Entah sudah berapa jam mereka terus berjalan, hingga akhirnya bulan menampakkan keindahannya dilangit. Tapi ...

.

"GAAHH! KAPAN KITA NYAMPE NYA NIH?! KAKI GUE PEGEEEEEEEELLL!" Chiza memasuki tahap depresi gila.

"Iya nih, aku udah nggak inget lagi kapan terakhir kali kita mulai berjalan." Aya ketularan ngeluh.

"Mana benteng Owarinya sih?"

"Aahh, disana. Sedikit lagi Chiza."

Akhirnya sampai juga kedua player (malang) ini di benteng utara Owari, bekas wilayah kekuasaan klan Mibu yang sudah jadi milik klan Oda.

Nampak di depan mata sebuah benteng besar dengan dinding kokoh menjulang, nampak menguarkan aura kematian yang dahsyat, agak menggetarkan nyali.

"Apa kita bisa menyelesaikan game ini hidup-hidup?"

.

.

.


BASARA SIMULATION – THE ERROR GAME

Sengoku Basara (Capcom)

Adventure, fantasy, comedy

T+(?)

OC! OOC, Bahasa Tidak Baku (percakapan gaul untuk players), OOT, dan segala ke gajean yang ngenes~ -w-

TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN GAME SENGOKU BASARA ASLI YANG TELAH BEREDAR DIPASARAN MASYARAT SAAT INI!

AWAS! GAME BAJAKAN!

Happy not happy, let's play guys~ -w-

.

.

.


Baru juga mau melangkah masuk...

"Apa mau kalian disini?"

... udah ketauan sama yang punya benteng.

Chiza keringet dingin. "Eerr... etoo, kami ini..."

"Tukang cuci baju." Aya asal ceplos.

Player satu sibuk jedukin kepala ke tembok(?)

Antara curiga atau tidak, Nobunaga nampak berpikir sejenak.

"Oh, kebetulan sekali. Disana ada tumpukan baju kotor. Masuk aja."

Meski dipersilahkan masuk aja, tapi tetep mereka diseret kedalem juga.

"Kuso! Masa akhirnya kita beneran jadi babu sih?!" kadar depresi Chiza nambah.

"Eehh, etto... Chiza, itu kan..." Aya tiba-tiba nunjuk sesuatu di antara tumpukan baju kotor.

Rupanya benda itu adalah 2 pedang berwarna putih bercahaya bagai berlian serta hitam berkilat seperti batu obsidian. inilah pusaka Mibu yang mereka cari-cari!

Tsukiyomi dan Amaterasu.

Aya dan Chiza langsung teriak gembira sambil nari gaje.

"YEEI! KITA BERHASIL, BERHASIL, BERHASIL, HOREE~!"niruin tontonan tiap pagi, Dora the Explorer.

Namun tiba-tiba...

BLAAAAAAAAAAAAAAAARRRR

.

Mampus. Benteng mendadak runtuh setelah kedua player kita ini mendapatkan 2 pusaka yang dicari. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

"YAA KABUR SECEPATNYA DARI SINI LAH, KUSO-AUTHOR!"

Terdengar serapah dari mulut Chiza, berarti dia belum mati tertimbun.

"Chiza, kau bicara pada siapa?" Aya menatap sang partner bingung.

"Nggak sama siapa-siapa." Jawab Chiza.

Bebatuan besar mulai berjatuhan. Karena pintu tempat mereka masuk tadi terkunci, akhirnya mereka berlari memasuki pintu lain untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan.

.

BRUUUAAAK

Akhirnya pintu itu terblokir. Chiza dan Aya terus berlari menyelusuri lorong panjang nan gelap itu hingga akhirnya mereka sampai disebuah ruangan yang megah. Rupanya lorong tadi adalah penghubung benteng dengan ruangan tempat Nobunaga berada.

"Hooo. rupanya 2 gadis tukang cuci yang berani masuk kemari. Apa kalian sudah ingin mati?"

Dan mereka sudah di sambut oleh sosok rupawan Om Raja Iblis, Oda Nobunaga. Chiza dan Aya mendadak banjir keringet dingin.

"YANG BENER AJA NIH?! BARU DAPET ITEM SENJATA UDAH MAEN NGELAWAN BOSS TERKUAT!" (O [] O||

"Kayaknya nih game udah error sejak awal." (=~=||

"Jadi... ini stage terakhir?" (OwO

"Jelas bukan. Ini masih permulaan. yang akan kalian hadapi selanjutnya adalah adikku, Oichi."

