-= Harvest Moon : Friends of Mineral Town story =-

Heartbreak

Chapter 2—Could We Be Friends?

(Author POV)

Claire menyandarkan dirinya di tembok kayu rumahnya. Ia merasa sedikit lelah setelah berjalan-jalan dengan Mayor Thomas berkeliling Mineral Town. Ya, baru saja sang kepala desa—Mayor Thomas—mengunjunginya untuk memperkenalkan secara rinci tentang Mineral Town. Supaya Claire semakin jelas dengan penjelasannya, Mayor Thomas mengajak Claire berjalan-jalan berkeliling desa. Sebenarnya Claire tidak begitu memerlukan penjelasan Mayor Thomas tentang tempat-tempat dan rumah penduduk desa, karena ia bisa mendapatkan informasi sendiri dari peta.

Gadis berambut pirang itu menggosokkan kedua tangannya, pagi di Mineral Town benar-benar dingin. Mungkin sekarang ia harus masuk ke rumah untuk membuat secangkir cokelat panas agar merasa hangat. Tubuh Claire sama sekali belum beradaptasi dengan suhu Mineral Town yang lebih rendah daripada kota tempat tinggalnya dulu.

Saat Claire membuka pintu, tiba-tiba ada suara yang tidak asing memanggil nama Claire. Seketika itu, Claire menoleh ke sumber suara.

"Oh, ternyata kau, Zack. Selamat pagi," sapa Claire.

"Selamat pagi," balas Zack sambil menunjukkan deretan giginya—seperti biasanya.

"Pagi ini dingin sekali. Bagaimana mungkin kau tetap tahan dengan udara dingin seperti ini sementara kau sendiri hanya memakai kaos oblong dan celana jeans sobek-sobek seperti itu?" komentar Claire, nadanya sedikit terkesan protes.

"Ah, biasa saja. Udara pagi ini belum seberapa. Bahkan aku bisa tahan dalam udara musim dingin dengan pakaian seperti ini. Hahaha," jawab Zack disertai dengan tawanya yang menurut Claire mengerikan.

"Aku ragu kalau kau manusia biasa," komentar Claire.

"Hahaha," Zack melanjutkan tawanya yang mengerikan itu. "Oh, aku datang kemari karena ada yang ingin kusampaikan." Tiba-tiba raut wajah Zack menjadi serius.

"Apa itu?"

"Kau lihat kotak itu?" Zack menunjuk kotak kayu yang berada di depan rumah Claire.

"Mm-hm," gumam Claire.

"Kotak itu adalah shipping bin. Kau bisa menjual hasil panen, hasil ternak, bahkan hasil alam yang kaudapatkan di kotak itu. Setiap jam 5 p.m. aku akan datang mengambil jualanmu dan membayarmu langsung. Aku tidak datang saat ada festival, aku juga butuh libur," jelas Zack.

Claire mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan pria berbadan kekar itu.

"Baiklah, hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Kalau kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk datang. Mungkin hari ini kau bisa pergi ke sekitar danau, Mother's Hill, pantai, atau rumah Gotz untuk mendapatkan sesuatu untuk dijual. Lagi pula kau juga perlu banyak bergerak agar tidak terlalu kedinginan," Zack melanjutkan.

"Begitu ya? Baiklah," jawab Claire.

"Oh, iya. Di dekat air terjun, terdapat hot spring. Kau bisa berendam di situ saat merasa lelah atau kedinginan. Biasanya di sekitar situ juga terdapat rumput-rumput herbal yang bisa kau jual padaku. Kau juga bisa merebus telur di dalam hot spring," Zack melengkapi informasinya.

Claire mengangguk-angguk lagi. "Baiklah, aku mengerti."

"Ya sudah, aku pulang dulu ya," Zack berpamitan.

"Okay, terima kasih, Zack!"

~! #$%^&*()

(Claire POV)

Aku keluar dari kolam air panas, kemudian aku bergegas memakai pakaianku dan keluar dari hot spring. Ah, rasanya lebih baik setelah mandi dengan air panas—air hangat lebih tepatnya. Di luar hot spring aku melihat ada rumput-rumputan yang berwarna biru tumbuh di situ. Aneh, aku belum pernah melihat rumput yang seperti ini. Aku mencabut salah satu rumput itu. Aku mengamati bentuknya, lalu mencium aroma yang dihasilkan rumput tersebut. Aroma rumputnya harum.

