CHAPTER 1

.

.

.

"Kau tahu?Malapetaka dan beban hidup itu selamanya akan terus menempel pada pundak manusia. Dan ketika kau berupaya keras untuk membuangnya jauh-jauh, semua itu hanya akan kembali padamu dengan tekanan lebih besar dan lebih mengerikan."

Dr. Henry Jekyll, The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde.

.

.

Aku duduk di sudut ruangan, meringkuk di dalam kegelapan. Ruangan ini dibagi menjadi dua, dipisahkan oleh sederet jeruji besi di bagian tengah. Suara geraman halus terdengar dari dalam sel yang ada dihadapanku, menggema ke seluruh ruangan. Aku bisa merasakan diriku berdiri dan mendekati jeruji besi, tubuhku serasa bergerak sendiri. Aku berdiri beberapa langkah dari jeruji besi itu, dan aku bisa mendengar gerakan rantai yang saling bertubrukan dan napas berat dari dalam sana. Seseorang, atau sesuatu, ada di dalam sana, dan ia terdengar kesakitan. Ruangan ini cukup gelap. Hanya ada cahaya redup dari bulan yang bersinar masuk melalui jendela. Aku melangkah semakin mendekat dan menajamkan pandanganku, berusaha melihat kedalam sel gelap itu. Tepat saat itulah sebuah bayangan bergerak maju ke arahku dengan cepat. Gerakan yang tiba-tiba itu membuatku spontan melangkah mundur dan terjatuh.

"Keluarkan aku. Keluarkan aku dari sini! Lepaskan rantai-rantai ini!"

Seorang pria. Ia menggeram padaku. Satu tangannya menggenggam jeruji besi, dan tangannya yang lain terjulur kearahku, berusaha meraihku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi yang pasti dia sedang menatap tajam padaku.

Aku bisa melihat rantai di lengannya, berkarat dan besar. Darah kering terlihat jelas di pergelangan tangannya, menandakan bahwa ia pernah berusaha melepaskan rantai-rantai besar itu dari tangannya. Aku juga melihat rantai melingkar di lehernya, bahkan di badannya. Rantai-rantai itu tersambung ke dinding di belakangnya, sepertinya untuk menahan tubuhnya agar tidak bisa kabur. Aku merangkak mundur dengan cepat, berusaha menjauh sejauh mungkin dari sana.

"Kamu akan membayar semua ini. Kamu akan menyesal karena sudah mengurungku disini dan berusaha melenyapkanku! Kamu akan merasakan apa yang kurasakan, kau dengar itu?! AKU AKAN DATANG DAN MENANGKAPMU!"

Pria itu menghentakkan rantai di tangannya ke jeruji besi. Suaranya sangat besar. Aku berusaha menutup telingaku tapi tanganku tidak bisa begerak. Ia kemudian tertawa sangat keras dan mengerikan.

Suara tawanya mengejutkanku dan membangunkanku dari mimpi. Aku terduduk di tempat tidur, bermandikan keringat dingin dan terengah-engah. Tanganku langsung meraih kepalaku yang terasa berdenyut hebat. Sakit di kepalaku pun menjalar keseluruh tubuhku, aku merasa seperti ada pisau yang menusuk-nusuk dari dalam perutku. Dengan langkah terhuyung-huyung aku turun dari kasur dan berhambur menuju dapur. Aku membuka lemari dan mengobrak-abrik kotak obat, mencari sesuatu. Dengan tangan gemetar, aku menuangkan segenggam pil ke dalam mulut dan menelannya tanpa air minum. Aneh memang, pil ini selalu berhasil membuat sakit kepalaku sembuh. Efeknya terasa secara langsung. Aku merosot ke lantai, menutup mataku dan mendesah lega.

.

.

Aku berdecak pelan saat menuangkan pil terakhir dari dalam botol obat ke tanganku, dan menelannya dengan segelas air putih. Aku melemparkan botol obat ke dalam tong sampah dan meraih ranselku. Berapa banyak pil yang kutelan semalam? Aku hanya bisa menggeleng pelan.

