Saya...tidak menyangka mendapat review itu seperti ini rasanya :" Untuk masalah typo, saya memang terlalu terburu-buru, sudah saya edit. Maaf untuk ketidak nyamanan nya, minna-sama. #bow
Untuk NaruHina dalam filter. Tidakkah kalian pikir saya punya alasan dibalik itu? :" Saya punya alasan tersendiri memasukan NaruHina. Selain mereka Pair Favorit saya tentunya.
Tapi saya tidak ingin egois. Apaboleh buat jika itu keinginan pembaca. Sudah saya hilangkan. Terus itu SHL disana jangan galak2 ya sama saya orz. Saya juga SHL kok. SasuSaku ini tuntutan benang merah.
Kalau ngeliat chapter ini mungkin kalian pikir ini ff drabble family. Menurut saya iya dan tidak. Saya punya inti cerita di ff ini. Satu doang fokusnya. Tapi ga pingin unsur familynya juga lepas. Jadi anggap aja 2 chapter ini drabble family buat mempertegas para tokoh dan karakternya.
Trus kapan inti ceritanya? Mungkin di chapter 3 atau 4 kalau pake NOS alurnya.
Saya akui saya adalah author baru. Mungkin kalian sudah melihatnya dari gaya penulisan saya. Tapi saya pembaca lama. Mulai jadi author setelah tidak menemukan cerita yang menarik untuk di konsumsi #ngapajaditjurhat =_= Saya masih butuh masukan dari senpai-tachi.
Etapi kalau kalian ada saran ff bagus saya mau dong. Sekalian kita bahas2 ff. Promosi ff kalian juga boleh. PM saya ya '-')/
Ok then, here it is! Next Generation
Enjoy ya Minna-sama '-')/
Warning: OOC, OCC, OC, OO #Duakh, Typo(s), Alur pake NOS, Cerita mudah ditebak. I've warned you
Disclaimer: Naruto punya saya tapi boong
Pagi yang sama di hari yang sama ketika Ritsu Uchiha memulai aktifitasnya di pagi hari yang ramai dengan keluarganya, nun jauh disana, seorang anak laki-laki juga mengawali paginya yang –menurutnya– menyebalkan.
Sebenarnya tidak terlalu jauh, kediaman Uchiha berada di Distrik Uchiha, sedangkan Rumah sang anak laki-laki berada di pusat kota Konoha.
Kriiiiing! Kriiing!
Suara keras berasal dari sebuah alarm membuat sang empunya menggeliat di atas pembaringannya. Alarm persegi berwarna coklat kayu yang hanya diletakan begitu saja di atas sebuah nakas disamping ranjang tidur pemiliknya belum mau berhenti.
Dakh!
Suara lain menggantikan suara alarm. Suara tangan si anak laki-laki yang bersinggungan keras dengan alarm.
Ia menggeliat, bangun dan terduduk di sisi ranjang. Rambut kuning secerah matahari tampak berantakan. Kelopak mata yang mengantuk menutupi iris Biru langit nya. Kulit putih, rambut kuning, mata biru, penduduk Konoha pasti mengenalnya. Putra sang Pahlawan Perang, Yuuji Namikaze.
Yuuji melirikan iris matanya pada alarm kayu di atas nakas. Sedikit retak. Sepertinya ia perlu alarm baru. Ia ingat alarm pertamanya. Pemberian sang Ibu –Hinata Hyuuga. Yuuji punya kelainan susah sadar jika jatuh tertidur. Ia selalu bangun kesiangan. Kakek Hiashi selalu memarahinya jika ia bangun siang. Mereka bilang itu bawaan dari ayahnya. Yuuji selalu mengeluh karena hampir sepanjang masa kecilnya ia bangun siang.
Saat itu Yuuji masih bocah yang belajar di akademi. Ia malu pada teman-temannya yang berbangga kalau mereka sudah tidak merepotkan orangtua mereka dan bangun sendiri tanpa perlu di bangunkan. Yuuji mencoba untuk bangun sendiri. Selalu mencoba. Tak pernah berhasil.
Saat itulah Hinata melihat kesusahan hati putranya. Ia menghadiahkan alarm dengan bentuk rubah berwarna oranye.
Awalnya Yuuji tidak suka dengan bentuk rubah. Terlihat kekanakan? Seperti anak perempuan? Entahlah. Tapi alarm rubah Yuuji selalu berhasil membuatnya bangun. Setelah menjadi Genin, Yuuji mengumpulkan uang hasil misi dan mengganti alarm rubah dengan yang baru.
Sekarang? Yuuji sudah punya cukup banyak koleksi alarm. Beberapa retak, rusak, atau terlihat tua. Tapi ada satu yang ia simpan dengan sangat hati-hati. Yang berwarna oranye. Saya yakin kalian tahu yang mana.
