"Apa kakimu baik-baik saja?" Naruto lekas bertanya sembari mendekat.

Seolah tak mau membuat wajahku sendiri semakin merona, terpaksa aku menatapnya dari ekor mataku. "Hanya sedikit keram," jawabku cepat.

"Apa kau ingin aku me—"

"Tidak!" seketika aku menjerit. Ok, hantu-hantu itu lekas menoleh ke arahku dengan cepat dan aku sukses terkekeh pelan dengan wajah tanpa dosa. Sembari mecoba mengatur volume bicaraku dan juga kecepatan degup jantungku yang di luar batas normal, aku mulai melanjutkan perkataanku, "Na-nanti juga sembuh sendiri, kok. Hehehe."

Awalnya tertegun namun ia cepat tersenyum—lagi. Pada akhirnya Naruto menemaniku di tangga ini hingga kakiku dapat digerakkan kembali dengan sendirinya. Dan, entah kenapa aku malah menikmati waktuku saat bersama dengannya, bersama hantu, sesuatu yang seharusnya tidak pernah bisa aku lihat dan aku sentuh.

Mencintai Hantu? Tidak created by me, Miyoko Kimimori

Disclaimer : Masashi Kishimoto

A/N : Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil ataukeuntungan apapun dari fanfiksi ini.

Warn : AU, OOC, typo, dll

Pair : NaruSaku

Genre : Fantasy, Romance, semi-horor(?)

Dont like? Dont read!

Happy Reading :)

.

.

.

~Sakura POV~

Hari selajutnya aku terus dan terus kembali ke tangga itu. Naruto dengan senang hati akan menyapa dengan cengiran anehnya. Aku hanya bisa terkekeh melihatnya. Lalu aku pun akan kembali duduk di sampingnya, kembali mendengarkan cerita konyolnya. Cerita? Ya, dia mulai sering bercerita padaku tentang tempat ini dan juga para hantu. Semua peristiwa itu terus berulang hingga tak terasa telah lewat satu bulan.

Beberapa kejadian di luar dugaanku kembali terjadi. Pertama saat aku terpleset di sebuah anak tangga karena dengan bodohnya berlari padahal aku tahu keadaan tangga itu licin akibat hujan. Alhasil, aku menubruk tubuh Naruto dan membuat pemuda itu kembali harus mendekapku. Rasanya hawa yang dikeluarkan Naruto semakin dingin, berbeda dengan waktu itu.

Selain itu, aku masih ingat saat dengan tidak sadar aku menatap wajah hantu pirang itu dan mengeluskan tanganku pada wajahnya yang dingin. Ah, rasanya aku ingin berlari dan berteriak seperti orang gila saat ingat itu, memalukan! Aku bahkan tidak ingat mengapa tiba-tiba saja aku ingin melakukannya. Yang jelas, Naruto hanya tertegun dan terus menatapku yang masih saja menyentuh lembut sebelah pipinya. Lalu ketika aku tersadar, benar saja, aku lekas berlari dari tangga itu sembari berteriak kencang dalam hati dengan sebelah tangan yang mengacak-acak surai pink-ku agak kasar. Dasar bodoh! Apa yang aku lakukan? Teriak hatiku.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi kejadian gila yang membuatku harus merasakan detakan jantung cepat dan wajah memerah. Namun, ada hal lain yang menarik perhatianku. Semakin lama, hantu-hantu yang berada di tangga satu persatu pergi. Mereka mulai berkeliling sekolah dan menempati beberapa tempat, seperti di kelas yang sudah tak terpakai atau bahkan toilet kumuh di bangunan tua yang berada di belakang sekolah. Mereka bilang ingin menemukan suasana baru. Mendengar itu, dengan cepat aku menepuk jidatku. Ternyata hantu juga bisa merasa bosan, ya? Manusiawi—eh, maksudnya hantuniawi(?).

Meski begitu, mereka bilang akan kembali lagi ke tangga ini, karena bagaimanapun juga tangga ini adalah tempat yang paling mengesankan. Eh, tunggu … mengesankan? Sejak kapan hantu mempunyai rasa takjub seperti itu? Oh, lupakan!

