi hening. Sona masih kukuh untuk sore hari ini berdiskusi sebentar tentang tubuh dan pencipta Naruto. Baginya, hari ini dia sudah harus mendapatkan informasi untuk mengkerucutkan penelusuranya sehingga pengetahuan yang dia ingin tau pun tak akan lama lagi dia ketahui. Apalagi dia masih sibuk dan harus mengurus hal lainnya.

"Apa yang kau ketahui tentang tubuhmu? Penciptamu? Sejauh mana kau mengetahui informasi itu?" Tanya Sona lagi. Minggu sore itu sekitaran pukul 5 sore. Beberapa jam lagi Sone harus berpatroli mengurus iblis liar.

Sementara Sona terburu-buru ingin mengetahui. Naruto merenung kembali. Sona bukanlah kandidat yang pernah dia pikirkan akan menjadi rekannya dalam hal apapun. Dia pula satu ras dengan Rias Gremory yang merupakan wujud kekesalannya. Bisa saja Sona dengan sikap yang dibuat-buat atau dia bersekongkol dengan Gremory itu adalah untuk menjeratnya menjadi alat mereka. Bisa saja.

Apalagi informasi yang diinginkan Sona adalah soal tubuh mesinnya yang bagi dia adalah definisi dari luar biasa itu sendiri. Meskipun Sona berkeinginan sama sepertinya mengetahui pengetahuan asing, namun dia masih belum bisa menerima itu. Pasca kejadian dia hampir mati di taman oleh orang yang juga dia ingin balas selain Rias saat itu, katakanlah Naruto menjadi lebih skeptis dan susah percaya.

Dia tak mau kesempatan keduanya berakhir tragis seperti pertama di dunia yang penuh misteri ini.

Naruto lantas menodongkan tangan kanannya. Dia memasang posisi "Bang" tepat menuju kepala Sona. Jika dia menghendaki, detik selanjutnya kepala Sona akan kosong tanpa isi. Wajah Namikaze itu mengancam dengan serius pada ekspresi wanita yang keseriusannya bahkan tak kalah sama sekali.

"Jika kau mengamati kegiatanku selama ini, maka kau pasti tau jika aku memasang pose ini, Sona-Kaicho." Satu kata saja, kepala dan dinding di belakang Sona pasti berlubang.

"Aku tak sabar menyaksikan kemampuan dari pengetahuan, Naruto-kun."

Cukup lama mereka dalam posisi itu. Keduanya saling keras kepala dengan kehendaknya. Sona ingin bersama Naruto dan mengungkap pengetahuan sedangkan Naruto tak mau menerima khususnya iblis di sekitar hidupnya. Hanya jika salah satu dari mereka mengambil tindakan lah maka ketegangan di rumah itu berakhir. Satu tindakan saja.

" ... Dan aku yang mengambil tindakan itu, Bogeng. Bang!"

Ibu-ibu tetangga Naruto bersamaan keluar dan melihat rumah Naruto yang baru saja terdengar suara ledakan kecil dengan bata–atau juga dinding, yang berhamburan ke jalan. Mereka mulai menelepon Polisi lagi.

Sementara Naruto yang tau bahwa urusan merepotkan akan datang tak lama lagi, mendesah lelah. Safirnya tak lepas dari gadis keras kepala yang bahkan tak takut mati untuk keinginan bodohnya. Dari mata berwarna violet itu Naruto bisa memahami bagaimana ambisi sosok gadis yang masih dalam posisi duduk di sofa miliknya. Di samping gadis itu beberapa helai rambut hitamnya terbang terlepas dan kemudian terbakar oleh suhu panas. Di belakang kanannya lubang besar di dinding rumah Naruto.

"Katakan, Naruto-kun."

Naruto menghela napasnya dan berteriak mengusir ibu-ibu kepo di depan rumahnya. " ... Kau harus membantuku lolos lagi dari Polisi setelah ini, Kaicho."

"Apapun itu."

"Baiklah, aku ceritakan. Sampai hari ini aku belum mengerti tubuh ini, siapa pencipta ini dan apa motifnya. Aku hanya mempelajari mekanisme kerja kemampuan tubuh ini, tidak lebih. Dan kupikir, kau sudah tau dengan mengawasi entah menggunakan apa."

