Saya ingatkan FF ini hanya remake. :)

Tadinya mau dibikin pairing Kaisoo, Atau Hunsoo tapi semakin kesini tokoh cowoknya lebih mengarah ke Chanyeol jadilah pairing Chansoo.

Jadi yang ingin pairing Kaisoo atau Hunsoo sabar ya :)

Pairing: CHANSOO

Cast : -Layho -Daemin -Hunhan -Kaibaek

Awas typo

HAPPY READING

PARK CHANYEOL

Los Angeles, Maret 2012~

"Dan penghargaan untuk sutradara terbaik tahun ini jatuh pada Park Chanyeol!"

Tepuk tangan riuh yang terdengar di akhir kalimat itu mengiringi langkah pria muda berambut pirang gelap dengan tubuh tinggi tegap. Wajahnya yang terlihat kekanakan dengan satu lesung di pipi kirinya ketika tersenyum hampir membuat seluruh gadis pingsan karenanya. Begitu ia menerima piala penghargaan dan berdiri di depan mikrofon, kamera langsung menyorot wajahnya yang dihiasi sepasang mata berwarna biru-kehijauan juga rahang kokoh yang menjadi impian para model internasional.

Segala hal dalam diri Park Chanyeol mencerminkan sesuatu yang istimewa, mengidentifikasikan bahwa Tuhan sedang membisikkan kata sempurna ketika menciptakannya.

Sudah dua tahun namanya melambung di kalangan pecinta juga kritikus film. Semua karya yang dihasilkan Chanyeol selalu laris dan mendapat penilaian yang baik. Chanyeol dinilai memiliki cita rasa seni yang tinggi terhadap budaya di samping fantasi yang tidak ada duanya. Dan saat ini, selain berbagai penghargaan yang telah diterimanya, Chanyeol juga dinobatkan sebagai sutradara muda paling sukses dalam satu dekade terakhir.

Setelah mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang dianggapnya berperan besar, akhirnya Chanyeol tersenyum dan menatap tepat ke kamera utama seraya mengangkat pialanya.

"Dan penghargaan ini untukmu, saudari kembarku. Kau tak tahu betapa besar rasa terima kasihku karena telah dianugerahi seseorang seistimewa dirimu untuk berbagi jiwa denganku. Dan terima kasih karena telah mematahkan stik drumku; kau tahu aku berhutang hal itu padamu."

Tawa juga tepuk tangan menyambut Chanyeol. Masih dengan senyum yang sama, Chanyeol turun dari panggung dan menerima setiap ucapan selamat dengan hati yang bahagia.

Jeju, November 2013~

Chanyeol menatap saudari kembarnya, Yixing, yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin. Wajahnya bersinar cerah, hingga membuat kedua matanya berbinar bahagia. Di sampingnya berdiri Junmyeon—sahabat Chanyeol sejak sekolah dasar yang kini telah resmi menjadi saudara iparnya—dengan wajah yang tak kalah cerah. Mereka berdua saling merangkul dan tak henti-hentinya tersenyum. Chanyeol ikut tersenyum, bahagia karena akhirnya Yixing bisa mendapatkan impiannya.

Sejak menonton film penuh impian di mana sang pangeran mencari putrinya lalu menikahinya, Yixing bersumpah bahwa ia pun akan mendapatkan akhir bahagia selamanya; jatuh cinta, menikah, lalu memiliki anak. Chanyeol selalu menertawakan ide itu, yang terus bertahan hingga belasan tahun kemudian. Namun kini setelah melihatnya sendiri, Chanyeol tahu tidak pernah ada mimpi yang terlalu mustahil untuk diwujudkan.

Mengalihkan pandangan dari pasangan berbahagia itu, Chanyeol harus mengakui keindahan alam di sekitarnya berhasil menyihirnya hingga sulit bernapas. Resort itu mengambil tema sederhana dan penuh cita rasa budaya, hampir segala sesuatunya masih menggunakan barang-barang tradisional dan hamparan air biru juga pasir putih semakin menyempurnakannya. Chanyeol tahu Yixing memiliki selera yang bagus dalam semua hal, namun tempat yang kini menjadi tempatnya berpijak terlalu indah dan hampir sulit untuk dipercaya.

