Disclaimer : Kuroko no Basket belong to Fujimaki Tadatoshi. This story My Unlucky Days is mine (Aoiyuki-Bluesnow). Cover image have the own creator it self.

Genre : Slice of live (or that what i intend to create)

Rate : T

Pair : -

Warn : of course posibility of OOC, firsth person POV (reader point of view), maybe you'll find it to be a boring story, and i hope you don't find any typo in this story

WELL, HAPPY READING ALL

.

Haunted Library

(You got to be kidding me)

.

.

Malam masih panjang.

Tik

Tok

Tik

Tok

Suara detik jam terus terdengar.

Tik

Tok

Tik

Tok

Suasana muram terasa makin mencekam.

Tik

Tok

Tik

Tok

Samar, suara langkah kaki mulai berpadu dengan detik jam.

Tik

Tap…

Tok

Tap…

Tik

Tap…

Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?

.

.

.

Kembali ke beberapa jam sebelumnya. Hari yang cerah dengan suasana sedikit berisik.

Ya, sedikit.

Whuuuuuuuuuuus….

Brak!

Bunyi benda bertemu benda.

Benar.

Syuuuuuuuuuuut….

Prang!

Kali ini benda keras menabrak kaca.

Yep. Siapa yang coba ku bodohi.

Whuuuuuuuuuuus….

BRAK!

Kembali, benda keras menabrak benda keras. Dan kali ini dekat. Terlalu dekat!

"Hei, cepatlah kamu minta maaf kepada Miyaji.", doa-atau-mohon-atau-apapun-itu saat ini Izuki melakukannya di dekatku. Tepatnya di samping kananku, dalam posisi mengkerut melindungi kepala di balik lindungan barrier meja.

"A-aku juga inginnya begitu."—Brak! "Kyaa!", Takao menjerit—"Tapi tidak dalam situasi yang seperti ini. Aku sudah pasti kena timpuk nanas!"

Seakan menegaskan ucapanku, sebuah nanas meluncur secepat roket dan menabrak dinding dengan sangat keras, meninggalkan jejak mengerikan—sisa nanas tertinggal di dinding membentuk bercak noda yang menetes dengan dramatis.

Sepertinya bukan hanya aku yang menganggap noda nanas di dinding begitu mengerikan, karena kulihat wajah Izuki memucat dengan mata terpaku pada dinding bermasalah itu, "Aku mengerti perasaanmu."

"Sudah seharusnya. Ada usul lai—", suaraku hilang tertelan bunyi benda pecah yang makin keras.

PRANG!

"Sebelum ruang klub hancur.", tambah Takao yang kali ini menempatkan dirinya diantara Izuki dan aku. Cari aman, dasar.

Tidak ada suara selain bunyi nanas menghantam dinding, figure, dan benda pecah lainnya. Oke, sekarang benar-benar time out.

Menyadari nasib figure kesayangannya ada dalam bahaya, Takao—yang tumben-tumbennya menjadi orang yang menantang bahaya, berdiri menghalangi nanas yang meluncur cepat menuju target.

Game over.

Bukti kekejian n**** tergeletak bersama sisa-sisa alat kejahatan. Terkapar tak sadarkan diri dengan benjol besar di dahi.

Oh, nanas… Kenapa nanas jadi terdengar sangat menakutkan?!

Aku mengintip dari balik barrier. Kilat ganjil terlihat di wajah Miyaji. Satu nanas berhasil menumbangkan satu anggota. Sisa dua. Aku yakin itu yang ada dalam pikiran Miyaji.

Eh, kenapa perkataanku terdengar seperti Miyaji adalah psikopat yang siap membunuh seseorang dengan nanas?

"Dalam 5 detik kalian tidak muncul juga, maka bukan nanas lagi yang akan meluncur nantinya. Mobil pic up keluargaku sedang menuju kemari membawa belasan semangka yang siap menggantikan nanas ditanganku ini."

