Title : The Missing Moon
Main Cast : Taehyung - Jin
Taehyung as King / Lee Jun / Lee Taehyung
Jin as First Prince / Lee Jeong / Lee/Kim Jin
Rap Monster as General / Nam Joon
Suga as Commander / Yoon Gi
J-Hope as Prince / Lee Seok / Ho Seok
Jimin as Cousin's King / Doctor / Park Ji Min
Jungkook as Third Prince / Lee Jae / Lee Jungkook
Aku sangat bersusah payah untuk menghalaunya dari pikiranku - Ho Seok
Wajahnya dan wajah si berambut emas itu tinggallah se-inchi lagi. Taehyung bingung mengapa ia mendekatkan dirinya hanya karna untuk melihat tanda lahir itu. Jin sudah menutup matanya, hidungnya memerah dan air matanya mengalir deras. Tubuhnya bergetar ketakutan dan Taehyung sangat menikmati 'suguhan' ini.
Bukan. Ia bukan menikmati karena mengerjai Jin. Tapi karena Jin tampak polos dan lugu, Taehyung yakin bahwa banyak pikiran - pikiran negatif di kepala Jin seperti bahwa ia akan dicambuk, digantung, atau dipenggal kepalanya oleh Taehyung. Dan dengan jarak sedekat ini Taehyung bisa menyadari bahwa wajah Jin sangat kecil dan manis. Bibirnya mungil dan penuh namun akan selebar samudera ketika ia tersenyum dan tertawa, bulu matanya sangat tebal ketika basah oleh air mata juga matanya sangat bening sekali. Kulitnya tampak seperti bayi dan punya pinggang yang ramping sekali.
Oke, abaikan 'barangnya' di bawah sana yang membuat Taehyung menyadari bahwa dia ini laki - laki.
"Seorang Raja tidak pernah tidak menepati janji-nya. Kau tidak akan ku apa - apakan" ujar Taehyung masih dalam mengunci tubuh Jin dengan jarak wajah sedekat itu.
Jin berhenti menangis dan memandang takjub wajah Taehyung.
"Kau...benar - benar tidak akan membunuhku?"
"Untuk apa membunuhmu...memangnya kau mata - mata...? Atau jangan - jangan kau memang orang yang ditugaskan untuk membunuhku ya!?" ujar Taehyung jail membuat Jin panik
"Aku bukan mata - mata! Tahu bahwa kau Raja saja baru sekarang!"
"Oho!~ Kau berani memanggilku dengan sebutan 'kau' beraninya dirimu!"
"Mak-maksudku Jeonha! HUAAA AKU BENAR - BENAR MINTA MAAF, AKU BERSALAH KARENA MENGOTORI PAKAIANMU, TIDAK SOPAN KEPADAMU DAN..." ujar Jin terhenti
"Dan apa...?"
Jin menggigit bibirnya kuat - kuat dan melirik kearah meja sang Raja.
"Wah! Kau benar - benar lancang luar biasa! Sekarang kau berani menyentuh meja kerjaku!"
"Bukan!...bukan begitu!..." ujar Jin.
Dia bingung harus mulai darimana memulainya. Wajah panik dan kebingungannya menjadi hiburan tersendiri bagi Taehyung. Taehyung kembali memakai pakaian Jin dan mengikatnya dengan tali.
'Sebelum aku 'hilang kendali' lagi' pikirnya.
Taehyung beringsut dan melihat sebuah amplop dan membukanya.
Isinya luar biasa. Kertas berwarna pink dengan hiasa bunga - bunga kecil dan bunga Matahari.
'Lee Tae Hyung'
Kaligrafi namanya tertulis indah disana.
"Aku ingin meminta maaf dan berterima kasih kepadamu- anni! Maksudku kepada jeonha tapi karena jeonha bilang bahwa kita akan bertemu pada malam hari. Aku mengikuti Dayang Yoo untuk membuat kertas dan menulisnya...dan...lancang menaruhnya diatas meja"
Sekarang, Taehyung benar - benar bingung sekarang. Orang tulus macam dia tidak mungkin Taehyung berani nistakan
"Kau bisa menulis?"
Jin cemberut.
"Aku ini bukan budak dan tentu saja aku ini bisa menulis. Bukan hanya menulis, aku juga bisa membaca!" seru Jin bangga membuat Taehyung tersenyum dan sekaligus heran.
Rakyat biasa tak akan diperkenankan membaca selain daripada penjual buku illegal yang membacakan cerita - cerita dari buku yang mereka jual.
"Darimana buku - buku itu?"
