ParkHyerin.
Present.
Me And You Chapter 2
GS for uke.
Warn! Abaikan typo yang bertebaran!
Happy Reading!
.
.
.
.
.
"Baiklah, acaranya kita mulai saja sekarang" intrupsi Appa Chanyeol—Park Yoochun.
Semua mengangguk setuju dan mulai menyantap hidangan masing-masing yang telah tersedia dihadapan mereka.
"Luhan-ah, bagaimana rasanya bersekolah di America dan menjadi designer handal disana? Pasti itu sangat membanggakan kedua orang tuamu" ucap Appa chanyeol membuka obrolan.
Luhan mengangguk setuju, ia mengunyah daging didalam mulutnya sampai habis setelah itu menjawab pertanyaan Ayah chanyeol.
"Ne Appa, rasanya menyenangkan dan tentu saja kedua orang tuaku ini bangga padaku karena aku berhasil menggapai cita-citaku" ujar Luhan tersenyum senang sambil menatap kedua orang tuanya.
'Appa? Kenapa yeoja ini memanggil ayahku dengan sebutan Appa' batin chanyeol tak mengerti.
"Selain cantik, kau memang membanggakan putriku" Appa chanyeol memuji luhan dengan senyumannya yang mengembang.
"Tidakkah kau merindukan chanyeol, luhan-ah?" lanjut Appa chanyeol lagi, luhan langsung menatap chanyeol di hadapannya dan itu sukses membuat chanyeol tersedak air liurnya sendiri karena sedikit terkejut dengan ucapan Ayahnya, ditambah lagi tatapan luhan yang menatapnya sarat akan kerinduan.
'Ada apa denganku? Kenapa aku terlihat gugup ditatap seperti itu. Dan apa itu tadi? Appa mengatakan apakah dia rindu padaku? Huh? Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?' batin chanyeol bertanya tanya.
"Ne, aku sangat merindukannya Appa. Tapi sepertinya orang yang aku rindukan tidak merindukanku" chanyeol dengan jelas melihat raut kecewa yang dipancarkan oleh wajah gadis cantik di hadapannya kini.
Chanyeol berdehem kecil. Sepertinya chanyeol tidak bisa mengikuti acara makan malam ini, karena jujur ia tidak mengerti terhadap situasi ini. Ia memundurkan kursinya lalu berdiri dan membungkuk hormat.
"Mian, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan acara makan malam ini, jujur aku tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan, dan untuk anda nona luhan. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Tapi maaf, aku sama sekali tak mengenalmu. Permisi," chanyeol melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, mengabaikan dua keluarga yang sedang menatap kepergiannya dengan raut wajah menyesal.
"Maafkan chanyeol luhan-ah," ujar Appa chanyeol menyesal.
"Gwenchana Appa, aku mengerti" luhan tersenyum miris.
"Kejar dia sayang, dan jelaskan semua padanya secara perlahan, ia pasti akan mengerti" saran Apanya pada luhan.
Luhan menatap punggung chanyeol yang semakin jauh, ia nampak ragu, namun eommanya dan eomma chanyeol mencoba meyakinkannya.
"Apa akan berhasil?" lirih luhan.
"Setidaknya kau mencobanya sayang" ucap Hyera—eommanya chanyeol.
"Eomma," panggil luhan menatap eommanya.
"Ne, pergilah. Kejar cintamu" ujar Hyerin memberi ijin.
Luhan tersenyum, ia langsung mengejar namja tinggi itu, namja yang selalu membuatnya tidak tenang selama melanjutkan pendidikannya di America, namja yang begitu ia rindukan, selama ini ia selalu menunggu waktu ini. Waktu dimana ia dipertemukan kembali dengan namja belahan jiwanya, namja yang lima tahun ini mengisi relung hatinya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat namja itu kembali mengingatnya.
"Chanyeol-ah" panggil Luhan setelah ia berhasil mengejar namja tinggi itu. Chanyeol berbalik dan melihat luhan dengan napasnya yang terengah-engah.
'Apa dia mengejarku?' batin chanyeol.
"Kau memanggilku?" tanya chanyeol, setelah ia yakini yeoja itu sudah kembali bernapas dengan stabil.
"Ne, memang ada orang lain disini selain kau?" jawab yeoja itu.
