Sebuah tendangan, jeritan kolosal dari seorang pemuda manis, dan ucapan dingin dari gadis cantik nan kuat mengawali pagi adalah hal biasa. Ya, apalagi kalo bukan Eren yang telat bangun lagi dan Mikasa yang dengan senang hati membangunkannya, itu semua memang ritual pagi yang selalu terjadi setiap hari. Namun sepertinya hari ini lain, karena sang biang telat telah berdiri manis membuat bekal untuk perjalanannya nanti di dapur. Padahal ini hari minggu, Sang ibu pun terpaku.
"E,Eren, besok bukan kiamat kan?"
Hening.
"Mama, berlebihan ah!"
Eren malas mendengar komentar ibunya yang sangat tidak masuk akal itu, memang tidak boleh kalo dia bangun pagi?
"Sepertinya Eren hanya terlalu semangat pergi ke Al-Sekoting." Jelas Mikasa yang tiba-tiba sudah berdiri di samping nyonya Jeager itu.
"Al-Sekoting?" tersadar dengan nama tempat itu, Carla, nama Sang ibu bergegas mendekati sang anak dan mengguncang-guncang bahunya.
"Eren! Al-Sekoting itu jauh, nak! Kamu jangan nekat gitu! Kalo ada yang menculik kamu gimana Hah?!"
"Mama, percaya sama Eren dong! Lagi Eren ga pergi sendiri kok! Mikasa dan Armin juga ikut."
"Oh, mama kira kamu sendirian. Mama kan ga mau kalo anak termanis mama nanti diculik om-om mesum."
"Eren tau kok ma."
Dan drama ibu-anak itu pun terus berlanjut. Ah, Mikasa lelah.
Disclaimer: Singeki no Kyojin milik Hajime Isayama.
Yupi milik PT Yupi Indo Jelly Gummy.
HOMonoroail milik HOMonorail parody.
Al-Sekoting RP milik Al-Sekoting RP parody.
Tidak ada keuntungan materil maupun non-materil dalam pembuatan fanfik ini.
Genre: Parody, Romance (mungkin)
©Hell13
Mempersembahkan
Cinta Di Antara Yupi
Jika Eren bilang toko itu toko tua mungkin memang benar karena toko itu terlihat sangat klasik, dengan dinding mahogany tua dan jendela etalase besar. Namun meski begitu toko ini sangat mencolok, ya memang sih tokonya tidak sebesar sebuah hypermarket, lebih seperti minimarket malah. Tapi bukan itu yang menjadi masalah mencolok tidaknya toko itu, tetapi lihat pada papan nama besar yang hampir menutupi sebagian atas toko itu.
Ukiran blod bertuliskan "RACON CORP CANDY SHOP" berwarna hijau dengan dasar putih, serta pernak-pernik permen berwarna-warni cukup untuk membuat toko itu mencolok. Jangan lupakan betapa bersihnya toko itu, bahkan mungkin debu pun enggan bersentuhan dengan kaca jendela toko itu. Deskriptif toko itu sudah jelas membantah ingatan Eren tentang toko itu tak mencolok. Eren juga tak bisa disalahkan sih, terakhir ia ke sini saat umurnya 5 tahun. Jadi bukan salahnya juga jika ingatannya blur.
"Nama yang aneh untuk sebuah toko permen." Komentar Mikasa, Eren dan Armin hanya mengangguk setuju.
Mereka sampai di Al-Sekoting tepat jam 9 pagi. Ya, memang Al-sekoting cukup jauh, sekitar satu jam dengan menaiki HOMonorail. Jika ada yang bertanya HOMonarail apa, itu adalah kendaraan yang baru di resmikan di kota itu. Kebetulan jika ingin ke Al-Sekoting mereka cukup menaiki HOMonorail sekali, menuju stasiun YUP-1 yang tepat berada di depan jalan Al-Sekoting.
"Hoaaaaa!"
Itulah reaksi ketiga teman kita yang baru memasuki toko permen itu. Bagaimana tidak kagum, jika tempat yang kau masuki adalah syurga permen. Armin sampai mengira tempat itu adalah replika dari rumah permen dalam cerita Hansel and Gretel. Mikasa yang dingin pun sampai membuka mulutnya karena melihat stok permen di etalase dengan berbagai macam bentuk, warna, dan rasa.
