Seven Days and Come Back to Me
Meanie—Seventeen ff
Coffey Milk
Sequel for Seven Days and Fall in Love
Rate T+
OOC, BL, RnR
.
.
Day 1Ini hari Minggu.
Mingyu membuka matanya saat merasakan cahaya mentari pagi jam tujuh menelusup lewat ventilasi jendela dan menerangi ruangan. Ia mengerjap, lalu terduduk, mengerang dengan suara berat. Ia mengusak rambut depannya, lalu melihat kearah cermin di lemari. Matanya terlihat berkantung hitam, hasil tidak bisa tidur dengan tenang selama hampir nyaris seminggu setelah insiden Wonwoo memutuskannya.
Mingyu tidak bisa tenang. Seolah ada yang hilang.
Mingyu mengerang lagi, lalu menjatuhkan diri ke bantal, mencoba untuk tidur lagi, tapi mata tak kunjung untuk ingin tetap menyelami ruang mimpi. Jadi ia duduk lagi dan merenggangkan otot-otonya, lalu menguap lebar. Dilipatnya selimutnya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Apa yang akan ia lakukan pagi ini?
Itu yang Mingyu tanyakan pada dirinya sendiri saat ia menyikat giginya dihadapan wastafel. Wajahnya terlihat jelek dengan kantung matanya, tapi dia tidak peduli. Dia lalu membasuh wajahnya. Lalu melihat jam dinding. Setelah berkumur, dia pergi ke balkon setelah membuka pintu ganda dari kaca. Hembusan angin pagi menerpanya.
Mingyu tersenyum kecil, ia tahu apa yang ingin ia lakukan sekarang.
Jogging.
^^0^^
Mingyu menyeka keringatnya yang jatuh turun dari pelipisnya. Ia sudah berlari entah lebih dari berapa kilo. Memutari beberapa perumahan, memutari taman yang besar selama lima kali, dan sekarang disinilah dia, di bangku taman, duduk dengan tidak tahu malu, menaikkan kedua kaki ke kursi dan meluruskannya, menyenderkan punggung di sandaran tangan kursi.
Capek.
Ia menutup mata, menghirup udara sejuk pagi ini sebanyak-banyaknya sebelum polusi udara kembali memenuhi alam. Ia membuka mata saat mendengar bisikan-bisikan gadis yang sedang jogging melewatinya, ia melirik mereka, lalu tersenyum, senyum mematikan. Pekikan para gadis itu langsung terdengar dan mereka pergi dengan wajah memerah.
Mingyu tertawa kecil.
Ia lalu memperbaiki duduknya agar lebih sopan, kali ini kakinya menapak pada tanah dan mengangkang, cara biasa duduk para cowok.
Ia kini bingung untuk melakukan apa lagi. Kalau Wonwoo ada disini—
Mingyu menggelengkan kepalanya, galau kembali menelusup hatinya. Wonwoo. Teringat dengan satu nama itu saja sudah membuatnya mellow.
Ia lalu berjalan, keluar dari taman dan membiarkan kakinya pergi kemanapun. Ia lalu berhenti di sebuah lapangan basket di sebuah perumahan. Dia mengangkat alis, ide bagus. Disana juga ada sebuah bola basket yang tidak tahu siapa pemiliknya.
Ia lalu mengambil ponsel dan menghubungi Soonyoung. Setelah semenit, sambungan diangkat.
"Pagi sayang?"
Mingyu bergidik eneg, sayang? Oh. Dia ingat sesuatu, "Pagi Soon." Dia membalas sapaan Soonyoung tidak peduli.
"Tsk!"
"Apa?" Mingyu terkekeh.
"Kenapa harus kau yang pertama kali mengucapkan selamat pagi padaku? Seharusnya Jihoon!" seru Soonyoung tidak terima, "harusnya aku melihat dulu siapa yang menelponku tadi. Idih amit-amit aku sayang padamu."
"Ewww, man. Seratus persen aku pun tidak tertarik padamu." Balas Mingyu.
"Apa pagi-pagi nelpon?" tanya Soonyoung ketus.
"Ayo main basket. Jangan tidur mulu." Jawab Mingyu.
