Oke, maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama. Michan sangat menyesal, karena Michan harus hiatus sementara waktu u.u ...

One Piece © Eichiro Oda

Sanji, I want Baby! © Michantous

Warning : OOC, Typo(s), nggak jelas, BoysLove content! Deskripsi seadanya. DON'T LIKE DON'T READ!

Pairing : CaptainXCook

Happy reading!

Xxx

Sanji mengerutkan dahinya. Kristal safir yang indah itu perlahan mulai menampakan wujudnya. Koki pirang terdiam cukup lama, mencoba mengingat apa yang terakhir kali ia lakukan hingga dirinya berakhir di tempat tidur dalam keadaan yang— sangatkacau balau.

Berawal dari prilaku aneh Kaptennya, kemudian ciuman panas yang tiba-tiba menyambar, lalu…

Koki pirang terlonjak dari tempat tidurnya— saat berhasil mengingat dengan jelas, apa yang sebenarnya telah terjadi. Oh shit! Ia tak bisa menahan rasa malu yang mulai merayapi dirinya. Wajahnya kian memanas mengingat hal yang sebelumnya tak pernah sekalipun terpikirkan olehnya malah terjadi. Ia tak percaya bahwa dirinya akan berakhir dengan Kaptennya sendiri malam itu juga.

Tak pernah terbayangkan… dia dan kaptennya... telah... melakukan… Tunggu! Sepertinya ada yang aneh. Kenapa ia bisa berada di kamar? Bukankah tadi malam mereka melakukannya... di atas kepala Sunny? Sanji masih ingat betul saat ia duduk diatas pangkuan si Kapten. Apa bocah karet itu membawanya kemari? Yah... kemungkinan besar begitu. Siapa lagi kalau bukan topi jerami sialan itu! Dan bodohnya, kenapa juga si bocah konyol itu salah meletakannya di tempat tidur yang jelas-jelas bukan miliknya?!

Dua jari rampingnya perlahan mulai menyentuh bibirnya, rasa dari Kaptennya masih sangat jelas disana. Koki pirang itu meremas dadanya dengan penuh gelisah, hatinya berdegup kencang tiba-tiba. Apakah ini efek yang diberikan Luffy? Aaahhh! Tidak! Mengingatnya saja entah mengapa ia merasakan malu luar biasa. Satu pertanyaan terngiang-ngiang di kepalanya. Kenapa orang sepolos Luffy bisa berubah menjadi seliar itu tadi malam?

Tuhan... Sanji tidak bisa menggerakan tubuhnya sekarang, terimakasih berkat memori yang seharusnya tidak pernah ada dalam otak gentlemenpecintawanita-nya, ia jadi mengutuk dirinya sendiri. Kenapa juga ia bisa luluh semudah itu pada bocah karet bodoh menyebalkan seperti Luffy?

"Suaramu itu berisik sekali Shitty Cook! Aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak semalam"

Sanji hampir melompat dari tempat tidur gara-gara mendengar suara berat milik rival abadinya— Marimo si ganggang laut bodoh, yang masuk dengan tiba-tiba.

"Geh! Apa maksud perkataanmu itu Marimo!?" geramnya, tak mengerti maksud dari ucapan si samurai surai hijau di hadapannya.

Zoro menyeringai tipis, memperhatikan penampilan berantakan sang Koki yang masih duduk diam di ranjang empuknya—ralat! Bukan ranjangnya, melainkan ranjang empuk milik Kaptennya. "Lebih baik kau bercermin agar mengetahuinya" dengusnya sinis.

Mendengarnya, Sanji langsung saja berdiri secepat yang ia bisa. Dan... betapa terkejutnya ia saat melihat pantulan dirinya disana.

Oke. Baiklah.

Penampilannya memanglah terlampau kacau. Tapi, yang membuatnya tampak shock sekaligus malu sampai tak bisa menutup mulutnya adalah… bagaimana bisa— beberapa tanda kemerahan plus bekas gigitan—bahkan ada yang sampai berwarna keunguan— menghiasi sekitar leher, bahu, hingga dadanya dengan begitu indah? Apa matanya tidak salah lihat? Ia tak sedang bermimpikan?

Bocah karet itu... memang...benar-benar!