Sona mengangguk, "Terus?"

"Apalagi? Mau mengetahui cara kerja spermaku?"

"B-bukan bodoh!" Tiba-tiba wajah Sona memerah. Dia menggeleng-geleng dengan wajah galak.

"Tidak ada lagi, Kaichou. Aku bisa saja mengatakan mekanisme mesin yang baru ku ketahui. Namun kupikir kau sudah paham." Melihat Sona hanya mengehla napasnya dengan pelan, tiba-tiba Naruto teringat sesuatu. "Kecuali satu hal ... "

"Apa?"

Beberapa saat sebelum menjawab, Naruto membuka kaos hitam yang dia pakai dan menunjukan tubuh berototnya. Dengan mekanisme yang rumit, dada Naruto terlihat terbuka dengan unsur mesin futuristik. Ada sinar biru terang di core dada itu dengan tulisan yang mengelilingi secara melingkar di tengah. Sona membacanya perlahan.

"Made in Celestial?"

Kedunya sama-sama memasang wajah sweatdropped.

.

.

.

[Bagian 2 ... ]

Seminggu sudah Naruto dan Sona menjalin kerja sama. Mereka stuck pada pemikiran mereka masing-masing soal siapa pencipta dan teknologi macam apa yang membuat Naruto. Tak ada hasil intinya. Namun ada nilai lebih dari kehadiran Sona. Dia membantu Naruto meng-akses ability yang disediakan tubuhnya itu. Setidaknya otak dua orang kreatif telah menghadirkan Naruto yang berbeda.

Kehadiran Sona juga menjadi penyebab penguntitan yang diinisiasi oleh si tomat berpentil berhenti dan dia mulai tenang dengan kehidupannya–pengecualian kehadiran iblis betina keras kepala yang tiap sore ke rumahnya. Sepertinya Rias disuruh oleh Sona untuk menghentikan penguntitan itu dengan alibi-alibi tertentu. Siapa peduli.

Banyak perubahan memang yang dibuat Ketua Osis itu pada kesehariannya. Naruto mengakui itu.

Namun, malam ini, sekitaran pukul 19.00 waktu setempat, Naruto tak bertemu dengan Sona. Katanya dia ada tugas dan Naruto juga tak ambil peduli. Dia berjalan saja keluar rumah menikmati malam kota Kuoh. Sampai pada satu momen, Naruto bertemu dengan Ise.

Pemuda itu katanya hendak melakukan pekerjaan iblis melalui kontrak dengan manusia. Kata Ise itu untuk menambah kekuatan buat jadi Iblis bangsawan.

Mengingat wajah madesu Ise yang selalu sial memilih judul JAV, Naruto akhirnya ikut dengan temannya itu. Dia juga mau tau bagaimana cara kerja iblis menambah kekuatan dengan membuat manusia madesu.

"Ini rumahnya, Ise?" Sampai di sebuah rumah di tengah komplek perumahan di barat Kota Kuoh.

"Kalau bukan, aku mending membeli DVD Mia Khalifa : Endgame."

"Itu judul film?"

"Sok suci kau Sugiono!"

Selepas perdebatan tak berarti. Ise mengetuk pintu rumah itu. Dia mengetuk berkali-kali dan tak ada jawaban sama sekali. Bergumam sebentar, Ise bimbang antara masuk tanpa izin atau kembali membeli DVD Movie Mia Khalifa terbaru. Sampai akhirnya Naruto membuka pintu itu tanpa kesulitan. Tak dikunci ternyata.

Keduanya kemudian masuk ke rumah lumayan besar itu. Mereka mencari-cara kesana-kemari pemilik dari rumah yang kata Ise adalah orang yang memanggil dan membuat kontrak dengannnya. Dia juga bercerita bahwa ini kontrak yang dia pikir normal. Karena sebelum-sebelumnya Ise harus berurusan dengan Mil-tan si om-om binaragawan nepsong.

'Aku baru sadar! Ini bau darah. Jejak inframerah disini ada lebih dari 3 orang. 5 orang!'

"Ise, berapa orang yang tinggal disini?"

