Sensei, tolong ajari aku!

Disclaimer : tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC dan alur cerita milik daku.

Warning : OOC, gaje, alay, EYD ngawur. Jika anda menemukan hal tersebut silahkan muntah ditempat yang telah disediakan dan melapor pada pihak yang berwajib.

Author minta maaf atas cerita sebelumnya, hehehe… mau nyoba gimana rasanya bikin FF dengan POV 1 orang. Ternyata susah ding! Apalagi sifatnya jaim kayak Himuro. Mbok ya kayak Takao kan enak di-nista-kan #plak. Langsung aja deh…

.

Hari yang sangat cerah di Seirin. Hari ini adalah pembagian Raport! Yeay! Semua bersuka cita karena besok sudah libur! Author ikut senang! tapi ada 1 manusia yang tidak senang. manusia yang sekarang duduk tepat didepan Kuroko Tetsuya.

"Kagami-kun, hentikan suara tuk tuk itu!" ujar Kuroko. Dia merasa terganggu dengan suara yang ditimbulkan oleh kaki Kagami.

"Kuroko-teme! Kau diam saja!" Kagami balik sewot.

"kenapa kau malah marah padaku, Kagami-kun?" Kuroko makin tidak mengerti. Kuroko yang polos, apa dia lupa bahwa hari ini adalah penentuan kebodohan antara Kagami dan Aomine. Ya, tadi malam, ketika Kagami dan Aomine bermain basket, mereka bertaruh 'siapa yang paling tinggi peringkatnya'. Yang kalah bakal dihukum. Sebenarnya tadi malam ada Himuro, Kise, Midorima, Takao, Murasakibara dan Kuroko juga, tapi mereka tidak mau ikut. Karena yakin bakal menang. Kecuali Murasakibara karena dia emang gak mau ikut.

"arghh.. Kuroko diam saja! Sensei sudah masuk!" ujar Kagami panik. Untung saja dia tidak makan meja.

"okeh… selamat pagi anak-anakku yang kusayanggggg…" sapa pak guru begitu masuk. Diduga pak guru ini adalah saudara kembar Sanji.

"pagiii pakkkk…"

"semangat sekali kalian! Ohohoho… bapak akan membacakan peringkat kalian di kelas dan membagi raport. Kalian sendiri bisa membaca peringkat umum di papan pengumuman setelah ini. Okehhh? Jika namanya bapak panggil, silahkan maju! Ehm… peringkat 1, Nara…"

Bla bla bla…

10 menit kemudian…

Kuroko menatap papan pengumuman. Ah, dia senang sekali hari ini. Peringkatnya naik! Dia masuk 100 besar. Rasa senangnya itu loh, disini (tunjukin dada Kuroko). Tiba-tiba datang Furihata menyenggol bahunya.

"oi! Kuroko hebat juga, dapat 100 besar… ah… aku peringkat 203 dari 300 siswa" Furihata sedih. Kuroko hanya tersenyum.

"tidak apa Furihata-kun, kau hanya perlu belajar!" ujar Kuroko.

"oh ya, beidewei… mana Kagami? Belum keluar dari kelas?" tanya Furihata lagi.

"eum. Mungkin…" jawab Kuroko yang baru nyadar kalau gak ada Kagami.

"ah… apa dia baik-baik saja ya?" Furihata menggaruk kepalanya. "Oh, itu dia, Kuroko! Kagami-kun!" Furihata memanggil Kagami. Dilihat dari penampakkannya, Kagami tampak lesu.

"Kagami-kun, apa kata sensei?" tanya Kuroko. Kagami menyerahkan surat keterangan ujian. Anggap saja raport begitu.

"huaaa… sugoiii…" Furihata kaget. Begini sekiranya nilai Kagami.

Bhs. Jepang : 20

Bhs. Inggris : 24

Matematika : 9

Sejarah Jepang : 20

Sains : 12

Soshum : 19

"Kagami-kun, apa kau benar-benar belajar?" Kuroko sweatdrop. Dapat nilai darimana coba sampe begitu ceritanya? Kuroko melihat ke papan pengumuman. "Kagami, kau peringkat 298!"

"haaaahhh?" Kagami melototi papan pengumuman.

"setidaknya ada 2 orang yang lebih bodoh darimu Kagami!" ujar Furihata mencoba menghibur. Namun tidak ada gunanya.

"Kagami-kun, Momoi bilang Aomine dapat peringkat 279" ujar Kuroko sambil menatap hpnya.

"haaaa? Dia dia…"

"dari 281 siswa! Sama saja peringkat kalian, Kagami-kun" ujar Kuroko mencoba menghibur.

