"Kau tak apa?"
Sebuah tangan menopang Fang dengan kokoh, tidak membiarkan Fang jatuh menumbuk tanah. Fang tahu siapa yang menopangnya, tetapi ia masih ingin melihat wajah orang tersebut. Fang menoleh, menatap si topi jingga perlahan.
"Hoi, Fang kau tak pe?" Tanya Boboiboy sekali lagi membuyarkan lamunan Fang. Fang segera bangkit, melepaskan cengkeraman tangan kokoh Boboiboy.
"Tak pe. Dahlah aku nak balik." Katnya meneruskan keinginannya untuk pulang.
"Aish, kau baru sampai sini. Duduklah dulu." Pinta Boboiboy sedikit memelas. "Fang..."
"Iyelah." Fang akhirnya menyerah dan duduk di kedai Tok Aba berdua dengan Boboiboy yang sedang mempersiapkan Iced Chocolate special untuk teman-temannya.
"Kau yang buat semua iced chocolate tu?" Tanya Fang sedikit penasaran dengan apa yang dibuat Boboiboy. Kelihatannya Boboiboy begitu sibuk.
"Ye lah. Tok Aba dah mulai sakit, nanti kalau Tok Aba dah tak bisa bekerja di kedai ni, aku yang gantikan." Dengan santai Boboiboy memberikan sentuhan krim terakhir pada iced chocolatenya. Setelah menyelesaikan sentuhan terakhirnya, Boboiboy menatap ke arah Fang memperhatikannya dalam.
"Kau tak rindu padaku?" Tanya Boboiboy tiba-tiba. Fang terkejut dengan pertanyaan yang diluncurkan langsung dari bibir Boboiboy segera menatapnya. Wajahnya agak sedikit merah. 'Rindu, dah pasti lah.'
"Tak." Jawab Fang datar sambil menolehkan wajahnya ke arah lain. Boboiboy hanya tersenyum tipis dan membalikkan badannya untuk mengambil Iced Chocolate yang telah ia persiapkan. 'Dasar, masih sama je si Fang ni.'
Boboiboy meletakkan Iced Chocolate itu di meja kedai. Setelah itu ia menaatap Fang. Ia ingin bertanya tentang sesuatu. Sesuatu yang begitu mengganjal hatinya. Boboiboy menarik napas dalam-dalam. Ia ingin bertanya, tetapi entahlah ia begitu sungkan bertanya.
"Fang... Kau... dan... Yi-"
"Hai Boboiboy! Mane Iced Chocolate tuh? Mane?" Gopal setengah berlari mendekati Kedai Tok Aba, membuat pertanyaan Boboiboy berhenti. Gopal segera duduk dan mengambil salah satu Iced Chocolate yang telah dipersiapkan Boboiboy tadi.
"Ish kau ni. Tunggu yang lain dulu lah." Boboiboy memukul tangan Gopal yang tengah akan mengambil segelas Iced Chocolate. "Ish sakitlah! Hei Fang, mana lah si Ying tu?"
"Mana lah ku tahu. Tadi dia suruh aku balik dulu." Jawab Fang malas. Ia mengambil handphonenya, mencoba mencari nomor Ying dan memintanya segera datang.
"Ying, cepatlah. Kita menunggu." Fang segera berbicara pada Ying, tanpa basa-basi meminta ia segera sampai.
"Aku disini, ma. Hihihihi." Ying mendekatkan wajahnya ke arah Fang yang sekarang ada di sebelahnya. Fang yang melihat Ying segera mematikan telponnya, lalu memasukkan Handphonenya ke dalam sakunya. Ia tersenyum tipis pada Ying lalu mencubit pipinya pelan.
"Ish kau ni." Sahut Fang sambil dengan gemas mencubit pelan pipi Ying. Boboiboy memperhatikan mereka. Mereka begitu bahagia dan entah kenapa ini membuat Boboiboy malah sedih.
"Hai kawan-kawan. Dah lama kah kalian tunggu aku?" Tanya seorang wanita dengan kerudung merah muda yang khas. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sebelah antara Gopal dan Ying yang telah sampai beberapa menit sebelumnya. Yaya mengeluarkan sebuah bungkusan, lalu memberikannya pada Boboiboy yang kelihatannya masih melamun. Pandangannya tertuju pada Fang dan Ying.
Melihat ada yang salah dengan temannya, Gopal segera membuyarkan lamunan Boboiboy
"Hoi, Boboiboy! Cepatlah, aku tak sabar meminum special iced chocolate gratis ni."
"Tunggu! Boboiboy aku buat ini buat kau." Yaya memberikan bungkusan isi biskuitnya ke Boboiboy. Boboiboy menatap ngeri dengan bungkusan itu. "Er... Yaya, tak usah repot-repot." Tolak Boboiboy halus.
