'Pfft. Mukanya Sasori udah kayak orang lagi nahan pup. Pasti lagi mikirin sesuatu buat ngebales, deh. Tapi sorry aja Brother, otakku ini jauh lebih cerdik daripada otakmu.' batinku sembari tersenyum licik.

.

.

Desclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, ide mungkin pasaran, typo, AU.

It's difficult! © Kumi Usagi

Chap 2

.

.

Duk. Duk. Duk.

.

.

Terdengar suara bola memantul di sore hari. Ya. Gaara sedang bermain bola basket di lapangan perkarangan rumahnya. Karena terlalu fokus untuk melancarkan Three Point, ia tidak sadar bahwa Sasori memperhatikannya dari pintu depan.

"Kenapa ngeliatin terus, heh?" tanya Gaara to the point.

Sasori terkekeh. "Sepertinya kamar dan figure kapalmu bakal hancur. Saku –chan udah nemuin benda dan tempat strategis sih buat main sama barbienya dalam rangka Titanic accident." Jawabnya enteng.

Titanic. Kapal. Terbelah dua.

Gaara langsung mematung begitu mendengar perkataan kakaknya. Dengan cekatan ia berlari ke arah di mana Sasori berada dan—

.

.

BUAK!

.

.

Passing yang sempurna jika orang yang menangkap tidak meleng.

Yah, habis sudah wajah tampan Sasori. Kini mukanya jadi abstrak karena terkena lemparan bola basket dari si Panda Merah yang mengenai tepat di wajahnya.

"Sialan kau, Panda!" teriaknya jengkel. Dan dengan emosi ia melempar bola basket tersebut entah kemana dengan kekuatan penuh.

.

BUK. BUAK!

.

Yak. Rupanya ia melempar ke arah tiang yang justru memantul dan mengenai kepalanya. Lagi.

Sungguh ironis melihatnya.

.

.

Di lain sisi, di sebuah kamar yang cukup luas, terdapat 2 pucuk kepala. Yang satu berwarna merah, yang satu lagi berwarna pink.

Si Merah membelalakkan matanya lebar. Terlalu lebar, hingga author rasa, matanya akan copot saking speechlessnya.

Tentu saja ia kaget bukan main, wong kamarnya basah karena air menggenang di mana-mana dari kamar mandi pribadinya.

"Sakura! Apa yang kau lakukan pada kamarku!?" bentak Gaara. Marah. Sangat Marah.

Sakura menoleh dan memberikan senyum polosnya.

"Memangnya tidak boleh masuk ke kamar nii –chan?" jawabnya enteng.

"Kau tidak cuma masuk, tapi membuat kamarku menjadi kapal pecah, dan -HEI! Apa yang kau lakukan pada figure kapal limited editionku!?"

Sekali lagi. Perkiraan Gaara memang tak pernah meleset. Buktinya kapal kesayangannya sudah terbelah dua. Entah apa yang dilakukan bocah berumur 7 tahun di depannya hingga kapalnya bisa mengenaskan begitu.

Dan terlihat dua barbie berbeda gender dalam keadaan tergeletak dan tengah berpelukan di figure kapal milik Gaara.

Dengan geram dan tanpa basa-basi, Gaara langsung mengambil boneka tersebut kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Err- kalian pasti tahu 'kan apa reaksi Sakura setelahnya?—

.

.

.

"HUAAAAAAA! Gaara nii -chan jahat! Boneka kesayangan Sakura kenapa dibuang!?" jeritnya dan ditambah dengan tangisan yang terdengar pilu.

Jika diibaratkan lagi dengan anime, mungkin air mata Sakura bagaikan air mancur, dan membuat kamar Gaara yang sudah banjir semakin banjir saja.

Gaara mendelik tajam kearah adiknya. "Salahmu. Kenapa merusak kapal milikku." Ujarnya dingin kemudian keluar dari kamarnya dan tidak lupa dengan membanting pintu yang malang.

Di lain sisi, Sasori yang sedaritadi mengintip dari jendela kamar Gaara, mulai mengendap –ngendap menjauh.

Biasanya,kalau sudah begitu, Sakura akan meneriaki namanya, lalu menangis meraung-raung sambil menceritakan –mengadu- kesalahan Gaara agar dibela oleh-nya, lalu mencengkeram bajunya, lalu–

"SASORI NII –CHAN! GAARA NII –CHAN JAHAT! HUWAAA!"

Sasori mengehela nafas. Sebegini mengerikanya kah, memiliki adik yang kelewat cengeng?

.

.

.

.

Gaara yang kesal, akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah sembari membawa bola basketnya ke taman yang dulu hingga sekarang menjadi tempat favoritnya.