Sebagai Ninja, kewaspadaan adalah kunci utama pintu keberhasilan dan keselamatan dalam misi. Manusia biasa pun harus tetap waspada walau tidak berprofesi sebagai ninja. Dalam kasus Yuuji, ia bukan tergolong orang ceroboh. Gerak refleknya diakui. Selalu menimbang resiko terburuk. Tapi ia sulit terbangun jika jatuh tertidur ketika menjalankan misi. Itu sangat berbahaya. Musuh bisa menyerangnya kala ia tertidur. Maka dari itu, Yuuji menghindari mengambil misi-misi tunggal yang memakan waktu berhari-hari.
Tidak ingin berlama-lama, Yuuji segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi di kamarnya. Berbeda dengan kediaman Uchiha yang bergaya tradisional minimalis. Rumah keluarga Hokage ke-6 ini lebih modern dan sedikit lebih besar. Tidak kontras dengan penghuni di dalamnya. Terdapat cukup banyak kamar. Beberapa diantaranya memiliki fasilitas kamar mandi didalam kamar. Seperti milik Yuuji.
Setelah mengenakan pakaian ninjanya ia bergegas ke ruang makan. Menyusuri lorong kamar-kamar tak berpenghuni yang tidak ia tahu apakah benar-benar tidak berpenghuni. Terkadang ia mendengar suara-suara di beberapa ruangan. Yuuji paranoid.
Yuuji tidak takut berhadapan dengan raksasa. Ia juga tidak takut dengan bandit bersenjata. Ia hanya takut hantu. Ya. Hantu. Lagi-lagi turunan sang ayah. Yuuji menghela nafas setelah melewati ruangan-ruangan tersebut.
Letak ruang makan cukup jauh mengingat rumah itu besar. Yah memang tidak sebesar sekolah akademi ninja atau sebesar komplek perumahan Uchiha. Tapi cukup besar karena ini hadiah dari kakeknya, mantan ketua klan spesial Konoha. Hiashi Hyuuga.
Yuuji sempat mendengar rumah ini dibuat khusus dengan memikirkan Naruto dan Hinata. Dibuat modern karena Naruto terbiasa hidup di rumah berpintu kayu dan di buat besar karena Hiashi Hyuuga tidak ingin anaknya sang mantan Hairess klan Hyuuga hidup dirumah sempit. Yuuji mendengarkan dengan tambahan petuah ia harus menjaga rumah itu dan sebagainya, dan sebagainya, yang tidak terlalu ingin diingat olehnya.
Yuuji sampai di depan ruangan berpintu kayu lainnya. Letaknya agak dibelakang rumah. Beberapa langkah dan kau akan menemukan pintu belakang rumah kediaman Namikaze. Yuuji membuka pintu.
"Ohayou, Haha-ue." Sapanya. Melihat dua orang yang sudah sangat dikenalnya sibuk dengan aktifitas memasak mereka. Sekarang memang masih pagi. Belum waktunya sarapan.
"Ah, Ohayou Yuuji-kun." Hinata membalikan badan. Mengalihakan perhatiannya dari aktifitas masak-memasak pada anak laki-lakinya.
"Ohayou, Saya Obaa-san." Yuuji beralih pada seseorang disebelah ibunya. Ia mengenalnya sebagai Saya Hyuuga.
"Ohayou." Sapa Saya di ikuti senyum ramah.
Saya Hyuuga adalah wanita tua klan Bunke Hyuuga yang sering membantu Hinata mengurus rumah. Biasanya ia datang pagi dan pulang setelah makan siang di kediaman Namikaze itu. Saya adalah korban perang. Ia kehilangan suaminya kala itu dan hidup sendirian sekarang. Tapi Naruto dan Hinata sudah menganggapnya keluarga sendiri, jadi ia selalu datang dan membantu Hinata. Awalnya Hinata tidak enak membuat Saya selalu membantunya, Saya beralasan kesepian dan sudah menjadi kewajibannya menjadi Bunke, jadi Hinata tidak bisa protes.
Yuuji mengambil tempat duduk di meja makan yang tersedia. Ruang makan ini dilengkapi dapur. Kau bisa mencium harum masakan Hinata dari sini. Dan Yuuji suka itu. Terkadang membuatnya tidak sabaran.
"Seperti biasa. Pagi sekali Yuuji-kun." Hinata menaruh ocha hangat dihadapan Yuuji.
"Aa. Aku tidak ingin menyianyiakan hari yang cerah seperti seseorang." Yuuji menyesap ocha hangat itu. Cairan itu terasa mengalir menghangatkan tubuhnya.
