A BTS FANFICTION

.

.

.

CAST :

ALL BTS MEMBERS AND ANOTHER KPOP ARTIST

.

.

.

.

PAIRINGS :

VKOOK

NAMJIN

MINYOON

.

.

.

GENRE : ROMANCE. MYSTERY. HURT AND COMFORT

WARNING : YAOI AND BOYSLOVE ( BXB )

MATURE CONTENT AND VIOLENCE

SOME THEORY THAT MAKES ME DIZZY AS HELL

.

.

.

SEMUA CHARA ADALAH MILIK TUHAN YME DAN ORTU MASING-MASING

CERITA ORIGINAL MILIK SAYA

SAYA HANYA MEMINJAM

.

.

NO PLAGIAT!

SO MANY TYPOS DAN GAJE

ENJOY IT ^^


PART 2 : TEARS

.

.

Seoul−abad 21

.

.

.

.

Ruangan ganti pakaian berukuran kecil perpaduan berwarna krim itu penuh dengan suara. Termasuk suara Jungkook kecil yang tertawa geli bersanding dengan suara berat milik Jin.

Kedua pasangan eomma dan anak itu tertawa senang. Senyum kelinci milik Jungkook terumbar di wajah manisnya. Ia berguling-guling di lantai dengan aktif. Pekikan geli sesekali terdengar dari mulut kecil Jungkook saat eomma-nya itu menggelitik badannya kelewat banyak.

" Ahahaha! E-eomma! Geli!". Jungkook kecil menggenggam tangan besar milik eomma-nya yang kebetulan sedang bersanding di atas perut rampingnya.

" Eomma...perut Jungkook geli! Kkkkkk!"

Jin merengutkan bibir dan terkikik. Rambut berwarna pirang muda yang mendekati warna pink itu tergerai dan basah kuyup. Akibat begitu banyak peluh yang dihasilkan hanya dari acara menggelitik anak semata wayangnya itu. Jungkook memiliki kekuatan sebesar Namjoon−membuat tenaganya seperti 10 anak laki-laki berusia 12 tahun walaupun rupa manisnya menjiplak Jin.

Dan itu berimbas pada Jin sendiri. Kaki Jungkook sedari tadi tidak bisa diam dan terus menendang-nendang udara. Berusaha melepaskan kedua tangan besar milik Jin dari atas tubuhnya yang benar-benar terasa sangat geli.

" KKKKK!" Jin terkikik geli hingga wajahnya memerah. " Aishh! Makanya pakai pakaianmu yang benar Jeon Jungkook! Atau eomma akan memakan Jungkook!"

Jungkook tertawa makin lebar. Pasalnya jari-jemari lentik Jin makin menjalar kemana-mana dan membuat Jungkook menggerakkan badan lincah dan kelewat aktif seperti cacing kepanasan.

" Gyaaaaa! EOMMA!"

Jin membuat-buat suara ngeri dengan wajah sarat kebahagiaan. " Gaaaaaarrrr! Eomma akan makan Jungkook! Gaaaaaar!"

" HIYAAAAAAAAA!" pekik Jungkook seketika.

Membuat Jin melepaskan gelitikannya dari badan Jungkook dan bernafas dengan terengah-engah. Ia membiarkan Jungkook berbaring pasrah di lantai keramik dengan baju seragam yang sedikit acak dan badan penuh peluh.

Jin tersenyum kecil dan mencubit pipi gembul Jungkook dengan gemas. Jungkook kecil segera menepis tangan eommanya dan mengerang kesal dengan begitu imutnya. Menampilkan kedua gigi kelinci ikoniknya dan merengutkan bibir.

" Aisssh~Kookie kan tidak salah!" Jungkook menatap Jin kesal sembari menyilangkan tangan di depan dada. " Kookie cuma tidak bisa memasang dasi saja! Tapi eomma bilang Kookie nakal!"

Jin seketika tertawa saat Jungkook menggerakkan tubuhnya dengan nada kesal yang dibuat-buat.

" Bunny Kookie tidak salaaaah~"

" Bunny Kookie kesal dengan eomma! Bunny Kookie tidak mau turun sekolah~"

Mulut kecil milik Jungkook membentuk senyuman masam. Dan ia berusaha menatap eommanya yang sedang duduk dengan wajah geli itu. Mata hitam bocah kecil itu berkilat kesal dengan raut lucu. Merajuk dengan eommanya sendiri.

" Ssssssttt..." Jin meletakkan jarinya di depan bibir tapi masih dalam raut tertawa. "Kookie jangan berisik...nanti appa dengar dan Jungkook disuruh masuk asrama laki-laki lagi!"

" ! "

Jungkook seketika membulatkan mata sipitnya lebar-lebar. Mulutnya menganga dengan raut yang penuh ketidakpercayaan. Perkataan eommanya menyadarkan Jungkook atas sesuatu. Sesuatu yang sangat ia hindari dan malah tidak pernah ingin ia kenal.

Tapi sayangnya−Namjoon ngebet sekali ingin memasukkan putra manisnya itu ke tempat yang baru saja Jin paparkan sambil melototkan mata.

" Kookie tidak ingat? Kookie tidak ingat bahwa appa pernah bilang jika Jungkook menolak untuk sekolah lagi maka Kookie dimasukkan ke dalam asrama tempat appa sekolah dulu!?"

Bulu kuduk milik Jungkook meremang. Mendengar kata-kata asrama tempat appa sekolah−mampu membuat Jungkook menangis meraung-raung di paha appanya. Dan membuat Jin terus merajuk dengan Namjoon karena Jungkook tidak bisa dibawa kompromi dan terus-terusan menangis.

Salahkan cerita appanya soal guru killer dan peraturan super duper ketat disana. Hingga rasanya hanya untuk bernafas saja rasanya teramat susah. Karena begitu banyaknya peraturan dan tata tertib yang perlu ditaati.

Serta nilai.

Jungkook benci mengatakan ini sebenarnya−tapi jujur. Belajar dan nilai akhir adalah momok yang menakutkan bagi Jungkook. Termasuk ulangan sekalipun.

Hal itu lah yang membuat Namjoon−yang notabenenya adalah Juara paralel selama 5 tahun berturut-turut dan siswa dengan IQ tertinggi yang pernah dicetak, kebingungan setengah mati pada putranya sendiri.

Yang lebih menyukai hal-hal berbau seni klasik dan seni murni.

Rapper sekaligus dosen matematika itu ( yang digelutinya secara diam-diam...mengingat Jin pernah mengalami masa lalu buruk dengan skripsi dan dosen galaknya.) pernah menyuruh Jin me-replay kembali cara membuat Jungkook saat bulan madu seminggu berturut-turut mereka di dalam kamar.

Dan membuatnya berakhir dengan bekas tamparan sendal berukuran jumbo di wajah tampannya dan tidur di sofa selama 2 minggu penuh.

Jika saja Jungkook saat itu tidak membujuk Jin karena bocah kecil kangen tidur bersama appanya lagi−mungkin dia sudah tidur di kampus sekarang.

" Ta-tapi...Jungkook benci itu eomma..."

Mata Jungkook mulai membulat dan berair. Mulutnya merengut ke bawah. Bersiap-siap menangis.

Celana bitu pendek selutut milik Jungkook telah bocah itu remas dengan kuat. Menghantarkan rasa takutnya hingga ke arah benda-benda di sekitar tubuh Jungkook sendiri.

Jurus jitu Jungkook saat terpojok−menangis dengan raut seperti bayi kelinci dengan gigi besar yang teraniyaya. Matanya membulat penuh dan berkaca-kaca iba. Ditambah wajah manis itu memerah sempurna seperti begitu disakiti. Nada suaranya yang cadel keluar dengan lirih.

" E-eomma..Hikks..J-jangan"

Jungkook merangkak menuju kaki eommanya. Menarik kaos pink kebesaran milik Jin dengan manja. Tetapi raut sedih itu membuat dirinya bagaikan anak terlantar yang tidak diinginkan. Dan tarikan terus menerus diberikan Jungkook pada eommanya.

Jin sendiri tidak bisa bertahan begitu banyak jika sudah melihat Jungkook dalam raut seperti ini. Putranya itu seolah-olah tahu semua kelemahan Jin. Benar-benar sifat yang menjiplak Namjoon−tahu semua tentang Jin beserta isi hatinya.

" Eomma..." Kepala Jungkook terbaring lemah di paha eommanya. Ia terisak. " Tidak mau~"

Jin meringis pelan.

" Ouuh...sini putra eomma~"

" Sini sayang..."

Kedua tangan milik Jungkook kecil seketika terbuka lebar saat Jin mulai menarik pinggang Jungkook. Bocah kecil itu sengaja mengalungkan lengannya pada leher Jin−merebahkan kepala kecilnya pada bahu eommanya. Menyembunyikan wajah manisnya yang terisak pada ceruk leher Jin.

