My Sweet Devil

By, CN Scarlet

.

.

.

.

.

Vocaloid©Yamaha Corp

Dan semua karakter yang aku pinjam untuk cerita ini.

T+

.

.

.

.

Voca High hari itu tenang seperti biasanya. hari ini, Kamis yang malas, Len dan Rin berebut sebuah jus berwarna jingga seperti biasanya. Shion Kaito mendengus bosan di sebelah Gakupo temannya, tidak seperti biasanya.

"Kau kenapa?" tanya Luka, datang dari meja pesan membawa sekotak bento instan. Paling isinya tuna, sudah menjadi kebiasaan.

"Aku nggak kenapa-napa kok, selama ada kamu sayang..." goda Kamui, yang langsung dapat jitak sumpit.

"Diam, aku tanya Kaito juga!"

Kaito menatap malas kedua pasangan yang sedang bertengkar kecil di hadapannya. Mereka selalu seperti itu, kemudian tertawa setelahnya, selalu. Huh. Andai dia dan Meiko tidak gagal waktu itu, mungkin mereka bersama hari ini.

Dia dan Meiko, huh?

Yah, kalau saja si gadis teal pengganggu semacam Hatsune itu tidak datang di saat genting, jalannya menjadi pacar wakil ketua itu mulus sentosa. Ya ampun, ini semua gara-gara si Hatsune terkutuk itu. Si iblis pencium. Hatsune Miku!

"To.. Kaito..."

Yang dipanggil malah menggelinding-gelindingkan muka di meja.

"Oi, bakKaito!"

"Apa?"

Kepala berambut biru itu terangkat, menampilkan penampakkan sang ketua osis yang tengah merajuk seperti anak kecil. Hal itu sontak membuat meja mereka hening. Len dan Rin menyeruput jus, menjadi satu-satunya sumber suara di meja mereka.

Kesampingkan meja lain yang lebih berisik.

"Kau kenapa? Apa, Mi-chan menciummu lagi?" tanya Kamui, tidak bermaksud menggoda. Hanya bertanya.

"Miku belum berhenti menculikmu?"Luka memastikan, Kaito hanya menggeleng menyahuti keduanya.

"Perempuan itu apa tidak punya rasa malu memperkosa mulut Kai-kun dengan seenaknya begitu?" gerutu Rin.

"Hah?"

Diantara kelima orang di meja itu, hanya Len Kagamine saja yang melongok heran. Wajahnya tidak mengisyaratkan kebohongan. Lelaki berambut kuning itu tidak kenal Miku, seolah tidak pernah mendengar nama Hatsune Miku sebelumnya. "Miku? Siapa itu, Kaito?" tanyannya.

Kaito, Luka, Gakupo, dan Rin langsung mengalihkan atensi. Hening sesaat. Tatapan 'jangan bercanda, deh..' tertuju pada Len Kagamine, yang terlihat amnesia itu.

"Kau tak ingat Miku?" tanya Luka, memastikan.

"Bahkan bulan lalu kalian berciuman di toilet, kau tak ingat?"

Len melotot ke arah Kaito, teriakkan 'bibirku masih gress, tau!' seolah keluar dari kedua bola mata aquamarine bening Len Kagamine. Gadis berambut pink dalam majelis itu memijit pelipisnya. Menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar, pertanda gusar.

"Senpaaaaii!.."

Seluruh penghuni kantin yang ramai itu langsung diam seketika, seorang gadis berambut silver panjang menjadi pusat perhatian. Membungkuk meminta maaf dan mengembalikan suasana ramai seperti semula, lalu bergegas menghampiri meja dimana tim pengurus osis inti berkumpul.

"Gawat, Luka-senpai! Gawat!"

"Tenang Ring-chan, tenang.." Kamui menepuk-nepuk adik kelas satu yang panik itu, "tarik nafas... keluarkan..."

Suzune Ring, nama gadis itu, menuruti senpai berambut ungu untuk menenangkan diri. Tarik nafas, keluarkan, tarik, lepas. Rin dan Len memberinya air mineral, yang langsung habis dalam sekali tegak. Lima menit dia baru bisa tenang.

"Jadi, katakan apa yang salah?"

"Kolam renang, senpai!"

Hanya tiga kata itu, Megurine Luka langsung berlari meninggalkan teman-temannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"SeeU!"

Gadis cantik dengan rambut bergelombang panjang berwarna pirang itu menoleh, "senpai!"

