Ryan : (makan mie rasa kari ayam) Hehe, ketemu lagi di chapter 2, minna. Ryan wa koko dezu.

Mizuko : Writer ini koq masih saja santai-santai, sich?

Ryan : Ya jelaslah, wong ini masih liburan.

Mizuko : Tapi sifat terlalu santaimu itu loch bikin semua fanfic-mu jadi menumpuk. Banyak yang kelewat deadline, tau.

Ryan : Hara hara, baru kali ini dapat asisten cerewet seperti dia.

Mizuko : APA KAU BILANG?

Ryan : Ya sudah, jangan marah. Daripada marah-marah, mending langsung saja ke bagian disclaimer.

Mizuko : Dasar! Baiklah. Hak cipta Pokemon dimiliki oleh Game Freak. RyanusHunter9 hanya memiliki cerita dan tokoh-tokoh gila ini saja. Tidak ada niat demi kepentingan komersial dalam pembuatan fic ini.

Ryan : Helamat hemaha (selamat membaca)

Mizuko : Telan dulu mie-nya, writer bodoh!


"Woy, cepetan mandinya! Aku juga mau mandi," teriak Umizaki di depan pintu kamar mandi.

"Ya, sabar, kak," kata Mizuko yang sedang berada di kamar mandi, "masih mencuci rambut, nih." Dan dimohon selama adegan ini, jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya. "La lalala la…."

Di saat sedang asyiknya mandi, tiba-tiba…

BRAKKK

Muncul Kasai dari arah dinding, menghancurkan dinding yang tadi menghalanginya.

"Ha… hai, Mizuko. Maaf, tadi aku sedang terburu-buru," kata Kasai dengan santainya.

"Kau… Kasai…," kata Mizuko, yang perlahan-lahan mengeluarkan aura gelap. "BERANI-BERANINYA KAU MELIHATKU TELANJANG!"

Dan mulailah kejadian tragis yang terlalu tragis jika aku ceritakan.


"Hey, jangan gantung aku seperti ini!" teriak Kasai di atas tiang bendera. Ya, saat ini dia sedang digantung di atas tiang bendera, dalam keadaan terbalik.

"Ini pelajaran untukmu, dasar naga genit! Kau tidak akan dapat makanan malam ini," teriak Mizuko.

"Hahaha," ketawa Kori sambil duduk di depan Notebook-nya, sedang menggambar pemandangan yang lucu ini, lalu menuliskan "Mizuko used Madness. Super effective" dibawahnya.

"Dan kau akan memasukkannya ke pA, huh?" tanya Umizaki yang sedang memperbaiki mobil, yang aku tidak yakin buat apa mobil ada di fanfic ini.

"Yup, jarang-jarang aku bisa melihat kak Mizuko marah, dan bukannya kepadaku," kata Kori tersenyum-senyum.

Sementara itu, dari kejauhan, terlihat bayangan hitam seorang wanita mengintai Mizuko dari bawah pohon cemara merah berumur 1000 tahun itu. Mata merahnya berkilau begitu terang di dalam kegelapan itu.

"Mizuko Zoa, aku sudah menemukanmu. Sekarang kau harus membayar semuanya," kata bayangan itu mengangkat setengah tangan kanannya yang bertombak itu, yang kita ketahui merupakan tangan Beedrill.

"Maaf, nak," kata sebuah suara di belakangnya.

"Siapa disana!?" teriak sang Beedrill terkejut sambil mengayunkan tangan tombaknya itu, nyaris mengenai leher sumber suara yang ternyata kakek Gyarados yang sudah kehilangan masa jayanya.

"Maaf, kakek hanya ingin duduk di bawah pohon ini. Bisakah nak Beedrill minggir dari sana?" tanya sang kakek Gyarados gemetaran.

"Maafkan aku, kek," kata Beedrill berambut twintail itu sambil membungkukkan tangan, "urusanku disini sudah selesai. Sekarang kakek boleh duduk di bawah pohon ini." Lalu Beedrill itu mengembangkan sayapnya, dan terbang, pergi dari sana, tapi tetap tidak menarik perhatian Vaporeon yang dia intai.

"Haah… anak-anak zaman sekarang," kata kakek Gyarados, lalu duduk di bawah pohon itu, "coba kalau aku tidak jadi tua gini, pasti aku masih bisa menaklukkan para preman."


