Shingeki no kyojin punya babang Hajime isayama (semua yang perlu saya katakan ada di chapter 1)
Semoga terhibur ^^
.
"aaah...ahh!"
"Levi...Levi"
"ah...ah...ahn...Erwin"
"Levi...nggh"
Kririririring
gubraak, dan Erwin kembali ke kenyataan.
-chp 2: something i couldn't say-
"papa. Eren laper, pa." Surai coklat almond menyembul dari balik pintu. Mata sewarna rumput tersebut menatap sang papa yang masih dalam posisi telungkup di ubin. Jatuh dari kasur.
"oh, ya. Tunggu papa mandi dulu." Setelah mendengarnya Eren memasuki kamar. Mendatangi sang ayah yang berusaha membenahi diri keluar dari kepompong selimutnya.
Setelah berhasil keluar dengan bantuan. Eren yang penuh rasa coklat eh maksudnya ingin tau, menatapi celana sang ayah lekat-lekat
"papa ngompol? Kok celana papa basah?" Eren memandangi celana katun tersebut penuh intimidasi. Erwin ingin rasanya nebeng pesawat luar angkasa Apollo 11 yang tengah lepas landas hanya untuk terjun setelahnya.
Sudah tua masih mimpi basah, ketahuan anak pula...najong bener!
Erwin kelabakan dalam hati, Eren sabar menanti. Bingung penjelasan seperti apa yang yang harus ia suapkan pada anak yang belum cukup umur untuk tau hal macam ini. Ia tidak mau mencekoki Eren dengan pengetahuan yang belum harusnya ia dapati.
Bahkan ia sudah membakar semua buku haram berbasis yaoi dengan rating delapan belas tahun ke atas yang ia temukan tergeletak di kamar Eren dengan api membara di halaman belakang.
"ekhm, kamu belum cukup umur untuk tau..." Maka, setelah mendengar ucapan sang ayah yang bijak tersebut Eren makin penasaran, dengan tanda tanya besar di kepalanya. Berpikir sejenak Eren hendak bertanya lagi
"papa, mimpi basah itu apa? Eren pernah denger dari Eld-sensei, gak sengaja" Nah ini dia yang papa maksud! Pikir Erwin. Sayang hanya bisikan angin yang lewat, bibir si rambut pirang tetap terkatup rapat.
.
Sebenarnya hari sudah memasuki siang hari, tapi karena libur Erwin tak terlalu memikirkannya. Sosok guru bermanik hitam yang ia temui senin lalu membuatnya bangun kesiangan dan mimpi basah di hari senjanya (sekalipun usia Erwin belum terbilang terlalu tua).
Kehabisan bahan makanan, Erwin mengajak sang anak semata wayang hasil kegiatan extraordinary semalamannya dengan almarhumah Hanji smith (sudah menikah ganti marga) berbelanja kebutuhan bulanan.
Sebenarnya Erwin sudah berperan baik sebagai orang tua, tapi sang anak senantiasa mengajak berperang dimana pun dan kapan pun.
Berhenti di sebuah kafe kecil di bilangan Shiganshina, tepat setelah perutnya dan Eren berbunyi meriah seperti musik Keroncong(an) Betawi asli.
Bertekad menenangkan perut yang menggonggong dengan ganasnya, Erwin memilih menggiring Eren masuk ke kafe tersebut, toh sudah lama tak mampir. Seorang pegawai berambut coklat muda dengan name tag bertuliskan 'Farlan' menyapa dengan senyum ramah, hasil latihan otot bibir di rumah.
"lama tak mampir Eren dan Erwin-san!" Sapa riang seorang pegawai sebut saja ia Isabel, ia kembali memeriksa kasir dan memberikan kembalian pelanggan lain. Erwin mengangguk, respon keren ala gentleman. Please, talk less do more (author kopas iklan sebuah rokok)
Duduk dekat jendela, sebisa mungkin hindari AC ruangan. Musim gugur telah tiba, masuk angin sedikit bisa bermetamorfosis jadi lebih parah.
Dan disitulah manik mata biru tersebut menangkap obyek mimpi basahnya, tengah mengelap meja.