Kenapa dibilang tempat favorit? Karena suasana di sana sudah indah, damai pula. Anak-anak seumurannya, sih, jarang kesana dikarenakan rumor yang beredar; bahwa di sana terdapat hantu perempuan yang selalu bermain di sana, akibat sebelumnya mati dikubur hidup-hidup oleh ayahnya.

.

.

Astaga. Konyol sekali. Bagaimana mungkin ada ayah yang setega itu pada anaknya?

.

.

Ketika Gaara sampai di sana, terlihat seorang gadis kecil berambut panjang sedang bermain ayunan di sana dengan bersenandung kecil.

Glek!

Seketika Gaara merinding disko, membayangkan muka si gadis yang lebih abstrak dari kakaknya, Sasori.

Namun karena Gaara sudah menginjakkan kakinya di taman ini, ia masa bodoh. Lagipula egonya mengatakan lebih baik ia di sini daripada harus pulang ke rumah.

Gaara pun mulai berjalan mendekati lapangan basket di area taman tersebut. Dan mulai men-dribble bola basketnya.

Setelah hampir setengah jam ia bermain, ia pun mulai merasa lelah. Dengan peluh yang menemani sekujur tubuhnya, ia pun mengistirahatkan diri dengan duduk di sebuah pohon yang cukup rindang.

Puk!

Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya pelan. Gaara pun kaget, dan langsung menoleh ke samping di mana ada seorang gadis manis yang tengah tersenyum kepadanya sembari menyodorkan sebotol air mineral.

Gaara menghela nafas. Sepertinya hari ini ia jadi sering kaget. Ah, tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

"Ehm, Hinata?" tanya Gaara heran. 'Kenapa dan sejak kapan gadis sepertinya berada di tempat ini? Atau jangan-jangan….., dia yang tadi main ayunan!?' Gaara sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Y –ya?" tanya Hinata gugup.

Hyuuga Hinata. Ia salah satu dari dua teman baik Gaara yang bernama Namikaze Naruto. Sebenarnya agak bingung juga kenapa Hinata yang notabenenya pemalu, gagap, dan jarang bicara bisa berteman dengan Gaara yang jahil, dan irit bicara.

.

.

Err, sebaiknya jangan tanya kenapa mereka bisa berteman baik.

.

.

"Terima…kasih?" ujarnya. Atau lebih tepat disebut 'tanya-nya' setelah Gaara menerima air mineral yang Hinata berikan.

Hinata pun merona. "U-uhm, sama-sama." Balasnya kikuk.

Rasanya susana damai seperti ini tidak ingin diganggu gugat, ya. Apalagi jika melihat dua bocah berbeda gender yang sedang duduk berdampingan di bawah pohon sambil memejamkan mata. Tapi sayang moment seperti ini harus dihancurkan oleh—

"HOI PANDA! KUKIRA KAU KEMANA. CEPAT PULANG!" teriak bocah berusia 13 tahun dan berambut merah –Sasori-.

Gaara seketika langsung membuka matanya, meraih bola basketnya dan segera beranjak dari duduknya yang nyaman. Nakal-nakal begitu, Gaara tetap tahu diri. Jika disuruh demi kepentingannya, ia akan nurut.

Hooo. Namun sebelum pergi Gaara mengucapkan sesuatu pada Hinata seperti "Jaa ne, Hinata." Kemudian ia melenggang pergi bersama kakaknya.

Setelah para kepala merah itu hilang dari pandangan si gadis Hyuuga, ia pun tersenyum dan berbisik "Jaa ne, Panda –kun."

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N: Konbanwa Minna –chan! :D /nyengir 5 jari.

Sebelumnya aku mau kasih tau tentang pairing di sini. Sebenernya pairingnya bukan GaaSaku. Di sini mungkin ada percikan-percikan sister complex tapi pairing sebenarnya di sini itu SasuSaku, GaaHina sama SasoKonan. Hehehe.

Dan sebenernya, dari ide awal, aku cuma mau buat Two Shot tapi kayaknya nggak mungkin hoho.

Hm, mungkin entah di chap selanjutnya atau 2 chap lagi, para Sabaku udah mulai beranjak dewasa.

Gomen ne, kalau feelnya kurang terasa, terlalu pendek, alurnya terlalu cepat, atau justru ceritanya melenceng jauh dari judul yang ada, mungkin. /digebuk para readers.

Kumi usahakan chap depan lebih puanjang.

Silahkan review! Aku menerima kritikan dan masukan dari kalian! :D/

Salam Peluk,

Kumi Usagi ~(^.^)~

~06-06-13~