"..."

"..."

"Aya, lo punya baygon nggak?"

(-_-")

Menahan diri untuk tidak menggaplok kepala Chiza gara-gara pertanyaan absurd nya itu, Aya dibuat makin panic saat Nobunaga memainkan tangannya, memanggil para bawahannya. Tak lama muncul sosok trio macan(?) dari balik panggung shoji di belakang singgasana sang Raja Iblis. Kita mengenal mereka sebagai Akechi Mitsuhide, Nouhime dan Ranmaru.

"Kalian bertiga urus bocah-bocah ini segera." Perintah Nobunaga.

"Huh, tanpa banyak membuang waktu bisa langsung aku lenyapkan mereka." Nouhime menyiapkan duo pistol miliknya.

"Kita akan bermain sebentar dengan mereka kan?" kata Ranmaru santai.

"Ufufufu… kemarilah sayang~ akan kupastikan kalian mencicipi kepedihan dalam penderitaan singkat sebelum jatuh dalam neraka abadi." Mitsuhide ketawa psycho sambil mempersiapkan sabit besarnya.

Oh, sial...

"Heh, kayaknya kita harus mencoba dulu kekuatan dari pusaka yang baru aja kita dapat ini ke mereka sebelum melawan langsung ke boss nya."

"Ya, aku juga udah nggak sabar untuk segera menggunakan pedang ini karena baru pertama kali nya aku memegang pedang samurai beneran seperti ini. Tapi Chiza..."

"Hee, ada apa?"

"Bagaimana caranya bertarung menggunakan pedang? Kita tidak tau cara yang benar untuk menyerang, bertahan atau bahkan jurus-jurus yang dapat digunakan."

"Aaaa... kau benar. Kenapa disaat seperti ini kita baru menyadari pentingnya ilmu beladiri sieh, terutama kendo?!" kini Chiza masuk frustasi mode.

Yaah, bukan salah mereka juga sih nggak bisa ilmu kendo disaat yang diperlukan dalam game seperti sekarang. Silahkan salahkan sekolah mereka yang tak menyediakan kelas extra kurikuler atau klub kendo. Sehingga jika mereka 'game over' disini bisa langsung nuntut sekolah.

"Heh, seolah-olah kita bakalan game over disini hanya karena nggak bisa menebas mereka semua dengan benda ini. Kita buktikan bahwa bocah biasa kayak kita bisa melakukan hal yang biasa di dalam game ini, membunuh." Chiza menyeringai sambil mengeluarkan pedang pusaka tsukiyomi berwarna hitam legam.

"Tentu Chiza. Didunia ini, kita sebenarnya kuat karena kita adalah player disini. Tak peduli serangan seperti apapun kita pasti akan menang dan menyelesaikan ini semua." Sementara Aya tersenyum dingin lalu mengeluarkan pusaka amaterasu berwarna putih berkilauan dari sarungnya.

Dan langsung saja, pertempuran di stage 1 dimulai!

.

DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR

DUAR DUAR DUAR DUAR DUAR

Tembakan bertubi-tubi datang menghujani kedua sosok player kita. Pelaku nya sudah tentu sang Lady seksi satu-satunya, Nouhime. Chiza dan Aya berlari dengan kecepatan ninja entah dilatih dimana dan melewati tiap detik penuh peluru tersebut dengan sangat apik. Masing-masing kemudian melompat saat lantai kayu yang dipijak nyaris jebol.

BLAAAAAARR

SYAT SYAT SYAT SYAT

Giliran puluhan panah yang melesat menuju sosok mereka yang saat ini melayang diudara. Dengan cekatan, Chiza dan Aya menebas semua panah itu dengan pedang hingga yang tersisa hanya potongan-potongan kecil tak berguna berjatuhan di lantai. Chiza melirik diantara celah yang ada.

"Aya, kita bagi tugas ya! Aku bagian si Nouhime sementara kau urus tuh bocah sialan."

"Baik, tak masalah."

DAAAK

.

Setelah itu, Aya langsung bertolak menyerang kearah Ranmaru. Ranmaru terus menghujani serangan panahnya kearah Aya hingga mengenai beberapa bagian tubuhnya. Tapi Aya tak menyerah. Sambil berlari ia menyiapkan posisi kuda-kuda menyerang lalu kembali melompat.