"Huh? A-ah kupikir 3 orang. Kenapa emang?"

"Tidak. Hanya saja, selain film bokep, kau pernah nonton film horor-thriller tidak?"

"S-suster keramas horor bukan?"

Naruto menghela napasnya bodoh. Sudah dia duga Ise ini 70% cairan yang katanya mengisi tubuh manusia itu, isinya sperma semua. Jadilah pikirannya semua tentang nafsu.

"Kalau begitu ... sebentar lagi adegan gore akan kau tonton."

Deg!

Setelah itu, Ise merasa dadanya terasa sesak dengan semerbak bau darah yang menyerang paru-parunya. Dia juga merasakan aura tak mengenakan yang menekan mentalnya sampai pada titik terbawah. Dia menatap di ujung ruang keluarga, di balik sofa merah yang terlihat berantakan ada 3 mayat bergenang darah dengan luka menganga seperti bekas tebasan pedang. Entah mengapa Ise merasa tak enak menatap luka beraura tak mengenakan itu.

Telinga Ise bergerak mendengar suara seseorang yang sepertinya tak asing. Dia keluar dari kegelapan ruang makan dengan wajah memuakan.

"Khuhuhu ... Siapa di sana? Akuma-chan yang tadi siang dan ... manusia? Ngebet main tusuk-tusuk yah sama aku?" Dia tertawa gila. Lidahnya mencoba menjilat pedang cahaya di tangannya yang berlumur darah keluarga penghuni rumah itu namun gagal. Dia kesakitan karena tajamnya pedang itu.

"Ise, kau uke dia?"

"Bukan sialan!" Wajah Ise kemudian mengeras mengingat sesuatu, matanya mencari apakah yang dia cari dan khawatirkan ada di sini. Ekspresinya kian mengeras ketika di belakang pria bernama Freed Sellzen itu ada sosok gadis pirang biarawati yang memandang sedih padanya. "Dia Exorcist sinting. Bukannya membunuh iblis, dia malah melakukan kejahatan."

Exorcist? Naruto tau istilah pembunuh setan itu. Mereka seperti kata Ise adalah pengusir atau pembunuh iblis dan musuh alami mereka. Ah, kalau dia Exorcist mungkin ada satu hal. Batin Naruto.

"Exorcist-san!"

"Hmmm ada apa pirang?" Dengan wajah ke-pedo-an ala-ala burhan dia menggandeng wanita yang Naruto tak kenal namun sepertinya seorang biarawati.

"Kau pengusir setan kan? Bisa membunuh Iblis?"

"Iya dungs."

"Bunuh sama Rape Rias Gremory bisa?"

"Jangan becanda disaat begini!" Ise langsung memberikan 619 ala Rey Mysterio kepada Naruto. Suasana kembali serius dengan Exorcist yang bernama Freed itu menjelaskan maksud tujuannya.

"Yah, aku disini untuk mensucikan Papih di sana tuh yang mati sama aku karena dia menyewa iblis beberapa kali. Itung-itung azab gitu lha, hahahaha," jelas pria sinting itu. Naruto dan Ise hanya bisa kesal dengan pria berdosa yang justru seharusnya dia yang diazab karena kelakuan gilanya itu.

"Kau biadab pirang."

"Hoy kau juga pirang!"

Ise yang sedari tau pria itu penuh amarah benar-benar mendapati puncak kemarahannya mendengar orang gila di hadapannya membunuh karena alasan gila. Melihat Biarawati yang merupakan teman barunya itu disiksa dengan dirobek pakaian bagian atas dan diremas payudaranya Ise semakin marah. Dia tak berpikiran mesum meskipun melihat susu di hadapannya.

"Lepaskan Asia, sialan! Kau pendosa cabul!"

'Kau juga cabul.'

Ise tanpa sempat Naruto cegah kemudian melesat menuju Freed dengan tangan diselimuti sebuah gauntlet merah yang entah Naruto tak tau apa. Sementara pria itu menggenggam erat pedang cahayanya dan bersiap menerima serangan Ise. Naruto jadi panik. Dilihat dari sudut manapun Ise akan K.O melawan petarung ahli teknik dan berbahaya bagi dirinya secara alami itu dengan gaya bertarung asal-asalan.