Hari sudah berganti malam. Dengan bunyi debur ombak juga semilir angin yang berhembus, para tamu undangan terlihat semakin berbaur. Chanyeol tidak tahu bagaimana Yixing berhasil mengumpulkan orang-orang sebanyak ini dari seluruh penjuru dunia hanya untuk menghadiri pesta pernikahannya, namun sekali lagi Chanyeol harus mengakui kehebatan saudari kembarnya itu.

"Jangan katakan kau sedang memikirkan pekerjaanmu, Park Chanyeol. Aku mungkin mencintaimu sepenuh hatiku, namun aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani melakukan itu di pesta pernikahanku," omel Yixing seraya menyilangkan kedua lengannya.

Chanyeol hanya mengangkat bahu, sementara kedua orangtuanya—juga Junmyeon yang berdiri di hadapannya— tertawa.

"Kau terlalu banyak bekerja, Chanyeol," ucap ibu Chanyeol dengan kening berkerut khawatir.

"Dan efek samping dari terlalu banyak bekerja adalah menjadi satu-satunya orang tanpa pasangan di pesta pernikahan adiknya sendiri," timpal Junmyeon dengan senyum mengejek.

"Terus katakan itu dan aku akan mengambil adikku kembali," balas Chanyeol.

Yixing meninju lengan Chanyeol dengan bibir mencebik, lalu melemparkan tatapan maut pada suaminya. Ayah dan ibunya lagi-lagi tertawa, berdiri sambil berpelukan dengan hati yang terasa hangat melihat kebahagiaan di wajah anak-anaknya.

Yixing kembali menatap Chanyeol, lalu bertanya, "Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang memikirkan bagaimana caramu membawa semua orang ke tempat ini," jawab Chanyeol ringan.

"Itu bagian dari keuntungan sebagai seorang penari profesional."

"Kau terlalu percaya diri, Yie."

"Kita mendapatkan kemampuan itu sama rata, Chan."

Mereka semua tertawa, lalu Yixing melangkah mendekat dan memeluk Chanyeol. Selama sesaat mereka hanya terdiam. Meresapi debar jantung masing-masing yang terasa begitu serupa. Setelah 25 tahun hidup sebagai bagian dari yang lainnya, menerima kenyataan bahwa hal itu akan berubah membutuhkan pengertian yang besar.

Kini Chanyeol tidak akan mendapat telepon tengah malam hanya karena Yixing bermimpi buruk; Yixing sudah memiliki seseorang di sisinya untuk menenangkannya. Dan masih banyak hal kecil lainnya yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi. Hal kecil yang tidak terlalu penting, namun terasa sangat berharga.

"Kau tahu aku mencintaimu lebih dari hidupku, pastikan kau selalu bahagia, Yie. Jika suamimu itu membuatmu sedih sedikit saja, aku bersumpah akan memutar lehernya 180 derajat. Dan kau tidak akan bisa berbohong karena aku akan tahu. Ikatan batin dan semacamnya, ingat?" ucap Chanyeol.

Yixing mengurai pelukannya, lalu mengangguk. Tiba-tiba seulas senyum menghiasi wajah Yixing dan Chanyeol tahu ia dalam masalah.

Chanyeol melupakan taruhan konyol itu.

Sial.

Beberapa bulan yang lalu saat Yixing mengumumkan tanggal pernikahannya, mereka membuat taruhan. Jika Chanyeol mengatakan hal-hal manis tentang fakta bahwa mereka memiliki ikatan batin antar saudara kembar di hari pernikahan Yixing, maka Yixing akan mendapat apa pun yang ia inginkan. Berlaku untuk sebaliknya. Dan Chanyeol baru saja membuat dirinya sendiri kalah dari taruhan itu.