"AMATERASU!"

CLIIIIIIIINK

DUAAAAAAAAAAAAAAAARRR

Cahaya putih keemasan berpencar keluar dari pusaka Amaterasu. Tebasan sekali itu sukses menghujamkan puluhan serangan bagai hujan cahaya yang turun dari langit. Ranmaru menahan serangan itu namun tetap saja damage diterima olehnya dengan telak.

BLAARR BLAARR BLAAARR

UWAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGH

HP milik Ranmaru berkurang drastic hingga tak bersisa sedikitpun. Kosong. Setelah itu layaknya karakter game yang telah kalah perlahan tubuhnya menghilang.

"Fyuh, untunglah ini cepat selesai."

.

"HIYAAAAAAAAAAAAAH!"

DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR

Beberapa bisa dihindari, beberapa sedikit menyerempet hingga meninggalkan goresan-goresan darah di kulit dan baju. Chiza terus mendekati sang Lady Butterfly dan menebasnya telak dari pundak memanjang hingga membelah dada dan perutnya.

ZRAAAAAAAAASSHH

Satu musuh sudah selesai.

.

BLAAAAAAAAAAARRRRRRR

"Akulah lawan mu selanjutnya, sayang~"

"Hentikan panggilan menjjikkan itu, kakek tua sakit jiwa!"

Bersiap dengan kuda-kuda dan kembali untuk menyerang Mitsuhide. Mitsuhide sendiri dengan cepat telah mengayunkan dual scythe nya kearah Chiza seperti sedang berburu hama tikus.

"Koutsuuteki Kyushutsu!"

JLEEEBB

Sial pun tak terelakkan lagi bagi Chiza, sukses terkena serangan tiba-tiba dari Mitsuhide. Sepasang scythe telah menusuk tubuhnya hingga membuat HP miliknya terjun bebas, apalagi saat Mitsuhide mulai menyerap kekuatan kehidupannya, HP nya makin menipis.

DUAAAAAAAARRR

Serangan kilat putih yang tiba-tiba muncul memaksa Mitsuhide untuk melepaskan Chiza dan melompat menghindar ke belakang. Namun itu tak bertahan lama karena serangan lain dengan rasio lebih gila mulai mendekat.

"TSUKIYOMI!"

SHAAAAAAA

"AAAAAAAARRRGGGHHHH!"

Puluhan sabitan Kristal es telak menusuk tubuh Mitsuhide hingga HP milik sang pendeta psycho kosong seketika. Sepertinya Chiza memanfaatkan kelengahan Mitsuhide saat momen menghindar dari serangan Aya tadi.

Aya berlari mendekati Chiza yang sekarang tergeletak payah, kelelahan.

"Chiza, kau baik-baik saja?"

"Ya, hehehe aku masih belum mau mati sebelum baca doujinshi Revaival sampe tamat. Gue udah stress, artist nya nggak updet-updet." Chiza malah curhat.

Aya hanya bisa sweatdrop mendengar temannya yang bisa-bisanya ngelantur disaat sekarat. Namun ia langsung menyadari bahwa lawan mereka yang sesungguhnya masih berada disana, duduk tenang sambil menonton pertarungan yang membosankan didepannya.

"Bertahanlah Chiza, pertarungan kita yang sesungguhnya baru akan dimulai."

"Aku tau, tapi sisa HP ku tak mencukupi untuk aku bertahan lama."

"Aku juga, pertarungan melawan trio tadi sudah menguras lebih dari setengah HP milikku. Terkena beberapa serangan lagi kita bisa 'game over'."

"Heh, ini benar-benar licik."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"... Gue nyesel kenapa tadi kita nggak pake cheats aja sekalian." (==||

"Kamu kebiasaan main curang sih." (-_-||

.

BLAAAAAAAAARRRRRRR

Tembakan besar nyaris melenyapkan duo player sekaligus kalau saja tidak disengaja meleset oleh sang empunya. Nobunaga berjalan mendekati dua sosok itu dengan seringai tak kenal ampun.

"Sudah cukup main-mainnya. Sekarang akan kubereskan kalian sekaligus."

GLEK. Tamatlah riwayat mereka kini!

.

