"Ada apa Labrador?" tanya seorang uskup berkacamata pada seorang uskup yang sedari tadi memperhatikan bunga-bunganya.

"Entah," jawab uskup bernama Labrador itu.

"Hm?" uskup berkacamata yang diketahui bernama Castor itu memandang heran temannya dengan rasa penasaran.

"Sejak kemarin bunga-bunga terus bernyanyi, mereka seperti menyambut sesuatu. Mungkin akan ada sesuatu yang muncul, atau mungkin seseorang yang tidak kita ketahui telah datang."

"Apa itu? Siapa?" tanya Castor semakin penasaran. Terbesit rasa khawatir kalau-kalau hal yang dimaksud Labrador adalah hal yang buruk.

"Aku sendiri kurang tahu, tapi..." wajah Labrador perlahan terangkat memperlihatkan senyuman kecil yang lembut. "Mereka menyambutnya dengan alunan yang begitu ceria."

.

.

.

Disclaimer: 07-Ghost (C) Amemiya Yuki dan Ichihara Yukino

Don't Like, Don't Read!

:: Eyes Of Archangel ::

.

.

"Bagaimana kalau 1000?" tawar pemuda berkulit tan dengan jubah coklat bertundung.

"Ini kristal mahal. Aku mau 2 keping emas!" seru pria pedagang perhiasan.

"Ayolah~~ Masa tidak bisa ditawar, sih? Lagipula uang emas itu susah dicari."

"Tidak bisa, ya, tidak bisa!"

"Aku beli!" seru seorang pemuda berambut light blonde dan terdapat tindik ditelinganya. Wajahnya tampan dan posturnya ramping. Disampingnya terdapat 2 orang yang sepertinya adalah temannya. "Aku bayar dengan 5 keping emas."

"Baiklah," ujar pedagang itu tersenyum sambil menyerahkan bola kristal hijau muda cerah yang dihiasi perak disekelilingnya. "Terima kasih banyak, Tuan."

"Hee..." pemuda berkulit tan itu memasang ekspresi kecewa. 'Aduh~ Dasar pedagang,' ucapnya dalam hati.

"Orang sepertimu, tidaklah pantas memiliki bola kristal ini," ucap pemuda pirang itu dengan nada angkuh.

"Orang ada jenisnya juga seperti mamalia? Memangnya kau orang jenis apa? Monyet?" tanya pemuda berkerudung itu sambil memasang wajah tanpa dosa. Sebenarnya ia sengaja, karena ia tak suka cara bicara dan sikap orang itu. Well, sungguh pemuda tampan itu membuatnya teringat akan seseorang yang menyebalkan di tempat asalnya.

"Apa maksudmu dengan pertanyaan itu!?" seru pemuda pirang itu dengan emosi.

"Tenanglah, Shuri-kun. Ia sengaja membuatmu emosi," ucap salah satu teman dari pemuda bernama Shuri itu.

"Kau tidak mengenalku? Aku ini dari keluarga Oak, namaku Shuri Oak," ucapnya dengan wajah berseri-seri namun masih meninggalkan kesan sombong.

"Maaf, aku orang baru. Kalau boleh tahu, apakah Oak itu keluarga yang kaya?" tanya pemuda berkulit tan. Kali ini ia jujur. Ia sungguh tak tahu siapa Oak, karena ia memang orang baru.

TOENG! Semua yang ada ditempat itu kaget sekaligus sweatdrop mendengarnya.

'Sungguhan! Ia tidak tahu Oak?!' batin mereka shock. Siapa yang tidak tahu Oak, keluarga bangsawan yang terkenal di seluruh distrik.

"Karena itu aku bertanya," ucap pemuda tan itu membuat semuanya kembali kaget. Apakah pemuda ini bisa membaca pikiran mereka?

"Kelihatan dari ekspresi kalian bahwa kalian sangat kaget begitu aku bertanya siapa Oak," ujar pemuda itu lagi sambil memasang wajah malas sambil mendesah pelan, menyadari apa yang dipikirkan orang-orang sekitar.

"Kisama..! Asal kau tahu ya, Oak adalah keluarga yang terhormat di kerajaan. Keluarga bangsawan yang kaya raya dari distrik 2," ucap kedua teman Shuri dengan bangga dan bersemangat. Tampak dari aura dan mimik wajah mereka, sepertinya mereka sangat menyukai keluarga Oak. Lihat saja, mata mereka berkilat-kilat ria dan disekitar mereka terdapat blink-blink yang menyilaukan.

