X-Change
By : shinsungrin
Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC
Genre : Romance
Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro
Empat Tahun Kemudian_
Matahari mengintip disela sela gunung Fuji, meniupkan gelombang hangat yang perlahan-lahan turun ke permukaan. Beberapa embun sudah mulai menghilang dari hijaunya dedaunan. Beberapa ayam berkokok merasa terusik dalam tidurnya, sementara para manusia segera terbangun dari lelapnya, kebanyakan karena mendengar suara alarm yang berbunyi dari handphone atau jam waker mereka. Angkutan umum mulai beroperasi, meninggalkan satu halte ke halte lainnya untuk menjemput manusia yang tengah berjuang pagi pagi buta demi mempertahankan sesuap kehidupan. Suara bising panci dan kompor yang menyala juga ikut andil dalam kehidupan pagi hari di pinggiran kota Tokyo.
Seki-Juku, sebuah kota lengang yang dihiasi oleh beberapa rumah antik peninggalan zaman edo dan meiji. Jika kalian merupakan salah satu penggemar arsitektur kuno, kota ini merupakan destinasi yang tepat untuk berlibur. Selain bangunannya yang klasik, ada cerita klasik juga disini. Lebih tepatnya cerita itu bermula dari sebuah rumah kuno milik keluarga Kim.
Sinar matahari yang masuk melalui celah celah gorden mengusik pemuda umur 16 tahun yang tengah terjaga itu. Jam waker yang ada dikamarnya tidak berhenti berdering, sukses dicampakkan oleh pemiliknya. Kelopak matanya yang besar pun perlahan membuka, menampilkan sebuah bola mata cokelat besar yang begitu memikat. Dengan malas, ia mengucek matanya dan menguap untuk yang terakhir kali. Meregangkan tubuhnya merupakan hal rutin yang ia kerjakan setelah bangun tidur.
"Se-selamat pagi Tu-Tuan Muda.."
Seketika arwah Tuan Muda kembali ketempatnya semula, dengan frustasi ia membenamkan wajahnya ke tangannya. "UMMAAAAAAA!"
.
.
"Aw" Suara rintihan terdengar dari ruang keluarga Kim.
"Tahan sebentar!" Ucap seorang pria berkuliat pucat. Dahinya berkerut, tangannya sibuk mengobati luka memar pada tiga orang ajudannya yang kini tengah duduk merintih di ruang keluarga. Pria itu memegangi dahinya yang berkedut, pusing memikirkan kejadian pagi ini, pagi kemarin dan pagi pagi yang akan datang.
"Jangan pernah membangunkanku lagi, ingat itu!" Ancamnya
"Jangan marah begitu Jaejoong-ah, mereka hanya menjalankan tugasnya.." Ucap seorang pria tua yang tengah menyeruput segelas green tea panas diruang makan.
"Kakek mau membuat aku menjadi pembunuh?" Ucap Jaejoong sewot
"Sudah menjadi darahmu.. Keluarga Kim adalah klan Yakuza terhebat di Jepang.." Kakek Jaejoong menjawab dengan santai sambil menyeruput tehnya.
Jaejoong menepuk dahinya, "Umma~" Rengeknya. Ia muak membicarakan topik ini dengan kakeknya. Tidak membantu banyak, ibunya hanya memberikan tawa kecil untuknya. Yeah.. this isn't going to work.
Kim Jaejoong adalah putra satu satunya dari Kim Chanhoo. Semenjak empat tahun terakhir ini, dia memiliki masalah yang cukup pelik dengan tidurnya. Kebiasaan tidur malam dan bangun kesiangan bagi remaja adalah hal yang lumrah. Akan tetapi, hal itu akan menjadi tidak wajar apabila setiap bangun tidur Jaejoong selalu melihat 3 pengawalnya terkapar dikamarnya demi membangunkan dia seorang. Entah apa yang merasuki jiwanya saat itu? Yang jelas Tuan Muda Kim Jaejoong ini tidak suka dan ingin menyudahi ketidak normalan yang ia miliki saat ini.