Pada akhirnya, mereka semua memang pergi dan hanya menyisakan Naruto di sini. Walaupun ada sedikit rasa aneh ditinggalkan sahabat hantuku, tapi di sisi lain aku juga merasa bersyukur karena ternyata hantu anak kecil menyebalkan itu juga pergi. Namun aku tetap saja tidak bisa menerima perkataan terakhir sebelum ia pindah ke pohon besar di samping sekolah.

Seraya melayang menjauh, Konohamaru berkata, "Kakak jelek! Mulai sekarang aku akan mencari tempat baru! Kau jangan rindu padaku, ya! Aku tidak mau kakak payah sepertimu merindukan hantu seimut diriku ini! Hahahaha."

Dan urat kepalaku pun kembali berdenyut keras. "Hey hantu bodoh! Memangnya siapa yang sudi merindukanmu, hah!" teriakku sepenuh tenaga. Dia hanya menyunggingkan sebelah bibirnya menanggapi perkataanku, kemudian ia menghilang.

Ok, meskipun aku ingin sekali memukul keras kepala hantu itu—jika aku bisa—kini aku mulai berpikir dua kali. Naruto memang benar, Konohamaru hanya kesepian. Ya, sebenarnya semua hantu di sini pun merasa kesepian, mereka merindukan kehidupan mereka saat menjadi manusia. Dan, kata Naruto, mereka merasa senang saat aku dapat melihat mereka karena aku mengingatkan mereka pada kehidupan masa lalu yang pernah di alami hantu-hantu itu.

"Senang? Apa artinya itu?" aku sempatkan untuk bertanya saat Naruto mulai bercerita.

"Ya tentu saja senang seperti yang selalu dirasakan manusia. Masa kau tidak mengerti? Pertama kali kau datang ke sini, kami mengira kau sama seperti siswi lainnya yang hanya ingin uji nyali. Kau tahu 'kan seberapa seramnya tempat ini? Tapi ternyata kami salah," jawabnya setelah menghembuskan nafas pelan. "Kau datang lagi dan lagi. Kau terlihat berusaha membuat dirimu membaur dengan keadaan di tangga ini dan kau nampak menikmatinya. Untuk itu kami merasa senang."

Angin berhembus lembut. Naruto menghentikkan perkataannya sejenak. Blue shappire-nya melirik ke arahku disusul seulas senyum tipis di wajahnya. Aku terdiam, hanya mengamati.

"Kau berbeda. Kami mulai menyukaimu. Kami tidak merasa risih lagi setiap kali kau datang. Bahkan ada beberapa di antara kami yang menunggu kedatanganmu. Ya, kami memang menyukaimu, dan aku sendiri pun benar-benar menyukaimu."

DEG!

Emerald-ku berbinar. Sepintas aku memohon dalam hati semoga tak ada hantu lain yang melihat bagaimana wajahku sekarang. Merah padam persis seperti kepiting rebus! Astaga, Naruto, kenapa kau mengatakan hal itu?

Seakan mendengar bisikkan hatiku, tiba-tiba Naruto berbalik ke arahku membuatku sedikit tersentak. "Dengar, aku tidak tahu apa ini normal atau tidak, tapi … selama kau di sini—maksudku, setelah kau bisa melihatku, aku benar-benar senang."

"Naru—"

"Sejak saat itu kau selalu menemaniku. Kau ada di sini, terus mendengarkan ceritaku. Tak masalah jika aku mendapat teriakan melengking dan omelanmu ketika aku berbuat konyol."

Aku sweatdropped dan sedikit merasa bersalah ketika mendengar penuturan darinya. Naruto memang benar, aku sering melakukan itu. Namun aku melakukannya dengan alasan! Aku tidak bisa terima jika hantu bodoh ini mulai mengerjaiku dengan memutar kepalanya ke belakang, mematahkan sebelah tangannya hingga berdarah. Ya ampun, aku mengerti dia hanya ingin mengerjaiku, namun itu keterlaluan.

"Itu 'kan salahmu sendiri," jawabku kemudian dengan bibir mengerucut, sebal.

"Ya, aku tahu, maafkan aku." Naruto tersenyum dengan iris shappire menyipit. Dan itu sukses membuatku segera berpaling wajah.