"Hee… Hebat..." gumam pemuda itu. "Aku dari tempat terpencil jadi kurang tahu."

"Ya... Ya... Aku memakluminya jika kau tak tahu. Kau orang baru," ucap Shuri sambil menepuk pundak pemuda itu dan melewatinya begitu saja bersama dua kawannya.

"Hoi, Shuri-san!" panggil pemuda itu, yang dipanggil pun menoleh. "Bola itu sebenarnya peninggalan keluargaku yang hilang. Kalau kau tak mengembalikannya, kau akan kena kutuk. Eh! Maksudku kesialan. Kau harus mengembalikannya padaku!" serunya.

"Hm, aku tak bisa kau bohongi! Bilang saja kau sangat menginginkan kristal ini!" seru Shuri.

"Aku tidak bohong. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan atau pertukaran? Lagipula untuk apa benda itu buatmu?"

"Maaf, aku tak tertarik melakukan kesepakatan dengan rakyat biasa macam kau. Aku akan berikan bola kristal ini pada ibuku," ucap Shuri sambil memamerkan bola tersebut.

"Eh! Begitu rupanya... Aku mengerti..." ujar si pemuda berkulit tan dengan mimik serius.

"Hm?" Shuri dan kawan-kawannya menekuk alisnya heran mendengar perkataan pemuda itu.

"Kau anak yang baik. Kau membeli bola itu karena kau sangat menyayangi ibumu. Aku salah menilaimu. Maafkan aku," ucap pemuda itu sambil tersenyum lembut yang bagi orang sekitar sungguh menenangkan jiwa.

Wajah Shuri memerah dikatakan seperti itu. Sifat tsundere-nya pun keluar. "B-Ba-Baka! Kau jangan seenaknya menilaiku! Jangan salah paham kau!" serunya jengkel dan mulai salah tingkah. "Ayo semuanya, kita pergi!"

"Aku serius dengan perkataanku tadi! Jika kau tak mengembalikannya, kau akan kena sial!" seru pemuda tan itu namun tak digubris sampai akhirnya...

BRUK!

Shuri terjatuh tersandung batu.

"Shuri-kun, kau tak apa-apa?" tanya kedua teman Shuri, kaget.

"Ah, baru saja kubilang sudah kejadian."

"Berisik! Ini hanya tersandung! Ini bukan kesialan seperti yang kau bilang!" teriak Shuri dengan emosi yang sudah meledak-ledak dan wajahnya memerah karena malu. "Ayo, pergi!" ajak Shuri pada temannya. Mereka pergi sampai tak terlihat lagi.

"Apa-apaan kau ini? Membual seperti itu pada dia─" belum selesai penjual bola kristal itu berkata pemuda itu telah memotongnya.

"Anda hanya menjualnya, bukan? Tidak memakainya. Jelas anda tak tahu apa-apa tentang bola itu." Mata pemuda itu melirik tajam penjual kristal membuat yang ditatap bergidik. Dalam hati dia agak heran dengan pemuda ini. Ada apa dengan barang yang baru dijualnya dan siapa pemuda ini?

"Kau sungguh menginginkan bola itu, anak muda?" tanya seorang nenek pedagang sayur yang berada disamping pedagang kristal itu.

Pemuda itu tersenyum lembut namun ada ekspresi lain dari senyumannya, yang jelas ekspresi itu tidaklah bagus, "Apa boleh buat. Ini pekerjaan. Aku harus mendapatkan bola itu sebelum dipakai oleh orang yang tidak tepat."

"Hah?" penjual kristal menyerngitkan keningnya, semakin bingung.

Senyum tak nampak lagi pada wajah pemuda tan itu. Hanya ada wajah datar.

~o~

~oO0Oo~

~o~

"Um..." gumam seorang pemuda yang tengah terbaring di kasur dengan seprai putih.

Merasa ada yang dingin di keningnya, tangannya bergerak menyentuh sesuatu di keningnya. Matanya mengerjap-ngerjap melihat sesuatu yang ia ambil dari atas keningnya. Begitu otaknya berjalan kembali karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali, ia bisa melihat bahwa sesuatu itu adalah sapu tangan putih yang basah.

