Hai hai hai... ^o^/

Chap 2 udah update nih...

Sebelumnya, Mizu mau membalas dulu review dari senpai-senpai yang nggak login. Yang login, cek PM aja ya... pokoknya, doumo arigatou buat yang udah review...

sora : makasih udah review.. :D ini udah update. RnR lagi yaa~

Hichiberry : tengkyu udah review. :D pendek ya? ini udah dipanjangin. nyampe lebih dari 1500 word loohh.. #gak nanya. chap ini RnR lagi yaaa~ hehe

Selesai. Cepet juga ya.. *lirik ke atas* jelas saja, yang review kan sedikit. Hohoho... Daripada banyak bacot, langsung saja ya... enjoy it..! ^^


.

.

You're My Sadness or My Happiness?

By : Mizuna Kuchiki Raira

.

.

Summary : "Aku mohon maafkan aku dan keluargaku Rukia," Rukia menggoseskan tinta hitam pada sebuah kertas. / "Aku akan memaafkanmu jika kau mendapat hal serupa menimpamu."

Disclaimer : Bleach is Tite Kubo's

Genre : Hurt/Comfort, a little bit of Romance

Pairing : IchiRuki

Rated : T

Warning : Typo bertebaran, abal, GaJe, author newbie, diksi kurang, gunta-ganti POV, membingungkan, alur lelet atau kecepatan ya? *periksa aja sendiri* #plak dor

Don't like? So, don't read and click back. Tombol close yang menawan di pojok atas menanti anda. Hohoho #dor dor dor

.


.

Chapter 2 :

Cuit cuit cuit...

Suara kicauan burung yang merdu sayup-sayup terdengar oleh telingaku. Suara burung-burung yang sekilas aku degar karena sekarang cicitan itu semakin redup dan perlahan menghilang. Mungkin itu suara burung yang hinggap, bertengger atau bersarang di pohon pekarangan rumahku lalu terbang entah kemana. Kicauan itu membuatku terbangun dari tidur panjang dari malam yang kelam sekaligus membuatku tersadar akan hari kemarin telah berganti. Tapi peristiwa itu tetap membekas dan melekat dalam hati dan tersimpan dengan rapi dalam file di dokumen cerebrum-ku. Hingga saat ini perasaanku masih terasa sesak.

Aku coba untuk membuka kelopak mataku. Berat. Rasanya sungguh berat saat aku perlahan-lahan membukanya. Sulit aku menampakkan kedua bola mataku. Aku yakin, saat ini pasti mataku terlihat bengkak dan sembab. Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Melihat keadaan sekitar dan melirik ke arah jam beker yang berada di samping kasur yang saat ini kutempati. Tertera jarum jam pendek mengarah ke angka 4 dan jarum panjangnya menunjuk tepat pada angka 12. Masih jam 04.00 a.m. aku terlalu pagi bangun. Mungkin ini penyebab dari keresahan dan kegundahanku sebelum dan saat tidur tadi.

Tiba-tiba, kulangkahkan kaki menuju jendela kamar, membuka gorden dan jendelanya perlahan. Iris lavender-ku menatap lurus ke luar. Mendapatkan suasana luar yang masih gelap gulita. Kutengadahkan pandangan ke atas dan menemukan sang dewi malam yang masih memancarkan sinarnya saat ini. Menerangi belahan dunia malam.

Kedua tanganku aku tekankan pada kusen jendela. Semilir angin malam dan hawa dingin menusuk permukaan kulit dan menggoyangkan rambut hitamku. Aku masih tetap berdiri di sini, mengamati langit malam yang masih bertaburan kerlap-kerlip bintang dan seonggok sosok sang dewi malam.

Aku terus mengamati langit. Perasaanku masih terasa sesak. Sepertinya perasaanku itu diselimuti rasa gundah di hati. Bagaikan dewi malam yang saat ini diselimuti oleh awan yang terlihat hitam sedang berarak hampir menutupi seluruh permukaannya. Oh Kami-sama, mengapa perasaan ini sangat sulit untuk aku hilangkan dari hatiku? Bahkan saat ini pikiranku terus dipenuhi oleh peristiwa kemarin lalu. Percakapan Kaa-san dan Tou-san seperti kaset rusak yang terekam dalam memori otakku. Terus terngiang. Seakan tak pernah berhenti.

'Hhhh... apa yang harusnya aku lakukan? Apakah hari ini aku pergi berangkat sekolah seperti biasa seolah aku tak tahu krisis ekonomi yang Tou-san alami? Soul High School termasuk sekolah ellite di Soul Society. Jika aku tetap melanjutkan sekolah di tempat itu aku pasti sangat membebani Tou-san. Belum lagi bayak bayaran dan uang yang mesti aku keluarkan. Bagaimana ini?' pikirku yang masih menatap langit. Kali ini dengan tatapan kosong. Pikiranku menerawang jauh. Menembus batas cakrawala yang tak pernah tersentuh seorangpun. Mencabik rasa yang kini kian pekat dan gelap.