"ah, Levi-sensei!" Eren berteriak, tangan kecilnya melambai seolah menagkap udara. Levi menengok, rambutnya terkibas lebai tertiup angin. Berkibar lebai mirip iklan produk shampo. Ini kah kekuatan Sunslik?
Sedetik setelahnya, Levi melempar seorang manusia kurang sayang nyawa yang meniup-niup rambutnya keluar jendela.
"E...Eren?!" Ooc-ness berjamaah
Omelet dan sosis bakar, uap kopi panas mengepul di udara. Eren melahap omeletnya penuh penghayatan, sementara Levi menatap Eren dengan –mesra/bukan –matanya (iya lah menatap dengan mata, masa iya dengan lubang hidung/kecuali ada yang mampu, bisa langsung hub no: 080123456789)
"kerja paruh waktu?" Erwin bergerenyit, menatap si surai eboni sambil menggigit sandwichnya. Si guru bermanik hitam mengangguk. Si kepala keluarga Smith tenggelam dalam delusi, terjebak dalam pesona manik mata Levi.
Heloo, Eren minta perhatian disini! Dan demi mendapatkan perhatian ia menduduki paha Levi. Sepertinya Levi tidak keberatan, justu mengelus surai coklat nan halus tersebut. Eren keenakan, menyadarkan kepalanya ke dada bidang si guru manis tersebut.
Erwin menatap cemburu si anak, ingin rasanya ia bilang 'nak, tukaran sama papa dong. Sudah lama papa gak di elus-elus kayak gitu' tapi sayang harpan Cuma harapan. Hening sejenak.
"hebat juga kau...masih muda sudah cari kerja." Pujian untuk sang pujaan hati. Erwin tersenyum sejuta umat eh makna. Eren menatap senyuman tersebut, itu tanda bahaya. Maka ia meraih dagu sang guru, berbisik pelan di telinga calon ukenya.
Levi menjadi pendengar yang baik sebelum wajahnya merah sempurna, persis kepiting rebus saus asam manis dengan tomat sebagai pelengkap. Seolah berkata 'tau dari mana yang begituan?!'. Erwin menatap bingung kedua manusia tersebut.
"uh, sebaiknya aku kembali bekerja. Tumpukan piring kotor harus kucuci." Levi beranjak dari posisinya, meninggalkan Eren yang tersenyum innocent. Erwin menatap kesal sang anak. Strategi jitu hasil tidur di atas wc.
Berjalan tegap dan tegar, begitu hilang dari pandangan pasangan ayah-anak itu, Levi mepet tembok pundung seketika.
Mau tau apa yang dikatakan Eren? ini rahasia antara Levi dan Eren
"sensei hati-hati sama papa. senyuman berbahaya! Papa juga senyum begitu sebelum ngajak mama ke kamar terus itu-itu sama mama..."
Setan. Bener. Ini. Anak.
.
Dua minggu setelah pertemuan sekaligus pernyataan perang. Di TK Eren mendapat kesempatan mewakili sekolah dalam lomba menggambar. Eren pro dalam menggambar ia menggambar wajah ibunya dengan bagus. Eren masih merindukan ibunya, dan ia tidak mau seorang pun menggantikan ibunya.
Itulah sebabnya apa pun yang terjadi Eren tidak akan membiarkan Erwin menggaet hati Levi dan menikahinya. Dan Eren tidak terima ukenya direbut orang.
"selamat ya Eren! nanti bisa kemping sama teman-teman!" Teriak Rico memeluk tubuh kecil si surai coklat. Jean menatap Eren dari jauh, ngeglare diam-diam. Kesal ceritanya karena Armin kegirangan satu tenda dengan Eren.
"siapa aja guru yang ikut, Rico-sensei?" Sesaat guru berambut perak tersebut terdiam
"sensei, Eld-sensei dan kepala sekolah" Eren cengo mendengar jawaban tersebut
"Levi-sensei gak ikut?"
"sayang sekali, tapi tidak" Praang layar pecah berkeping-keping. Tiga hari dua malam berkemah, KATAKAN PADA EREN SIAPA YANG MAU MENJAGA LEVI DARI SERANGAN PREDATOR BUAS YAITU PAPANYA!
Tidak bisa kalo begini ia akan kalah dalam pertandingan merebut hati Levi. Ia harus menemukan jalan keluar!
