cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and other cast
Rate : T
Desclaimer: This Fic is MINE. DON'T COPAS DON'T BASHING. Yang nggak suka bisa langsung keluar dari cerita ini. Saya cuma pinjam nama mereka.
PERHATIAN! Banyak typo bisa membuat mata anda sakit apa lagi sampe 'kesleo' (?). Cerita yang tidak menarik dan EYD yang kurang pas. sekali lagi DON'T LIKE? YOU CAN LEAVE THIS FIC.
Summary :
" Ketika Tuhan menakdirkan sesuatu yang telah ditetapkan-Nya, tak akan ada satupun yang bisa menolak ataupun menyangkal. Bahkan cinta yang tak semestinya – seperti mencintai seseorang yang sangat terlarang untuk di cintai dalam artian yang berbeda. Maka, jangan salahkan diri atau takdir Tuhan karena itu semua adalah bagian dari garis cerita yang telah dibuat-Nya."
Let's EnJOY guys ^^
VincentCho96 present...
"Seorang pria paruh baya dengan tampilan resmi berjalan tergopoh-gopoh disebuah lorong menuju suatu ruangan yang hanya orang tertentu yang bisa masuk. Setelah sampai di sebuah pintu yang dituju, pria paruh baya itu menghembuskan napasnya samar kemudian meraih knop pintu itu dengan hati-hati setelah sebelumnya mengetuk 3 kali. Dengan ragu pria itu masuk kemudian menutup pintu itu perlahan.
"Bagaimana sekertaris Jung?" sebelum berbalik terdengar suara pria menginterupsi. Pria paruh baya itu langsung berbalik menghadap asal suara kemudian membungkuk hormat.
"Saya sudah mendapatkan laporannya, tuan." Jawabnya berusaha setenang mungkin.
Sekertaris Jung hanya menghela napasnya berusaha menormalkan rasa gugupnya, ia tahu pria di hadapannya kini tengah menyeringai dan tengah menyusun rencana di dalam otaknya.
"Bagus. Apa Lee Sungmin tahu tentang berkas ini? Kau'kan tahu dia anak yang cerdik." Suara itu menginterupsi lagi.
"Tidak, tuan. Tuan muda tidak tahu sama sekali tentang semua akta yang menyangkut kelahirannya."
"Kau yakin? Apa buktinya?" tanya pria itu.
"Saya sangat yakin, karena sampai saat ini tuan muda sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menyadari keberadaan berkas yang asli. Bahkan para pengawalnya pun tengah sibuk mencari informasi tentang perusahaan lain yang tadi siang berkunjung kemari."
"Perusahaan lain? Berkunjung kemari? Siapa mereka?"
"Mereka dari Seoul Corps." Sekertaris tua itu berbicara dengan hati-hati dan tenang, berbeda sekali dengan atasannya yang merubah ekspresi wajahnya yang menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa. Ia berdekhem sedikit lalu bertanya kembali. Sepertimya ia malah tertarik dengan masalah perusahaan yang sempat berkunjung kemari.
"Perusahaan kerabat dari Cho Group?" sebenarnya bukan bertanya ia malah menebak apa yang didengarnya dari sekertarisnya.
"Benar, tuan." Hanya itu jawaban yang bisa dijawab sekertaris Jung. Tampak seperti ingin segera mengakhiri perbincangan ini. Demi tuhan ia sangat takut jika hubungannya dengan tuannya ini diketahui orang lain. Ia belum mau disebut sebagai seorang pengkhianat.
"Hmm kau boleh pergi sekarang, pastikan tidak ada yang curiga." Perintah atasannya itu langsung ia turuti, pria tua itu berbalik dan segera meraih knop pintu. Tetapi baru selangkah ia memegang knop, tuannya memanggilnya.
"Sekertaris Jung! Kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan mendapat masalah jika ketahuan selama kau berada dipihakku." Sekertaris Jung hanya memejamkan mata sejenak kemudian pamit kembali untuk pergi.