'...Biasanya di sekitar situ juga terdapat rumput-rumput herbal yang bisa kau jual padaku.'

Tiba-tiba aku teringat perkataan Zack tadi. Pasti ini yang dinamakan rumput herbal! Dengan semangat aku mencabut beberapa rumput serupa yang ada di tempat ini. Lumayan, untuk menambah penghasilanku. Setelah itu, aku memasukkan rumput-rumputku sayang ke dalam ransel.

"Selamat pagi, Claire," sapa seseorang dengan nada ceria.

Aku yang sedang berjongkok karena mencabut rumput seketika itu mendongak ke sumber suara. Aku melihat gadis berambut oranye dan memakai pita putih di atas rambutnya yang diikat ekor kuda ke belakang.

"Oh, ternyata kau, Ann. Selamat pagi," balasku sambil tersenyum. Kemudian aku berdiri dan menepuk-nepukkan tanganku supaya tanah yang tidak sengaja menempel bisa hilang.

"Jadi kau di sini juga ya? Sedang apa?" tanya Ann sambil tersenyum riang.

"Aku baru saja memakai hot spring lalu aku memanen rumput herbal, hehehe," jawabku. "Kau sendiri?"

"Setiap pagi aku datang kemari untuk mencari udara segar bersama temanku," jawabnya.

"Temanmu? Di mana ia?" tanyaku mengingat tidak ada siapa pun yang ada di sini kecuali Ann dan aku.

Ann langsung membulatkan matanya, kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ia mencari temannya itu.

"Ann! Kau meninggalkanku lagi!" seru seseorang dengan suara manja.

Ann dan aku langsung menoleh ke sumber suara. Aku melihat seorang gadis berambut merah muda dengan bando hijau—yang sepertinya sedikit lebih muda dariku—berjalan mendekat sambil berkacak pinggang. Pasti ialah teman Ann yang dimaksud.

Gadis yang tadinya cemberut itu tiba-tiba tersenyum lebar ketika melihatku.

"Halo," sapanya riang—lebih riang dari Ann. "Jadi kau yang diceritakan Ann kemarin? Kau pasti Claire yang baru pindah itu kan? Aku Popuri, salam kenal."

Aku menjabat tangan Popuri sambil tersenyum. "Ya, aku Claire. Senang berkenalan denganmu, Popuri."

"Jadi, apa rencanamu hari ini Claire?" tanya Ann.

"Mmm..." aku menggumam pelan. "Mungkin hari ini aku akan mencari hasil alam untuk dijual dan membeli beberapa benih untuk ditanam."

"Awal yang bagus, Claire. Berusahalah!" Popuri memberiku semangat.

Ann mengangguk-angguk setuju.

Melihat Ann mengangguk, aku jadi teringat seseorang. Seseorang yang sudah bertemu denganku dua kali kemarin, seseorang yang tampan dan memakai topi biru bertuliskan UMA, seseorang yang tidak begitu ramah, seseorang yang tinggal di rumah Ann. Seseorang itu... siapakah ia?

"Ah, Ann, ada yang ingin kutanyakan," kataku tiba-tiba ketika bayangan orang itu nampak lagi di pikiranku.

"Tanya saja," jawab Ann.

"Apa kau punya kakak?" tanyaku.

"Kakak?" Ann melongo. Seakan-akan pertanyaanku barusan itu aneh.

"Iya. Kakak. Apa kau punya?" aku memperjelas pertanyaanku.

"Tidak, memangnya ada apa?"

"Lho? Lalu laki-laki yang memakai topi biru dan tinggal di rumahmu—yang bertemu denganku kemarin di Inn—itu siapa dong?" tanyaku penasaran.

"Laki-laki bertopi biru dan tinggal di rumahku?" Ann mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba mengingat identitas orang yang ciri-cirinya kusebutkan barusan.

"Dia Gray!" sahut Popuri dengan semangat.

"Gray?" aku mengulangi namanya.

"Iya, Gray! Aku baru ingat, dia kan satu-satunya orang yang bertopi biru di desa ini," Ann memperjelas.

"Kalau bukan kakakmu, lalu kenapa dia tinggal di Inn? Apa dia tidak punya rumah? Apa pekerjaannya? Apa dia mahasiswa yang magang di desa ini?" aku langsung menjatuhi mereka berdua banyak pertanyaan sekaligus.

