Dislaimer : All hail to Kishimoto Masashi.
Summary : Ia liar. Ia memiliki warna merah. Ia tak pernah takut pada apapun. Ia benci manusia. Ini adalah kisah kami di masa lalu. Seorang penjelajah dan Kitsune no Hime.
Warning : AU.
Didedikasikan untuk SasuSaku FanDay (SSFD)
.
.
.
Mononoke Hime © Hayao Miyazaki (Studio Ghibli)
Naruto © Kishimoto Masashi (Studio Pierrot)
.
.
.
The Fortress of God
by ceruleanday
January, 2012
two
beginning
.
.
.
Siang hari masih terasa jauh lebih dingin dibanding pagi itu. Keempat kaki itu lelah dan benar-benar pegal. Rute melewati hutan Kurogane sungguh bukanlah ide yang baik, melainkan opsi terburuk yang pernah ada. Jika pemuda ini cerdas, bahkan melebihi kecerdasan dan kejeniusan siapapun di desanya, sungguh dungu baginya jika pilihan itu kini membuat kaki-kakinya terasa kebas. Dinginnya es dan angin jahat menghajar tubuhnya yang telah lelah. Hampir setengah hari ia berjalan, namun tak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk hidup yang bisa berbicara. Di sekeliling mereka hanya pepohonan rimbun beserta hawa sejuk dari pada Kodama—penjaga hutan utara berukuran mini. Jumlah para Kodama sungguh luar biasa banyaknya. Mereka bertubuh kecil, tetapi saat menyatukan tenaga guna meregenerasi pohon-pohon yang telah mati, dua gunung pun tak bisa menyamai besar rupa mereka kelak.
Hanya insting. Ya. Insting itulah yang menjadi satu-satunya alasan terkuat ia memilih langkah yang benar-benar menyakitkan dan merepotkan. Taka berdesing rendah dan mengentakkan tapaknya kuat-kuat saat suara ribut terdengar samar-samar dari balik hijaunya pepohonan di depan mereka. Pemuda itu segera turun dari pelana kudanya dan menempelkan daun telinga miliknya di atas tanah yang basah dan lembab. Ia memerkirakan jumlah dan jenis pembuat keributan massal itu.
Ah, kuda dan manusia. Sangat jelas. Jauh, jauh, dan jauh lebih banyak daripada yang pernah ia tahu.
Kesimpulannya adalah satu. Perang tengah berkecamuk saat ini juga. Tepat di balik rimbunan pepohonan itu. Ya.
Tinggal menunggu waktu saja hingga kobaran api dalam obor terlihat membumbung tinggi di langit. Dan, benar saja. Warna merah terlihat berkobar dari batas pengelihatan yang tertinggi. Sedikit hitam dan memberi gradasi kecoklatan bagi dedaunan pohon yang kian terbakar. Gemuruh terompet dan teriakan memekikkan telinga terdengar entah hingga sejauh apa. Pemuda Uchiha ini mengamati sembari menenangkan Taka, sang kuda. Kegelisahan terlihat jelas pada kendali Taka yang tidak stabil.
Pilihan aman telah terhapus dari sekian banyak urutan kali ini. Satu-satunya keputusan yang tersisa adalah kembali ke jalan awal dan memulai lagi. Ah, Sasuke tak'kan membuang-buang waktunya dengan percuma. Lagipula, ia yakin ia mampu melewati arena perang tak berkesudahan itu.
Dalam sekali hentakan, pelana Taka mengatur tapak-tapak sang kuda bergerak menuju tanah lapang berwarna coklat yang sungguh gersang. Tak ada pepohonan, tak ada warna hijau, dan yang tersisa hanya bekas-bekas pembakaran kejam. Dusun-dusun kumuh telah rata dengan tanah, suara rintihan tangis anak-anak kecil bersama ibu mereka menggaung memberi melodi suram yang terlalu mengerikan. Matahari masih tak menampakkan sinarnya, namun gundukan salju terlihat meleleh. Api jahat melukai mereka—warga yang tak berdosa.
