Ohayo Minnaaaa!
Ane kembali dengan drabbles anguzz ane ini. XD
Ampuni ane apabila masih nekat ae publish epep yg mengerikan ditengah Webeh yg makin mencekik, ane minta maaf yg sebesar-besarnya! Ini bagi yang request kemaren-kemaren. Awas ya kalau gk mamvir dan ripiuu! #ceritanyaNgancem :v
~semoga dengan ini, WB tersingkir~
.
.
HIDDENTALE
Naruto © Masashi Kishimoto
Pair: [Shino x Tenten] [Itachi x Tenten] [Kakashi x Tenten] [Sasori x Tenten]
(Like? RnR, FnF)
(Don't like? Silahkan press tombol 'Back')
~Happy Reading~
CANON SETTING
[ShinoTen]
Elegi Serangga….
.
"Shino-kun~"
"Hn"
"Shino-kun~ lihat aku!"
"Hn"
"Shino-kun…,"
Kali ini tak ada tanggapan. Pemuda bernama Shino itu masih sibuk bergelut dengan eksperimennya yang membosankan-bagi gadis coklat itu, tentu saja!
Yah! Sudah tiga jam lebih gadis bermanik coklat itu diacuhkan pemuda berkacamata hitam yang tengah sibuk menulis data-data. Tentu saja gadis itu tau, bahwa Shino tak suka diganggu saat ia sedang bermesraan dengan serangga-serangganya. Tentu saja gadis itu tau, bahwa Shino tak peduli pada yang lain saat bersama dengan makhluk-makhluk kecil miliknya. Dan gadis itu amat sangat tau, serangga… adalah yang pertama dan utama bagi pemuda clan Aburame itu.
Tapi….
Dia 'kan…
KEKASIHNYA?!
"Shino-kun!" kali ini gadis itu menaikkan volume suaranya. Ah siapa yang bisa bertahan diruangan sempit yang hanya berisi serangga-serangga terbang dan majikannya yang bahkan tak mau menoleh kearahnya. Dan catat-lebih dari tiga jam!
"Bagus sekali tuan Aburame. Teruslah acuhkan aku!" Gadis itu bersedekap dada. Raut kesal yang terlukis diwajahnya kian kentara. Bisa-bisanya ia diduakan dengan 'Serangga'?! Catat! SERANGGA saudara-saudara!
"Sebentar lagi, Tenten-chan" akhirnya ada juga tanggapan dalam bentuk kalimat. Tapi sang empu suara tetap saja tak mau menoleh. Membuat gadis bernama Tenten itu semakin menekuk wajahnya kesal.
"Ya tuan, lagi pula, aku selalu jadi nomor dua, bukan?!" sindirnya.
Pemuda itu, tak menanggapinya, LAGI!
Perempatan siku-siku muncul tegas didahinya, dan tanduk tak kasat mata telah tumbuh dikepalanya. Gadis itu kehilangan kesabarannya, IA-TELAH-MURKA!
"ABAIKAN SAJA AKU, LUPAKAN SAJA AKU, AKU TAK PEDULI! AKU PERGI!" katanya berapi-api, berbalik meninggalkan ruangan paling membosankan yang pernah ada. Namun sebuah tangan besar menarik pergelangan tangannya kuat, hingga tubuh ramping itu berputar dengan gampangnya, dan….
Cup!
Tenten….
Membeku….
"Aku rela kehilangan semua seranggaku, asal tidak dirimu, Ten-chan!" bisiknya lembut. Kedua manik elang yang tersembunyi dibalik kacamata hitam itu memandang lekat gadis auburn yang kini merona.
Tenten tidak tau saja, bahwa Shino ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hari ini, agar ia bisa menghabiskan satu minggu penuh bersamanya.
.
.
~FIN~
[ItaTen]
Kau Terlalu Dalam Menanamnya….
.
"Aku tak percaya kau menghindar, Itachi!" pria dengan pedang berbalut perban itu tersenyum-menyeringai. Sedang pemuda lawan bicaranya tetap tenang.