Hinata yang mengerti 'seseorang' yang dimaksud Yuuji adalah suaminya mencoba memberi pengertian "Ayahmu pulang sangat larut semalam. Ibu rasa ia berhak mendapat sedikit waktu istirahat lebih."
Yuuji bungkam. Ia tahu ayahnya pulang larut atau tidak tetap akan kesiangan. Hinata yang melihat aksi bungkam Yuuji hanya mengulum senyum.
"Nah, tunggu disini Yuuji-kun. Sarapan akan segera siap." Lanjut Hinata.
"Apa ada yang bisa kubantu?"
"Tidak. Berhentilah menanyakan hal itu setiap pagi."
"Aku hanya ingin membantu."
Hinata tersenyum lembut. "Rasanya aku ingin memelukmu, Yuuji-kun."
"Aku tidak ingin remuk"
Senyum Hinata melebar mendengar lelucon yang dibuat anaknya. "Kau bisa bangunkan Hikari jika ingin membantu."
"Anggap aku tidak pernah bertanya." Yuuji kembali menyesap tehnya memikirkan permintaan ibunya membangunkan Hikari. Kalian bertanya siapa itu Hikari? Tidak perlu panasaran. Ia hanya 'kloning' Naruto yang lain.
Hikari Namikaze. Wajahnya selembut wajah Hinata. Rambutnya pirang dan lain-lain dan lain-lain yang sangat Naruto. Kalian bisa bayangkan sendiri. Berumur 12 tahun. Lebih muda dari Yuuji. Tapi tak pernah memanggilnya kakak. Egois. Sangat menyebalkan.
"Ohayou, Minna!" suara seorang gadis mengagetkan acara melamun Yuuji.
'Oh, panjang umur.' Batinnya.
Hikari Namikaze melangkahkan kakinya mantap memasuki ruang makan itu. Rambut pirangnya tergerai. Beberapa mencuat keluar dari kelompoknya. Piyama melekat di tubuhnya. Wajahnya cerah walau Yuuji bisa melihat ada jejak air liur di pipi gadis itu.
Hikari Namikaze sangat bersemangat walau belum mandi.
"Ohayou, Hikari-chan." sahut Hinata dan Saya hampir bersamaan.
Hikari segera mengambil tempat duduk dihadapan Yuuji.
"Bisa tolong panggilkan ayah kalian?" kata Hinata. Tidak jelas pada siapa mengingat 'anaknya' ada dua.
Yuuji dan Hikari bergeming. Yuuji malas bertemu sang ayah. Hubungannya dengan Naruto sedang tidak bagus.
"Baiklah." Ujar Hikari. Tiba-tiba ia membentuk segel. "Kagebunshin no jutsu!"
Poff!
Hikari yang lain muncul. Hikari memakai jurus ninja untuk memanggil ayahnya.
"Dasar pemalas." Sindir Yuuji. Sangat pelan hingga terdengar seperti gumaman. Hanya untuk memanggil Naruto yang berjarak tak sampai 50meter saja harus menggunakan jurus ninja. Sungguh pemborosan cakra.
Twitch!
Hikari mendengar gumaman Yuuji.
"Apa kau bilang?!" ujar Hikari sedikit berteriak. Ia kesal.
"Dasar Pemalas." Yuuji memperjelas dengan berani.
"Lalu kenapa tidak kau saja yang membangunkan Tou-san, Tuan yang rajin?" Hikari memberi penekanan pada julukan yang ia berikan.
"Karena aku malas bertemu dengannya!" pembicaraan mereka terdengar sengit.
"Berarti kau juga pemalas! Kau tidak berhak menilaiku pemalas!"
"Malasku bukan malas yang itu!"
"Memangnya malas ada berapa!"
Yuuji terdiam. Memikirkan ada berapa jenis rasa malas yang dialami manusia. Baiklah, itu Kebodohan turunan Naruto yang lain. Sering terbawa emosi.
Yuuji akhirnya memutuskan "Emm... tiga!"
"Mau malas yang mana pun kan tetap pemalas!"
"Pemalas mu itu yang paling buruk! Kau itu malas bergerak!"
"Memangnya kau tidak?!"
"Oi Hinata-chan, mereka itu kenapa?" Suara berat khas seorang pria dewasa menghentikan perdebatan mereka.
"Entahlah, Naruto-kun." Orang yang ditanya pria tersebut merespon.
Tanpa mereka sadari mereka sudah menjadi tontonan tiga orang yang berada disana. Yuuji dan Hikari terkejut. Terutama karena biang perdebatan mereka sudak berada disana entah sejak kapan.
Naruto, Hinata, dan Saya berdiri berderet menyaksikan perdebatan mereka tanpa ada keinginan untuk melerai. Yuuji sweatdrop.