Mata sang Uchiha memerah. Bagai darah yang mengalir deras dari pelupuk sinarnya. Ia kembali merasakan nyeri yang teramat sangat pada lengan kanan yang memiliki tanda kutukan. Sembari menahan nyeri, ia melekatkan telapak tangannya yang bebas pada salah satu matanya.
Lagi-lagi, pikirnya. Iblis itu seakan berusaha merasukinya kembali. Mengambil alih jiwa dan kesadarannya secara perlahan-lahan. Ah, kunci kemunculan sosok iblis itu hanya satu sebenarnya.
Kebencian.
Seakan tak bisa lagi menahan segala yang berkecamuk dalam lembah terdasar hatinya, Uchiha Sasuke meneriaki hal random dan membebaskan semuanya melalui pita suaranya dengan pitch yang teramat keras. Menjadi satu-satunya pusat perhatian di tengah-tengah peperangan itu. Ia bahkan tak bisa mengenali dirinya lagi. Sungguh tak bisa lagi. Kendali jiwanya entah mengapa hilang secara tiba-tiba. Taka yang ketakutan kembali menghentakkan tapaknya kuat-kuat dari atas tanah landai setinggi lima hingga enam meter dari pusat keramaian dan catastrophe.
A-apa ini? Ada apa dengan tubuhku?
Arrrgggh!
Tanda kebencian. Ya. Kutukan dari dewa pada dirinya dan desanya. Tanda kehitaman bernoda yang selalu menyebar secara cepat. Ia merasakan seperti ada ular-ular aneh yang keluar dari pusat luka di lengannya. Bukan ketakutan yang muncul di wajahnya kala itu. Adalah kegembiraan dan rasa frustasi yang teramat besar bergejolak di jiwanya. Sebuah tawa kegilaan ditunjukkan olehnya untuk mereka yang telah menyebarkan benih kebencian di tanah tak berdosa itu.
Uchiha Sasuke mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, menyunggingkan senyum yang sungguh tak ada satu pun manusia yang bisa tersenyum dengan cara seperti itu, dan menarik pelana Taka dengan kekuatan penuh. Tubuhnya terasa lebih ringan dari biasanya dan kekuatan aneh nan jahat tengah mengisi tiap rongga dan ruang di hatinya. Tanpa aba-aba dan disertai gemuruh angin yang kencang, Sasuke menerjang dan menuruni perbukitan tinggi itu bersama Taka—sang kuda hitam kesayangannya. Prajurit-prajurit berpakaian samurai yang secara membabi buta menghancurkan tanah tak berdosa itu mati. Mereka mati oleh panah, kunai, shuriken, dan Kusanagi sang Uchiha muda ini.
Mata panahnya telah habis. Yang terisa hanya puluhan kunai dan shuriken. Ia tak perlu menebas leher-leher pendosa itu dengan Kusanagi miliknya. Belasan shuriken yang tergabung oleh benang besi berayun di antara kedua tangannya. Tanpa memegang pelana Taka, Sasuke melemparkan shuriken-shuriken itu ke arah mana saja. Menjadikan tubuh-tubuh hidup itu merasakan kematian yang begitu cepat. Darah mengucur deras dan terciprat pada wajah dan pakaian sang Uchiha muda. Berlari, berlari, dan berlari. Membebaskan amarah yang entah tak lagi bisa dibendung dalam jiwanya. Meneriakkan hal-hal non verbal melalui tindakan suram itu.