"Tidak usah khawatir Tuan Muda, kami bisa mengatasinya kok" Ucap salah satu pengawalnya, Ishida.
"Khawatir apanya? Aku hanya tidak ingin kalian mati konyol!" Omel Jaejoong lagi. Ketiga pengawalnya hanya bisa menelan ludah. Meninggal karena membangunkan orang tidur bukanlah hal yang elit untuk menjadi alasan bagi kematian seseorang. Membangunkan Jaejoong menjadi terkesan seperti membangunkan medusa dari tidurnya.
"Sudahlah yang penting jangan ada yang membiarkan kalian membangunkanku lagi!" Ancam Jaejoong sekali lagi kali pandangan tertuju pada Kakek dan Ibunya. Dua orang keluarganya tidak menggubris sama sekali, menghela nafas, Jaejoong akhirnya melenggang pergi kesekolah.
.
.
Bis berwarna kuning berhenti tepat di halte milik SMA Tohou. Suara bising mulai terdengar ketika pintu bis bergeser terbuka. Beberapa murid sibuk mengobrol dengan temannya dan beberapa murid lagi sibuk mengatakan terima kasih kepada pak supir yang sudah mengantar mereka pagi ini. Tuan Muda Kim Jaejoong merupakan salah satu penumpang di bis itu, diwajahnya masih tergambar jelas moodnya yang kurang enak pagi ini.
Jaejoong melangkahkan kakinya tak peduli untuk menyapa orang orang di sekitarnya. Bukan karena dia tak mau, melainkan ia tak terbiasa melakukannya. Tumbuh dan hidup dalam lingkungan Yakuza bukanlah sesuatu yang di inginkan Jaejoong. Ia ingin menjadi seorang anak normal yang dapat berpergian kemana pun tanpa harus takut terbunuh dengan keluarga Yakuza lain. Pergaulan Jaejoong sangatlah terbatas, teman terbaiknya selama ini adalah tiga paman yang selalu membangunkannya setiap pagi dan mengantarnya kesekolah selama 10 tahun. Hanya keluarganya dan ajudan keluarganya. Jaejoong menghela nafas panjang. Walaupun keluarga Kim merupakan keluarga Yakuza terbesar di Jepang, hal itu tidak membuat kesepian yang ada dihati Jaejoong hilang begitu saja. Bayangkan saja, dari kecil kau tidak pernah memiliki teman dekat yang sebaya denganmu. Kehidupanmu didominasi oleh om om yang selalu memanggilmu 'Tuan Muda'. Jaejoong ingin lepas dari itu semua, dia ingin menghabiskan masa remajanya dengan normal.
"Jaejoong-ah?"
"Jae-hyung.."
Dua suara dari samping kanan dan kirinya membuat Jaejoong terlonjak dari tautannya. Jaejoong menoleh untuk memandang dua temannya yang kini memandanginya bingung. Ia tersenyum lirih, "Junsu-ah, Yoochun-ah.."
Junsu dan Yoochun adalah satu satunya teman sebaya yang dimiliki Jaejoong. Junsu masih memiliki hubungan darah dengan Jaaejoong, ia sepupu Jaejoong dari Kyoto. Kini Junsu memilih tinggal di Seki-Juku karena merasa nyaman setelah berkenalan dengan Jaejoong yang usianya tidak jauh berbeda dengannya. Yoochun sendiri berasal dari keluarga Yakuza seperti Jaejoong pada usianya yang ke 15 tahun, ia bertemu Jaejoong disebuah pertemuan keluarga. Keluarga Yoochun dan keluarga Jaejoong merupakan teman baik, Yoochun sendiri merupakan pewaris tunggal dari Klan Park. Berbeda dengan Jaejoong, Yoochun menerima takdirnya untuk menjadi seorang Yakuza. Sejak kecil ia sudah di bekali latihan latihan ketangkasan. Pada usia 13 tahun Yoochun sudah menjadi seorang yang mahir dalam menggunakan pedang dan bela diri. Kini diusianya yang ke 16 kemampuan berpedang dan bela dirinya sudah hampir menyamai kemampuan yang dimiliki oleh kakek Jaejoong.