Eomma dari Jeon Jungkook itu menepuk-nepuk pantat Jungkook kecil sambil berdiri. Tubuhnya bergoyang-goyang sembari mencium pucuk kepala Jungkook dengan lembut. Menyalurkan rasa sayangnya sebagai eomma−biarpun dia namja kepada putra kecilnya yang rapuh.

Berusaha meredakan isakan kecil Jungkook. Jin sendiri dapat merasakan sesuatu yang basah menuruni leher dan bahunya. Dan dia tahu−itu air mata Jungkook.

Jin mulai membuka kenop pintu ruang ganti dengan sebelah tangannya yang bebas disaat tangan lainnya berusaha menahan tubuh Jungkook di dalam gendongannya.

Mereka berdua keluar ruangan dan langsung dihadapkan pada ruang tengah atau bisa disebut ruangan bersantai. Dengan suasana minimalis yang elegan.

" Eomma..." Panggil Jungkook lirih.

Jin menatap Jungkook dengan tatapan lembut. " Ya Kookie?"

Eomma Jungkook itu mengusap lembut rambut Jungkook dan membuat Jungkook kecil seketika tersenyum. Ia menampilkan kedua gigi kelincinya dan dengan cepat mencium pipi Jin singkat.

" Jungkook sayang eomma~ T-tapi jangan masukkan Jungkook ke sekolah appa..."

Tawa meledak dari mulut Jin.

" Hahaha! Makanya Jungkook jangan begitu lagi!"

Jungkook merengutkan bibirnya kesal. Mata hitam basah Jungkook menatap Jin dengan tatapan tidak rela. Hanya karena ia salah memasang dasi dan terus merengek untuk dibetulkan pada eommanya−membuatnya harus dimasukkan ke dalam sekolah appanya?

Salah Jungkook apa!?

Dia tahu bahwa Jin sedang sibuk melipat pakaian pada saat itu tapi tolong! Demi Tuhan jangan buat Jungkook harus menangis berguling-guling karena dimasukkan ke dalam asrama hanya masalah sepele.

Jin melirik jam kecil di dinding sambil sesekali memukul pantat Jungkook sayang. Mata namja itu melebar. Ia segera menepuk kepala Jungkook lembut dan mulai berjalan untuk mengambil keperluannya serta Jungkook di ruang tamu.

" Ayo kita pergi sekarang! Jungkook nanti bisa terlambat pergi sekolah dan eomma akan terlambat bekerja!"

Kepala Jungkook segera terangkat saat Jin mulai berjalan ke arah pintu keluar ruang keluarga. Mata kecil Jungkook terus menatap jendela apartemen mereka dengan khawatir selagi eommanya berjalan. Seolah-olah di luar jendela itu ada sesuatu yang menarik hatinya.

Dan puncaknya...

" Eomma! Berhenti!"

...tangan Jungkook menarik kasar kerah kaos pink milik Jin. Dan membuat namja itu mengaduh kesakitan karena lehernya tercekik akibat kerah itu menempel di lehernya dan ditarik Jungkook kuat.

Jin berhenti melangkah dan meringis nyeri sambil melepaskan tangan kecil Jungkook dari kerahnya. " Issshh~ Kenapa K-kookie?"

" Itu...itu! Ke sana sebentar eomma!"

Jin menatap Jungkook dengan raut bingung. Soalnya putra kecilnya itu terus menunjuk sebuah jendela di dekat ruang tamu. Menyuruhnya untuk segera kesana dengan rengekan manja yang lucu. Dan mau tidak mau−Jin mengikuti kemauan bunny manisnya itu.

Jendela itu terkunci tapi Jungkook sigap membuka kuncinya dengan tangan kecilnya. Menarik jendela itu ke atas dengan bantuan Jin dan terpampanglah pemandangan pagi yang indah kota Seoul.

Bangunan-bangunan tinggi berjejer sejauh mata memandang. Hiruk pikuk kendaraan modern melintasi jalanan besar adalah pemandangan yang paling dominan. Ditambah suasana Seoul yang penuh pernak-pernik tradisional mereka dan gadis-gadis yang memakai hanbok−menambah kesan ramai di kota besar itu.

Jin sendiri menatap semua itu dengan senyum terukir lirih. Menatap bagaimana Seoul telah berubah begitu banyak sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kota besar ini.

Rasanya bagaikan deja vu.

Seolah-olah dia telah hidup begitu lama dan menatap perubahan demi perubahan yang terjadi pada Seoul itu sendiri. Namja manis itu melirik orang demi orang yang berlalu lalang dengan pikiran menerawang. Tapi yang paling mencolok adalah bagaimana gadis-gadis sekarang−dengan pengaruh budaya barat dan rambut yang err...berwarna memakai hanbok.

Jin seketika tertawa kecil. Menurutnya itu lucu−melihat bagaimana kikuknya gadis-gadis atau laki-laki yang memakai hanbok yang sangat tradisional untuk pertama kali. Mengingat untuk beberapa minggu ke depan−Korea selatan akan mengadakan festival tradisional.

"...ma..."

" ...eomma..."

Jungkook merengek dan menarik kerah Jin lagi. " Eomma~"

Tubuh Jin seketika tersentak. Pikirannya kembali dan segera terpusat pada Jungkook yang merengutkan bibirnya tidak suka.

" Ahh!" Pekik Jin kaget.

" Ahh...ada apa Kookie?"

" Eomma..." Jungkook merengek. Dia menunjuk sebuah pot bunga yang sengaja Jin letakkan di sana agar tumbuh tapi nyatanya−

Jin menyentuh dedaunnya dengan mata membulat penuh rasa bingung.

" Lho? Kenapa mati? Perasaan disini hawanya baik dan cahaya mataharinya yang cukup. Apa jangan-jangan Namjoonie lupa memberi air?"

Tangan mungil Jungkook berusaha menyentuh dedaunan tanaman melati yang melayu. Ia sedikit memajukan badannya di dalam gendongan Jin dan melenguh saat masih tidak bisa mencapainya.

Jungkook beralih menatap eommanya. " Eomma~ Bolehkah?"

" Bolehkah?" Tanya Jin balik dengan nada sarat ketidakfahaman. " Boleh apa? Memang Jungkook ingin berbuat apa?"

Raut Jungkook seketika masam. Ia merengutkan bibirnya ke bawah dan menyilangkan tangan di depan dadanya. Bocah kecil itu menggerutu kecil dan menatap eommanya seolah-olah menyiratkan Serius-nih-eomma-lupa-segalanya!?

" Eomma lupa?" Jungkook menggembungkan pipi kesal.

Jin menggeleng. Ia benar-benar tidak faham apa yang ingin diutarakan oleh Jungkook sedari tadi. Anaknya ini benar-benar suka memutar-mutar topik pembicaraan seperti Namjoon. Tapi misalnya sudah to the point... perkataannya langsung men-jleb ke hati.

Nah..kalau sifat itu bukan dari Jin.

Itu bawaan dari Suga−rapper kenalan Namjoon yang berteman baik dengan Jin. Namja manis dengan nama asli Min Yoongi itu sering bermain dengan Jungkook biarpun judesnya luar biasa sekali.

Dan perkataan pedasnya.

Tapi entah mengapa−hanya Jungkook yang mampu membuat Yoongi berkata manis. Dengan Jin juga. Tapi dengan Namjoon...

Serius nih−wajah Namjoon itu seperti ingin memutilasi namja imut dan lucu bernama Yoongi ini jauh-jauh hari. Dan membuang mayatnya ke dalam sungai Han karena saking kesalnya dengan kritik pedasnya pada Namjoon atau sifat ketus dan kasarnya jika diganggu.

" Eomma lupa jika Jungkook berteman dengan mereka?"

" Bisa menumbuhkan mereka?"

" Eomma kan yang juga bilang pada Kookie untuk selalu membantu mereka jika melayu?"

Mata Jin seketika berbinar senang dan ia tertawa bahagia. Tentu saja! Kenapa dia baru ingat sekarang tentang hal itu?

" Ya! Eomma baru ingat sekarang! Jungkook boleh kok membantu mereka!"

Jungkook mengerjapkan matanya tidak percaya dengan senyum kelinci khasnya. "Bolehkah!?"

Jin mengangguk mantap dan segera menyondongkan tubuh Jungkook agar mendekati pot tanaman melati itu. Dan hal itu tidak disia-siakan oleh bocah bergigi kelinci itu. Ia mengarahkan tangannya dan seketika menggapai daun-daun itu.

Cahaya kecil dan putih suci bagaikan cahaya para malaikat keluar dari telunjuk Jungkook. Melingkupi seluruh tanaman melati untuk pertama kalinya. Meresap melalui jaringan mereka dan menghidupkan kembali sel-sel yang mati.

Jungkook melepaskan tangannya dan tertawa senang. Mata Jin menatap semua tumbuhan itu kagum. Kagum saat bagaimana akar-akar keluar dari tanah dengan begitu lebat dan panjang. Batang-batang menggemuk dengan dedaunan yang menghijau secara massal. Bunga-bunga melati yang kuncup−mekar begitu saja dengan indahnya.

Membuat Jin dan Jungkook bergumam dalam kekaguman.