Kemudian Ann dan Popuri menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi. Mereka menjawabnya dengan bersahut-sahutan, seperti burung yang berkicau. Mereka saling melengkapi perkataan yang baru saja dilontarkan masing-masing. Aku mendengarkan penjelasan-penjelasan mereka tentang Gray dengan seksama. Penjelasan mereka panjang lebar, tapi aku tidak bosan mendengarkannya. Entah mengapa. Padahal biasanya aku paling malas mendengarkan penjelasan yang panjang.

Dari cerita mereka, aku menjadi tahu kalau Gray ternyata cucu dari seorang pandai besi yang bernama Saibara. Sebenarnya ia juga berasal dari kota—sama sepertiku, tapi beberapa tahun lalu ia pindah ke desa untuk tinggal bersama Saibara. Ia tinggal di Inn karena rumah Saibara tidak cukup tempat untuk Gray tinggal. Gray bekerja sebagai asisten kakeknya sebagai pandai besi, lebih tepatnya ia sedang dalam proses belajar untuk menjadi pandai besi yang sesungguhnya. Menarik juga latar belakangnya.

"Memangnya kenapa? Love at the first sight, ya?" selidik Ann setelah menjelaskan banyak hal. Matanya memicing, seakan ingin mengintrogasiku.

"Ti-tidak," aku cepat-cepat mengelak. "Bukan begitu."

"Lalu kenapa kau bertanya tentangnya?" selidik Popuri. "Sepertinya kau sangat ingin tahu tentangnya."

Aku menghela nafas sebentar. "Kemarin aku tidak sengaja menabraknya di jalan, itu pertama kali aku bertemu dengannya," jelasku. "Kemudian aku juga bertemu dengannya di restoran ayahmu, Ann," aku mengalihkan pandanganku ke arah Ann."

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Popuri dengan penasaran.

"Saat aku bertemu dengannya, ia selalu cepat-cepat menghindar," aku membuka ceritaku. Ann dan Popuri langsung menatapku serius. Aku melanjutkan ceritaku, "...bahkan ia tidak bertanya siapa namaku, padahal kami sudah dua kali bertemu. Sebenarnya aku juga ingin berkenalan dengannya—bukan bermaksud apa-apa, ini karena aku penduduk baru, jadi harus berkenalan dengan semua orang di desa. Tapi bagaimana bisa aku berkenalan dengannya kalau ia menghindar terus..."

"Begitulah Gray," Popuri merespon. "Ia memang menjadi tidak ramah sejak kejadian itu."

"Kejadian itu? Kejadian apa?" tanyaku penasaran.

"Ceritakan padanya, Ann," kata Popuri mengalihkan pandangannya pada Ann.

Ann menghela nafas. "Jadi begini," ia mulai bercerita. "Kira-kira setahun yang lalu, kekasih Gray meninggalkannya. Kekasihnya menikah dengan laki-laki lain. Sejak saat itu, Gray menjadi pendiam, dingin, dan tidak ramah. Padahal dulu ia adalah orang yang ceria, bersemangat, dan suka bercanda. Dulu—sebelum kejadian itu—ia adalah teman yang lumayan dekat denganku, ia sering bercerita tentang hubungannya dengan kekasihnya itu. Tapi sekarang ia menjadi tertutup denganku, ia tidak pernah bercerita lagi, bahkan menyapaku pun jarang. Kami seperti tidak pernah mengenal. Aku sudah mencoba untuk menjadi teman baiknya lagi, tapi sepertinya ia selalu menjaga jarak terhadapku. Ya sudah, aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Kukira ia ingin menyendiri terus menerus," jelas Ann panjang lebar.

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. "Begitu ya? Kasihan juga sih..."

Popuri mengangguk setuju. "Sepertinya ia terpukul karena kejadian itu."

"Itu sudah jelas, Popuri," komentar Ann.

Kemudian mata kedua gadis itu memandangku. Aku membalas tatapan mereka secara bergiliran.

"Ada apa? Kenapa memandangku seperti itu?" tanyaku bingung.

"Mungkin kau bisa saja membuat Gray menjadi lebih baik," kata Ann.

"Aku setuju," sahut Popuri. "Tapi terserah juga sih, itu pun kalau kau mau."

"Bagaimana bisa aku melakukannya? Bahkan aku belum mengenalnya," sanggahku.

"Kau bahkan belum mencobanya, Claire," tambah Popuri.

"Makanya, coba saja. Kalau kau lelah mencoba membuat Gray lebih baik, kau berhenti saja," Ann bersuara lagi.