"Topi jerami brengsek…" gumamnya. Sangat pelan, dengan tangan yang terkepal geram. Bagaimana tidak? Sekarang Koki pirang itu jadi enggan untuk berhadapan dengan rival abadinya yang sepertinya tengah tersenyum remeh.

Sial... Apa pemuda lumut itu juga tahu kalau Sanji berada disisi… yang mengenaskan…? Hancur sudah harga dirinya jika si ganggang laut menyebalkan itu benar-benar mengetahuinya! Mau dikemanain nanti muka gantengnya yang janggutan itu? Si Marimo sialan pasti akan terus mengejeknya karena tidak bisa mendominasi Luffy dalam 'pertarungan sengit penuh gairah' yang tak terduga itu. Che...

"Oi Cook, jika sudah mengerti maksudku, sebaiknya kau cepat ke luar! Yang lain sudah lama menunggu mu bangun, terutama Luffy, dia sudah menggila karena kelaparan dan berkali-kali mencoba memakan Chopper serta hampir menggerogoti sova"

"Huh?" Sanji mencoba mencerna kata-kata Zoro.

"Satu jam yang lalu, saat aku ingin membangunkan mu, Luffy melarangku, dia bilang kau sangat kelelahan, jadi aku tidak jadi mengganggu mu" jelasnya malas sambil mengorek kupingnya.

Dan demi apa Sanji malah blushing?! Wajahnya memerah semerah warna pakaian Luffy dikarenakan aliran darah berkumpul di sekitar pipinya, dikala ia tak sengaja teringat lagi dengan lintasan kejadian yang menimpanya semalam. "A— emm... baiklah, kau bisa pergi duluan, aku akan segera kesana" Ia berbalik, menghindari tatapan mata Zoro yang sedari tadi terus mengintimidasinya.

Samurai surai hijau itu mengangkat sebelah alisnya mulai merasa heran dengan tingkah sang Koki "Oi Cook, Jangan bilang setelah kejadian semalam kau jadi malu berhadapan denganku?" tebaknya asal dan... TEPAT! Karena yang bersangkutan langsung terdiam kaku, tapi secepatnya mengendalikan dirinya yang gugup dengan membentak Zoro.

"Jangan membuat lelucon aneh yang menyebalkan Marimo!" wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal.

Zoro menampakan seringaiannya lagi "Aku hanya menebak, itu karena telingamu memerah saat berbalik tadi. Jadi ku pikir..."

"—AGH..! DIAM! CEPAT PERGI DARI SINI!"

BUGH

Dengan cara yang super tidak elit, wajah Zoro pun terkena lemparan bantal dari Koki pirang yang sudah teramat murka. Bahkan sepertinya Sanji juga sudah bersiap untuk merebus si 'rumput laut' saat itu juga.

Mendengar ada suara keributan kecil di kamar, dan melihat Zoro keluar dengan terburu-buru, membuat Usopp berlari kesana untuk melihat Sanji yang— sedang berada dalam kondisi... kurang baik. "Oi, Sanji, baguslah! kau sudah bangun rupanya! Apa yang terjadi?" Ussop melirik Zoro yang sudah melompat ke dek atas menuju dapur.

Usopp yang tiba-tiba masuk membuat Koki itu terlonjak "Eh!? Ti-tidak! Tidak ada apa-apa. Haha!— kau membuatku kaget Bodoh!"

Merasa ada yang aneh dengan teman pirangnya itu, Usopp mengangkat kedua alisnya, sedikit ragu, ketika melihat beberapa bercak merah disekitar leher Sanji yang ia kira adalah penyakit kulit "O-oi, Apa kau baik-baik saja? Apa perlu ku panggilkan Chopper?" tawarnya dengan maksud baik.

GLUK

Sanji langsung menelan ludah gugup.

"Ti-tidak perlu"

xXx

"OI! SEMUANYA! BERSIAP! PASUKAN ELIT ANGKATAN LAUT DATANG!" teriak Zoro dari menara pengintai menggunakan denden mushi kapal yang dibuat oleh Franky.

Semua kru topi jerami segera berkumpul di dek depan. Dari jauh, sebuah bola baja hitam terlempar kearah Sunny, tapi meleset dan jatuh ke laut sehingga menyebabkan kapal mereka terguncang oleh ledakan air. Tidak sampai disitu beberapa tembakan meriam mulai dilancarkan oleh marinir pada Sunny Go.

