"Masih lama?" Sasuke menatap bosan dan sesekali mengedarkan pandangannya kearah lain. Dengan jubah hitam yang dipakainya membuat ia begitu menonjol diantara banyaknya manusia yang berlalu lalang. Mereka semua adalah santapan lezat baginya.

Sakura mendenguskan nafasnya pelan, "Entahlah, aku tidak mengerti mengapa Minggu ini banyak sekali orang yang mengantri di ATM." Balas Sakura jujur. Biasanya tidak pernah sepenuh ini, dan rata-rata orang yang akan melakukan transaksi adalah perempuan.

"Hn, lebih baik aku pergi." Gumam Sasuke dan melihat awan yang mendung dan mendukungnya untuk berkeliaran di bawah langit –dikehidupan manusia.

"J-jangan, tunggu sebentar saja. Jika kau pergi dari sini, kau bisa menyesal tidak menemukanku selamanya." Ancam Sakura, walaupun ia tidak yakin ancaman ini akan menahan Sasuke untuk tetap bersamanya.

"Nona, kita baru saja bertemu dan satu jam yang lalu berkenalan. Bagiku tidak masalah jika sekarang aku juga tidak akan bertemu dengamu lagi." Balas Sasuke, namun ia tidak bergeming seolah menuruti ancaman Sakura.

"Jadi alasanmu masih berada disini?" tanya Sakura mengernyitkan alisnya.

Bukannya menjawab apa yang ditanyakan gadis itu, Sasuke justru mendorong Sakura untuk segera masuk kedalam ATM sebelum didahului oleh orang lain lagi. Dan jadinya, Sakura tidak mendengar jawaban apapun dari mulut lelaki itu.


Meet to Split Up

"Mati untuk hidup, dan mati selamanya"

Bagian Dua

.

.

.

Pairing : Sasuke U & Sakura H

Rated : M (untuk beberapa adegan yang bisa saja muncul)

Genre : Drama

.

.

.


"Dengar aku lelaki aneh, kau tidak tahu sebesar apa rasa maluku saat orang-orang yang melewati kita melihatmu dari atas kebawah! Mungkin, kau tidak aneh bagiku. Tapi mereka justru mengira kau sedang merayakan pesta hallowen bukan pada waktunya!" Sakura beberapa kali menekankan kalimat yang dirasanya perlu untuk digaris bawahi.

Ia mengajak Sasuke masuk kedalam mall, jumlah uang yang dikirim oleh Ibunya cukup untuk bekal dan membeli beberapa setelan baju untuk Sasuke –pacarnya.

Sekarang, Sasuke sedang berada diruang ganti dan Sakura sedang menunggunya diluar. Sesekali banyak lelaki yang mencuri pandang karena mereka cukup heran dengan keberanian yang dimiliki Sakura. Tetap berdiri didepan pintu ruang ganti seorang diri tanpa melakukan kegiatan apapun lagi.

Pintunya dibuka dan menampilkan sosok Sasuke yang keluar dengan style anak muda jaman sekarang. Baju polos berwarna putih dengan celana jeans dan model robekan khusus dibagian lututnya membuat ketampanannya 3 kali lipat meningkat. Sakura menelan ludah, namun beberapa detik kemudian kesadarannya sudah kembali pulih.

"Bagus, bagus sekali jika kau yang memakainya. Ayo, Sasuke. Kita harus berbelanja keperluan lainnya." Sahut gadis itu senang. Ia menarik lengan Sasuke dan merebut kantong baju yang kini berisikan jubah yang sebelumnya Sasuke kenakan.

Mereka berjalan bersampingan tanpa rasa risih dan malu lagi, terlebih itu untuk Sakura –karena Sasuke tidak begitu memedulikan keadaan sekitar mereka. Dengan Sakura yang mengenakan kaus polos putih dan hotpans jeans membuat mereka sangat serasi satu sama lain.