Beberapa detik kemudian, kesadarannya benar-benar pulih. Langsung saja dia bangun dalam keterjutan. "Ini... dimana?" gumamnya sambil melihat sekeliling.

Ruangan itu begitu luas. Kasur yang ia tempati sangat besar, korden putih transparan membuatnya terlihat seperti tempat tidur raja, di sisinya terdapat meja yang di atasnya dihiasi dengan taplak dan vas bunga. Bunga lily putih tampak segar menyambut mata pemuda itu.

Pintu tiba-tiba terbuka membuat suara decitan, tidak nyaring tapi jelas karena memang ruangan itu sepi.

"Sudah sadar?" tanya seorang pria setengah baya dengan dandanan yang elegan. Dibelakangnya ada dua maid yang membawa nampan, satunya membawa mangkuk dan satunya membawa air putih segelas.

"Siapakah namamu?" tanya pria itu lagi.

"Maaf, bukankah saya yang seharusnya bertanya begitu?" ucap pemuda itu dengan tatapan sayu dan suara yang terkesan lemah.

"Oh, ya... Kau benar. Maaf, atas ketidaksopananku," ucap pria itu tersenyum, tersirat sedikit angkuh pada senyumnya namun juga kesopanan yang sungguh formal.

"Aku adalah pemimpin negeri Barsburg ini, Wolfram Eifeler Barsburg. Senang bertemu denganmu," ucapnya sedikit membungkuk hormat.

Pemuda itu turun dari ranjang dan membungkuk memberi hormat dengan tangan di dada. "Saya Amelion, Yang Mulia. Senang bertemu denganmu."

"Jika aku boleh bertanya, apa yang kau lakukan tadi malam? Kenapa kau masuk ke kamar putriku?"

Keterkejutan nampak pada ekspresi pemuda itu namun ia berusaha setenang mungkin, "Maafkan saya, Yang Mulia. Sejujurnya hamba tidak ingat apa yang terjadi tadi malam. Kepala hamba terasa melayang dan akhirnya tak sadarkan diri. Sungguh, maafkan saya." Sekali lagi pemuda itu membungkuk. Sikapnya sungguh tenang. Beri nilai 100 pada Amelion karena sepertinya ia sangat sukses mengatasi kegugupannya.

Wolfram hanya memandangnya dengan ekspresi datar namun dalam dan tajam. Hening sejenak. Dipandang seperti itu membuat pemuda bernama Amelion merasa tak nyaman. Mungkin seperti ini rasanya dipandang oleh polisi ketika tengah diinterogasi di ruangan gelap dan sunyi, meminta pengakuan bahwa dirimu berbuat kejahatan.

"Untuk sementara kau disini saja tinggal. Kau butuh banya istirahat," ucap Wolfram. Langsung saja para maid meletakan makanan dan minum yang mereka bawa di atas meja.

"Makanlah, kau harus lekas sembuh," ucap Wolfram lagi sambil berbalik meninggalkan ruangan diikuti para maid.

"Terima kasih atas kebaikan Anda," ucap Amelion membungkuk sekali lagi.

"Ya, ampun... Aku sudah membuat susah orang lain," ucap Amelion terduduk di kasur. Entah kenapa ia merasa aneh dengan Raja Barsburg itu. Kenapa ada orang yang menolong seorang pemuda yang tidak dikenal, apalagi pemuda itu sudah lancang masuk ke dalam kamar anak gadisnya? Yah, meski Amelion sendiri tak sengaja. Dan lagi dia raja. Raja, lho. Untuk orang asing sepertinya, rasanya tidak masuk akal kalau seorang raja langsung menemui dirinya.

Sesaat kemudian ia sadar ada yang berbeda dari dirinya. "Baju siapa ini? Dimana bajuku?" ucapnya saat melihat baju putih polos berkerah yang ia kenakan.

~o~

~oO0Oo~

~o~

"Ada apa Chibi Musume?" tanya Frau pada gadis yang ia temui ─Ralat! Yang ia temukan kemarin malam yang kini resmi menjadi budak seorang Teito Klien (meski ia tidak benar-benar menjadi budak).