Luffy menangani bagian depan, Zoro di sisi kiri, dan Sanji di kanan. Nami berteriak pada Franky untuk menggunakan coup the burst, tapi Franky bilang mereka sudah kehabisan cola. Cukup merepotkan.

"BAHAYA! NAMI-SAN!" Sanji menendang bola meriam yang hampir menghantam Nami dari belakang, tapi bodohnya ia sendiri tidak sadar kalau dirinya juga terancam marabahaya.

"Apa kau baik-baik saja, Nami-san?"

"—AWAS! SANJI-KUN! BELAKANG!"

Mendengar teriakan Nami, Luffy mengalihkan perhatiannya dari marinir untuk mencari sosok Koki pirangnya. Di waktu yang sama, Sanji juga tengah berbalik kebelakang guna melihat meriam yang sebentar lagi akan menghantamnya, tapi…

"Gomu Gomu no… Fushen!"

Luffy sudah lebih dulu menghalaunya, dan melontarkan kembali bola meriam ke laut. Akibatnya, sang Kapten yang mencoba melindungi Kokinya itu jadi meninggalkan pertahanan bagian depan. Membuat Zoro marah-marah karena kelalaiannya.

"Oi! Luffy! Jangan membuka celah!" Pendekar tiga pedang itu menebas meriam yang datang dari arah depan, sedangkan Luffy hanya tertawa sambil meminta maaf, lalu memutar pandangannya pada sosok Sanji, membuat koki pirang itu menjadi sedikit nervous karena setiap melihat Kapten bodohnya, ia selalu teringat akan 'kebrutalan' Luffy padanya beberapa waktu yang lalu.

"A-apa?" Sanji bertanya dengan sedikit gagap, ia berusaha mati-matian menghindari Luffy yang masih menatapnya lurus.

"Shishishi… Aku senang kau baik-baik saja, Sanji" bocah karet itu tersenyum lebar, lalu kembali sibuk pada bola-bola meriam yang masih menyerang mereka. Sanji diam, dirinya dibuat tertegun sedemikian rupa oleh Kaptennya. Tatapannya dan juga... ucapannya itu… Sanji dapat merasakan ketulusan disana. Sesaat, ia mulai lengah karena perasaannya mulai bercampur aduk, tapi— sebersit cahaya menyilaukan mulai membuatnya kembali siaga.

Koki pirang itu memicingkan matanya untuk melihat benda yang menyilukannya tadi. Sangat jelas. Ia dapat melihatnya, benda itu semacam senapan. Nampak seseorang yang tengah memegangnya sedang membidikan sasarannya pada Luffy. TungguLuffy...? bisa jadi peluru senapan itu terbuat dari batu laut. Sanji berpikir cepat.

Secepat mungkin ia berlari menghampiri Kaptennya dan menghalau peluru yang datang kearah Luffy dengan bahunya. Semua kru— terutama Luffy tertegun ketika melihat Koki mereka tertembak.

"Ugh... brengsek!" Sanji jatuh berlutut sambil memegangi bahu kanannya yang terasa amat nyeri.

"Sa.. Sanji…" Luffy membulatkan matanya. Dengan panik langsung berjongkok untuk memastikan keadaan Koki kesayangannya. Menggeram marah saat melihat darah merembes disekitar bahu Sanji. Tidak terima. Luffy benar-benar tidak terima. Ia tak akan memaafkan siapapun yang telah berani melukai Kokinya.

"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil... kembalilah fokus Luffy, jangan lengah"

"Tapi, Sanji, tangan mu..." Luffy menatapnya cemas, tangannya terkepal erat menahan kesal pada si keparat yang telah membuat Sanji terluka.

Sang Koki sedikit sebal melihat tingkah kaptennya yang terlihat berlebihan. Tak mau membuang waktu lebih banyak, ia pun langsung menepuk kedua pipi kaptennya dan mengangkat wajah pemuda itu tepat kehadapannya. Membuat Luffy tersentak. "Apa yang kau pikirkan?! Ini tidak seperti kau yang biasanya Luffy! Cepat habisi mereka semua dan setelah itu kita akan berpesta! Aku akan membuatkan makanan yang banyak untukmu!"

Luffy menunduk "Tapi, Sanji… tangan mu... "

"LUFFY! Ini hanya luka kecil!"