"tidak ada gunanya kau menghiburku, Kuroko!" Kagami yang terlanjur sedih mulai meratapi nasib "aku sudah tidak terlalu memperdulikan hal itu… lagi pula, sensei tadi bilang…"

"…"

"Kagami-kun, karena kamu peringkat terakhir dari kelas ini, kamu harus lebih belajar lagi ya!"

"iya pakkk…"

"lalu, ada kebijakan dari sekolah… akan ada mentor sebaya untukmu"

"mentor sebaya?"

"iya, jadi nanti ada 1 murid peringkat 1 dari kelas lain yang akan mengajarimu. Kau harus belajar yang rajin sampai tengah semester nanti ya!"

"eh… ehm… iya deh pak. Namanya siapa?"

"namanya… Ayana Hikari dari kelas 2A"

"…"

Kuroko dan Furihata menyimak dengan baik penjelasan Kagami.

"wah, itu bagus!" ujar Furihata sumringah.

"hem… baguslah… Kagami-kun, jadi kami tidak perlu mengajarimu lagi" ujar Kuroko sambil tersenyum.

"tapiiii…." Kagami menunduk dan "AKU TIDAK MAU DIAJARIN SAMA CEWEEKKKK"

….

Dan disinilah Kagami, dikelas yang sepi. Dengan menggerakkan kakinya yang menimbulkan suara tuk tuk.

"Kuroko, terima kasih kau mau menemaniku" ujar Kagami pada Kuroko yang ada disampingnya. Kuroko sendiri sudah menguap sejak tadi. Ini sudah jam 7 malam, dan mereka belum pulang. Baru saja habis latihan, mereka harus kembali ke kelas. Karena, Kagami yang keceh ini tidak mau berduaan sama cewek dibulan Ramadhan. Yah, lebih tepatnya, dia ilfil kalau sama cewek. Tapi dia yakin kalau dia masih normal!

"hem. Domo" jawab Kuroko santai. Lagipula, asal Kagami mau mentraktirnya Milkshake selama 2 bulan, Kuroko rela melakukan apa saja. "kau seperti anak kecil, Kagami-kun. Masa kau tidak berani di kelas sendirian?"

"bukan tidak berani! Aku tidak mau berduaan sama cewek! Ntar kalau ada fitnah gimana cobaaa?" Kagami mulai alay. Atas situasi dan kondisi ini, dia bener-bener alay. "sudah kubilang kan, kalau aku gak mau punya mentor perempuan"

"trus, Riko-senpai itu?"

"oii… waktu itu kan rame-rame. Lagian juga ada bodyguardnya a.k.a Hyuga…. Senpai!" ujar Kagami yang hampir lupa menambahkan kata senpai.

"oh benar…" Kuroko menganggukkan kepala. Tiba-tiba muncul sesosok manusia dari balik pintu. Kagami menelan ludahnya. Tenangkan dirimu, Taiga! Istigfar! Ujarnya dalam hati.

"ohayooo…" ujarnya. Kagami dan Kuroko sweatdrop.

"gak nyambung banget sih. Ini sudah malam!" ujar Kagami langsung. Kesan pertama yang buruk!

"salah ya? jadi aku mesti bilang apa?"

….

Esoknya, Kagami kembali membawa Kuroko untuk belajar bareng. Ah, ralat! Membawa Kuroko untuk menemaninya belajar bareng Ayana. Kagami sebenarnya, dari lubuk hatinya paling dalam, tidak mau membawa Kuroko. Tapi dia tidak mau berduaan dengan cewek, malam-malam, dirumahnya! Aje gile. Apa kata tetangga?

"Kagami… apa kau sudah mengerti?" tanya Ayana yang dengan sabar mengajar Kagami. Sementara Kuroko, dia ikut menyimak meski sambil baca manga Naruto terbaru #cie. Kagami menggaruk kepalanya.

"ano… Ayana-san… kenapa Kucing suka makan ikan?" tanya Kagami. Ayana terhenyak atas pertanyaan tidak nyambung Kagami. Mereka bahas system pernafasan ikan, bukan rantai makanan! Kuroko pun menatap wajah Kagami dengan heran.

"maksudnya?"

"iya. Kok bisa kucing suka makan ikan? Maksudku, bukankah kucing dan ikan itu beda lingkungan. Bagaimana bisa kucing zaman dulu makan ikan? Kucing mancing?" tanya Kagami lagi. Ayana hanya mengangguk-angguk, Kuroko kembali baca komik.

"kau benar juga!" ujar Ayana sumringah "darimana ya?"

"dulu kucing makan ayam. Hanya saja sekarang karena manusia memberinya ikan, ya dia juga makan. Proteinnya juga lebih tinggi!" jawab Kuroko dengan sedikit ngawur.