" Eomma lihat kan!?"

Jin menangguk dan mencium puncuk kepala Jungkook sayang. ia tersenyum lembut dan segera menjauh dari jendela. Ia membawa Jungkook yang tertawa senang ke arah pintu apartemen.

" Menurut eomma−mereka akan senang?" Jungkook menatap Jin dengan mata besarnya.

Senyum manis terpatri di wajah cantik milik Jin. Tidak ada kata lain selain kata kagum dan mengiyakan yang terlontar dari bibir merah Jin. Dan hal itu sukses membuat Jungkook bertepuk tangan kegirangan.

Air matanya sudah mengering tetapi masih meninggalkan jejak.

Jin berinisiatif mengambil tissue di meja ruang tamu dan mengelapkannya ke seluruh wajah manis Jungkook. Membuat bocah kecil itu terpekik senang saat Jin mencium pipinya atau hidung bangirnya.

Sesekali Jungkook memukul dada eommanya dalam raut bahagia karena eommanya membersihkan mata besar dan sesekali mencubit pipi gembul dan berisi milik Jungkook sambil melontarkan kata sayang pada dirinya.

" Eomma..." Jungkook menampilkan senyum kelincinya.

Jin menatap Jungkook di gendongannya sambil menjinjing dua tas di tangan satunya. Satu tas ransel hitam miliknya dan satunya lagi tas bergambar kelinci di Alice in Wonderland milik Jungkook.

" Ya Kookie? Ada apa?"

Kepala Jungkook celingak-celinguk. " Appa mana? Jungkook rindu appa..."

Jin hanya bisa tersenyum kecil. Ia sebenarnya baru saja ingat itu−ngomong-ngomong Namjoonie-nya yang tampan itu kemana?

Mata hitam bersinar Jin seketika menerawang ke seluruh bagian ruang tamu. Diikuti oleh Jungkook yang memanggil-manggil appanya dalam nada lembut. Bocah kecil itu diajari oleh Jin untuk tidak terbiasa memanggil orang tuanya dengan nada tinggi dan keras karena itu tidak sopan. Dan jadilah−Jungkook memanggil Namjoon dengan nada lembut namun menuntut.

" Appa~ Appa~" Jungkook mencengkram kaos Jin selagi eommanya itu berjalan memutari ruang tamu. " Appa~ Appa dimana! Eomma dan Kookie mau berangkat~"

" Chagiya!" Jin memanggil Namjoon dengan nada khawatir. " Chagiya! Kau dimana?"

Mereka memutari ruang tamu dengan telaten. Tapi duluan Jungkook yang menemukan Namjoon di ruang tamu. Tepat di sofa abu-abu milik mereka. Dengan tubuh terlentang dan buku musik di wajahnya−headphone hitam tergantung di lehernya. Laptop terbuka di meja beserta kumpulan kertas lirik dan not-not balok di sekitar sofa atau lantai.

Tubuh Namjoon tidak bergerak bahkan ia tidak bergeming sedikitpun saat Jin dan Jungkook memanggilnya bersamaan dengan nada agak tinggi. Yang terdengar dari Namjoon sendiri hanyalah dengkuran halus nan lembut.

" Appamu tidur..."

Jin menggelengkan kepala dan mendengus berat. Ia segera menurunkan Jungkook dari gendongannya dan meletakkan putra kecilnya itu pada sofa lainnya. Membuat Jungkook menelengkan kepala bingung atas sikap Jin.

" Dasar..." Gerutu Jin. " Di luar dingin dan kau tidur disini? Kau cinta pekerjaanmu atau apa hah?"

Jungkook yang mengerti gerak-gerak Jin−segera turun dari sofa dan menarik sebuah selimut besar bergambar Browny Line dari sebuah rak kecil di bawah TV. Karena badannya kecil−Jungkook hanya bisa menyeretnya ke depan eommanya dan tersenyum.

" Appa pasti kedinginan..." Jungkook menyeret selimut itu dan segera diambil oleh Jin. " Nanti appa bersin-bersin terus setiap malam. Kookie mana bisa tidur jika appa terus batuk dan bersin terus menerus! Bahkan saat makan pun appa juga begitu!"

Tawa kecil keluar dari mulut Jin saat mendengar keluhan Jungkook. Biarpun anaknya itu menggerutu tapi Jungkook berinisiatif untuk mengambil buku musik dari wajah Namjoon dan merapikan rambut appanya yang berantakan dengan lucu.

Kedua pasangan eomma dan anak itu merapikan seluruh kekacauan di sofa. Jin mencium bibir tebal Namjoon singkat dengan rasa sayang. Ia membalutkan selimut itu pada tubuh Namjoon dan mematikan AC yang tidak terpakai.

Jungkook sendiri mencium pipi Namjoon manja.

" Kookie berangkat dulu Appa~"

Jin yang sudah selesai dengan acara beres-beres badan Namjoon−mengusap pipi suaminya lembut. Ia segera menarik Jungkook kecil dan memasangkan tas anaknya itu pada tubuh Jungkook. Membawa tasnya sendiri di pundaknya dan kembali menggendong Jungkook.

" Bye..bye Appa... Jungkook and eomma will be come back soon~ Take a rest..." Jungkook melambaikan tangannya ke arah badan Namjoon.

" Sudah..." Jin mencium pipi gembul Jungkook singkat. " Jangan ganggu tidur appa. Appa pasti kelelahan dan kita harus segera berangkat".

Jungkook mengganggukkan perkataan eommanya lucu dengan gigi kelincinya. Ia mengalungkan tangannya pada leher Jin dan kedua sejoli itu meninggalkan apartemen dengan hati lapang.


.

.

.

.

.

.

Suara dentingan tuts-tuts piano menghiasi ruangan berdesain hitam putih itu. Nada-nada berat dan bersuasana sendu terus terngiang-ngiang di ruangan itu sejak lama. Seolah-olah menandakan sebuah peristiwa dengan lagu itu.

Tangan-tangan besar dan lentik itu menekan tuts-tuts secara bergantian. Menimbulkan irama dan harmoni teratur yang begitu indah. Tapi sayangnya begitu sendu dan kelam di saat yang bersamaan.

" Taehyung..."

Tiiing...

Lagu itu berhenti secara mendadak. Membuat ruangan itu menjadi begitu sunyi walaupun ukurannya besar dengan hiasan seperti ballroom. Meja-meja berhiaskan sutra hanya bisa terbisu. Tidak ada suara desiran apapun kecuali nafas hangat milik seorang pemuda tampan yang duduk di depan piano hitam.

Mata biru elektriknya melirik tajam ke arah pintu masuk ruangan dari baja dan kayu gaharu.

Taehyung mengangkat jarinya dari tuts piano dan meletakkannya di atas piano. Ia bergumam sedikit sebelum tangan satunya mengambil sebuah kertas not dari dalam piano. Meletakkannya di hadapannya dan segera memainkannya.

Tapi sekarang bukan hanya lagu−tetapi nyanyian dari suara berat khas milik Taehyung mengisi ruang besar itu.

" Sudah ku sembunyikan, aku beritahu

Kau sesuatu

Agar membuatnya terkubur

Aku sudah tak tahan lagi

Aku tak tahu mengapa aku tak bisa mengatakannya

Itu menyakitkan

Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi

Kini menangis, aku sangat menyesal padamu

Dan menangis, aku tak bisa membuatmu tetap aman.

Taehyung menarik nafas dalam rasa sakit yang menjalari hatinya. Ia menekan tuts demi tuts dengan seluruh emosi mengalir hingga seluruh tumbuhan di luar ruangan melayu dan rontok. Terlalu meresapi arti sedih dari lantunan nyanyian dan nada yang dihasilkan oleh Taehyung.

Aku minta maaf, aku minta maaf,

Aku minta maaf saudaraku

Tak peduli betapa aku sembunyikan dan tutupi, ini enggan berlalu

" Apakah kau memanggilku pendosa?"

Apa lagi yang bisa kukatakan'

Kali ini Taehyung langsung menghentikkan permainan pianonya secara mendadak. Membuat suasana kembali sunyi dan senyap. Seolah-olah hanya ia yang hidup di dalam dunia itu.

Bersamaan dengan helai-helai bulu putih nan lembut yang berjatuhan tepat di atas kepalanya. Taehyung tidak melirik sedikitpun−dia tahu ini semakin dekat. Hanya saja, bulu-bulu putih itu langsung terbakar dan hangus saat menyentuh kulit atau bagian tubuh lainnya milik namja itu.

Seolah-olah Taehyung merusak segala kebaikan dan kelembutan dari bulu itu.

Dia berdiri. Memandang jendela di sebelah tubuhnya yang menampilkan suasana taman hijau kastil di tengah hari yang rimbun. Bersama para dryard dan peri yang terisak dan menangis di bahu satu sama lain.

Mereka terisak tepat di sebuah dua tugu peringatan. Dua tugu dari gading putih yang bertuliskan dan bertahtakan dedaunan suci dafnah yang berwarna emas murni. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Taehyung sekarang.