"Ayolah, aku bikin ni khusus buat kaulah." Yaya memelas, mengharap Boboiboy akan mengambil biskuitnya. Boboiboy masih belum fokus seratus persen, sesekali ia memandang ke arah Fang dan Ying yang begitu dekat seperti memiliki dunia mereka sendiri.
"Boboiboy?" Panggil Yaya lagi membuat pandangan Boboiboy kembali pada biskuit itu. Karena tidak enak, terpaksa Boboiboy menerimanya
"Oh, iyelah terimakasih." Boboiboy segera mengambil biskuit itu dan menyimpannya di laci kedai Tok Aba. "Nanti ku makan."
Yaya kelihatannya begitu senang, biskuit buatannya diterima oleh Boboiboy. Gopal yang sudah tidak sabar, mengambil iced chocolatenya duluan. "Hmm, enak lah. Tapi ada yang beda dari iced chocolate ini." Ujar Gopal seolah-olah meniru film-film detektif. Yaya, Ying dan Fang juga mulai mencoba iced chocolate tersebut. Mereka mencoba menerka apa yang dibilang Gopal berbeda.
"Apalah yang beda tu Gopal?" Tanya Yaya sambil menyeruput iced chocolatenya.
"Pantas je kau tak tahu. Kau bukan pelanggan setia Tok Aba!" Gopal meniru gaya-gaya detektif yang seolah-olah habis mengungkap kebenaran.
"Benar kau Gopal, pelanggan setia Atok. Pelanggan yang setia tak bayar hutang." Tok Aba dari kursi yang tidak begitu jauh dari tempat mereka mengomentari gaya bicara Gopal yang menunjukkan bahwa ia adalah satu-satunya pelanggan yang paling setia.
"Hehehehe" Tawa Gopal diikuti gelak tawa yang lainnya, memecah keheningan antara mereka semua. "Masih suka berhutang je kau, Gopal? Hahahaha terbaiklah." Boboiboy menunjukkan jempolnya yang kelihatan jangkung.
"Haiya Gopal, tadi apa yang beda, ma?" Tanya Ying masih penasaran dengan hal yang diucapkan Gopal sebelumnya. "Hmm, agak sedikit kurang manis."
"Iyelah, yang bikin ni bukan Tok Aba." Jawab Fang santai menyeruput iced chocolatenya yang hampir habis.
"Siapa yang buat iced chocolate ni?...Ha-hantu?!" Tanya Gopal mulai bersembunyi di balik kursinya.
"Heleh, masih je penakut. Akulah yang buat ni." Boboiboy tersenyum bangga memamerkan kehebatannya membuat Iced Chocolate. Semua terkagum. Mereka menghabisakan iced chocolatenya sambil tertawa bersama.
"Haih, dah habislah. Boboiboy, kau tak nak traktir aku satu lagi?" Tanya Gopal sambil meletakkan gelasnya yang kosong. "Haish, bayar dulu utang kau." Boboiboy bergurau sedikit pada Gopal yang begitu rakus.
"Heleh. Alamak, jam berapa ni? Yaampun, acara kesukaan ku dah mau habis ni. Aku nak balik ya!" Gopal secepat kilat tanpa berterima kasih, berlari menuju rumahnya.
"Halah, alasan je si Gopal ni." Cibir Boboiboy yang diiringi tawa kawan-kawannya. Fang memutar-mutar sedotannya dalam gelasnya yang kosong. Memperhatikan dari sudut matanya. Boboiboy. Ia sekarang sudah lebih tinggi daripadanya. Garis wajahnya yang tegas dan tangannya yang begitu kokoh. Bahunya yang lebar, serta tatapan matanya yang masih tajam. Senyumnya yang khas, masih menggantung di wajahnya yang kelihatan jauh lebih dewasa. Rambut hitam yang tertutup topi jingga itu masih sama seperti dulu. Hanya saja, keadaan membuat Fang dan Boboiboy tidak bisa sedekat dulu.
"Fang, kau kenapa, ma?" Tanya Ying sedikit khawatir melihat perubahan sikap Fang yang banyak melamun. Fang yang dibuyarkan Ying segera menatap Ying lalu memberikan senyumnya lagi. Senyum yang manis, namun bukan senyum tulusnya. "Tak apalah. Kau jadi nak ke perpustakaan kota?" Tanya Fang sambil membelai rambut Ying pelan agar ia tidak gusar melihat kekasihnya melamun.
"OH IYA! Haiya, bisa lupa macam ni, ma." Ying menepuk jidatnya pelan. Fang yang tadi membelainya malah mengacak rambut Ying sekarang.