"benarkah? ngomong-ngomong soal ikan dan ayam, aku lapar. Apa kau lapar, Kuroko, Ayana?" tanya Kagami sambil memegang perutnya.

"eum.." jawab Ayana.

"iya… apa kau punya bahan makanan yang layak makan?" tanya Kuroko dengan kurang ajarnya.

"apa maksudmu, teme? Makanan dirumahku ini sehat semua! Kualitas tinggi, tau!" Kagami segera berdiri sambil ngomel-ngomel. "aku masak dulu"

"eh, biar aku saja, Kagami-kun. Kau kerjakan saja PR mu" ujar Ayana yang menghentikan langkah Kagami.

"kau bisa masak?" tanya Kagami curiga. Lagian sudah 2 cewek yang ia temukan tidak bisa memasak. Ia sudah susah mempercayai kemampuan memasak para cewek lagi.

"tentu… saja…" jawab Ayana pelan. "aku pergi dulu" Ayana langsung kabur ke dapur. Kagami dan Kuroko kaget. Hem, terserahlah. Ujar Kagami dalam hati.

"…"

"…"

"Kuroko…"

"hem…"

"apa kau mencium sesuatu?"

"bau apa?"

"entah. Seperti bauu… hemm… bauu… GOSONG! MAMPUS!" Kagami segera bangkit meninggalkan Kuroko yang mengelus dada karena kaget mendengar suara Kagami yang membahana.

"AYANAAAAA…" Kagami segera menyingkirkan Ayana dari depan kompor. Dengan gesit Kagami menyelesaikan urusan dapur. Set set set set… 5 masalah, 1 solusi #promosi.

"apa yang kau lakukan?" tanyanya lagi.

"maaf, aku tadi…"

"kau ini… lain kali kalau tidak tahu ya tidak usah. Merepotkan sekali! Untung saja tidak kebakaran! Ya ampun, sayang banget kan kalau gosong gini. Ah, sudahlah… kembali saja sana. Biar aku yang masak!" Kagami mengomel panjang kali lebar kali tinggi. Ia sudah menyibukkan dirinya dengan memasak. Sementara Ayana kembali ketempat mereka belajar bersama Kuroko.

"baik-baik saja, Ayana-san?" tanya Kuroko yang melihat wajah Ayana tampak sedih.

"hem…" jawab Ayana sambil duduk dan kembali membuka buku.

"eum…" Kuroko hanya mengangkat bahunya dan kembali membaca komik.

…..

"yak, mari kita makan!" ujar Kagami yang baru saja datang dari dapur membawa banyak makanan. Padahal ia memasak dalam waktu 10 menit.

"oke…" jawab Kuroko dan segera bersiap makan. Kagami celingak celinguk mencari keberadaan Ayana. Ternyata dia udah hilang.

"mana Ayana?" tanya Kagami.

"dia pulang. Katanya gak enak badan…" jawab Kuroko sambil mengambil nasi.

"eh?"

"kau ini, kalau sama cewek, jangan dikerasin. Ntar dia malah sakit hati, loh!" Kuroko kembali menasehati sambil mengambil sayur.

"aku kan cuman khawatir aja, kalau kebakaran gimana? Kamu mau tanggung jawab?" tanya Kagami sewot. Meski dalam hati dia juga cemas.

"ya enggak sih. Tapi kan kau tidak perlu berteriak. Kedengaran sampai sini!" ujar Kuroko lagi sambil mengambil ikan.

"kapan dia pulang? Barusan?" tanya Kagami mulai khawatir.

"eum. Begitu dia kau usir" jawab Kuroko sambil mulai menyuapkan makanan. Nyam.

"eh masa? Aku gak ngusir kok" ujar Kagami membela diri. Iya kan? Dia gak ngusir.

"itu namanya ngusir, loh! Nyam" jawab Kuroko sambil makan dengan lahap.

"oi, teme… aku saja belum makan, kau sudah makan duluan!"

Malam itu, adalah malam pertama Kagami makan dengan perasaan tidak tenang.

…..

Esoknya, Kagami mengunjungi rumah Ayana, dia baru saja berniat untuk minta maaf lewat sms. Tapi lupa gak punya nomor hapenya. Ia sudah bertanya kepada semua orang yang ia kenal. Tapi tidak ada yang tahu. Karena hanya tahu alamatnya saja, akhirnya Kagami pergi kerumah Ayana.

"Kagami?"

"ehm… aku mau bicara sebentar denganmu…"

"kalau begitu, silahkan masuk" ujar Ayana sambil mempersilahkan Kagami.