"Ekhem! Apa sarapannya sudah siap, Haha-ue?" Yuuji mencoba bersikap tenang. Seolah tak terjadi apapun. Ia malu jika di cap kekanakan karena berdebat dengan anak-anak. ('Hei! Aku bukan anak-anak!' Hikari protes. Yuuji cuek.)
Hikari hanya mendecih kesal.
"A-ah, ayo kita makan. Ha-ha-ha." Ucap Naruto canggung, memecah keheningan yang terjadi beberapa detik itu. Ia sweatdrop melihat tingkah anak-anaknya. Ia bingung dari mana sifat anak-anaknya yang aneh itu.
Sarapan di kediaman Namikaze pagi itu sangat tenang. Tidak ada lagi perdebatan aneh. Yang ada hanya dentingan piring sendok milik Naruto dan Hikari. Sesekali suara seruputan sup miso mereka juga terdengar telinga Yuuji, Hinata, dan Saya. Tapi mereka cuek. Sudah biasa katanya.
"Gochisousama." Yuuji menghentikan aksi makannya.
"Hum? Kau sudah selesai makan Yuuji? Tidak ingin tambah?" Naruto menawarkan. Ia mengambil sepiring ayam yang sudah tinggal setengah dan menyodorkannya ke hadapan Yuuji.
"Ba-" Yuuji tak melanjutkan kalimatnya. Wajahnya merah. Ia malu ayahnya masih bisa menawarkan sepiring ayam. "Aku harus pergi. Ittekimasu." Yuuji memutuskan untuk berlalu.
"Ada apa sih anak itu? Akhir-akhir ini dia jarang bicara padaku. Apa aku punya kesalahan padanya?" Naruto heran. Dua minggu, ah tidak, seminggu ini Yuuji tidak bicara padanya. Apa Yuuji sedang masa puber? Ah, tapi dia dulu tidak seperti itu. Ia mengerti kalau itu Hikari. Kalau Hikari bersikap tidak jelas, itu pasti Hikari sedang 'siklus'nya. Tapi kalau Yuuji?
Hinata, Saya, dan Hikari diam saja melihat Naruto dan Yuuji. –Lagi-lagi– Sudah biasa katanya.
Yuuji beranjak dari ruang makan. Ia ingat dengan janjinya sebagai kelompok 6 yang akan menjalankan misi. Sebenarnya Yuuji yang seperti ini juga termasuk salah Naruto. Sejak umur 4 tahun sampai masuk akademi ninja, Yuuji tinggal di kediaman Hyuuga di mansion Hyuuga. Tentu atas permintaan Hiashi, kakeknya.
Hiashi berpendapat Yuuji harus tinggal di kediaman Hyuuga untuk mengerti tradisi Hyuuga. Apalagi ia laki-laki. Yuuji belajar banyak dari Hyuuga yang ajarannya terkenal keras. Bahkan membekas walaupun ia sudah tidak tinggal di Mansion Hyuuga.
Naruto yang –ekhem- sedikit bodoh, menyetujui begitu saja permintaan sang mertua tanpa tau dampak yang dialami Yuuji. Hinata yang awalnya menolak pun luluh ketika dibujuk. Hinata pikir tidak ada salahnya membuat sang ayah senang mengingat Ayahnya tidak mempunyai anak laki-laki. Mungkin ia akan sedikit terhibur dengan cucu laki-laki yang diberikan Hinata.
Kembali ke si pirang muda. Ia sudah sampai pada tempat mereka janjian. Tak ada seorangpun disana. Ia rasa memang masih terlalu pagi. Salahkan ayahnya.
Kelompok 6 janjian pada pukul delapan tepat. Sekarang jam delapan kurang sepuluh. Sambil menunggu, mari kita lihat profil Namikaze muda ini.
Profil Lengkap Yuuji Namikaze:
Putra Hokage Ke-6, Naruto Namikaze. Masih memiliki darah klan Uzumaki, Klan spesial Konoha. Saat ini dalam status sebagai Chuunin. Tergabung dalam kelompok 6 di generasinya dalam bimbingan Nara Shikamaru. Anggota kelompoknya antara lain, Uchiha Ritsu dan Inuzuka Kenta. Dalam waktu dekat akan menghadapi ujian Jounin. Major: Ninja penyerang dengan type chakra Angin dan Taijutsu yang cukup diatas rata-rata. Kelemahan: Sulit sadar. Yang disukai: Ramen dan Ibu. Yang tidak disukai: Ritsu Uchiha
"Yo, Yuu!" Jam delapan tepat. Kenta Inuzuka berjalan santai menuju tempat yang dijanjikan. Sebagai teman satu tim, Yuuji cukup dekat dengan Kenta. Ah, Yuuji tidak melihat anjing Kenta hari ini. Apa anjing itu sakit?