"Noonaku mencurinya dari para Sungkyunkwan sewaktu mereka pergi ke tempat gisaeng berada-" lalu Jin menutup mulutnya dengan kedua tangannya cepat
'Habislah aku!'
Taehyung terkekeh kemudian.
"Setelah tidak memanggilku dengan hormat, kau dan noona mu mencuri buku?" ujar Taehyung kembali jail.
"Noonaku tidak sepenuhnya mencuri. Para gisaeng itu membuang buku yang tertinggal dikamarnya sewaktu habis melayani para sungkyunkwan itu dan membawanya kepadaku"
"Apa saja yang kau baca?"
"Sijo dan Dongui bogam baru - baru ini aku membaca Gwandong byeolgok sebagai ulang tahunku yang ke dua puluh"
"Umurmu dua puluh? Kapan kau berulang tahun?"
"Hari ini. Saat salju pertama turun" ujar Jin membuat Taehyung terpekur.
'Dia...bukan hanya keturunan bulan tapi ia punya hari dan tanggal yang sama dengan hari ulang tahunku? Bahkan tulisannya seindah tulisan eommoeni' batin Taehyung takjub
"Lalu mengapa rambutmu berwarna kekuningan?"
"Huh? ini? ujar Jin menyentuh rambutnya
"Iya. Rambutmu"
Jin enggan berbicara pada Taehyung tentang hal ini. Taehyung tahu akan hal itu sehingga ia memutuskan untuk menyuruh Jin tidur. Jin langsung kembali ketempatnya. Kini mereka tidur berdampingan dengan hanya dibatasi sketsel pembatas ruangan. Keduanya masih belum menampakkan tanda - tanda mengantuk
"Jeonha..." ujar Jin pelan takut - takut bahwa Taehyung telah tertidur dan justru Jin menganggu tidurnya.
"Aku masih belum tidur. Bicaralah jika kau ingin menyampaikan sesuatu" ujar Taehyung kemudian sambil tersenyum.
"Jeonha...aku ini bukan mata - mata dan juga bukan orang yang ditugasi untuk membunuhmu..." ujar Jin pelan
'Aku tahu...'
"Sebenarnya...rambutku ini pertanda bahwa aku ini diberkahi bulan juga tanda lahir di dada kiriku jika jeonha melihatnya..." ujar Jin membuat Taehyung mendengus geli
'Yang itu aku juga tahu bodoh...'
"Aku dibuang oleh keluargaku ke hutan terlarang sewaktu aku lahir karena hal ini..."
Ucapan Jin yang terakhir membuat hatinya berdenyut sakit tiba - tiba
"Imo bilang...ia menemukanku menangis di tengah hutan. Setelah itu aku dirawat dan diberi nama"
"Omong - omong, aku tidak tahu namamu..."
"Ah iya...hehehe...namaku Jin...Kim Jin"
"Jin? Artinya bukankah harta?" ujar Taehyung
"Huum! Tapi artinya juga mutiara dan permata. Imo yang memberikan nama itu"
"Begitu ya..." ujar Taehyung
"Oh ya. Jika aku tahu engkau seorang jeonha, mungkin aku akan menulis 'Yang Mulia Lee Tae Hyung' di kertas-"
"Jin." potong Taehyung
"Nde?"
"Panggil aku"
"Jeonha"
"Bukan. Panggil namaku" ujar Taehyung.
"Ey~~ mana bisa aku lancang-" ujar Jin terhenti karena tiba - tiba saja sketsel tadi di geser dan memunculkan Taehyung yang tengah duduk sambil mendorong sketselnya. Jin sontak ikut terduduk kaget.
"Panggil namaku. Ini perintah" ujar Taehyung sambil menatap lurus mata Jin.
"Taehyung..." lirih Jin kemudian membuat Taehyung kembali mendekat kepadanya.
"Mulai dari sekarang...jika kau membutuhkan pertolongan panggil namaku..." ujar Taehyung membuat Jin tersenyum.
"Nde!" ujar Jin kemudian.
Jin tidak tahu bahwa sebenarnya itu adalah sebuah ungkapan untuk melamar dirinya.
"""
Cenayang Shin mampir kerumah Yeon Hui dan Ara. Disana ia melihat Yeon Hui dan Ara tampak cemas dan juga kaget melihat teman lamanya datang berkunjung.
"Shin?"
"Yeon Hui?" ujar Yeon Hui kaget dan menyuruh Ara untuk membawakannya teh.
"Bagaimana kabarmu setelah menjadi Cenayang Istana dan ada urusan apa kemari?"
