Mataku terpusat kepada langit biru yang membentang luas.

Aku menajamkan telingaku, dari mulutku terdengar sebuah lantunan lagu yang diciptakan oleh rakyatku—untuk aku.

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Aku membuka kelopak mataku yang berwarna cokelat kehitaman. Pikiranku melayang terhadap lirik lagu.

Benarkah? Benarkah aku seperti itu?

Apakah aku akan abadi?


"Sama sepertimu," gadis itu tersenyum, kemudian meraih tangan Indonesia yang terluka. "Kalau ada yang menyiksa rakyat negara ini, kau pasti akan sakit bukan?"

Indonesia membelalakkan matanya. "Kau... siapa?"

Gadis itu memeluk Indonesia. "Aku adikmu. Jawa."


Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

Independence © NakamaLuna

Chapter 2

Reunion

Rated: T

Genre: Angst

Warning: OC MaleIndonesia danlainlain, OOC, gak jelas, gak nyambung, gaje, shounen-ai, yang tidak suka silahkan tekan tombol 'back' :D


Indonesia sejenak menatap kepada gadis yang sedang memeluknya ini. Adik? Oh, tentu saja. "Jawa..." panggil Indonesia, membuat Jawa segera melepaskan pelukannya dari sang Kakak. "Oh, tentu saja. Dimana yang lain?"

Jawa tersenyum. Yah, Indonesia baru sadar bahwa dirinya terbelah-belah menjadi beberapa pulau. "Aku belum bertemu dengan yang lain, Bang. Kalau Sunda Kelapa, aku sudah bertemu dengannya."

Indonesia mengerutkan dahinya. Sunda Kelapa? Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Aku ingin jalan-jalan sebentar. Kau rawat yang lain saja."

Jawa mengangguk.

~xo-0-ox~

Indonesia berbaring di pantai. Suatu kegiatan yang telah lama tidak dilakukannya semenjak Netherlands datang ke negaranya. Ah, betapa dia merindukan suasana ini. Ia sangat ingin memejamkan matanya sekarang, bagaimana tidak? Angin yang berhembus sepoi-sepoi daritadi membelai rambutnya. Panorama yang indah, serta bunyi deburan ombak yang melenting bagai melodi yang tengah dimainkan oleh alam itu memanjakan mata Indonesia. Tapi, ia takut. Takut jika ia menutup matanya, kemudian membukanya lagi akan ada orang 'itu'.

'Tidak mungkin. Baru seminggu.' pikir Indonesia. Keadaaannya sekarang aman. Ya, setidaknya rakyatnya bisa bercanda, makan dengan baik, dan bersenda gurau kembali. Karena itulah, sekarang ia telah menjadi remaja. Perlahan, ia memejamkan matanya.

Indonesia kemudian membuka matanya kembali, menampakkan mata cokelatnya yang indah.

Tidak. Tidak ada siapa-siapa disana. Indonesia menghela nafas lega kemudian menengok ke sebelah kirinya. Matanya membelalak terkejut ketika melihat seseorang tengah menatapnya—menatapnya dalam-dalam—sambil berbaring juga disebelahnya.

Sejak kapan?

Mana... wajah orang itu, sangat mirip dengannya.

Perlahan, orang itu memegang pipi Indonesia. 'Ini bukan cermin 'kan?' pikir orang itu.

Indonesia sebenarnya berpikir seperti itu juga. "K-kau siapa?" Indonesia terlonjak kaget, kemudian duduk dari acara berbaringnya.

Anak yang mirip dengan Indonesia itu kemudian duduk juga. Sama, sama wajah, walau wajah anak itu lebih mengarah kepada sebutan tampan, bukan seperti Indonesia yang lebih mengarah pada sebutan manis. Sama rambut, namun poninya mengarah ke arah yang berlawanan dari poni milik Indonesia. Bola matanya berwarna cokelat juga, namun lebih gelap. Dan sepertinya dia lebih tinggi. "Indonesia... ya?" gumam anak itu memastikan.

Indonesia berjingkat sedikit mendengar suara anak itu. Suaranya berbeda dari suaranya sendiri. Suara anak itu lebih berat dan nge-bass. "Ya.." jawab Indonesia.

Anak itu terkekeh pelan kemudian memeluk Indonesia. "Lupa ya?" ia bergumam.

Indonesia berusaha mengingat. Siapa? Siapa? Belum sempat dia berpikir lebih lanjut, anak itu mengecup perlahan tengkuknya. "A-apa yang kau lakukan?" Indonesia memberontak.