Sekarang kita akan pindah ke kota Virdinia, dimana Mizuko sedang pergi berbelanja untuk makan malam. Terlihat dirinya sedang berjalan melewati rute 1 sambil membawa tas belanjaannya. Ia pun melewati rumput liar itu, lalu… tidak terjadi apa-apa. Apa yang anda harapkan? Tiba-tiba muncul Pokemon liar? Hah, impossibru.

Oke, lupakan saja perkataanku yang gaje tadi. Ia pun sudah selesai melewati rute 1, dan akhirnya tiba di kota Virdinia. Berbagai hal berubah sejak kepunahan manusia. Gaya bangunan, penempatan bangunan, rumah sakit berdiri di tempat dimana dulunya berdiri Pokemon Center, masih ada Poke-Mart, dll. Beda dengan Poke-Mart yang dulunya hanya menjual keperluan para Trainer, sekarang Poke-Mart itu berfungsi sebagaimana mini market biasanya.

Ia pun berjalan melewati jalanan di kota itu, lalu dengan posisi ancang-ancang, Beedrill itu pun bersiap-siap untuk melesat, lalu meluncur, mengarah ke targetnya. Ia pun bersiap-siap menancapkan tangan tombaknya ke kepala Mizuko, lalu…

"Ah, ada 1 yen," lalu Mizuko jongkok, mengambil koin 1 yen itu. Beedrill yang berkecepatan tinggi itu tidak dapat menghentikan terbangnya itu, dan…

GUBRAK PRATANG PRANG MEEOONGGG

Beedrill itu pun menabrak tong sampah yang berada di seberang, dan dicakar oleh Meowth kecil yang hobi nongkrong di tong sampah itu.

"Aduh…," keluh Beedrill kesakitan, tapi sayangnya tidak dapat memegang kepalanya yang kesakitan.

"Kau tidak apa-apa, orang asing?" tanya Mizuko menghampiri Beedrill itu.

"A… aku tidak apa-apa," kata Beedrill itu.

"Ah, kau terluka! Tunggu sebentar," kata Mizuko, lalu mengambil sesuatu di tasnya. Ia mengambil kotak P3K di dalam tas berwarna biru yang dihiasi kerang dan bintang. "Biar aku obati lukamu."

"Ti… tidak usah. Tidak apa-apa," kata Beedrill itu.

"Tidak. Lukamu harus diobati. Nanti ada apa-apanya kalau tidak segera diobati," kata Mizuko sambil memperbani kaki Beedrill yang terluka itu, kemudian menempelkan plaster di tangannya yang terluka. "Selesai. Sudah bisa jalan?"

"Sudah tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkanmu," kata Beedrill itu.

"Tidak apa-apa. Sudah tugasku membantu."

"Ngomong-ngomong, nama anda siapa?" tanya Beedrill itu, meskipun ia sudah mengetahui namanya.

"Mizuko. Mizuko Zoa. Namamu?"

"Panggil saja aku Hornet."

"Nah, Hornet, kau mau pergi kemana? Kelihatannya kamu sendirian."

"Tidak kemana-mana. Aku juga sedang bingung mau pergi kemana."

"Haah?" kata Mizuko dengan ekspresi bodoh. "Apa maksudmu tidak punya tujuan."

"Entahlah, aku juga sendiri bingung."

"Baiklah, bagaimana kalau kau temani aku belanja? Aku perlu ekstra tangan untuk belanjaan."

"Maaf, tapi tanganku…" kata Hornet sambil menunjukkan tangan tombaknya.

"Jadi itu bagian tubuhmu? Kupikir sesuatu yang bisa dipasang dan dilepas. Oke, kalau gitu, minimal kau temani aku saja."

"Baiklah." Haah, bakal repot, nih. Tapi kenapa sifatnya sedikit berbeda dari informasi yang kudapat?


Di dalam Poke-Mart, bagian daging, Mizuko sedang berdiri di depan daging sapi besar yang menggelantung. "Hm… enaknya beli yang mana? Punggung atau paha? Menurutmu enaknya yang mana, Hornet?"

"Entahlah. Lagipula kau yang punya keperluan, kan?" kata Hornet.

"Baiklah kalau begitu. Pak, beli daging paha 5 kg," kata Mizuko.

"Oke, mba," kata tukang daging yang ternyata adalah seorang Tauros. "Daging 5 kg segera datang."

Gila nih kota. Koq bisa seorang Tauros jadi tukang daging? Mana daging sapi pula, batin Hornet sambil ber-sweat drop.