"tidak. Tidak usah. Sebentar saja. Aku juga ada urusan setelah ini." Jawab Kagami sambil mengusap tengkuknya. Dia heran dengan ekspresi Ayana yang tampak seperti tak terjadi apa-apa semalam. Memangnya semalam terjadi apa-apa?

"baiklah kalau begitu. Ada apa?" tanya Ayana lagi.

"ehm. Aku minta maaf yang tadi malam. Aku kasar ya?" ujar Kagami. Ia sudah mengumpulkan keberanian sebanyak ini demi meminta maaf pada Ayana oleh desakan Kuroko.

"tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena sudah membuat dapurmu berantakan. Aku baru pertama kali menggunakan alat masakmu yang canggih… hehehe…" ujar Ayana. Tentu saja. Kagami tinggal di apartemen yang mewah sementara Ayana hanya tinggal dirumah sederhana.

"oh… begitu. Terima kasih sudah mau memaafkanku!" ujar Kagami. Kok kaku begitu? Salahkan Kuroko yang sudah mengajarkannya untuk mengatakan hal seperti itu. "kalau begitu, aku pergi…"

"mau kemana?" tanya Ayana.

"aku mau main basket dengan temanku…"

"boleh aku ikut? Aku bosan liburan dirumah"

"boleh…" jawab Kagami. Eh, kok Kagami bilang begitu? Kagami kaget mendengar suaranya sendiri. Ayana tersenyum dan mengatakan 'tunggu sebentar' lalu masuk kerumah. Duh, Taiga, apa yang barusan kau katakan? Apa yang harus ia katakan kepada temannya nanti? Ah, bilang saja teman. Oke, masalah selesai. Loh, Ayana emang temannya kan? Kok dia jadi bingung.

"ayo…" ujar Ayana sambil menutup pintu. Kagami menatap keatas, Ayana manis sekali kalau tersenyum begitu. Tunggu, Ayana kan memang sering tersenyum? Kamu bagaimana sih, Taiga! Kagami merutuki dirinya sendiri. Mereka pun mulai berjalan.

"kira-kira dimana tempat kalian akan bermain?" tanya Ayana.

"ehm… sekitar 1 km dari sini. Kau mau jalan kaki?" tanya Kagami juga.

"gak papa. Aku kan sudah bilang, bosan dirumah. Jalan-jalan itu bagus…" jawab Ayana sambil tersenyum sekali lagi. Dan Kagami kembali melihat ke atas. Duh, ada apa ini? Dia menggeser posisi, tubuhnya sehingga jarak antara mereka adalah 1,5 meter. Lumayan jauh buat orang yang berjalan bersama.

"…"

"…"

Suasana kaku mulai menyelimuti. Kagami mulai gugup. Mampus, gue mesti bilang apa coba! Suasana baaka! Bagaimana bisa jadi kaku begini? Kagami mulai mengomel dalam hati.

"aa.. a… Ayana… kau suka basket?" tanya Kagami.

"tidak"

"terus, kok mau ikut?" Kagami kaget luar biasa.

"kan aku bilang kalau aku bosan"

"ntar malah tambah bosan"

"yang penting gak dirumah" jawab Ayana lagi. Kagami kaget (lagi). Sekali lagi dia kaget, Kagami dapat hadiah piring.

"kau tidak suka dirumah?" tanya Kagami.

"enak ya, dirumahmu tidak ada yang ribut…" ujar Ayana yang seperti menghiraukan pernyataan Kagami.

"yah, begitulah…" ujar Kagami. Entah kenapa, Kagami merasa mereka berdua sama. Sama dalam artian, tidak ingin membahas tentang keluarga. Karena setelah itu mereka hanya diam sambil berjalan bersama.

"tapi, aku pastikan kau tidak akan bosan!" ujar Kagami tiba-tiba.

"eh?"

"hem! Lihat saja permainan kami! Kau pasti senang!" Kagami mulai tersenyum. Dia saja bahagia membayangkan akan main basket.

Permainan berakhir, dengan poin 100-98 dengan kemenangan di pihak Kagami, Aomine, Takao dan Kuroko. Kagami puas. Ia menoleh pada Ayana yang tak henti-hentinya takjub. Ayana hanya tersenyum. Kagami kembali melihat keatas. Nyesel, ngapain juga ngeliat dia? Kagami kesal dalam sisi yang berbeda *?*.

"tidak apa, nanodayo. Hari ini cancer memang kalah melawan leo, aquarius, libra dan taurus" ujar Midorima menghibur diri. Hafal juga dia bintang dari sang pemenang. Gak ye… author yang hafal #plak.