Anak itu terkekeh kembali, ia melepaskan pelukannya kemudian tertawa keras sambil memegangi perutnya. "Hahaha! Sensitif sekali kau!"

Indonesia menahan amarahnya. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. "Kau belum menjawab pertanyaanku!"

"Oke, oke," Anak itu menghentikan tawanya. "Aku Malaysia. Lupa ya?"

Malaysia. Malaysia. Indonesia memikirkan nama itu. Kalau tidak salah.. ketika kakek Majapahit masih ada... Kakek Majapahit pernah berkata kalau dirinya meninggal, ia akan terbagi menjai dua. Satunya adalah Indonesia sendiri, dan satunya lagi, adalah... ya Malaya. Malaya, adiknya yang dahulu sering mengikutinya kemana-mana terus. "Ma-Malaya...?" gumam Indonesia berusaha mengingat.

"Nah itu ingat!" Malaysia mencetuskan jarinya. "Setelah lama terpisah, kita baru bertemu sekarang sih ya. Apa kabar hoi?"

Indonesia tenang kembali, kemudian duduk disamping Malaysia. "Bagaimana bisa kau nyasar ke negaraku?"

"Kudengar kau diserang. Jadi aku kemari."

Indonesia menatap Malaysia. Perasaan, negaranya sendiri lebih besar dari Malaysia, namun kenapa sekarang Malaysia lebih tinggi darinya ya?

Malaysia tersenyum ketika Indonesia menatapnya dengan seksama."Apa lihat-lihat? Aku ganteng ya?"

"Ge er," gumam Indonesia.

"Boleh dong." Gumam Malaysia, ia kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu Indonesia.

"Kau ini..." Indonesia menengok kepada Malaysia. "Genit banget."

"Aku hanya ingin bertemu dengan saudara kembar tidak sedarahku yang sudah lama tidak kutemui. Tapi ketika bertemu kembali aku malah dikatai seperti ini." Gumam Malaysia.

"Kau berat sih. Tidak seperti dulu." Indonesia menyingkirkan kepala Malaysia dari bahunya kemudian berbaring kembali.

Malaysia ikut berbaring disebelah Indonesia. "Daritadi kok ngerajuk terus?"

Wajah Indonesia memerah. "Ngerajuk apaan sih? Ya tidaklah!"

Malaysia tersenyum. "Wajahmu itu manis ya," ia mendekatkan kepalanya ke bahu Indonesia. "Indonesia."

Indonesia yang merasa kalau keperawanan—ehm, keperjakaannya tidak bakal aman jika berada di dekat Malaysia, memutuskan untuk minggir empat langkah dari tempat Malaysia berada. Malaysia kemudian cemberut. "Oi, aku bukan binatang buas yang akan melahapmu kali!"

"Ya, kau bukan binatang. Kau adalah orang buas yang akan melahapku nanti," Indonesia bergumam dari tempatnya berada.

"Hmph. Padahal biasanya kalau bersama Netherlands kau dekat sekali." Malaysia berkata dengan nada mencemooh, membuat Indonesia geram.

"Apa yang kau tahu darinya? Dia itu sangat kejam!"

"Kudengar, kau baru memberontak setelah dua bulan tinggal bersama Netherlands. Jadi, dua bulan itu kau melakukan apa saja dengannya?" Malaysia menyeringai.

"Hah? Dia hanya mengasuhku saja. Setiap hari aku dikurung di benteng jahanam itu, sementara dia pergi dari pagi sampai malam hanya untuk menyiksa rakyat-rakyatku," Indonesia memejamkan matanya kembali. "Dia selalu seperti itu, kalau aku bertanya kenapa, dia hanya menjawab karena aku temanmu. Sifatnya menyebalkan, dia juga overprotektif dan kejam. Bayangkan, dia membunuh rakyatku tepat di depan mataku. Dia itu benar-benar—" Indonesia menghentikan omongannya ketika dirasakan sepasang tangan menutup mulutnya.

Malaysia terdiam sambil menatap Indonesia. Tangannya berada di mulut kembarannya untuk membungkam ocehan-ocehan dari kakaknya itu. "Daritadi, kau mengoceh terus tentangnya. Aku bertaruh, jika aku tidak melakukan ini pasti selama dua jam kedepan aku akan mendengarkan semua ocehanmu tentang pria asing satu itu."