Aku mengacak-ngacak rambutku. Mungkin saat ini aku sedang frustrasi. Rasanya ingin sekali saat aku membuka kedua bola mataku tadi, yang aku lihat bukanlah di sini, di ruangan ini. Aku ingin pergi dari semua masalah yang menimpaku. Berlari dan terus berlari tanpa henti. Namun aku tahu, itu sangat tak mungkin bagiku. Aku tak akan bisa berlari dari masalah ini.

'Arrgghh, mungkin hari ini aku akan tetap pergi ke sekolah,' inner-ku lalu meniggalkan jendela kamar yang masih terbuka lebar. Aku mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi di samping kamar tidur. Bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mandi di pagi buta.

Kubuka perlahan pintu kamar mandi dan segera menutup dan menguncinya. Aku memutar perlahan keran bath-tub, membiarkan air mengalir memenuhinya. Sambil menunggu penuh, kutanggalkan pakaian yang masih melekat di badan dan menggantungkannya di samping handuk.

Aku terbaring dan berendam. Seluruh anggota tubuhku hampir terendam air. Hanya saja kepalaku yang tidak. Tapi beberapa saat kemudian, aku juga menenggelamkan kepalaku. Lalu menyembul keluar air untuk respirasi. Aku terus saja berendam sampai-sampai aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiam dan berendam di sini.

Kaki kanan aku turunkan dari bath-tub yang langsung disusul oleh kaki kiri. Aku rasa sudah cukup lama aku berendam. Terlihat dari cahaya mentari yang mulai menyebar menerangi langit. Mengganti warna malam yang hitam pekat. Aku melirik jam. Mataku sedikit terbuka lebar saat aku mengetahui saat ini pukul lima lebih sepuluh menit. Hm, aku berendam selama satu jam lebih! Aku sampai tak menyadari berendam selama itu!

Segera aku memakai seragam sekolah. Ketika aku mulai memasangkan dasi ke kerah seragam, aku mendengar kicauan burung yang semakin mendekat. Aku yang belum selesai memakai dasi, mendekat ke arah jendela dan benar saja, ternyata di pohon yang cukup dekat dengan kamarku terdapat dua ekor burung. Sepertinya hubungan antara burung itu adalah ibu dan anak. Tampak dari keakraban dari mereka yang beterbangan sambil berkicau ria.

'Semoga kehidupan burung itu selalu bahagia,' entah kenapa tiba-tiba inner-ku bersua. Lalu aku segera memakai dasi dan menyiapkan barang-barang untuk pergi ke sekolah.

'Hhhh... Rukia, bersikaplah seperti biasa. Jangan kau tunjukkan ekspresi sedih apalagi depresi.'

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Ekor mataku melirik kantung mata yang sedikit bengkak. Tapi untunglah ini tak terlalu nampak. Kemudian aku melihat seluruh tubuh dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mengecek ulang apakah ada yang ganjil atau masih kurang rapi. Hey, cukup sempurna. Aku tak terlihat sedang depresi. Walaupun iris lavender-ku sedikit meredup. Tapi mungkin orang-orang tak akan menyadarinya. Langsung saja aku mengambil tas dan pergi ke ruang makan untuk sarapan dan berangkat ke Soul High School.

.


.

Tap tap tap...

Suara derap kakiku terdengar pelan. Satu persatu melangkah memasuki gerbang SHS (Soul High School). Suasana di sekolah ternyata cukup ramai. Terbukti dengan banyaknya murid yang sedang duduk-duduk dan berbincang-bincang. Kakiku terus melangkah, berjalan menuju kelasku—XII-science 1. Melewati siswa yang berkerumun, alisku cukup terangkat. Mereka menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Entah itu pandangan mencela, tak suka, mencemooh dan sebagainya. Yang jelas pandangan itu bukanlah pandangan yang bersahabat.

'Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu?' inner-ku bertanya-tanya.

Aku mengacuhkannya dan mempercepat langkahku untuk segera menuju kelasku. Saat di koridor sekolah, aku mendapatkan tatapan aneh itu lagi. Kali ini ditambah dengan gerak-gerik mereka yang semakin menyingkir ketika aku berjalan melewatinya.

'Sekarang apa lagi?' lagi-lagi pertanyaan terbesit dalam pikiranku.

Ekor mataku akhirnya menemukan sebuah papan nama XII-scince 1—kelasku. Akhirnya beberapa langkah lagi aku memasuki kelas. Cukup sudah. Aku tak tahan dengan tatapan mereka. Mereka ingin mencela aku? Atau mereka tak suka denganku karena berita itu? Berita tentang kebangkrutan perusahaan Tou-san. Berita itu mungkin sangat cepat menjamur. Dari mulai harian lokal sampai media massa pun memberitakannya—walaupun aku tak membaca dan melihat di media massa. So? Kenapa mereka juga harus menatapku seperti itu?

Tap

Langkahku terhenti ketika aku telah sampai di bangkuku. Tas kusimpan dengan rapih dan aku duduk dengan gusar. Aku kira keadaan akan membaik setelah aku berada di sini. Oh shit! Ternyata sama saja. Malah bisa dibilang lebih buruk. Mereka yang tadinya berada di sekitar yang berada dekat denganku kini menjauh. Hey, what happened? Apa maksud kalian dengan sikap dan tatapan memuakkan itu?