.
Eren berjingkat memasuki rumah. Memperhatikan sekeliling. Beberapa saat lagi Levi akan datang, ia harus meyelesaikan misi ini sesegera mungkin.
Memulai misi satu, menggagalkan rencana kemping.
Eren mengeluarkan senjata rahasia, es krim berbungkus-bungkus yang baru saja dibelinya di swalayan dengan uang yang ditinggalkan ayahnya.
Eren mulai memakan si es krim sebungkus demi sebungkus. Dari yang rasa coklat, pisang, sampai strawberi. Tak ada kenikmatan selain rasa es krim vanila berpadu renyahnya cone waffer dengan coklat leleh di atasnya (catatan: bukan ngiklan season 1)
Beralih ke rencana dua, tapi sayang ketukan pintu sudah terdengar. Eren terlambat membuang bungkus es krimnya, tak ada jalan lain selain membuang semua sampai itu di tong sampah di bawah wastafel cuci piring.
Levi di bukakan pintu, Eren tertawa canggung setelahnya. Rencana 2 harus menunggu
Belajar tulis menulis, dilanjutkan latihan baca. Istirahat sejenak sembari menunggu Levi membuatkan makanan. Hari damai.
.
"Eren waktunya mandi!" Levi berteriak sembari mengangkat jemuran, Eren yang sedang minum soda dingin keselek es!
"kau dengar ti...hei! apa yang sudah ku katakan soal minum es di musim begini!" Si guru menarik gelas berisi cairan kola tersebut. Meletakannya meja makan, setelahnya kedua tangan itu menggiring Eren ke kamar mandi
"Eren bisa mandi sendiri!" Ucap anak bersurai coklat itu mantap. Levi tau anak didiknya bukan bocah lagi tapi rasa cemas selalu muncul sekali pun ekspresi datarnya tidak menunjukan detak rasa khawatir.
Dan di sini lah Eren memulai rencana dua dan selanjutnya...
.
p.m 22.35
Erwin menapaki halaman rumahnya. Ingin rasanya ia melempar ransel yang menggantung di bahunya ke rumah tetangga lalu mengatakan 'tolong gantikan tugas saya sehari saja!'. Tugas sebagai pimpinan direksi membuatnya kelabakan mencari celah berlibur dari kesibukannya.
Setelah masuk rumah nanti ingin rasanya ia mencuci wajah anaknya karena mengirimkan video dimana Levi sedang memakai baju setelah mandi, serta aksi kejar-kejaran seru yang terekam saat Eren ketahuan mengambil rekaman.
Mamasuki rumah, suasana lebih sepi dari sebelumnya. "aku pulang. Eren?" Melonggarkan dasi, dan meletakan ranselnya di samping sofa ruang tamu. Suara pintu terbuka mengagetkannya.
"ah, anda sudah pulang..." Levi muncul di balik pintu kamar anaknya. Di tangannya ada baskom berisi air agak keruh dan handuk kecil.
"ada apa kenapa mambawa itu?" Erwin menunjuk baskom yang di bawa guru muda tersebut
"Eren demam, kalau begini ia tidak bisa ikut kemping." Sang guru menununjuk gumpalan diatas ranjang. Tak perlu di suruh Erwin memang berniat menengok sang anak.
38.7o demamnya cukup tinggi. Levi muncul di ambang pintu "aku sudah memberinya obat. Sepertinya ia sengaja, aku menemukan bungkus es krim yang cukup banyak di tong sampah di bawah tempat cuci piring."
"ada yang ingin kubicarakan Levi..." Erwin dengan nada serius "ikut aku" kali ini jantung si surai hitam berdegup, untuk kali ini saja selamat kan dia!
.
Sebuah ranjang ukuran king size menciutkan mental. Erwin menepuk kasurnya, isyarat silakan duduk. Pikiran iseng yang bukan-bukan berseliweran di otak si rambut pirang. Sang guru bersurai eboni murni perjaka menatap sang pemilik kamar dengan iris mata yang mengecil. Peringatan si bocah via bisikan saat ia kerja paruh waktu beberapa hari lalu menggenangi kepalanya
Apakah ini yang Eren maksud? Kalau tanya Eren dimana, ia tidur karena pengaruh obat parasetamol. Penyebab ia harus minum obat itu adalah, seharian ngemil es krim, berendam air dingin dan angin-anginan. Penyebab ia nekat melakukannya adalah agar ia tidak perlu mewakili sekolah dalam lomba menggambar dan kemping
Melindungi uke incaran adalah tugas seorang seme sejati super gentleman.
