Disclaimer : Tite Kubo.

A/N : Maaf yah kalo masih banyak salah, aqu sudah berusaha hehehehehe selamat membaca semoga kalian menyukai chap ke 2 ini. Arigatou.

A Night Under White Moon

Chapter 2

Espada Without Tatto.

Diruangan Aizen

"Tampaknya kau bersenang—senang dengan Hime-chan, Aizen-taicho." Seorang laki-laki berambut perak yang berdiri di belakang Aizen tersenyum.

"Jangan berkata begitu, Gin."

"Aku serius betul-betul membutuhkan kemampuannya, aku tidak main-main." Aizen tersenyum. Grin pun langsung tertawa mendnegarnya.

"Baiklah kalau kau bilang begitu."

"Bagaimana kalau kita menyambut kedatangannya yang baru kembali dari misi?" Lalu pintu besar ruangan itu pun terbuka. Seorang perempuan dengan kerah menutupi mulutnya dan rambut pirang yang dikuncir tiga masuk kedalam ruangan itu dan membungkuk hormat pada Aizen.

"Selamat kembali, Halibel." Perempuan yang dipanggil Halibel itupun mengangkat kepalanya dan menatap Aizen.

"Aizen-sama."

"Bagaimana?"

"Tidak banyak yang terjadi, para shinigami tetap melakukan kegiatan mereka seperti biasanya."

"Bagaimana dengan Kurosaki Ichigo, Ishida Uryuu, dan Sado Yasutora?"

"Mereka memberontak ingin kesini untuk menyelamatkan Inoue Orihime, namun dilarang oleh Yamamoto Genryuusai."

"Lalu?"

"Mereka meminta bantuan Kisuke Urahara, tapi ditolak dan sekarang mereka dibawa paksa ke soul society dan dijga ketat disana."

"Ada lagi?"

"Tidak ada."

"Baiklah kau boleh pergi Halibel, kau pasti lelah, beristirahatlah."

"Saya permisi." Halibel membungkuk hormat dan melangkah keluar.

"Seperti biasa, diselesaikan dnegan baik oleh Halibel." Gin bersuara

"Begitulah."

"Kenapa kau tidak memasukkannya kedalam jajaran Espada mu?"

"Tidak, posisi itu kurang cocok baginya."

"Tapi kemampuannya setingkat Espada."

"Hanya ada satu perempuan dalam urutan Espada ku yaitu Tercera Espada."

"Kenapa kau tidak menurunkan Nel?"

"Tidak Nel adalah Tercera Espada yang sempurna."

"Kenapa Kau tidak menyruh mereka bertarung?"

"Tidak perlu, posisi ini sudah cukup untuknya."

"kenapa kau menempatkannya dimenara 5? Seolah-olah dia sejajar dnegan ku dan Tousen."

"Tenanglah, Gin."

"Jangan-jangan kau.." Aizen pun tersneyum.

"Kau memang tidak berubah Aizen-taicho." Senyum rubah Gin pun muncul.

Dan diluar ruangan Aizen.

Halibel memutuskan untuk berjalan hari ini, dia sangat lelah bahkan utnuk bersonido kekamarnya, saat ingin menaiki tangga dua orang sosok Arrancar perempuan mencegatnya.

"Kau sudah pulang Halibel?" Ucap perempuan berambut ungu tua dikuncir dua.

"Apa yang kalian inginkan?"

"Kami hanya menyapa benarkan Menoly?" Tanya perempuan itu lagi.

"Benar Halibel kami hanya ingin menyapa mu, sepertinya kau kelelahan? Sampai sampai kau harus berjalan kaki kekamarmu, jika kau tak keberatan aku dan Loly dapat membantu mu." Ucap perempuan berambut pirang pendek.

"Tidak perlu, menyingkirlah kalian dari sana kalian menghalangi jalan ku."

"Buat kami" lalu Halibel menaikkan reiatsunya sehingga mereka berdua kesulitan bernafas dan terduduk lemas dihadapan Halibel.