Oke, mungkin Miyaji bisa lebih kejam daripada psikopat-psikopat yang ada.

"Apa jaminannya kalau kami keluar tidak akan kena timpuk?", Izuki masih dengan tangan mengepal kuat bertanya setelah mengumpulkan keberanian.

"Tidak ada. Tapi aku bisa menjamin bukan semangka yang akan melayang.", oke aku semakin yakin ada sedikit karakter yandere bersarang dalam diri Miyaji. Argh, apa mungkin dia terlalu mendalami karakter dalam cerita buatannya?

"Miya-san tolong lupakan Yuna-chan sebentar. Kembalilah menjadi Miyaji yang biasanya.", sial sekarang aku yang ngelantur tak tentu arah.

"[name], mungkin timpukan nanas akan membantumu. Ketua kita memang seperti ini dari dulu.", Izuki melupakan sikap doanya. Melihatku dengan mata penuh simpati.

Tanganku tergenggam erat siap memukul sahabat slice teman-sekelas-yang-sudah-berbaik-hati-berbagi-uang-saku-demi-komik-Barakamon-selama-setengah-tahun-terakhir. Tapi kejadian naas terjadi tepat sebelum tangan ini terangkat tinggi. Dua nanas berukuran besar terjatuh dengan kecepatan diatas rata-rata jatuhnya buah nanas biasa dari ketinggian 1 meter.

Izuki tersungkur. Lelehan nanas membasahi seragam Teiko dengan pola mengerikan. Dan dengan gerakan pelan aku menjadi satu-satunya saksi hidup pemandangan horror legendaris dari ruang klub manga SMP Teiko. Aku tak pernah menyangka ketua kami dapat terlihat begitu mengerikan dengan nanas di tangan dan senyum psikopat serta tatapan ganjil yang terarah padaku.

Takao. Izuki. Aku akan menyusul kalian.

.

.

.

Lain kali, aku akan memikirkan permainan lain selain jankenpon untuk menentukan korban kegilaan Miyaji. Mendadak kamera dalam genggaman tangan terasa berat. Oh, apa yang harus kulakukan?

"Hantu perpustakaan biasanya muncul setelah pukul 7 malam. Begitu lampu perpustakaan kembali dinyalakan itu artinya kau harus mulai waspada untuk mengambil gambarnya. Dari rumor yang kudengar kejadiannya biasa terjadi pada hari senin, dan kadang kala terjadi pada hari lainnya. Karena ini hari senin sebaiknya melakukannya hari ini juga. Selamat berjuang."

Saran Takao berputar kembali dalam ingatanku. Kalau kau punya saran seperti itu kenapa tidak sekalian menemaniku saja sih?

Mataku mengawasi setiap sudut perpustakaan yang gelap. Sudah setengah jam berlalu sejak penjaga perpustakaan mengunci pintu dan mematikan lampu. Sudah dua jam berlalu sejak aku mendekam dalam tempat penyimpanan buku-buku baru yang belum sempat dipindahkan ke dalam rak-rak buku. Bagaimana bisa aku ada di sini? Tentunya saran cemerlang Takao yang tak pernah menghianatimu.

"Deretan rak buku paling belakang mempunyai celah yang cukup lebar dengan dinding, dan sudah beberapa kali aku melihat petugas perpustakaan membawa keluar masuk buku dari sana. Pagi ini buku baru sudah dipindahkan disana, biasana buku itu baru akan ditangani esok paginya. Jadi kau bisa mempercayaiku untuk bersembunyi di sana sembari menunggu perpustakaan ditutup."

Mengingat saran darinya membuat darahku kembali mendidih. Dengan santainya dia memberi saran yang bisa dilakukannya sendiri. Kenapa tidak kau temani aku saja sih?

Klik.

Uh, oh. Apa ini sudah dimulai?

Kriet.

Glup.

Aku mengintip keluar dari tepat persembunyianku.

Gelap.