"Dasar kau ni. Jom lah kita pergi." Fang berdiri sambil menggandeng tangan Ying yang kecil. "Terimakasih Boboiboy." Ujar Fang sambil berjalan pergi. Ying melambaikan tangannya yang sebelah lagi pada Boboiboy dan Yaya.
"Fang!" Tiba-tiba Boboiboy menghentikan langkah mereka yang belum jauh dari kedai. Fang berbalik menatap Boboiboy yang begitu sendu memperhatikannya. Mereka bertatapan selama beberapa detik. Fang menanti kalimat dari bibir Boboiboy. "Apa?"
"eng...korang hati-hati ya." Senyum Boboiboy yang agak dipaksakan lalu melambaikan tangan pada Ying dan Fang. "Haiya, terimakasih Boboiboy."
Fang tidak menghiraukan Boboiboy segera berbalik badannya dan mengajak Ying untuk segera meninggalkan kedai Tok Aba.
Disana Boboiboy dan Yaya. Boboiboy mengambil gelas-gelas itu dan mencucinya. Perasaannya kali ini entahlah, mungkin begitu perih sampai ia tak tahu rasanya. Yaya yang masih tertinggal di kedai itu menatap punggung Boboiboy yang tengah mencuci gelas-gelas itu.
"Kau kelihatan sedih, Boboiboy." Tanya Yaya dalam hening mereka.
"Tak apalah. Perasaan kau je." Boboiboy masih memunggungi Yaya sambil mencuci gelas-gelas itu.
Yaya mendekati Boboiboy dari belakang menyentuh pundaknya yang lebar, mengelusnya perlahan.
"Kalau kau nak cerita, ceritakanlah pada ku. Aku pasti dengar."
Boboiboy berbalik sebentar tersenyum tipis pada Yaya yang berusaha menenangkannya. Matanya yang sendu menatap Yaya.
"Tak pe lah. Terimakasih, tapi aku baik-baik saja."
...
Fang menemani Ying mencari beberapa buku untuk dipinjam.
"Fang, tolong ambilkan buku yang disana, ma." Fang dengan posturnya yang tinggi sedikit berjinjit lalu memberikan buku itu pada Ying.
"Jom kita ke sana." Ying menunjuk meja baca sambil membawa beberapa buku yang cukup tebal dan membosankan jika dibaca. Fang mengambil sebuah buku yang asal saja ia ambil dari sebuah rak buku.
Mereka duduk berhadapan di meja baca. Terperangkap hening. Ying sedang serius membaca beberapa buku, sedang Fang melamun. Bagaimana Boboiboy menatapnya tadi. Keadaan mereka bukan seperti dahulu. Sekarang Fang telah memilih Ying.
'Sial! Sial!'
...
Hari itu petang mulai menyemburkan oranyenya. Hari terakhir Boboiboy berada di Pulau Rintis. Begitu banyak kenangan yang tertoreh di hati Boboiboy terhadap Pulau ini. Pertarungannya dengan Adu Du, Persahabatannya dengan Gopal, Ying, Yaya, Ochobot dan pertemuannya dengan Fang.
Mereka tidak terlalu dekat, namun tidak jauh. Fang yang selalu duduk di pojok kelas, melemparkan pandangannya ke luar jendela. Saingan yang sama-sama memperebutkan kepopuleran. Lama-lama hal ini membuat Boboiboy menemukan sisi unik Fang. Yang makin membuatnya berat meninggalkan Pulau ini.
"Hoi Boboiboy. Nak apa kau panggil aku ke sini?" Fang memanggil Boboiboy yang tengah berdiri di taman yang penuh rumput itu. Boboiboy memperhatikan wajah Fang lekat-lekat. Membiarkan pandangannya terkunci. "Kau tahu, biarpun kita saingan, aku tak benci pada kau."
"Maksud kau?" Tanya Fang yang sepertinya tidak mengerti arah pembicaraan Boboiboy.
"Aku akan balik ke rumahku." Ujarnya menatap Fang dengan dalam, tersenyum sendu. Fang menatapnya pelan. Tiba-tiba Boboiboy menyentuh tangan Fang membiarkan Fang membuka tangannya, memberikan sebuah benda berbentuk bintang. "Apa ni?"
"Sesuatu untuk kau. Biar kau ingat aku. Akupun ada satu. Jadi kita sama. Hahaha." Tawa Boboibooy yang menyimpan kesedihan sambil menunjukkan benda satunya lagi. Ya, Boboiboy memang cukup tertarik dengan benda-benda yang berhubungan dengan perbintangan dan alam semesta. Kamarnya saja berhiaskan benda-benda yang identik dengan luar angkasa.