"Ilmuku masih digunakan disana walau tidak sehebat ilmu dan..."
"Dan..."
"Dan aku butuh bantuanmu Yeon Hui. Aku menemui kasus langka di Istana"
"Kasus? Kasus apa?" ujar Yeon Hui terhenti melihat Ara telah membawa tiga gelas teh hijau
"Minumlah dulu Shin, dan ceritakan pelan - pelan" ujar Yeon Hui mempersilahkan Shin untuk meminum tehnya.
"Aku melihat Bulan Joseon" ujar Shin sehabis meminum tehnya membuat Ara dan Yeon Hui terkaget - kaget.
"Apa tadi kau bilang...? Bulan Joseon? Bukankah jeonha telah mempunyai permaisuri?" tanya Yeon Hui
"Annimida Yeon Hui-yah. Jeonha belum menikah meski banyak putri - putri bangsawan yang jatuh hati padanya. Tapi tadi pagi...Aku ditugaskan oleh jeonha untuk memandikan dan 'melihatnya' seakan - akan dia sangat yakin dengan orang ini. Aku menuruti perintahnya dan betapa kagetnya aku bahwa dia ditakdirkan sebagai Bulan Joseon. Kau tidak tahu bukan bahwa Joseon sedang dilanda kemarau panjang akibat tidak adanya hujan. Saat ini memang belum terlihat akibatnya karena masih sebulan lamanya, tapi ini pertama kalinya aku melihat Bulan begitu terang dan salju turun begitu cantik di Istana" jelas Shin panjang lebar.
"Bukankah itu hal yang baik imo? Dia membawa kedamaian untuk Istana dan Joseon" ujar Ara tersenyum dipaksakan.
Meski ia sudah mendapat gambaran bahwa sosok yang mereka bicarakan tadi adalah Jin
"Tapi dia seorang laki - laki Yeon Hui-ya! Laki - laki! Aku ingin mengabaikan 'pandangan'ku tetapi tanda lahir dan rambutnya memperjelas semuanya. Untuk itulah aku berkunjung kemari dan menanyakan hal ini. Siapa tahu aku memang salah penglihatan"
"Bagaimana wujudnya?" ujar Yeon Hui mencoba untuk tetap tenang dan Shin mengeluarkan selembar kulit hewan dimana ada lukisan Jin.
"Namanya Jin, ia punya tanda lahir berbentuk bulan sabit di dada kirinya dan berambut emas seakan - akan dia memang terlahir atas kehendak bulan"
Baik Yeon Hui dan Ara sama - sama terkejutnya.
"Dimana ia sekarang?" tanya Ara gusar
"Dia bersama jeonha di Istana. Wae? Apa kau juga melihat hal yang sama? Jadi ini bukan salah penglihatanku!? Astaga bagaimana bisa!? Langit mempermainkan Istana...?" ujar Shin benar - benar lebih kaget dari saat pertama meramal Jin
"Ini karena Istana membuang 'berkat' yang harusnya tidak mereka buang..." ujar Yeon Hui kemudian
"Apa maksudmu?" ujar Shin.
Karena Shin adalah teman lamanya maka Yeon Hui menceritakan segalanya. Mulai dari insiden dimana ia bertemu permaisuri dan sampai kepada Heo sanggoeng yang menyuruhnya untuk menjaga Jin.
"Astaga...jadi dialah Lee Jeong?" ujar Shin kaget setelah mendengar semuanya.
"Imo tau Lee Jeong" ujar Ara kaget begitu Shin menyebut nama asli Jin
"Saat permaisuri lahir, Istana Bintang akan melakukan ritual memohon keselamatan pada Bulan dan Matahari untuk keselamatan Mama dan Bayinya. Ada dua kertas jimat yang terbakar membentuk uraian tulisan Jun dan Jeong di langit. Tapi kami mendengar dari pelayan istana bahwa yang terlahir hanyalah Jeonha" ujar Shin
"Apa kah Jeonha terdahulu tahu akan hal ini" tanya Yeon Hui cemas
"Tidak. Dahulu kepala kami meminta untuk tutup mulut saja, mungkin dibelahan Joseon ini ada yang melahirkan juga. Setidaknya begitu kata kepala terdahulu" ujar Shin mengenang masa lalu.
Baik Yeon Hui dan Ara menghela nafas lega. Setidaknya keberadaan Jin tidak diketahui oleh ayahnya.
