Junmeanssi proudly presents
"The Untold Stories : Kim Junmyeon"
"A Meeting"
Casts : Kris/Suho and another appearance.
"Bahkan sebelum bertemu denganmu aku sadar bahwa kita saling terikat"
A/N : Helloooooo. Melalui Author note ini aku mau menyampaikan kalau untuk Monochrome masih dalam tahap pembuatan, bagian –ehem- dewasanya mungkin hanya sekelumit, dan tidak menyinggung mpreg sama sekali. Aku usahakan Monochrome full of fluff dan angsty, bagi kalian yang menyukai fic-ku yang satu itu, harap menunggu dengan sabar ya!
-xoxo-
"Karena pertemuan merupakan awal dari keterikatan kita berdua"
Hari ini udara siang cukup panas dan aroma musim panas semakin tercium dimana mana. Ya, bulan ini merupakan awal musim panas dan aku sendiri masih harus berkutat dengan pekerjaanku. Namaku Kim Junmyeon, kata dosenku, aku salah satu anak emas bimbingannya yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Aku sendiri hanya menganggap diriku seorang mahasiswa biasa, yah mungkin wajahku bisa dibilang tampan tapi tidak setampan dosen yang selalu menyanjungku di kampus, Choi Siwon sonsaengnim. Aku sendiri hidup di lingkungan yang terbilang mencukupi. Hanya tinggal di mansion bersama dengan anjing kecilku, Poodle dan Jjanggu. Tidak ada yang spesial memang. Hidupku benar benar seperti berjalan diatas pasir laut, rata dengan tanah. Orang tuaku sendiri tinggal jauh dariku, mereka berada di Inggris untuk menetap disana dan mengurus perusahaan kami. Walaupun sibuk, tetapi ayah dan ibuku selalu berusaha mengontrol apa saja yang aku lakukan, dan selalu bertanya jika aku kekurangan sesuatu. Karena itulah aku benar benar menyayangi orang tuaku. Walaupun sibuk, mereka masih memperhatikanku.
Tak bisa dipungkiri kalau aku memang merasa kesepian. Tinggal hanya dengan kedua anjing kecilku bukanlah sesuatu yang bagus. Terkadang aku sering bercerita hal ini pada dosenku, dan beliau hanya tersenyum sekilas dan mengacak pelan rambutku. Beliau berkata bahwa aku tidak perlu merasa kesepian karena banyak sekali teman temanku di kampus. Beliau juga menambahkan jika aku merasa kesepian, aku bisa datang ke kampus dan berteman dengan siapa saja. Teman temanku di kampus memang tidak bisa dibilang sedikit mengingat –kata mereka- aku salah satu anak yang cukup populer. Tapi aku hanya menganggapnya predikat sementara karena aku bukan orang yang peduli dengan hal itu.
Teman temanku berasal dari fakultas yang beragam dan aku sangat senang berteman dengan mereka. Salah satu diantaranya adalah Park Chanyeol. Tubuhnya tinggi, tegap, dan wajahnya sangat tampan. Cengirannya yang khas dan tawanya saat membuat lelucon menambahkan sebuah trademark tersendiri untuk dirinya. Dia dijuluki si Happy Virus karena dia selalu tertawa dan terlihat bahagia walaupun banyak masalah yang diterpanya. Contohnya saat dia putus dengan kekasihnya, Byun Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Tidak terlihat memang perubahan wajah yang terjadi pada Chanyeol saat itu, yang jelas aku hanya bisa mengingat tatapan sendunya saat Baekhyun berjalan dengan seseorang yang kukenal, Kim Jongin, mahasiswa seni dan sastra yang saat itu sekelas denganku . Tatapan Chanyeol yangs sendu selama beberapa detik itu langsung berubah dengan cengiran khasnya seolah tidak terjadi apa apa. Ya, itulah Chanyeol. Dia bahkan tidak ingin semua orang tahu bahwa dia rapuh saat kehilangan Baekhyun.
"Aku harus kuat, Hyung. Aku akan menunjukkan bahwa aku bisa tanpanya."
Kata kata Chanyeol saat itu membuat bulu kudukku merinding. Dia benar benar paham soal cinta dan perasaan. Tidak seperti aku, yang buta akan semuanya. Aku belum pernah tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang. Aku juga belum pernah menemukan siapa orang yang aku suka. Aku juga belum pernah menemukan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta. Yang aku kenal hanya kasih sayang orangtuaku dan aku merasa itu lebih dari cukup. Bahkan orangtuaku juga melarangku untuk menjalin hubungan sebelum aku lulus kuliah dan bekerja, dan aku menurutinya. Lagipula sampai saat ini aku belum siap karena aku tidak tahu apa apa soal cinta.