Banyak sekali pasang mata yang tertarik untuk terus memerhatikan sosok Sasuke dengan rambutnya yang unik dan sosok gadis cantik disampingnya. Sakura sesekali menolehkan kepalanya kearah gadis lain yang mencuri pandang kearah Sasuke. Dan rasanya antara peduli dan tak peduli.

"Apa manusia selalu menjadikan tempat ini sebagai sumber makanan?" bisik Sasuke disamping telinga gadis itu.

Sejenak Sakura tertegun seketika dengan badannya yang menegang, namun kemudian ia menganggukan kepalanya ragu-ragu. "Disini banyak sekali kebutuhan yang bisa kami beli, dan jika itu memang diperlukan." Jelas Sakura kembali memilah buah-buahan yang pantas nanti ia makan diapartemennya.

"Untuk makhluk bernafas sepertimu apa kau tidak merasa sesak?" tanya Sasuke lagi, dan kali ini ia tidak mendekatkan badannya. Reaksi awal tadi cukup membuat Sasuke paham apa yang dirasakan Sakura lewat gerakan badannya.

Tatapan mereka bertemu dan Sakura buru-buru memasukan buahnya dengan asal menghindari kontak mata lagi untuk menyelamatkan debaran jantungnya yang berdebar dengan kencang. "Sepertinya tidak. Aku tidak paham sesak maksudmu, tapi aku merasa baik-baik saja disini." Jelas gadis itu mengarahkan trollynya kearah pelayan khusus penimbang buah-buahan.

Sasuke diam, ia tidak menanyakan hal yang macan-macam dan kedengaran tidak logis untuk orang yang pertama kali bertemu dengannya. Ia membuntuti langkah Sakura yang berjalan kesana kemari mencari semua kebutuhan pokok dengan uang yang tersedia dalam dompetnya.

Tidak ada protes lagi, dan justru Sasuke seakan menikmati shopping Sakura untuk pertama kali. Ada satu kejadian, dimana Sakura yang memintanya mengambilkan sabun cuci di jajaran paling atas dan tubuhnya yang tidak cukup tinggi sampai ia tidak dapat mengambilnya.

Sasuke melakukan hal itu, apa yang Sakura inginkan. Banyak juga beberapa gadis dan wanita yang berdecak menduga jika mereka pasangan kekasih dengan kemesraan mereka. Padahal Sakura tidak bisa mengatakan iya jika ada siapapun menanyakan hubungan apa yang dijalin mereka, bahkan ini adalah pertemuan yang tiba-tiba.

"Rasanya aku lapar, kau mau menemaniku makan?"

Kepala Sasuke menggeleng pelan, "Kapan kau pulang?" tanyanya dengan nada mengintrogasi.

"Astaga, aku lapar. Kau sudah meminta darahku, dan kali ini giliranku untuk makan. Jadi, kau harus membalas apa kebaikan yang sudah kuberi." Balas Sakura mendelik tajam.

Tidak ada pilihan lain sepertinya, dan Sasuke tidak menjawab apapun meski ia ingin. Ia turut diam dan mengalah mengikuti langkah Sakura menuju cafe terdekat dari mall Konoha. Gadis itu tidak menjinjing belanjaan apapun dan memberikan semuanya pada kedua tangan Sasuke.

Entahlah, awalnya Sasuke melihat isi nota yang harus dibeli gadis itu tidak banyak, tapi saat mereka sudah sampai ditempatnya, mendadak banyak sekali barang dan jenis makanan yang Sakura beli dengan alasan ini itu –menjurus pada kebutuhan manusia —biasa.

Sasuke dan Sakura, mereka duduk berhadapan dikursi yang hanya disediakan 2 untuk 1 meja. Barang belanjaan gadis itu pun Sasuke simpan disamping tempat duduknya sekarang. "Jangan memakan darah babi." Lelaki itu secara tiba-tiba berkata dengan nada yang terdengar cukup serius.