Tapi sayang sekarang Eren sekarat sampai ia merengek di kamar sebelah. Sebagai guru Levi jelas khawatir, tapi ekspresi datarnya selalu bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik.
Erwin mengisap rokok yang barusan ia bakar. Setiap stress sebatang rokok selalu setia terselip di bibir. "aku belum bilang padanya, tapi aku yakin ia pasti mengerti. Besok aku tugas luar selama seminggu, Petra dan Oluo belum bisa mengakhiri cuti," Ia mengepulkan asap rokoknya "bisakah kau menjaga Eren?"
Merelakan uke, menjatuhkan kemenangan pada anaknya. Erwin lebih memilih tugasnya sebagai orang tua. Hanji bisa mengutuknya dari atas sana.
"bukan masalah, toh ia sudah besar pasti mengerti..." Levi bisa menghembuskan nafas lega, ia sempat berpikir yang iya-iya soal ini. Senyum tipis tercetak di bibir si pengisap rokok. Selalu berpikir tentang masa depan dan pekerjaan sampai nyaris tak bisa menyisihkan waktu untuk anak semata wayang, ia sangat berterima kasih pada tuhan saat ia di pertemukan dengan guru bersurai eboni dengan wajah expresionless yang satu ini.
"kalau tak keberatan aku ingin mengecek kondisi bocah itu, permisi..." Levi berbalik, bokong semoknya jadi sumber perhatian tidak disengaja si klimis
"uakh!" Levi kembali menengok ke belakang setelah mendengar suara barusan. Di sana Erwin sedang menyeka darah laknat dari hidungnya
"ng...anda tidak apa?"
"iya gak apa-apa, hanya kecapekan"
"serius gak apa-apa? Darahnya ngelir terus lho..." Justru karena kau tak segera beranjak darah dari lobang hidung si klimis akan terus mengalir.
.
Sejak itulah Levi dan keluarga kecil Smith semakin akrab. Sekalipun Erwin dan anaknya bersaing ketat!
Mulai dari hari pertama ia menunaikan tugas di luar kota, Eren tidak pernah absen turut meramaikan kotak pesan multimedia seorang Erwin smith. Mulai dari kiriman foto hingga video keakraban sang anak dengan uke incaran sampai hal-hal berbau pemanasan global!
Bagaimana tidak sesekali diantara video kegiatan Levi dan foto terbilang narsis versi romantis mengundang perasaan geram dan iri, Eren masih sempat mengirimkan foto celana dalam Levi dengan subjek 'papa berterima kasihlah padaku!'. Jelas Erwin panas terbakar rasa kesal.
Setelah kejadian itu Erwin berharap semoga foto dan kenyataan bernama 'begitu kecilnya pinggul dan celana Levi' tidak membuatnya dengan terpaksa menjadikan salah satu foto yang terkirim sebagai objek maturbasinya.
Tolong jangan sebut Eren fotografer handal bila tidak bisa memotret Levi dengan berbagai keadaan di mana pun. Karena foto yang satu ini mengundang emosi, iman, jiwa dan darah
"lihat saja Eren, papa akan membayar kegagalan ini dua kali lipat." Saat itu Erwin berjanji sambil sibuk menyeka darah dari hidungnya dengan sapu tangan tepat setelah kiriman foto bergambar Levi nyaris telanjang hasil jepretan sang anak mampir ke ponselnya.
.
.
.
TBC
a/n: maaf, makin ke sini humor garing. Saya kurang ahli melawak -_-")a
untuk kalimat semoga tyopos berkurang, untuk kalimatnya tolong saran dan kritiknya (selama itu bukan flame saya akan sangat senang menerimanya) untuk yang request eruri chapter depan akan saya munculkan. Maksih telah meluangkan waktunya!
Untuk semua yang sudah mereview makasih banyak!
Review? ^^
