Update? of course. This not a dream, Guys!
Disclaimer: not own anything.
Uzumaki Kushina, hanya duduk diam. Ekspresi penuh kekhawatiran tertunjuk di raut wajahnya. Pandangan yang tidak pernah ia lepaskan. Elihat setiap nafas yang diambil oleh Kakaknya.
Ia merasa bersalah...
Merasa lemah...
Merasa menjadi...beban.
Semua karena dirinya. Karena darah yang mengalir didalam dirinya. Berusaha kuat, namun hanya bisa menangis menyesali semua yang terjadi. Merasakan beban yang mulai ditanggungnya.
Siapa yang harus salahkan?-Uzumaki Kushina, hanyalah anak-anak. Belum mengerti bagaimana dunia Ninja bekerja. Hidup nyaman dan hangat bersama keluarganya kini tenggelam bersama nama Uzumaki. Melihat keluargamu sendiri mati bukanlah sesuatu yang ingin kau saksikan. Namun, Kushina adalah pengecualian.
Hati yang lugu. Masih putih. Belum tercemar kekotoran dunia ini.
Peperangan bukanlah kata yang manis didalam lidah Kushina. Peperangan hanya membawa kesengsaraan.
Tangan kecil itu mulai merangkul tangan kasar kakaknya. Merasakan kehangatan hubungan darah mereka.
Penopangnya.
Yaitu, Uzumaki Naruto.
Kakak..
Semua karena kakaknya. Karena Uzumaki Naruto. Karena dirinya lah Kushina masih bisa tersenyum manis meskipun didalam kepahitan hidup. Kakaknya yang mengajarkan hal itu padanya. Karena tidak ada akhir tanpa permulaan, dan tidak akan ada permulaan tanpa akhir. Dirinya tidak ingin menjadi beban pada Kakaknya.
Sebelum kejadian berdarah itu. Dirinya hanyalah seorang anak periang. Anak yang dimanja oleh keluarganya, karena yang paling kecil. Tidak ada beban yang berada dipundaknya saat menjadi Keluarga Uzumaki.
Meskipun anak dari Kepala keluarga, namun Kushina tidak pernah dipaksakan untuk menjadi yang terbaik. Dirinya senang dengan kehidupan hangat tersebut. Sedangkan Naruto..
Naruto adalah seseorang yang diharapkan melakukan hal yang banyak. Tidak hanya sebagai calon kepala Klan Uzumaki, namun juga sebagai kebanggan Uzumaki. Kesibukan yang dilakukan Naruto, membuat waktu keluarga mereka sempit. Naruto selalu sibuk dengan latihan dari segala macam yang berhubungan dengan Klan. Belajar menanggung tanggung-jawab sebagai penerus Klan Uzumaki.
Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menangis. Selalu kuat dan tegar. Meskipun masa kecil kakaknya pada saat itu sudah terganti dengan tanggung jawabnya. Namun ia tetap melakukannya dengan sepenuh hati. Hal itu sebenarnya seharusnya tidak terjadi. Uzumaki bukanlah tipe klan yang sama dengan klan lain. Uzumaki adalah Klan yang berasaskan kekeluargaan dan cinta kasih. Namun, hal itu berubah karena peperangan itu...
Klan pun menjadi gelisah melihat setiap Desa bergejolak tanpa akhir. Dan mengakibatkan Klan Uzumaki mengambil inisiatif untuk meningkatkan kekuatan mereka, karena jika hal terburuk terjadi maka mereka bisa selamat.
Terkadang cinta-kasih saja tidak cukup untuk mengatasi semua masalah, harus ada penopang yang tidak mungkin dipertanyakan orang lain, yaitu..kekuatan.
Itulah Kakaknya...Uzumaki Naruto. Itulah yang dikatakan Kakaknya dalam perjalanan.
Karena itulah dia tidak ingin menjadi beban. Kakaknya sudah memikul beban dan tanggung jawab yang lebih besar darinya. Tanggung jawab yang diberikan Klan yang baru saja dihancurkan itu. Beban yang sangat besar untuk bisa ditanggung oleh Kushina muda.
Mengembara beberapa minggu dari Pulau Uzushiogakure, bukanlah suatu pengalaman yang ingin diingat oleh Kushina. Pengalaman yang tidak ingin ia ulangi lagi.
Menahan lapar, bersembunyi, lari dari kejaran Ninja desa lain.
Meskipun sudah menghancurkan desanya, namun itu tetap saja tidak cukup untuk mereka. Kushina tidak terlalu tahu mengenai detailnya, namun Kakaknya berkata bahwa ia harus menjauhi semua Ninja yang bersimbol Kiri, Iwa, dan Kumo.