Sebuah bunga kecil berwarna putih bersih yang selalu kuncup di atas salah satu tugu peringatan kecil yang tidak terperhatikan.

Hanya legenda yang mengatakan bunga itu akan mekar.

Tapi nyatanya salah.

Bunga itu memekarkan satu kelopaknya perlahan. Hanya satu kelopak tapi hal itu membuat Taehyung membulatkan mata dalam raut yang tidak bisa diartikan.

Dan sehelai bulu putih yang begitu bersih sebersih susu−jatuh begitu saja di atas telapak tangan besar milik Taehyung. Anehnya−bulu itu tidak terbakar sama sekali. Malahan seperti mematikan api yang membuat bulu-bulu lainnya terbakar.

" Hyung..." Taehyung berjalan menuju pintu keluar dengan wajah dingin tapi mata biru elektriknya berkilat.

" Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa dia dekat sekali denganmu?"


.

.

.

.

.

.

Sesaat setelah Jin mengantarkan Jungkook pada sekolahnya−namja manis itu segera berlari menuju kereta bawah tanah kota Seoul. Ia memacu langkah dalam setiap detik dan menit yang berlalu dari jam tangan hitamnya.

Dan keberuntungan menghampiri Jin. Dirinya masih mampu mengejar kereta keloter terakhir menuju museum nasional Korea Selatan karena disanalah seorang Seok Jin bekerja sekarang.

Gerbong-gerbong kereta cukup lengang karena ini sudah melewati jam masuk kerja dan sekolah. Jadilah kereta hanya diisi oleh orang-orang yang berkepentingan setelah jam masuk berakhir.

Termasuk Jin.

Jin menarik nafas dalam dan terengah-engah di kursi gerbong. Ia merebahkan diri dan menutup mata dalam kelelahan. Tarikan nafasnya lambat dan panjang−berusaha menstabilkan sistem tubuhnya yang baru saja ia paksa berlari dengan cepat.

" Aishh~" Jin membuka sebelah matanya dan melirik jam digital di kereta.

08:12 a.m

Jin menghembuskan nafas dalam kelegaan. Setidaknya dia tidak terlambat dan masih mempunyai 45 menit tambahan. Cukup bagi Jin sendiri untuk mengisi perutnya dengan beberapa makanan di caffe dan stand-stand kecil di depan museum. Atau mungkin−jika dia masih punya banyak waktu, Jin akan membelikan gummy bears berbagai rasa untuk Jungkook nanti.

Salahkan sifat keibuan Jin yang begitu membludak. Membuatnya rela memberikan setengah porsi dari sarapan paginya untuk Jungkook dan seperempat lagi untuk Namjoon yang ia simpan di dalam oven. Dan hanya memakan seperempat dari sarapannya yang berisi kentang tumbuk, omelette, dan daging cincang.

Membuat perutnya masih saja keroncongan.

Jin merogoh saku celananya dan mengambil sebuah iphone darisana. Ia mengangkat iphone itu sejajar dengan wajah manisnya dan seketika tersenyum saat benda canggih itu menyala.

Foto Namjoon dan Jin saat berada di pulau Jeju menghasi layarnya. Dan membuat Jin semakin tersenyum manis adalah hari saat itu diambil adalah seminggu setelah Jin melahirkan Jungkook.

Lihat bagaimana tubuh ramping Jin yang dibalut kaos putih polos tersapu angin lembut pulau Jeju. Senyum manis menghiasi keseluruhan rautnya. Ia menggendong sebuah buntalan besar berwarna biru yang berisikan bayi Jungkook.

Namjoon yang dibalut kaos biru mencium pipi Jin manja dan menyentuh kepala Jungkook kecil. Ia melirik kamera dengan kilat kebahagiaan menghiasi tatapannya. Ditambah bagaimana tangan besar Namjoon memeluk Jin begitu mesra.

Latar laut biru yang jernih dan langit cerah menambah kesan romantis dan membahagiakan di foto itu.

Dan secara tidak sadar membuat mata hitam Jin berkaca-kaca.

" Jujur saja Namjoonie..." Jin mengusap layar iphone-nya dengan lembut. " Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelum aku bertemu denganmu. Dan sebelum aku melahirkan Jungkook..."

" Hidup semakin lama tidak pernah membuatku merasakan cinta. Malah hidup itu begitu menjerumuskanku dalam kesedihan mendalam. Dan rasa rindu yang besar. Aku tidak pernah tahan dan selalu ingin berakhir untuk mengakhiri segalanya tapi aku tahu...aku tidak akan bisa"

Jin menegakkan posisi duduknya dan menatap keluar jendela. Ia mengangkat tawa lirih sambil menggosok matanya. Dengan air mata mengalir menuju kedua tangannya tetapi rautnya menggelikan.

" Berkali-kali aku mencoba dengan beberapa orang...tapi mereka tidak pernah memberikanku apa yang ku harapkan. Mereka mencampakkan hidupku, meremukkan hatiku terus menerus, mengubur dalam rasa sayangku, dan membakar hangus semua ekspetasiku pada dunia ini"

Telunjuk milik namja manis itu mengukir sebuah nama di jendela gerbong. Sebuah nama yang selalu ia sayangi dan terkadang...ingin ia bawa kembali bersamanya nanti. Takut untuk berpisah dengan nama itu saking cintanya seorang Seokjin kepadanya.

" Namjoonie..." Rengek Jin lirih.

" Kau berbeda. Kau sangat berbeda−kaulah satu-satunya orang yang membuatku sangat nyaman. Kau menghilangkan semua rasa sedih ku..." Jin mencium nama itu lembut. "Kau tahu...aku mencintaimu dan buah hati kita apapun yang terjadi. Aku akan berusaha hidup lebih lama tanpa membawa kita dalam rasa sedih itu... aku akan berusaha Namjoonie"

Kereta yang sedang melaju begitu cepatnya−berhenti secara perlahan saat sudah memasuki sebuah terowongan panjang yang gelap. Membuat Jin tersentak dan berdehem saat ia begitu larut dengan pikirannya. Membuat pipi Jin memerah begitu hebat karena ketahuan mencium nama Namjoon dengan wajah sayu.

Kepala Jin menatap sekitar gerbong dengan gugup. Kalau-kalau ada yang memergokinya dan berakhir membuat Jin begitu malu dan ingin rasanya menyembunyikan wajahnya. Tapi kali ini−keuntungan sekali lagi memihak Jin.

Jin bernafas dengan sangat lega dan menghentakkan kaki girang saat sekitar gerbongnya kosong. Yang berisi orang-orang hanya gerbong sebelum dan sesudahnya. Di gerbongnya hanya ada seorang pekerja yang tertidur dan nenek tua yang sibuk dengan rajutannya.

Namja itu ingin rasanya berteriak nyaring akibat terlalu girang tapi dia masih ingat tempat.

' Ini bukan di rumah Jin!' Ucap Jin. ' Ini juga bukan di ranjang bersama Namjoon! Kau tidak bisa berteriak saat berhubu−"

Jin seketika membulatkan mata dan memukul dahinya sendiri kuat. ' Kau berpikir apa Seok Jin! Berhenti memikiran soal abs Namjoon atau kegiatan kalian saat berhubungan badan atau saat lub−Kyyya! Berhenti berpikir seperti itu Jeon Seok Jin!'

Namja itu mengerang kesal dan menarik rambutnya frustasi. Namjoon benar-benar memenuhi isi kepala Jin hingga yang terdalam sekalipun. Dan berakhir membuat Jin selalu menyempilkan nama Namjoon dalam setiap kegiatan pembicaraan apapun yang ia jalani atau sedang memikirkan apapun.

Mata Jin melirik ke depan. Bertepatan saat kereta sudah berhenti penuh dan semua pintu keluar terbuka. Daripada membuang waktu−Jin segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar. Waktunya sudah banyak terbuang hanya untuk memikirkan Namjoon yang terkadang bisa ia pikirkan lebih dari 500 kali sehari.

Jin merapikan kaos pinknya dan menarik tas hitam. Ia segera berjalan meninggalkan kereta dengan perlahan karena ada juga orang yang ingin masuk. Membuatnya harus mengalah dan sedikit memberi jalan bagi kerumunan para mahasiswa yang merengsek masuk.

" N-nak..."

" A-anak muda.."

Ketuk-ketuk hak sepatu melangkahi lantai gerbong dengan begitu lamban dan perlahan. Ditambah ada nada seperti tubuh yang begitu tua yang memegangi tiang demi tiang di dalam gerbong.

Dahi Jin berkerut saat mendengar suara ketukan itu dan panggilan bernada lirih yang terkesan begitu tua. Memang ketukan itu sangat lambat tapi entah kenapa−ketukan itu mengarah kepadanya.

" A-anak m-muda..."

Jin mengalihkan kepalanya ke samping.

" Ya?"

Ia segera mendapati seorang wanita tua berpakaian sederhana berwarna pink lembut dari rajutan tangan dan tongkat kayu tua menyangga tangannya. Wanita tua itu berjalan begitu lambat ke arah Jin sambil memegangi salah satu tiang. Kelihatan sekali tubuhnya tidak bisa bergerak begitu banyak akibat juga banyaknya orang yang masuk ke dalam gerbong.