"Terima kasih, nona. Datang lagi," kata Tauros.

"Baik," jawab Mizuko. "Nah, Hornet, kemana lagi kita harus pergi?"

"Maaf, Mizuko, tapi aku harus pergi. Aku baru ingat harus mengurus nenek," kata Hornet berbohong.

"Secepat ini? Baiklah. Terima kasih sudah menemaniku berbelanja," kata Mizuko sambil tersenyum.

"Oke. Sampai jumpa," kata Hornet, lalu segera pergi dari sana. Ia pun berlari, hingga berada di depan pintu Poke-Mart.

PIIP PIIP

Hornet pun menekan sesuatu yang berada di telinganya dengan ujung tangan tombaknya, yang ternyata adalah semacam alat komunikasi. "Halo, Puder. Aku perlu berbicara denganmu."


Jam 7 malam, di tower Lost & Found, tepatnya lantai 2, semua anggota keluarga sedang makan malam, bahkan Kasai pun berada di meja makan. Nampaknya sang tokoh utama sudah memaafkan naga rakus ini. Bahkan, 2 ½ kg daging yang dibeli Mizuko sudah dihabiskan sendirian olehnya.

"Jadi, kakak sudah tidak marah lagi sama Kasai-kun?" tanya Kori.

"Tidak. Tidak lagi," kata Mizuko sambil tersenyum.

"Ada apa, nih? Jangan-jangan ada cowok cakep tipe air yang lewat, nih," kata Kori, dan yang bereaksi bukan Mizuko, tetapi Umizaki dan Kasai.

"Bukan, koq. Aku ketemu sama seorang cewek," jawab Mizuko.

"Kak, fanfic ini bukan fanfic Yuri," kata Kori dengan tatapan sinis.

"Jelas bukan, lah. Aku tahu writer sableng itu tidak suka menulis fanfic Yuri," jawab Mizuko dengan tatapan sinis.

"Benar juga. Terus, ada apa?"

"Dia lumayan aneh. Wanita berambut kuning twintail dengan kacamata merah menggelantung di atas kepalanya, tangannya bertombak seperti Beedrill pada umumnya, dan dia berpakaian seperti wanita tomboi. Sifatnya juga agak sedikit diam dan agak dingin."

"Apa katamu? Wanita Beedrill?" tanya Umizaki. "Apa dia orang yang bernama Hornet?"

"Iya. Koq kakak tahu?" tanya Mizuko.

"Tidak ada apa-apa," kata Umizaki, kemudian berdiri. "Aku sudah selesai. Ayo, Kasai."

"Tunggu," kata Kasai sambil makan daging, "aku masih belum selesai makan."

"Ayoooo," kata Umizaki dengan tatapan aura gelap.

"B-baiklah," kata Kasai yang akhirnya menurut, lalu segera pergi meninggalkan makanan yang tidak sempat dia makan.

"Hey, kalian belum menghabiskan makanan kalian," kata Mizuko kesal.

"Tidak apa-apa, Mizuko. Kami sudah kenyang," bantah Umizaki.

"Dasar. Padahal aku sudah susah payah membuatkannya untuk mereka," kata Mizuko kesal. " Ya sudah, biar aku habiskan saja sisa mereka."

"Kak, ingat diet," kata Kori.

"Biarin," bantah Mizuko.


Jam 11.30 malam, lagi-lagi badai terjadi, badai yang sama dengan yang terjadi di chapter sebelumnya. Langit gelap, semua barang tertiup oleh kencangnya angin, bahkan beberapa orang tidak dapat tidur karena bunyi yang dibuat oleh angin ribut ini. Tapi itu pengecualian untuk Mizuko, karena ternyata, diam-diam cewek ini adalah tipe orang yang susah dibangunkan. Bahkan, petir yang menyambar 10 m dari lokasinya tidak dapat membangunkan wanita berambut panjang itu.

Di kamar Mizuko, yang sedang gelap karena lampunya dimatikan, terlihat kilau merah Ruby di pojok ruangan. Ternyata itu adalah Hornet, sang Beedrill. Ia pun mendekati sang putri yang tertidur itu. Ia mengangkat setengah tangan kanannya.

"Demi orang tuaku," bisik Hornet.

#Flashback

Kita kembali ke masa setelah Hornet meninggalkan Poke-Mart.

"Halo, Puder. Aku perlu berbicara denganmu."