Ketakutan itu masih ada didalam dirinya. Semua perjalanan berbahaya itu masih terlintas didalam matanya.
Namun perasaan lega membasuhi dirinya ketika melihat bantuan datang. Melihat Ninja Konoha yang dibicarakan tinggi oleh Ibunya. Dirinya belum mengerti dengan sistem Ninja lain. Jadi dirinya, hanya percaya akan apa yang dikatakan oleh Ibunya..
Meskipun terkadang melihat perawat yang lewat, namun Kushina memperhatikan gerakan mereka. Dirinya harus memastikan mereka tidak melakukan sesuatu yang aneh. Ya, hal itulah yang ada di pikirannya.
Mata Kushina kemudian melirik kakaknya, yang saat ini masih tidak sadarkan diri, nafas yang terkadang berat, membuat dirinya khawatir.
Namun, wanita cantik itu mengatakan bahwa kakaknya akan baik-baik saja, karena saat itu dia datang tepat waktu. Ia masih terkagum dengan wanita yang tersenyum lembut itu. Kushina berusaha mengingat, kalau tidak salah...Tsun...Tsunade! ya itu dia. Kushina merasa dirinya harus berterimakasih. Ia tidak mengerti, namun dirinya begitu takjub akan teknik penyembuhan yang di lakukan oleh Wanita itu. Seperti idola,
Ya...itulah yang berada di hati muda Kushina.
Sekarang dirinya dan Kakak selamat. Ia bisa hidup dengan aman, tanpa khawatir Ninja-ninja yang mengincar dirinya. Ia ingin melihat Naruto tersenyum kembali, ia ingin kakaknya merangkulnya dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
"karena itu..k-kakak... cepat bangun."
Dan ia tidak bisa menahan air mata itu. Ia tidak suka begini. Dirinya tidak suka menangis seperti ini. Hanya menangis-kah yang bisa dilakukan oleh dirinya?...begitu memilukan.
XXXXXXXXXX
POV, Naruto...
Aku merasa aneh... tubuhku serasa berat. Apa yang terjadi? Rasa ngilu terkadang kurasakan di setiap kali aku ingin menggerakan tubuhku. Aku mencoba membuka mataku secara perlahan, dan kemudian menutupnya kembali karena cahaya terang yang serasa membutakan mataku. Aku kemudian menunggu hingga penglihatan yang kumiliki bisa beradaptasi dengan cahaya..
Ahh... langit-langit putih. Ya dirinya hanya pernah melihat ini sekali. Rumah sakit..
Syukurlah..
Aku mencoba melirikan mataku dengan perlahan, dan melihat sesuatu merah. Warna yang kukenal bagaikan sudah terukir di dalam penglihatanku. Rambut itu.. Kushina...
Dan aku pun tersenyum tipis. Meskipun hal itu susah untuk kulakukan, akibat dari alat pernafasan ini.
Namun hal itu bukanlah masalah pada saat ini. Tetapi gadis kecil yang sedang tertidur menjagaku. Memegang tanganku dengan eratnya, seperti takut jika suatu saat aku akan menghilang dari jangkauannya.
Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak berencana seperti itu. Karena itu sudah merupakan janjiku padaku...bahwa aku akan selalu menjagamu. Melindungimu hingga dirimu bisa berdiri dengan sendirinya. Janji pada Ibu kita...yang telah wafat.
Syukurlah dia selamat. Kata-kata itu, selalu terulang di dalam benakku.
Tentu saja aku masih mengingat kejadian itu. Jika tidak karena kedatangan Ninja konoha itu, mungkin aku harus tetap bertahan untuk sadar dan melanjutkan perjalanan..meskipun akan mengorbankan nyawaku. Namun karena itulah aku bisa menutup mataku. Biarpun aku mati pada saat itu juga, namun mengingat Kushina di tangan yang aman, sudah membuatku bahagia. Sudah membuatku merasa ringan, seperti beban tidak terlihat yang berada di pundakku.
Hal ini benar-benar menyedihkan, aku tidak bisa menggerakan tubuhku. Aku tidak bisa membuka mulutku untuk mengutarakan satu-patah kata. Namun, kurasa ini karena pengaruh obat yang kurasakan, pengaruh obat yang membuat sarafku tidak berfungsi untuk sementara. Namun, untuk kesembuhan, akan aku coba untuk bertahan.
Memang dari dahulu, aku tidak suka dengan Rumah sakit. Tidak hanya karena warna putihnya yang membosankan mata. Namun juga kesunyian yang memang harus di jaga. Ha.. mengapa aku berpikir seperti ini? Terlihat seperti orang bodoh.