"Oh, menyenangkan," jawaban Soonyoung membuat Mingyu tersenyum, tapi senyuman itu langsung luntur begitu Soonyoung melanjutkan kata-katanya dengan suara sombong, "tapi sorry, agenda hari ini kencan dengan Jihoon. Bye."
Tuuuttt…. Tuuutttt…..
Sambungan diputus sepihak.
Mingyu terdiam dengan senyum manis yang mengerikan dan urat-urat yang tercetak jelas ditangannya saat ia mengepalkan tangan. Untung ponselnya tidak hancur berkeping-keping.
Ia lalu membuka kontak dan mencari nomor kedua, nomor Seungcheol dan men-dial -nya.
"Dengan orang gantengh yhang mirip Edward Cullen disinih."
"Taik. Beda jauh." Mingyu berucap pedas, tidak terima mendengar sapaan Seungcheol.
"Yoh. What's up broh?" tanya Seungcheol, suaranya terdengar sedikit terengah, Mingyu baru menyadarinya.
"Main basket?" tanya Mingyu, mulai menaikkan alisnya, saat mendengar suara napas yang sedikit memburu lewat sambungan telepon.
"Uhh… ooh… sepertinya tidak bisahh…" jawab Seungcheol.
Mingyu benar-benar heran, rasa penasarannya muncul dan ia bertanya, "Kau habis ngapain sih? Dari tadi terengah mulu?"
"Oh sori…" jawab Seungcheol lalu tertawa kecil, "habis olahraga."
"Oh ya? Olahraga dimana? Aku juga habis jogging." Tanya Mingyu.
"Olahraga—ronde kedua, melanjutkan yang tadi malam dengan… Jeonghannnh.." Jawab Seungcheol dengan suara desahan pelan diakhir kalimat.
"Shit. Kampret." Mingyu lalu mematikan ponsel saat Seungcheol tertawa.
"Bisa-bisanya pagi-pagi mereka bermaksiat." Rutuk Mingyu lalu mengambil bola basket dan men-dribble bola itu ketengah lapangan, lalu ia bermain sendiri.
^^0^^
Mingyu berjalan tanpa arah, tapi ia malas pulang ke rumah. Jadi ia mencari sebuah tempat yang bisa membuat kebosanannya hilang, bahkan setelah dua jam ia berjalan secara acak, ia tak menemukan sesuatu yang bisa membuat bosannya hilang. Alih-alih menghilangkan rasa bosan, justru rasa galau yang muncul bertubi-tubi.
Ia pergi ke arcade. Dan ia ingat bagaimana ia bermain disana bersama Wonwoo. Galau muncul.
Ia jalan lagi. Karena perutnya mulai bunyi, ia bermaksud masuk ke warung ramen. Tapi ia ingat pernah makan ramen dengan Wonwoo ditempat yang sama. Galau kuadrat.
Ia jalan lagi, membiarkan perutnya berbunyi nyaring dan hanya dia isi dengan jajanan yang ia beli di sebuah toko cemilan.
Melihat tampilan jajangmyeon saat melewati beberapa toko, ia semakin galau lagi.
Ia juga sudah dua hari ini tidak menyentuh motor yang dia sayangi. Entah kenapa semuanya mengingatkannya dengan Wonwoo. Makan ingat Wonwoo, tidur ingat Wonwoo, belajar ingat Wonwoo bahkan memakai baju sekolah mengingatkannya pada Wonwoo, apa dia harus menanggalkan baju sekolahnya? Syukurlah dia tidak bodoh.
Apapun, ia ingat Wonwoo.
Wonwoo—ooh.. Wonwoo…
Mingyu benar-benar dibuat cinta mati dengannya. Dia benar-benar menginginkan Wonwoo, detik ini juga.
Dan entah kenapa, permintaannya dikabulkan.
Matanya melebar.
Wonwoo baru saja keluar dari minimarket yang sedang ia lewati dengan dua kantung belanjaan di kedua tangan. Wonwoo pun tanpa sengaja bertatapan dengan mata Mingyu yang masih melebar.
Kedip sekali.