Jumlahnya tak terkirakan. Mereka telah mati. Mati. Mati. Tubuh-tubuh bergelimpahan memberi warna merah di atas salju putih yang telah turun. Tangis anak-anak yang dipeluk erat oleh ibu mereka tertahan dalam tenggorokan. Hanya wajah terkejut dan ketakutan yang tersampaikan di sana. Sasuke mengamati rupa anak-anak itu. Rupa yang begitu mirip dengan mimik wajah yang dikeluarkannya saat perang berkecamuk di desanya empat tahun lalu. Menjadikan sang kakak sebagai tumbal atas perang saudara. Dan, ia tak pernah menangis lagi sejak saat itu.
Betapa ia menikmati pembalasan dendam. Seperti lubang besar dalam hatinya telah terisi penuh oleh kebencian. Seperti itu lah ia menggambarkan dirinya. Ratusan mayat prajurit kejam itu menghiasi tanah mati yang hanya menyisakan kepahitan. Tangis mereka yang hidup membangkitkan sesuatu lain dalam benak dan jiwa Sasuke. Amarahnya terbungkam oleh kelogisan yang kembali menyertai jiwanya. Warna merah darah di kedua matanya telah berubah hitam. Ular-ular itu tak lagi terlihat. Menghilang bagai terkena dinginnya salju. Saat kesadaran penuh mengisi jiwanya, Taka menurunkan kecepatan larinya. Menjatuhkan sang majikan di atas tanah penuh darah.
Uchiha Sasuke menangis. Dalam diam dan rasa lelah yang teramat sangat, ia mengeluarkan butir air di atas salju yang dingin. Bayangan-bayangan asing mengelilinginya—menuntun dirinya entah ke mana.
.
.
.
Saat kelima inderanya kembali bekerja secara normal, hal pertama yang dapat disentuh dan dirasakannya adalah tatami yang begitu keras. Tak ada pengalas maupun selimut guna melindungi dirinya dari tamparan salju yang menderas saat itu. Ia menoleh, mendapatkan pemandangan asing yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Ia yakin ia telah berada di sebuah tempat yang sangat gelap, namun cahaya terang yang tersibak melalui lubang dari kejauhan sana memberitahukan satu hal pada otaknya. Antara penjara dan gua. Itulah pilihannya.
Ia mengangkat tubuhnya dan merasakan bebatuan keras tepat di bawah kakinya. Untuk sepersekian detik, ia mengedip-ngedipkan mata, berakomodasi pada visualisasi gambar yang sangat aneh. Suara dengungan semakin membuat kesadarannya kembali ke ambang tertinggi. Yang dapat disimpulkannya hanya satu. Ia berada di sebuah gua tepat di bawah dataran tinggi.
"Tidurmu nyenyak?"
Secepat mungkin, pemuda itu menoleh. Memicingkan mata pada sosok berjubah hitam yang sama sekali tidak terlihat di ujung gua itu. Tangan dan tubuh Sasuke siap siaga. Tanpa terlihat oleh sosok yang berbicara itu, ia berusaha meraba-raba kunai yang masih tersisa dalam pakaiannya.
"Ah, tidak usah repot-repot mencari senjata. Sudah kulepaskan semua. Dan—jangan khawatir, aku bukan orang yang akan mengambil keuntungan dari pemuda yang telah berhasil membunuh sekiranya lebih dari seratus prajurit bersamurai dua hari yang lalu." ungkap sosok asing itu tanpa intonasi serius. Sasuke mengerutkan keningnya. Sembari meneguk minuman dalam kendi yang dipegangnya, sosok itu mengamati lamat-lamat Sasuke dari kejauhan. "Mau minum? Sudah dua hari kau tak sadarkan diri. Dan, kau tahu. Jika aku tidak datang untuk mengambil tubuhmu yang pingsan saat itu, warga desa mungkin juga akan membunuh dan mengiramu sebagai salah satu dari mereka—kau tahu maksudku, bukan? Hah, hidup itu memang benar-benar misterius. Seminggu yang lalu aku baru saja tiba di kota menyedihkan ini, dan lima hari kemudian, aku malah bersusah-susah menyelamatkan pemuda yang sama menyedihkannya—" Ia kembali meneguk minuman entah-apa-itu dari dalam kendinya. "—hei, kau mau minum tidak? Masih tersisa se—"
"Siapa kau? Dan apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau bersusah payah menolongku?" potong si pemuda. Ia masih berada dalam pose waspada. Berharap setelah ini bisa menemukan sedikit celah untuk melarikan diri dari orang asing aneh yang entah bagaimana bersedia menolongnya—entah untuk tujuan apa.