"seru juga…" ujar Himuro sambil tersenyum, ia memberikan air kepada Murasakibara yang sedari tadi ngemis air.

"lain kali, kita main lagi-ssu!" Kise tetap semangat. "pokoknya, nanti, Kurokochi sama aku!" Anak yang hiperaktif itu kesal begitu tahu Kuroko ada dipihak Aomine dan Kagami

"kalau kalah, ya kalah saja…" ujar Aomine sambil berbaring dilapangan. Semua memandang naas.

"Aomine-kun, jangan berbaring disitu. Debu menempel di tubuhmu karena keringatmu itu. Nanti tambah hitam!" ujar Kuroko. Aomine gak perduli dia malah tengkurap dan hanya mengatakan 'berisik, aku tidak mungkin tambah hitam lagi'.

"beidewei, dia siapa? Pacarmu?" tanya Takao pada Kagami. Daritadi dia penasaran. Biasanya Momoi yang selalu bersama Aomine dan membuat rusuh dilapangan. Tapi sekarang malah ada cewek lain yang terus memandang mereka dengan takjub sambil sesekali bilang 'keren'.

"eh? aku lupa. Karena telat, aku jadi lupa memperkenalkannya pada kalian. Dia mentorku, Ayana Hikari. Ayana, teman-temanku ingin berkenalan denganmu" ujar Kagami sambil memanggil Ayana yang duduk dipinggir lapangan. Ayana pun berlari dan mengulurkan tangan pada Takao.

"konichiwa, Hikari-chan. Aku Takao!" Takao yang SKSD serta merta bersalaman. Yang lain pun ikut salaman kecuali Kuroko.

"kok masih muda, ssu?" tanya Kise. Yang ia tahu, mentor itu tua-tua.

"dia teman satu angkatanku, kok" jawab Kagami.

"ohh… pacaran…" jawab Aomine yang masih terbaring.

"OI TULI! AKU BILANG TEMAN SATU ANGKATAN!" Kagami menginjak-injak Aomine. Aomine marah dan balas menendang Kagami. Dan mulailah adu ketangkasan orang bodoh. Semua sweatdrop.

"kok kamu bisa jadi mentor, nanodayo?" tanya Midorima. 6 orang tadi mengabaikan 2 orang bodoh berkelahi.

"yah, ada tugas dari sekolah" jawab Ayana dan yang lain hanya ber-ooo-ria.

"trus, susah gak, ngajarin Taiga?" tanya Himuro. Dia was-was. Mengingat masa lampaunya yang suram ketika mengajarkan hitungan pada Kagami ketika SD.

"ya, susah sih. Tapi gak juga…" jawab Ayana "dia lumayan mudah diajarin." Ujarnya lagi sambil memandang Kagami yang masih berkelahi dengan Aomine. Yang lain ikut memandang 2 orang tidak penting itu.

"Kenapa?" ternyata 2 orang itu nyadar, sodara-sodara!

"Ayana, Taiga itu memang bodoh. Maaf sudah merepotkanmu" ujar Himuro.

"Oiii Tatsuyaa!"

Dan sore itu, Ayana bisa tertawa dengan nyaringnya. Rasanya, ia benar-benar senang. Apa mungkin hari seperti ini datang lagi?

…..…..

Malamnya, Ayana dan Kuroko berada dirumah Kagami. Kuroko yang setia sedang minum Milkshake hasil malak dari Kagami. Ayana dan Kagami lagi melakukan KBM, Kegiatan Belajar Mengaji eh Mengajar.

"Kagami…"

"hem…"

"apa aku boleh sering datang kerumahmu?"

"boleh… eh!" Kagami menatap Ayana kaget. Muncul dari mana kata-kata itu. Duh, lagi-lagi. Ia ingin mengurungkan kata-katanya, tapi Ayana terlanjur senang. ya sudahlah. "memangnya kenapa?"

"aku bosan dirumah…" jawab Ayana. Seketika itu juga Kagami terdiam dan tak lagi bertanya.

"Ayana, kalau kau ada masalah…. Katakan saja pada Kuroko…" ujar Kagami. Ayana dan Kuroko kaget.

"kok aku sih?" tanya Kuroko heran. "harusnya kau bilang pada Ayana, 'kalau ada masalah. Katakan saja padaku' begitu, Kagami-kun" Kuroko (tumben) sewot.

"ehm. Kalau aku, aku malah bingung. Cerita saja pada Kuroko. Kuroko kan tahu seperti apa memperlakukan cewek, iya kan, Kuroko?" ujar Kagami bingung. Kuroko hanya mengangguk sambil kembali minum Milkshake. Ayana hanya tersenyum

"eum… baiklah…" ujar Ayana "tapi, Kagami, aku beneran boleh kerumahmu kan?"