Chanyeol melirik sekitar, benar memang hanya ada mereka berdua di tempat parkir. Sepertinya keluarganya memang memesan agar restoran milik ummanya tidak didatangi pengunjung lain.
"Aku tahu, pertemuan kita akan berakhir seperti ini" luhan membuka suaranya, chanyeol hanya diam menunggu luhan meneruskan ucapannya.
"Aku tahu pasti jika kau tidak mengingat diriku" Chanyeol menaikkan satu alisnya, itu memang benar. Chanyeol sama sekali tidak mengada-ngada jika ia memang tak mengingat Luhan.
"Kau boleh membenciku, karena semua ini salahku, salahku yang membuatmu hingga tak mengingatku" Luhan menangis, ia menumpahkan air matanya dihadapan chanyeol. Chanyeol sedikit meringis melihat air mata itu membanjiri pipi cantik Luhan, ia tak suka melihat yeoja itu menangis—entah alasannya apa, chanyeol tak tahu.
"Maafkan aku chanyeol-ah, maafkan aku...hiksss" Luhan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sementara Chanyeol hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa, ia maju mendekati Luhan, sedikit tak tega. Ia akhirnya menepuk nepuk punggung Luhan, memberikan gadis itu kekuatan, setelah dilihatnya Luhan agak tenang dan berhenti menangis, barulah Chanyeol mengeluarkan suaranya.
"Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau menangis dan meminta maaf?" tanya Chanyeol menatap Luhan dengan pandangan bertanya-tanya.
"i-i-ituuu" Luhan bingung harus menjelaskannya darimana.
"Baiklah, sepertinya kau bingung untuk menjelaskannya. Tapi setidaknya mungkin pertanyaan ini bisa kau jawab," ucap Chanyeol memberi jeda, Luhan terdiam menunggu lanjutan perkataan Chanyeol yang mengaju padanya.
Chanyeol menghela napas, dan mengajukan pertanyaan yang sedari tadi mengahantui pikirannya.
"Ada hubungan apa kita sebenarnya?"
.
.
.
.
.
Disinilah Chanyeol pada akhirnya, terjebak dalam bar dan berakhir dengan minum-minuman. Entah sudah berapa botol wine yang ia teguk habis. Ia benar benar lelah dan benci pada kenyataan yang baru saja memporak porandakan hatinya. Lebih tepatnya jiwanya.
Ia benci.
Ia benci pada kenyataan yang ada.
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Disaat hatinya memilih untuk mencintai seseorang, ia justru di hadapi dengan kenyataan seperti ini?
Chanyeol menatap cincin yang selama ini bertengger manis di jari manisnya, awalnya ia berpikir cincin itu merupakan cincin kesayangannya karena di cincin itu bertuliskan inisial 'CL' yang ia pikir merupakan hurup depan dan belakang dari namanya. Namun ternyata selama ini ia salah mengartikan.
Cincin itu memiliki makna lain, cincin itu merupakan cincin pertunangan nya dengan gadis cantik yang beberapa lalu bertemu dengannya bersama keluarganya. Awalnya chanyeol memang mencurigai pertemuan makan malam yang diadakan keluarganya, terutama dirinya yang tidak sengaja menatap cincin yang sama persis dengan miliknya bertengger manis di leher jenjang gadis yang ia ketahui bernama Luhan itu, yah. Luhan menjadikannya sebagai kalung.
Saat itu Chanyeol tidak terlalu memusingkan, namun perkataan perkataan ayahnya semakin membuatnya bertanya-tanya, dan pada akhirnya ia mengetahui semua kenyataan itu langsung dari mulut gadis itu karena yeoja itu langsung menyusulnya ke parkiran dan menjelaskan semuanya.
Sakit?
Tentu saja.
Chanyeol bahkan benci mengakui jika dirinya sudah terikat.
Lalu apa yang harus ia lakukan?
Membatalkan pertunangan?
Disaat kondisinya yang seperti ini?
Yah chanyeol telah mengetahui semuanya.
Dia mengalami amnesia.
Dan itu sudah berlangsung semenjak lima tahun yang lalu.
Ia memang melupakan masa lalunya, tapi ia mengingat orang tuanya dan siapa dirinya.
Ia bahkan mengingat jika dirinya mengalami kecelakaan mengenaskan.