"Baiklah, Yie. Katakan keinginanmu," ucap Chanyeol pasrah.

Yixing tertawa senang, lalu tanpa ragu mengatakan, "Aku ingin kau membuat film di resort ini. Bukan film aksi bercampur teknologi canggih juga dunia aneh yang selama ini kau buat. Aku ingin kau membuat film tentang jatuh cinta."

Junmyeon meledak dalam tawa sementara Chanyeol bergumam, "Kau berencana membunuhku?"

Yixing mengabaikan pertanyaan itu dan terus berceloteh mengenai plot cerita juga sudut-sudut yang wajib menjadi latar. Sesekali ibunya menimpali dan Yixinh menjadi semakin bersemangat. Chanyeol tidak mendengarkan sepenuhnya, hanya menggumam di saat-saat yang tepat. Namun Chanyeol akan tetap melakukan hal itu. Terlepas dari taruhan konyolnya, Chanyeol selalu mewujudkan apa pun keinginan Yixing. Hal itu menjadi semacam hal tak terbantahkan dalam hidupnya.

"Kau mengerti?" tanya Yixing di akhir celotehnya.

Chanyeol belum sempat menjawab karena ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Begitu melihat layar ponselnya, tanpa ragu Chanyeol menjawab panggilan itu. Setelah selesai, Chanyeol memasang ekspresi semenyesal mungkin di wajah tampannya. Meski Yixing tidak terpengaruh dan tetap menatapnya dengan mata menyipit, Cal melanjutkan pidato permintaan maafnya karena harus pergi lebih dulu.

Seharusnya minggu ini menjadi hari libur bersama keluarga Park. Selain Yixing, kedua orangtuanya pun akan menetap di resort itu selama satu minggu. Chanyeol tahu orangtuanya segera mengerti setelah ia mengucapkan beberapa kalimat lugas, namun Yixing berbeda. Chanyeol harus menghabiskan waktu lebih panjang untuk meyakinkan saudari kembarnya itu.

Setelah penjelasan tentang betapa penting proyek itu untuk Chanyeol, akhirnya Yixing mengangguk. "Baiklah. Kau boleh pergi. Kita akan melanjutkan pembicaraan mengenai film jatuh cintamu minggu depan setelah aku pulang berbulan madu. Jangan lupakan janjimu, Chan," ucap Yixing.

Chanyeol memberinya hormat ala militer, lalu mereka kembali berpelukan dan mengatakan sampai bertemu minggu depan.

Hanya saja, hidup sering kali membiarkan hal tak kasat mata ikut bercampur tangan. Hidup membuktikan bahwa ucapan sederhana namun penuh janji mampu berubah menjadi luka tak tertanggungkan. Hidup memberikan sebuah fakta tak terelakkan bahwa manusia tak kan pernah tahu kapan batas waktunya untuk berbahagia akan berakhir.

Dan bagi Park Chanyeol, waktu itu berakhir satu minggu setelah pernikahan penuh kebahagiaan saudari kembarnya. Waktu itu berakhir hanya beberapa saat sebelum mereka kembali bertemu dan saling berbagi peluk.

Ucapan sampai bertemu minggu depan itu tidak pernah menjadi nyata. Chanyeol dan Yixing tidak bertemu satu minggu setelahnya. Begitu juga dengan kedua orangtuanya dan sahabatnya. Chanyeol tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Tidak dalam kondisi yang ia harapkan, setidaknya.

Karena pesawat yang membawa keluarganya kembali ke Los Angeles mengalami kecelakaan dan tidak ada satu pun korban yang selamat.

Los Angeles, Maret 2014~

"Dan penghargaan untuk sutradara terbaik tahun ini jatuh pada Park Chanyeol!"