Sanji membentaknya. Luffy terdiam seribu bahasa. Wajahnya tertutup oleh bayangan gelap ketika ia menunduk. Sanji tak bisa melihat ekspresi seperti apa yang telah dibuat Kaptennya saat ini. Ia hanya ikut membisu ketika Luffy tiba-tiba berdiri membelakanginya.

"Dengar ini, Sanji..."

Si pirang masih diam memperhatikan Kaptennya. Walau pelan, terdengar geraman tertahan dari bocah karet itu. "Mulai sekarang, SIAPAPUN—yang berani melukaimu," Luffy mengangkat wajahnya, menatap kumpulan kapal Marinir di depan mereka dengan serius. "—walau sekecil apapun. Aku. Tidak akan pernah. MENGAMPUNINYA!"

Dan langsung melompat ke depan menuju kepala Sunny seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat, sudah bersiap untuk menghancurkan semua kapal angkatan laut dengan sekali serang. Urat kemarahan sudah mencuat pelipisnya.

"Oi, Lu—" Zoro yang merasa agak tidak rela Luffy ingin mengambil bagiannya segera menegurnya, namun percuma karena sang Kapten sudah terlanjur di buat marah.

"Jangan ikut campur, Zoro. Aku yang akan menghabisi mereka semua"

Dan, seketika itu juga, sang Pendekar langsung terdiam membiarkan Kaptennya mengamuk sesuka hatinya. Marinir yang malang.

xxX

"Huff... baiklah! Sudah selesai! Kau tak apa-apa kan Sanji?" Chopper menatap murung pada perban di lengan kanan sang Koki, ia khawatir kalau-kalau Sanji tidak bisa memasak.

"ya, terima kasih Chopper" senyuman merekah di wajah si pirang, lalu menepuk pelan kepala Dokter kapal itu. "Jangan khawatir, aku masih bisa menggerakan tanganku. Tenang saja"

Tiba-tiba terdengar suara Luffy dari luar. Ia menggedor-gedor pintu sambil merengek "Chopper buka pintunya!" berulang kali. Dan hanya mendapat bentakan kesal dari sang Dokter yang dari tadi merasa pekerjaannya terganggu.

"Jangan berisik Luffy!"

Sanji hanya diam. Bingung memikirkan tingkah kaptennya yang kelewat absurd "Ck... ada apa dengannya sih?" pikirnya terheran-heran.

"Hah... dari tadi dia terus-menerus berteriak gelisah, seperti orang yang sedang menunggui istrinya melahirkan saja! Aku yakin pasti sekarang dia sedang mengigiti jarinya" desah Chopper, sedikit pusing mendengar suara cempreng Kaptennya.

Sanji tersenyum maklum "Biarkan dia masuk Chopper"

Dokter muda yang baik hati itu mengangguk, lalu membukakan pintu— yang langsung di serobot oleh Luffy yang sudah bersiap menerjang Sanji— tapi tidak berhasil— karena Sanji dengan santainya memberikan salam pada wajah Luffy dengan telapak sepatunya.

"Baiklah, kuharap kau segera sembuh, Sanji" Chopper pun pergi meninggalkan Koki dan Kaptennya di ruang perawatan setelah mendapat anggukan dari Sanji.

"Hei, baka Senchou. Bisakah kau diam dan menghentikan tingkah bodoh mu itu huh?" Koki menyalakan rokoknya.

"..."

Ajaibnya, Luffy langsung diam dan duduk bersila di lantai sambil mendongak menatapnya lurus. Sedangkan Sanji hanya bisa mengerutkan alisnya heran dengan perubahan sikap Kapten bodohnya, yang entah mengapa tumben sekali langsung menurut dengan apa yang dikatakannya.

Cukup lama mereka terdiam seperti itu, saling menatap satu sama lain—ralat— hanya Luffy yang fokus memperhatikan Sanji, sedangkan si Koki sendiri sengaja menyibukan dirinya dengan rokoknya sambil melihat kearah lain, menghindari resiko bertatapan dengan sang Kapten.

"hee... apa-apaan si bodoh ini? Kenapa dari tadi dia hanya diam menatapku? Mungkinkah... lapar?" pikirnya risih karena terus menerus dipandangi oleh pemuda karet didepannya.