"Aa." Yuuji membalas salam pagi Kenta. "Rairi tidak denganmu hari ini?" lanjutnya.
"Ah, entahlah. Ayahku bilang Rairi harus diperiksa atau apa. Awalnya aku ingin ikut, tapi aku ingat hari ini kita mendapat misi." Kenta mengerti Reiri yang dimaksud adalah anjingnya, ia mencoba menjelaskan. Klan Inuzuka adalah pencinta anjing dan menjadikan Anjing sebagai keluarga dan sumber kekuatan mereka. tidak terkecuali pada Kenta Inuzuka.
"Begitu."
"Ohayou." Tidak lama, sensei mereka datang. Nara Shikamaru. Si jenius yang sudah di akui. Salah satu pahlawan perang besar dunia shinobi.
"Ohayou, sensei." Sahut Kenta dan Yuuji bersamaan.
Mereka bertiga menunggu kedatangan satu lagi anggota mereka yang belum datang. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Yuuji jenuh.
Tanpa sengaja iris birunya mengarah ke jalan. Ia melihat gadis berambut hitam berkilau bak iklan shampo berjalan cepat ke arahnya. Rambutnya yang panjang beberapa kali terlihat terayun seiring pergerakan gadis itu. Poninya menyamping memamerkan wajahnya yang cantik. Eh? Apa Yuuji baru saja berpikir kalau ia pikir gadis itu cantik? Kalau iya tolong di ralat. Gadis itu biasa saja. Yah, wajahnya SNI lah. Gadis itu terlihat sebaya dengannya, tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran perempuan. Ekspresinya terlihat serius.
"Ohayou, Ritsu-Chan." Sapa Kenta dan Shikamaru segera setelah gadis itu sampai. Salah satu anggota kelompok 6 yang mereka tunggu. Ritsu Uchiha.
"Ohayou, Minna. Gomen na, aku terlambat." Ujar Ritsu datar. Tanpa rasa bersalah. Datar. Yuuji berang.
"Bukan masalah, Ritsu-chan." Kenta segera merespon permintaan maaf Ritsu. Apa-apaan Kenta itu? Apa ia tidak tahu menunggu itu rasanya tidak enak? Lagipula lihat dia. Tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. Yuuji yang datang paling awal merasa terhianati. Walaupun author pikir Yuuji sama sekali tidak nyambung.
"Kalau saja aku yang terlambat." Yuuji menyindir. Tidak hanya untuk Ritsu. Tapi juga untuk Kenta.
"Aku sudah minta maaf, bodoh." Balas Ritsu.
"Apa katamu?!" Yuuji naik pitam. Padahal ia lebih suka naik gunung. Udaranya lebih menyegarkan. Ia mendekat ke arah Ritsu, ingin melihat wajah gadis itu lebih dekat. Eh, bukan, ia ingin menakuti gadis itu. Menunjukan kalau ia sedang marah pada keterlambatannya.
"Jangan hiraukan dia, Ritsu-chan. Ayo berangkat." Kenta menengahi. Yuuji semakin kesal.
Gaaaah! Kenta itu temannya bukan sih? Kenapa ia malah membantu Kunoichi dingin itu?! Ritsu Uchiha itu yang salah disini! Kenapa tidak ada yang protes!
Tapi seketika ia bungkam. Protesnya tidak berguna. Lagipula yang protes hanya dia. Dan ia rasa si Kenta itu menyukai Ritsu. Pemuda klan Inuzuka itu selalu terlihat membela Ritsu. Yuuji menghela nafas dalam pikirannya.
Mereka tiba di kantor Hokage. Yuuji adalah putra Hokage. Menjadi putra Hokage di Konoha tidak membuatmu di istimewakan. Semua staff kantor Hokage menganggapnya seperti Ninja lainnya yang datang ke kantor Hokage untuk memberi laporan misi atau mendapat misi.
Sejujurnya menjadi putra Hokage cukup menjadi beban Yuuji. Walaupun semua memperlakukannya sama dengan ninja lain, tapi ia tetap di pandang sebagai putra Hokage. Tentu orang berpikir kemampuannya setara atau satu tingkat dibawah Hokage. Yuuji tidak sepercaya diri itu.
Yuuji mengenal ayahnya. Walaupun di nilai bodoh, Namikaze Naruto adalah Ninja yang sangat kuat. Kuat tapi bodoh. Kau yang pintar tidak cukup mungkin mengalahkan seekor singa buas. Atau dalam kasus ini ayahnya sering dikaitkan dengan rubah legenda berekor sembilan. Kau butuh kekuatan atau minimal alat. Yuuji sadar, ia masih harus banyak belajar.
Tok! Tok!
"Masuk."
Yuuji bisa mendengar suara ayahnya.