Aku terdiam sembari menggigit bibir bawahku. Sedetik kemudian aku berkata dengan nada judes. "Y-ya! A-aku ju—ga minta maaf." Aku lekas merutuk dalam hati menyadari ucapanku barusan yang tergagap. Malu? Mungkin iya, tapi sudahlah!

Naruto terkekeh pelan. "Aku jadi ingat ketika pertama bertemu denganmu. Saat itu kau masih belum bisa melihatku. Jujur saja, aku mulai memperhatikanmu sejak saat itu. Bahkan aku sering duduk di sampingmu, tapi kau tidak menyadarinya."

Wajahku semakin panas. Dengan keberanian yang amat sedikit, aku berusaha untuk kembali menatap wajahnya. Detik selanjutnya, aku tertegun dengan mulut setengah menganga.

Emerald-ku menangkap bayangan yang tak biasa dari wajah hantu itu. Air mukanya terlihat sangat damai. Ia tersenyum penuh dengan kelopak mata tertutup. Surai pirangnya sedikit berkibar terkena hembusan angin. Aku terpaku. Melihatnya seperti itu membuatku sulit mengendalikn diri. Dan rasanya aku malah menikmatinya, rasa damai itu pun seolah tertular padaku. Tanpa sadar aku ikut tersenyum.

Hantu pirang itu menghembuskan nafas, dan seakan menyadari bahwa aku menatapnya kemudian ia mulai menghadap ke arahku. "Kau tahu? Aku merasa senang dan juga gila."

"Eh?" aku mengernyitkan dahi dan sedikit menjauh kala Naruto mulai mendekat.

"Ya, aku merasakannya. Dadaku terasa sesak jika aku memikirkanmu, jika aku melihat senyummu. Aku …" Naruto semakin mendekat. "Aku sepertinya …"

"Naru …"

Gawat! Pikiranku sudah memberi perintah mutlak, namun tubuhku seolah menolaknya. Aku malah terdiam seakan membiarkan Naruto semakin mendekat. Jantungku mulai berdegup abnormal. Nafasku memburu seperti tengah dikejar hantu, eerrr … ya memang secara teknis Naruto itu hantu, sih.

Kelopak mataku mulai tertutup, begitu pun dengan Naruto. Semakin dekat, aku dapat merasakan hawa dingin yang membuat bulu kudukku berdiri, itu wajar, namun entah kenapa aku tidak menolaknya, aku tak bisa berlari dan menjauh dari sana. Hingga …

Sebuah kecupan dingin mendarat di bibirku. Beberapa detik kami bertahan dalam posisi itu sampai Naruto menjauhkan dirinya dengan pelan.

"Aku mencintaimu, Haruno Sakura."

Angin dingin kembali berhembus. Wajahku semakin memanas seiring dengan emerald-ku yang tak mau lepas memandangi hantu di depanku ini. Aku terpaku tanpa alasan. Aku terkejut namun rasanya ini berbeda, ini bukan rasa terkejut seperti biasanya.

"Aku juga mencintaimu," tanpa sadar aku mengucapkan sebuah mantra yang sukses membuka segel kisah romansaku seumur hidup. Aku pun tersenyum samar, tak memperdulikan jeritan hatiku yang terdengar memelas, meskipun memelas dengan cara yang benar-benar aneh—emm … maksudku, omelan.

Kau gila! Sejak kapan kau mencintai hantu, Sakura? Aku tahu kau itu memang aneh, tapi tidak harus seperti ini juga! Begitulah kira-kira omelan singkat yang aku dapat dari inner-ku sendiri. Baiklah, jika saja aku bisa membalas omelan itu, aku akan membalasnya dengan jeritan yang lebih melengking.

Namun, aku sama sekali tidak berbohong dengan pernyataanku tadi. Itu polos dan langsung terucap begitu saja, reflek. Tak ada kebohongan di sana, dan aku yakin perasaan ini telah aku rasakan sejak aku dapat melihat Naruto, ditambah ketika aku semakin dekat dengan hantu pirang itu. Ya, aku menyadarinya sekarang.

Saat aku mendenguskan nafas pelan sesaat setelah pemikiran itu terlintas, aku benar-benar tersentak, pikiranku buyar. Ternyata Naruto menggenggam tanganku dengan pasti.