Indonesia menyingkirkan tangan Malaysia dari mulutnya. "Ya, kalau begitu aku akan berhenti berceloteh tentangnya, oke?"

"Nah, aku pergi dulu ya. Senang sekali bisa melihatmu kembali," Malaysia mengulurkan tangannya untuk membantu Indonesia berdiri.

"O-oh ya," Indonesia menerima uluran tangan Malaysia. Tiba-tiba Malaysia dengan cepat menarik tangan Indonesia, kemudian memeluknya kembali. Indonesia terdiam. Mungkin terlalu kaget. Hingga tiba-tiba bunyi 'oak-oak' dari burung yang terbang diatas mereka menyadarkannya. "PELECEHAN!" Indonesia berteriak sambil mendorong Malaysia.

Malaysia hanya bisa tertawa kembali. "Aku pasti akan kembali~" Ia kemudian berlari menjauhi Indonesia.

"Sekalian saja tidak usah balik!" Indonesia berteriak menggebu-gebu. Seingatnya, ia tidak pernah mendidik adiknya menjadi maho seperti ini. Apalagi menjadi seorang maho incest. "Graaahh!" Indonesia menendang-nendang air laut.

-o~xxx000xxx~o-

Mungkin, kedamaian Indonesia hanya bisa dirasakan sesaat. Bagai tak kenal jemu, pria berambut cokelat jabrik itu mempersiapkan armada kapal perangnya lebih banyak. Tentu saja, untuk merebut Indonesia kembali.

Tidak. Ia tidak berusaha untuk mengambil alih pulau lain. Dia tidak berusaha mengarungi samudera kembali untuk menemukan jajahan baru. Ia hanya menginginkan Indonesia. Netherlands sudah terpikat. Ya, ia jatuh cinta dengan negara itu.

Indonesia, sifatnya ceria dan sangat baik. Negaranya indah, belum tersentuh sama sekali sumber dayanya. Hijau. Negara itu hijau dengan pepohonan yang rindang menghiasinya. Ya, hijau... dan indah seperti zamrud. Iklimnya tropis, membuat semua orang bisa bertahan hidup disana dengan menanam bahan makanan. Sang zamrud yang indah itu dilewati oleh garis khatulistiwa. Dan, Netherlands jatuh cinta. Ia mencintai negara itu... ia mencintai Indonesia.

Mungkin sifatnya memang keterlaluan. Dengan terang-terangan membunuh rakyat Indonesia di depan mata anak itu sendiri. Ia tidak punya pilihan, karena bisa saja anak itu kabur darinya saat itu. Jadi, ia membuatnya pingsan dahulu. Namun, yang paling menyakitkan hatinya adalah ketika Indonesia terang-terangan menolaknya, ia terang-terangan menyatakan perang. Bagi Netherlands, penyerangannya ke Indonesia malam itu bukan apa-apa dibanding penyerangan Indonesia kepada bentengnya itu.

Bayangkan, seorang personifikasi negara yang masih sekecil itu, dia dengan lincahnya menggunakan kakinya, melompat kesana kemari, menghajar pasukannya. Bagi Netherlands, Indonesia sendiri adalah musuh yang kuat. Apalagi, sudah beberapa minggu ini ia tidak melihatnya. Pasti anak itu... sudah besar.

Netherlands kembali masuk ke dalam dunia nyata ketika salah satu anak buahnya membangunkannya dari pikiran fananya. "Sudah dekat." Itulah yang diucapkan sang anak buah.

Hanya dua kalimat itu saja, Netherlands sudah mengerti akan maksudnya. Pria berambut cokelat jabrik itu kemudian keluar dari dek kapalnya, melewati para bawahannya yang sedang berusaha menjalankan sang kapal. Dan, disana terlihatlah. Pulau yang indah, dan hijau. Pepohonan menghiasi sepanjang pantai. Pasir pantai itu putih, dan nampak berkilauan. Sebuah negara yang cantik.

Netherlands mengubah raut wajahnya. Bagaimanapun juga, ia gugup. Oh, seorang Netherlands gugup? Ya, ia tidak bisa melupakan Indonesia. Seperti apa rupanya sekarang? Sudah besarkah? Apa ia akan disambut seperti dahulu lagi? Netherlands kemudian memegang dahinya. Hari dimana Indonesia menorehkan luka di sekujur tubuhnya masih ia ingat sampai sekarang.