"Hokage-sama." Shikamaru memimpin kelompoknya menghadap Hokage.
"Oh, Shikamaru. Kau sudah datang." Yuuji melihat ayahnya merapihkan –atau menyingkirkan gulungan-gulungan yang berserakan dimejanya.
"Maaf membuatmu melakukan misi ini Shikamaru, walaupun ini misi kelas B. Aku punya firasat misi akan berubah menjadi misi kelas A dan terlalu berisiko membiarkan generasi kecil kita melakukannya sendiri." Naruto terlihat serius.
"Tidak masalah, Hokage-sama."
"Baiklah, aku akan menjelaskan sedikit tentang misi ini. Misi ini mengharuskan kalian pergi ke Suna. Aku mendapat kabar dari Gaara mengenai ini. Ada sekelompok besar bandit yang ingin berkerjasama dengan para mafia. Dan mereka akan melakukan pertemuan di Suna."
Naruto melempar sebuah gulungan pada Shikamaru. "Selengkapnya ada pada gulungan itu. Kalian akan pergi besok pagi. Itu saja. Ada pertanyaan? Kalau tidak ada kalian boleh pergi." kelompok 6 baru akan beranjak dari tempatnya ketika tiba-tiba sang Hokage melanjutkan. "Kecuali kau Shikamaru."
Naruto berdiri menyamping menghadap jendela kantor Hokage. Yuuji terkejut. Dadanya sesak. Ekspresi itu lagi. Ekspresi yang ia temukan di ruang kerja ayahnya satu minggu yang lalu. Bersama kenyataan yang memperjelas semuanya. Ia memalingkan wajah, tidak ingin melihat atau mengingat kenyataan keluarganya.
Yuuji sudah hidup selama 15 tahun sebagai seorang Namikaze. 15 tahun ternyata tidak membuatnya mengerti Naruto. Selama hidupnya, Yuuji tidak pernah melihat ekspresi ayahnya seperti ini. Hati Yuuji terasa tersayat. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu.
Blam!
Pintu ruangan Hokage tertutup. Yuuji meninggalkan teman-temannya. Ia tidak ingin terlalu memikirkannya tapi tidak bisa! Apa ayahnya tidak menganggapnya sebagai anak? Harusnya Yuuji mengerti. Tapi tidak! Ia mencoba, tapi tidak berhasil. Ia kecewa. Ia kecewa pada orang tuanya yang merahasiakan ini. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa mengerti.
Yuuji berlari meninggalkan kantor Hokage. Ia berlari secepat yang ia bisa. Memacu jantungnya yang rasanya akan meledak. Ingin rasanya ia berteriak di depan wajah ayahnya. Meminta penjelasan kenyataan yang ia temukan. Tapi ia tidak bisa. Ia takut. Ia takut kalau itu semua benar.
Bruk!
"I –ttai!"
Yuuji menabrak seseorang. Seorang wanita. Wanita itu terlempar dan jatuh terduduk dengan pantat yang menghantam tanah.
"Hh..hh.." Yuuji kaget. Ia mencoba mengatur nafasnya. Ia sadar telah menabrak seseorang. "Ma-" belum sempat Yuuji mengucap kata maaf, sesorang yang ditabrak Yuuji bangkit dari 'duduk'nya. Rambutnya berwarna Indigo panjang terlihat sedikit berantakan akibat tragedi jatuh dengan pantat terlebih dahulu.
"Bisa kau jelaskan sesuatu, Yuuji-kun?" Hinata memberi penekanan pada setiap kata yang ia lontarkan. Tersenyum. Tapi tidak tersenyum. Yuuji takut. Ibunya sedang marah.
"Haha-ue." Gumam Yuuji tanpa sadar.
"Kenapa kau berlari di keramaian jalan seperti ini?" Ucap Hinata menuntut.
"Maaf. Aku tidak sengaja." Jawaban Yuuji tidak menjawab pertanyaan Hinata. Kalau Ujian, Yuuji bisa dapat nilai nol besar.
"Kau dari mana?" Hinata tidak menyerah.
"Kantor Hokage." Yuuji sudah memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin menatap mata Hinata.
"Tatap lawan bicaramu Yuuji-kun!" nada bicara Hinata berubah tegas.
Yuuji menatap wajah ibunya. Berusaha menghindari kontak mata. Tidak berhasil. Hinata bisa melihat kegelisahan dan kesedihan dimata Yuuji. Hinata melembut.
"Ayo pulang. Atau kau mau ketempat lain, Yuuji-kun?" Hinata mengulum senyum. Belum ingin mengorek apapun. Yuuji menggeleng sebagai jawaban.
"Ah, baiklah. Bagaimana kalau kau temani Ibu belanja sedikit. Dapur kita kosong." Yuuji mengikuti langkah ibunya. Tidak berniat menjawab. Percuma.
