Copyright © 2015 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
Library
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Pairing : HunHan as Maincast.
Length : Threeshoot
Chapter : 2/3
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.
Summary : Akhir pekan selalu identik dengan liburan, 'kan? Tapi untuk minggu ini, Luhan harus pergi ke perpustakaan demi mendapatkan buku referensi untuk tugasnya yang nyaris mendekati deadline. Dia pergi ke perpustakaan swasta tapi nyatanya tidak mendapatkan buku yang dibutuhkannya. Yang ada malah Luhan yang jatuh cinta pada penjaga perpustakaan. Bayangkan saja, jatuh cinta pada penjaga perpustakaan.
BGM : Beautifull Goodbye by F(x)
Barangkali Luhan sudah nekat. Itu adalah persepsi yang dilayangkan untuk dirinya sendiri saat Luhan sudah berdiri tepat di depan pintu masuk perpustakaan mungil ini. Sebelah tangannya menggenggam satu gelas bubble tea yang dedaklarasikannya sebagai penyemangat. Dan telapak tangan yang satunya lagi, tergulung kuat-kuat tepat di pangkal pahanya.
Hari ini dia memakai cotton dress yang kelimannya mencium lutut; keliman itu disambung oleh lace berbordir renggang berbentuk setengah lingkaran yang menerawang sehingga sebagian paha bagian bawahnya tercium udara segar. Pangkal lengannya dibiarkan terbuka tetapi setengah lengan hingga siku tertutupi oleh komponen gaunnya yang lagi-lagi tersambung oleh lace menerawang. Kain gaunnya menggembang tepat di garis bagian perut bagian atas, mengerut indah dan elegan. Telapak kakinya dibalut sepatu wedges berpita, talinya diikat begitu sempurna sehingga simpulnya rapi dan kuat. Rambutnya yang cokelat pekat diikat membentuk cepol ketat, poninya menjatuhi dahi dan sebagian ditarik oleh jepitan hello kitty kekanakan. Dia cewek kuliahan yang tampak cantik sekaligus menggemaskan.
Sebelum kakinya melangkah, terlebih dahulu dia menghela napas lalu meniup poninya sendiri. Ketika kepercayaan dirinya sudah bertumpuk, Luhan mendorong pintu masuk dan derap langkah kakinya disusul oleh suara denting lonceng. Penjaga perpustakaan itu menoleh, menatap Luhan dengan cara pandangnya yang khas lalu melempar senyum.
Luhan buru-buru melangkah menghampiri rak, menyembunyikan wajahnya di antara deretan buku yang ditata sedemikian rapi. Baru dia bisa menghela napas. Aura milik penjaga perpustakaan itu terlalu menakjubkan. Luhan selalu saja berdebar tidak keruan saat ditatap oleh manik mata penjaga perpustakaan itu.
Oke, dari sudut pandangnya ini, Luhan bisa memerhatikan penjaga perpustakaan itu. Manik rusanya mengintip penuh kewaspadaan lewat celah langit-langit rak buku, menilik seberapa tampan titik fokusnya yang sekarang.
Kulitnya yang putih tampak selaras dengan kemeja baby blue yang dikenakan pemuda itu, lengan kemejanya digulung hingga mencapai siku. Seperti kemarin lusa saat Luhan baru pertama kali datang kemari dengan Xiumin, perhatian pemuda itu terserap oleh layar komputer dan beberapa tulisan di buku jurnalnya. Hanya seperti itu, melakukan kegiatan monoton. Tiba-tiba, Luhan jadi ingin berubah menjadi layar komputer itu; agar bisa diperhatikan lama-lama olehnya. Agar terus mendapatkan perhatiannya.
Luhan terlalu asyik menatap pemuda itu, samar-samar dia mendapati seringai jahat yang dilukis di bibir tipis penjaga perpustakaan. Ada hantaman keras yang tidak terelakkan yang baru saja menghantam jantung-perasaan Luhan. Gadis itu tersentak saat dengan tiba-tiba, pemuda itu malah melirik lantas menatap Luhan lekat-lekat.
Kedua kaki mungil Luhan reflek mundur beberapa langkah, meninggalkan celah rak buku yang dijadikan teropongnya, hingga punggungnya menabrak rak lain yang ada di belakangnya. Membentur cukup keras hingga menimbulkan bunyi brak, lalu disusul oleh olengnya rak tua itu.