Namun, ia tidak akan goyah. Dengan cara apapun, ia pasti akan menjadikan nations kecil itu miliknya.

-o~xxx000xxx~o-

Indonesia berjingkat sedikit ketika dirasakan bulu kuduknya berdiri. Mangkuk yang berada di tangannya terlepas sehingga pecah ketika membentur lantai. Wajahnya menjadi pucat pasi, dan ada perasaan tidak enak menyelesak masuk ke dalam hatinya. Jawa yang melihat kejadian itu langsung menenangkan kakaknya. "Ada apa?"

Indonesia menutup matanya, berusaha tenang. Tidak, ini tidak mungkin. Seharusnya dengan penyerangannya waktu itu, sudah cukup untuk membuat Netherlands tidak akan menginjakkan kakinya kembali. Jadi... apa?

Perasaannya makin tidak enak. Indonesia kemudian memutuskan untuk mengecek daerah pantai. "Jawa, segera evakuasi semua penduduk. Cepat, dan sekarang!"

Jawa mengangguk dan langsung menjalankan perintah kakaknya itu.

Indonesia berlari, seperti saat dia masih menjadi nation kecil. Dari dulu hingga sekarang, kelincahannya masih bertahan karena dia terbiasa hidup di hutan yang lebat. Pria berambut hitam itu mengambil salah satu bambu runcingnya kemudian meneruskan berlari ke daerah pesisir pantai. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Yang jelas, tidak ada satupun diantara pikiran itu yang mampu menenangkan hatinya.

Indonesia memejamkan matanya sejenak, kemudian mulai mengambil satu perkiraannya. Netherlands datang kembali.

Jika tidak, kenapa badannya tidak enak seperti ini?

Indonesia kini berada di pesisir pantai. Angin malam yang kencang, melambaikan rambutnya yang hitam itu. Keadaan alam tidak begitu cerah waktu itu karena pemandangan dari arah laut sama sekali tidak bisa terlihat. Nafasnya terengah-engah karena dia baru saja berlari dalam jarak yang cukup jauh. Indonesia kemudian menutup matanya.

"Oh tidak..." Indonesia membuka matanya kembali dan mendapati empat kapal besar dengan bendera berwarna merah-putih-biru di atasnya. Mimpi buruk itu datang lagi.

Bagaimana bisa aku melawan... yang seperti ini? Indonesia panik. Seluruh tubuhnya gemetar, ia takut sekali dengan pemandangan di depannya itu.

Oh Tuhan, haruskah kejadian itu terulang kembali?

~xo-0-ox~

Kabut tipis yang menyelimuti sekitar kapal membuat Netherlands tidak bisa melihat dengan jelas pulau itu kembali. Ia menghela nafas pelan sambil menunggu kapan kabut itu bisa sirna. Permintaannya terkabulkan, tidak berapa lama, sang kabut mulai menghilang. Netherlands menyipitkan matanya ketika melihat sosok seseorang di tengah pantai.

Sosok seorang pria, dengan bambu runcing di tangan kanannya.

Oh, pastinya itulah dia. Netherlands mulai berpikir, kenapa Indonesia bisa tahu kedatangannya? Ah, itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dipikirkan. Netherlands mengangkat tangannya, memberi komando untuk pasukannya agar tidak menembak. Kapalnya kemudian merapat untuk berlabuh.

Netherlands turun lebih awal daripada anak buah di kapalnya. Ia memandang Indonesia yang sudah mengacungkan bambu runcing kepadanya. Kelihatan sekali kalau anak itu gemetar dengan caranya memegang bambu runcing.

Indonesia telah berubah. Dia makin tinggi, makin terlihat gagah, dan wajahnya terlihat lebih manis. "Apa yang kau inginkan, brengsek?" pria bermata cokelat itu menyadarkan Netherlands dari lamunannya.

Netherlands menutup matanya. "Sudah jelas. Aku menginginkanmu."

Indonesia ingin sekali mencakar wajah pria dihadapannya ini. "Hanya dalam mimpimu!" Indonesia menerjang Netherlands, mempersiapkan sang bambu runcing agar mengenai daerah vital Netherlands.

Dor!

Sebuah tembakan terdengar, tepat mengenai tangan dari pemuda berambut hitam itu. "A-aah..." Indonesia mengerang kesakitan sambil memperhatikan tangannya yang tertembak peluru. Beruntung, sang peluru tidak masuk ke dalam tangannya, sang peluru terus maju menembus tangan Indonesia yang akhirnya membentur pohon. Indonesia melepaskan pegangannya terhadap bambu runcing. Darah mengalir dari tangannya, membuat tangannya yang sawo matang itu berwarna merah pekat. Indonesia kemudian jatuh tertunduk di hadapan Netherlands sambil memegangi tangannya.