Tubuh ringkih dan tuanya tida bisa berbuat banyak dan hanya bisa berjalan begitu pelan sambil menyisipkan kata permisi yang lirih bagi setiap orang. Berharap mereka akan mendengarnya dan membiarkan wanita tua itu untuk lewat barang sedikit.

Jin berinisiatif menghampiri wanita tua itu dan bertanya dengan nada lembut dan sopan. Senyum manis menghiasi wajah Jin. " Anda memerlukan bantuan saya, Nyonya?"

Wanita tua itu terlihat sedikit terkejut saat Jin menghampirinya. Ia mengira namja manis itu akan mengindahkan panggilan kecilnya.

Jadinya ia menjawab dengan nada yang penuh kekagumam atas kebaikan hati Jin.

" A-ah ya!"

Tangan tuanya menyentuh wajah manis Jin dengan begitu lembut. Wajah tuanya berubah menjadi sangat cerah dan senyum sarat rasa terima kasih terkembang−membuat hati Jin mau tidak mau tersentuh. Ia akhirnya bisa membantu orang lagi sejak sekian lama tidak melakukan hal ini karena sibuk akan dunia barunya−Namjoon dan Jungkook.

Jin memegangi sebelah tangan tua milik wanita itu dengan erat. Mengaitkannya dengan lengannya. Dia berusaha bersikap lembut dan gentle. Dengan menuntun wanita tua itu berjalan dan menengahi para mahasiswa.

Mereka semua tersentak karena baru saja sadar ada wanita tua yang memerlukan bantuan mereka.

Tapi Jin sudah membawanya keluar terlebih dulu tanpa disuruh. Mereka berdua keluar gerbong dengan wajah bahagia−meninggalkan orang-orang di kereta yang masih tercengang.

Wanita tua itu terus saja menepuk lembut puncak kepala Jin dan memuji atas kerendahan dan kebaikan hatinya bahkan setelah Jin membawa mereka menuju ujung stasiun. Menghentikkan wanita tua itu pada tempat yang lengang dan aman bagi dirinya.

Jin tersenyum manis dan membungkuk hormat. Tapi belum beberapa cm dia membungkukkan badan−tangan wanita tua itu segera menahan lengan Jin kuat. Menahan dia untuk lebih menunduk.

" Jangan..." Ucap wanita itu. Dia menahan lengan Jin dan menepuk lembut pipi namja manis itu. " Jangan nak..."

" Eeh? W-waeyo?" Jin menatap wanita itu bingung dengan mata membola.

Wanita tua itu tertawa kecil. " Ah~ T-tunggu sebentar..."

Dia membuka tas lengan kecilnya. Dan Jin mau tidak mau harus menunggu dengan sabar. Wanita tua itu sudah menolak hormatnya dan menyuruh Jin untuk menunggu. Karena merasa tidak sopan untuk meninggalkan orang tua−Jin hanya bisa menggigit bibir bawahnya bingung.

Mata wanita itu berkilat cerah. " Ahh..ini dia!"

" M-mwo!?"

Sebuah gantungan kunci kayu dengan lonceng terpampang nyata di hadapan wajah Jin. Gantungan itu memiliki seni tradisional korea dalam pembuatannya. Ditambah kelopak-kelopak bungan sakura menghiasinya.

Berbagai tulisan Hangul kecil menghiasi keseluruhan gantungan kunci persegi panjang itu. Jin tahu itu adalah gantungan kunci kecil−yang zaman dahulu diberikan pada anak-anak kecil seperti Jungkook.

Mereka percaya gantungan kunci itu adalah perlambangan dari benda keramat dewi keberuntungan dan pelindung anak kecil. Tulisan Hangul itu adalah pujian-pujian pada sang dewi. Berharap sang dewi menjaga anak-anak mereka saat berada di luar rumah. Bentuknya yang lucu membuat anak-anak menyukainya di zaman dulu−membawa benda itu kemana-mana setiap kali mereka pergi.

Mengantongi hingga tua.

" D-dari wajahmu... dan perlakuanmu pada mahasiswa itu−a-aku tahu kau sudah mempunyai anak."

Jin tersentak kaget saat wanita itu tiba-tiba meletakkan gantungan itu pada tangan Jin. Menutup kembali tangannya yang terbuka dengan sebuah gantungan kunci dalam genggaman hangatnya.

" Tapi karena wajahmu masih muda...aku tahu anakmu masih kecil."

Wanita itu tertawa senang dan menepuk tangan Jin. " Kau adalah orang yang berhati luhur... kuharap anakmu akan seperti itu. Biarlah sang Dewi menjaga anakmu dalam keberuntangan dan keselamatan. Ini milikku sewaktu kecil tapi hari ini akan ku berikan padamu..."

Jin berusaha memprotes. " T-tapi aku t-tidak bisa...ini milik anda!"

Wanita tua itu menggeleng pelan dan tersenyum. Ia mendorong pelan tangan Jin kembali.

" Dulu...Dulu sekali aku adalah anak yang ceroboh. Kesialan selalu menghantuiku kemana-mana... mereka bilang aku anak aneh hingga suatu hari..." Kekehan dan tawa geli meledak dari wanita tua itu. " Hingga aku jatuh ke emperan sungai. Umurku saat itu baru 5 tahun−tahun 1925 bila tidak salah."

Jin terdiam mendengar cerita wanita tua itu. Tidak bisa berkata apa-apa.

" Aku sedang berusaha membantu eommaku untuk menangkap kepiting-kepiting kecil tetapi kakiku terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur. Hanbok baruku sangat teramat kotor. Bahkan aku menjatuhkan beberapa karung beras orang lain ke sungai... membuatku dimarahi oleh banyak orang."

Wanita tua itu menyapu air mata karena terlalu banyak tertawa dari ujung mata tuanya. " Aku ingat aku menangis saat itu. Aku berusaha keras membantu mengangkat semua karung-karung itu tapi mereka malah menghinaku. J-jadi sambil terisak, aku memungut beras-beras yang berjatuhan ke dalam lumpur."

" Aku membiarkan hanbokku kotor sepenuhnya hanya untuk membersihkan beras-beras murni itu. Hingga..."

Jin memundurkan wajahnya saat wanita tua itu menunjuk hidungnya lembut. Ia masih terdiam.

" Dia sangat mirip sepertimu. Begitu mirip hingga rasanya aku akan menyangka kau adalah dirinya! Dia membantuku...meredakan tangisanku. Dia sangat baik...sangat teramat baik untuk seorang manusia. Dia juga membantuku mengangkut semuanya!"

" Aku masih ingat saat dia membuatku tertawa kembali. Dia membuat lelucon lucu−dan memberikanku gantungan itu. Dia bilang selama aku menyimpan itu−sang Dewi akan menghancurkan kesialanku dan memberkahi seluruh hidupku dengan keberuntungan!"

Jin bergumam dan bertanya. " Dia siapa?"

Wanita itu tertawa. " Sayangnya setelah dia memberikan itu...dia langsung pergi! Tapi aku ingat saat itu...saat pergi dia memakai hanbok untuk namja berwarna pink seperti bunga sakura. Aku belum sempat bertanya nama oppa baik itu... padahal aku ingin memberikannya kimchi dan bibimbap terbaik keluarga kami."

" Dia memang benar. Aku tidak lagi ceroboh dan diderita kesialan. Sedari kecil aku terus menerus mencari oppa itu. Bertanya kemana-mana hingga aku sendiri berumur 20 tahun. Aku tidak bisa melupakannya sampai hari pertunanganku.

" Aku sedang jalan-jalan dengan pakaian pengantin saat itu dan aku melihatnya. Sekilas saja−entah itu benar dirinya atau bukan. Tapi wajahnya saat itu tidak bahagia...dia menangis. Dia begitu menangis dan aku melihatnya menangis bersamaan dengan sebuah kereta besar yang pergi. Kereta itu seperti yang dipakai orang–orang untuk pindah rumah"

" Aku ingin sekali mengejarnya dan meneriakinya tapi dia keburu berlari dengan berurai air mata menuju hutan besar. Dan tepat saat itu juga−calon suamiku menarik tubuhku dan membawaku kembali ke pelaminan. Aku ingin sekali berterima kasih pada oppa itu..."

Jin tersenyum lembut saat wanita itu juga tersenyum padanya.

" Aku ingin berterima kasih atas semua pertolongannya. Terima kasih karena dia sudah mengubah hidupku begitu besar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Usiaku sudah menginjak sangat tua tapi aku yakin dia masih ada...entah mengapa aku berpikiran seperti itu."

Jin menbungkuk hormat.

" Maafkan karena memotong... saya harus segera pergi. Saya bisa terlambat bekerja. Dan saya yakin dia akan benar-benar menerima rasa terima kasih anda. Dan terima kasih atas benda itu"

Jin memasukkan benda itu pada kantong celananya. " Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk berterima kasih"

Wanita tua itu tersenyum dan sekali lagi menepuk pipi Jin dan membuat namja manis itu juga ikut tertawa.