Tepuk tangan riuh yang terdengar di akhir kalimat itu membawa kembali berbagai kenangan yang terasa kabur bagi Chanyeol. Ia berjalan menuju panggung, tersenyum meski senyum itu tak mencapai matanya. Apalagi hatinya. Di tengah ingar-bingar suara tepuk tangan juga kilat dari kamera, Chanyeol tidak merasakan apa pun.

Jika orang-orang melihat lebih dekat, mereka akan tahu betapa tidak bahagia Chanyeol berada di tempat itu. Di balik pakaiannya yang rapi juga bahunya yang berdiri tegak, ada sesuatu yang kelam dalam diri Chanyeol.

Chanyeol masih tenggelam bersama dukanya.

Waktu empat bulan terakhir dalam hidupnya adalah masa-masa paling buruk yang pernah Chanyeol alami. Chanyeol merasa ia telah berada di dalam neraka bahkan tanpa perlu mati terlebih dahulu. Terbangun setiap malam dengan mimpi yang sama, diiring perasaan sesak setelahnya, hanya memperparah derita yang mendera Chanyeol. Siksaan itu bagaikan tak kenal lelah, karena setelah merenggut segala hal yang ia miliki, kini Chanyeol terkurung dalam dunia hampa bersama lukanya yang tak kunjung mengering.

Ketika akhirnya mendapat kesempatan untuk berbicara di depan mikrofon seraya memegang pialanya, Chanyeol terdiam sejenak. Matanya berkelana menyusuri deretan bangku juga kamera di hadapannya, namun Chanyeol sama sekali tidak bisa menemukan fokusnya. Chanyeol kehilangan arah. Chanyeol mencoba meraih perasaan apa pun yang tersisa dalam dirinya dan hanya menemukan hampa.

Tak ada apa pun. Juga tak ada siapapun.

Maka dengan usaha terbaiknya untuk tersenyum, Chanyeol mengucapkan satu kata yang terasa begitu berat di lidahnya. Kata yang sesungguhnya tak sudi ia ucapkan lagi.

"Terima kasih."

Setelah itu Chanyeol turun dari panggung dengan langkah panjang tanpa menoleh lagi.

Chanyeol terbangun dengan napas yang berkejaran juga bulir-bulir keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Mimpi itu kembali datang. Mimpi tentang hari pernikahan Yixing, di mana mereka semua saling berbagi tawa, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan Chanyeol tidak bisa menemukan sedikit pun cahaya. Mimpi itu bagaikan pedang bermata dua; membuatnya merasa bahagia selama sesaat, sebelum merenggutnya lagi dengan tambahan luka.

Chanyeol melangkah turun dari tempat tidur. Tanpa menyalakan lampu, ia terus berjalan menyusuri apartemennya menuju dapur. Setelah meminum segelas air putih, Chanyeol melanjutkan langkah menuju kamar kedua yang ia jadikan sebagai ruang menonton. Chanyeol meletakkan peralatan tercanggih untuk menonton di ruangan itu, diikuti kursi yang nyaman juga sederet fasilitas lain yang hanya mungkin diciptakan oleh seorang sutradara.

Ini adalah rutinitas yang selalu Chanyeol lakukan selama empat bulan terakhir setelah ia terbangun dari tidur gelisahnya. Dari pada mencoba tidur kembali—yang hanya akan membawa mimpi itu lagi—akhirnya Chanyeol memilih untuk menonton video berisi keluarganya. Chanyeol memiliki banyak video, mengingat kegemarannya merekam segala sesuatu sejak berumur sepuluh tahun.

Chanyeol ingat, di hari ulang tahunnya yang kesepuluh, orangtuanya menghadiahkan dirinya satu set drum band berukuran asli sementara Yixing mendapatkan handycam. Beberapa hari kemudian, Yixing mematahkan stik drum Chanyeol karena Chanyeol lebih memilih bermain drum dari pada bermain dengannya. Dalam usaha untuk berdamai, Yixing memberikan handycam-nya dan sejak saat itu Chanyeol tidak pernah berhenti merekam segala sesuatu di sekitarnya.