"Kalian benar aku kelelahan tapi untuk menyingkirkan kalian aku masih dapat melakukannya, lagipula sedang apa kalian disini? Menara 5 tidak boleh sembarangan dimasuki oleh orang yang tanpa izin Aizen-sama." Reiatsu Halibel pun normal kembali dan kedua perempuan itu pun berdiri.

"Tch, ayo pergi Menoly." Mereka berdua pun pergi dengan kesal. Akibat kejadian tadi Halibel sudah kehilangan moodnya untuk berjalan dia pun segera bersonido kekamarnya.

"Halibel itu benar-benar menyebalkan." Gerutu Menoly.

"Hei aku punya mainan baru, manusia itu, Inoue Orihime, mau bermain sebentar dengannya?" Loly menyeringai dan dibalas dengan senyuman Menoly.

"Baiklah." Lalu mereka berdua pun tertawa.


Pertandingan sonido antara Grimmjow dan Nel telah selesai Nel sampai lebih dulu dari Grimmjow.

"Hahahaha kau kalah." Nel pun menertawakan Grimmjow.

"Arggggh sial aku kalah." Gerutunya sambil mengacak-acak rambutnya dan membelakangi Nel.

"Hei." Nel menarik ujung lengan Grimmjow. "Kau tidak lupa kan?" Grimmjow pun membalikkan badannya dan melihat Nel yang sedang memasang puppy eyesnya.

"Baik, baik apa permintaan mu?" Senyum lebar pun langsung menghiasi wajah Nel.

"Aku ingin...uhmmmmmmmmm…uhmmmm." Nel tampak berpikir.

'Aku harus memikirkannya dnegan bijak.'

"Baiklah, permintaannya akan aku gunakan jika saatnya tepat, dan saat itu kau harus mengabulaknnya ya ok?" Grimmjow pun mengangkat sebelah alisnya.

'Lebih baik ku terima, nanti juga dia lupa.'

"Oke aku terima."

"Janji?" Nel mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji."

"Kaitkan dulu jari kelingkingmu." Perintahnya lalu Grimmjow pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Nel.

"Kau puas?"

"Baiklah, dengan begini kau berhutang satu permintaan dengan ku." Mereka berdua pun melepaskan jari kelingking mereka.

"Nel, dia sudah kembali."

"Iya aku tau."

"Apa kau tidak apa-apa?"

"Hahaha apa maksudmu? Tentu saja aku tidak apa-apa." Nel tertawa dengan hambar, tapi9 Grimmjow mengerti akan arti tawa itu.

"Kalau kau bilang begitu, baiklah aku kembali kekamar ku dulu, semoga Luppi tidak mengcaukannya, dah." Grimmjow pun berbalik dan melambaikan tangannya, namun langkahnya berhenti.

"Nel, aku senang dapat kembali kemenara ini, dan bertemu denganmu." Ucap Grimmjow tanpa menoleh kearah Nel. Nel pun terkejut mendengarnya namun dia segera tersenyum dan melembutkan matanya.

"Aku juga, sampai jumpa besok Grimmjow."

"Sampai jumpa besok, Nel." Grimmjow pun melangkah maju, tanpa disadari Nel sebenarnya diwajah Grimmjow terukir sebuah senyum saat Nel menyebutkan jawabannya. Nel pun segera masuk kekamarnya dan segera berbaring dikasurnya, dia memejamkan matanya sambil tersenyum dia senang sekali mendengar pernyataan Grimmjow barusan. Sebelum akhirnya alam mimpi menyambut Nel.


Keesokan harinya.

"Onna." Ulquiorra berusaha membangunkan Orihime yang masih tertidur lelap dikamarnya.

"Onnaaa." Kali ini Ulquiorra sedikit menaikkan suaranya, namun Orihime sama sekali tidak bergerak.

"Inoue Orihime." Dan akhirnya kali ini berhasil, Orihime bergerak dan sedikit membuka matanya.

"Hoammmmmm ungh, jam berapa sekarang?" Tanyanya sambil mengucek matanya.

"Onna, disini tidak ada jam." Matanya pun terbelalak.

"Ul-Ulquiorra!" Ucapnya kaget.