"Kau merasakannya?"

Aku mengernyit. Sepintas menatap tangan kami yang saling tertaut sebelum akhirnya menjerit, "Tanganmu … hangat!"

"Hn." Naruto menggenggam tanganku semakin erat.

"Tapi … bagaimana bisa?" mataku memicing curiga. "Terakhir kali aku menyentuhmu, kau semakin terasa … dingin. Dan beberapa detik lalu kau masih terasa dingin. Namun sekarang, kenapa—"

"Aku harap tetap seperti ini," potongnya cepat. "Dan aku harap bisa lebih hangat dibandingkan ini."

Kuperhatikan ekspresinya berubah. Kedamaiannya sedikit pudar, ada setitik keganjalan dari air mukanya. Baiklah, aku takkan mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Senyumku lekas tergurat kala Naruto menatapku dari ekor matanya, dia tersenyum.

"Aku janji akan menggenggam tanganmu mulai dari sekarang, aku tak akan pernah melepaskannya." Shappire-nya berkilat, aku terpaku memandang sorot mata kesungguhannya.

"Ya," jawabku akhirnya.

=0=0=0=

Lagi, aku kembali ke tempat itu. Aku takkan pernah bosan untuk kembali ke sana. Ya, takkan. Meskipun kini hanya tinggal ada Naruto, itu tidak masalah. Hari ini aku kembali ke tangga itu setelah pulang sekolah sembari membawa bekal makan siang. Sebenarnya aku belum memakan bekalku karena waktu istirahat yang singkat itu aku habiskan untuk membantu guru membereskan beberapa buku di perpustakaan. Dan, aku berniat memakannya nanti saat bersama Naruto, yah, meskipun aku tahu Naruto akan—karena dia selalu—merengek ingin memakan bekal yang kubawa, namun dia itu 'kan hantu. Bodoh, seperti biasa.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Belum sempat guru melangkah melewati ambang pintu kelas, aku segera melesat—hampir menyerempet guru itu—sembari meneriakkan kata 'maaf' saat kedua kakiku melangkah cepat menuju tempat tujuan. Teman-temanku semakin menatapku aneh, ok, itu sudah biasa. Mungkin mereka berpikir aku ini orang gila yang selalu kembali ke tempat yang lumayan menyeramkan di sekolah, contohnya ya tangga ini. Ah, toh aku tidak peduli dengan tatapan macam itu.

TAP!

Aku menghentakkan kakiku ketika melihat Naruto yang tak menyadari kedatanganku. Hantu pirang itu menoleh, reflek. Raut wajahnya agak sedikit sendu dan nampaknya ia berusaha kuat untuk tersenyum penuh ke arahku, meskipun hal itu berbeda jauh dengan cengiran khasnya yang terlihat begitu ceria.

"Kau … kenapa?" aku duduk di sampingnya dengan nafas tersengal.

Ia tak menanggapi. Shappire-nya melirik pada kotak kecil yang aku pegang. Dalam sekejap hantu bodoh itu berteriak dengan pasti setengah melonjak.

"Kau bawa bekal!" pekiknya sumringah.

Aku mengamatinya dengan ekspresi datar. "Memangnya ... kenapa?" ucapku dengan nada tak bergairah.

Bibirnya mengerucut. "Sakura-chan enak ya, kau masih bisa menikmati bekal sekolah." Naruto melipat kedua tangannya. "Kalau aku, mana mungkin bisa merasakannya lagi. Haahhhh nasib jadi hantu."

Aku menepuk jidatku kemudian menggeleng pelan. "Naruto, kau ada-ada saja."

"Aku jadi ingat saat ibuku sering membuatkan bekal, aaahhh … rasanya aku rindu dengan semua itu."

"Huh?"

"Yah, sudahlah." Senyumnya menghangat. "Lagipula itu sudah masa lalu. Sekarang lebih baik kau cepat memakannya."

"Hn. Oh ya, selagi aku makan, apa kau bisa menceritakan kembali tentang hantu-hantu di sekolah ini?"