"Hei, bocah! Jika kalian hanya bengong di sana tanpa membeli, sebaiknya kalian pergi saja dari sini. Merusak pemandangan saja."
Suara baritone itu membuat ketiga bocah tadi mencari dari mana asal suara itu. Dan di sanalah orang itu, duduk manis –ralat duduk sangat sopan dengan mengangkat kakinya ke atas etalase kasir sambil memakan sebungkus, Yupi?
"Eh, maaf. Kami ingin beli kok!"
Armin yang pertama sadar pun menarik kedua temannya untuk masuk lebih dalam ke areal toko itu. setelah merasa berada di tempat yang tak terekspos dari pandangan si kasir Armin pun menghela nafas lega.
"Kasirnya menyeramkan sekali." Ucapnya.
"Armin, Eren mana?" tanya Mikasa saat saudara angkat tercintannya tak berada di sampingnya.
"Eh?"
Sibuk karena temannya tak ada dua orang itu pun mencarinya, Eren sendiri sedang berada di depan kasir mengamati apa yang dimakan sang penjaga kasir.
"Mas, itu apaan?" tanyan polos, perempatan siku imajiner pun muncul di pelipis si Kasir berwajah datar itu.
"MAS? Sejak kapan kau menjabat jadi adik ku? " Sarkastik sang kasir menyindir panggilan Eren.
"Eh? Ma,maaf. Maksudku sir!"
"Ck! Akan ku maafkan kau karena bertanya mengenai apa yang ku makan. Panggil aku Levi. Itu namaku." Ucap Si kasir, modus –ah, maksudnya memperkenalkan diri.
"Umm, baiklah. Sir Levi." Si kasir bernama Levi pun tersenyum.
"Ini Yupi, permen terenak sejagat raya." Jelas Levi, berlebihan.
Eren bengong.
"Kau tidak percaya?" Eren mengagguk. "Tsk! Baiklah, kau boleh mencobanya tapi hanya satu!"
Ekspresi Eren langsung berubah, layaknya seorang anak kecil yang baru dapat mainan baru. Eren baru akan menyentuh yupi itu, namun sang pemilik menarik kembali yupinya. Eren menatapnya bingung.
"Kau yakin mau? Kau tidak akan berbuat macam-macam padanya kan?"
"HAH!?"
Akhirnya Eren bersuara, setelah dari tadi hanya pasif berekspresi-ria. Ya, siapa juga yang tidak syok, jika kau dituduh akan menyakiti seonggok yupi. Pliss! YUPI dan hanya satu biji! Pliss!. Eren frustasi dengan penjaga kasir aneh didepannya itu. Levi benar-benar memperlakukan yupi itu bak anak perawan yang akan dibawa pacarnya malam mingguan. Sabar ren, sabar!, pikir Eren menenangkan diri.
"Tentu saja, Eren akan langsung memakannya kok." Ucap Eren, mencoba tersenyum untuk meyakinkan.
Namun sepertinya Levi masih tidak rela, ia memandang yupinya dengan tatapan sayu kemudian memandang Eren dengan datar. Hal itu berlangsung tiga kali, hingga akhirnya Levi pun menghela nafas dan memberikan sebungkus kecil Yupi rasa strawberry itu. Eren pun bereuforia dalam hati.
"Hoaa, enak!" komentar Eren setelah berhasil memakan permen kenyal dengan taburan gula itu.
"Tentu saja. Tak ada yang tak suka yupi, kau tahu."
Eren hanya tersenyum mengiyakan. Permen itu memang enak sih, manis dan sedikit asam. Entah kenapa Eren langsung suka.
"Aku mau beli!"
"Tidak dijual."
"Heh?!"
"Kau tidak dengar, Yupi tidak di jual. Ini milikku." Aura posesif Levi menguar, ia mengeratkan pelukannya pada bungkusan yupi ditangannya. Eren menganga tak percaya.
Armin dan Mikasa pun mendekati Eren, sebenarnya dari tadi mereka hanya melihat dan mendengarkan percakapan absurd RivaEren dari jauh sambil memilih permen di toko itu. namun melihat Eren yang tiba-tiba syok karena tak bisa membeli yupi, mereka pun mendekatinya.
"Eren?" Armin menepuk pelan pundak Eren untuk menyadarkannya.
"Eh? Ah! Pokoknya Eren mau yupinya!" sikap manja Eren kumat.
"Ini tidak dijual bocah!" Levi bukan orang yang pengalah jika mengenai yupi.