"Cepat pakai ini baju mu tidak cocok dilingkungan sedingin ini." Ulquiorra memberikan baju Arrancar kepada Orihime.

"Setengah jam lagi aku kembali." Ulquiorra pun melangkah keluar. Orihime hanya menatap baju itu dengan sendu.

"Dengan ini aku benar=benar menjadi salah satu dari mereka dan menjadi musuk Kurosaki-kun juga." Dia pun menutup matanya sebentar.

"Maafkan aku Kurosaki-kun, Kichiki-san, Sado-kun, Ishida-kun dan Tatsuki-chan."

"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?." Orihime menatap bulan dari jendelanya dan mulai mengenakan pakaian barunya.


Soul Society.

Hari ini turun hujan deras di Soul Society, para shinigami sangat sibuk menyiapkan perang musim dingin yang hampir dekat. Tapi ada satu orang yang masih santai duduk-duduk disofa ruang kerjanya sambil menatap rinti hujan. Orang itu berambut pirang dan bersyal pink.

"Matsumoto." Panggil laki-laki berambut putih.

"…" Tapi orang yang dipanggilnya masih diam menatap rintik hujan.

"Matsumoto." Kali ini Wanita itu menoleh.

"Ada apa, taicho? Bukankah tugas ku sudah selesai?" Tanyanya, ya tugasnya memang sudah selesai semua hal ini memang mengejutkan bagi taichonya, Hitsugaya toushiro.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya lagi pada perempuan yang bernama lengkap Matsumoto Rangiku itu.

"Tidak ada, hanya melihat hujan saja." Hitsugaya pun berjalan menuju meja kerjanya.

"Kau tidak minum-minum?" Rangiku menoleh

"Tidak ada yang menemaniku minum, semuanya sedang sibuk." Rangiku pun kembali menatap hujan sambil bertopang dagu.

'Gin.' Ucapnya dalam hati.

"Taicho." Panggil Rangiku pelan.

"Hnngh?" Hitsugaya mengangkat kepalanya menatap Rangiku.

"Apakah aku dapat membunuh nya?" Tanyanya, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya. Hitsugaya menundukkan kepalanya.

"Rasanya berat mengacungkan pedang kepada orang yang…" Rangiku tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya.

"Kalau begitu jangan kau lakukan, jika kau tersiksa melakukannya." Hitsugaya bangkit dari kursinya dan membuka pintu kantornya dan melangkah keluar. Dari dalam kantornya dia dapat mendengar isakan Rangiku.

"Gin." Rangiku telah melakukan banyak hal agar dapat melupakan Gin termasuk mengerjakan paperwork yang tak pernah ia sentuh. Dia melakukan ini semua untuk Gin. Tapi Rangiku tetap tak dapat melupakannya.

Sementara Ichigo termenung dikamarnya.

"Lagi-lagi aku tak dapat melindunginya padahal aku sudah berjanji padanya." Ucap Ichigo depresi. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Ichigo." Ichigo pun menoleh kearah pintunya.

"Rukia?"

"Iya ini aku apa yang sedang kau lakukan?" Gadis yang dipanggil Rukia itu pun bersandar dipintu itu. Ichigo hendak membuka pintunya.

"Jangan jangan dibuka kita berbicara seperti ini saja." Lalu Ichigo juga duduk bersandar dipintunya.

"Aku hanya berpikir kenapa aku tak dapat melindungi Inoue? Padahal aku sudah berjanji padanya." Rukia termenung mendnegarnya.

"Bukan hanya kau yang merasa sedih Ichigo kita semua merasakannya." Ichigo pun menundukkan kepalanya.

"Nanti kita pasti akan berhasil menyelamatkannya, Aizen tidak akan membunuhnya selama dia merasa Inoue berguna untuknya."

"Duak." Terdengar bunyi pukulan dari dalam kamar Ichigo.

"Ichigo." Teriak Rukia.