Kini, ketika melihat video tentang kesibukan keluarganya di hari kelulusannya tujuh tahun yang lalu, Chanyeol merasa bersyukur karena telah merekam banyak video tentang keluarganya. Video itu mungkin tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka Chanyeol, namun setidaknya Chanyeol memiliki kenangan sempurna untuk tempatnya berpulang dan beristirahat.

Chanyeol tahu hal yang dilakukannya ini hanya semakin menambah garam pada lukanya, namun Chanyeol tidak tahu cara lain yang lebih baik. Ia tidak bisa menangis dan menutup diri, karena apa gunanya? Kini Chanyeol benar-benar sendiri. Tidak ada siapapun yang tersisa untuknya, bahkan hanya untuk sekadar menjadi temannya melalui semua kesedihan ini.

Chanyeol kembali fokus pada layar di hadapannya. Dengan berlatarkan dapur yang penuh dengan barang pecah-belah juga makanan, ibunya berdiri dan memberinya tatapan kesal karena ia tak juga bersiap, sementara suara Yixing yang berteriak memperingatkannya terdengar jelas. Gambar beralih ke kamar Yixinh, di mana pemiliknya sedang sibuk menata rambut. Begitu melihat ke arah kamera, Yixing langsung melempar sisir yang dipegangnya. Chanyeol berhasil menghindar hingga selama sesaat kameranya tidak terfokus dan begitu kembali terfokus, wajah ayahnya yang mengangkat alis memenuhi layar.

Chanyeol tertawa mendengar semua keributan juga ucapan yang bersahutan dari video rekaman itu. Tak lama Junmyeon pun datang dan menggelengkan kepalanya ke arah kamera. Mereka saling mengejek satu sama lain, kemudian Junmyeon—yang melupakan bahwa kamera di tangan Chanyeol masih dalam mode merekam—mulai mengatakan tentang betapa ia bersyukur telah diadopsi oleh keluarga Chanyeol dan video itu berakhir.

Junmyeon dan Chanyeol saling mengenal sejak hari pertama sekolah dasar. Mereka berteman dan tak terpisahkan. Meski Junmyeon datang dari keluarga miskin juga ayah yang selalu mabuk, Chanyeol tidak pernah mempermasalahkannya. Ketika anak-anak lain sibuk mengejek Junmyeon, Chanyeol dan Yixing akan berdiri membelanya. Junmyeon adalah bagian dari keluarga Park. Maka saat ayah Junmyeon meninggal di tahun awal sekolah menengah pertama, tanpa ragu keluarga Chanyeol mengangkatnya sebagai anak. Memberinya semua hak seperti yang didapatkan Chanyeol dan Yixing.

Bertahun-tahun kemudian, Junmyeon datang dengan pengakuan bahwa ia mencintai Yixing. Melihat ekspresi wajah Junmyeon yang begitu cemas dan bahasa tubuhnya yang gelisah, Chanyeol tahu Junmyeon mengira dirinya akan marah. Namun bagaimana mungkin Chanyeol merasa seperti itu ketika segala hal yang ia harapkan terjadi? Bagi Chanyeol, tidak ada satu orang pun yang akan ia percaya untuk menjaga Yixing selain Junmyeon. Tidak ada yang membuat Chanyeol lebih bahagia selain melihat saudari kembarnya berbagi hidup dengan sahabatnya.

Kini, di tengah kegelapan juga keheningan, Chanyeol termenung dalam lamunannya. Ia bertanya-tanya, bagaimana hidup mampu mempermainkannya dengan begitu mudah? Demi Tuhan, ia sedang menggenggam kesempurnaan ketika hidup berbalik menghancurkannya. Chanyeol memiliki keluarga yang bahagia, karir yang cemerlang, juga jaminan bahwa hidupnya akan berjalan sempurna. Namun dalam waktu beberapa detik, atas alasan kesalahan teknis yang mengakibatkan pesawat sialan itu jatuh dan hancur berkeping-keping dalam prosesnya, Chanyeol kehilangan segalanya. Chanyeol mendapati hidup merenggut seluruh kebahagiaannya.