"Astaga, astaga," Luhan merentangkan satu lengan kurusnya demi menahan pergerakan rak buku itu; berharap jika dia tidak akan menghancurkan perpustakaan mungil ini karena ketahuan melakukan spionase terhadap penjaganya.
"Raknya tidak akan roboh kok," Seseorang berucap santai, senyuman masih bertahan pada bibirnya. Dia mengaitkan dua lengannya di atas dada, memerhatikan Luhan dengan matanya yang tersenyum. "Jadi, menjauh saja dari sana."
Luhan melompat menjauhi rak itu, menggerakkan ujung sepatunya yang saling bersinggungan dan mengerutkan bibir. Rasa malu baru saja menjalari aliran darahnya, membuat pipinya merona.
"Sudah memutuskan untuk meminjam buku yang mana?"
Luhan mengangkat bahu, menghela napas. "B-belum sih," dia mencoba melirik wajah pemuda itu. "M-masih bingung."
Pemuda itu berjalan mendekat, tiap langkah yang diambilnya benar-benar membuat Luhan nyaris merasa sinting. "Kali ini, genre buku apa yang kau cari, Luhan?"
Kelopak mata Luhan mengedip bebarapa kali. "B-bagaimana kau tahu namaku?"
"Kemarin kau 'kan memberiku datamu untuk kartu registrasi peminjaman buku, sudah lupa?" Dia mengingatkan. Seketika, Luhan merutuki ingatannya yang mendadak lemah saat berada dekat dengan pemuda ini.
Luhan mengulum bibir, ditanggapi dengan alis yang terangkat oleh pemuda tampan itu. "K-kalau begitu, siapa na-namamu?"
"Oh Sehun," jawabnya sambil menahan senyum. "Kalau sedang bicara, kau memang sering tergagap begitu, ya?"
"T-tidak. A-aku .., astaga," Luhan mengutuk kemampuan bicaranya yang memang menyedihkan. Dia tidak segagap ini jika berbicara dengan yang lain. Luhan menyentuh bibirnya sendiri. "K-kalau sedang bicara dengan orang a-asing memang begini."
"Oh," Sehun mengangguk-angguk. "Kukira kau memang benar-benar gagap. Kedengarannya lucu sekali."
Oh Sehun baru tertawa karena Luhan. Secangkir perasaan yang menghangatkan berjalan menelusuri dadanya. "Ti-tidak. Nanti juga hilang."
Kepala Sehun melakukan gerakan naik-turun. "Jadi, kau mau mencari buku yang seperti apa?"
"R-roman," Luhan mengucapkannya dengan nada mencicit malu. "Aku mau pinjam novel lama."
"Roman yang bagaimana? Roman yang lucu? Roman yang benar-benar roman? Atau roman erotik?" Sehun bertanya saat dia menuntun Luhan ke sebuah rak.
Luhan merona hebat karena genre yang disebutkan paling terakhir.
"Kupikir, lebih baik kau membaca cerita roman yang penuh komedi saja. Ratingnya aman untuk semua umur," Sehun menarik sebuah buku dan menyodorkannya pada Luhan. "Jangan coba-coba baca roman yang erotik, ya."
Luhan tidak bisa mengendalikan apa yang dirasakannya saat Sehun selesai mengucapkan hal itu. Jantungnya baru saja ditendang palu besar, rasa nyeri yang menyenangkan menyebar begitu cepat menggetarkan tubuhnya. Luhan setuju saja saat Sehun merekomendasikan buku itu. Jadi mereka langsung pergi ke meja pencatatan diiringi ocehan Oh Sehun mengenai buku bertema roman. Setelah semuanya beres, Luhan segera pergi. Karena dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan gejolak di dadanya.
OoO
Kemarin lusa, Luhan baru saja pergi ke perpustakaan mungil itu untuk mengembalikan buku, sekaligus meminjam buku yang lain. Harapannya sih agar bisa bertemu Sehun. Tapi nyatanya, ada penjaga perpustakaan lain yang berjaga di sana. Dia tidak bisa bertanya kemana Sehun pergi sehingga tidak melakukan tugasnya, jadi Luhan diam saja.
Esok harinya, Luhan datang lagi. Tapi Sehun tetap tidak ada. Terang saja hal itu membuatnya kecewa setengah mati. Sudah capek-capek pergi ke sana, ternyata Sehun tidak ada. Padahal Luhan merindukan pemuda itu. Baru beberapa hari saling kenal dan ngobrol saat Luhan ke sana, tapi ternyata dua hari belakangan Sehun tidak ada.