"Kalau nanti aku balik. Kaulah orang yang paling aku rindukan." Kata Boboiboy lirih sambil menutup telapak Fang yang menggenggam bintang itu. Fang hanya diam, tertunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia mulai menangis di depan Boboiboy. Ia begitu takut kehilangan Boboiboy.
"Hoi, jangan menangis macam tu lah. Kan kalau tak de aku kau bisa lebih populer." Boboiboy mengusap wajah Fang dang menghapus air matanya perlahan. Boboiboy sebenarnya juga ingin menagis namun ia menahannya.
Fang tahu, dengan ketiadaan Boboiboy akan membuatnya semakin populer. Tapi, kenapa ia tidak merelakan Boboiboy pergi? Fang menggengam bintang itu dengan erat. Perlahan Boboiboy memeluk Fang untuk yang terakhir sebelum ia pergi. Menenangkan Fang yang entah jadi cengeng seperti itu.
"Ka-kau tak boleh pergi." Isak Fang pelan.
Boboiboy membelai rambut Fang sambil memeluknya.
"Tak bisa, ini sudah kuputuskan. Maafkan aku."
...
"Fang, Hoi Fang." Bisik Ying sambil menggoyangkan tangan Fang yang sedari tadi pandangannya kosong. Fang segera buyar dan menatap ke Ying.
"Eh, apalah?" Tanya Fang menatap heran ke arah Ying yang memperhatikannya seperti orang linglung.
"Kau melamun apa,ma?" Tanya Ying setengah berbisik. Ia cukup khawatir dengan kekasihnya itu yang kelihatan lebih banyak melamun akhir-akhir ini. "Tak de, aku hanya merenungkan buku ni je."
Ying masih memperhatikan Fang dengan tidak percaya. Ia meneliti sebentar lalu melihat sebuah kalung berbandul bintang yang dikenakan Fang sejak dulu.
"Haiya, ada hubungannya dengan orang yang kasih kau itu, ma?" Tanya Ying tepat sasaran. Ia tahu kalung itu memang sangat berharga bagi Fang. Bahkan saat kalung itu hilang, Fang kalang kabut dan mencarinya sampai dapat. Ia pernah tak tidur hanya untuk mencari kalung itu. Ying tahu benar kalung itu sangat berharga. Tapi, Fang tidak pernah menceritakan mengapa kalung itu begitu berharga dan siapa yang memberikannya.
Fang yang masih agak terkejut dengan pertanyaan Ying yang tepat sasaran berdiam sebentar sambil memikirkan alasan yang terbaik.
"Takdelah. Di Pikiranku ni cuma ada kau lah." Senyum Fang menyentuh tangan Ying perlahan. Ying yang masih belum percaya dengan Fang melepaskan tangannya yang digenggam Fang.
"Tak, aku tak percaya. Kau pasti memikirkan orang lain, ma. Yang memberikan kau kalung tu kan?" Cecar Ying kelihatannya moodnya sudah mulai rusak.
"Ish, masa lah kau tak percaya padaku?" Fang masih membujuk Ying agar mempercayainya.
"Kalau begitu, beritahu aku siapa yang memberikan kalung itu pada kau? Dan apa alasannya kalung itu berharga sangat buat kau?"
Bersambung
Akhir chapter yang ngaco~~
Lagi asikasik malah nanyain kalung ~ (?)
Belum bisa ngasih yang asem (?) maybi nanti di chapter selanjutnya prepare for yang asem XD
Mencoba mengupdatenya dengan cepat tapi saya gabisa ;;
Saya rencana akan membuat cerita ini lebih complicated (?) bukan Cuma cinta segitiga~ mau buat cinta segibanyak (?) cinta kubus (?) hehehe diikutin ajalah~
Jujur saya bukan pecinta FangYing tapi biarlah menjadi asik (?) karena BoiFang tetap jadi kesayangan kita semua yash yash mungkin ada yang suka GoFang atau GoBoi atau BoiAdudu /pulanglupulang
Ya saya minta maaf atas segala kesaalahan di fic ini chapter yang kurang hot, plot yang makin ngaco, update lelet, OOC, typo, kesalahan bahasa dan diksi, dan berbagai kesalahan lainnya maafin yak :"
Seperti biasa terimakasih atas segala review, kritik dan saran yang begitu membangun X3 saya masih butuh banyak belajar lagi, jadi yang punya kritik, saran ataupun curhatan(?) monggo di review. Maaf saya gabisa balas semuanya tapi saya usahakan hehe
Jom ikuti sampai habis /abaikan
Sekali lagi terimakasih ^^
Disclaimer: Animonsta Studio