"Tetapi menempatkan Jin di Istana akan membahayakannya Yeon Hui-ya. Bagaimana bisa ia ke Istana?" heran Shin
"Karena matahari telah lama menunggu bulannya Shin, bagaimanapun itulah takdirnya terlepas bahwa dia adalah Lee Jeong dan adik kandung jeonha sendiri"
"Apa jeonha sudah melakukan 'itu'?" tanya Ara takut - takut.
"Dia memang tidur sekamar dengan jeonha. Tapi aku belum melihat tanda - tanda hujan turun, sepertinya jeonha belum 'melakukannya' meski aku sudah mengatakannya" ujar Shin membuat keduanya bisa sedikit bernafas.
"Shin-ah. Kau harus melindunginya, kau tahu sebenarnya saat aku memberkatimu untuk mendaftar di Istana disaat itulah aku dijarah perampok...bayi itu...bayi yang bahkan belum lahir itu menolongku dengan menendang perut ibunya agar bisa melihatku. Dia telah memberi berkatnya padamu dan menolongku Yeon Hui. Kita berutang padanya dan pada mama...Kau harus cepat - cepat kembali ke Istana dan menjaganya"
"Aku akan sebisa mungkin menjaganya...tetapi hanya kuasa Matahari yang mampu melindunginya" ujar Shin kemudian.
Setidaknya cerita Shin telah melegakannya. Jin tidak pulang dari semalam dan mendengar ia pergi karena bertengkar dengan Ara membuatnya sedikit khawatir. Anak itu tidak tahu betapa kejamnya hidup diluar sana. Aura cerahnya selalu menguar dari dalam dirinya, tetapi ia justru 'terdampar di tempat paling mengerikan'. Yeon Hui hanya berharap bahwa Auranya tetap selalu cerah dan terang benderang.
'Lee Jeong mama...mulai dari sekarang kami akan selalu berharap kebahagiaan untukmu'
"""
"Jeonha~ saatnya bagi anda untk mandi dan memulai rapat- JEONHA! APAKAH ANDA SUDAH MELAKUKAN-" ujar kasim Hyungseung kaget melihat Jin tertidur pulas di atas lengan sang Raja dan menyandarkan kepalanya pada dada orang nomor satu di Istana tersebut.
"PSST! Kau tidak lihat ia masih tertidur...!?" bisik Taehyung membuat Hyungseung terdiam kaku.
Nam Joon pun kaget begitu mendengar teriakan Hyungseung dan langsung masuk ke ruangan Taehyung melihatnya tengah bersusah payah menjauhkan tubuhnya tanpa membangunkan Jin. Dikedua kepala pengabdi istana itu sudah banyak pikiran yang tidak - tidak.
"...Jika jeonha 'bermalam' dengannya mungkin akan turun hujan yang akan menghapus kekeringan yang melanda Joseon akhir - akhir ini..."
Kalimat Cenayang Shin bagi kedua orang tersebut bagaikan mimpi buruk yang mengerikan.
"Aku belum memberi tahu apapun padanya...dan semalam kami tidak melakukan apapun selain tidur"
"Tapi jeonha bagaimana bisa anda berakhir di kasur miliknya?" ujar Hyungseung masih kaget
"Karena aku yang ingin" ujar Taehyung datar.
Ucapan sang Yang Mulia membuat pikiran mereka menjadi 'kemana - mana' membuat otak jail Taehyung kembali bereaksi.
"Lalu...apa jeonha benar- benar tidak menyentuhnya...?" tanya Nam Joon memastikan
"Eum...bagaimana ya...coba kalian perhatikan dia baik - baik" ujar Taehyung membuat Nam Joon dan Hyungseung mendekat kearah Jin yang tertidur damai layaknya bayi.
"Lihat...lihat...dia laki - laki...namun tampak begitu 'lemah tanpa perlawanan' ketika dia tertidur seperti ini bukan...?" ujar Taehyung setelah menyempil ditengah - tengah mereka
"Nde jeonha...hamba merasa sangat bersalah rasanya jika membangunkannya" ujar Nam Joon
"Coba kalian bayangkan...semalaman aku 'disuguhi pemandangan' seperti ini...bagaimana bisa aku menahannya...?" ujar Taehyung berbisik kemudian.
Dan yang selanjutnya terdengar lenguhan kecil dari belahan bibir Jin membuat keduanya meneguk ludah, membuat Taehyung terkekeh dan menjitak kepala keduanya.
"Lihat! Beraninya kalian memandangnya dengan pikiran seperti itu dan justru malah menuduhku melakukan 'itu' padanya. Kau sendiri saja merasa bersalah membangunkannya apalagi jika aku 'melakukannya'? Kurasa rasa bersalahku sedalam laut" ujar Taehyung membuat keduanya berdehem dan kembali mundur dari sana.