"Mati kau Akuma-chan!" Satu tebasan mematikan menuju kepala Ise untuk menggoroknya. Sementara si mesum itu tak mengenai apapun tinjunya.

Sedikit lagi ...

Trak! Prank!

Sebelum suara logam pecah ada suara tubrukan yang keras dan jadi penyebab hancurnya pedang cahaya Freed yang membuat pria itu melompat ke belakang terkejut. Dia jelas bukan hanya mendengar suara tadi sebelum kejadian pecah pedang. Dia mendengar dengan jelas manusia itu mengatakan,

"Bang!" Naruto berhasil menang telak sekali shoot.

"S-sialan! Siapa kau manusia?!" Ekspresi wajah Exorcist itu diselimuti ketakutan mendalam. Satu-satunya kebanggaan miliknya yang menurutnya bisa mencabik-cabik iblis apalagi manusia hancur dengan mudah tanpa dia tau penyebabnya. Ada ketakutan akan sosok manusia yang misterius di sana.

"Dora Emon."

"J-jangan bercanda sialan!" Freed mengeluarkan satu senjata api dari jubah miliknya. Seperti pedang tadi, mungkin peluru itu sudah dilengkapi aura suci yang berbahaya bagi Iblis jika terkena. Namun ...

Suara baut-baut jatuh! Senjata api milik Freed terpereteli secara ajaib dan jatuh menyisakan gagang senjata yang tak bisa apa-apa. Takut ini bener-benar sekarang.

Ise yang berada di antara Naruto dan Freed menatap kagum temannya itu. Dia bisa mengalahkan manusia sinting yang berhasil membuatnya terluka itu dengan mudah–bahkan terlihat meremehkan. Teknik "Bang" miliknya itu Ise sudah pernah lihat sekali dan sekarang sepertinya Naruto bisa mengontrol berapa kaliber serangan dan kecepatannya. Ditambah kemampuan aneh merusak senjata. Ise tak menyangka dulunya dia itu sosok gendut tak berguna yang suka nonton Mia Khalifa bersamanya.

'Naruto ... Dia hebat,'

!

"Freed ... Kau lama. Raynare-sama merindukan objek penelitian kau tau," dari lingkaran sihir yang muncul tak jauh dari Freed, keluar pria berpakaian detektif dengan sebuah tombak cahaya di tangannya. Aura orang ini seperti Amano Yuuma bagi Ise dan Naruto juga familiar.

"Dohnaseek? Oh akhirnya Tuhan sayang sama aku."

"Apa yang terjadi denganmu?" Pria bernama Dohnaseek itu menatap rekannya yang terlihat kacau dan ketakutan menghadapi manusia dan iblis di hadapan mereka. Iris matanya juga melihat subjek percobaan mereka yang manis. Kunci kesuksesan tim mereka.

"Aku lupa minum obat kuat. J-jadinya yah aku kesusahan melawan mereka. K-kau bisa bantu, 'kan?" Apa-apaan alasannya itu.

Dohnaseek mengamati dengan teliti manusia dan iblis yang sok kuat mengganggu kelompoknya. Dia kemudian menciptakan satu lagi tombak cahaya di tangannya dari ketiadaan. Senyum menjijikan dia pasang.

"Freed, pergilah. Bawa Biarawati itu ke Raynare-sama. Dibunuh nanti kau kalau telat,"

Dengan senyuman puas seolah lepas dari mara bahaya Freed memeluk Biarawati itu dengan tak lupa memeras payudaranya dengan wajah mesum. Dia menghilang bersama Biarawati itu ditelan lingkaran sihir.

"Asia-chan!" Ise berteriak. Air matanya menetes. Naruto paham bahwa wanita itu sepertinya teman yang berharga bagi Ise.

"Saa ... Di mana kalian mau ditusuk olehku?" Dohnaseek berjalan menuju mereka dengan dua tombak cahaya. Ise melompat berdampingan bersama Naruto yang mengeraskan ekspresinya. Dia tau pria di hadapannya pasti orang dekat dengan Raynare yang membunuhnya.