"Bermasalah dengan tidurmu lagi?" Tanya Yoochun sambil merapikan rambutnya ke atas agar tidak ketahuan oleh petugas kedisiplinan sekolah.
Jaejoong mengangguk pelan,
Junsu menghela nafas. "Sudahlah Jaejoong-hyung, jangan difikirkan"
Tepukan pelan dari Junsu di bahunya sedikit mengusir rasa bersalah dalam dirinya. "Thanks Su" gumamnya sambil tersenyum.
Yoochun tersenyum sambil menggamit tangan Junsu yang wajahnya kini memerah karena malu. Jaejoong terkejut melihat tingkah kedua temannya itu, ia tertawa.
"Kalian?" Tanya Jaejoong yang tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia yang dengan sendirinya keluar dari mulutnya
"Yap!" Mengerti akan kata yang tidak dilanjutkan oleh Jaejoong, Yoochun menjawabnya mantap.
Junsu menyikut bahu Yoochun yang ada disampingnya, "Yah! Park!"
Jaejoong tertawa melihat kedua pasangan yang tengah dilanda asmara itu. Mungkin hari ini tidak begitu buruk, batin Jaejoong. Mungkin.
.
.
Suasana riuh menghiasi ruang kelas 3-B. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 7, masih ada beberapa bangku yang belum terisi oleh pemiliknya. Hampir semua siswa sibuk bergerombol dan mengobrol. Selama tidak ada guru yang mengajar, duduk di meja merupakan hal lumrah bagi anak-anak yang sedang beranjak dewasa ini. Papan tulis pun bebas untuk di coret coret sesuka hati. Untungnya, remaja remaja seusia mereka sudah mengerti akan tanggung jawab sebagai seorang murid. Ketika guru datang maka mereka akan bersikap disiplin seperti biasa.
Bel yang ditunggu datang. Membungkam seluruh obrolan dan menggantikannya dengan suara derakan kursi yang digeser. Semua murid telah duduk ditempatnya. Begitu pula Jaejoong dan Yoochun yang sudah rapi di tempat duduknya. Mulut tidak lagi terbuka, hanya pandangan malas yang tertuju ke papan tulis kosong.
Seorang pria paruh baya masuk ke kelas dengan setelan kemeja dan celana bahan hitam dan putih. Pelajaran pertama di pagi hari ini adalah matematika. Semua sekolah tentunya ingin muridnya lulus dengan nilai sempurna dan meneruskan pendidikannya. Hal ini sepertinya salah satu strategi sekolah Jaejoong dalam menangani murid-murid tahun terakhirnya. Strategi yang cukup bagus.
Dengan adanya aba-aba dari ketua murid, semua murid memberi salam kepada guru yang baru datang. Ritual setiap pagi. Guru matematika itu berdeham, berharap mencuri perhatian dari murid-muridnya yang ada diruangan.
"Hari ini kita kedatangan teman baru.." dengan mengucap 'silahkan' pelan seorang pemuda masuk ke kelas Jaejoong.
Pemuda itu terseenyum ramah, menampilkan sederetan gigi putih rata yang dimiliki. Pemuda itu cukup tinggi, Jaejoong menaksir tingginya lebih dari 175cm. Kulitnya yang kecoklatan terlihat kontras dengan seragam putih yang ia kenakan saat ini. "Konichiwa Minna-san!" suaranya yang berat memenuhi ruangan kelas, ia kemudian menunduk. "Namaku Yunho.. Mohon bantuannya!" lanjut pemuda bernama Yunho itu. Ada sesuatu dalam senyuman pemuda ini yang membuat beberapa nafas para gadis di kelasnya itu tertahan.
Jaejoong memandangi pemuda itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Berharap ia bisa langsung menebak kepribadian dari laki-laki yang memiliki senyum ramah itu. Senyumnya ramah? Ya? Senyumnya?