"Tapi jeonha akan melakukannya?" ujar Nam Joon kembali memastikan
"Ya. Bagaimanapun aku harus mengakui bahwa dialah pendamping yang ditentukan oleh Langit. Bagaimana aku bisa menolaknya?" ujar Taehyung kembali serius dan menutup tirai jendela yang memantulkan cahaya Matahari yang hampir membuat Jin terbangun.
"Tapi jeonha...apa kata para menteri tentang anda jika mereka tahu tentang Jin? Anda pasti akan segera diturunkan tahtanya" ujar Hyungseung
"Aku justru lebih khawatir jika Jin-lah yang dalam bahaya...orang kotor seperti kita akan membahayakannya..." ujar Taehyung kemudian melihat gulungan kertas Jin diatas meja dan melihat Jin tersenyum dalam tidurnya.
"Ckk, sebenarnya apa yang ia impikan di dalam tidurnya sampai membuatnya tersenyum lebar begitu..." lirih Taehyung.
Baik Nam Joon dan Hyungseung. Mau tak mau harus menerima kenyataan ini, Jin juga tampaknya tidak terlihat berbahaya justru malah terlihat rapuh luar biasa. Dan yang terpenting, orang buta pun bisa melihat pandangan 'sayang' yang belum pernah Raja mereka tunjukkan kepada siapapun.
"""
Taehyung mengurut keningnya pelan. Ocehan para menterinya membuatnya sakit kepala.
"Jeonha, para rakyat sudah mengeluhkan satu persatu sumur mereka yang mulai kering" lapor Menteri Song selaku Menteri Sumber Daya
"Jeonha, pertanian kita yang disebelah utara gagal panen akibat tidak turun hujan yang sudah lebih dari seminggu" ucap Menteri Yi selaku Menteri Pertanian
"Jeonha, rakyat menderita kelaparan para tabib di Naeuiwon mulai menanyakan stok tumbuhan yang sudah dua minggu ini tidak dikirim - kirimkan" ujar Menteri Hong selaku Menteri Kesehatan
Setiap kali rapat selalu saja ada 'kabar buruk' yang mereka sampaikan
"Jeonha, sepertinya Langit mulai menegur anda karena selalu menunda - nunda mencari permaisuri" ujar Menteri Kim. Kim Hoo Myung. Penasihat Menteri sekaligus paman dari Ibunya.
Dan juga orang yang paling gencar menyuruhnya untuk segera menikah. Tentu saja Taehyung apa maksudnya.
"Benarkah begitu? Apakah kalian menemukan Bunga Teratai yang cocok untuk Joseon?" tanya Taehyung.
"Jeonha, jika boleh kami menyarankan Gongju Kim Jae Hee sangat pas bersanding dengan anda" seru Menteri Yi
"Betul jeonha, Bulan pasti akan memberkati pernikahan kalian berdua. Melihat baik sekali perangai putri Penasehat Menteri Kim" ujar Menteri Song mengompori.
"Ditambah lagi, tidak ada lagi Puteri Bangsawan yang sebijak dan searif Gongju Kim Jae Hee" ucapan Menteri Hong membuat pamannya tersebut menahan senyumnya.
'Cih, para lintah itu benar - benar luar biasa piawainya'.
"Begitukah? Kalau begitu panggil Kim Jae Hee" kemari titah raja membuat Nam Joon dan Hyungseung yang ada disebelah kiri dan kanan singasanannya terkejut bukan main.
Yang Mulianya benar - benar ingin menikah sekarang?
Seakan - akan tahu bahwa ia akan dipanggil ke ruang rapat. Tak sampai lima menit sepupunya itu datang menghadap.
"Hormat hamba, Jeonha Mama semoga anda selalu mendapat berkat dari langit" ujar Kim Jae Hee memberi penghormatan.
"Aku terima hormatmu. Duduklah, ada yang ingin kutanyakan"
"Silahkan jeonha"
"Para menteriku berkata bahwa bencana yang terjadi di Joseon akibat amarah Langit yang tidak melihatku berjalan dengan pendampingku. Bagaimana menurutmu?"
"Hamba tidak berani berbicara jeonha. Bagaimana bisa Langit memarahi anda. Kalaupun iya, pasti untuk kebaikan anda" ujar Jae Hee lembut. Taehyung melihat senyum bangga pamannya membuatnya semakin jail.