Megurine Luka berhasil menapakkan kakinya di arena kolam renang lantai dua dengan nafas terengah. Dibelakangnya ada Len, Rin, Kaito, Gakupo, dan Ring yang mengekor. Luka biasa saja, tapi melihat seluruh murid kelas sepuluh dengan pakaian renang pingsan berserakan bukanlah hal yang biasa bagi ketua osis dan anggota intinya yang lain.

"Mereka.. kenapa?"

Len dan Rin ikut tumbang kemudian.

"Loh, Kaito-kun tidak mempan mantra ya?" tanya Suzune Ring, SeeU menimpali. "Siapa yang mengikatnya?"

"Hah? Apa maksud kalian?"

Kaito malah balik bertanya. Luka Megurine mengulum senyum sedangkan Kamui menyeringai mesum, membuat Ring dan SeeU semakin curiga.

"Kau yang_"

"Jangan bercanda!" Ring menyela pertanyaan SeeU, "sekalipun aku mungkin, tapi bukan aku yang mengikat Shion-senpai!"

Kaito Shion hanya menatap kedua gadis yang tengah bertengkar itu bergantian dengan tampang bodohnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan mengikuti arah datangnya suara. Gakupo Kamui nyaris saja tertawa melihat tingkah si ketua osis.

"Oke hentikan ini dan biarkan kami pergi ke lembah peri!" perintah Luka, kedua adik kelas itu langsung diam.

Suzune Ring mundur ke dekat tangga, membiarkan SeeU dan Luka membuka gerbang batas dari bibir kolam. Suatu ritual langsung terjadi di sana. Kolam jadi beriak, membentuk lingkaran besar air tenang di tengah yang perlahan mulai bercahaya.

"Cepat masuk, sana!"

Ring mendorong dua pria dengan dua warna rambut berbeda itu ke tengah kolam, teriakkan sang ketua osis berambut biru membahana sesaat. Sebelum menghilang bersama bayangan tubuh mereka. Air di tengah tetap tenang.

"Kau juga..."

Kemudian gadis berambut pink itu masuk bersama dua lainnya.

"Jangan khawatir, Luka-senpai! Kami akan membuat kolam kembali seperti semula.."

.

.

.

.

.

.

Di tempat lain...

Daratan yang begitu indah, dengan wangi bunga-bunga semerbak dan berry-berry berkilau seperti kristal, makhluk-makhluk bersayap cantik berterbangan. Tangan mungil mereka, menyebar serbuk sihir beraroma menyejukkan ke semua tempat. Menjadikan tempat itu seperti dunia khayalan dalam mimpi anak-anak.

"Lihat, makhluk setengah iblis itu lagi-lagi datang kemari!"

"Sayap berbulu hitam seperti gagak, tidak cantik!"

Cicitan para peri, makhluk berbentuk manusia seukuran serangga dengan sayap pipih berkilau yang terbuat dari kristal ajaib yang bisa meleleh jika terpisah dari tubuh, bergaung mengelilingi gadis twintail tosca itu. Ada sebuah kerutan kekesalan di jidatnya mendengar ejekan para peri.

"Diam kaliaaaan!" teriaknya, dibalas cemoohan dari para peri bermulut jahat itu.

Sayap berbulu hitam di balik punggungnya mengepak pelan, mengangkatnya sedikit lebih tinggi ke udara. Tangan-tangan lentik itu meraih tubuh para peri bermulut jahat dengan gesitnya. Mematahkan sayap indah mereka yang berkilauan tanpa perasaan. "Rasakan ini! rasakan ini!"

Peri-peri yang sayapnya telah patah itu Miku jatuhkan pada hamparan padang bunga yang empuk. Banyak sekali peri sejenis itu di sana, meski teman-teman mereka sudah kehilangan sayap, ada saja yang masih mengejek si gadis teal.

"Miku jelek!... si makhluk aneh, iblis gadungaaan..."

"Angel berbulu hitam!"

"Devil berbulu, tak lazim!"

Dan berbagai ejekan lainnya. Terdengar seperti nyanyian yang menyebalkan, bukan?

"Kupatahkan sayap kalian semua!"

Miku mengepak dan menangkapi para peri itu lagi dan lagi, sampai seluruh peri bermulut jahat di lembah itu habis berserakan di padang rumput tanpa sayap di punggung. Tas pinggang Hatsune Miku menggembung penuh sayap ajaib.

"Hatsuneeeee..."

Sebuah teriakkan lembut namun menggetarkan hati terdengar, Miku menoleh. Dibelakang sana Merli si ratu peri, pemimpin dari pasukan peri bersayap ajaib dan bermulut jahanam itu, melesat dengan tongkat sihirnya. Matanya menyala berbahaya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Miku melebarkan sayap berbulu hitam di punggungnya. Mengepakkan lebih keras untuk membuatnya melesat lebih cepat dari Merli. Melintasi padang rumput yang luas dengan sekali kepak. Hatsune Miku sudah tidak terkejar sampai gerbang air.