"Eren sudahlah, kita beli yang lain saja." Armin mencoba menenagkan Eren.
"Eren maunya Yupi!"
"Eren kita pulang," akhirnya Mikasa menyeret Eren, karena tak tahan dengan tingkah Eren yang kekanak-kanakan. Eren sendiri memberontak, tapi ingat Mikasa jauh lebih kuat jadi usaha Eren jelas-sia-sia.
Di saat keributan itu berlangsung suara pintu terbuka dan langkah seseorang memasuki toko mengalihkan mereka. Di pintu itu ada seorang gadis berambut coklat sedang menatap bingung ketiga anak yang di depannya, Mikasa yang sedang menyeret Eren yang berontak dan Armin yang mencoba menenangkan Mikasa.
Namun kemudian pandangan gadis itu beralih ke meja kasir, ekspresinya langsung berubah kesal. Eren dkk pun ikut melihat ke arah kasir dan Levi menghilang. Bahkan Eren pun mencoba mencari di bawah kasir, barangkali Levi bersembunyi di sana. Namun nihil, orang itu memang sudah menghilang entah kemana. Gadis tadi pun menghela nafas.
"Tsk! Gagal lagi nagih arisan." Dumel si gadis tadi, Eren dkk bengong. Gadis itu pun berbalik dan berjalan keluar.
"Selamat,"
Ucapan lega seseorang mengalihkan pandangan tiga bocah itu dari pintu masuk ke arah kasir, lagi. Levi sudah kembali, tentu saja itu membuat mereka terkejut.
"Ka,kau. Ba, bagaimana. Bukan tadi kau tidak ada?!" Eren sedikit merinding takut-taut Levi hantu yang bisa menghilang dan muncul tiba-tiba.
"Aku hanya bersembunyi di Toilet, Petra pasti mau nagih uang arisan jadi aku bersembunyi." Jelas Levi,
anak-anak tadi cengo seketika. Ah, mereka terlalu banyak terbengong-bengong dan terkejut dengan kasir aneh ini. Lelah rasanya.
Parapapapa_SKIP TIME_Parappapa
Di sekolah Eren kembali galau, Eren juga tidak tahu kenapa. Bukankah ia sudah pergi ke toko permen itu dan toko permen itu juga masih sehat wal a'fiat. Tidak ada cacat bahkan terkesan sangat baik untuk ukuran sebuah toko yang sudah berumur. Mungkin ia galau karena tidak berhasil membeli yupi. Ya, kemarin ia lupa setelah kejadian lelahnya berinteraksi dengan sang penjaga kasir aneh itu. ia baru ingat saat sudah sampai rumah, untunglah Mikasa membeli beberapa permen jadi setidaknya bisa sedikit menenangkan Eren malam itu.
Ngomong-ngomong tentang penjaga kasir, Eren sadar ia memang dari semalam memikirkan Levi. Eh? Sadar bersitan apa yang ia pikir mukanya mendadak panas.
"Ngapain aku memikirkan penjaga kasir aneh itu, sih?" dumelnya, tidak mengerti dengan perasaannya ia membenamkan wajahnya yang merah dalam kedua tangannya yang bersilang di atas meja.
"Ren!" panggilan seseorang menghentikan langkah Eren yang akan keluar dari kelasnya.
"Ada apa Jean?" yang memanggilnya ternyata Jean, teman sekelasnya. Jean pun mendekati Eren, ia tidak sendiri Marco dan Thomas bersamanya.
"Mau ikut tidak, Marco baru beli kaset game baru loh!" Seru Jean, semangat.
"Iya, kemarin aku dan Thomas pergi ke toko game dan ada kaset baru jadi aku beli." Terang Marco.
"Maaf ya, tapi Eren ada urusan." Eren hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Urusan? oh iya, kau pulang sendiri? Mikasa dan Armin mana?" tanya Thomas, menyadari dua sejoli lainnya tidak ada di samping Eren.
"Aa, Mikasa sedang ada rapat OSIS bersama Armin. Jadi aku pulang sendiri." Jelas Eren, mereka pun hanya menganguk paham.
"Sudah ya, aku duluan." Dan Eren pun langsung pergi sebelum tiga temannya memaksanya ikut main. Jean bukan orang yang gampang ditolak ajakannya sih.