BRUUUUUUAAAAK

Tiba-tiba dinding sebelah dijebol oleh sebuah kekuatan lain hingga hancur menyisakan sebuah lubang besar disana. Dibalik asap bekas ledakan, nampak 2 orang pria yang sangat dikenal oleh player tengah berdiri santai.

"Yup, sepertinya kita datang tepat waktu, eh?" kata pria berambut putih jabrik dengan eyepatch di mata kiri, tersenyum tipis sambil memanggul jangkar raksasa di pundak kanannya.

"Dengar, kita kesini bukan untuk bermain." Kata pemuda lain dengan pakaian serba hijau serta pedang bilah matahari tersampir dipundak kanannya.

"CHOSOKABE MOTOCHIKA, MOURI MOTONARI?!" teriak kompak Aya dan Chiza.

Well, kemunculan 2 tokoh ini entah darimana telah memberikan secercah harapan di hati para player, selayaknya karakter tambahan yang datang untuk memberikan bantuan.

Tapi... benarkah demikian tujuan mereka disini?

Kemunculan tiba-tiba dari Chosokabe Motochika bersama Mouri Motonari sukese membuat 2 player kita menganga syok, sekaligus sujud syukur.

Bagaimana tidak, bisa saja kedatangan dua samurai yang merupakan pemimpin masing-masing wilayah Shikoku dan Chugoku yang tidak bisa diremehkan (menurut pengalaman Aya selama memainkan seri game sebelumnya) ini adalah untuk membantu para player memenangkan battle hidup-mati melawan sang boss iblis.

Secara, dari segi pengalaman yang 'nyata' mustahil Chiza dan Aya bisa berjuang sendirian.

Motochika dan Motonari seketika secara serentak langsung melompat dan melemparkan senjata masing-masing kearah Nobunaga, menyerangnya dengan telak.

CRAAAAANNKK

DUAAAAAAAARRRRRR

Namun yang terjadi kedua senjata unik itu malah saling berbenturan dan tak ada yang berhasil mengenai sang target karena Nobunaga sudah melompat menghindar.

"WOOII, KUSO-MOURI! JANGAN GANGGU PERTARUNGANKU! JAUH-JAUH SONO!" seru Motochika jengkel.

"KAU YANG HARUSNYA SADAR DIRI KUSO-KABE! ENYAHKAN DIRIMU DARI HADAPANKU!" Motonari kesel.

Kedua samurai sekaligus rival ini langsung terlibat adu bacot kemudian berlanjut menjadi adu jotos antar senjata. Sementara Nobunaga yang berdiri tak jauh dari keduanya cuma ketawa ngakak.

"WHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA~!"

Sementara duo chara original malang yang terduduk pasrah disana cuma bisa melongo.

Apa benar kedatangan Motochika dan Mouri dalam keterlibatan battle ini emang untuk menolong mereka.

Padahal nyatanya jelas, meragukan.

"WOOI! Motochika, Motonari! kalau kalian emang niat mau membantu jangan malah asyik berantem sendiri dong!" Chiza teriak frustasi.

"Motochika-dono, Motonari-dono, tolong hentikan!" Aya teriak panic.

Dua-duanya stress ngeliat bantuan yang datang malah asyik sendiri kayak mereka.

"Cih! Aku hampir lupa dengan tujuan utama ku datang kemari. Ini semua gara-gara kau Motochika!" kata Motonari dingin.

"Hooo... kini kau menyalahkan aku setelah kau memancing ku? Baik, selesaikan urusan disini lalu kita lanjutkan pertarungan." Dengus Motochika, kemudian merogoh saku celananya lalu melempar sebuah bungkusan kearah Chiza.

"Apaan nih?" alis sebelah Chiza terangkat saat melihat isi bungkusan.

"Itu 'nori' untuk meningkatkan kembali stamina dan HP yang sekarat." Kata Motochika santai.

"Aa... rumput laut?"

"Ambil ini." Motonari melakukan hal yang sama kearah Aya.

"Ini... onigiri?!"

"Manfaatnya sama dengan rumput laut busuk itu." Motonari menunjuk bungkusan di tangan Chiza.

Jelas pernyataan bernada datar tersebut sukses membuat wajah Chiza mengkerut dan tampang Motochika yang semakin jengkel.

"Wooii Mouri! Kita lanjutkan ditempat lain yang lebih luas!" ajak Motochika semangat.

"Baik, tak masalah."