" Dengan cara membesarkan anakmu menjadi seorang yang berhati bersih dan luhur sepertimu. Melihat seorang anak kecil dapat bernasib sama baiknya denganku sudah membuat hatiku bahagia. Apalagi anak itu dari orang tua serendah hati seperti dirimu"

Wajah Jin memerah malu. Ia menggaruk kepalanya dan tersipu.

" Ahh~ Anda berlebihan nyonya"

" Panggil aku Yoona saja"

Jin sekali lagi tersipu dan membungkuk. " Terima kasih Yoona noona..."

Wanita tua itu tertawa geli. " Kau membuatku seperti muda lagi!"

Jin dengan sopan mengundurkan diri dan segera berlari menuju museum. Ia terus mengulum senyum manis di wajahnya. Sambil sesekali ia menepuk-nepuk celananya yang berisi gantungan kunci itu.

Mata Jin melirik jam di jalanan Seoul yang menunjukan dia masih punya 15 menit lagi sebelum terlambat dan didempret oleh teman ber-absnya itu. Sumpah−Jin bisa muak sendiri jika sudah temannya itu memarahinya.

" Aku dataaaang!"

" YAAK JEON SEOK JIN! KAU KIRA INI JAM BERAPA HAH!?"

Jin mengap-mengap lebar seperti ikan kehabisan nafas sambil menggerakkan tubuhnya luwes dan sedikit bercanda. Dia memang suka kelepasan dan kadang gila sendiri jika sudah bekerja.

Dia masuk melewati pintu belakang museum. Yang tepat sekali berhubungan dengan sebuah ruangan besar tempat para arekeolog berkumpul dan mengkaji beberapa penemuan yang terdapat di lapangan.

Jimin−namja tampan (uhukk..bantet..uhukk) itu menatap Jin dengan mata melotot. Ia memegangi sebuah kuas untuk arkeolog dengan wajah memerah berang. Dan berakhir melemparkan kuas itu kesal ke lantai hingga memental.

Tapi Jin hanya tertawa.

" Hai Park bantet Jimin!"

Jimin melotot. " Bantet bantet! Kau sendiri ceking! Lihtalah jam itu Jeon Seok Jin!"

Kepala Jin celingak-celinguk di ruangan yang penuh benda bersejarah dan meja penelitian berukuran jumbo dengan dua pasang kursi dan lemari penyimpan di setiap sisi dindingnya.

" Mana jam? Perasaan jam kita sudah rusak karena minggu lalu kau melempar gigi Tyrex dan memecahkannya"

" I-itu karena kau juga pabbo! Dan apa-apaan baju kaos pink itu! Kau namja atau yeoja!?" Teriak Jimin kesal.

Jimin berjalan sambil menghentakkan kaki ke dalam sebuah ruangan kecil dengan papan nama ' Kantor Arkeolog' tepat di daun pintunya.

Ia keluar dengan menggumpal sebuah jas putih seperti jas dokter di tangannya. Meremas jas itu begitu kuat sebelum melemparnya dengan seluruh tenaga tepat di hadapan muka Jin dan membuat namja manis itu langsung ambruk dan terebah karena Jimin seperti melempar Frisbee.

" Pakai itu sekarang!" Jimin menggerutu dan kembali memungut kuasnya.

Jin duduk dan memakai jasnya dengan wajah manis seperti menjahili Jimin. Ia memakai jasnya sambil tertawa geli saat Jimin masih saja memakinya. Terkadang namja tampan itu bisa saja datar dan cool. Dan bisa juga begitu banyak bicara seperti sekarang.

" Pantas saja kau belum juga dapat pasangan sekarang" Jin memanyunkan bibirnya. "Kau saja sadis seperti ini...bagaimana istrimu nanti? Mau BDSM terus?"

Perempatan amarah muncul dengan manisnya di dahi lebar milik Jimin. Ia menggenggam kuasnya sambil menggeram dan mendesis berat. Dan berakhir menggebrak meja penelitian dengan wajah memerah karena emosi berlebihan.

Jin melirik sebentar dan mengangkat bahu cuek. " Aku tidak tahu misalnya meja itu patah..."

Namja manis itu mengangkat tangannya. " Yang jelas bukan aku yang kena banting oleh Tiffany Noona... Aku hanya sebagai saksi mata yang baik"

Jimin menghampiri Jin geram dan menjitak pucuk kepala namja manis itu sekuat tenaga. Membuat Jin mengerang dan memukul balik kaki berotot milik Jimin. Raut Jin berubah merengut dengan imut.

" Kenapa Namjoon mau menikahimu hah!?" Jimin mengerang. " Kau yang suka menghina orang seperti ini!?"

Jin memutar kepalanya menghadap Jimin dengan raut manis. Mata hitam membulat dan pipi digembungkan. Bibir selembut plum itu sengaja dipoutkan ke arah Jimin. Seperti dengan sengaja memamerkan wajah imut milik Jin.

" Karena aku manis dan baik hati~"

Jimin mendecih. " Manis dari kepalamu! Jelas-jelas badanmu ceking seperti ini dan apa-apaan dengan baik hati!? Aku akan tertawa terbahak-bahak mendengarmu menyebutkan kata itu di depan semua orang!"

Jin merengutkan bibirnya dan membuat Jimin mendesah lelah. Ia tetap tidak akan pernah bisa menang bila berargumen dengan Jin. Kapanpun dan dimanapun. Seolah-olah namja manis itu sudah hidup lama dan sudah mempunyai banyak pengalaman dalam mengurusi argumen dari orang-orang dari tingkatan umur dan sifat yang berbeda.

" Sudahlah..." Jimin menengahi. " Kita harus segera bekerja atau Tiffany Noona akan mencekik kita hidup-hidup"

Namja manis itu berdiri dengan tubuh sudah dibalut jas yang sama dengan milik Jimin. Ia meletakkan tasnya di dalam kantor dan keluar kembali dengan sekumpulan alat dan kuas untuk meneliti penemuan di lapangan.

" Jadi... apa yang akan kita teliti hari ini? Kerangka lagi? Aku bosan sekali dengan itu~ Aku susah payah lulus kuliah bukan hanya untuk berkutat dengan tulang belulang menjijikan itu~"

Jimin mengeluarkan beberapa benda-benda berusia kuno yang ia simpan di dalam lemari penyimpanan yang begitu steril. Benda–benda kecil seperti fot dan aksesori lainnya berusia ratusan tahun ia letakkan di atas meja penelitian.

Jin melirik sebentar dan tertawa. Pasti benda-benda seperti ini lagi.

" Bukan... para mahasiswa dari universitas Oxford sedang menyisir wilayah mansion kuno kediaman orang-orang eropa dan keturunannya di korea. Mereka mengirimkan beberapa barang yang mungkin milik Korea Selatan ke kita untuk diteliti"

Jin mengangkat selembar potongan foto tua yang sudah buram. Ia menyipitkan mata demi melihat siapakah yang ada di foto itu.

Dilihat dari kaki mereka−mereka berjumlah tiga orang. Dua duduk di atas kursi dan satu lagi berdiri. Tapi yang duduk paling ujung seperti kaki anak kecil berusia sekitar 7 tahunan.

" Ini siapa?" Jin menunjukkan potongan setengah foto.

Jimi meliriknya dan bergumam. " Aku menyimpan benda itu tadi malam di rumahku. Benda itu satunya-satunya sebagai penunjuk salah satu keluarga yang tinggal di kediaman eropa itu"

" Yang satu ini memakai hanbok!" Jin menunjuk sepasang kaki di sebelah kiri. Balutan hanbok menjuntai sampai kakinya.

" Tapi untuk namja" Sambung Jimin. " Dan apakah kau sadar dengan apa yang terjadi pada potongan foto ini, Jin?"

Jin menyipitkan mata saat Jimin membelai ujung robekan foto dan terdapat abu hitam tersisa di telunjuknya. Abu itu berubah menjadi hitam dan seperti bekas arang di atas jari telunjuk milik Jimin.

Membuat Jin sadar atas apa yang terjadi.

" Kebakaran/Kebakaran" Ucap Jin dan Jimin serentak.

Jin menatap Jimin. " Kau berpikir seperti itu juga?"

Jimin menjauh dan mengambil kuas kecilnya. Menyapukan kuas itu pada ujung robekan dengan telaten dan hati-hati. " Aku juga tidak pasti. Kita tidak bisa langsung mengasumsikan keluarga itu mengalami kebakaran atau bisa saja hanya foto ini yang terbakar"

" Tahun berapa?" Tanya Jin lagi. " Kau sudah menyelidiki tahunnya?"

" Belum...aku hanya terus menerus mencari tentang foto itu." Jimin mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam lemari. Kertas-kertas papyrus dengan tulisan latin dan hangul yang ditulis tangan.

Dan yang terakhir membuat Jin kaget.

" Kenapa ada pecahan cermin di dalam kertas itu?"