Aku lebih memilih untuk mengisi kekosongan waktu dengan membaca buku—menghindari tatapan mereka itu. Sepertinya teman-teman perempuan di kelas saling bergosip ria. Aku tak peduli itu. Namun, kenapa mereka sedikit-sedikit melirikku? Memangnya aku tak tahu apa kalian mencuri pandang padaku?

Aku mencoba untuk berkonsentrasi penuh pada bacaan di hadapanku. Tapi sulit. Pendengaranku lah yang menajam. Beberapa kalimat dengan samar-samar terdengar dari perbincangan mereka.

"Dia ternyata masih bisa ke sekolah. Aku kira dia tak akan berani walau hanya menunjukkan batang hidungnya saja."

"Perusahaan bangkrut begitu. Darimana dia bisa membiayai bayaran-bayarannya?"

'Berhentiiii, stop! Stop to talk about that!' inner-ku.

Aku ingin sekali memberhentikan obrolan mereka itu. Kalian ini teman macam apa sih? Membicarakan aku dibelakang. Kenapa tak secara frontal saja? Tak berani? Tak punya nyali? Damn! Kupikir kalian akan menerimaku bagaimana keadaanku tanpa memandang dari segi manapun. Tapi apa?

Tch! Tak kusangka kalian seperti itu. Aku tak percaya. Semua orang itu ternyata pendusta. Buktinya Tou-san yang baik dan ramah walaupun dingin dikhianati orang. Sekarang, yang kuanggap sebagai temanku nyatanya apa?

Gigiku gemeletuk menahan diri. Ingin sekali aku menghadap mereka untuk menghentikan obrolan mereka. Untunglah, amarahku tersimpan karena sensei telah datang dan pergosipan itu selesai. Mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

-sensei mulai memberikan materi pelajaran. Baru setengah jam pelajaran berlalu, tiba-tiba –sensei mengetuk pintu dan izin untuk masuk. –sensei berbisik pada –sensei. Setelah keperluannya selesai, ia keluar dari kelas.

-sensei yang tadinya duduk langsung berdiri di depan kelas dan berujar, "Rukia, kamu dipanggil ke ruang TU. Tadi katanya ada Ibumu menelfon. Sekalian juga bawa barang-barangmu."

'Kaa-san menelfon? Kenapa tidak sms ke handphone-ku saja?' batinku sembari merapikan seluruh peralatan tulis yang masih berserakkan di meja.

"Ya sensei. Aku pergi dulu." Aku pamit dulu sebelum meninggalkan ruangan XII-science 1.

Aku mengeluarkan handphone dari saku rok. Sial. Ternyata aku menonaktifkannya. Wajar saja Kaa-san tak menghubungiku lewat handphone.

Segera aku menuju ruang TU. Meminta izin masuk dan mendapati –sensei, menanyakannya dan langsung menelpon kembali nomer yang dipake Kaa-san.

Tut tut tut...

Beberapa detik menunggu akhirnya diangkat juga oleh Kaa-san.

"Halo."

"Ya, halo. Ini Rukia kan? Rukia... kau harus segera ke rumah sakit," jawab seseorang dari sebrang sana—Kaa-san- dengan nada yang bergetar.

'Apa? Rumah sakit? Siapa yang berada di rumah sakit?' pikirku heran. Dan terdiam sejenak. Mencoba menerka-nerka.

"Rukia?" Aku tersadar, aku belum menjawab ucapan Kaa-san.

"Ya Kaa-san. Tapi kenapa? Ada perlu apa?"

"Tou-san... Tou-san saat ini terbaring di rumah sakit. Sekarang keadaannya sangat kritis. Kau harus segera datang ke Soul's Hospital."

'A-apa? Tidak... ini tidak mungkin..." Bibirku bergetar. Sekujur tubuhku kaku. Mataku berkaca-kaca, ingin segera menumpahkan cairan bening dari kelopak mataku. Tapi tak bisa. Aku ingin berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya. Menolak kabar yang detik ini kudengar. Tapi tidak bisa.

.

.

.


_To be Continued_


.

.

A/N :

Minna~ bagaimana dengan chap ini? Mizu sampai ngebul mikirnya. Tapi kok serasa enjoy ya ngetiknya? Gak tau deh, semoga aja minna juga enjoy bacanya.. #ngarep

Mengenai Ichigo, dia belum muncul di chap ini, chap depan juga kayaknya belum deh. ==a

Pokoknya baca aja. Dia juga bakal muncul kok.. #nggkadaygnanya

Mungkin chap depan akan lama update. Haha, yang baca juga sedikit. Jadi gak papa deh... *watados* #bletak

Buat yang baca, jangan lupa buat memberi review fic ini. Awas loh kalo nggak. #ngancam/dibakar

Ditunggu review-nya~

Jaa~

Mizuna Kuchiki Raira