Tak menjawab. Naruto menatapku lekat. Aku dapat merasakan jawaban 'ya' dari tatapannya. Detik kemudian, aku mulai memakan bekal makan siangku. Sementara Naruto bercerita dengan asyiknya, aku hanya mangut-manggut tanda mengerti dan paham dengan apa yang ia katakana.

Terkadang aku hampir tersedak karena menahan tawa. Mendengar cerita hantu jahil yang niatnya ingin mengintip ke kamar mandi wanita tetapi malah nyasar ke kamar mandi pria gara-gara dengan bodohnya tak melihat tanda yang terpampang jelas di atas pintu. Hantu itu pun murung setelah menyaksikan pemandangan tidak mengenakkan di kamar mandi pria. Ia terus seperti itu hingga beberap minggu dan bertekad takkan melakukannya lagi.

Tawaku meledak. Untungnya makanan di mulutku telah kutelan habis dan itu adalah makanan yang terakhir, menyisakan kotak kosong di pangkuanku. Naruto memandangiku dengan senyumnya. Aku pun berusaha menghentikan sesuatu yang menggelitik hatiku, namun tak berhasil, hingga Naruto menggenggm tanganku disusul air muka sendu.

"Sakura-chan …"

Entah kenapa tawaku menghilang. Aku segera memfokuskan pandangan pada iris matanya. "Ya? Ada apa?"

"Tanganku … apa tanganku masih terasa hangat?" sorot matanya begitu sayu.

Aku sempat ragu untuk menjawab, tapi tatapan itu seolah memaksaku. "U-un, kau semakin hangat," jawabku lembut. "Memangnya kenapa? Apa akan terjadi sesuatu?"

Bibirnya terkatup. Pandangannya kosong ke depan. Aku mengernyit. Ingin bertanya namun lidahku terasa kelu.

Naruto mulai mendesah seraya melirik. "Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku ceritakan, ini tentang diriku …"

"Memangnya apa?"

"Ini tentang aku yang akan menghi—"

DRRTTT! DDRRRTTT!

Sial, aku baru saja ingin mendengarkan, namun handphone-ku bergetar. Ternyata itu pesan dari ibu agar aku cepat pulang. Tanpa berpikir dua kali, aku lekas melepas genggamannya. Aku segera memohon pamit pada Naruto, dan sepertinya dia juga tidak keberatan, namun aku melihat ada sesuatu yang ganjal dari ekspresi wajahnya saat ia mengucapkan salam perpisahan.

"Besok, aku akan ke sini lebih pagi untuk mendengarkan ceritamu. Tunggu aku, ya?" ucapku sebelum berbalik. "Sampai jumpa besok … uummm … Naruto."

Bibirnya melengkung, ia tersenyum sangat tipis sesaat sebelum kakiku melangkah pergi. Hal itu sukses membuat pikiranku menjadi tidak enak sepanjang jalan. Ditambah ketika dengan tidak sengaja aku bertemu dengan hantu berambut nanas yang nampaknya kini ia menempati pohon beringin tak jauh di depan sekolah.

"Yo." Dia menyapaku singkat, aku hanya tersenyum menanggapinya. "Kau … aku ingin berbicara sesuatu denganmu."

Mataku memicing. "Sesuatu?" aku berpikir sejenak untuk mempertimbangkan, namun akhirnya aku menjawab, "Aku harus segera pulang. Mungkin lain kali."

Aku lekas kembali berjalan. Namun, ceroboh, aku hampir saja berjalan ke depan, sesegera mungkin kubelokkan arah langkah kakiku. Aku tidak mau berjalan lurus lalu menembus tubuh hantu—maksudku tubuh Shikamaru yang berada di depanku seperti itu, aku pun tak mau membayangkannya jika hal itu terjadi. Rasanya … eerrr … menjijikkan dan menakutkan. Oh, sial. Secepat kilat aku memohon maaf pada Shikamaru dalam hati.

"Ck! Tubuhnya mulai menghangat, bukan?"

Kakiku seketika kelu. Langkahku terhenti. Aku langsung menoleh dan mendapati sunggingan bibir dari hantu berambut nanas itu.

Sorot matanya meredup. "Kau tahu? Dia … sebenarnya Naruto akan segera menghilang."

"He?"

TBC