Hinata dan Yuuji pergi ke pusat kota Konoha. Masuk ke toko baju, lalu keluar tanpa membeli apapun. Masuk ke toko aksesories wanita dan pria, kembali tidak membeli apapun. Masuk ke toko berikutnya, tidak membeli apapun juga. Ia kesal. Berkali-kali masuk dan keluar toko bermacam-macam benda tapi kenapa ibunya tidak membeli apapun?! Dan bodohnya Yuuji hanya mengikuti ibunya. Hanya bicara bila ditanya. For God Sake! Ia memang pengecut!
Hinata melirik Yuuji disampingnya, ia memang sudah berkeliling cukup lama. Sudah mulai sore. Hinata kembali mengulum senyum.
Akhirnya Hinata 'menggiring' Yuuji ke toko-toko makanan. Sebelumnya mereka hanya berkeliling di toko-toko benda. Kali ini setiap toko makanan yang didatangi Hinata ia beli dengan jumlah yang cukup banyak. Yuuji kembali mengeluh karena menjadi tukang kuli dadakan.
"hah..." Author menghelas nafas. Tidak membeli apapun Yuuji protes. Sekarang sudah banyak yang dibeli masih protes. Maunya apa? Author sewot.
Setelah membeli ini dan itu yang semuanya adalah jenis makanan, Hinata dan Yuuji memutuskan untuk mengakhiri acara belanja mereka. Ralat. Acara belanja Hinata.
Srakk!
Yuuji meletakan kantung besar belanjaan ibunya di atas meja dapur. Mereka sudah sampai di rumah. Ia duduk disalah satu kursi dan mulai membantu mengeluarkan dan memilah. Sementara ibunya memcuci peralatan yang sempat ia tinggalkan.
"Yuuji-kun, apa kau sedang bermusuhan dengan ayahmu?" Hinata membuka pembicaraan.
"Tidak."
"Yuuji-kun, walaupun kalian terlihat mirip, bahkan sangat mirip, tapi sifatmu tidak sama dengannya. Kau lebih mirip denganku." Hinata mengambil tempat di hadapan Yuuji. Yuuji bungkam. Hinata melanjutkan. "Kau selalu memikirkan orang lain. Bahkan sering berpikir hal yang tidak penting. Kau terlalu khawatir mengecewakan orang lain. Apa seorang 'Yuuji' tidak cukup? Bukan begitu?"
Yuuji merasa tidak ingin membahas ini. Ia merasa sedang dimarahi walaupun apa yang dikatakan ibunya benar.
"Karena kau seperti ibu, ibu rasa kalian cukup akur. Maksud ibu, kau dan ayahmu. Ayahmu sangat senang dulu ketika kau lahir."
Bohong.
"Ia sering bertanya pada ibu apa ia sudah menjadi ayah yang baik? Ayahmu mencemaskanmu."
Pembohong.
"Ia sangat khawatir waktu kau sakit. Ia memikirkanmu kalau kau pergi menjalankan misi. Ayahmu sangat menyayangimu." Hinata memperhatikan Yuuji yang menunduk. Hinata pikir, Yuuji hanya malu.
"..." Yuuji bungkam. Hinata menunggu.
"Kenapa?" Yuuji bersuara.
"Kenapa ayahmu menyayangimu?" tanya Hinata. Pertanyaan Yuuji sangat tidak jelas.
"Kenapa kalian membohongiku?!" Hinata terkejut. Yuuji mengangkat wajahnya. Raut kesedihan tergambar dengan jelas.
"Ap-" Belum sempat Hinata melanjutkan rasa herannya, Yuuji berlari keluar rumah. "Yuuji-kun!" Seru Hinata. Ia berusaha memanggil Yuuji kembali. Hinata tidak mengejar. Mungkin Yuuji butuh waktu sendiri. Mungkin, setelah tenang ia bisa menanyakan kesusahan hati Yuuji. Memaksakan kehendak tidak menghasilkan apapun.
Yuuji berlari secepat yang ia bisa. Kali ini ia mengerahkan chakranya. Berlari melompat dari atap-atap rumah warga Konoha. Ia berlari mengitari Konoha. Melewati pinggiran desa. Melewati tempat latihan para ninja. Melewati rumah-rumah warga. Tak tentu arah.
'Kenapa?' Yuuji membatin.
Yuuji terengah. Ia lelah.
Yuuji mengedarkan pandangannya ke tempat kaki membawanya. Ini adalah pusat kota. Matahari sudah mulai menghilang. Ia berdiri mematung di pinggir jalan. Ia bingung harus kemana, dengan siapa. Yuuji tersesat dalam pikirannya sendiri. Tak tahu arah jalan pulang.