"iya. Tapi tanya dulu sama Kuroko"

"kok aku lagi?" Kuroko heran.

"ya, Kuroko mau gak ikut kerumahku. Aku gak mau berduaan sama cewek dirumah…" ujar Kagami. Kuroko kembali mengangguk dan Ayana… Ayana tertawa dengan nyaring. Kagami benar-benar lucu. Pikirnya.

Beberapa hari kemudian…

Ayana sering sekali kerumah Kagami. Dengan membawa Kuroko yang setia tentu saja. Kenapa Kuroko mau? Yah, sebenarnya bukan karena ditraktir saja, tapi entah Kenapa Kuroko mau. Dia senang membantu Kagami. Kok Kagami? Menurut Kuroko, membantu Ayana berarti membantu Kagami. Lagian, Ayana juga baik kok sama dia, dan terkadang Ayana curhat juga. Meskipun bukan hal pribadi sih.

Kagami sendiri selalu kaget setiap kali Ayana dan Kuroko datang kerumahnya. Kagami diduga memiliki penyakit jantung! Ah, tidak juga. Setiap kali bersama Ayana, jantungnya juga berdetak tak menentu. Iramanya tidak jelas. Ia sudah bertanya kepada para ahli. Misalnya Kuroko dan Himuro. Ehm, meskipun mereka sendiri hanya menjawab dengan tersenyum dan sesekali mengatakannya 'bodoh'. Kagami semakin bingung.

AYANA POV

Hari ini aku pergi kerumah Kagami seorang diri. Kenapa? Kenapa tidak mengajak Kuroko? Ceritanya panjang! Yang terpenting, aku baru saja mengalami hal paling dahsyat dimuka bumi ini. Ibu dan ayahku sekali lagi bertengkar. Namun, bukan hanya piring yang terbang. Kursi dan pintu juga terbang. Aku sudah tidak tahu seperti apa kondisi rumah setelah aku pergi. Aku tidak tahu harus pergi kemana selain kerumah Kagami. Sungguh, aku tidak tahu.

Aku sudah ada didepan rumahnya. Aku melihat pintunya terbuka, kenapa? Aku dengan hati-hati ingin masuk. Rencananya mau membuat kejutan, yah seperti itulah. Begitu aku masuk, rumah masih lumayan sepi. Aku melihat ada sepatu berhak disini. Loh? Kenapa ada sepatu hak? Kagami koleksi yang beginian? Ah, aku memikirkan apa sih? Aku menggelengkan kepalaku.

"TAIGAAAAA… … don't be like that with me!" Tiba-tiba aku mendengar ada suara perempuan berteriak. Sumber suara dari arah kamar Kagami. Selanjutnya aku mendengar suara keributan. Suara Kagami dan seorang perempuan berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat. Tuh, dia pinter bahasa Inggris. Aku saja sampai tidak mengerti. Aku melangkah lagi.

BRUAK…

Tiba-tiba aku mendengar suara keributan itu makin mengkhawatirkan. Aku segera masuk ke kamarnya. Dan betapa pemandangan yang kulihat lebih mengejutkan daripada apa yang aku rencakan untuk mengejutkannya. Kagami terbaring diatas tumpukan buku, sementara diatas tubuhnya ada seorang bule. Dan mereka berciuman! Apa itu pacarnya?

Aku harus segera pergi dari sini. Uh, dasar tidak sopan. Masuk kerumah orang sembarangan! Aku merutuki diriku sendiri. Masih dengan melihat pemandangan yang sama, aku berusaha untuk pergi. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Lagipula, bukankah dia sendiri bilang gak mau berduaan sama cewek dirumahnya?

"Ayana?" Kagami tampak terkejut begitu melihatku.

"eh maaf. Aku… tidak tahu… maksudku, kupikir terjadi sesuatu ehm… maaf ya… aku tidak sopan… kalau begitu… aku… aku pergi…" Aku segera pergi sebelum Kagami melihat mataku yang entah kenapa ingin mengeluarkan air.

"ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Kagami meraih tanganku. Bagaimana dia bisa secepat ini?

"who's that?" tanya perempuan itu.

"kenapa kau datang? Apa ada masalah?" tanya Kagami lagi. Aku hanya bisa diam.

"…"

"Ayana!"

"ehm. Aku akan ketempat Kuroko. Bukankah kau bilang kalau ada masalah, katakan pada Kuroko?" tanyaku lagi. Ya, aku harus pergi ketempat Kuroko.

"ehm… baiklah…" Kagami melepas tanganku. Meski akhirnya aku bebas, kenapa aku merasa sedih? Aku segera berlari keluar dan berharap angin mampu menghapus air mataku.