Bukan. Yang tadi menembak itu bukan Netherlands, melainkan anak buahnya yang turun dari kapal besar itu.

Indonesia kemudian memperhatikan anak buah Netherlands yang turun dari kapal. Banyak. Jumlahnya banyak. "Jangan... jangan coba-coba menyentuh rakyatku, brengsek!" Indonesia mengambil bambu runcingnya kemudian melemparkannya ke salah satu anak buah Netherlands yang akan memasuki hutan.

Jleb!

Sang bambu runcing itu melesak masuk ke dalam tubuh anak buah Netherlands, tepat mengenai jantung pemuda itu. Netherlands merasakan dadanya memanas sebentar. Ia menengok ke arah Indonesia. Kemampuan Indonesia masih sama, dia maish berbahaya. Apalagi sekarang Indonesia sudah beranjak remaja. Netherlands kemudian menggenggam erat tangan kedua tangan Indonesia.

"A-aakh! Sialan kau, lepaskan!"

Netherlands memikirkan cara bagaimana agar anak satu ini tidak mengganggalkan rencananya. "Kau tidak ingin terjadi sesuatu dengan para rakyatmu 'kan?"

Indonesia terdiam. "Ya."

"Namun, lihatlah. Anak buahku ada sebanyak ini, belum lagi dengan peralatan canggih yang aku punya. Bisa saja semua rakyatmu kumusnahkan malam ini juga."

Indonesia membelalakkan matanya. Tidak. Tidak. Dia tidak ingin seperti itu. "Jangan sentuh mereka."

"Oh tentu, aku tidak tertarik kepada mereka. Aku hanya ingin mengambil sumber dayamu."

"Kalau begitu, diam dan jangan sentuh mereka." Indonesia menekankan kata-katanya.

"Hm, aku baru sadar kalau aku membutuhkan rakyatmu untuk membantuku mengolah sumber dayamu."

"Kumohon... jangan sakiti mereka."

Netherlands menyeringai. "Bagaimana kalau kita membuat penawaran?"

-o~xxx000xxx~o-

Dan disinilah dia. Indonesia berada dalam benteng laknat Netherlands yang dahulu. Tinggal dibersihkan sedikit, maka benteng itu sudah kembali seperti semula. Indonesia memegangi tangannya yang masih mengeluarkan darah. Netherlands yang berada disampingnya, kemudian membawanya masuk ke kediamannya yang lama. Namun, Indonesia terkejut ketika Netherlands membawanya ke kamar milik Netherlands sendiri. Bukan kamar miliknya dahulu.

Netherlands meletakkan Indonesia di kasurnya. "Nanti aku akan panggil dokter untuk mengobati tanganmu." Ia kemudian keluar dari kamarnya.

Indonesia telah menyetujui kesepakatan dari Netherlands bahwa jika ia tinggal lagi bersamanya maka Netherlands tidak akan melakukan penyerangan lagi kepada rakyatnya. Ya, ia menyerahkan dirinya daripada rakyatnya yang terkena beban. Tapi, kenapa dia harus dibawa ke kamar Netherlands? Itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh Indonesia.

Tidak berapa lama, Netherlands kemudian kembali ke dalam kamarnya bersama seorang dokter.

~xo-0-ox~

"Apa katamu?"

Netherlands menghela nafasnya. Ia sudah memberitahu dua kali kepada Indonesia. Dua kali. Mana mungkin negara satu itu tidak mendengarnya. "Kau harus sekamar denganku agar kau tidak kabur lagi." Netherlands menjawab kembali.

Indonesia memandang Netherlands tidak percaya. "Maksudmu? Kau dan aku... akan tidur bersama?"

Netherlands berbaring di ranjangnya. "Memangnya menurutmu ada ranjang lebih?"

Indonesia meneguk ludah. "Aku akan tidur di lantai."

"Bagus, karena aku baru saja ingin menyuruhmu tidur disana," Jawab Netherlands. Indonesia mendecak kesal. Ia kemudian mengambil salah satu bantal dan selimut dari ranjang Netherlands. "Siapa yang menyuruhmu agar boleh memakai semua itu?" gumam Netherlands.

