DUNIA BARU KITA

Namikaze Naruto, 1 Tahun.

"Ooooeeekk… Ooooeeek…" Suara cempreng tangis seorang bayi laki-laki memenuhi seluruh ruangan dalam rumah keluarga Namikaze.

"Cup. Cup. Jangan menangis lagi, Naruto." Laki-laki tampan berambut jigrak, Namikaze Minato, sibuk menimang-nimang anak laki-lakinya yang berusia 1 tahun itu dengan ekspresi putus asa. Sudah sejak 1 jam yang lalu anaknya tak mau berhenti menangis juga. Susu yang dipaksa masuk oleh Minato dimuntahkan begitu saja oleh bayi Naruto.

Minato tak punya ide lain untuk menenangkan tangis Naruto. Minato sudah berjalan mengelilingi seluruh ruangan dalam rumahnya hanya untuk menimang-nimang Naruto tanpa henti, berharap dapat menenangkan tangis anak laki-laki pertamanya itu. Tapi yang di dapatkan Minato hanyalah rasa kaku pada kedua tangannya karena bayi Naruto tetap tak mau berhenti menangis.

"Kenapa kau tak mau berhenti menangis, Nak?" Tanya Minato bingung.

"Bilang pada ayah apa yang kau mau. Ayah tak mengerti jika kau hanya menangis." Minato menatap dengan tatapan penuh harap agar Naruto sedikit saja mau mengerti kebingungannya.

"Oooeeekkk… Ooooeekk…" Tentu saja Naruto tak akan mengerti apa yang diucapkan Minato padanya.

"Ooooeeekk… Oooeeek…" Iris safir Minato membulat saat didengarnya suara tangis bayi perempuan dari lantai 2.

"Ya ampun, Naruto belum berhenti menangis, sekarang Hinata ikut menangis." Minato melangkah cepat menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar Hinata di lantai 2. Hari liburnya kali ini benar-benar sesuatu bagi Minato.

"Ada apa sayang, kenapa kau ikut menangis?" Minato menggendong Naruto dengan sebelah tangannya sementara tangannya yang lain sibuk menepuk-nepuk lembut bayi Hinata yang menangis dalam box bayinya.

"Apa tangisan kakakmu membangunkanmu, Hinata?" Tanya Minato.

"Oooeeekk… Ooeeek…" Hinata menangis semakin keras.

"Oooeeek… Oooeeek…" Naruto sepertinya tak mau kalah suara dari Hinata.

"Hahh…" Minato menghela nafas frustasi saat kedua anaknya terlibat dalam paduan suara tangis bayi yang memekakkan telinga.

"Tadaima…" Suara penuh semangat wanita dewasa dari arah pintu depan keluarga Namikaze membawa secercah harapan pada Minato.

"Okaeriii," Teriak Minato dari kamar kedua bayinya. Minato segera menidurkan Naruto disamping Hinata dalam box bayi Hinata.

"Kalian diamlah disini." Perintah Minato.

"Ayah akan segera membawakan ibu kalian." Minato berlari cepat untuk menjemput Kushina setelah sebelumnya yakin jika Hinata dan Naruto tertidur dalam posisi aman.

.

.

"Hahahahaha, kau benar-benar masih kikuk menjadi seorang ayah, Minato." Tawa mengejek Kushina yang masih saja belum mereda membuat Minato semakin tersipu malu.

"Mana aku tahu jika Naruto menangis karena popoknya sudah penuh, Kushina." Minato membela diri. Dibantunya Kushina yang sibuk mengelap ingus dan air mata Naruto yang membanjiri hampir seluruh wajah tan Naruto.

"Nah, Naruto. Ayo minum susu dulu. Kau pasti sangat lapar setelah ayahmu membuatmu menangis selama 1 jam." Goda Kushina pada Minato.

Kushina mengangkat tubuh kecil Naruto dalam gendongannya. Tangan kecil Naruto segera bermain-main dengan botol susunya, sementara mulut kecil Naruto tak mau berhenti menyedot susu dalam botolnya. Sikap manja Naruto pada Kushina benar-benar berbeda dengan sikapnya pada Minato.

"Kau membuatku terlihat jahat di depan Naruto, Kushina." Protes Minato. Kushina mendengus geli mendengar protes suaminya.

"Ayo, Hinata. Minum susumu juga." Minato mengikuti langkah Kushina mengangkat tubuh kecil Hinata dalam gendongannya. Bayi Hinata meminum susunya jauh lebih tenang daripada kakaknya. Iris amethyst Hinata menatap lurus pada iris safir Minato.

"Kau cantik sekali, sayang." Minato bermain dengan pipi gembul Hinata, sebuah senyuman hangat yang disunggingnya saat ini menambah ketampanan Minato dalam iris violet Kushina.