Memikirkan kembali kenangan yang terlewat... sungguh menyedihkan. Itulah diriku... Terkadang memang aku tidak kuat untuk menahan tekanan yang di berikan oleh Klan. Harus seperti ini. Harus itu. Harus ini.. ha.. mengapa aku masih tetap normal meskipun hal itu terjadi?
Aku selalu bertanya akan hal itu.. namun biarpun aku membenci akan hal itu. Tetapi, semua itu adalah tugasku. Tugas sebagai ahli waris, yaitu diriku..
Namun, sekarang semua sudah hangus menjadi debu. Menjadi debu sehingga aku pun tidak tahu yang mana selanjutnya harus ku lakukan.
Menjadi salah satu sisa dari Klan yang punah bukanlah sesuatu yang menyenangkan kurasakan. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku pada saat ini. Merasakan kehilangan Klan yang memiliki satu darah denganku. Memiliki kemampuan yang sama denganku...
Dan aku pun terbangun dari lamunanku, sesaat mendengar suara itu.
"ah, kau sudah sadar. Namun, engkau masih dalam kondisi yang lemah.."
Aku mendengar suara itu. Suara lembut yang membuatku melirikan mataku kepada asal suara itu. Ya...seorang wanita yang terlihat dalam usia dua puluh tahunannya. Cantik? Tentu saja. Hanya orang buta yang mengatakan hal sebaliknya. Baik itu dari wajah, maupun dari suara...
Dan aku tidak bisa menjawab kalimat itu. Namun dari tatapan yang kuberikan, kurasa ia mengerti.
"kau memang pemuda yang pemberani, Nak. Melawan Jounin dengan tingkat seperti itu merupakan sesuatu keberhasilan yang patut di banggakan."
Ha.. kau terlalu melebihkan. Aku bisa saja mati, jika pada saat itu aku tidak menemukan celah. Hanya keberuntungan, jangan di permasalahkan.
Tadinya itu yang mau kukatakan, namun ingat? Aku tidak bisa bicara pada saat ini. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menganggukan kepalaku.
"kau tahu, gadis kecil ini telah menunggumu selama seminggu penuh. Ia sungguh khawatir, bahkan makanan yang di siapkan pun tidak ia makan. Ia berkata akan menunggumu bangun sebelum ia memikirkan isi perutnya." Wanita itu pun tertawa halus.. "kukatakan, kau mempunyai adik yang keras kepala.."
Ternyata ada yang berpendatan sama denganku. Ya, Kushina memang keras kepala dari pertama kali ia bisa bicara. Namun, meskipun begitu... ia memiliki hati yang bersih dan suci. Aku hanya berharap cara berpikirnya tidak akan berubah di masa depan, karena kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan pahit, bagaimana dunia ini bekerja.
Namun, aku mencermati lagi wajah wanita itu. Ah.. ternyata begitu. Dan aku mulai mengingat kembali...Dia yang menyembuhkanku pada saat itu. Meskipun tidak bisa dibilang menyembuhkan, namun nyawaku terselamatkan akibat wanita ini. Aku akan mengingat untuk berterima-kasih nantinya.
"Kakak!?"
Dan suara keras itu memasuki telingaku. Ya...Kushina.
XXXXXXXXXXXXXXX
Dua minggu pun berlalu dengan cepat. Naruto dengan perlahan di setiap harinya akhirnya pulih dan di bebaskan dari Rumah Sakit, namun dengan catatan harus melakukan kembali pemeriksaan setelah beberapa hari.
Naruto kini berada di sebuah Kedai Ramen. Ya, sebuah Kedai Ramen baru.. yang di buka oleh seorang Pria muda bernama... ah, Naruto lupa lagi.
"kakak, kakak... hari ini adalah hari pertamaku masuk ke Akedemi Ninja!" Kushina menaikan kepalan tangannya ke langit. Dan tersenyum lebar.
Naruto melihat dari samping tempat duduk di kedai Ramen. Ia masih dalam proses memakan Ramen yang masih satu mangkok. Sedangkan Kushina dalam porsi ketiganya.
Pemuda itu menaruh tangannya di kepala berambut merah itu dan mengusapnya dengan hangat.
"kalau begitu...buat mereka takjub akan kehebatan Uzumaki."
"tentu saja, Dattebane!"
Naruto mengambil tisu dan mengelap dengan lembut bekas kuah yang berada di sekitar mulut Kushina. Mendapatkan gerutu dari gadis kecil itu.
"Sekarang pergilah... saat ini aku masih harus bertemu dengan Hokage-sama. Membahas tentang hal yang penting. Kau boleh pergi.."
"hmm.."
"kau tahu tempatnya, bukan?"
"ee...tidak hehehe."
Naruto hanya tersenyum, dan beranjak pergi, namun sebelum membayar santapan yang mereka makan.