"Aku tidak menghindar, aku mendahulukan prioritasku, Kisame!" katanya, sorot mata kelamnya memandang lurus ke jalanan.
Pria hiu bernama Kisame itu sedikit tertawa, seringaiannya kian kentara.
"Bagiku, itu sama saja, Itachi! Kau tak mau melawannya!" ia melirikkan manik ikannya pada pemuda berambut panjang yang tengah memangku tangan, "Lucu sekali, tapi menarik! Aku cukup bersenang-senang dengannya, tadi!" lanjutnya dengan sedikit penekanan diakhir.
Itachi tak lagi menanggapi. Dia masih duduk anteng dibawah pohon besar. Manik ber-Sharingan itu tetap tak beranjak dari setapak jalan.
"Ngomong-ngomong, Itachi," pria Ikan itu melirikkan ekor matanya lagi, seringai belum jua sirna dari bibirnya, "Coba tebak siapa yang menangkapnya saat lolos dari penjara airku? Saat melihat ekspresi pemuda itu yang ketakutan, aku jadi berfikir,"
Kisame menjeda sejenak kalimatnya untuk beranjak dari posisi duduknya. Pedang Samehadanya ia putar-putar pelan. Sementara pupil kecilnya kembali ia tolehkan kearah pemuda Uchiha yang masih setia diposisinya-menyembunyikan sebagian mukanya lewat kedua tangan yang terkait didepan wajahnya.
"Bagaimana ekspresimu saat melihat gadis itu hampir kehilangan nafas? Apa kau akan sama ketakutannya? Atau….,"
"Diamlah, Kisame! Atau aku tak akan bisa bersabar lagi!"
Mendengarnya Kisame tertawa puas. Inilah yang ia tunggu. Pada dasarnya Itachi tak mudah terpancing. Bahkan, meski Kisame mengumpan dengan dosa masa lalu Itachi pada klan-nya. Tapi entah kenapa, perubahan sikap Itachi saat hendak melawan team 9 Konoha membuatnya begitu penasaran. Dan sampailah ia pada satu kesimpulan yang menggelikan. Gadis China itu, adalah jawabannya. Itachi Uchiha, yang membantai seluruh clannya, tak benar-benar membuang emosinya. Perasaannya yang mendalam, tertitip pada dua insan. Uchiha Sasuke, adiknya. Dan Gadis bercepol dua, orang yang berarti dimasa lalunya.
'Sial! Kenapa aku tak pernah bisa melupakannya?'
Jawabannya hanya satu, Itachi.
Kau, terlalu dalam menanam perasaanmu padanya.
.
.
~FIN~
[Kakaten]
Hukumanmu…
.
"Kakashi sensei!" teriak seseorang memanggil namanya. Membuatnya reflek menolehkan manik onyxnya malas keasal suara. Terlihat seorang gadis berpakaian khas China, berambut coklat terkepang satu, serta cepol dua yang begitu khas tengah berlari kearahnya.
"Hosh… Gomen sensei!" ucapnya sedikit terengah setelah sampai dihadapannya.
"Kau terlambat lagi, nona! Dan ini sudah yang ke sepuluh" tanggap Kakashi dingin, menyorot gadis bermanik hazel itu.
"G-gomen Hokage-sama!" sekali lagi, kalimat itu yang meluncur dari belah bibirnya. Gadis itu tampak sedikit canggung. Manik caramel kecoklatan itu terlihat tak tenang. Tentu saja! ini adalah kali kesepuluh ia terlambat memenuhi panggilan sang Rokudaime Hokage. Dan ini kali kesepuluh pula ia mendapat teguran, ditempat yang sama, diwaktu yang sama. Tengah malam, di depan Gedung Hokage, saat Hokage berambut perak itu hendak pulang kekediamannya.
Kakashi menghela nafas berat. Tangannya telah terlipat didada. Sementara tudung kagenya menggantung dipunggungnya. Terlihat jelas bagaimana manik kelam itu menyorot dalam. Membuat gadis auburn itu harus dengan susah payah menelan ludah.
"Maaf Tenten. Tapi kali ini kau harus mendapat sanksi!" tegas sang Hokage.