"Ise, diam saja. Aku akan mengatasinya," ucap Naruto. Ise mengangguk. Dia mundur perlahan membiarkan sahabatnya melawan orang yang pastinya dia tak mampu atasi itu.

"Manusia? Kupikir iblis itu yang akan sok berani melawanku."

"Shut up! Bang!"

Trank!

Tombak cahaya itu terlempar ketika terkena serangan Naruto. Itu menancap di atap ruangan. Dohnaseek terkejut melihat serangan yang tak dia ketahui itu. Dia tak bisa berpikir lebih jauh ketika dengan pose yang sama, Naruto mengarahkan serangan misteriusnya.

Dinding yang antara ruang tamu dengan ruang makan berlubang besar. Dohnasseek untungnya selamat.

Bang! Bang! Bang!

Beruntun. Malaikat jatuh bernama Dohnasseek itu berhasil menghindari serangan Naruto melalui arah tangannya. Sudah beberapa tombak cahaya yang hancur dan patah karena menahan serangan Naruto. Ise melihatnya dengan kagum.

"S-sialan! Kau lumayan kuat juga, manusia."

Da-tensi itu dalam kondisi yang tak baik. Pakaiannya robek dimana-mana dan dia kelelahan menghindari serangan Naruto. Sementara Naruto bahkan tak berpindah sedikitpun dari posisinya. Dia tak terlihat sudah bertarung sengit.

"Hoy! Detektif, lihat Televisi di sampingmu!" Di samping kanan Dohnasseek, melalui lubang yang dibuat Naruto, ada televisi milik keluarga yang terbunuh itu. Jenisnya LED.

"Huh?" Bodohnya pria itu menengok melihat televisi yang tadinya mati tiba-tiba menyala dengan menunjukan wajah manusia musuhnya. Dia memasang pose aneh menuju dirinya.

Jrash!

Sayap hitam yang mencoba melindungi kepala Dohnaseek hancur digilas peluru dari televisi itu. Dia terlihat kesakitan memegangi sayap kanannya yang hancur. Sementara Ise melihat fenomena tadi bingung. Bagaimana bisa Naruto menyerang melalui media layar televisi? Padahal yang dia lihat Naruto diam saja ketika kejadian itu terjadi.

"B-bagaimana b-bisa ... "

Jari telunjuk Naruto secara futuristik terbuka dan berubah menjadi meriam laser kecil berwarna hitam metalik. Sinar biru bersinar terang di ujung jari itu. Sementara jarinya Naruto arahkan menuju Dohnaseek yang terduduk memegangi sayapnya sendiri.

"Laser : One Billion Shot!"

Ada semacam sinar laser dari jari telunjuk Naruto mengarah pada Dohnaseek dan secara ajaib terbelah menjadi sinar yang lebih kecil. Terus seperti itu sampai mata iblis Ise tak bisa melihat apa yang terjadi dengan serangan Naruto. Bahkan, Ise juga tak melihat apapun yang terjadi setelahnya. Seperti serangan Naruto adalah kesunyian. Namun insting dan naluri alamiahnya berkata tadi adalah serangan mematikan.

"Mari kita pergi, Ise. Sebelum Polisi datang," ucap Naruto berbalik pergi membuat Ise bingung.

"Eh? T-tapi dia ... " Issei menunjuk Da-tensi lawan mereka yang masih dalam posisi sama sedari tadi.

Naruto menengok tubuh Dohnasseek yang tak bergerak, "Lihat baik-baik semua lubang pori-porinya."

?!

Secara mengejutkan, dari semua pori-pori kulit Dohnasseek mengalir darah merah kental. Bukan dari pori-pori kulit saja, dari mata, akar rambut dan semuanya. Titik-titik tak terhingga itu mengeluarkan darah seolah ada tak terhingga sesuatu yang menembus Da-tenshi itu sampai membunuhnya.

... Dan akhirnya tubuh itu roboh dengan cairan darah yang hanya tersisa. Kulit, daging bahkan tulang melebur seperti terbakar sesuatu hingga tak tersisa. Eksistensi Dohnasseek dikonfirmasi hanya tersisa beberapa cc darah segar.

"T-tunggu dulu Naruto!"