Gadis yang dipanggil Chibi Musume itu sedari tadi menatap tebing juram yang jaraknya cukup jauh dari tempat dirinya berada. Saat ini Frau dan gadis itu berada di jembatan perbatasan desa yang dekat dengan hutan kecil dimana hutan tersebut menuju desa lain yang jaraknya tak begitu jauh, sedangkan Teito pergi ke pasar membeli makanan. Alasan kenapa Frau memanggilnya Chibi Musume adalah karena memang gadis itu pendek, bahkan lebih pendek dari Teito.

Tak mendapat jawaban dari orang yang ditanya, Frau pun mendekati gadis itu dan melihat arah pandangan gadis itu. "Hoi!" seru Frau sambil menepuk pundak gadis itu. Sontak gadis itu kaget.

"Ah! Frau-san? Ada apa?" tanyanya.

"Apa yang kau lihat?" tanya Frau.

"Ah, nggak ada apa-apa, kok. Hanya..." perkataan gadis itu menggantung saat pandangannya kembali teralih ke tebing tersebut. Frau menaikan alisnya bingung melihat gadis mungil ini kembali terdiam. "Ano..." gadis itu kembali bersuara setelah diam semenit.

"Hm?"

"Boleh, kah aku pergi sebentar? Tidak lama, kok," pintanya langsung menoleh kearah Frau dengan senyuman lebar.

"Kau mau kemana?" tanya Frau mulai mengambil rokok dan menyelipkannya di mulut.

"Itu... Hm... Ada sedikit keperluan. Aku janji tak akan lama."

"Baiklah. Jangan sampai tersesat!"

"Baik!" gadis itu langsung berlari melesat pergi menuju hutan. Frau agak kaget. Dikiranya gadis itu menuju desa, tapi... ada keperluan apa gadis itu di hutan?

"Hoi, mau kemana kau!?" teriak Frau.

"Aku tak akan lama! Nggak jauh, kok!" teriak gadis itu sambil tetap berlari.

"Dasar!" gumam Frau sambil menyalakan rokoknya.

~o~

"Terima kasih, Appel," ucap gadis berambut panjang hitam pada sebuah sapu. Sapu itupun masuk dan menghilang ke dalam buku tebal. "Aku bisa merasakannya... Ada disekitar sini..." gumamnya dengan pelan sambil berjalan lebih dalam lagi ke hutan. Digenggamnya terus kalungnya yang bercahaya kelap-kelip.

"Sekitar sini." Gadis itu langsung berjalan menuju tumbuhan yang paling lebat dan ia menemukan sebuah gua gelap. Ya, itulah tempat yang kini menjadi targetnya. Perlahan gadis itu masuk ke dalam goa yang gelap itu dan menuruni bebatuan yang cukup licin.

Goa itu begitu lembab dan terdapat air. Kemungkinan gua ini terhubung dengan sumber mata air pegunungan. Gadis itu mengenggam tongkat lalu mengayungkannya. Keluarlah cahaya dari tongkat itu. Terangnya tak seberapa, tapi mampu menuntun gadis itu menuju kedalam gua yang gelap gulita.

"Ah! Ada atlar," bisiknya ketika menemukan atlar yang rapuh dan tidak terawat, "Mungkin dulu disini adalah tempat pemujaan bagi roh leluhur atau Dewa. Dan mungkin yang dibawahnya ini adalah tempat untuk pesembahan," dilihatnya berbagai mapan dari kayu, anyaman dan keramik dibawahnya. Diatasnya terdapat kerangka binatang seperti unggas, koin kuno, dan bungkusan-bungkusan.

Dibukanya bungkusan itu satu persatu. Isinya ada berupa uang koin, uang kertas, kerangka binatang, dan...

"Aaah..."

...sebuah bola kristal berwarna peach yang cantik. Wajah gadis itu berseri-seri melihatnya membuat wajahnya sedikit merona.

"Akhirnya..." ucapnya lalu memasukannya kekantong yang berada di ranselnya lalu bergegas keluar. Cukup sulit menaiki batu licin tersebut namun akhirnya ia sampai di pintu gua.

"Selamat datang," ucap seorang pria tak dikenal. "Kau pasti lelah, mau minum?" tanyanya dengan senyum ramah sambil menyodorkan sebotol minuman.

"Anda siapa?"

.

.

To Be Continue...

.

.

Note:

Baka = Bodoh

Urusai = Berisik/ Cerewet

Chibi = Kecil/ Pendek.

Musume = Gadis/ Anak perempuan