"Hooh, apa itu, agen Hornet?" tanya suara itu, yang kita tahu dia orang yang bernama Puder.

"Apa kau yakin, orang yang mengirim kawanan pembunuh yang membunuh kedua orang tuaku adalah Mizuko?" tanya Hornet.

"Aku yakin sekali, agen Hornet."

"Tapi, kenapa aku tidak merasakan aura pembunuh di dalam dirinya?"

"Jangan terpengaruh dengannya. Kau masih ingat dengan pelajaran di sekolah Assassin?"

"Orang terjahat adalah orang yang dapat menekan aura jahatnya. Ya, aku tahu, tapi yang kurasakan di dalamnya adalah aura baik."

"Sudah kubilang jangan terpengaruh dengannya. Ingat laporan tentang Puma, sang Liepard? Dia dibunuh oleh Mizuko, dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Sekarang, buang ketidak yakinanmu dan cepat bunuh dia!"

"B-baiklah, agen Puder."

TUUT TUUT TUUT

#End of flashback

"Baiklah, sekarang, akan kubunuh kau," bisik Hornet, siap-siap untuk membunuh Mizuko.

"Oho, tidak secepat itu," kata sebuah suara dari belakang, yang ternyata adalah Umizaki, yang sudah menodong kepalanya dengan pistol.

"Jangan halangi aku," kata Hornet.

"Sudah kuduga itu kau, agen Hornet. Atau aku harus bilang Hachi Zubia," kata Umizaki.

"Cih, ternyata kau agen Elite Force, ya," umpat Hachi.

"Lebih tepatnya mantan. Aku tahu kemunculan dirimu di kota Virdinia pasti ada sesuatu, tapi tidak menyangka kalau targetmu adalah adikku."

"Adikmu telah menyuruh para pembunuh untuk membunuh kedua orang tuaku."

"Tidak mungkin adik dari mantan Elite Force berniat membunuh orang yang tidak ada dengan hubungannya."

"Bisa saja. Banyak adik dari orang baik berbuat jahat sekarang ini."

"Tapi bukan adikku."

"Baiklah kalau begitu," lalu Hachi mendadak menghilang dari hadapan Umizaki, lalu muncul kembali di atasnya, "aku pun harus menaklukanmu di sini."

BLLAAARRRRR

Tiba-tiba kobaran api melesat ke arah Hachi, tapi ia dapat menghindarinya. Kasai pun muncul di depan pintu.

"Memang sesuai dugaanmu, Umizaki," kata Kasai, dengan api berkobar di tangannya. "Hei, lebah sialan, jangan kau berani menyentuh Mizuko."

"Kenapa?" tanya Hachi.

"Aku saja dilarang menyentuhnya," kata Kasai, membuat kedua orang jatuh ala anime.

"Orang-orang ini," kata Hachi kesal, "aku tidak terima! Poison Jab!"

Kedua ujung tombak Hachi berubah berwarna ungu, lalu ia menghilang dengan cepat, dan muncul di belakang Umizaki dan Kasai, kemudian ia menggerakkan kedua tangannya dengan cepat, gerakannya hampir tidak terlihat. Sayangnya, serangan tersebut mengenai mereka.

"Aduhh…," teriak mereka berdua, sambil memegang bahu mereka masing-masing.

"Baiklah, Poison Jab masih aktif sedikit, jadi…" ia pun berjalan mendekati Mizuko yang tertidur, "kematianmu segera tiba!"

CRASSHHH

Hachi pun berhasil menusuk Mizuko, tapi sayangnya Mizuko yang ia tusuk hanyalah klon air yang dibuatnya.

"A…apa?"

"WATER PULSEEEE!" gelombang air pun melesat dari arah belakang, mengenai punggung Hachi. Ia pun terlempar sampai di sudut ruangan. "Aku tahu pasti ada sesuatu yang aneh, tapi aku tidak menyangka kau ingin membunuhku."

"Kau memerintahkan kumpulan orang busuk itu untuk membunuh kedua orang tuaku," kata Hachi.

"Hornet… Hachi, apa aku memiliki muka pembunuh?" tanya Mizuko.

"Mizuko…."

DUASSHHH

Tiba-tiba melesat gelombang dari arah belakangnya, beruntung Mizuko dan Hachi dapat menghindarinya.