Eren masih tidak mengerti apa yang terjadi, seingatnya tadi ia ingin cepat pulang kerumah. Tapi kenapa sekarang ia menaiki HOMonorail dan kini berdiri di depan toko permen ini?
"Hei! Bocah, sedang apa kau di sini?" Eren berjengit kaget mendengar suara tiba-tiba di belakangnya.
"Eh?!"
"Eh, bukan jawaban." Ucap orang itu yang ternyata Levi.
"I,itu. Eren cuma lewat kok!" jawab Eren bohong, Levi menaikan sebelah alisnya.
"Sekolah mu tidak di sekitar sini bocah."
"Darimana kau tahu?" Levi mengehela nafas, anak di depannya bodoh atau apa sih, pikirnya.
"Seragammu. Lagi pula kau juga tak tinggal di sekitar sini."
"Sok tahu. Memang kau ketua RT apa."
"Irvin adalah ketua RT di sini, dia teman ku."
Eren kicep.
"Sudahlah, kalau kau mau beli cepat. Toko ku sebentar lagi tutup." Levi pun mempersilahkan Eren masuk, Eren yang diajak pun menurut.
"Eren mau beli yupi."
"Sudah ku bilang yupi tidak dijual."
"Tapi Eren mau, plisss!" Dan jurus jitu Eren pun keluar, Levi diam.
"Ck! Kali ini saja dan hanya satu bungkus, tidak lebih." Dengan ikhlas tidak ikhlas Levi pun menyerahkan satu bungkus besar permen berisi yupi. Eren pun tersenyum bahagia.
"Terima kasih." Ucapnya, Levi hanya mendengus.
"Tunggu di luar." Perintah Levi, Eren bengong.
"Kau bukan dari daerah sini kan, aku akan mengantarmu ke stasiun YUP-1. Jadi tunggu aku, setelah selesai menutup tokonya."
Eren pun mengangguk dan keluar. Ia menunggu di depan toko permen itu. Eren sempat berpikir Levi hari ini aneh, kemarin dia begitu menyebalkan. Kenapa hari ini ia jadi baik? Namun eren hanya mengangkat bahunya tak peduli, hari ini ia cukup senang karena berhasil mendapatkan yupinya.
Beberapa saat kemudian Levi mengajak Eren untuk beranjak pergi dari sana, setelah mengunci pintu toko permen itu. sepanjang jalan mereka hanya diam, Eren ingin mengatakn sesuatu, berbasa-basi, namun urung. Ia tidak mau menghancurkan mood-nya karena ucapan Levi yang kadang bikin sakit hati. Tak terasa mereka pun sampai di stasiun, Eren pun langsung masuk menuju area penjualan tiket setelah pamit pada Levi. Sedang Levi berjalan keluar stasiun.
"Hemm. Sepertinya kau sedang senang ya?" Levi menghentikan langkahnya dan melirik ke arah orang yang berdiri bersandar di dinding depan stasiun.
"Tidak juga. Sedang apa kau di sini, Hanji?" tanya Levi, orang yang berdiri itu ternyata Hanji wanti cantik berkacamata yang sedikit nyentrik.
"Hanya memastikan, apa yang ku lihat benar atau tidak." Jelas Hanji sambil tersenyum lebar, Bikin Levi sedikit kesal.
"Kau ini terlalu kepo." Komentar Levi, kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Habis, orang yang bersamamu tadi menarik sih." Hanji terkekeh geli, entah apa yang lucu. "Jadi kau akan berhenti memakan Yupi sekarang, Rivaille?"
Levi kembali menghentikan langkahnya, sepertinya ia sedikit terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu apa yang ku maksud. Yupi adalah pengganti manis cinta si Dia kan?" lagi, Hanji terkekeh geli. "Kau memang romantis, Rivaille."
"Diam kau. Yupi masih lebih manis dibanding dia." Hanya itu komentar nya dan ia pun mempercepat langkahnya. Hanji sedikit berlari menyusul sahabatnya itu, tawa masih tak lepas, keluar dari mulutnya.
TBC
A/N: haha! Jadinya multichap. Mampus w. /lah. Oke, nambah satu chapter cuz ini udah nembus 2000 kata. Oh iya namanya Rivaille/Levi itu entar dijelasin di chapy depan. Dan terakhir thanks for review and this story follower. I'm so happy~.
Special thanks to, RP Al-Sekoting on Twitter dan antek-anteknya. black roses 00. Om Grisha. Saint-Chimaira and UseMyImagination.