Mata sosok itu memicing dan ia hanya tertawa, "haha! Tenang, tenang, tenang. Akan kujawab satu per satu dari pertanyaanmu itu, anak muda. Asalkan kau mau duduk tenang dan mungkin kau—lapar? Ah, di mana sopan santunku? Tentu kau sangat, sangat, sangat lapar, bukan? Douzo, aku baru saja memasak bubur, kuharap kau menyukainya meski yahh—aku benar-benar kurang berbakat dalam hal memasak. Hm."
Sepiring bubur nasi dan segelas air ditawarkan sosok asing itu pada Sasuke. Terlihat jelas bagaimana pemuda Uchiha itu masih bersikap begitu waspada terhadap orang yang sama sekali asing baginya. Selama beberapa detik, ia tak bergeming dari posisinya dan tetap mengamati sosok itu. Hingga pada akhirnya ia kembali merasakan denyutan aneh di lengannya, ia pun menunduk.
"Hei hei, kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat saat pertama aku menolongmu dari kerumunan warga desa yang masih hidup. Yah, aku memang tidak melihat keseluruhan adegan wow-itu-sangat-gila yang kau lakukan pada prajurit-prajurit itu. Tapi, kau memang benar-benar kurang waras, menurutku." ujar orang asing itu sembari membuka tudung jubahnya. "Maaf, perkenalan diri dulu kah? Hm. Namaku Tobi—dan aku selalu mengenakan topeng untuk menutupi bekas luka di wajahku. Jadi, kurasa kau tidak fobia terhadap orang bertopeng, 'kan?"
Seberkas cahaya dari arah mulut gua menyinari wajah bertopeng sosok asing itu. Sasuke yakin orang yang telah menyelamatkannya ini bukan lah orang dengan kemampuan rendahan. Menutupi wajah yang penuh luka adalah strategi pembiasan identitas yang biasa dilakukan oleh mereka yang sering bekerja sebagai samurai tak bernama ataupun agen rahasia pemerintah. Pemuda itu semakin menyipitkan matanya. Jika saja ia bisa keluar dari gua ini, mungkin saja—
"Buka mulutmu, aa—"
"Apa yang kau lakukah, hah!" teriak Sasuke terkejut. Tiba-tiba saja sebuah sendok kayu buatan tangan tersodor tepat di mulutnya. Sebuah tangan yang tertutupi oleh glove karet berwarna hitam tengah memegang sendok itu.
"Kau harus makan, kau tahu. Kalau kau cerdas, maka kau akan mengisi tenaga terlebih dahulu, kemudian memikirkan cara untuk keluar dari sini. Bukankah begitu, hm?"
Sasuke mendecih. Berusaha 'tuk menampik pun, hasilnya akan sama saja. Nihil. Ia sudah dua hari tak sadarkan diri. Itu artinya selama itu, ia sama sekali tidak melakukan hal-hal fisiologis yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Terlebih, dua hari yang lalu adalah hari di mana ia benar-benar telah menguras energi dan tenaganya. Jadi, apakah ia sangat lapar dan haus sekarang? Jawabannya tentu iya.
"Aku akan makan sendiri."