Gadis bernama Tenten itu menundukkan kepalanya dalam. Tentu ia merasa sangat bersalah karena berulang kali mengecewakan. Dan tentu ia tak bisa lagi beralasan bahwa Tsunade-sama memberinya tugas lain. Itu adalah alasan yang tak dapat lagi diterima! Terlalu sering ia beralasan seperti itu, meski memang ia tak bohong soal itu.
"Saya mengerti Hokage-sama! Saya siap menerima hukuman"
"Benarkah?!"
"Hai'!" ucap Tenten mantap.
Tampa Tenten sadari, ada seringai yang terpatri dibalik topeng sang Kage dihadapannya. Ia mulai berjalan mendekat. Bulu kuduk Tenten meremang. Angin malam yang berhembus semakin memberi efek dingin menggigil.
Sang Kage kini tepat berada dihadapannya. Sedang gadis itu tak berani mendongakkan wajahnya.
Tampa diduga. Kakashi merengkuhnya dalam sebuah pelukan hangat. Membuat Tenten harus kembali menahan nafas, juga degup jantung yang melaju cepat.
"Se-Sensei?!"
"Hukumanmu adalah…," Kakashi melonggarkan pelukannya, agar ia bisa melihat jelas bagaimana ekspresi bingung itu bercampur dengan rona. Kedua tangannya tetap melingkar dipinggang Tenten, membuat gadis itu salah tingkah bukan main.
"Menemaniku seumur hidup!"
"H-Huh?!"
.
.
~FIN~
[SasoTen]
Bonekamu….
.
"Manusia itu aneh ya!"
Suara lembut menyapu indra pendengarnya, seperti sepoi angin yang mengusap teduh gerahnya. Ia berbaring dipangkuan seorang gadis berbusana cheongsam putih panjang. Surai merah bata itu dibelai manja oleh tangan halus seorang gadis yang tersenyum manis kearahnya, memberi rasa nyaman yang tiada duanya. Kedua manik caramelnya perlahan tak tampak akibat tembok matanya yang mulai tertutup, menikmati setiap sentuhan yang menenangkan.
Masih dengan tangan yang bergerak membelai mahkota pemuda rupawan yang setengah tidur diatas pangkuannya, bibir tipisnya kembali berucap, "Kau manusia, tapi merubah tubuhmu menjadi boneka, yang dimainkan olehmu sendiri. Sebagian lagi, masih manusia, tapi diperlakukan seperti boneka. Sedang yang lain, adalah mereka yang memainkan bonekanya,"
Pemuda itu tak menanggapi, tapi gadis itu tau, bahwa orang yang terpejam nyaman ini mendengarkan. Ia-pun melanjutkan, "Aku tidak tau bagaimana rasanya hidup sebagai boneka, sepertimu! Tapi, mungkin itu lebih baik dari pada menjadi boneka orang lain, sepertiku!"
Kali ini, pemuda babyface itu membuka sebelah matanya, untuk kemudian kembali tertutup. Tangannya yang sedari tadi diam, kini bergerak menahan laju tangan si gadis agar berhenti tepat dipipinya. Nyaman, dan hangat, itulah yang dirasakannya, saat kedua tangan dengan pemilik berbeda itu saling menempel disisi wajahnya. Dia, masih enggan berkata. Membiarkan gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Benar saja, gadis dengan dua cepol dirambut coklatnya itu menghela nafas sejenak, kemudian kembali berucap, "Aku hanya ingin mengatakan dua hal. Menjadi boneka yang dimainkan sendiri, mungkin lebih baik dari pada menjadi boneka yang dimainkan orang lain. Tapi, menjadi manusia, itu yang terbaik!"
"Manusia memang aneh, seperti katamu!"
Kali ini, pemuda itu menanggapi. Meski posisinya tak menunjukkan perubahan berarti. Kedua manik madunya, telah bangun dari mimpi.