" Hm?" Jimin mengangkat pecahan kecil kaca cermin yang sangat teramat jernih di tangannya. " Maksudmu ini?"

" Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Jin balik. " Boleh kulihat?"

Jimin menyerahkan pecahan kaca itu ke arah Jin. " Tentu...kau yang lebih ahli kalau dalam menyisir barang. Aku hanya hebat saat mencari tahu info..."

Pecahan kaca jernih itu tiba di tangan Jin dan membuat nafas Jin seketika berhenti saat melihat betapa jernihnya kaca itu. Seolah-olah zaman dan waktu tidak bisa menggerus kemurniannya. Membuat tetap dalam kejernihan abadi.

Jin melihat pantulan dirinya. Pantulan dari wajahnya.

Membuat Jin merasa terhisap ke dalamnya. Menariknya tapi tarikan itu kurang besar untuk menarik keseluruhan dari Jin. Cermin itu perlu utuh.

" Aku..." Jin berkata lirih. " Aku serasa pernah tahu siapa keluarga ini..."

Jimin berjengit kaget. " Kau tahu?"

" Aku pernah membaca sebuah catatan kuno yang dibuat oleh orang korea di sebuah perpustakaan kecil di Daegu. Catatan itu berbentuk seperti lembaran-lembaran papyrus dengan tulisan hangul yang sangat tradisional. Agak bercampur dengan aksara china"

Jin memijit keningnya tanpa melepas pecahan cermin itu bersamaan dengan potongan foto di tangannya. " Aku belajar bahasa itu sebagai tambahan waktu saat masih kuliah dulu. Aku mengerti. Ada satu keluarga yang memiliki sebuah cermin bagaikan tangisan para malaikat. Cermin yang mereka katakan sebagai ' Penghubung antar perbedaan'. Anak mereka-lah yang membuat hal itu terjadi..."

Jimin segera menatap Jin cepat dan mencengkram pergelangan tangan Jin. " Kau masih ingat nama keluarganya!?"

" Park..." Jin menatap Jimin dengan pandangan meminta maaf. " Hanya itu yang mereka sebutkan...tidak ada nama lain selain Park. Aku mencoba bertanya kepada para ahli soal sambungan catatan itu tapi mereka bilang...pembuatnya dulu membawa mati catatannya dan menghanyutkannya di sungai Yangtze"

Jimin menggeram. " Sial!"

Jin sekali lagi menatap pecahan cermin itu. Dan seolah-olah menyuruh Jin untuk pulang sekarang.

" Apa lagi yang para mahasiswa itu dapatkan, Jimin?"


.

.

.

.

Seoul−abad 21

Sore

.

.

" Dah Jungkook! Kyungsoo pulang dulu!"

Jungkook kecil tertawa dengan senyum kelinci manisnya. Ia melambaikan tangan ke arah mobil hitam besar yang baru saja meninggalkannya sekolahnya. Kyungsoo−teman satu kelas Jungkook itu melambaikan tangan sambil tersenyum imut dari kaca mobil.

" Bye Bye Kungsoo!" Sahut Jungkook balik. " Besok jangan lupa bawa bulgoginya!"

Kyungsoo mengangguk mantap dan meninggalkan Jungkook sendirian di sekolah mereka.

Jungkook mengerjapkan matanya imut dan menggembungkan pipi. Hanya ia sendiri yang tinggal di taman belakang sekolahnya yang rimbun dan penuh mainan. Inilah memang keseharian Jungkook.

Eommanya bisa saja menjemputnya saat hampir malam karena Jungkook tahu eommanya pasti bekerja keras demi dirinya juga.

Appanya? Appanya terkadang bisa saja menjemput Jungkook lebih cepat misalnya waktu bekerja appany sudah selesai dulu. Bahkan bisa saja Namjoon membawa Jungkook ke studionya dan menitipkan anak manisnya pada Yoongi.

Yoongi yang pekerjaannya sebagai rapper dan pengamat musik itu cuek-cuek saja. Malah ia senang karena ia tidak merasa sendirian lagi studio besarnya karena ia bisa sesekali bermain dengan Jungkook atau mengajari Jungkook soal musik.

" Eomma lama sekali..."

Jungkook meraih salah satu ayunan dan mulai duduk disana. Menjuntaikan kakinya ke bawah dan menatap taman di depannya. Matahari sudah semakin turun dan membuat hawa kota Seoul juga menurun.

Bocah kecil bergigi kelinci itu merapatkan kakinnya sambil sesekali memerengutkan bibir. Ia mengayunkan kecil tubuhnya di ayunan ke depan dan ke belakang. Salahkan baju seragamnya yang mempunyai lengan pendek dan celana biru selutut.

Jelas-jelas kulit mulus milik Jungkoo tereskpos dan merasakan terpaan angin lebih besar.

Jungkook tidak pernah takut diculik.

Kata appanya−Jungkook kuat. Jika tidak berteriak−Jungkook akan menggigit dengan dua gigi kelincinya.

" Eomma..." Jungkook memelas. " Kookie kedinginan..."

Wajah manis bocah itu merengut dengan wajah menahan rasa dingin. Jungkook makin merapatkan kakinya. Ia melihat taman dengan seksama...kalau-kalau Jin tiba-tibsa berteriak dan berlari tergopoh-gopoh.

Mata hitam Jungkook berair. Ini terlalu dingin. Dia tidak bisa terlalu banyak mentolerir rasa dingin di badannya. Air mata akan tumpah jika saja...

" YAAAK! SIAPA YANG MENUTUP MATA KOOKIE!? KENAPA JADI GELAP SEPERTI INI!?"

...tidak ada orang yang mengagetkannya begitu besar.

Dengan cara menutup kedua mata manis milik bocah bergigi kelinci.

Jungkook meronta. Tidak−dia tidak boleh diculik seperti ini. Appa dan eommanya pasti sedih. Dia juga tidak akan pernah bertemu mereka lagi. Jungkook tidak boleh seperti ini. Dia harus berteriak minta tolong sekarang.

Sekencang-kencangnya sampai menjerit mati-matian.

" Ssss...Kookie jangan berteriak. Aku tidak akan menyakiti Kookie"

" Eh?"

Kedua matanya kembali dibuka. Jungkook segera menstabilkan penglihatannya hingga jernih dan memutar badan panik. Ia membulatkan mata kaget saat menemukan sesosok anak kecil seperti dirinya.

Berdiri tepat di belakangnya dan menatap Jungkook dengan tatapan mata tajam yang teduh. Rambut pirangnya agak sedikit menutup mata bocah itu. Ia meletakkan tangannya di atas surai kehitaman milik Jungkook.

" K-kau...kau s-siapa?"

Anak itu tersenyum manis. Membuat Jungkook mau tidak mau sedikit tenang.

" Ahaha...panggil saja aku V!"

Jungkook menelengkan kepala bingung. " V? Hanya V?"

V menganggukkan kepala mantap dan mendudukkan diri di ayunan di sebelah ayunan Jungkook. V menatap Jungkook bingung. " Kenapa Jungkook masih disini? Hari sudah hampir malam..."

Jungkook menatap V balik. " Dan kenapa V hyung disini juga? Dan darimana V hyung tahu namaku?"

" Oh..." V mengerjapkan mata hitamnya. " Di name tag mu ada nama Jeon Jungkook. Dan juga...aku disini karena aku tinggal di sekitar sini"

Jungkook tersipu mala saat melihat name-tagnya. Ia menutup name-tag itu dan membuat V tertawa melihat sifat malu-malu milik Jungkook. Jungkook sendiri tersentak saat merasakan belaian ringan di puncak kepalanya.

Rasanya hangat...seperti eommanya.

Tapi setelah ia berusaha melihat−Hanya seorang V yang tersenyum lembut ke arahnya.

" Anak semanis Kookie tidak boleh keluar malam-malam...Kookie harus segera pulang"

Jungkook memainkan ujung jari V yang ia tarik ke pangkuannya. Entah mengapa−padahal hanya beberapa saat yang lalu mereka bertemu−kedua bocah itu seperti sudah terikat antara satu sama lain.

Jungkook yang awalnya pemalu−melihat senyum lucu milik V dan sifat luwesnya−termasuk membiarkan Jungkook bermain-main dengan jarinya atau tertawa dan ikut-ikutan bermain dengan poni panjang milik Jungkook−membuat Jungkook nyaman.

Jungkook memekik senang saat V menarik rambutnya menjadi apple hair. Jungkook yang sedari awal sudah gregetan dengan poni pirang milik V−menariknya juga ke atas menjadi apple hair lucu.

Dan tanpa sadar−V berdiri dan memasang pose menangkap. Membuat Jungkook menelengkan kepala bingung.

" V akan menangkap Kookie! Mulai menghitung bunny manis!"

Jungkook tersentak sadar dan berlari secara gelagapan.

" KYAA KOOKIE BELUM SIAP!" Jungkook melirik ke belakang dan segera berlari sangat panik mengelilingi taman saat V berteriak lucu di belakangnya. Bersiap-siap menangkpa Jungkook.