Tobi—si orang asing bertopeng—menepuk tangannya. Membuat suara aneh yang dibuat oleh karet. "Nah, begitu 'kan lebih baik. Daripada kau mati kelaparan dan kehausan. Ah, selagi kau makan, akan kujawab pertanyaanmu tadi." Pria berjubah itu berdiri dan menggapai sebuah lentera. Kemudian, mengisinya dengan sebuah api mungil. Memberi sinar yang benar-benar cukup. Kali ini, Sasuke dapat melihat dengan begitu jelas sosok berjubah hitam serta bertopeng di sudut gua. "Baiklah. Pertama, aku tidak akan bertanya akan namamu sebab pepatah berkata akan lebih baik jika kita tidak mengetahui nama orang asing yang kita tolong jika di suatu hari nanti sebuah waktu akan mempertemukan kita kembali. Yah, sungguh aneh, bukan?"
Yang mendengar sama sekali tidak menatap. Ia hanya mendengar sembari menyantap bubur yang telah dingin itu.
"Pertanyaanmu yang pertama, 'siapa aku?'—aku hanya seorang penjelajah biasa. Selayaknya pengembara tak bernama. Aku sudah melewati negeri demi negeri dengan kedua kaki ini. Pekerjaanku dahulu adalah seorang penebang kayu, namun ada hari di mana semua takdir berubah dalam hidupku. Dan, bagian itu kurasa tak perlu kau ketahui. Pertanyaan kedua, 'apa yang kuinginkan darimu?'—jawabannya sederhana, anak muda. Yang kuinginkan darimu hanya satu jawaban atas pertanyaan ini—'kenapa kau melakukan hal gila itu?' Pertanyaan terakhir, 'kenapa aku bersusah payah menolongmu?'—terdengar konyol ya? Yaa, aku sadar akan hal itu. Tidak seharusnya aku menolongmu. Aku bahkan tidak mengenalmu dan kurasa kau adalah orang yang paling berbahaya yang pernah kutemui. Apakah kau seorang mata-mata? Samurai? Ataukah—iblis dalam sosok manusia?"
Iblis dalam sosok manusia—?
Entah mengapa pernyataan itu terdengar menusuk. Sesuap terakhir dari bubur miliknya tepat habis ketika pernyataan itu diajukan oleh Tobi. Setelah meneguk habis air dalam gelas tembikar, Sasuke menegakkan punggungnya dan menatap sejelas-jelasnya sosok pria bertopeng yang sungguh tak biasa itu.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu." tuturnya lurus. "Hanya terima kasih yang bisa kuberikan padamu karena kau sudah berbaik hati menolongku, tetapi untuk pertanyaan itu—aku tidak akan menjawabnya."
"Ah, souka. Hm, kurasa memang ada beberapa hal yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Dan, pertanyaanku pun tak mampu kau jawab bukan karena kau tak mau. Ya, tak mengapa." jawab si pria bertopeng—Tobi. "Tapi, aku akan senang sekali jika kau mau bebagi kisah perjalananmu padaku. Apakah kau sedang dalam perjalanan untuk mencari dan menemukan sesuatu? Karena aku pun dalam penjelajahan yang sama. Aku sedang mencari sesuatu yang sangat—erm, berharga."
Jika sekali saja Sasuke bisa menebak mimik wajah Tobi, ia bisa memerkirakan ada senyum tak biasa yang terbentuk di kedua sudut bibir orang itu. Tak ada waktu untuk tetap berlama-lama di gua ini, pikirnya. Sudah dua hari ia menghabiskan waktu di gua ini dengan percuma. Ia tak bisa bersantai-santai. Sesegera mungkin, pemuda Uchiha ini berdiri dan mengambil barang-barang yang telah terlepas dari tubuhnya, termasuk persediaan senjata beserta sekantung emas. Ah, ia bahkan melupakan Taka.
"Sudah mau pergi, eh? Terburu-buru sekali ya." Jawaban Sasuke hanya anggukan. "Oh iya, kudamu—yang berwarna hitam itu—kuletakkan di bawah pohon Tsugi. Aku tidak bisa memasukkannya dalam gua ini—kalau kau mengerti maksudku. Kuda yang sangat bagus, ngomong-ngomong."