"Ck!" merasa kesal karena Luffy tak kunjung bicara sepatah katapun, akhirnya Sanji memilih mematikan rokoknya di asbak yang ada di atas meja kecil disampingnya. Lalu bertanya "Apa mau mu?" dengan masam.

"Are? Apa aku sudah boleh bicara?" bukan menjawab, Luffy malah balik bertanya dengan pertanyaan bodohnya, yang langsung membuat perempatan merah muncul di pipi Sanji.

"MEMANGNYA SIAPA YANG MELARANGMU BICARA BODOH!" teriaknya dongkol dengan kepintaran kaptennya yang kelewatan.

"eh? Tapi tadi kau yang menyuruhku untuk diam"

Satu lagi perempatan merah muncul diwajah Sanji.

"Gh! Kau ini..." Sanji menahan geram. "Sudahlah! cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan"

Mendengarnya Luffy pun langsung tersenyum lebar dan ingin memeluk Sanji, tapi—

"Jangan menyentuh ku"

Tidak jadi, karena si Koki cepat melarangnya.

Entah, Sanji harus merasa senang atau tidak, karena Kapten bodohnya itu langsung kembali duduk tenang di tempatnya semula. Sepertinya Luffy mulai mendengarkan apapun yang ia katakan. Padahal, biasanya bocah karet itu selalu bertindak sesuka hatinya tanpa mau mempedulikan ucapan orang lain.

Sanji merilekskan dirinya, ia menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Luffy datar.

Bocah topi jerami itu juga balas menatapanya, tapi tak lama karena ia kemudian menundukan kepalanya "Um... Sanji... Apa kau baik-baik saja? Kau tidak akan mati kan?" pertanyaan singkat namun mengandung kekhawatiran dalam nadanya dilontarkan oleh bocah sembrono yang tak pernah kenal takut pada dunia.

Sanji sedikit tersentak. Hanya bisa terdiam memperhatikan Kaptennya yang saat ini tengah mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas paha. Mungkin ia masih kesal atas kelengahannya yang telah berakibat pada lengan Koki tercintanya?

Sanji yang dapat merasakan penyesalan di diri Kaptennya itupun langsung menghela nafas dan berjongkok di depan Luffy. Kedua tangannya segera menepuk wajah Kaptennya kemudian mengangkatnya, dan secepat kilat memberi kecupan singkat di bibir sang Kapten yang langsung terdiam.

"Terimakasih telah menghawatirkan ku. Tapi kurasa, aku baik-baik saja, Senchou" si pirang tersenyum tipis. "Lagi pula... aku tak mungkin mati hanya karena keserempet peluru, Baka" Koki menepuk pelan kepala Kaptennya lalu beranjak pergi dari sana, tapi— sebelum ia benar-benar membuka pintu, Luffy sudah lebih dulu melilitnya dengan tangan karetnya dan menariknya kembali ke ranjang pasien yang tadi ditempatinya.

"Oi! Lu— apa-apaan ini?! Lepaskan aku sialan!" Sanji meronta-ronta, wajah Kaptennya ia dorong sekuat tenaga. Tapi, hal itu sia-sia, karena Luffy malah mengeratkan pelukannya pada pinggangnya. Ia duduk resah di atas pangkuan si bocah karet. Tanpa meminta izin, pemuda misterius itu menenggelamkan kepalanya pada tengkuknya. Membuat Sanji merinding disko dengan perasaan Dejavu.

"Tidak akan kulepaskan! Mulai sekarang, aku akan melindungimu! Tak akan ku biarkan seorangpun berani melukaimu! Walau... walau sekecil apapun! Aku berjanji, Sanji!"

Si pirang bungkam mendengar ucapan posesif dan kekanakan dari Kaptennya. Kristal safirnya menatap lurus pada manik gelap Luffy. Ia melihat adanya kesungguhan yang tercetak jelas di mata bocah topi jerami itu. Dan tanpa disuruh, jantungnya berdegup kencang, juga perutnya yang serasa dipenuhi dengan kupu-kupu yang berterbangan. Ia mulai menundukan wajahnya perlahan. Berusaha berfikir jernih.

Sesaat, suasana menjadi hening.

Tapi tiba-tiba— entah apa yang ada dipikirannya sekarang— Sanji kini tengah memberikan sebuah ciuman dengan lumatan lembut pada Kaptennya yang langsung membalasnya dengan agresif. Hal itu berlangsung cukup lama.