Sakura mengernyit bingung, tidak ada daging babi dicafe kecil seperti ini, tapi kemudian ia mengulum senyum tipis ketika melihat dimeja sebelah mereka ada orang yang sedang memakan hamburger dengan begitu lahap. Sakura tahu jika makanan itu tidak benar-benar dipesan dicafe ini.

Ia hanya membalas ucapan Sasuke dengan anggukan kepala ringan. "Jangan khawatir, aku tidak pernah memakan daging babi. Mereka terlalu jorok, sering berada di tanah kotor." Jawab gadis itu dengan mantap.

Bagi Sasuke jika ia meminum darah babi, apabila ia sedang merasa kebingungan atau harus mempersiapkan diri untuk pernikahannya bersama wanita yang dipilihkan sang Ayah –sebelum insiden malam terjadi tiba-tiba. Untuk keadaan biasa saja Sasuke tidak pernah mau meminum darah babi secara Cuma-Cuma. Baginya darah babi, minuman dengan tingkat kelezatan rendah.

"Kau melamun Sasuke, apa kau sedang memikirkan alasanmu sampai kedunia kami?" Sakura menatapnya dengan cemas, ia memegang lengan Sasuke yang tersimpan diatas meja hingga lelaki itu menatap kearahnya.

"Hn, aku tidak mau dan tidak bisa menceritakan apa-apa. Kau tidak akan mengerti alasan apa yang membuatku sampai disini, hingga sampai pada akhirnya kau tahu alasan apa tanpa harus dijelaskan." Jawab Sasuke kembali menundukan kepalanya.

"Aku ... aku tidak tahu apa-apa, kau benar. Tapi jika kau merasa memerlukan seseorang untuk kau limpahkan kekesalanmu, mungkin aku bisa menerima itu semua. Mengingat keadaanmu yang tidak baik, saat pertemuan pertama kita tadi, sudah kusimpulkan jika kau sedang dalam keadaan terdesak untuk bisa pergi ke tempat ini. Benarkah begitu?" harap-harap cemas, Sakura memandang Sasuke memintanya untuk sekedar membalas ucapannya meskipun dengan gerakan badan.

"Ya. Itu memang salah satu alasannya. Minumanmu, sudah datang." Sasuke buru-buru memotong ucapannya sendiri, dalam jarak sepuluh meter dari tempat duduknya, ia sudah merasakan kehadiran pelayan yang membawakan jus strawberry pesanan gadis ini.

Tanpa Sakura sadari, aura jaga-jaga Sasuke mulai keluar. Ia merasakan hawa lain sekarang, bukan dari manusia, bukan dari bangsa nya sendiri, melainkan dari sosok siluman yang tidak bisa ia ketahui bagaimana wujudnya.

"Sakura-chan? Sedang apa kau disini?"

"Naruto?"

"Eh? S-siapa kau?" Naruto menatapnya terkejut, pertanyaan ambigu dan Sakura tidak tahu pertanyaan apa yang sebenarnya Naruto tanyakan, ia hany mencoba menjawab tanpa melihat pandangan yang dilemparkan Naruto pada Sasuke begitupun sebaliknya.

Tatapan dan aura membunuh yang mereka tunjukan satu sama lain.

"Uchiha Sasuke, kekasihku Naruto. Dan ini Uzumaki Naruto, teman sekaligus sahabatku sejak kecil." Jelas Sakura memandang bergantian kearah dua lelaki yang kelihatan salah tingkah. Seharusnya Sakura tidak mengenalkan mereka berdua, karena Naruto maupun Sasuke, tidak ada yang berniat untuk menjalin hubungan baik.

Bersambung


Author Note

Ayooo tunggu ya updatenya, tunggu juga spesial di tanggal 29 aku akan update lagi sekaligus peringatan hari ULTAH AUTHOR (: see u next chap!