Namun Chanyeol tidak akan menyerah. Demi satu janji terakhir yang dibuatnya, ia akan terus berjuang. Satu janji yang membuatnya sanggup menghadapi detik demi detik hidupnya yang penuh siksaan. Satu janji yang berhasil menahannya tetap utuh di luar, meski tak terselamatkan di dalam.

Chanyeol bangkit berdiri, lalu bersiap dan pergi menuju kantor meski saat ini ia tidak memiliki proyek apa pun. Faktanya, Chanyeol menghabiskan seluruh waktunya selama beberapa bulan terakhir untuk membeli sebuah resort yang tidak dijual. Resort tempat Yixing melangsungkan pernikahannya; resort yang Chanyeol janjikan akan menjadi latar dari filmnya.

Awalnya Chanyeol berusaha meminta izin untuk menyewa resort itu selama beberapa bulan, namun begitu tahu Chanyeol menyewanya untuk syuting sebuah film, pemiliknya menolak. Kemudian Chanyeol mengubah strategi untuk membelinya. Chanyeol sudah meminta orang kepercayaannya— Key—untuk memberikan apa pun yang diminta pemilik resort itu asalkan resort itu berpindah tangan menjadi miliknya. Namun hingga hari ini, Chanyeol masih belum menemukan titik terang.

Chanyeol tidak mengerti apa yang salah dengan penawarannya. Chanyeol tahu resort itu memiliki nilai jual yang tinggi dan Chanyeol bersedia membayar dua kali lipat dari harga aslinya. Bahkan jika harus, Chanyeol akan membayar tiga kali lipatnya. Apa pun asal resort itu menjadi miliknya. Namun pemiliknya selalu menolak, dengan jawaban yang sama; resort itu tidak dijual. Chanyeol sungguh tidak mengerti, mengapa pemiliknya selalu menolak?

Ponselnya berdering menandakan telepon masuk. Begitu melihat nama Key tercantum di layarnya, Chanyeol segera menjawab.

"Bagaimana?" tanya Chanyeol langsung.

"Seperti biasa, pemiliknya menolak," jawab Key.

Chanyeol melepaskan serangkaian helaan napas kesal, lalu berkata, "Kau sudah memeriksa latar belakangnya? Mungkin ia memiliki hutang atau semacamnya. Pasti ada satu hal yang akan membuatnya berubah pikiran. Aku tidak peduli cara apa yang kau gunakan, aku ingin resort itu menjadi milikku."

"Aku sudah memeriksanya dan ia sempurna. Terlahir dari keluarga kaya, menjalankan bisnis keluarga, dan akan menikah akhir tahun ini. Tidak ada kelemahan sedikit pun," sahut Key.

Chanyeol terdiam. Otaknya sibuk berpikir.

"Kau tidak akan menyerah, bukan?" tanya Key akhirnya.

"Tidak," jawab Chanyeol tanpa ragu.

Key menghela napas, lalu berkata, "Baiklah. Aku akan terus berusaha."

Chanyeol memutuskan sambungan, lalu menatap lemari kaca setinggi langit-langit kantornya yang penuh berisi berbagai penghargaan juga piala. Dulu, setiap kali melihatnya, Chanyeol akan tersenyum puas dan berbagai ide tentang film baru akan bermunculan di kepalanya. Namun kini, Chanyeol hanya merasakan kehampaan. Tak ada rasa apa pun.

Chanyeol tidak tahu apakah ia akan sanggup membuat film seperti yang ia janjikan pada Yixing. Namun satu hal yang Chanyeol tahu adalah ia tidak akan menyerah sampai ia berhasil memenuhi janjinya.

Bahkan jika itu berarti Chanyeol harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk berusaha.

TBC

karena ini remake Jadi akan diusahakan update setiap hari.

Jangan lupa tinggalkan jejak :)

-GOMAWO-