Luhan merasa dongkol setengah mati. Sampai-sampai dia tidak bisa diajak berbincang oleh Xiumin atau pun Zitao. Sepulang kuliah, Luhan mengurung diri di kamar sambil mendengarkan musik. Berpikir keras. Mengenai Oh Sehun yang akhir-akhir ini membuatnya setengah sinting dan tidak tahu malu.
Mungkin dia sibuk dengan tugasnya. Berulang kali akal sehat Luhan mencoba menyemangati diri sendiri dengan persepsi pribadi. Sebanyak apa pun berusaha menenangkan pikiran, tetap saja ada pikiran buruk yang menyempil. Atau bisa saja dia sengaja menghindarimu, begitu kata dewi batinnya.
Sebenarnya, Luhan ingin meringkuk lebih lama di ranjangnya. Tapi karena perutnya tiba-tiba ingin diisi, jadi Luhan terpaksa keluar kamar. Apartemen tampak sepi, ada sebuah note yang tertempel di pintu kulkas. Dari Xiumin.
"Aku pergi dengan Zitao ke rumah Kris, kalau lapar ada kimchi spagetti buatan temanku di kulkas, kau tinggal menghangatkannya di microwave."
Luhan langsung cemberut setelah membaca pesan itu. Tanpa banyak bicara atau mengoceh pada keheningan, akhirnya Luhan memilih untuk keluar mencari makan. Ayam goreng atau apa pun; yang enak dan murah. Kalau mengatakan murah, Luhan jadi merasa menjadi orang miskin jadi dia meralat kalimatnya sendiri.
Sesuatu yang enak dan mengenyangkan. Restoran Kyochon ada di seberang jalan besar, Luhan harus menunggu sekitar lima menit untuk menyeberang jalan. Menunggu seperti anak kecil yang kehilangan orangtuanya. Luhan merutuki rok selutut yang dikombinasikan dengan kaus bercorak beruang kutub yang dikenakannya. Seharusnya dia tidak pakai kaus kaki lace dibalik sepatu mary janenya. Dia benar-benar seperti bocah. Orang-orang menatapnya seperti bocah. Luhan paling tidak suka terjebak di situasi seperti ini.
Oke, tinggal dua menit lagi di sini dan Luhan akan langsung pergi ke toilet umum dan melepas kaus kakinya. Luhan mencengkeram tali tasnya, meniup poninya beberapa kali. Diam-diam mulai menghitung detik jam yang berdentang, mencoba menghibur diri.
Semoga saja tidak mengantri, karena Luhan benar-benar lapar.
"Luhan?"
Luhan tersentak saat seseorang memanggil namanya dengan suara yang tidak begitu keras; tetapi Luhan bisa tahu suara siapa itu. Setelah dia menoleh, mata rusanya langsung membola tanpa bisa dikendalikan. Lagi-lagi dia merona karena mendapati Sehun sudah berdiri tepat di samping tubuhnya.
"Wah, ternyata benar," Sehun nyengir lebar. Entah apa maksud perkatakannya barusan; entah untuk menyindir penampilan Luhan yang seperti bocah atau apa. Luhan tidak mau mendengarnya. "Mau kemana malam-malam begini?"
Luhan melirik jam tangannya dan langsung mengerucutkan bibir. "Masih pukul 8 kok," katanya. "Mau beli ayam di Kyochon."
"Oh," Sehun menoleh menatap restoran yang didominasi warna kuning dan merah di seberang jalan. "Tidak sama temanmu?"
Saat Luhan menggeleng, lampu untuk para pejalan kaki menyala terang. Semua orang mulai berjalan maju sehingga Luhan sempat ditabrak oleh beberapa orang tidak berperi kemanusiaan. Gadis itu nyaris saja jatuh, tetapi Sehun segera mencengkeram pergelangan tangannya dan menuntunnya hingga menyeberangi jalan besar. Dengan sangat aman dan mendebarkan.
Luhan tidak pernah berkhayal jika dia akan disentuh oleh Sehun, tepat di bagian pergelangan tangan. Telapak tangan Sehun yang hangat menyebarkan semacam aliran tidak terdefinisi ke saraf-saraf di sekujur tubuh Luhan; mendidihkan darahnya hingga sanggup membakar rona merah di pipi Luhan. Jantungnya sudah meronta karena detaknya terlalu cepat dan susah dikendalikan. Tetapi Luhan menyukai sensasi penuh ledakan seperti ini.