"Arigatou." ungkap si Uchiha muda sembari memberi hormat dengan anggukan. "Sekali lagi, terima kasih. Aku harus pergi sekarang."
Pria bertopeng itu mendekat ke arah Sasuke. Setiba mereka di mulut gua, sinar terang sang mentari telah tiba tepat di atas perbatasan langit. Salju-salju dingin berhenti mendinginkan tanah-tanah itu. Sungguh kebetulan yang sangat menenangkan. Sasuke tak berlama melepaskan pelana Taka yang terikat di salah satu cabang pohon Tsugi. Tobi mengamati mereka dari kejauhan. Wajah bertopeng miliknya tak mampu menunjukkan raut wajah sempurna. Namun, terlihat jelas begitu banyak hal yang diinginkannya dari Sasuke. Ia hanya perlu menunggu dengan sabar. Hingga waktu itu puntiba.
Sasuke dan Taka melesat pergi menuju tanah bersalju yang lebih jauh. Menuju sebuah rute perjalanan yang akan mengubah takdirnya kemudian.
'Kuharap kau akan tetap hidup hingga Kurama menikmati dagingmu, bocah. Hm.'
.
.
.
Ia berdiri setinggi lebih dari ratusan kaki di bawah laut. Tubuhnya tak merasakan dingin sekali pun. Sembari menggenggam tombak yang amat panjang, tubuhnya melompat dari batu ke batu tanpa takut akan terjatuh. Pencahayaan di malam hari sangat minim di antara belantara hutan. Tetapi, hal ini tentu akan sangat menguntungkannya yang memang terlahir sebagai makhluk nokturnal. Ah, jika ia benar terlahir sebagai salah satu suku rubah besar tentunya. Langkahnya pun tegas meski tepat di bawahnya es-es yang licin mungkin saja akan menggelincirkan dirinya.
Belasan hingga puluhan makhluk malam itu melompat dan berlari dengan kecepatan penuh. Di bawah salju yang dingin dan menusuk tulang, para rubah berbulu kuning keemasan itu mengikuti instruksi dan komando satu-satunya makhluk yang menyerupai manusia di depan mereka. Terjalnya tebing dan bebatuan tak pernah menjadi masalah, mengingat kaki-kaki kuat dan kuku mereka yang sangat tahan pada kondisi ekstrem seperti saat sekarang ini.
Jauh, jauh, jauh sekali dari pandangan mereka, sekelompok kecil manusia tengah berjalan menaiki dataran tinggi hingga ke puncak gunung. Di balik gunung itu lah tujuan mereka. Tempat di mana manusia-manusia itu biasa menyembunyikan persediaan senjata dan amunisi untuk melawan para dewa.
"Hancurkan dan bunuh semua manusia itu!" titahnya.
Aku benci manusia. Aku benci mereka. Benci!
Tindakan bodoh para manusia itu menjadi satu-satunya alasan mengapa gadis ini bertindak meski di bawah guyuran salju pekat. Tanpa ketakutan, ia membawa saudara-saudaranya untuk melawan para manusia yang telah dengan seenak hatinya menghancurkan tanah suci milik para dewa di hutan utara. Mereka—para manusia—telah membakar, merusak, menebang, dan menindas pepohonan yang merimbun. Hal ini telah menyulut amarah yang luar biasa pada gadis berambut merah muda ini—anak manusia yang terlahir di tengah-tengah komunitas suku rubah merah yang bisa berbicara.
Dalam kata lain, satu-satunya putri manusia Kurama no Tengu.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N : Gyaa. Akhirnya apdet chap dua. Cepat ya? Haha. Buru-buru nih soalnya. LOL
Sebelumnya, ucapan terima kasih saya berikan pada yang sudah baca dan review. Hihi. XD
Semoga bisa dibaca kelanjutannya ya.
Mungkin segini dulu dari saya. Tunggu edisi chap berikutnya ya. :D
Mind to review again?