"Begitukah? Kalau begitu apakah kau mau menjadi pendampingku?" ujar Taehyung sontak membuat Kaget seluruh orang disana kecuali Menteri Song, Yi, Hong da paman serta sepupunya ini. Justru mereka mati - matian menahan senyumannya.
"Jeonha! Mana berani hamba mencalonkan diri. Kekurangan hamba masihlah sangat banyak" ujar Jae Hee seolah - olah kaget dan tak percaya.
'Benar - benar akting yang luar biasa'
"Kalau begitu baiklah aku bertanya. Jika kau mampu menjawabnya kau akan kupinang hari ini juga" sontak hal ini membuat semuanya terdiam tegang
"Jika aku diibaratkan alam ini. Apakah aku ini?" tanya Taehyung.
"Tentulah jeonha adalah Matahari. Menyinari dan mencerahkan negara Joseon ini. Matahari adalah bintang yang bersinar karena cahaya sendiri. Jeonha tentunya layaknya Matahari yang akan selalu mendapat berkat dari langit"
"Begitu ya...Nam Joon panggil Kepala Istana Bintand dan pemuda itu juga panggilkan Yoon Gi" ujar Taehyung. membuat mereka keheranan. Tapi tidak bagi Hyungseung dan Nam Joon.
'Dia akan memperkenalkan Jin kepada semua orang?' batin Nam Joon.
Tak sampai sepuluh menit mereka bertiga datang menghadap. Tentu semua orang merasa asing melihat Jin dengan hanbok warna putih miliknya juga rambut emasnya yang mencuri atensi semua orang. Baik Jae Hee pun merasa tersaingi akan wajah Jin yang masih menghadap ke lantai memberi penghormatan kepada Raja. Sedangkan Jin kebingungan sendiri dibawa kemari.
"Jin-ah. Aku punya satu pertanyaan untukmu"
"Ye...?" ujar Jin langsung mengangkat kepalanya kaget lalu langsung menunduk kembali karena baru sadar ia akan dianggap menghina Raja karena menatap wajahnya ketika ia tak memberi izin
"Angkat kepalamu dan jawab pertanyaanku. Jika aku diibaratkan alam ini. Apakah aku ini?" tanya Taehyung.
"Jeonha! Bagaimana bisa anda-" ujar Menteri Yi
"Menteri Yi, aku bertanya pada pemuda ini bukan padamu. Biarlah ia yang menjawab" potong Taehyung
Semuanya mendadak tegang kembali tapi Jae Hee menahan senyumnya melihat Jin yang kebingungan. Jin segera mengangkat wajahnya dan meneguk ludahnya kuat - kuat.
'Langit...lindungi kepalaku setelah hari ini' doa Jin lucu
"Tanah. Dirimu adalah tanah." ujar Jin mantap.
"Lihat! Bagaimana bisa dia menghina Jeonha! Penggal kepalanya!" ujar Menteri Hong.
"Nam Joon adalah jenderal dan Yoon Gi panglima disini mengapa engkau yang harus memerintah untuk memenggal kepalanya Menteri Hong?" sela Taehyung membuat Menteri itu bungkam.
"Jelaskan mengapa kau memilih tanah sebagai penggambaranku?" ujar Taehyung
Jin sudah takut membuka mulutnya. Rasanya kalimat yang akan ia keluarkan benar - benar akan memutuskan kepalanya dari tubuhnya. Tapi mata Taehyung menyatakan seolah tidak apa - apa.
'Lee Taehyung, kali ini tolong selamatkan aku!' doanya lirih tanpa sadar membuat bibirnya ikut bergerak tanpa suara. Taehyung yang melihatnya entah mengapa merasa bangga sendiri.
'Dia benar - benar menyebut namaku'
"Tanah adalah tempat para petani memberi rakyat makan, tempat air berkumpul untuk diminum, dan tempat para ternak memakan rumput yang tumbuh darinya. Jeonha layaknya seperti itu bagi para rakyat rendahan seperti kami, tempat dimana kami bisa bersandar dan berharap kehidupan yang layak. Memang benar, tanah jugalah tempat dimana orang memijakkan kakinya. Tapi percayalah jeonha, tanpa tanah orang tak bisa menjejakkan kakinya untuk hanya sekedar berdiri. Tanpa tanah, kami tak akan bisa apa - apa. Tanah sama pentingnya dengan anda bagi kami. Mohon anda bijak selalu agar menjadi Tanah yang subur dan pijakkan teguh bagi kaki - kaki yang akan ikut membangun Joseon ini menjadi yang lebih baik"
Jawaban Jin membungkam orang disana dan menciptakan senyum di wajah Taehyung, Nam Joon, Hyungseung, Shin dan juga Yoon Gi.