Lalu keduanya melompat bersamaan dan menghilang di telan kepulan debu.

"Oro? Main ngilang aja tuh mereka." Chiza sweatdrop.

"Yah sudah, biarkan aja mereka. Kita langsung makan ini dulu yuk!"

Mereka membuka bungkusan itu lalu memakan isinya.

"HOEEKK! Nori nya nggak enak! Nggak ada rasanya!" player satu muntah.

"Hah... macha chi...?" si player dua sibuk ngunyah .

"Gah, kau enak makan onigiri. Btw, kau punya garam nggak Ya?"

"Please deh Za, berhenti menanyakan barang yang jelas nggak ada." Kata Aya setelah berhasil menelan makanannya bulat-bulat.

"Sudah selesai makan nya, bocah?"

Kini dihadapan mereka sang Raja Iblis tengah berdiri layaknya pose yang bosan. Sepertinya menunggu duo player ini selesai piknik membuat kedua tangannya pegal untuk segera...

DUAAAAAAAAAAARRRRR

Nobunaga sudah melancarkan serangan tembakan tiba-tiba kearah player. Kepulan asap yang terbentuk daro momen ledakan menyamarkan pergerakan player yang berhasil menghindar, kini bergerak untuk membalas serangan.

"HEYAAAAAAAAAAAAAAAAAHH!"

Kekuatan gelap sang boss kegelapan menyelubungi serangan mematikan yang selanjutnya. Namun berkat stamina dan HP yang full kembali, Aya berhasil menahan serangan itu sementara Chiza melompat menghindar dan berlari kearah Nobunaga, disusul oleh sosok Aya.

CLIIIIIINK

Amaterasu dan Tsukiyomi bereaksi saat players telah semakin dekat dengan target.

SYAAAAAAATT

Chiza berhasil memotong tangan kiri Nobunaga yang memegang pistol dan Aya memotong tangan kanan yang membawa pedang.

"HAAAAA!"

Kemudian mereka berbalik secara bersamaan dan kembali tepat menikam sang musuh dari belakang.

JLEEEBB

"AAAAAAAARRRRRRGGGGGHHHH!"

HP sang raja Iblis seketika turun habis seiring dengan kuatnya tusukan kedua pusaka sang players yang menancap hingga menembus punggungnya.

Teriakan menggelegar keseluruh penjuru ruangan hingga meretakkan beton karena saking dahsyat nya.

Bahkan Chiza pun sampai nutup kuping saking pengang nya.

Perlahan sosok Nobunaga menghilang setelah Chiza dan Aya mencabut pedang mereka. Bersamaan dengan itu gempa tiba-tba terasa menandakan bahwa bangunan itu sebentar lagi akan roboh.

.

"Kita harus segera keluar dari sini!"

"Tapi gimana?! Pintu masuknya udah keblokir lagi sama batu yang berjatuhan!"

BRAAAAAAAAAAAAKKKK

Kini terpampanglah sosok sang bajak laut dari Shikoku itu dengan senyum-coret-cengir gaje karena berhasil jebolin atap. Aya dan Chiza cengo.

"Wooii, udah kebanyakan kata 'cengo' di kisah ini. Sekali-kali make kata 'kaget' atau 'terkejut' gitu dong!" kini Chiza memprotes narrator lagi.

"Heran deh, kamu ngomong sama siapa sih?" Aya menatap curiga dari samping.

"Nggak sama siapa-siapa kok." Chiza menjawab sama.

GREP

Secepat kilat Motochika sudah menggendong kedua player di lengan dan pundaknya, bersiap membawa mereka kabur dari sana.

"Anjrit! Mau ngapain kau?!"

"Menyelamatkan kalian lah. Sudah diam saja atau kau mau aku melemparmu ke laut?"

Kemudian ia menginjak jangkar raksasa miliknya dan seketika jangkar tersebut melesat terbang membawa mereka menjauh dari istana yang mulai hancur.

WHHUUUUUUUZZZ

"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Aaa... aku mau HOEEEEKKK..."

"AARRRGGGHH! JANGAN MUNTAH DI BAJU KU!"

.

.

Dan begitulah situasi terakhir para player tercinta(?) kita.

Well, stage pertama telah sukses di selesaikan. Bila anda ingin melanjutkan ke stage selanjutnya silahkan klik di bawah ini.

.

NEXT -

.

.

.

To be continued