"Kau jalan kaki, Hinata?"
"Eh?"
Naruto © Masashi Kishimoto
It's Just About "Pesta Dansa"
Second Step
Hinata berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara yang ternyata berasal dari dalam mobil porsche hitam.
"Ah, tidak, Sasuke, aku hanya berjalan kaki hingga pemberhentian bus di depan. Hari ini, aku akan naik bus. Otou-sama dan Neji sedang ada urusan." Ia terkekeh.
"Mau kuantar?"
Hinata mengerutkan dahinya. Ia tak salah dengar, kan?
"Naiklah."
Belum sempat Hinata mengiyakan ajakan Sasuke, Sasuke malah sudah membukakan pintu untuknya.
"T-tapi, kupikir Sasuke, itu akan merepotkan."
Sasuke mendengus. "Baiklah, kalau kau anggap begitu. Sekarang anggap saja aku mengganti ajakanku dengan permintaan tolong, bagaimana, hmm? Kupikir kau mau membantu temanmu yang membutuhkan pertolongan, eh, Hinata. Tolong temani aku selama perjalanan pulang ke rumahku."
Hinata tertawa, "baiklah, Sasuke. Dan kuakui kau memang –entahlah–, apakah itu bisa disebut pintar?"
Sasuke tersenyum, "anggaplah itu cerdas, Hinata."
Hinata putuskan untuk 'menemani' Sasuke kali ini, yaahh... untuk pertama kalinya dan mungkin terakhir kalinya mengingat orang yang ditemaninya adalah seorang Uchiha yang kaya, tampan, keren, cerdas, dan lain-lain...
Ya, untuk pertama kalinya, hari itu, Hinata merasa Sasuke seperti laki-laki yang seutuhnya 'normal', yang tidak menyeramkan, pendiam, dan entahlah... agak anti-sosial, mungkin. Untuk pertama kalinya, Hinata merasa Sasuke sangat ramah, walau tetap saja, bicaranya irit.
Setidaknya, Sasuke yang banyak tersenyum hari ini merupakan pemandangan yang lebih enak dipandang dibandingkan Sasuke yang terus memasang flat-expression nya seperti yang selama ini ia lakukan.
"Apa Sasuke demam, ya?"
Hinata terkekeh geli membayangkan hal tersebut, tanpa sadar sepasang mata di sebelahnya ikut tersenyum memperhatikannya.
"Mau mampir sebentar tidak?"
Tersadar dari lamunannya, Hinata mengerjapkan matanya, "a-ah, apa, Sasuke?"
"Mau mampir sebentar tidak? Terlambat pulang tentu tidak masalah kan? Hanya sebentar."
"Tentu tidak masalah, Sasuke. Lagipula ini mobilmu dan kau juga yang menyetir. Aku kan hanya menumpang." Pipi Hinata bersemu merah, merasa malu sekaligus tak enak.
"Oh, ayolah, Hinata, kan aku yang mengajakmu. Ngomong-ngomong, apakah kau pernah ke cafe baru yang ada di dekat taman kota? Kudengar, suasana cafe di sana nyaman, dan katanya... coklat panas di sana benar-benar lezat."
"Well, aku pernah mendengarnya juga, Sasuke. Tapi untuk pergi ke sananya sendiri, aku belum pernah."
"Mau coba? Aku traktir. Anggap saja sebagai rasa terima kasih karena sudah menemaniku."
Hinata mengerutkan dahinya, "baiklah, ini mulai terdengar aneh, Sasuke."
"Dan bagiku tidak. Jadi sudah ditentukan, kita akan mampir ke sana dulu."
Hinata menghela napas, "kau membuatku berhutang budi terlalu banyak, Sasuke."
Sasuke terkekeh, "itulah tugas seorang pria, Hinata, membuat seorang wanita bahagia."
Tawa renyah Hinata keluar. "Kata-katamu, Sasuke... Kau terlihat seperti seorang pria yang akan menikah, kau tahu, berjanji akan membahagiakan sang mempelai wanita."
Sasuke menyeringai kali ini. "Tentu tak salah, kan, jika pria itu menjanjikan hal tersebut lebih awal –jauh sebelum hari pernikahan mereka?"
Dan entah untuk alasan apa, warna merah muda tiba-tiba menjalari pipi Hinata.
xxx
10 hari sebelum pesta dansa.
"Astaga, Tenten. Aku bahkan sampai lupa dengan hal yang paling penting untuk pesta dansa nanti."
Tenten mengangkat salah satu alisnya. "Memangnya apa?"
Hinata memekik pelan. "Aku tidak bisa BER-DAN-SA, Tenten! Kenapa aku bisa sampai lupa dengan hal seperti itu?!"
"Eh?"