Tidak ada yang bisa dilihat. Uh, perasaanku sangat tidak enak. Aku melirik ke arah pintu masuk. Tertutup. Rapat. Ugh.

Tik

Tok

Tik

Tok

Dalam suasana gelap gulita indraku yang lain menjadi lebih peka. Bunyi detik jarum jam semakin menguat. Debar jantungku menguat.

Deg.

Deg

Deg.

Deg.

Deg.

Kau harus rileks, tenangkan dirimu. Bernafaslah.

Hu~

Ha~

Hu~

Ha~

Dengan hati-hati aku keluar dari tempat persembunyianku. Melangkah sepelan mungkin, meminimalisir kecelakaan yang bisa saja terjadi. Baru satu langkah keadaan berubah drastis.

Lampu menyala terang. Aku membeku. Mengalihkan perhatianku ke segala arah. Mataku menatap panik saklar lampu yang berada di ujung selatan, dekat dengan pintu masuk. And... Nothing. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa. Tidak ada…

Tik

Tok

Tik

Tok

Tap…

Ugh.

You must be kidding me.

Tik

Tap…

Tok

Tap…

Tik

Tap…

Mataku kembali menginfasi ruangan dengan cepat. Menatap panik ke segala arah. Kanan. Kiri. Selatan. Utara. Timur. Barat. Atas. Bawa…

Tuk.

Baru saja… baru saja tangan...

"AAAAAAAAAAAAA!"

Aku menjerit keras. Menutup kedua telingaku. Merosot. Menelungkup. Dengan kedua mata tertutup merapalkan doa dengan cepat. Tolong lindungi aku. Tolong…

Tuk.

! s%%*45)**l%#jkt7u989y^$$%$# EJioouur5 ?!

"Apa kau tidak apa-apa?"

Aku membeku. Di depanku sepasang sepatu kets putih dengan corak biru. Oke, meski terkadang saat menonton film horror aku selalu mencaci—menyebutnya bodoh—pemeran utama yang terlalu penasaran untuk mengecek hal tak beres di sekitarnya, kali ini aku merasakannya. Rasa penasaran yang mengalahkan rasa takut. Rasa penasaran yang membuatku menengadah. Membuatku bertemu pandang dengan sepasang mata biru.

Wow, aku tak pernah tahu hantu bisa semanis ini.

"Apa kau baik-baik saja?"

Aku mengerjap beberapa kali. Apa dia baru saja bertanya padaku? Pikiranku bekerja keras, memproses apa yang baru saja kudengar. Tunggu, kalau dia bertanya padaku maka kemungkinan besar dia bukan…Eeh?

"Hm, apa kau baru saja berbicara denganku?"

Pemuda di hadapanku hanya diam. Wajahnya terlihat datar, sekilas tatapannya terlihat kosong tapi jika dilihat lebih jelas sorot matanya seperti menilai. Oke, sepertinya aku baru saja menanyakan pertanyaan bodoh sampai perlu dinilai oleh orang tak dikenal.

Hm?

Tunggu. Mung-kin-kah?!

"Ano…Mungkinkah anda ini bukan hantu?"

Tidak ada jawaban. Tidak ada yang bicara. Hanya dua pasang mata saling memandang dengan emosi masing-masing. Aku berkedip sekali. Dia berkedip sekali. Aku berkedip lagi. Dan akhirnya dia berbicara.

"Kau bisa mengatakannya seperti itu."

Mataku melebar. Huaaaaaa! Ini memalukan! Aku mengacak rambutku kesal. Ugh, apa sih yang kupikirkan? Aku mengintip dari balik poni yang menutupi wajahku. Dia masih terlihat menatap ke arahku.

"Uhm, lalu kau ini apa? Ah! Maksudku, kau ini siapa?"

Pemuda di hadapanku tersenyum. Wow. Itu. Senyum. Paling. Manis. Yang. Pernah. Kulihat.