"Dasar agen Hornet bodoh! Kalau target seperti ini saja tidak dapat kau bunuh, kau tidak pantas menjadi seorang Attentater," kata seorang pria berambut pink dengan kemeja berwarna sama dan bersayap hijau.

"A-agen Puder," kata Hachi.

"Und gutten nacht, Aquana*. Ich bin Puder, Pudox* Attentater," kata Puder.

"Kau…," kata Mizuko.

"Psychokinese," lalu mata kuning Puder berkilau, dan aura berwarna sama menyelimuti Mizuko, mengangkatnya hanya dengan kekuatan tatapan. "Baiklah, agen Hornet. Ia sudah tidak dapat bergerak. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Ta… tapi…"

"Ingat kontrak."

"Ba… baiklah, " ia pun mengaktifkan Poison Jab-nya, mendekati Mizuko yang sudah terkunci.

"Ha… Hachi…," kata Umizaki, yang masih dalam keadaan tidak berdaya, "jangan ikuti perintahnya. Dia… dia salah satu dari pembunuh yang membunuh kedua orang kami, ketika dia masih berbentuk Wurmple. Dia juga pasti yang telah membunuh kedua orang tuamu. Jangan percaya begitu saja."

Hachi pun terdiam. Ia pun menatap mata Puder yang masih bercahaya, lalu menatap mata kedua korbannya, Umizaki dan Kasai, lalu ia menatap mata targetnya, Mizuko. Ia terlihat bingung. Mana yang harus kupilih? Mereka atau Puder?

"Ayo, Hornet. Pilihanmu," kata Puder sudah tidak sabar.

"Baiklah," ia pun mengangkat tangan tombaknya, lalu…

CRASSHHH

Semua orang kaget, terutama Puder, karena yang Hachi tusuk bukanlah Mizuko, tetapi Puder. "Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti dia terjatuh. Sepandai-pandainya kau menutupi aura jahatmu, suatu saat pasti bocor. Dan aku akhirnya tahu, kaulah orang jahat itu."

"Du…," umpat Puder, memegang bahunya, dan matanya sudah tidak berkilau lagi. "Kalau kau melakukan ini, kau tidak akan dapat duit kontraknya."

"Kontrak?" kata Hachi. "Ini pendapatku soal kontrakmu," lalu ia memotong tas kecil yang terikat di paha Puder, lalu menusuk dompet yang ada di dalam tas itu, dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang terikat di pahanya. "Tanpa mematuhi kontrak pun, aku masih bisa mendapatkan upah dalam tugas ini. Ditambah lagi, ini masih bayaran kecil atas semua penipuanmu selama 3 tahun ini. Mizuko!"

"Baik," kata Mizuko, lalu ia menembakkan gelombang air besar dari kedua tangannya. "HYDRO PUMP!"

Tekanan gelombang besar itu pun mendorong Puder keluar dari ruangan itu, mendorongnya dari lantai 5 gedung itu. Tapi sayangnya, Puder sudah sembuh dari serangan Hachi dan dapat terbang lagi.

"Haha, sayang sekali, Aquana, aku sudah bisa bergerak lagi sekarang. Mungkin kalian menang, tapi besok…"

"Aah, banyak cakap kau ini," kata sebuah suara dari arah bawah, "BLIZZARD!"

Tiba-tiba bertiup badai salju yang dahsyat, membekukan Puder yang sedang terbang, lalu jatuh di sebuah pohon cemara. Semuanya kaget, karena yang telah membekukan Puder adalah Kori, yang entah kapan sudah berada di sana. "Heh, jangan kira kau bisa lolos, bung," kata Kori. "Hey, semuanya, aku berhasil menangkap sang orang jahat."

"Kau ini bisa-bisa saja, Kori," teriak Mizuko.


Yup, dan itulah akhir dari serangan serangga di malam hari. Berkat Hachi, Umizaki dan Kasai yang terluka karena racun Hachi akhirnya sembuh. Puder yang merupakan orang jahat akhirnya berhasil di bawa ke penjara, untuk diinterogasikan. Meski begitu, sayangnya Puder berhasil kabur dari penjara. Hanya sedikit informasi yang bisa mereka dapatkan. Informasi yang mengatakan bahwa Dark Organization sedang mengincar beberapa Poke-Human yang mewakili setiap elemen untuk kepentingan jahat mereka. Masih belum jelas tujuan itu, tapi para Elite Force berjanji bakal memeriksanya. Tapi ya sudahlah, daripada kita memusingkan hal ini lebih lama, mending kita segera beranjak ke ending chapter ini.