Setelah memperkenalkan diri, Yunho dipersilahkan untuk menuju ke bangkunya. Ia membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya menjauh dari depan kelas. Jaejoong yang masih larut dalam fikirannya, dengan tidak sengaja mengikuti arah kemana pemuda bernama Yunho itu pergi. Yunho mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut kelas dimana ia merasa ada sebuah aura kuat yang tengah memandanginya. Bibirnya mengembang memberikan senyum dan sebuah kedipan kecil kepada pemuda cantik yang berada disudut itu. Seketika arwah Jaejoong kembali ke Bumi, tertangkap basah sedang memandangi seseorang ia berdeham kecil dan kembali menjaga fokusnya ke depan kelas.
"Shit!" umpat Jaejoong pelan
.
.
Hari senin merupakan salah satu hari yang sukar di akhiri. Senin dan selasa. Jam terasa berdetak lebih lambat ketika memasuki hari senin dan selasa. Hal sebaliknya terjadi pada hari sabtu dan minggu. Tuhan Maha Adil, mungkin ia telah mengatur waktu pada hari sabtu dan minggu untuk terambil pada hari senin dan selasa. Bel pulang berdering disaat yang tepat ketika kepala anak-anak di kelas 3-B sudah hampir mengepulkan asap.
Jaejoong meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri Yoochun. "Ayo pulang.." Ajaknya kepada Yoochun yang tengah sibuk dengan handphonenya.
Sebuah tepukan di bahunya membuat Jaejoong sedikit terlonjak. "Hai.." ucap Yunho yang sudah ada dibelakang Jaejoong.
Merasa tidak nyaman dengan tingkah laku anak baru yang sok kenal itu, Jaejoong memutar bola matanya. "Apa?"
"Hanya ingin memberikanmu oleh-oleh.. Kebetulan hanya kau dan Yoochun saja yang belum dapat.." Yunho menyodorkan dua buah gantungan handphone berbentuk miniatur Angry Birds.
Jaejoong mengerutkan keningnya, "Yoochun?" tanyanya. Kini pandangannya menuju ke arah Yoochun yang bingung menatap Jaejoong dan kemudian Yunho.
"Ah! Yunho!" Yoochun akhirnya bangkit dari kursinya untuk memeluk Yunho. Jaejoong agak sedikit iritasi melihat tingkah temannya yang satu ini. Yoochun memang memiliki penyakit lupa yang cukup akut. Mudah-mudahan saja dia tidak lupa bahwa Junsu adalah pacarnya.
Yunho membalas pelukan dari Yoochun, merasa bahagia karena teman lamanya mengenalinya. "Apa kabar?"
"Baik, tak kusangka kau kembali lagi ke Jepang.. Bagaimana gadis gadis Inggris?" tanya Yoochun sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Yunho tertawa renyah, "Kau tidak akan percaya bila mendengar ceritaku.."
Jaejoong menatap kedua pemuda itu dengan tatapan tidak percaya. Mereka berdua mengobrol seakan dunia milik mereka, padahal jelas jelas disana ada Jaejoong. Ia berdeham.
"oh Yunho, kenalkan ini Jaejoong.. dan Jaejoong kenalkan ini Yunho, dia teman baikku ketika dulu SD" Yoochun akhirnya memperkenalkan kedua temannya itu.
Yunho tersenyum dan mengulurkan tangan, Jaejoong tidak mau repot repot menggubrisnya. "Kim Jaejoong.." Ucapnya ketus.
Melihat keadaanya yang tidak sesuai rencana, Yunho menarik kembali tangannya dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Yoochun melempar pandangan tak percaya pada temannya yang satu itu.
"Maaf ya Jaejoong setiap bulan memang selalu seperti ini.." ucap Yoochun mencoba mencairkan suasa. Yunho tertawa, sementara mood Jaejoong semakin rusak.
"Tidak apa.. Aku suka pria cantik yang galak" goda Yunho
Jaejoong melayangkan pandangan -WTH-nya kepada Yunho yang masih terkikik. Bulu kuduknya meremang, ia pun meninggalkan Yunho dan Yoochun yang masih tergelak dikelas.
TBC
A/n
bagaimana?
sekali lagi maaf kalo ada typo typo :) heheh
Thanks for Read and Review *big hug*