"Aku tak bisa membiarkan Inoue ditengah-tengah makhluk mengerikan seperti mereka, aku..Arrrgh..SIAL….DUAK." Lagi-lagi terdengan suara pukulan dari kamar Ichigo. Rukia pun hanya diam dia mengerti perasaan Ichigo, dia sendiri juga tak dapat membiarkan Orihime sendirian disana. Tapi dia tak dapat melakukan apa-apa, yang bisa dia lakukan hanya menunggu saat perang telah selesai.


"Ikuti aku." Ulquiorra memerintahkan Orihime saat dia sampai dikamarnya.

"Kita mau kemana Ulquiorra?"

"Aizen-sama mengadakan sarapan bersama hari ini."

"Begitu." Lalu mereka berjalan lagi perjalanan ini terasa begitu membosankan bagi Orihime karena lagi-lagi hening dan hening. Ulquiorra tidak mengucapka apapun dan Orihime terlalu takut untuk bertanya pada Ulquiorra sehingga yang bisa dia lakukan hanya menundukkan kepalanya dan mengikuti Ulquiorra.

"Bukk." Orihime menabrak Ulquiorra, dia pun memegang kepalanya yang membentur punggung Ulquiorra.

'Sakit.'

"Ma-maaf aku tidak sengaja."

"Kita sudah sampai." Lalu pintu besar itu pun terbuka.

"Aizen-sama."

"Selamat pagi Orihime."

"Selamat pagi Aizen-sama."

"Bagaimana tidurmu kemarin?"

"Nyenyak Aizen-sama."

"Para Espada sekalian perkenalkan Inoue Orihime sekarang dia adalah bagian dari kita, silahkan duduk Orihime." Ulquiorra pun menuntun Orihime ke kursinya, Orihime duduk disamping kiri Aizen dan disamping kanan Ulquiorra dan didepannya adalah Halibel.

"Apa yang dia miliki, Aizen-sama?"

"Pertanyaan yang bagus Aaroniero, dialah yang mengembalikan lengan Grimmjow." Szayel pun langsung menatap Grimmjow.

"Benarkah itu?" Tanyanya takjub.

"Hnng." Grimmjow mengangguk.

"Sebaiknya kita makan dulu Aizen-taicho aku yakin Hime-chan sudah lapar."

"Baiklah, hidangkan makanannya." Arrancar pelayan pun masuk dan menghidangkan makanannya.

"Sebelum itu Orihime kuperkenalkan kau dengan Halibel." Aizen pun melirik kearah Halibel.

"Tia Halibel." Jawabnya dingin bahkan lebih dingin dari Ulquiorra.

"Inoue Orihime." Orihime berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar saat menatap Halibel. Saat dia selelsai mengucapkan namanya diapun menundukkan kepalanya dia takut menatap mata hijau terang Halibel seolah mata itu dapat membunuhnya. Aizen pun tersenyum.

"Baiklah, mari kita makan." Acara makan itu pun terjadi dengan tenang, diam tidak ada satu orang pun yang berbicara disana yang terdengar hanyalah bunyi sendok yang bersntuhan dengan piring. Orihime sendiri juga berkonsentrasi pada makanannya dia terlalu takut untuk mengamati yang lain memakan makanannya.

Setelah setengah jam akhirnya acara makan itu selesai.

"Ulquiorra antarkan Orihime kekamarnya, kalian semua boleh pergi kecuali Halibel." Lalu semua Espada pun keluar. Saat diluar Orihime segera disapa oleh Nel.

"Wow kau hebat sekali bisa mengembalikan lengan Grimmjow." Orihime terlihat bingung dan mundur selangkah.

"Tidak perlu takut padaku kenalkan aku Neliel Tu Oderschvank, Tercera Espada." Nel mengulurkan tangannya dan tersenyum.

'Sepertinya dia baik.'

"Inoue Orihime." Orihime pun menyambut uluran tangan Halibel dan tersenyum.

"Hei Orihime-chan boleh aku main kekamarmu?" Orihime tidak langsung menjawab melainkan melirik kearah Ulquiorra dan mendapat balasan anggukan kecil dari Ulquiorra. Orihime pun tersenyum.

"Tentu saja." Nel pun menarik Grimmjow.

"Kau juga ikut ya." Grimmjow menaikkan alisnya.