"Terima kasih sudah menolongku, semuanya," kata Hachi, "dan aku minta maaf atas kerusuhan yang terjadi sebelumnya."

"Tidak apa-apa," kata Mizuko, "ini bukan salahmu, semua terjadi karena kebetulan."

"Dan jangan lupa soal racun itu," kata Kasai kesal.

"Kasai!" teriak Mizuko sambil menjitak Kasai. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"

"Entahlah. Aku sudah berhenti dari organisasi, aku tidak yakin banyak yang mau membayarku sebagai Assassin, dan aku tidak punya satupun kerabat, juga rumahku di Hidden Village sudah hancur," kata Hachi, "aku tidak punya tempat untuk pulang."

"Hachi," kata Mizuko, "bagaimana kalau kau tinggal saja disini?"

"A-apa kau yakin, Mizuko?" tanya Hachi.

"Aku yakin sekali," jawab Mizuko dengan senyuman manis. "Kau bisa menganggap rumah kami sebagai rumahmu sekarang."

"Dan biaya bulanan?"

"Em…," Mizuko sweatdrop, "tidak ada."

"Yes," kata Hachi bersemangat, "dengan begini aku bisa menghemat uang."

"Aduh, satu lagi orang aneh yang menghuni rumah ini," kata Umizaki sambil sweatdrop.

"Tenang saja, gini-gini aku ahli dalam soal mendapatkan uang," kata Hachi dengan percaya diri.

"Ya, kalau kau tidak melubanginya duluan," kata Kasai mengejek.

"Kau ini…," kata Hachi kesal, dan itu membuat semuanya tertawa.


Hachi : Hihi, bagus, kan ceritanya? Yup, datang lagi.

Ryan : Pertama, ceritanya kelewat gaje di bagian akhir, dan kedua, WTF are you doing here?

Hachi : Minta honor.

Ryan : (facepalm) Hara hara, baru aja muncul, kau udah minta honor.

Hachi : Jelas, melelahkan untukku berada di fanfic ini.

Ryan : Melelahkan? Itu seharusnya kata-kataku, lebah mata duitan! Aku yang memikirkan ide dan menulis semuanya, bodoh!

Hachi : Tapi aku tetap minta honor.

Ryan : Fine! (merogoh dompet) Ini, kartu ATM-ku. Kodenya ******. Ambil saja sesukamu.

Hachi : Terima kasih, writer. Anda ternyata baik (terbang dari panggung)

Mizuko : Hah, kemana Hachi pergi?

Ryan : Mengambil uang di ATM.

Mizuko : Tapi tangannya…

Ryan : Itu dia poinnya! Pertama, tangannya seperti itu, dan kedua kartu ATM itu isinya kosong! Dia pasti kelewat kesal di ATM sana.

Mizuko : Aduh, udah dalam fic gaje, disininya juga gila.

Ryan : Ya sudahlah, daripada tambah pusing lagi, mending kita tutup saja.

Mizuko : Terima kasih sudah membaca chapter 2. Mohon non-flame review-nya.

Ryan : Jangan lupa baca trivia-nya (nunjuk ke bawah)

Trivia

Und gutten nacht : Dan selamat malam.

Aquana : Nama Jerman untuk Vaporeon. Berasal dari kata Aqua (air) dan -a, imbuhan -a merupakan akhiran untuk setiap nama Eeveelution di Jerman.

Ich bin : Secara harfiah "aku adalah", tapi disini artinya "namaku."

Attentatter : Assassin

Pudox : Nama Jerman untuk dari kata Puder (bubuk) dan Toxisch (racun).

Psychikinose : Psychic

Elite Force : Pasukan elit sekelas FBI yang bertugas dalam kasus level dunia. Dan referensi dari Elite Force tidak berasal dari Elite Four. Kelompok yang direferensikan dari Elite Four merupakan kelompok yang berbeda lagi.

Du : Kamu

Virdinia : Kota kedua yang kamu kunjungi dalam permainan (jika kau main di region Kanto)

Hidden Village : Animanga-exclusive. Terletak diantara kota Cerulean dan Vermillion. Sebelum masa kepunahan manusia, tempat ini merupakan tempat untuk Pokemon yang ditelantarkan oleh Trainer mereka.

P.S. : Meski aku belajar bahasa Jerman, bukan berarti aku menyukainya (dan bukan berarti aku juga membencinya)