Konoha, sejujurnya ia tidak pernah berada di sini. Desa yang baru dengan struktur yang berbeda dari desanya. Ia merasa masih baru, dan terkadang pernah tersesat hingga mencapai Uchiha komponen. Dan singkat kata, Naruto ingin tertawa ketika melihat wajah serius dan arogan setiap Uchiha yang ia temui. Jika ditanya, pasti pada akhirannya akan "hn."
Namun, ia merasa ini rumahnya sekarang. Mungkin dari keramahan para penduduknya? Atau hal yang lain. Ia tidak tahu. Yang membedakan hanyalah warna rambutnya. Jika di Uzushio, maka kau akan melihat lautan merah, tentunya rambut. Jika disini? Dirinya masih mencari tahu.
Naruto melihat tangan kanannya, yang pada saat ini di pegang erat oleh Kushina. Matanya entah kemana melihat sekelilignya, serasa takjub sekaligus tidak sabar. Sepertinya banyak yang ingin di lakukan gadis kecil itu.
Dan sampai..
Naruto mengetuk sebuah pintu dengan kelas yang telah di tunjukan. Menunggu...
Ia merasa ini adalah kelas yang benar. Sebab itulah yang di berikan Hokage pada saat itu.
"ah, selamat datang, saya telah menunggu kedatangan anda" sifat yang formal. Nada yang sopan. Naruto merasa itu karena betapa pentingnya ia pada saat ini, dan mengingat reputasi Klan miliknya. Yang merupakan kerabat dekat Senju.
Naruto pun memutuskan melakukannya dengan formal juga.
"Selamat pagi, saya ingin mengantarkan adik saya... ini merupakan hari pertamanya." Naruto bisa merasakan keheningan dari kelas tersebut. Seperti ingin tahu, siapa orang baru yang akan memasuki kelas mereka.
"oh, Uzumaki Kushina... silahkan masuk."
Namun nama yang disebutkan tidak merespon. Naruto menarik dengan lembut Kushina yang bersembunyi di belakangnya. "Kushina...apa yang kukatakan tadi?"
Sang Guru dengan lembut membawa Kushina ke depan kelas. "ayo, perkenalkan namamu dan rekan satu Akedemimu yang baru."
"N-na,Namaku Uzumaki Kushina! Dan aku akan menjadi Hokage wanita pertama! Dattebane!"
Naruto hanya bisa menepuk wajahnya ketika mendengar perkenalan Kushina. Ia merasa Kushina akan baik-baik saja. Ia merasa mengapa Kushina mengatakan itu, karena spontan.
Mata Naruto melihat kedalam kelas itu. Ah...mengapa ada bocah kecil yang menatap adiknya seperti itu? Sepertinya harus di beri beberapa perkataan.
Mata Naruto kemudian berpapasan dengan seorang perempuan dengan mata berwarna hitam yang mempesona. Sepertinya seumuran dengan Kushina. Mata hitam itu seperti memperhatikannya terus. Menujukan perhatiannya kepada dirinya.
Merasa harus bersikap baik, Naruto pun membalas dengan senyum terhadap gadis kecil yang menatapnya tersebut. Dan sesuatu yang membuat Naruto bingung Naruto terjadi...
Gadis dengan mata berwarna hitam itu memalingkan wajahnya yang pada saat ini memerah merona. Apa itu karena sakit? Naruto tidak tahu. Dan Naruto memutuskan itu hanya karena cuaca. Yang sepertinya memang panas...
Dan Naruto pun menutup pintu tersebut, bergegas pergi. Ia bisa mendengar suara tertawa dari kelas itu. Yang sepertinya membuat Kushina semakin memarah. Terbukti dari kerasnya suara itu.
Naruto akhirnya keluar dari bangunan Akedemi tersebut. Dan menatap ke langit.
Awan pagi, dan juga angin pagi yang serasa menghembusnya. Membuat dirinya menutup matanya sesaat.
"Kehidupan baru. Di jaman yang baru." Dan ia hanya bisa tersenyum. Sesaat melangkah, Naruto terhenti sebentar. Dan kemudian memegang kepalanya. Seperti sesuatu yang hilang, seperti sesuatu yang kosong. Entah mengapa...
Ia tidak tahu. Uzumaki tidak tahu. Seperti sesuatu yang kosong berada di pikirannya. Sesuatu yang terlupakan.
Naruto hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini bukan saatnya untuk berpikir seperti itu. Masih banyak yang harus ia lakukan...
apa yang terjadi? apa yang sebenarnya hilang!? hanya author yang tahu.
Review? tentu saja. panjang, pendek, kritik, saran, pujian, iri hati. sini datang. Tunjukkan betapa hebatnya gw!? #hidungmemanjangsepertiUsop!