Aku harus selalu meminum pil itu untuk mempertahankan pertumbuhan ototku. Penyakit yang kata orangtuaku sudah didiagnosis sejak aku berumur 5 tahun. Biasanya aku hanya meminum dua pil setiap pagi dan dua lagi sebelum tidur. Tapi akhir-akhir ini aku meminumnya lebih dari dosis seharusnya. Belakangan ini aku selalu mengalami mimpi buruk dan sakit kepala yang hebat setelahnya. Entah mengapa, pil itu adalah satu-satunya yang bisa membantuku. Aku harus menemui dokter dan meminta persediaan obat lagi.

Setelah lulus dari sekolah menengah, aku pindah dari Jeonju ke Seoul untuk melanjutkan ke universitas. Karena sekarang aku tinggal sendirian, itu artinya aku harus pergi dan membeli persediaan obatku sendiri. Selama ini Eomma lah yang menyediakan obat-obatan yang kuperlukan.

"Hei, Lee Taeyong. Lama sekali kau keluar, sudah jam berapa ini. Kita bisa terlambat sampai di kelas."

Aku mengunci pintu dan berbalik menatap Johnny, sahabatku. Kami sudah berteman masih duduk di sekolah dasar, dan ia ikut pindah bersamaku ke Seoul. Dia adalah satu-satunya orang yang kupercaya di dunia ini, bahkan melebihi orangtua ku.

"Kau pergi saja duluan. Aku ingin ke café sebentar. Kurasa aku memerlukan segelas kopi,"

Johnny menatapku tidak percaya. "Seriously? Sekarang? Eh, hanya karena otakmu cerdas dan kamu selalu mendapat nilai sempurna di setiap mata kuliah bukan berarti kamu bisa seenaknya terlambat masuk kelas. Aku yakin kamu pasti berniat untuk cabut pagi ini."

"Diam dan pergi saja, bisa?"

Johnny memutar bola matanya dan berlalu, tidak lupa memberikan jari tengahnya padaku. Aku tidak peduli dan hanya tertawa pelan sambil berlalu ke arah yang berlawanan dengannya. Aku mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik pesan untuk dokter Choi, seorang dokter keluarga. Aku sudah mengenalnya sejak aku masih kecil. Baru saja aku akan menekan tombol kirim, ketika kurasakan sesuatu, atau seseorang, menubrukku dengan keras. Dan yang kutahu selanjutnya, aku sudah terduduk di jalan dengan mata membelalak kaget dan ponselku yang entah jatuh kemana.

"Ya ampun. Maaf!"

Aku mendongakkan kepala dan melihat seorang laki-laki yang sedang menatapku dengan mata lebar. Dengan panik ia melihat sekitar dan meraih ponselku yang tergeletak tidak jauh dari kakinya lalu membantuku berdiri.

"Kau tidak apa-apa? "

"Ah, ya, aku tidak apa-apa."

"Ah, syukurlah. Ini ponselmu. Aku buru-buru jadi tidak melihatmu, sekali lagi maaf." laki-laki itu menatapku dengan tatapan bersalah.

Aku tersenyum tipis. "Ya, tidak masalah. Lagipula aku tidak apa-apa."

Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ia dengan cepat mengeluarkannya dari saku celananya. "Halo…." Ia kemudian menjauhkan ponsel dari telinganya. "Tidak perlu berteriak seperti itu! Ya, ya sebentar aku sedang menuju kesana. Sabarlah sedikit!"

Laki-laki itu langsung melesat pergi begitu saja. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, dan menaikkan sebelah alis ku. Sepertinya orang itu memang sedang terburu-buru. Aku membersihkan debu yang menempel di celanaku dan kembali melanjutkan langkahku menuju klinik dokter Choi, tidak lupa mengirim pesan yang belum sempat kukirim tadi.

TBC