Siang itu seorang pria tengah berada di restourant mewah dikawasan Seoul, ia hanya seorang diri saat ini. Para pengawal yang biasanya selalu mengikuti kemana ia pergi disuruhnya untuk menjaga jarak sejauh mungkin. Ia sebenarnya tidak suka bila ada yang mengawasinya terus menerus selama 24 jam, ia juga manusia yang butuh ketenangan tanpa adanya gangguan sedikitpun. Setelah makanannya datang ia segera meraih sumpit dan menyuapkan sepotong daging kecil kedalam mulutnya. Baru saja selesai menelan, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia hanya menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Tapi tidak ada yang memanggilnya, ketika ia akan meraih makanannya kembali seseorang memanggilnya lagi, ia merasa bukan dari samping kiri atau kanannya asal suara itu tapi dari arah belakang, ia menoleh kebelakang dan ia sedikit mengernyit ketika tahu siapa orang yang memanggilnya.
"Selamat siang, direktur Lee. Boleh saya bergabung?" sapa orang itu. Sebenarnya ia tidak suka bila ada yang mengganggu ketenangannya saat ini, tapi mengingat orang dihadapannya ini memiliki jabatan ia hanya mengangguk.
"Anda sedang makan siang disini juga?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut direktur Lee.
"Benar, ahh kurasa jangan seformal itu denganku. Kita sedang diluar pekerjaan, bukan?"
"Baiklah," jawab direktur Lee seadanya. Sungguh ia tidak ingin diganggu ketika ia sedang makan, maka ia hanya menjawab seperlunya saja.
"Aku sempat melihat pengawalmu di area kantor ku, apa itu benar?" tanya pria itu, direktur Lee berhenti mengunyah kemudian mengelap sudut bibirnya dengan tissue.
"Ah ya memang, ada apa? Apa itu menggangumu presdir Cho? Maaf, pengawalku hanya memastikan tamu selamat sampai tujuan." Jawab direktur Lee dengan sopan.
"Ah tidak apa. Mereka pengawal yang baik direktur Lee Sungmin. Aku hanya penasaran saja jadi aku bertanya." Direktur Lee Sungmin hanya mengangguk.
"Kau sudah selesai makan?" lanjut presdir Cho Kyuhyun, ia menatap heran pria dihadapannya. Ia berpikir bukankah baru saja ia melihat direktur ini memesan makanannya?
"Hmm, saya sudah kenyang. Jika ingin makan silahkan lanjutkan saja,." Jawab Lee Sungmin.
"Oh aku juga selesai kalau begitu." Sungmin hanya mengangkat sebelah alisnya heran, ia yang baru saja kehilangan selera makan dan orang ini ikut berhenti makan? Apa maunya?
"Kenapa? Jika masih lapar lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu." Sungmin hanya menatap heran. Tapi berbeda dengan Kyuhyun, ia baru sadar apa yang telah ia lakukan. Ia telah merusak nafsu makan direktur Lee Sungmin.
"Sebenarnya aku sedang tidak berselera, jadi tidak apa. Aku hanya ingin memastikan ulang, jadi lusa aku akan pindah ke manssion Lee untuk kelancaran proyek?." Sungmin hanya mengerut bingung. Ini gila, mana ada rekan bisnis satu tempat tinggal dengan keluarganya? Ia mulai merasa curiga.
"Jangan salah paham dulu, aku sudah membicarakan ini dengan presdir Lee. Beliau setuju karena ini masih dalam masalah bisnis. Aku hanya akan menilai mansionmu selama satu bulan. Karena desain interior yang unik, kami sebagai perusahaan interior akan mencoba merasakan dan menilai sendiri." Kyuhyun cepat-cepat menjelaskan karena sadar pria dihadapannya ini mulai curiga.
"Kenapa harus tempat ku? Bukankah masih ada tempat lain?" Sungmin bertanya dengan curiga, ini tidak masuk akal. Terlebih ia tidak diberitahu ayahnya sebelumnya tentang masalah ini. Ia merasa tidak dianggap disini.
"Beliau berkunjung keperusahaanku dua jam yang lalu untuk membahas soal ini yang akan berlangsung selama satu bulan, dan beliau ingin kami yang terjun langsung karena sebagai rekan kerja sekaligus sebagai seorang teman." Sungmin kembali tidak mengerti, Kyuhyun bilang apa? Sebagai.. teman? Bahkan ia hanya tahu satu-satunya teman ayahnya adalah Choi Jae Ryeong.
"Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak pernah tahu bila presdir Cho adalah teman ayahku."
"Tentu saja kau tidak tahu, karena pamanku yang berteman dengannya. Aku hanya meneruskan saja."
"Pamanmu Choi Jae Ryeong?" tanya Sungmin masih tidak percaya.
"Jadi, apakah sekarang kita akan membahas siapa itu pamanku, direktur?" Kyuhyun sedikit merasa risih ketika Sungmin bertanya tentang dirinya. Hei ia bukan dibayar untuk itu. Sungmin langsung menegakkan tubuhnya lalu kembali meminum minumannya. Ia sadar seharusnya ia tidak perlu bertanya hal yang tidak penting seperti itu.
"Baiklah, jadi dengan kata lain semua sudah diatur oleh ayahku dan presdir Cho begitu?" untuk kesekian kalinya Sungmin bertanya. Kyuhyun baru tahu jika pria dihadapannya sangat ingin tahu dan banyak bertanya.
"Ya, karena beliau juga ada urusan selama satu bulan kedepan, beliau langsung menyepakati kerjasama ini sebelum kami datang ke Lee Corps" jelas Kyuhyun.
"Ya kalau itu aku sudah tahu. Jadi bisa dimulai kapan?" tanya Sungmin sedikit malas. Jujur saja moodnya sedikit buruk setelah pria ini mengganggu jadwal makan siangnya.
"Lusa, kami sudah mempersiapkan berkas untuk keperluan kami disana."
"Kurasa ayahku benar-benar sudah menyiapkan semuanya, jadi tak perlu kusiapkan lagi seharusnya." Sedikit tidak sopan memang, tapi inilah Lee Sungmin sang direktur yang mudah sekali merubah moodnya. Ia masih kesal dan ia ingin segera pergi dari tempat ini dan kembali ke ruangannya untuk beristirahat sejenak. Ok ia benar-benar tidak akan melanjutkan makannya karena nafsu makannya benar-benar sudah hilang. Kyuhyun sedikit merapikan jasnya kemudian berdiri. "Maaf sepertinya aku tidak bisa lama-lama, dan terimakasih waktu luangnya." Sungmin ikut berdiri dan menerima jabat tangan Kyuhyun kemudian tersenyum.
"Ya tidak apa-apa, aku juga harus kembali ke kantor. Senang bertemu dengan anda presdir." Setelah itu keduanya sedikit membungkuk untuk pamit dan pergi berlawanan arah. Kyuhyun yang menuju ke arah mejanya sebelumnya untuk mengambil sesuatu dan Sungmin yang langsung menuju ke pintu keluar.
"Hallo? Ayah, apa aku sedang mengganggumu?" tanya seorang pria muda pada ayahnya diseberang sana. Ia baru saja sampai di ruangannya dan langsung duduk menyamping di atas meja kerjanya.
"Hai Sungmin ada apa?aku baru saja tiba di hotel." Jawab orang di seberang sana. Sungmin berpikir sebentar lalu menghela nafasnya.
"Sebenarnya apa yang ayah rencanakan? Kenapa aku tidak tahu tentang kerjasama ini dan kenapa harus aku yang ..."
"Sungmin, ayah sedang sibuk. Tidak bisakah kau membicarakan itu lain kali?" ucapan Sungmin dipotong oleh ayahnya. Ia sedikit kesal, kenapa seolah ayahnya sedang menghindarinya? Ia merasa ada yang tidak beres disini.
"Baiklah," hanya itu jawaban singkat yang diberikan Sungmin untuk ayahnya. Ia tahu akan percuma jika ia protes pada ayahnya itu.