"Namaku Kuroko Tetsuya. Kelas 2-1.", katanya sambil menjulurkan tangan.

Aku menjabat tangannya, mengucapkan namaku dengan sedikit terlalu keras. "Ah, namaku [name]! Kelas 2-4. Senang bertemu denganmu." Kami berdua berdiri dari posisi sebelumnya, saat itulah satu pertanyaan terpikirkan. "Ano, Kuroko-san? Apa yang sedang kau lakukan di sini? Bagaimana caramu masuk ke mari?"

"Ah aku hanya melakukan tugas mingguanku. Sebagai anggota aku mendapat tugas mengecek perpustakaan paling akhir dan menguncinya. Tapi kadang-kadang penjaga perpustakaan lupa kalau hari Senin adalah giliranku dan menguncinya sebelum kucek, jadi setelah latihan basket ku kembali untuk mengecek ulang."

Aku melihatnya dengan mulut terbuka tanpa sadar. Penjelasan macam apa yang baru saja kudengar?!

Belum habis rasa kagetku dari penyelesaian absurd yang sangat antiklimaks ini, Kuroko-san kembali bersuara.

"Ngomong-ngomong kenapa [name]-san ada di dalam perpustakaan pada jam seperti ini?"

Deg.

"Ah itu… Ha ha."

.

.

.

Hari pertemuan anggota klub manga berikutnya…

"Jadi begitulah, rumor hantu perpustakaan itu tidak benar."

Aku menyudahi ceritaku sambil menggambar karakter baru berwajah datar dengan penampilan sangat biasa tanpa sedikitpun aura mencolok di sana.

"E~h~, jadi anak yang bernama Kuroko ini bisa benar-benar tidak terlihat?", tanya Takao dengan nada terlalu tertarik. Tangannya sibuk mengelap Rei Ayanami figure yang tidak berhasil diselamatkannya 3 hari lalu.

"Ehm, aku tak akan mengatakannya seperti itu. Tapi dia benar-benar punya hawa keberadaan yang sangat tipis. Tadi pagi saja aku hampir tak menyadari saat dia menyapaku."

Aku menyipitkan mataku. Menelengkan kepala. Berpikir keras. Karakter baru yang baru saja selesai kugambar terasa sangat familiar.

"Wah, jadi dia menyapamu? Hm, hm, perkembangan yang cukup cepat. Jadi menurutmu ini akan berlanjut ke friendship route atau love interest route?", Izuki mengangkat wajahnya dari manuskrip bab baru yang akan kami pajang minggu depan.

"Kurasa ini tidak akan berlanjut sejauh itu. Setelah kejadian di perpustakaan saja kami baru bertemu lagi tadi pagi. Itupun kalau Kuroko-san tidak menyapa maka aku tak akan sadar.", aku menyerah mencari tahu tentang karakter baru yang kugambar, balik menatap ke dalam kedua mata Izuki dengan tatapan pasrah.

"Oh begitu, jadi [name] kau tidak lupa lagi untuk memfoto TKP kan?"

Dengan horror kurasakan realita menerpa Kamis indah di ruang club manga, "Uwah, bagaimana ini aku benar-benar melupakannya!"

Tiba-tiba perasaan dingin menusuk tulang menyebar melalui punggungku.

"Hoho, jadi kau ingin bilang tidak ada satu fotopun yang kau dapat?"

Apa aku pernah bilang kalau nanas dan Miyaji merupakan kombinasi terburuk yang bisa kau dapat?

"Eh Miya-san tunggu…"

DUAK!

.

.

.

"Hua, akuma da. Akuma."

~~owari~~

.

Note :

Akuma*=Iblis

Ini. Lebay. Banget. Maaf, habis lama nggak ngetik fic bukannya lanjut yang series tapi yang kepikiran lanjutin cerita yang harusnya nggak lanjut. Seperti yang kutulis di atas cerita ini seharusnya owari (selesai) bukan To Be Continue.

Well, Happy Reading All