Cukup lama terdiam, Yuuji memutuskan untuk mengisi perut. Ia ingat belum makan malam, dan terlalu malas bertemu dengan kedua orang tuanya. Ichiraku Ramen menjadi tujuan utamanya.
Yuuji masuk ke kedai ramen langganannya itu. "Paman, aku pesan yang biasa." Serunya.
"Oh, Yuuji! Segera datang." Respon sang paman pemilik kedai yang dikenal sebagai Paman Teuchi diikuti tawa pelan. Keluarga Namikaze adalah langganan utamanya.
Yuuji mengambil tempat duduk di ujung mengingat tempat duduk kedai ramen ini hanya kursi yang panjang. Ia ingin menyendiri dulu. Ia berpikir mungkin ia salah kepada orang tuanya. Atau mungkin juga tidak.
"Paman! Aku ingin ramen pedas!"
Saat itulah Yuuji mendengar suara yang ia kenal. Suara seorang gadis. Yuuji memperhatikan gadis itu. Dia Ritsu Uchiha. Gadis dingin yang pernah meremehkannya ketika mereka masih kanak-kanak. Ia ingat pertama kali bertemu gadis itu. Saat itu umurnya baru 5 tahun.
Ayah dan ibu Yuuji sangat berteman baik dengan orang tua Ritsu. Dulu mereka adalah satu tim ninja. Ayahnya bahkan menganggap Sasuke sebagai saudaranya walaupun tidak jelas apa Sasuke berpikir sama tentangnya. Saat itu hanya pertemuan biasa, ayahnya berkunjung ke kediaman Uchiha di distrik Uchiha sebagai Hokage dan sebagai teman.
Yuuji yang baru pertama kali datang kekediaman Uchiha cukup mengagumi tempat tradional itu, hingga ia diperkenalkan dengan Ritsu Uchiha dan adiknya. Ia melihat Ritsu dengan yukata biru, rambut tergerai, kulit putih. Sangat...anggun.
Yuuji hanya berpikir sampai disitu. Karena kejadian selanjutnya adalah Yuuji dibanting dengan keras dengan jurus aikido. Yuuji tidak ingin mengingatnya lagi.
Hingga beberapa saat kemudian dua orang pemuda yang juga dikenal Yuuji bergabung di antara Ritsu. Hiroshi Uchiha dan Ryouma ShimuraYuuji bisa mendengar percakapan mereka.
"Dan kau Ryouma. Jadilah seorang pria. Hanya segini harusnya bukan apa-apa untuk kalian."
Yuuji tertegun. Rutsu tersenyum. Kenapa gadis itu terlihat berbeda. Ia tidak pernah memasang ekspresi seperti itu pada Yuuji. Yuuji rasa Ritsu adalah gadis yang lembut setelah melihat Ritsu yang berada bersama keluarganya.
Tapi apa-apaan wajah gadis itu dekat sekali dengan Ryouma. Apa mata Ritsu sudah buram jadi ia harus melihat Ryouma sedekat itu?
Ah, Ritsu mengingatkan Yuuji pada misi yang akan dilakukannya besok. Benar. Yuuji sudah memutuskan. Ia akan menjalankan misi ini sambil mencari jawaban. Menurut yang ia curi dengar, misi ini bisa jadi kunci membuka segala rahasia keluarga Namikaze. Yuuji kembali bersemangat. Ia harus segera pulang. Menyiapkan diri untuk besok.
Yuuji merogoh kantung celana ninjanya. Mengeluarkan beberapa ryo dan meletakannya begitu saja di samping mangkuknya yang tinggal sedikit. Yuuji berlalu dari kedai ramen dalam kesunyian.
TBC
Okeh, saya tahu ff ini sangat membosankan. Bahkan saya rasa Yuuji itu terlalu lebay :/ galau melle dia -_-
Tapi kenapa saya buat seperti ini orz maafkan saya Yuuji. Kau memang harus berperan seperti ini. Ini tuntutan peran!
Saya berusaha tidak memberikan Hint apapun di chapter ini. Inti cerita utama saya mulai dari chapter 3. Mungkin akan diselingin dengan drabble family di chap-chap depan. Masih banyak tokoh OC saya yang belum keluar. Dan kedepannya saya akan bercerita disebelah Ritsu. Dalam sudut pandang Ritsu. Yang ini hanya selingan.
Untuk battle, gomenasai minna orz saya belum bisa menampilkannya disini. Serius saya tidak ingin alurnya ngebut pakai NOS orz segini tuh panjag ga sih?
Ok thanks for reading, Minna-sama. Saya menunggu review kalian. Segala macam masukan di terima dengan tangan terbuka. Target saya 40 review saya akan update sabtu depan.