"Buat apa? Lebih baik aku berlatih dengan Szayel."

"Ayolah, dia kan sudah mengembalikan tanganmu." Nel membujuk Grimmjow lagi. Ulquiorra pun menatap Grimmjow.

'Semoga dia menolaknya.' Rupanya Grimmjow menyadari ditatap oleh Ulquiorra dia pun berseringai.

"Baiklah." Ulquiorra langsung memalingkan wajahnya. Perjalanan kali ini cukup ramai karena Nel sangat ramah membuat Orihime nyaman didekatnya.

"Nel nomor 3, Ulquiorra nomor 4, Grimmjow nomor 6 lalu no1 dan seterusnya siapa?"

"Nomor 1 Stark yang terlihat sedikit malas, nomor 2 Barragan Luisenbarn dia yang terlihat paling tua, nomor 5 Nnoitra Jiruga yang paling tinggi, nomor 7 Zommari Leroux yang kulitnya paling gelap, nomor 8 Szayel Aporro Granz yang rambutnya waran pink, nomor 9 Aaroniero

Arruruerie yang tadi bertanya tentang mu, dan yang terakhir Yammy dia yang badannya paling besar." Jelas Nel panjang lebar. Dengan selesainya penjelasan Nel mereka pun sampai dikamar Orihime. Nel dan Orihime segera duduk disofa sedangkan Grimmjow dan Ulquiorra hanya bersandar didinding dekat pintu.

"Lalu?"

"Lalu? Tidak ada lagi Espada hanya sampai 10."

"Halibel? Dia Espada kan?"

"Dia…" Belum selesai Nel menjawab langsung dipotong oleh Grimmjow.

"Bukan dia hanya Arrancar."

"Tapi tadi dia ikut makan bersama yang hanya dihadiri oleh para Espada."

"Dia diberi keistimewaan oleh Aizen-sama." Jawab Ulquiorra.

"Seperti?"

"Dia tinggal dimenara 5 yang hanya dihuni Aizen-sama, Gin-sama dan Tousen-sama." Ucap Nel.

"Dia menghadiri acara seperti yang hanya untuk para Espada." Tambah Grimmjow.

"Dia adalah bayangan Nel." Ulquiorra menambahkan.

"Hampir semua misi yang harusnya dikerjakan Nel, diselesaikan oleh Halibel." Orihime pun melirik Nel.

"Kau tau? Aku kurang suka bertarung jadi wajar saja tugas itu diberikan pada Halibel." Nel pun tersenyum palsu.

"Dia digunakan Aizen-sama untuk melindungi para Espada tapi agar ia dihormati dia juga diberi kemampuan untuk menyerang Espada."

"Tia Halibel, Espada tanpa tato, begitu para Arrancar menyebutnya."

"Tapi dia…" Perkataan Grimmjow terhenti saat Halibel berdiri di depan pintu.

"Ha…li…bel." Raut keterkejutan tak dapat disembunyikan dari wajah Grimmjow, Nel dan Orihime.

"Ulquiorra Schiffer, Neliel Tu Oderschvank, dan Grimmjow Jeagerjaques kalian dipanggil Aizen-sama, Inoue Orihime aku yang mengawasi." Ulquiorra tanpa banyak bertanya segera menghilang dari situ.

"Halibel bisakah kau.." Belum selesai Grimmjow mengatakannya dia langsung ditarik oleh Nel.

"Ayo pergi, tolong jaga Orihime-chan ya Halibel." Lalu Nel dan Grimmjow pun bersonido keruangan Aizen dan tinggallah Orihime dan Halibel berdua dikamar Orihime. Orihime hanya menunduk dan diam dihadapan Halibel dia benar-benar takut terhadap Halibel. Tanpa terasa tangan Orihime bergetar. Halibel melihat hal itu.

"Kau…" Halibel bersuara.

"Lemah." Ucapnya dingin. Orihime terkejut mendnegar hal itu.

TO BE CONTINUE


A/N : ok chap 2 udah selesai. review plisss agar chap chap berikutnya lebih baik lagi. Arigatou ^^