-xoxo-
Hari ini ujian prakerin sudah selesai dan aku berniat menyelesaikan beberapa laporanku di perpustakaan, hari ini aku tidak berjalan bersama Chanyeol karena dia sedang bersiap siap untuk perlombaan basket antar kampus yang akan dilaksanakan 3 hari lagi. Berhubung aku tidak terlalu suka olah raga, aku hanya mengikuti Chanyeol saat latihan dan memberinya semangat. Tak jarang gosip tidak enak justru keluar dari klub basket kampus kami, yang mengatakan bahwa aku dan Chanyeol berpacaran. Kami berdua pun cuma tertawa menanggapinya.
Saat aku berniat menuju perpustakaan, tiba tiba Chanyeol datang membawa salah seorang temannya dan berjalan tepat kearahku. Wajah Chanyeol terlihat sumringah dengan cengiran khasnya. Sementara teman yang dibawa Chanyeol kali ini terlihat menggerutu dan sesekali memarahi Chanyeol.
"Hai hyung!" sapa Chanyeol tepat di depanku
"Oh, hai Chanyeol." Sapaku sambil tersenyum
"Maaf ya hyung aku meninggalkanmu. Soalnya aku ada acara dengan si tinggi ini!" Chanyeol menunjuk teman disebelahnya lalu tertawa sekilas. Aku mendelik. Bisa bisanya dia memanggil temannya sendiri dengan sebutan si tinggi. Oh baiklah dia memang tinggi bahkan tingginya melebihi Chanyeol. Ada raut tidak suka dari teman Chanyeol saat itu dan Chnayeol sendiri hanya nyengir dan menepuk pundak temannya.
"Tidak sopan Chanyeol. Dia bahkan terlihat lebih tua darimu"
"Hahaha, aku cuma bercanda. Dia seumuran denganmu hyung, jadi tenang saja. Kenalkan, ini temanku, namanya Kris Wu. Mulai besok dia akan sekampus dengan kita!"
Ah jadi ini Kris Wu? Hyung yang sangat dihargai oleh Chanyeol itu? Perawakannya tinggi, rambutnya yang hitam, sorot matanya yang tajam, dan wajahnya yang tampan. Benarkah aku melihat seorang manusia? Atau ini justru pangeran berkuda yang datang entah dari mana asalnya?
"Hei hyung, jangan diam saja!" suara berat Chanyeol membuyarkan lamunanku tadi. Ah sial bisa bisanya aku melamun. Padahal kalau memperhatikan seseorang, aku tidak sampai memperhatikannya dengan begitu detail, bahkan perasaan aneh melingkupi hatiku. Aku merasa kalau jantungku serasa copot karena detakannya yang terlalu cepat. Aku pun mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya.
"Ahh i-ya. Namaku Kim Junmyeon."
"Kris. Namaku Kris"
Perasaan hangat ini...apa namanya?
-xoxo-
Ketegangan –ehem- maksudku kesenanganku tidak berhenti sampai disitu, saat Chanyeol memberitahuku kalau Kris masuk ke fakultas yang sama denganku, perasaanku semakin terasa aneh. Ini perasaan yang begitu menyenangkan, begitu lepas. Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang terjadi denganku sebenarnya.
Aku dan Kris duduk bersebelahan dan seperti yang aku kira, pasti banyak murid yang ingin berkenalan dengannya. Namun tanggapan Kris tidak terlihat seperti dia menyukai lingkup barunya itu. Chanyeol juga bercerita kalau Kris itu terkenal dengan bitchface dan auranya yang dingin. Kris memang jarang tersenyum tetapi hal itulah yang justru membuatnya terlihat sangat cool dan tampan.
"U-uh, Junmyeon" panggil Kris. Aku terkesiap dan lagi lagi merutuki kebodohanku yang sesekali menperhatikannya. Aku khawatir apa dia akan risih jika berteman dengan seseorang yang sepertiku. Ya Tuhan aku tidak tahu aku harus melakukan apa jika dia di dekatku.
"Panggil saja aku Suho, semua orang disini lebih suka memanggil dengan nama panggilanku" jawabku. Kris tersenyum mendengar jawabanku, dan menatap mataku intens. Gawat aku – aku- aku- hjajhdfgsjfd.
"Benarkah? Bukankah Suho itu dari kata suhojaro yang artinya guardian?" tanyanya lagi. Tapi kali ini suara Kris lebih lembut. Dan aku suka itu. Suka? Ya ampun tidak mungkin aku menyukainya. Aku bahkan baru bertemu dengannya. Ditambah lagi aku sama sekali tidak memahami perasaanku saat berada di dekatnya. Ya Tuhan apa yang salah denganku?
"Memang benar, tapi aku tidak merasa kalau aku benar benar seorang guardian." Aku hanya menjawab sekenanya. Tangan Kris yang besar itu menggapai rambutku dan mengelus puncak kepalaku perlahan. Perlahan lahan dia tersenyum dan berkata
"Mungkin nanti seseorang akan datang dan dia yang akan menjadi guardianmu"
TBC