" MENGHITUNGLAH BUNNY MANIS!"

" KYYAAA V! INI TIDAK−" V hampir saja menangkap Jungkook jika saja bocah itu tidak menjerit dan berlari seperti yeoja kemalingan dan mengangkat celana birunya tinggi-tinggi. " BAIKLAH! B-BUNNY AKAN MENGHITUNG...! GYAAAAA V HYUNG! JANGAN TANGKAP KOOKIE DULU!"

Mereka berdua tertawa di balik kesunyian taman. V yang setia menangkap Jungkook dan Jungkook yang terus menerus berlari dengan suara lucu membuat V gemas setengah mati. Bocah berambut pirang itu ingin sekali memeluk tubuh Jungkook.

Jungkook terus berlari dan menghitung. V tertawa dan terus mengejar bocah berparas manis itu.

Tapi selanjutnya V membulatkan mata kaget. Di depan ada kubangan lumpur tapi Jungkook masih berlari tanpa melihat ke depan.

" KOOKIE!"

GREEEEEEP!

Jungkook membulatkan mata bingung dan mengerang kesakitan saat V tiba-tiba menarik tangannya sepenuh tenaga dan membanting tubuh kecil Jungkook ke tanah berumput. Membuat punggung Jungkook seperti berdenyut-denyut.

" A-akk...sssh..V h-hyung"

V meraih punggung Jungkook dengan tangannya. Ia mengelus punggung bocah manis itu dengan raut khawatir. " Kookie tidak apa-apa!? Untung saja kau tidak terjatuh ke dalam sana Bunny!"

Mata Jungkook berkaca-kaca dan berair saat menatap V. Membuat V merasa bersalah dan memeluk tubuh kecil Jungkook ke dalam dekapannya. Ia mengelus bagian yang dirasa sakit di area punggung Jungkook.

" Hikks..." Jungkook menyeka air matanya dan menggigit bibir bawahnya. " P-punggung Kookie n-nyeri, V h-hyung..."

V meniup poni Jungkook lembut. " Sudah...Kookie harus kuat"

Jungkook mendongak. Menatap V dengan mata besar berairnya yang imut.

Dan lagi-lagi...matanya ditutup.

" E-eh? V hyung? Kenapa mata Kookie ditutup?"

V mengulum senyum lembut. " V ingin membawa Kookie ke suatu tempat...tapi tidak sekarang"

Jungkook melepas tangan V dari matanya dan menatap bocah berambut pirang itu kesal. Ia merengutkan bibirnya dengan mata berkilat tidak suka. " Kenapa? Kenapa tidak sekarang?"

" Hahaha...tidak sekarang Kookie. Little bunny harus belajar sabar dulu"

" Tapi Kookie penasaran! Ayolah Hyung..."

V menggeleng pelan dan melepaskan Jungkook dari dekapannya. Membuat Jungkook kebingungan. Ia sudah begitu nyaman dengan peluk teman barunya ini dan secara reflek Kookie mencengkrama bagian depan sweater putih milik V.

" Eh?" V tersentak. " Kenapa Kookie?"

" Peluk lagi..." Jungkook beringsut maju. Bocah kecil itu mengalungkan tangannya di leher V dan menyembunyikan wajahnya di dada bocah berambut pirang itu. " Jungkook kedinginan..."

V sendiri hanya mengulum senyum dan mengelus punggung Jungkook. " Tapi Kookie harus pulang sekarang...V juga harus pulang juga"

" Tidak mauuu" Jungkook merengek. " Mau V hyung! Kookie mau ikut V hyung!"

" Nanti eomma Kookie mencari Kookie..."

Jungkook makin erat memeluk leher V hingga V tersentak kaget saat bajunya basah. "Eomma bisa lambat...Hiiks...Kookie tidak suka dingin, Kookie mau ikut V hyung pulang. Nanti Kookie bisa telfon eomma~ Hikks...Kookie mau Mphi mphi.."

" JUNGKOOK!"

V dan Jungkook sama-sama berjengit kaget. Jungkook sendiri segera menegakkan kepalanya ke atas. Ia kenal suara itu. Itu bukan eommanya bukan juga appanya. Ia sangat kenal suara berat tapi manis itu.

" Y-YOONGI HYUNG!"

V tersenyum manis. " Nah...Jungkook harus pulang"

Jungkook baru saja sadar bahwa masih ada V di sampingnya. Yang tersenyum dengan wajah bodohnya dan membuat Jungkook seketika tertawa. Lengan V masih memeluk erat pinggang Jungkook.

" T-tapi Kookie mau mphi mphi hyung~"

V mengusak rambut Jungkook dan tertawa. " Masih ada hari esok little bunny...pulanglah"

" JUNGKOOK! KOOKIE KAU DIMANA MANIS!?"

Suara teriakan milik Min Yoongi makin kencang. Membuat V dan Jungkook dengan berat hati meninggalkan satu sama lain. V berdiri di antara rimbunnya pepohonan sedangkan Jungkook mulai berlari meninggalkan bocah itu ke arah Yoongi yang segera menggendong Jungkook pulang.


.

.

.

.

Seoul−1763

Mansion keluarga Park

.

.

.

Hari sudah begitu malam untuk ukuran seseorang seperti Baekhyun dan Taehyung kecil.

Baekhyun segera memasuki kamarnya dan Chanyeol dengan langkah gontai. Tanpa ganti baju−Baekhyun segera merebahkan dirinya ke atas tempat tidur dari sutra itu. Ternyata menidurkan anak se-hyperaktif seperti Taehyung benar-benar melelahkan.

Taehyung terus merengek untuk dibiarkan tidur di perpustakaan. Baekhyun tahu anaknya itu maniak buku dan pintar tidak ketulungan. Tapi kalau sudah untuk tidur di perpustakaan−Baekhyun jelas-jelas menolaknya.

Itu tidak baik untuk kesehatan Taehyung. Apalagi di luar−Seoul akan mengalami musim dingin.

Namja manis itu mencium bantal di sebelahnya sayang−bantal milik Chanyeol.

Chanyeol sedang keluar karena pekerjaannya menuntutnya seperti itu. Meninggalkan Baekhyun sendirian bersama Taehyung di dalam mansion besar mereka. Dan terkadang Baekhyun merasa begitu sendiri tanpa ada belaian hangat dari tangan besar milik Chanyeol.

" Chanyeollie..." Panggil Baekhyun lirih. " Pulanglah cepat ke rumah. Aku dan anakmu merindukan appa mereka"

.

.

.

Krieeeet...

Bukan Taehyung namanya jika ia tidak cerdik.

Ia harus bersusah payah berpura-pura terlihat tidur di depan eommanya. Taehyung tidak ingin membangunkan Baekhyun−dia tahu eommanya itu sangat kelelahan setelaha seharian mengurus pekerjaan rumah dan juga dirinya.

Maka dari itu−Taehyung membuka pintu perpustakaan mansion dengan sangat berhati-hati. Takut-takut membunyikan suara.

Taehyung dan Baekhyun seperti punya ikatan batin. Jika sesuatu menimpa salah satu dari mereka, yang satu lagi bisa merasakannya. Karena alasan itulah yang membuat Taehyung berusaha tidak membuat suara sama sekali.

Atau tidak−Baekhyun akan bangun dan tahu bahwa Taehyung mencoba menyelinap keluar lagi.

Pintu perpustakaan tertutup sempurna.

Taehyung berlari-lari kecil ke arah cermin besar. Yang kembali berderak seolah-olah itu adalah air yang bisa ditembus masuk.

Dan Park Taehyung makin tersenyum dengan wajah lucunya saat melihat ada seorang anak kecil persis seperti dirinya berdiri di dalam cermin. Dengan mata biru yang menatap Taehyung lainnya dengan raut bahagia.

Mereka berdua sama-sama menyunggingkan senyum dengan wajah lucu.

Park Taehyung menyentuh cermin dan duduk di depan cermin. Bersama dengan Kim Taehyung yang juga sama-sama duduk bersila.

" Bagaimana kalau kita bermain catur sihir hari ini?" Tawar Kim Taehyung. " Eomma baru saja memberiku ini"

" Tentu saja" Balas Park Taehyung.

.

.

.

.

T

B

C

XD

HALO! SAYA BALIK LAGI!

ADA YANG KANGEN AUTHOR NISTA INI!?

SAYA UCAPKAN PADA SEMUA ORANG YANG SUDAH FAV AND FOLLOW AND REVIEW DI CERITA INI!

SAYA NGGAK BISA NYEBUTIN DAN NULIS NAMA KALIAN SEMUA SATU PER SATU DISINI! JADINYA SAYA HANYA BISA MENGUCAPKAN! BAGI YANG BERTANYA SOAL DUA TAEHYUNG... AUTHOR NGGAK BISA JAWAB SEKARANG KARENA ITULAH INTI KENAPA SEMUA INI TERJADI! JADI TUNGGU DAN PECAHKANLAH INI SEMUA SENDIRI YO!

MIND TO RnR?