"Menyusahkan!" umpat sang ratu peri.

Tepat sebelum dia berbalik, tiga sosok muncul dari balik gerbang air di depan Merli. Dua pemuda berjenis manusia dan seorang gadis cantik berpakaian dewi yunani dengan sepasang sayap putih seperti milik seekor angsa besar di punggungnya. "Hisashiburi nee, Merli-chan!"

"Oh, okaerinasai Luka-hime!" sapa Merli, mengabaikan total pria ungu yang bergelayut di salah satu lengan angel berambut pink itu.

Dibalas dengusan angkuh si sayap angsa.

Melesat membawa kedua pria itu, Megurine Luka mengambil arah yang sama seperti yang ditempuh Miku. Namun sayapnya mengepak menahan gravitasi, tepat saat Merli bilang "..Miku kembali, kurasa kau akan kehilangan tahta angel-mu, hime-sama!" dengan nada mengejek.

"Jaga ucapanmu, Merli! Atau kurobek sayap indahmu itu!"

Mereka benar-benar berpisah. Merli tertawa jahat, kembali menuju lembah bunga dimana kumpulan peri-perinya berada sedangkan Luka pergi kearah lainnya dan mengabaikan tingkah si ratu peri.

Gadis Megurine itu mendarat tepat diatas padang bunga lavender yang dikelilingi rumpun pohon apel berlian yang rindang dan pendek. Kamui Gakupo membantu kekasihnya membaringkan Kaito yang belum sadar diatas salah satu daun lavender sihiran. "Ini sudah dekat dengan pohon ebony tempat tinggal si makhluk sepertiga itu, sebaiknya anak itu menemukan Kaito sendiri. Atau sebaliknya." kata Luka.

"Apa itu tidak terlalu kejam, Luka-chan?" tanya Gakupo, "berbeda denganku, dia sangat polos dengan dunia sihir ini."

"Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi kau tahu sendiri, makhluk sejenis Miku itu yang paling tidak diterima di sini."

"Yah, aku tahu. Dunia peri tidak sama seperti dalam buku dongeng."

Gakupo Kamui menunduk, menyebabkan rambut ungu panjangnya menghalangi wajah lembut yang begitu memikat. Tangan lentik si angel berambut pink itu terulur. Mengenyahkan helaian ungu, sekaligus mengunci pandangan lembut sang kekasih.

"Setidaknya, kau dan aku tidak berada di posisi menyedihkan, bukan?"

Mereka berpelukkan. Kedua sayap Megurine Luka membawa kekasihnya serta mengudara ke tempat lain, jauh di dunia peri dari perbatasan tempat mereka berdua meninggalkan pemuda berambut biru itu terbaring.

Sebenarnya, kedua manik tosca dari gadis bersurai teal bertwintail itu mengawasi diam-diam dari balik pondoknya. Sebuah rumah kecil dalam bonsai pohon ebony berusia ribuan tahun, berpintu perak dengan sebuah lonceng yang akan berdenting jika pintu dibuka.

CRRIING...

Sebuah bunyi yang indah, terdengar ketika Hatsune Miku keluar dari rumahnya. Bayangan Luka dan Gakupo sudah menghilang di balik awan yang selalu jingga, dia yakin, karena itu dia berjalan mendekat. Tak ada bunyi apapun dari pergerakannya menembus rimbunnya lavender, bahkan ia berjalan dengan bertelanjang kaki.

Langkahnya mendekat. Memastikan helai biru yang dia lihat samar dari balik semak lavender itu benar adanya. Kemudian membelalak dengan wajah memerah mendapati sosok Shion Kaito terbaring di sana dalam gakurannya.

Di dunianya!

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung

::

A/N : hm... apa ya enaknya? HBD aja deh buat readers yang lagi ultah. Fic ini spesial buat kalian, khusus dan lebih-lebih khususnya untuk yang udah baca chapter 1 dan speecless.. gomenne : itu emang bukannya tidak disengaja, tapi memang begitulah ceritanya.

Special thanks buat kakak-kakak penghuni stasiun 107,8 fm yang sudah ngizinin aku nebeng wifi. Dan buat kak Suma, selamat berjomblo ria. Hahaha.. :)))

.

On air perdana CN Scarlet, hari sabtu jam 11 s/d jam 1 siang loh. jangan lupa streaming di 107,8 fm style connection. Arigato..

.

CN Scarlet