"Karenanya, aku muak! Tidakkah kau jijik melihat tampang setan diwajah mereka?! Tidakkah kau ngeri melihat tanduk iblis dikepala mereka?! Semuanya sama saja. Sama-sama memiliki hati terkeji dikedalaman jiwanya. Seperti seorang ibu yang memakan daging anaknya, atau seorang anak yang tak sungkan meminum darah ibunya. Seperti itulah dunia yang kita huni sekarang, dan aku sangat muak! Hingga ingin kumuntahkan jantung dan hatiku!" lanjutnya dengan tatapan berbeda. Gadis itu tercenung diposisinya, menatap lekat manik madu yang mampu menenggelamkannya sejauh ini.
Tak lama, pemuda itu bangun dari posisi berbaringnya. Kedua manik sewarna itu masih terkait. Enggan melepas hawa yang begitu memabukkan dirasa.
"Aku juga ingin mengatakan dua hal padamu. Menjadi manusia, memang yang terbaik! Tapi, menjadi boneka, itu bagian terbaiknya! Setidaknya aku tak memiliki tanduk setan dikepalaku, atau raut iblis diwajahku. Yang kumiliki hanyalah," ia tempelkan tangannya pada tempat penopang hidupnya, seberkas senyuman gadis itu terima, sangat tulus hingga sampai dikedua matanya, "Jantung dan hatiku, yang kujaga disini, untukmu!"
Dan tiba-tiba, angin berdesir dikarpet hijau alam. Titik Kristal yang jatuh dari pelupuk hazelnya tampak berkilau. Kedua manik matanya, hanya memantulkan satu gambar. Seorang pemuda, dengan tampang rupawan, tengah duduk dihadapannya, memberikan seulas senyuman.
Satu tangan menariknya dalam rengkuhan. Sangat erat, menggambar rasa yang begitu kuat. Ditengah padang hijau dengan rumput yang berayun, Mereka memilih menjauh dari dunia Shinobi yang penuh tipuan, untuk hidup sebagai manusia, seperti yang mereka impikan.
"Tenten!"
"Hm?!"
"Arigatou, sudah mengembalikanku menjadi manusia!"
"Bagaimana rasanya, Sasori-kun?"
"Seperti lahir kembali!"
Kemudian, tabuhan angin yang berhembus pelan, mengeratkan dua tubuh dalam kehangatan. Setidaknya, ini manusiawi.
.
.
~FIN~
Hueeeee…. TTvTT
Appaaaaa ini?! INI APPPAAAA? Kenapa bentuk(?)-nya jadi begini?! #nundukdikolongjembatan #ampuni ane atas sampah ff yang ane tabor ini semua, TTvTT ane gak bermaksud :'( maaf apabila mengecewakan kalian, entah sudah yang keberapa kali T.T
For the perst :v ane ucapkeun tengkyuuu soo mac kepada sahabat ane Uchiha Nuari, Silverberg Norn, Dedek Husni, Akira Ken, dan semuaaah yg udah bantu ane bangkit dari kematian(?) dipesbuk :v
Ane juga ucapkan terimaaaaaaaaa kasiiiiiiiiiiiih banyaaaaaaaaaakkkkkk pada semua yang telah sudi membaca epep abal ini dan bahkan meninggalkan jejak dengan review, Fav, and Follownya. Terima kasiiiih, apalah arti fic ini tampa kalian :')
#kiss atu-atu# Akiko Han, Leny chan, Uchiha Nuari, Nazlia Haibara, Owlia, Silverberg Norn, jelliesdewi, princesshyuuga01, Ran Megumi, Firma Kai, nona romes dan Natsume Rokuname.
Ane tunggu lagi reviewnya yo! Ekekekeke #digamparr :v
Sebenearnya ane lagi nyari mood ane yg hilang, kali aja dengan ff ini sebagai umpan, gairah menulis ane jd kepancing XD
coz, ane lagi rampungin dua ff ane yg lain (Ending of Our Fate & MAGIC) tapi macet dipertengahan jalan :'v #ah sudahlah! T,T
For the last, ane ucapkan terima kasih banyak bagi yang berkenan mamvir,,, semoga diberi balasan yang lebih baik… amien!
See you….
