Chapter 2 – Ayah Bunda
Mata sembap itu dibawa mengarah ke langit-langit, menatap dataran polos itu dengan tatapan kosong. Tidak benar-benar kosong seandainya tak ada potongan gambar-gambar Sehun yang marah tadi siang.
Usahanya yang ingin disebut manly malah berakhir dengan aksi diam-mendiamkan seperti ini. Juga, Sehun yang dihubungi tak mengangkat satu pun sejak tadi.
Oh, terkutuklah kau jeans robek-robek!
Meremas gemas surainya, Luhan berada di puncak gelisah sekarang ini. Seharusnya ia mengerti, seme manapun tak ingin diperlakukan seperti wanita.
"Hyungie?"
Cicitan lucu itu terpaksa membuat Luhan menoleh. Tak sadar sejak kapan bocah itu membuka pintu dan berdiri di ambangnya.
"Bambi tersangkut di lemari. Ziyu tidak sampai…"
"Kenapa bisa ada disana sih?!"
Ziyu berjengit, mundur selangkah ketika mendapat reaksi tak wajar dari kakaknya. Berselang dua detik matanya berubah berair, bibir gemetar. Tangannya meremas piyama Pikachu ketika suaranya mulai merengek.
"Hiks–Mama…"
Luhan mendadak gelagapan. Satu hitungan ia lompat dari atas ranjang, mendekap sebentar adiknya serta mendaratkan satu kecupan di kening.
"Oh astaga–iya, iya, akan hyungie ambil Bambinya."
Dan kemudian melesat cepat sebelum pendengaran Mama menangkap tangis Ziyu yang belum juga reda.
"Sudah kuduga ia tak akan menolakku."
Tubuh mungilnya yang terbalut jas hitam (yang sedari tadi Sehun pertanyakan darimana bocah tengik itu mendapatkannya) berdiri tepat di depan cermin. Menampilkan wajahnya yang tersenyum tampan dengan aksi menaikkan sebelah alisnya.
Aku benar-benar menggoda –Haowen.
Ia bahkan memakai singlet sebagai dalaman jas –Sehun.
Dan yang sedang menukik alis diatas ranjang, adalah Sehun. Pemuda dengan kaus tanpa lengan itu mendengus berkali-kali setiap Haowen mulai berlagak menyebalkan.
"Kau bahkan sempat menangis tadi." Cibirnya. Teringat kejadian ketika si bocah menangis setelah sebelumnya melempar mawar ke atas tanah.
"Lupakan itu. Tidak penting."
Setelah sebelumnya meleletkan lidah, Sehun lantas beranjak ke nakas tempat dimana ponselnya bergetar sejak berpuluh menit lalu.
18 missed calls from Baby Han
Jarinya nyaris mengangakat panggilan ke Sembilan belas ketika kalimat yang sama itu kembali terdengar.
"Jangan diangkat! Aku belum selesai cerita!"
Haowen, dengan mata sipitnya yang dipaksa melotot kini mengarah ke Sehun. Ini adalah momen terpenting dan pikirnya Sehun harus tahu betapa besar usahanya dalam mendapatkan Ziyu tadi.
Sehun merespon galak. Merasa sia-sia karena mengorbankan panggilan Luhan hanya untuk cerita picisan yang adiknya lebih-lebihkan itu.
"Masa bodoh! Sekarang keluar dari kamarku karena aku harus mengurusi pacarku dulu."
Bergeming. Sosok pendek yang melotot masih disana.
"Keluar atau kutunjukkan bokser Larva-mu pada Ziyu!"
Haowen lantas berjengit, melesat lari untuk mengamankan bokser-bokser favoritnya yang masih berada di kamar setrika. Ia tahu kakaknya tak main-main dan dirinya juga masih sayang harga diri di depan Ziyu.
Usai debuman pintu Sehun lantas lega. Segera meraih ponsel dan mengangkat panggilan dari kekasihnya.
"Ha–"
"Sehunnieee! Kau marah padaku eoh? Kau marah kan? Maaf... maafkan aku sayang, aku tahu aku keterlaluan tadi siang. Aku hanya ingin tampil berbeda, tapi malah membuatmu kesal. Maaf, maafkan Hanhan~ Ya ya ya?"