Merasa dirinya kekurangan oksigen, Sanji memutuskan untuk mengakhiri ciuman panas itu, ia mendorong dada Luffy. Warna merah jelas sudah memenuhi wajah pemuda polos itu, nafasnya juga sudah mulai panas.

Sanji yang baru saja ingin menghirup udara untuk paru-parunya malah jadi menahan nafasnya, ketika merasakan sesuatu yang menonjol diantara paha Kaptennya yang saat ini tengah ia duduki.

Luffy mendongakan wajahnya. Menatap Sanji dengan pandangan berat. "Sanji..." ucapnya parau, yang namanya di sebut hanya bisa tertegun syok.

Dengan rasa gugup setengah mati, si pirang buru-buru menahan wajah Kaptennya yang hendak mendekatinya. "Tu— tunggu dulu— Luffy!"

Luffy yang memang tak bisa menahan sesuatu yang sudah 'bangun' di bawahnya pun merengek protes. "Ng.. Kenapa~? Sanji~ kau kan yang sudah mengundangku!"

Wajah Koki langsung memerah. Gelagapan. Ah! Seharusnya ia tahu kalau Kapten bodohnya itu mudah sekali terangsang oleh ciuman ringan yang dilakukannya tadi! Bodohnya ia karena mengabaikan hal yang teramat penting!

"Ti—tidak! Jangan melakukan apapun! Belakangku masih sakit akibat ulah mu kemarin bodoh!"

Mendengarnya, Luffy menunduk kecewa "Tapi..." ucapannya terpotong oleh Sanji.

"Tak ada tapi-tapian! Kalau kau masih mau jatah makan malam mu, sekarang juga lepaskan aku!"

Sang Kapten hanya diam. Ia malah mempererat pelukannya "Tapi... Aku menginginkannya..."

Tanpa di sangka. Dengan sekejap Luffy langsung mengangkatnya dan merebahkannya di ranjang pasien lalu menindihnya. Mengakibatkan si pirang meronta kesal karenanya.

"Graaaaahh! Luffy! Aku benar-benar tak akan memberimu jatah makan malam hari ini jika kau melakukannya, konoyaro!"

"Biar saja! Sekarang aku hanya ingin memakanmu!"

Luffy membuka paksa kemeja Sanji.

"Oi—Jangan main-main!"

Dan menggigit puting susu di depannya dengan spontan, membuat si pirang menjerit.

"Gaaahh!"

"Sanji, kalau kau berteriak, semuanya akan tahu, lho..."

"Nnnhh... Kau...! brengsek! Ah!"

Dan selanjutnya... Sanji yang memang tak bisa melepaskan diri dari Luffy, terpaksa harus melayani nafsu sang Kapten di siang bolong. Di mana saat itu semua nakama sedang sibuk dengan urusan mereka masing masing. Terkecuali Zoro, yang memang pada saat itu tak sengaja mendengar jeritan disertai erangan aneh(?) dari ruangan Chopper ketika sedang melewatinya. Akibatnya, wajah si pendekar hijau yang selalu tersesat itu langsung bersemu merah. Terlebih, saat mengetahui siapa pemilik erangan aneh tersebut.

"Geh... mereka itu... Sepertinya aku tak akan bisa tidur siang dengan nyenyak"

.

XxLuSanIsCutexX

.

Beberapa hari setelahnya,

Luffy menghampiri Sanji yang tengah serius membaca buku resep.

"Sanji, aku sudah meminta Chopper agar membuatkan ini untukmu" tangannya menyodorkan sebuah tabung kecil dengan tiga buah pil warna-warni.

Koki mendelik heran "Huh? Apa itu?"

"Obat kehamilan, Aku ingin kita secepatnya memiliki bay—"

BUAAAAKKK

"MENYERAHLAH BOKEEE!"

THE END

A/N : demi apa cuma buat dua chapter begini sampe berbulan-bulan lamanya... Michan emang keterlaluan u.u ... dan maaf juga ya, kalo Chap ini sangat jelek dan tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan :(

Michan sangat berterimakasih sama yang udah review di chapter kemarin :) ya sudah, sampai disini saja ya Minna-san~

Shankyuu nee :D