KAGAMI POV

Ehm, berhubung Kagami POV terlalu vulgar karena berhubungan langsung dengan tersangka (atau korban?) dari adegan ciuman, maka daku terpaksa memotong adegan yang tak layak ini. Maaf. Hehe

…..

AUTHOR POV

Kagami hanya bisa diam didepan pintu kamarnya. Ia merasa seperti habis dipergoki oleh seorang istri sedang berselingkuh. Ia menepuk jidatnya dan segera berbalik.

"ALEX! DO YOU KNOW WHAT DID YOU DO, HEH?" Kagami serta merta membentak Alex. Yang dibentak hanya menutup telinga.

"I'm sorry. I'm missing you so much! I can't hold it anymore. By the way, who's that girl? Your girl friend?" tanya Alex sambil menggaruk kepalanya yang sedang ternak kutu. Ieuw.

"hem…" angguk Kagami. Alex kaget. Kagami kaget.

" mean, my girl….'friend'!" Kagami memisahkan kata-kata girl dan friend. Lagi pula kata itu terlalu ambigu, kan?

"really?" Alex menilik dengan curiga. Kagami segera merapikan buku yang berantakan. Uh, siang yang panas. Pikirnya.

"arrghhh… semakin kupikir aku semakin gila! Ini benar-benar gawat! Alex! Lain kali jangan melakukan hal ituuuu….." Kagami stress. Dibilang dia cuek, gak juga. Dibilang peduli, dia sendiri bingung.

"oh, c'mon, Taiga" Alex kembali merangkul Kagami dan langsung mendapat tendangan maha dahsyat yang sudah ia pelajari dari Kasamatsu dan kapten Tsubasa.

"remember it, Alex! Kau tidak boleh melakukan itu padaku lagi! Never!" Kagami mentihtahkan larangan pada Alex. Yang ditihtahkan hanya manyun. Kagami kembali merapikan buku.

"argh… whatever… aku pergi!" Kagami meninggalkan buku-bukunya dan Alex dirumah. Dia harus bertemu Kuroko! Satu-satunya manusia teme #plak yang tahu akan dirinya. Harus bertemu Kuroko sebelum Ayana yang bertemu dengan Kuroko!

Terlambat! Ayana sudah disana dan sekarang ia duduk dihadapan Kuroko sambil menangis. Kuroko hanya diam duduk sambil minum Milkshake dan sesekali menepuk bahu Ayana dan tersenyum. Gaya Kuroko saat ini sangat cocok untuk didaulat menjadi psikolog professional taraf internasional nal nal nal!

"…" Kuroko memberi isyarat pada Kagami agar diam didepan kamarnya sambil mendengarkan Ayana dan Kuroko berbicara. Ayana saat ini membelakangi Kagami.

"jadi, kau melihat Kagami dan perempuan bule berciuman?" tanya Kuroko yang sebenarnya menyinggung Kagami. Tatapan Kuroko membunuh Kagami. Jleb banget. Meskipun raut wajahnya datar.

"ehm… aku salah ya Kuroko-kun? Harusnya aku… hiks… mengetuk dulu. Harusnya juga… hiks. Aku memanggilmu… maaf ya" ujar Ayana sambil menangis. Kuroko memberikan tisu pada Ayana.

"gak juga sih… tapi… apa kau tahu siapa perempuan bule itu?"

"enggak.."

"dia itu guru Kagami-kun dari Amerika"

"eh?" Ayana kaget. Kagami mengelus dada. Untunglah ada Kuroko.

"dia memang agak aneh. Suka mencium orang. Dulu Riko-senpai juga pernah, pokoknya sembarangan" jawab Kuroko. Ayana hanya diam menyimak.

"maaf…" Ayana kembali menunduk.

"tidak apa-apa. Lagipula Kagami juga sudah memaafkanmu, dia juga minta maaf tuh!" Kuroko memberitahukan persembunyian Kagami. Kagami yang kaget hanya bisa terdiam. Ayana menoleh. Wajah mereka berdua segera memerah.

"ah.. anoo.." Kagami segera masuk kamar Kuroko berhubung ia sudah ketahuan. "aku juga minta maaf. Aku mau melepasnya, tapi… karena posisi itu aku jadi kesusahan" Kuroko menutup telinganya, jangan sampai ia mendengar hal-hal yang tidak baik bagi kejiwaannya yang masih polos.

"ehm…" Ayana hanya diam. Dia harus melupakan hal memalukan ini. Lagipula kenapa dia mesti marah? Apa hubungannya dengan Kagami? Kagami sendiri heran. Kenapa dia harus minta maaf? Apa hubungannya dengan Ayana?