"Ya, benar," sahut Popuri. Sepertinya Popuri adalah tipikal orang yang mudah setuju dengan pendapat orang lain.

"Baiklah, aku akan mencobanya."

~! #$%^&*()

Aku memasukkan rebung yang kudapatkan ke dalam ranselku. Sekarang aku berada di danau. Aku terus saja memikirkan perkataan Ann tadi.

'Mungkin kau bisa saja membuat Gray menjadi lebih baik,' perkataan Ann terngiang di telingaku.

Sungguh? Apakah aku bisa? Jujur aku ragu...

'Kau bahkan belum mencobanya, Claire,' kali ini kata-kata Popuri yang terngiang sebagai jawaban atas keraguanku.

Aduh! Apa yang aku pikirkan sih? Mengapa aku malah sibuk memikirkan keadaan Gray sih? Mengenalnya saja tidak, mengapa aku peduli? Padahal aku baru saja mau memulai kehidupanku di perkebunan.

Gray tampan...

Aku melamunkan wajah Gray saat mendongak melihatku di restoran kemarin.

PLAK!

Aku menampar pipiku sendiri. Apa yang aku pikirkan?! Ah, baru begini saja Gray sudah membuatku tidak fokus, apalagi nanti kalau Gray sudah dekat denganku? Fokus Claire, fokus!

Karena takut aku tenggelam bayangan wajah Gray di otakku lagi, aku langsung merogoh saku celanaku dan mengambil peta. Aku mengamati peta itu untuk menentukan ke mana tujuanku selanjutnya. Setelah menimbang-nimbang sejenak, kurasa aku akan pergi ke taman bunga yang ada di kaki Mother's Hill. Aku kan menyukai bunga!

Dari danau, aku berjalan melewati jembatan kecil yang mengantarkan kakiku untuk sampai di taman bunga. Kemudian aku belok kiri, dan sampailah aku di taman bunga! Bunga-bunga di sini sangat banyak. Taman ini tidak ada tempat duduk, tempat ini terlalu penuh dengan bunga. Ada bunga yang berwarna kuning cerah dan ada juga bunga mungil yang berwarna putih bersih. Bagusnya~

Eh, tunggu? Bukankah itu Gray? Laki-laki bertopi biru itu sedang duduk selonjor sambil bersandar kepada pohon. Ia menunduk sambil membawa sesuatu di tangannya. Seperti kemarin, melihat Gray rasanya aku tertarik untuk mendekatinya. Ia benar-benar seperti magnet dan aku adalah besi yang tertarik olehnya.

"Selamat pagi," sapaku pada Gray. Aku langsung menghempaskan bokongku untuk duduk di sampingnya.

Gray menoleh, sepertinya ia melihatku di balik topinya. Kemudian ia menatap lurus ke depan lagi. Sepertinya ia tidak begitu peduli dengan kehadiranku.

Aku tersenyum semanis yang aku bisa. "Sedang apa?" tanyaku, berbasa-basi.

Gray bergeser sedikit dari tempat duduknya. Dalam hati aku berdoa supaya ia jangan pergi untuk menghindar dariku lagi.

"Tidak ada," jawabnya singkat.

Aku memperhatikan apa yang dibawa oleh kedua tangannya. Ia membawa bunga yang dirangkai.

"Apa itu flower crown?" tanyaku lagi, aku tidak mau suasana disini menjadi hening. Makanya aku berusaha mendapatkan topik pembicaraan. Mungkin ini bisa berhasil untuk bisa berteman dengan Gray dan mendapatkan hatinya? Aduh, mendapatkan hatinya? Apa yang aku pikirkan, sih!

"Ini?" Gray mengangkat sedikit rangkaian bunganya yang berwarna kuning dan putih itu—seperti warna bunga yang tumbuh di taman ini. Sepertinya ia memetik bunga-bunga yang ada di taman dan merangkainya. "... sepertinya begitu." Lagi-lagi jawabannya begitu singkat.

"Bagusnya!" pujiku semangat.

Gray menoleh ke arahku, menatapku sebentar. Pipiku memanas, jangan-jangan pipiku sudah merah sekarang. Astaga, ia tampan sekali! Aku berharap waktu ini berhenti sejenak dan biarkan Gray menatapku seperti ini.

"Kau bisa memilikinya," kata Gray. "... kalau kau mau." Kemudian ia menyodorkan rangkaian bunga itu.