Kedip dua kali.
Kedip tiga ka—hey. Sudah. Nanti Mingyu mengira dia sudah menggoda si tinggi itu karena mengedipkan mata berkali-kali.
Wonwoo gemetar di tempat, lututnya seolah lemas. Mingyu berdiri dihadapannya, dalam balutan training dan bau keringat menguar. Baunya cukup kecut, ngomong-ngomong.
Mingyu benar-benar harus menahan kuat keinginannya untuk memeluk Wonwoo saat itu juga.
"Ha—hai." Sapanya pelan. Wonwoo merasa tenggorokannya kering, ia meneguk ludahnya.
SYYUUUUUUHHH—
Setelah beberapa hari Mingyu tak mendengar suara Wonwoo dari dekat, akhirnya ia bisa mendengarnya lagi. Benar-benar merindukan. Tubuhnya dibuat gemetar hanya karena mendengar suara itu.
"Hai." Sapanya balik, mencoba tenang.
Wonwoo membentuk senyum tipis, mengangguk kecil, dan berjalan. Mingyu tersentak.
"Tu-tunggu!"
Wonwoo berhenti melangkah dan menoleh. Mingyu berlari kecil menghampirinya dan mengambil salah satu kantung belanjaan Wonwoo.
"Berat kan? Biar aku bantu." Ucap Mingyu, tersenyum kaku.
"Tidak berat kok. Tidak apa sebetulnya…." Jawab Wonwoo.
"Tapi tetap, biarkan aku membantumu." Ucap Mingyu, ia hanya ingin berada di dekat Wonwoo sedikit lebih lama, "membawa dua seperti ini lebih baik berdua daripada sendirian, kan?"
Wonwoo terdiam sejenak, "Baiklah."
Keduanya kemudian berjalan dalam diam menuju rumah Wonwoo. Kecanggungannya benar-benar terasa dan keduanya sama-sama tidak menyukainya. Untuk menghancurkan suasana tegang itu, Mingyu mulai bersiul dan menyanyi tidak jelas, pokoknya, ia ingin suasana itu mencair.
Dan itu berhasil.
Wonwoo tertawa dibuatnya. Mingyu terdiam, terpesona.
"Nyanyimu buruk." Komentar Wonwoo, lalu menoleh, "tidak dilanjutkan?"
Mingyu hanya menatapnya. Wonwoo tersadar, "Uh.. ma-maaf." Lirihnya.
Mingyu tersenyum.
"Nah, gitu dong. Dari tadi mulutmu seperti ngemut mercon melulu." Ucapnya.
"Begitukah?" tanya Wonwoo.
Mingyu mengangguk. Wonwoo terkekeh.
"Baru olahraga?" tanya Wonwoo.
"Ya… kau bisa lihat sendiri dari baju yang kupakai." Jawab Mingyu.
"Olahraga apa?" tanya Wonwoo lagi.
"Hanya jogging dan… basket." Jawab Mingyu.
"Sendirian?" tanya Wonwoo lagi.
"Ya. Tidak ada yang bisa aku ajak." Keluh Mingyu.
"Hmm…" gumam Wonwoo.
Keduanya terdiam lagi selama beberapa menit sebelum Mingyu berucap, "Kenapa jadi canggung begini?" ia menghela napas, "serius, aku tidak suka suasana ini." Lanjutnya lalu menatap Wonwoo.
Wonwoo menelan ludah, mencoba menenangkan diri dan tertawa terbata, "Ha-ha-iya… aku juga tidak suka." Balasnya.
"Kau belanja banyak sekali." Komentar Mingyu, menilik isi kantung belanja yang ia bawa.
"Eomma menyuruhku." Jawab Wonwoo.
"Ah… eomma… dia sehat?" tanya Mingyu.
"Uh.. hmm.." Wonwoo mengangguk.
"Kau sehat?" tanya Mingyu.
"Sangat sehat, kau?" Jawab Wonwoo.
"Aah.. gimana ya.. aku akhir-akhir ini kelelahan. Jadi tidak bisa dibilang benar-benar sehat, mungkin?"
"Lalu kenapa tidak istirahat saja?" tanya Wonwoo.