"Aku tidak yakin kau bisa aman kalau keluar rumah sendirian," Sehun mengatakannya manakala mereka berjalan menuju Kyochon. "Lain kali jangan jalan sendirian di trotoar."
"Biasanya aku tidak apa-apa kok," Luhan mencoba mengembalikan imejnya—karena kejadian nyaris terjatuh di pinggir garis penyeberangan tadi. "Tadi karena aku sempat melamun."
"Melamun atau tidak, kau harus lebih hati-hati," kata Sehun. Mereka berdua memasuki Kyochon lantas mengantri agar bisa memesan. "Kau mau pesan apa?"
"Ayam madu," ujar Luhan. "Eh, aku bisa pesan sendiri, Sehun?"
"Biar kupesankan sekalian. Aku juga mau pesan ayam madu,"
Luhan tidak tahu apa yang coba dilakukan Sehun padanya. Yang pertama, menyeret dirinya menyeberangi jalan, menggandeng tangannya, melarangnya untuk pergi keluar seorang diri, lalu memesankan ayam untuknya. Luhan mencoba melirik Sehun dari sudut pandangnya, untuk sekali lagi.
Berusaha menemukan apa yang sekiranya dirasakan oleh Sehun saat pemuda itu berada di dekat Luhan. Suatu ekspresi yang menurut Luhan bisa dibaca oleh dua manik rusanya. Sesuatu yang seperti itu. Namun nyatanya, tidak ada yang seperti itu di sana. Sehun tidak merasakan apa-apa saat Luhan berdiri disampingnya. Sehun tidak merasakan apa yang dirasakan Luhan ketika pemuda itu tiba-tiba muncul.
Tidak berdebar-debar. Tidak gugup. Tidak semacamnya. Apa jangan-jangan Sehun itu gay?
Luhan langsung cemberut lagi saat pemikiran terakhir itu menyembul tanpa tahu etika di otaknya. Mana mungkin Oh Sehun gay. Tidak ada tatapan memuja di mata Sehun saat pemuda itu menemukan lelaki tampan lain yang berpapasan dengan mereka di jalan tadi.
Uhg, lagi pula, mana mungkin Sehun seperti itu, Luhan menghentak-hentakkan kakinya pelan. Saat itu, Sehun sedang mengatakan pesanannya pada seorang cewek cantik yang bekerja di belakang meja order. Dengan amat antusias, Luhan kembali menatap Sehun lekat-lekat. Kali ini, dia harus menemukan setidaknya tatapan memuji yang terlempar dari mata abu-abu Sehun untuk cewek cantik itu.
"Sedang tidak ada yang diperhatikan, ya," Sehun berujar pelan ketika dia selesai melakukan pembayaran. Dia menarik bahu Luhan ke arah samping kanan untuk menunggu ayam pesanan mereka. "Kenapa menatapku sampai tidak berkedip?"
Ketahuan. "Cuman penasaran saja,"
Sehun menatap wajah Luhan yang dipenuhi rona merah. "Penasaran? Tentang apa?"
Mereka berdua keluar dari Kyochon begitu pesanan sudah bisa diambil. Lalu berjalan menuju garis penyeberangan jalan.
"Penasaran tentang apa, Luhan?" Sehun mengulang.
Luhan tidak punya waktu untuk menjawab karena tahu-tahu Sehun sudah menarik tangannya lagi untuk menyeberangi jalan. Pemuda itu sempat melingkarkan lengannya amat protektif di pundak mungil Luhan, melindungi cewek itu dari senggolan para pejalan kaki yang agresif. Jauh lebih berani, lebih mendebarkan. Sehingga rasa-rasanya Luhan bisa saja pingsan.
Ketika mereka sampai di pinggir trotoar, Sehun menghentikan langkah kakinya. Dia membuat keduanya agar berhadapan, saling menatap agar bisa melanjutkan perbincangan yang sempat terputus tadi.
"Jadi, penasaran karena apa?"
Luhan harus mendongak untuk bisa menatap manik mata Sehun karena ada perbedaan tinggi badan yang menonjol di antara mereka. Rambutnya yang berterbangan dipermainkan angin menggelitik sekitar tengkuknya, membuatnya merinding dan ingin segera kabur.