"B-baiklah, aku pergi dulu, Tenten."
Dan dengan secepat kilat Hinata sudah meninggalkan kelas dan Tenten yang terbengong.
xxx
"Neji, ada yang mencarimu!" teriak Suigetsu nyaring.
Neji menutup bukunya. "Siapa?"
Suigetsu mengangkat bahunya, lalu pergi keluar bersama dua temannya, membuat Neji menepuk jidatnya. Neji lalu berjalan ke arah pintu.
"Loh, tumben."
"Neji, kau harus membantuku!" pekik Hinata.
Neji mengangkat salah satu alisnya.
"Pokoknya nanti kau mampir dulu ke rumahku. Ya! Setiap hari, sepulang sekolah, kau harus mampir ke rumahku hingga pesta dansa nanti."
"Uwooo, ada apa ini?" tanya Neji heran.
"Kau harus mengajariku berdansa, Neji. Aku belum pernah berdansa, belum pernah."
Neji mencibir. "Ya, aku tahu kau belum pernah berdansa."
"Bantu aku, ya?" bujuk Hinata sambil menampilkan puppy eyes andalannya.
Neji meneguk ludahnya. "Baiklah."
"Terima kasih, Neji, besok kupastikan kau mendapatkan jas terbaik," ungkap Hinata riang sebelum kembali melangkahkan kakinya ke kelasnya lagi.
Neji terkekeh. "Ia masih seperti anak kecil."
xxx
Kakashi-sensei berjalan meninggalkan kelas. Semua siswa yang ada di sana bersiap pulang ke rumahnya. Tenten sendiri yang tidak mengeluarkan buku sama sekali saat pelajaran Kakashi-sensei, hanya tinggal berdiri dan menyampirkan tasnya.
Tiba-tiba hapenya berdering. Ia mengangkatnya
"Ne, Hinata, sepertinya aku sudah dijemput. Duluan ya? Jaa."
"Iya. Jaa, Tenten."
Tenten sudah berjalan ke arah pintu kelas, meninggalkan Hinata masih berkutat dengan barang-barangnya.
"Baiklah, ke kelas Neji, lalu belajar berdansa," gumam Hinata pelan.
Ia mendesah pelan.
"Tidak ada yang menjemput lagi?"
Suara berat itu membuat Hinata mendongakkan kepalanya. Ia mendapati Sasuke sedang berdiri tegap di depannya, sudah membawa tasnya.
"Eh, hari ini Neji akan mengantarku pulang kok," kata Hinata tersenyum.
Sasuke menghela napas. "Sayang sekali," bisiknya pelan –entah pada siapa–.
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Kutemani ke kelas Neji yuk," tawar Sasuke.
Hinata memiringkan kepalanya. "Kelas Neji berlawanan arah dengan gerbang loh."
"Ya, aku tahu. Sekarang aku tidak bisa langsung pulang, Asuma-sensei menyuruhku ke kantornya, err..." Ia melihat jam tangannya, "15 menit lagi. Dan aku tidak punya apapun untuk kukerjakan selagi menunggu."
Hinata tersenyum kali ini, "baiklah, makasih, Sas."
Sasuke hanya membalasnya dengan tersenyum kembali. Kemudian, mereka berdua melangkahkan kakinya ke arah kelas Neji. Sesampainya di sana, mereka duduk di kursi yang telah disediakan di depan kelas, menunggu Neji keluar –melihat masih adanya guru yang mengajar di dalam kelas–.
Keadaan di antara mereka berdua yang diam, membuat Hinata sedikit banyak bosan.
"Bagaimana persiapanmu, Sasuke? Maksudku, sebentar lagi kan ujian akhir diadakan."
"Hm, nggak terlalu banyak sih. Paling-paling waktu menontonku yang kukurangi, kuganti dengan waktu belajar atau tidur. Aku bukan tipe yang rajin banget sih."
"Wajar saja, kau kan sudah cerdas," batin Hinata iri.
"Kau sendiri?"
"Eh, aku juga mengurangi waktu kegiatanku yang tidak penting, kuganti dengan belajar. Dan seminggu tiga kali akan ada guru yang datang ke rumahku."
"Padahal kau yang biasanya saja sudah sering masuk peringkat 5 besar, apalagi dengan tambahan jam belajar yang super itu," ungkap Sasuke.
"Tetap saja aku tak pernah bisa mengalahkanmu dan Shikamaru. Shino dan Sakura saja yang kadang-kadang bisa di bawahku."
"Yah, kalau itu sih anggaplah sebagai keuntungan terlahir di keluarga Uchiha, Hinata."
Dan Hinata tertawa geli mendengarnya.
"Sasuke!"
Sasuke maupun Hinata sontak mengangkat kepala mereka, mendapatkan pemandangan seorang gadis berambut cokelat yang berdiri di depan kelas Neji.