Namun dirinya merasa marah, karena mengetahui penyebab kecelakaan itu adalah karena tunangannya—Xi Luhan.
Saat itu dirinya mengejar Luhan dengan mobil yang dikendarainya menuju airport agar Luhan membatalkan keinginannya untuk bersekolah di America, namun Luhan tak menggubrisnya dan memilih untuk meninggalkannya.
Bahkan disaat itu mereka belum lulus di Senior High School, namun mereka telah bertunangan.
Salah jika kalian menyangka mereka bertunangan karena dijodohkan.
Mereka bertunangan atas dasar keinginan mereka sendiri, karena yah, sejak Junior High School ditahun kedua mereka merupakan sepasang kekasih, mereka saling mencintai. Jadi tak ayal Chanyeol rela untuk mengejar Luhan dengan kebut-kebutan dijalan sementara dirinya belum lulus dalam ijin mengemudi hanya demi mengejar Luhan agar membatalkan keinginannya itu.
Cinta memang membutakan segalanya.
Dan itu berlaku bagi Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
Kyungsoo terlihat gelisah di apartement Chanyeol. Sedari tadi ia terus mondar mandir di depan tv. Ia memikirkan chanyeol. 'Kenapa sampai sekarang namja tinggi itu belum pulang juga?' batinnya gelisah.
Ia juga sudah mencoba untuk menghubungi chanyeol, namun ponsel namja itu tidak aktif. Itu semakin membuatnya khawatir, karena tidak biasanya chanyeol seperti ini. Chanyeol selalu pulang sebelum jam sepuluh malam, terkecuali jika ia lembur, namun namja itu pasti akan menghubunginya jika ada sesuatu, lembur atau semacamnya. Namun kini? Namja itu berhasil membuatnya khawatir, kyungsoo menggigit bibirnya untuk mengurangi kegundahan hatinya.
'Apa pertemuan keluarganya itu tidak berjalan lancar'? Pikir kyungsoo.
Kyungsoo masih berkutat dengan pikirannya hingga sebuah suara menghentikannya.
"Kyungsoo-ah" itu Chanyeol, kyungsoo langsung menoleh dan menghampiri chanyeol yang terlihat begitu kacau.
Penampilan chanyeol benar-benar kacau saat ini, rambutnya yang berantakan, seingatnya tadi chanyeol menyisirnya rapi sebelum berangkat ke jamuan makan malam bersama keluarganya.
Jas yang disampirkan dibahunya, serta lengan kemeja biru dongkernya yang ia gulung sampai siku, dan wajahnya yang tampan menjadi, entah bagaimana kyungsoo mendeskripsikan nya.
Chanyeol datang dan langsung menghujam kyungsoo dengan ciumannya yang menuntut. Kyungsoo terkejut dan nampak tidak siap, namun ia mencoba membalasnya dengan sebisanya, lengannya ia kalungkan di leher chanyeol. Membalas lumatan lumatan kecil yang chanyeol lakukan pada bibirnya. Hingga chanyeol melepaskan tautan bibir mereka dengan sisa benang saliva yang menempel dibibir kyungsoo.
Chanyeol menarik kyungsoo kedalam pelukannya, ia membenamkan wajahnya diceruk leher gadis itu, gadisnya yang saat ini begitu ia cintai. Tidak tidak, bahkan kyungsoo kini bukan seorang gadis lagi. Kyungsoo adalah wanitanya, wanitanya yang akan menjadi ibu dari anak yang sedang ia kandung, anak yang merupakan buah cintanya dengan kyungsoo karena menghabisi waktu berkali-kali diranjang.
Kyungsoo menyamankan posisinya, ia menepuk nepuk punggung chanyeol, memberikan chanyeol kenyamanan. Sepertinya Chanyeol sedang ada masalah?
Entahlah, yang pasti kyungsoo akan menunggu Chanyeol untuk mengeluarkan keluh kesannya atau menceritakan masalah yang sedang di hadapi nya, dan kyungsoo akan setia untuk mendengarkannya, karena memang itu fungsinya sebagai kekasih bukan?
.
.
Entah sudah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu, lama lama kaki kyungsoo pegal juga berpelukan terlalu lama seperti ini. Oh ayolah, ia sedang hamil. Tentu saja itu membuatnya terkadang cepat merasa lelah, tidak atau pun sedang melakukan sesuatu.