Runtunan kalimat yang terdengar tergesa itu Sehun respon dengan kerutan di dahi. Sehun tahu Luhan punya kemampuan khusus untuk mengomel satu paragraf dalam satu tarikan napas, tapi yang dia bingungkan adalah alasan mengapa rusa itu tiba-tiba merengek seperti ini.
Melirik ponselnya yang masih terhubung, Sehun lantas teringat sesuatu. Respon lamban yang otaknya berikan itu membuat satu senyum jahil terbit di wajahnya.
Berdeham satu kali, mengatur nadanya agar terdengar serius. "Sudah tahu kesalahanmu?"
"I-iya... Sehun jangan marah lagi."
Menangkap suara frustasi dari arah seberang, Sehun lantas menutup mulutnya–mencegah suara kikikan terdengar oleh Luhan.
"Jadi, siapa yang seme disini?" Ia memancing, senyum jahil berubah jadi seringai.
"S-Sehun seme. Luhan uke." Terdengar lebih pelan, nyaris seperti gumaman.
Dan kenapa rusa itu bisa semenggemaskan ini? Mengucap 'seme-uke' dengan nada suaranya yang seakan menahan tangis.
Atau memang sungguhan menangis? Oh, Sehun merasa seperti om-om galak sekarang.
"Sssh–sudahlah, Lu. Aku tak benar-benar marah kok."
"Jinjja?"
"Iya, sayangku."
Ia dibuat tersenyum lagi, kali ini benar-benar tulus. Sedikit konyol jika membedakan Luhan yang tadi siang dengan yang sekarang–tak ada miripnya sama sekali. Karena Luhan adalah lelaki manis yang menggemaskan dan sampai kapanpun akan seperti itu.
"Kenapa?" Sehun memutuskan bertanya saat mendengar dengungan.
"Um, itu… Sehun benar sudah tidak marah?"
Sehun mengangguk spontan, lupa jika Luhan tak bisa menatapnya. "Memang kenapa?"
"Biasanya kan–um, biasanya…"
Alis berkerut. "Biasanya?"
"Biasanya aku akan dihukum kalau kita sudah berbaikan."
Sehun melotot secara tak sadar, tak mengerti apa jalan pikiran kekasihnya sehingga menganggap kegiatan bercinta adalah ritual mereka setelah berbaikan. Dan mengira Sehun masih marah sebelum pria itu mau menjamah tubuhnya.
"Tapi Lu,"
Bukan berarti kita harus bercinta sekarang juga kan? Tanpa begitu pun aku pasti memaafkanmu –Angel Hun.
Kalau malam-malam begini kan jadi sedikit rondenya? Bagaimana kalau kau jatuh terlelap ketika aku masih tegak? Besok pagi saja ya, biar puas –Devil Hun.
Entah datang darimana dua bisikan kontradiksi itu mendadak memenuhi gendang telinganya. Sehun bergeming beberapa saat, hingga ia memantapkan diri pada satu pilihan yang memang seharusnya ia pilih–
"Baik. Besok pukul tujuh, persiapkan dirimu Lulu sayang."
–yaitu pilihan favorit.
Sedang Luhan memanas di seberang jalan. Merutuki kebaikan hatinya yang sudah menawari si mesum itu permainan kesukaannya. Pada akhirnya ia hanya bisa mengiyakan, toh ini memang kebiasaan mereka ketika baru berbaikan.
Lantas si kecil yang nyaris tak terlihat itu buru-buru berlari ke kamar. Mengambil ponsel pink nya untuk mengirim pesan pada sang kekasih baru.
To : Ayah :*
Haowen, Ziyu denger Lulu hyung mau main sama Sehun hyung. Haowen nanti kesini juga ya~~
Dibalas oleh sosok satunya dari kamar setrika.
From : Ayah :*
Iya, Bun. Sekarang bunda tidur ya, nanti sakit loh :)
Dapat dipastikan rencana main Sehun dan Luhan akan gagal total karena diharuskan menjaga dua bocah kecil yang bermain di ayunan.
End of chap 2.
.
Reviewnya boleh dong ya /senyum najong/
.
Shend, 23 Maret 2016