Tapi kalau Sehun sudah mencecarnya dengan pandangan serius, apa Luhan masih punya kesempatan untuk kabur? Perlahan, Luhan membuka bibir. "Semuanya."
"Semuanya?"
"Tentangmu," lanjutnya terus terang. "J-jangan salah paham, Sehun. Aku cuman penasaran kenapa kau mau jadi penjaga perpustakaan. Cuman tentang itu saja, tidak lebih."
Sehun mengerutkan dahi. "Benarkah?"
"Ya. aku ingin bertanya tentang hal itu padamu, tapi rasa-rasanya momennya belum ada," Luhan mundur selangkah, mengalihkan pandangan ke arah kotak ayamnya yang masih ada di tangan Sehun. "Terimakasih, ya. Lain kali aku akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih enak. Aku harus pulang."
Untuk yang kesekian kali, Luhan memutuskan untuk kabur dari Oh Sehun.
OoO
Seharusnya, Luhan sudah tidak punya muka dan harga diri untuk bertemu Oh Sehun. Tapi bayang-bayang mengenai 'Luhan harus mengucapkan terimakasih karena sudah ditraktir ayam', membuatnya harus berpikir ulang agar kembali ke perpustakaan mungil itu.
Setidaknya, kali ini, Luhan tidak kembali dengan tangan kosong. Dia sudah memasak sesuatu yang kata Xiumin cukup-lumayan enak. Nasi, telur gulung, kimchi buatan Kyungsoo, telur burung yang dikecapi, mi bayam, dan tempura. Semuanya sudah dikemas cantik dalam kotak makan miliknya yang bergambar kelinci bulat gemuk yang imut.
Saat Luhan akan masuk ke perpustakaan, dia tidak perlu lagi menumpuk kadar keberaniannya. Dia sudah terbiasa untuk masuk ke sana; kendati debar jantungnya masih sulit dikontrol jika mendapat tatapan langsung dari Sehun.
Pintu kaca itu terbuka, disusul oleh bunyi lonceng yang terdengar nyaring. Sehun yang duduk di meja penjaga, langsung mendongak. Sepertinya, tersenyum lebar sampai matanya menyipit adalah suatu kebiasaan Oh Sehun untuk menyapa Luhan yang baru masuk ke perpustakaan ini. Gadis itu merundukkan kepala lalu menggigit bibir demi menyembunyikan senyumannya, lalu berjalan menuju rak.
Kalau mau memberikan bekal buatannya, setidaknya Luhan harus mengumpulkan keberanian. Gadis itu meletakkan kotak bekalnya di atas rak yang rendah, tangannya bergerak merapikan helai rambutnya yang diurai dan ditarik oleh bandeau penuh hiasan bunga. Yang perlu dikendalikan cuman debar jantungnya saja. Selain itu, semuanya sudah oke.
Luhan tahu jika Oh Sehun mulai beranjak dari duduknya, dan beberapa saat lagi pemuda itu akan menghampirinya—seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi sebelum pemuda itu berhasil meninggalkan mejanya, seseorang masuk ke perpustakaan itu. Seorang wanita cantik yang tidak lebih tinggi dari Sehun, memakai vintage skirt yang kelimannya dipenuhi brokat dan menutupi betisnya yang kecil dengan kaus tanpa lengan berwarna putih cerah. Wajahnya cantik—dengan sepasang mata sipit dan bibir tipis. Dalam sorot matanya, ada semacam binar imut alami yang sempurna. Gadis itu berjalan menghampiri Sehun dengan memasang senyum uniknya.
"Sehun-ie!" Serunya dengan suara imut, lalu memeluk lengan kanan Sehun dengan amat protektif. "Aku membawakan makan siang untukmu."
Sehun memandang gadis cantik yang tengah memeluk lengannya selama beberapa detik, lalu memandang Luhan yang berdiri di belakang rak kecil, lalu kembali menatap gadis itu. "Terimakasih," katanya, tanpa bisa menolak. "Jangan coba-coba memanggilku seperti itu lagi."
"Eih, kenapa kau jadi sewot begini? Padahal beberapa hari lalu kita baru pulang liburan dari Incheon," kata wanita itu dengan nada sewot. "Kau itu selalu berubah-ubah. Bersikap manis kalau ada maunya."