Apa? Sungguhan? Hadiah pertama dari Gray? Flower crown? Astaga! Tentu saja aku mau, Gray! Aku berteriak dalam hati.

"Sungguh? Ini untukku?" tanyaku memastikan.

Gray mengangguk singkat sebagai jawaban.

Aku menerima flower crown itu lalu tersenyum kepadanya, "Terima kasih banyak! Aku sangat menyukainya!"

Gray mengangguk singkat lagi sebagai isyarat ia mengatakan 'sama-sama'. Lagi-lagi ia menatap lurus ke depan setelahnya.

Aku memakai flower crown hand-made-by-Gray di atas kepalaku. Entah kebetulan atau apa, flower crown ini pas dengan lingkar kepalaku. Aku sangat menyukainya. Aku merasa aku seperti gadis-gadis beruntung yang menjadi One Less Lonely Girl pada konser Justin Bieber. Bedanya, sepertinya aku menjadi One Less Lonely Girl-nya Gray! Ah, senangnya! Aku tidak akan membuang flower crown ini, aku janji!

"Bagaimana? Apakah aku cocok memakai flower crown-mu?" aku meminta pendapat pada Gray.

Gray menoleh lagi ke arahku. Ia menarik topinya agak ke belakang supaya bisa melihatku dengan jelas. Aku juga menjadi bisa melihatnya lebih jelas lagi. Sekali lagi kukatakan, Gray tampan! Ia menatapku agak lama. Pipiku pasti sudah memerah sekarang, kali ini jantungku ikut-ikutan berdebar lebih cepat. Masa secepat ini aku jatuh cinta pada Gray?!

"Ya, kau cocok memakainya," jawab Gray sambil melemparkan senyumannya padaku. Senyumnya begitu manis, menghiasi wajah tampannya.

Tunggu, ia tersenyum? Ini bukan tampan lagi namanya, tapi ia supertampan bila tesenyum seperti ini! Kyaaaaaa! Aku menahan jeritan senangku sekarang. Aku merasa pipiku semakin panas melihat senyumannya. Aku meleleh!

"Hehehe, terima kasih!" jawabku tersenyum.

Gray mengangguk lagi masih dengan senyumannya. Tebak apa? Ia tidak mengalihkan pandangannya lagi ke depan. Ia masih memandangku! Thank God!

"Oh iya, kita sudah 3 kali bertemu dengan tidak sengaja kan? Tapi kita sama sekali belum berkenalan. Aku Claire, baru pindah kemarin dan aku akan mengurus perkebunan di desa ini," aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tanganku. Sebenarnya aku sudah tahu namanya lebih dulu, tapi tidak afdol rasanya kalau tidak ada peristiwa berkenalan antara aku dan Gray.

"Aku Gray," jawabnya singkat sambil menjabat tanganku. Ia melemparkan senyuman tipisnya kepadaku.

Tangan Gray besar dan ... hangat. Dokter? Di mana dokter? I think I've got a heart attack! Walaupun sebentar saja menjabat tangannya, aku bisa merasakan betapa hangatnya tangannya. Seandainya pribadinya bisa lebih hangat, sehangat tangannya.

"Senang mengenalmu, Gray," kataku sambil tersenyum.

"Aku juga," kata Gray.

"Kuharap kita bisa berteman baik," ucapku. Entah, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Gray terdiam sejenak. Apakah perkataanku salah? Ia terlihat berpikir. Apakah untuk mengatakan 'Ya, aku mau berteman denganmu' sesulit itu? Atau jangan-jangan untuk berteman denganku ia tidak berminat? Oh, tidak!

Aku menahan nafas menunggu jawabannya. Dan Gray akhirnya membuka mulutnya...

"Tentu."

To Be Continued...

Akhirnya chapter 2 selesai juga! Aku menikmati banget nulis chapter 2 ini... Apalagi pas bagian penjelasan tentang perubahan Gray yang disampaikan Ann dan bagian Graire di taman bunga :D

Terima kasih ainagihara dan Lily-Neko-Chan buat reviewnya! Aku tunggu juga kelanjutan fanfiction Blonde punya Ai-San! :D

Terima kasih juga buat yang udah follow fanfiction ini, aku seneng! :D

Oh, iya. Buat yang udah baca jangan lupa reviewnya ya, review sangat membantu untuk kelanjutan cerita ini. :)

Arigatou!