"Maaf, ayah memang sedang sangat sibuk satu minggu terakhir ini. Kuharap kau mengerti, sebagai seorang presdir aku menyerahkan semua padamu soal perusahaan, anggap saja ini perintah dari presdir dan bukan perintah dari seorang ayah pada puteranya." Setelah itu sambungan diputus. Sungmin mengurut dahinya, ia benar-benar tidak habis pikir akan sikap ayahnya akhir-akhir ini. Tidak bisakah satu hari saja ia mendapat kebebasan? Ia juga butuh udara segar. Dan lagi ayahnya tidak memberitahu sama sekali perihal kerjasama dengan perusahaan Seoul Corps tentang desain interior yang akan dilaksanakan di tempat tinggal mereka.
"Haahh.. " Sungmin menghela nafasnya kasar, ia langsung beranjak dari meja menuju sofa di ruangannya itu lalu merebahkan tubuhnya disana. Ia merogoh saku jasnya untuk mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
"Jay, urus semua rapat dan jadwal hari ini. Aku serahkan semua padamu, dan besok buatkan aku laporannya. Hari ini aku harus mengurus sesuatu." Sungmin mematikan sambungannya lalu mulai memejamkan matanya. Ia setidaknya harus istirahat beberapa jam kedepan sebelum menyelesaikan sisa tugasnya sebagai direktur utama.
"Bagaimana Kyu?" seorang pria muda yang bernama Donghae menghampiri Kyuhyun yang sedang menyesap kopinya di ruang kerjanya, sesekali ia melirik ke layar laptopnya untuk mengecek data yang masuk.
"Beres, besok aku dan ryeowook harus berkemas." Jawabnya santai.
"Semudah itu?" Donghae mengerutkan dahinya heran.
"Kau tidak percaya pada atasanmu ini,?" kini Kyuhyun menghadap Donghae dengan pandangan jengkel.
"Bukan begitu, tapi kenapa bisa? Kau tahu sendiri'kan bagaimana Lee Sungmin dan ayahnya yang pintar." Perkataan Donghae membuat Kyuhyun menyeringai.
"Tapi tidak jika berhadapan denganku, aku sudah mengecoh ayahnya terlebih dahulu dengan banyaknya pekerjaan yang akan diselesaikannya." Donghae kembali mengerutkan dahinya, ia masih kurang paham.
"Maksudmu? Kau menipunya?" tanya Donghae.
"Tidak juga sih, hanya membuatnya sibuk saja. Kau tahukan perusahaan keluargaku?"
"Jangan bilang kau memanfaatkan semua perusahaan keluargamu untuk membuat banyak kerjasama dengan perusahaan Lee."
"Menurutmu?" Kyuhyun kembali menyeringai dan Donghae yang menganga tidak percaya. Ia akui atasan sekaligus sepupunya ini sangat jenius.
"Kau benar-benar, ya." Donghae menggeleng kagum.
"Aku benar-benar jenius, aku tahu itu." Ucap Kyuhyun bangga sedangkan Donghae memutar bola matanya.
"Kyuhyun! Kau harus tahu ini!" tiba-tiba pintu ruangan Kyuhyun dibuka dengan sangat brutal. Kyuhyun mendengus ketika tahu siapa orangnya.
"Hei, apa kau punya sopan santun hah? Disini kau tetap bawahanmu mungil!" tanpa peduli apa yang Kyuhyun katakan, orang itu mengambil kursi di depan Kyuhyun lalu menunjukkan beberapa lembar photo. Donghae mengerutkan alis, sedangkan Kyuhyun menatap tidak percaya.
"Ryeowook, kau dapat ini dari mana?" Donghae langsung bertanya.
"Kalian lihat ini? Di sini presdir Han tengah berbincang dengan presdir Lee. Kalian tahu maksudku bukan?" tidak mengindahkan Donghae bertanya, Ryeowook tetap berbicara.
"Ternyata kita sedikit tertinggal satu langkah." Donghae yang sepertinya mulai mengerti langsung mengambil salah satu photo yang Ryeowook bawa itu.
"Tidak jika kita berhasil memasuki mansion mereka." Ucap Kyuhyun sambil menyeringai.
T.B.C
.
.
.
.
Masih ada yang mau dilanjut?
sorry disini banyak sekali typo dan hilangnya sekat-sekat antar adegan.. mohon dimaklum :3
ditunggu komentarnya ^^
~ThanKyu~