Siapa, ya? Dewi batin Luhan berucap dengan nada penuh penasaran sekaligus sedih. Apalagi saat dia tahu jika beberapa hari lalu Sehun baru saja melewatkan sebuah liburan dengan wanita itu. Pantas saja Sehun tidak bekerja di perpustakaan selama beberapa hari. Ternyata, alasannya seperti itu. Pergi liburan, dengan cewek cantik.
Seketika, semangat serta keberanian Luhan untuk memberikan bekal buatannya pada Sehun lenyap tidak berbekas. Pundaknya melemas dan ada segelontor air mata yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya. Luhan segera memalingkan muka, menatap deretan judul buku yang anehnya tidak bisa dibaca olehnya. Gadis itu mendengar suara derap langkah kaki yang perlahan makin dekat dengannya. Oh Sehun?
Luhan buru-buru menarik satu buah buku dan membukanya secara asal.
"Aku tidak tahu kalau kau mulai membaca buku semacam itu," Sehun sampai tepat di belakang pundak Luhan, memandangi apa yang sedang dibaca oleh gadis mungil itu.
Luhan mendongak setelah dia berhasil membersihkan air mata yang sempat muncul di matanya. Dia melirik sebentar ke suatu arah, tidak mendapati siapa-siapa di dekat meja penjaga. Sebuah kotak bekal yang dibungkus kain biru tua tergeletak di dekat komputer, dengan segelas bubble tea berwarna cokelat.
"Memangnya kau sudah cukup dewasa?" Sehun bersandar pada rak, melipat dua lengannya, tanpa memutus pandangannya pada Luhan.
Secara naluriah, Luhan membaca cover buku yang ada di tangannya.
'Gairah dan Percintaan yang Sempurna.'
"T-tentu saja aku sudah cukup umur untuk membaca hal semacam ini," Luhan membela diri, tampak keberatan untuk menatap wajah Sehun. Jemarinya yang bergetar samar bergerak mengembalikan buku erotika itu ke tempatnya.
"Kali ini, apa yang membawamu kemari, Lu?"
Luhan terdiam sebentar saat mendengar nada suara Sehun yang begitu tenang dan stabil. Seolah Luhan memang tidak berhak merasa sedih saat mengetahui jika Sehun sudah pergi liburan dengan kekasihnya. Jarum tak kasat mata kembali muncul menusuk-nusuk matanya.
"Aku baru ingat kalau ada urusan penting," Luhan merunduk dalam-dalam, menggigit bibir saat rasa sakit itu mencoba melecut menaiki tenggorokannya. "K-kurasa aku harus pergi."
"Hei," Sehun tiba-tiba menyambar pergelangan tangan Luhan, menahan langkah kaki gadis itu. "Kenapa tiba-tiba kau jadi aneh?"
"Aneh apanya?" Luhan membiarkan helai rambutnya jatuh menutupi wajahnya.
Namun sepertinya, Sehun berusaha untuk menyingkap helai rambut Luhan ke belakang telinga. "Katakan saja apa judul bukunya, akan kucarikan secepat mungkin. Kau tidak harus keluar dari sini tanpa membawa apa-apa."
Luhan menggeleng susah payah sehingga air mata memercik ke segala arah; satu titiknya jatuh di kaus Sehun. Dia menarik tangannya dari cengkeraman tangan Sehun lalu mundur lamat-lamat. "Tidak, aku akan kembali lagi."
"Kapan?"
"Entahlah," Luhan mencengkeram erat tasnya lalu berbalik. Menangis terisak-isak saat dia berhasil memunggungi Sehun dan keluar dari sini tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Karena Luhan cukup patah hati setelah dia tahu jika Oh Sehun ternyata sudah punya kekasih yang cantik.
TBC
Alohaa /dancing with pom-pom/ membawakan chapter dua dengan keadaan yang masih setengah sadar huehehe seminggu terjebak di surabaya, guys. Hari ini pun masih di surabaya buat ngurus pendaftaran blabla karena hari ini nggak ada jadwal tes dan daftar ulang masih besok, jadi, memutuskan untuk update.
Gimana? Bagus nggak chap duanya? Cuman ada sedikit konflik untuk mewarnai fic ini. Ditunggu reviewnya, ya.
Terimakasih untuk semua readers yang sudah mau meluangkan waktu untuk mereview di chap terakhir. Aku terharu, lho. Huhu thanks banget. {}
Xoxo.