"Kau menungguku, ya?" tanya Matsuri riang.
Ia menengok ke arah Hinata yang duduk di sebelah Sasuke, "oh, Hinata, apa yang kau lakukan di sini?"
"Asal kau tahu saja, aku menemaninya menunggu sepupunya," jawab Sasuke.
"Eh?!" pekik Matsuri. "Baiklah, aku pulang dulu," ucap Matsuri kecewa, lalu ia pergi.
Kejadian terus berulang saat beberapa cewek lewat, membuat Sasuke dan Hinata merasa malas menanggapi mereka.
"Hinata!"
Baiklah, ini nama berbeda yang pertama kali disebutkan saat seseorang keluar kelas.
"Ah, Neji."
"Maaf ya lama, tadi harus mengurus sesuatu dulu. Loh, Sasuke?"
"Yo, Ji," sapa Sasuke.
"Ada perlu dengan teman sekelasku?" tanya Neji.
Sasuke menggeleng.
"Sasuke menemaniku untuk menunggumu keluar dari kelas, Neji," ungkap Hinata.
Neji mengangguk, melihat ke arah Sasuke, ia mengangkat salah satu sudut bibirnya dan menaikkan salah satu alisnya.
Sasuke mengeluarkan seringaian sebagai balasan.
Dan Hinata hanya bisa diam, tidak mengerti 'percakapan' antar cowok ini.
"Baiklah, Hinata, ayo kita pulang," kata Neji sambil mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah.
Hinata bangkit dari duduknya. "Maaf tidak bisa menemani, eh, menghabiskan waktu 15 menitmu, Sas, aku sudah berhutang dua kali padamu."
"Kau lupa dengan tugas seorang pria, ya? Untuk membahagiakan seorang wanita."
BLUSH!
"Ah, a-aku duluan, Sasuke."
Setelah itu, Hinata langsung berlari kecil menyusul Neji yang sudah duluan. Sasuke menahan tawanya melihat tingkah Hinata barusan.
"Baiklah, aku juga harus pulang," gumam Sasuke. Ia bangkit dari tempat duduknya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan mulai berjalan ke arah gerbang sekolah.
Sepertinya Sasuke sudah lupa dengan janjinya untuk bertemu Asuma-sensei.
Atau memang sebenarnya dia tidak pernah janjian dengan gurunya yang satu itu? Well, who knows?
xxx
"Hinata! Lepaskan tanganmu!"
"Maaf."
"Astaga! Kau mencekikku, Hinata!"
"Ah, maaf, aku tidak sengaja."
"Letakkan tanganmu di pundakku!"
"I-iya."
"Jangan melihat kemana-mana!"
"Iya, Neji."
Dan Hinata agak menyesal karena sudah meminta bantuan Neji. Sepupunya yang satu ini tidak memiliki kata 'lembut' dalam kamusnya jika sedang mengajari orang lain.
xxx
9 hari sebelum pesta dansa.
"Aku ngantuk."
"Ya, ini sudah kesekian kalinya kau menguap, Hinata. Memangnya apa saja sih yang kamu lakukan?"
Hinata mengunyah kentang gorengnya. "Hmm? Ah, Neji pantang menyerah dalam mengajariku. Ia menyeramkan saat mengajari orang lain, kau tahu? Aku akan beri dia batas waktu untuk mengajariku berdansa selanjutnya."
Tenten tertawa, "Memangnya dia bisa berdansa?"
"Kau menghina, ya?"
Tenten tersentak, ia menoleh, "berhenti datang tiba-tiba, Neji!"
Neji hanya mengangkat bahunya. "Aku dan Gaara ikutan, ya?"
Tanpa persetujuan, mereka berdua langsung duduk dan melahap makanan mereka. Hinata dan Tenten cuma geleng-geleng kepala.
"Ah, jangan lupa pulang sekolah," kata Neji.
"Ada apa pulang sekolah?" tanya Gaara.
"Oh, tidak, hanya mencari jas untuk pesta dansa nanti."
"Oh ya? Ikutan dong, mumpung ingat."
"Hah? Mumpung ingat?" batin Hinata dan Tenten nista.
"Hah? Ayo saja sih, iya kan?" Neji melirik ke arah Hinata dan Tenten bergantian.
"Ini kan idemu, lagipula kau juga yang menyetir," celetuk Hinata.
Tenten memutar bola matanya, "dan aku hanya numpang."
Neji tersenyum, "ok, come with us then."
To Be Continued
Baiklah, chapter ini sejujurnya agak ngebosenin bagi Fimi sendiri. Berdoa saja buat selanjutnya, lebih menarik. Maaf dan thanks, bagi yang sudah bersedia membacanya.