"Sayang," panggil kyungsoo pelan.
"Mau sampai kapan kau akan memelukku seperti ini,?" yang ditanya akhirnya melepaskan pelukannya. Kyungsoo merasa lega, bukan. Bukan berati ia tidak menyukai chanyeol memeluknya, tidak. Ia sangat senang jika tangan kokoh itu setiap saat memeluknya. Hanya saja mereka tidak mungkin menghabiskan waktu dengan berpelukan saja bukan?
Kyungsoo menangkup wajah tampan Chanyeol yang terlihat sangat kacau, ughh~ bahkan disaat sedang kacau pun, kekasihnya ini tetap terlihat tampan.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya kyungsoo lembut sembari mengelus pipi chanyeol yang terlihat memerah, yah chanyeol sepertinya memang habis minum. Karena ia sedikit meracau tadi dalam pelukannya. Namun Chanyeol masih tersadar, ia terlihat tidak begitu mabuk.
Pandangan mereka bertemu beberapa saat, Entahlah. Chanyeol seperti ingin menyampaikan apa yang sedang di alaminya lewat matanya, namun Kyungsoo belum mengerti situasi ini. Mata Chanyeol yang berkaca-kaca tak bisa untuk Kyungsoo tebak. Kyungsoo mencoba tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan mengusel ngusel hidung bangir miliknya dengan hidung mancung milik Chanyeol.
"Aigooo, bayi besarku. Katakan pada eomma kenapa wajahmu menjadi seperti ini. Hmm?" kyungsoo menyudahi aksi mengusel ngusel hidungnya dengan milik chanyeol lalu bertanya pada namja tinggi di hadapannya kini.
"Kyung..." lirih Chanyeol dengan mata berkaca-kaca, bahkan air mata lolos begitu saja, membuat hati kyungsoo teriris. 'Apa sesuatu menyakitkan terjadi? Kenapa Chanyeol-nya menangis?' tak bisa di pungkiri hatinya kini gelisah melihat namja yang di cintainya itu menangis. Ia mencoba menghapus Air mata yang membasahi pipi namja yang begitu dicintainya.
"Ne, chagi. Katakan, Apa yang ingin kau katakan?" balas Kyungsoo setenang mungkin.
Sepuluh detik berlalu, Kyungsoo menghela napasnya dan mencoba menarik tangannya dari pipi Chanyeol, namun tangan chanyeol dengan cepat mencegahnya, dan dengan sigap tangannya beralih pada bibir chanyeol, karena namja itu menghujami ciuman ditangannya berkali-kali.
Puas dengan menciumi tangan kyungsoo, ia pun menggenggam tangan wanitanya itu lalu membawanya untuk membelai pipinya. Chanyeol menatapnya sendu, membuat kyungsoo sedikit jengah, karena namja itu tak mau mengatakan apa yang terjadi.
Ia menghela napas berat dan mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya Apa yang terjadi padamu, Cepat katakan dan Jang..."
"Aku akan menikah"
Kyungsoo terdiam mendengar ucapan Chanyeol yang menyela ucapannya barusan.
"Aku akan menikah, dengan yeoja dari masa laluku"
.
.
.
.
To be continue.
Hey hey, ternyata respon dari ff ini lumayan juga, makanya hyerin lanjut dan kebetulan seharian ini ada ide dan lagi mood buat ngetik lanjutan ff ini =D
Gimana? Udah msk ke konflik? Belum berasa yah? Karena ini masih awal hehe. Dan ini pendek? Iya tau, karena mentoknya disitu xD
Ceritanya mudah ke tebak ? Iya hyerin tau, cerita ini banyak dan pasaran, hanya saja mungkin latar ,waktu dan bahasanya aja berbeda. Tema kaya gini mungkin udah sering muncul di ff author author fav kalian.
Udah segitu aja cuap cuap dari hyerin, thanks yang udah mau fav/ follow cerita ini =3 apa lagi kalo sampe nungguin /emang ada?/ ? kkkk~
Okedeh. See U next Chap~~
Kritik dan saran akan hyerin tampung So,
Mind To Review?
Xoxo
ParkHyerin6194