"Oh, aku punya hak. Tentu saja,"

"Kau sekarang berada dalam kekuasaanku. Masih pantaskah kau menyebutkan hak?"

Indonesia menggeram kesal kemudian melempar bantal dan selimut yang dipegangnya ke wajah Netherlands, tentu saja tepat sasaran. "Sesukamulah!" Ia kemudian duduk di pojokan dinding dan merapat kesana. Netherlands berbeda, ya, ia telah berubah. Dulu pria itu begitu memanjakan dirinya, namun sekarang. Yah, sebenarnya itu juga akibat perilakunya sih. Indonesia kemudian kembali teringat perbuatan Malaysia tadi. Bagaimana bisa dia—ya ampun, itu 'kan pertama kalinya ia dipeluk. Lagipula, mereka 'kan sesama lelaki.

Pria berambut cokelat jabrik itu memandang Indonesia yang kini sedang melamun entah memikirkan apa. "Apa yang kau pikirkan?"

"Seenaknya memelukku dasar—" Indonesia mengatupkan mulutnya ketika menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Mata Netherlands membelalak tajam ketika mendengar perkataan Indonesia. "Kau... dipeluk?"

"Tidak... maksudku... ya."

"Siapa?" nada suara Netherlands terdengar marah. Pria bertubuh tinggi itu menatap Indonesia dengan tatapan tajamnya.

"Monyet... milikku..." gumam Indonesia tanpa sadar karena terlalu terkejut oleh ekspresi Netherlands.

Netherlands terdiam, ia menghela nafas panjang. Tangannya yang berwarna putih pucat kemudian meraih selimut dan bantal, ia lalu melemparnya ke arah Indonesia. "Tuh, pakai. Biar pikiranmu tidak sakit lagi untuk memeluk seekor monyet."

Indonesia mengambil selimut dan bantal yang Netherlands lemparkan. Kalau tahu begini sih, mending sudah daritadi ia menyinggung tentang pelukan itu... dengan alasan monyet sebagai pasangannya, tentu. Indonesia baru saja akan berbaring ketika Netherlands memperhatikannya lebih dalam, "Apaan?"

"Mau tidur disebelahku?"

"Tidak. Makasih."

-o~xxx000xxx~o-

Sudah lebih dari seminggu Indonesia tinggal bersama dengan Netherlands. Netherlands memang sedikit berubah, namun sifatnya masih overprotektif seperti dahulu. Bayangkan, dia ingin berbicara dengan salah satu prajuritnya saja tidak boleh. Memangnya dia harus jadi orang anti sosial ya? Indonesia hanya diperbolehkan berbicara dengannya saja.

Indonesia merasa nasibnya hampir sama dengan Mano ditambah Hara. Walau, Indonesia sendiri tidak yakin apakah dia mengenal Mano ditambah Hara itu. Yang jelas, Netherlands semakin sering bersamanya. Dan sepertinya Netherlands menepati janjinya. Walau kadang-kadang dia merasakan tubuhnya sakit juga. Biasanya Indonesia langsung membentak Netherlands ketika tubuhnya mengalami sedikit sakit. Siapa tahu bala tentara Netherlands menyiksa rakyatnya 'kan?

Sekarang, Indonesia hanya bisa berharap agar semua ini berlalu. Berharap agar ia kembali mendapatkan negaranya, sementara Netherlands kembali ke negara asalnya. Ya, hanya itu.

Namun, takdir berkata lain.

~xo-0-ox~

Tsuzuku...

~xo-0-ox~

*ketawa nista* -ditimpuk- bentaran.. perasaan ni chappie pendek yah? O.O

Dan... chappie-chappie selanjutnya kayaknya bakalan lebih pendek lagi dari ini.. T_T *timpuked*

Sebenernya... saia udah ngetik.. ampe chap.. berapa ya? Banyak deh.. Cuma saia lupa mublish... *digetok*

Sumpah.. ini chappie gaje bener... T^T

Dan... dan... *ngelirik Resia* kau menulariku virus incest.. TAT *ditimpuk*

Ini.. ini bakalan lama apdeth... pasti.. sangat.. TAT

Dan, ya Allah.. terima kasih.. XD AKHIRNYA AKUN SAIA BENER LAGIII~~ *joget gaje*

Walau gitu, saia teteup gak bisa mublish cepet... ng.. saia udah akhir kelas sih.. T^T

Berniat review? :3

Sign,

NakamaLuna~