Naruto berhenti berjalan, "Hm, ada apa?"

Ise meneguk ludahnya kasar. Dia seperti menemukan sosok sahabatnya yang berbeda dari apa yang dia ketahui. Safirnya kini terlihat beku dan dingin menusuk jantung Ise ketika menatapnya. Namun, dia harus mengatakannya. Dia tak mau gagal kali ini!

"A-aku tau kau kuat. Entah bagaimana mekanisme kau membunuh Da-tenshi itu, namun, aku yakin kau sangat kuat, Naruto!"

"Apa maksudmu, Ise?"

"Bisakah ... " Tangan Ise mengepal erat. Dia membayangkan pertemuannya dengan teman barunya di suatu pagi dan Ise merasa sesuatu dorongan untuk melindungi dia. " ... Bisakah kau membantuku menyelamatkan Asia-chan?"

Naruto menatap mata Ise dalam. Dia mencoba memahami perasaan sahabat dekatnya itu. Kemudian dia berjalan kembali pergi.

"Dasar Bogeng,"

A-APA MAKSUDMU COBA?!

To be continued ...

Movie of the year in 2K19 itu Mia Khalifa : Endgame! Watch it with your girlfriend later in Cinema!

Halo Bogeng, maaf saya terlambat update bahkan sampai terasa membosankan. Saya ada sesuatu hal menyangkut persiapan masuk PTN yang memaksa saya fokus, jadi deh terlantar fiksi bogeng ini. Namun, setelah tanggal 11 semoga saya punya banyak waktu untuk proyek fiksi ini.

Saya mau coba jawab review dari guest – yang pake akun saya usahakan lewat Pm ...

Yang bilang next, ini lanjut meski telat :'

Naruto vs Sirzech? Ini masih awal Papah Sirzech (Digebuk Millicas)

Lanjut apa mati? NGGIH MBAH LANJUT INI :v

Kecepetan sama netral? Oh ya, aku tipe penulis yang gak terlalu suka nulisin hal yang kebanyakan kalian udah tau dari Fandom-nya atau kreasi-kreasi Author hebat lain. Junjung Orisinalitas! Banzai. Jadi intinya, aku tulis scene yang penting dan menurut aku bisa develop cerita sama karakter. Dia netral kok. Tujuannya simpulin aja

Garis besar review guest udah saya jawab yah. Selesai yah saya gak bikin kalian penasaran kalau kalian meninggal :v

Oke, ulasan untu chap ini. Saya gak banyak scene. Ini gaya menulis saya sedari saya join di Fanfiksi. Tiap chapter paling cuman [Bagian ... ] beberapa aja 1 atau 4 paling banyak. Aku sebisa mungkin buat cerita yang singkat, padat, gaje :v

Aku masukin Sona jadi salah satu orang berperan. Aku mikirnya mau kaya Dewi atau Siapa gitu, cuman kan ini di SMA Kuoh. Jadi ini dulu aja. Akan ada kok nanti partner (baca : cewek) yang nemenin Naruto. Sabar aja. Ini aku masih nge-develop premis biar kalian gak mikir alurku maksa atau apa. Apalagi secara garis besar ceritaku bersinggungan banget sama Marvel Universe yang super rumit bua di adopsi. Notice gak unsur MU disini yang kumaksud?

Battle nya masih amatir. Sabar aja. Aku emang mau buat Naruto jadi OP, cuman ya gak tiba-tiba aja. Dan saya masih buat Naruto make "Bang" sama sedikit variasi "Laser" miliknya. Sumpah, selain karena sibuk, aku bingung gimana mau nyari refrensi serangan cyborg yang badas di Internet atau kaya siapa. Tapi, aku berusaha kok oke.

Sekian aja lah ... Gak ada yang perlu dijelasin lagi. Saya harap dukungan dari semua orang untuk fic ini, apalagi yang baca. Bayar dong pake review! Becanda. Tapi sangat diapresiasi mereka yang menyempatkan diri untuk baca terus review. Dan juga, fic ini akan saya bumbui konyol-konyolan Naruto. Ya meski garing daripada serius-serius aja kan bete. Ya gitu seadanya aja deh.

Sekian dari saya ... BANG!