"Sepertinya kau masih 'kurang arif' untuk bisa menjadi permaisuri Jae Hee-ya" ujar Taehyung membuat Jae Hee mengenggam bajunya kuat - kuat dan melirik Jin penuh benci.
"Yoon Gi ceritakan hasil 'penemuanmu' setelah melanglang buana selama tiga bulan lebih" ujar Taehyung.
"Jeonha, rakyat mengeluhkan para prajurit kita yang menguras sumur mereka sebanyak tiga kali dalam satu minggu untuk perairan pertanian di sebelah utara. Dan pertanian kita disana juga gagal panen akibat air yang banyak mengaliri sawah mereka dan tentunya hal ini memicu banyak kelaparan yang membuat para rakyat jatuh sakit sementara stok obat - obatan habis karena banyaknya tumbuhan obat yang tak bisa dipanen" ujar Yoon Gi membuat Menteri Song, Yi, dan Hong tidak bisa duduk diam.
"Begitukah? Sepertinya 'para menteriku ini' sudah melaporkannya tadi Yoon Gi-ya..." ujar Taehyung memandang tajam ketiganya.
"Hyungseung" ujar Taehyung.
"Hamba siap melaksanakan perintah" jawabnya.
"Sumur diistana bukankah masih ada air? Bagikan air dari sana kepada rakyat selama seminggu sekali juga dari rumah Menteri Song karena kudengar 'sumur' disana sangat penuh dengan air. Lakukan pengambilan air dirumahnya selama tiga kali dalam seminggu"
"Jeonha! Bagaimana dengan stok-"
"Atau haruskah aku yang 'bertanggung jawab atas semuanya ini Menteri Song!?" bungkam Taehyung
"Nam Joon. Ambilah tanah dirumah Menteri Yi karena kudengar 'ada banyak tanah' di lumbungnya. berikan itu pada petani di Utara untuk menyelamatkan tanaman mereka yang hampir gagal panen"
"Hamba siap melaksanakan" ujar Nam Joon
"Dan kau Yoon Gi kudengar bahwa sepupuku Park Ji Min habis pulang dari pulau Tanma hari ini dan membawa banyak bahan obat. Jemputlah ia dipelabuhan dan bilang bahwa dia akan menjadi kepala di balai pengobatan" titah Taehyung membuat Yoon Gi segera pamit undur diri untuk melaksanakan perintahnya
"Dan hujan yang tidak turun akibat amarah dari Langit...bagaimana gambaranmu cenayang Shin?"
"Sepertinya memang Langit sedang membutuhkan sosok Bulan jeonha. Mengingat bahwa jeonha masih belum menemukan pasangan yang cocok. Bagaimana dengan 'memelihara' 'Anak Bulan'. Hamba menemukan pemuda ini sebagai 'Anak Bulan', mungkin dia bisa mengatasi kekeringan di Joseon ini" ujar cenayang Shin membuat semua yang disana kaget termasuk Jin.
'Anak Bulan? Ige mwoya!?' batin Jin kaget
Dan ucapan cenayang Shin mengakhiri rapat hari ini.
"""
Taehyung sudah tahu bahwa Jin akan menatapnya dengan kesal dan amarah. Saat ini mereka berada ditaman Istana di malam hari untuk berjalan - jalan.
"Kau sepertinya ingin menyumpahiku?" ujar Taehyung melihat wajah Jin yang masam.
"Ohh! Annimida Jeonha~ Mana mungkin hamba berani menyumpahi anda setelah menyamakan anda dengan tanah!" ujar Jin kesal lalu berbalik pergi.
"Kau mau kemana tanpa izin dariku?"
"Oh iya~ Hamba lupa, hamba ini kan 'peliharaan' anda. Seharusnya hamba tidak boleh pergi tanpa perintah dari Jeonha" ujar Jin menyindir.
"Nah itu kau tahu" ujar Taehyung semangat menjaili Jin.
Satu hal yang Taehyung tahu. Ketika emosi menguasai Jin dia akan berbicara sejujur - jujurnya.
"YAK LEE TAE HYUNG!" teriak Jin kesal dan melemparnya dengan sepatu miliknya, tidak peduli ia akan kehilangan kepala habis ini sedangkan para dayang dan pengawal termasuk Hyungseung dan Nam Joon kaget dibuatnya.
"BERANINYA KAU MENIMPUKKU DENGAN SEPATU!"
"TENTU SAJA AKU BERANI! BUKANKAH AKU INI ANAK BULAN!"