"Bosan."
Wonwoo mengerutkan keningnya tidak suka mendengar jawaban Mingyu, "Itu bukan alasan, kalau tubuhmu sudah kelelahan lebih baik kau istirahat, tidak usah memaksakan diri."
Mingyu mengerjapkan matanya, "Uh. B-baiklah." Jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tanpa sadar, keduanya sudah sampai di depan rumah Wonwoo. Keduanya terdiam di depan pintu. Wonwoo menaruh kantung yang ia bawa ke lantai, lalu mengambil kantung yang lain dari tangan Mingyu.
"Terimakasih." Ucapnya, tersenyum kaku pada pemuda tinggi itu.
"Iya, tidak apa. Aku senang membantu." Jawab Mingyu.
Wonwoo membuka pintu dan menaruh kantung ke dalam rumah lalu kembali berbalik kearah Mingyu.
"Kau… mm.." Wonwoo terdiam, berpikir apa yang akan ia ucapkan setelah itu.
Mingyu juga terdiam disana. Suasana canggung itu datang lagi dan keheningan melingkupi keduanya. Hingga suara ibu Wonwoo terdengar mendekat dan mereka menoleh.
"Wonwoo! Kalau kau sudah datang itu bilang!"
"Maaf. Aku pulang, eomma."
"Pesanan ibu ada semua?" tanya wanita itu.
"Y-ya… syukurlah ada semua." Jawab Wonwoo.
"Oh! Mingyu! Lama tidak bertemu! Kau sudah beberapa hari ini tidak datang!" sapa wanita itu pada Mingyu.
"Ha—hai, tan-eh, eomma." Sapa Mingyu balik dengan terbata.
"Wonwoo, kenapa kau diam saja?" tanya wanita itu pada Wonwoo sambil mengambil kantung belanjaan dari lantai.
"Eh.. iya, eomma. Biar Wonwoo bantu." Jawab Wonwoo.
"Bukan itu. Eomma bisa sendiri. Ajak Mingyu masuk. Kasihan dia berdiri di pintu—"
"Tapi—"
"Tidak usah tan—eh, eomma. Saya akan pulang—"
"Hee? Kenapa?" tanya wanita itu dengan alis bertaut, "kenapaa? Kalian bertengkar?"
Mingyu dan Wonwoo terdiam kaku.
"Kalau begitu, masuklah! Dan selesaikan masalah kalian didalam!" seru wanita itu lalu pergi ke dapur.
Wonwoo dan Mingyu saling lirik, lalu Wonwoo melihat kearah pintu dapur.
"Tidak ada yang harus di selesaikan, eomma," ucap Wonwoo, "semua ini sudah selesai."
Mingyu mematung di tempatnya. Wonwoo menoleh kearahnya dengan senyum tersungging dibibirnya.
"Pulanglah." Ucap Wonwoo, ia menatap Mingyu dengan tatapan menusuk.
Mingyu mengangguk dan melangkahkan kakinya dengan lunglai menjauh dari rumah itu. Padahal, ada yang ingin ia tanyakan pada pemuda itu, banyak sekali.
.
.
^^0^^
Update :3
Jadi, bagaimana menurut kalian chapter ini?
Thanks to :
Hamipark76, tujuhbelas, awmeanie, devilprince, yeri960, naintin2, svtvisual, meaniecupid, ayyPD, seira minkyu, boonie18, vanilarose, 17misscarat, jjeonwonyet, carrotforsvt, lulu-shi, xiayuweliu, joysberry, msr1205, hvyesung, meaniemeanie, syupit, baby yoongi, sungrinpark, minh, BumBumJin, syahaaz, Princess Tyna, Ara94, mypockymg17, MeanieMouse, siVO14, ayampop, Yulan, autvmn21,guest, sindijulia,beanienim, xingmyun, kimxjeon, Khasabat04, anaknyameanie, chubbyminland, alyasaexostans, Han Jaeyoung, Ayumichi Aoi, zeloxter, kookies, boobeepboo, alwayztora, putrifiana177, Felycia N Veranda, kimAnita, Halona Jill, twelves