"jadi, kenapa kau kerumah Kagami-kun, Ayana-san?" tanya Kuroko. Back to the topic.

"oh iya… itu…" Ayana menunduk lagi.

"ada apa?" tanya Kagami juga.

"orangtuaku berkelahi lagi. Sudah 2 bulan ini. Aku tidak tahan lagi. Jadi aku… pergi… dan malah ke rumah… Kagami…" ujar Ayana sambil menunduk lagi. Telinga Kagami memerah mendengarnya. Duh, kenapa dia jadi senang begini sih? Ayana kan sedang sedih?

"kenapa mereka tidak bercerai saja sih? Bertengkar seperti itu membuatku susah" ujar Ayana tiba-tiba. Air mata kembali jatuh dan mengalir dipipinya. Kagami terdiam. "hatiku benar-benar sakit…"

"aku tidak setuju, Ayana" ujar Kagami. "perceraian bukan hal yang bagus juga."

"tapi aku benar-benar tidak tahan, Kagami" Ayana menatap Kagami. "kau memang tidak tahu perasaanku. Itu benar-benar sakit! mendengar orang bertengkar setiap hari."

"aku memang tidak tahu…" Kagami menatap Ayana. "ibu dan ayahku bercerai ketika aku SMP, tanpa aku tahu kenapa. Kau sendiri tidak tahu perasaanku! Perceraian bukan sesuatu yang bagus. Sudah 4 tahun ini aku tidak bertemu dengan ibuku"

"aku tidak bisa melerai mereka lagi, Kagami" ujar Ayana.

"kau pasti bisa. Lagipula kau saja bisa mengerjakan matematika. Kau pasti bisa, Ayana!" ujar Kagami mulai OOT.

"Heh. Kau ini tidak nyambung" Ayana terkekeh kecil. "tapi… ah… kau benar Kagami. Aku memang tidak tahan mereka bertengkar. Tapi aku juga tidak bisa menerima kalau mereka akan bercerai"

"maaf ya…" Kagami menepuk pelan kepala Ayana. Meskipun wajahnya menoleh kekanan. Ia sendiri tidak mau melakukan ini, tapi dia berharap dengan ini, beban di kepala Ayana bisa mengalir kepadanya. Loh, kenapa dia mau menanggung beban Ayana?

"aku juga minta maaf. Kau pasti sangat merindukan ibumu…" jawab Ayana yang masih menunduk. Ia berusaha tidak memperlihatkan wajahnya pada Kagami. Kenapa dia tidak mau memperlihatkan wajahnya pada Kagami? Duh. Ayana tak tahu.

"ehem… jadi keputusannya mau cerai atau rujuk?" Kuroko yang terabaikan berdeham. Kali ini posisi duduknya yang berada didepan Kagami dan Ayana, sangat cocok sebagai konselor mediasi antara pasangan yang mau bercerai di Pengadilan Agama! Kagami dan Ayana yang ditegur langsung mengatur posisi dengan gugup.

"terima kasih, Kuroko, Kagami. Setidaknya, aku merasa sedikit lebih baik" ujar Ayana. Kagami dan Kuroko hanya diam. "aku akan berusaha mengembalikan hubungan orangtuaku"

"hem…itu bagus…" ujar Kagami sambil tersenyum. Kuroko juga tersenyum.

Yah, lagi-lagi, siang ini tidak terlalu panas juga!

….

Kagami dan Ayana berada dijalan pulang. Kagami mengantar Ayana pulang. Takut-takut kalau Ayana diculik. Sekarang lagi tren penculikan loh!

"Kagami…"

"eum…"

"maaf ya"

"iya, tidak usah minta maaf lagi"

"oh ya… minggu depan adalah minggu terakhir kita belajar bersama. Kau harus meningkatkan prestasimu ya! semoga bisa dapat 200 besar. Yah minimal. Hehehe"

"iya…tenang saja… nanti 100 besar juga bisa!"

Dan keadaan kembali canggung.

"tapi Ayana…"

"eum?"

"kalau kau mau kerumahku… silahkan saja"

….

Banzai! Kagami telah jatuh cinta sodara-sodara. Daku disini bersama Tetsu sedang buka puasa dengan minum Milkshake sambil membayangkan ekspresi Kagami yang pasti lucu banget. Haha… gaje gitu ya akhirannya. Rencana sih mau tambah lagi. Tapi hellooo.. ini udah panjang banget… #plak

Thanks banget buat semua yang bersedia menunggu FF daku. Silahkan Review. Saya usahakan untuk membalas. Bagi silent reader, saya juga ucapkan terima kasih.