"OH TENTU SAJA! KAU MEMANG ANAK BULAN YANG AKU 'PELIHARA'!" ucapan Taehyung membuat Jin melemparkan kembali sepatunya yang lain.
"MENGAPA KAU TERUS MELEMPARIKU!"
"MAU ANAK BULAN! BUDAK! HEWAN DIMATAMU! AKU INI TETAP MANUSIA TAHU! BERANINYA KAU BILANG AKU INI 'PELIRAHAAN'! AKU INI JUGA MANUSIA"
"LALU KAU INI SIAPA BERANI MELEMPAR SEPATU DUA KALI KE KEPALA RAJA!"
"AKU INI MANUSIA YANG SAMA DENGANMU YANG TETAP AKAN MATI JIKA DIPENGGAL KEPALANYA YANG AKAN TETAP KESAKITAN KETIKA DICAMBUK TUBUHNYA! DAN AKAN TETAP MENANGIS JIKA DISEBUT PELIHARAAN SEKALIPUN AKU INI ANAK BULAN ATAU BUKAN!"
Dan kalimat itu membungkam Taehyung dan yang lain.
"Hiks...! AKU BENCI ISTANA INI! KARENA KAU PELAYAN KAU TIDAK BOLEH MAKAN SEBELUM RAJA MAKAN, KARNA KAU JENDERAL KAU YANG HARUS PERTAMA MATI UNTUK RAJA, KARNA KAU KASIM KAU HARUS MENYALAHKAN DIRIMU MESKI ITU SALAH RAJA, KARENA AKU INI DISEBUT ANAK BULAN AKU INI HARUS 'DIPELIHARA' UNTUK MENDATANGKAN HUJAN! AKU BERDOA SUPAYA AKU DIPENGGAL HARI INI SAJA DARIPADA MENGHIRUP UDARA PUN SEPERTINYA AKU HARUS MEMINTA IZIN DARIMU!" tangisan Jin tumpah tapi alih - alis isakan yang keluar, justru sumpah serapahnya.
"Tinggalkan aku dan dia sendiri disini" titahnya.
"Jeonha..."
"Hyungseung, kau tahu bukan aku tidak suka mengulangi perintah dua kali" ujar Taehyung kalem membuat abdinya segera pergi dengan pikiran bahwa semoga Jin selamat dari amukannya.
"Dan kau Jin, kau tidak akan dipenggal kepalanya hari ini"
'Dan tak akan, selama aku masih hidup'
"Mengapa kau begitu yakin sekali"
"Karena kau memanggil namaku hari ini" ujar Taehyung membuat Jin terdiam.
'Dan tak aku izinkan secuil luka di tubuhmu'
Footnote :
1. Sungkyunkwan : Sebutan untuk sekolah / universitas atau gelar / sebutan untuk kaum pelajar
2. Gisaeng : Sebutan untuk 'wanita malam' (yang juga ahli dalam menari dan memainkan alat musik tradisonal Korea)
3. Sijo : Sastra klasik yang berkembang pada era Joseon
4. Dongui bogam : Buku yang berisi catatan yang membahas mengenai pengobatan tradisional Korea milik Heo Jun (Tabib Istana yang terkenal pada Masa Pemerintahan Raja Seonjo)
5. Gwandong Byeolgok : Syair sastra klasik pada masa Goryeo Gayo. Artinya, 'Byeolgok pesisir timur'. Menceritakan keindahan pantai di laut timur Gangwon.
6. Bulan Joseon : Istilah untuk pendamping Raja
7. Istana Bintang : Tempat para Cenayang Istana
8. Orang Kotor : Istilah untuk orang - orang yang melakukan hal - hal tidak terpuji untuk kepentingan sendiri
9. Naeuiwon : Rumah Sakit Kerajaan
10. Langit : Sebutan orang dahulu untuk Tuhan / Dewa (Ini sebabnya Korea melambangkan orang tertinggi dengan bintang di Langit)
11. Bunga Teratai : Istilah untuk perempuan yang sempurna dari segala sisi (fisik, otak, dan keahlian)
12. Gongju : Sebutan untuk Puteri bangsawan / kerajaan
13. Tanma : Sebutan orang dahulu untuk Pulau Jeju
14. Pertanyaan dari Taehyung sebenarnya dijawab benar oleh Jae Hee, tapi jawaban Jin mengambil sudut pandang yang berbeda dan jauh lebih bijak.
Wah ternyata ada beberapa orang yang komen buat author cepat update karena takut besok gak bisa update karena banyak acara ._.v
Jangan lupa untuk RnR dan Fav&Follow!