"Jadi sekarang Hinata lebih cantik daripada aku, Minato?" Kushina berpura-pura kesal mendengar pujian Minato pada gadis kecilnya.

"Haha, tentu saja tidak. Kau wanita paling cantik di dunia ini bagiku, Kushina." Minato tertawa renyah sementara Kushina lagi-lagi hanya bisa mendengus geli mendengar jawaban Minato.

"Dasar gombal." Tanggap Kushina.

"Kau tak malu di dengar dua anak kita, Minato?" Ejek Kushina.

"Loh, kenapa harus malu, memang seperti itu kenyataannya. Hahahahaha." Minato kembali tertawa renyah, membuat istrinya yang cantik tertular tawa Minato. Bahkan bayi Naruto dan bayi Hinata yang sibuk meminum susu dalam botol masing-masing ikut membuat sebaris senyum tipis seolah mengerti kebahagiaan yang dirasakan kedua orangtuanya saat ini.

oOo oOo oOo

Namikaze Naruto, 12 Tahun.

Tok. Tok. Tok.

Hinata kembali mengetuk pintu kamar Naruto untuk kesekian kalinya tanpa hasil. Tak kunjung mendapat jawaban dari pemilik kamar, membuat Hinata memutuskan untuk nekat melangkahkan kaki menuju kamar kedua orang tuanya saja. Malam ini rasanya Hinata tak ingin tidur sendirian. Mimpinya tentang hantu sadako membuatnya hanya bisa memejamkan mata lavendernya, tanpa bisa tertidur barang semenitpun karena pikirannya sibuk membuat bayangan-bayangan menakutkan tanpa seizin hatinya.

Kriieeet…

Baru beberapa langkah menjauhi pintu bercat jingga tersebut, Hinata segera memutar tubuhnya kembali. Suara pintu terbuka membawa secercah harapan bagi gadis indigo ini.

"Ada apa malam-malam begini, Hinata-chan?" Tanya pemilik kamar yang berdiri dengan suara sedikit serak dan ekspresi menahan kantuk.

"Maaf, Naruto-kun. Apa malam ini aku boleh tidur di kamarmu?" Tanya Hinata segera sebelum kakaknya itu kehilangan kembali kesadarannya.

Hinata tahu Naruto pasti sangat lelah karena hari ini ayah mereka mulai banyak mengajarkan bisnis pada Naruto dengan membawa Naruto berkeliling ke beberapa kantor cabang mereka, walau usia Naruto baru menginjak 12 tahun, tapi keadaan mendesak yang dirasakannya membuat Hinata tak punya pilihan lain.

"Aku baru saja bermimpi seram, dan aku takut tidur sendirian." Jelas Hinata kemudian.

"Hmm…" Naruto bergumam tak jelas.

"Masuklah, Hinata-chan." Perintah Naruto kemudian.

Naruto masuk kembali ke dalam kamarnya dengan langkah terhuyung menahan kantuk tanpa menunggu Hinata. Hinata harus menutup pintu kamar Naruto lebih dulu sebelum menyusul kakak kembarnya menuju ranjangnya. Sampai di ranjang Naruto, Naruto sudah kembali tertidur sangat lelap membuat Hinata merasa semakin tidak enak hati sudah membangunkan kakak kembarnya itu.

Hinata berjalan berputar ke sisi tempat tidur Naruto yang kosong, tempat Hinata biasa tidur jika dia takut tidur sendirian di kamarnya sejak setahun lalu. Disana masih ada boneka kodok kesayangan Hinata yang dihadiahkannya pada Naruto saat mereka berusia 6 tahun, saat Hinata harus pergi ke Amerika menemani neneknya selama kurang lebih 5 tahun lamanya. Hinata menarik selimut biru laut Naruto untuk menutupi tubuhnya, tak lupa dibenarkannya letak selimut Naruto yang hanya menutupi sebagian kecil tubuh Naruto.

.

.

'Aku tidak bisa tidur.' Gerutu Hinata dalam hati.

Setelah sekitar 15 menit berada di kamar Naruto, tak lantas membuat Hinata segera terlelap. Hampir setiap menit Hinata harus membolik-balik posisi tidurnya, sekedar mencari posisi yang nyaman, walau dengan gerakan sangat pelan agar tidur Naruto tak terganggu olehnya. Posisi terakhirnya sekarang tidur berhadapan dengan Naruto, hanya saja kepala biru Hinata sedikit lebih rendah daripada posisi kepala jabrik Naruto.

Sreeet…

Hinata membuka mata lavendernya cepat merasa kaget oleh sebuah tarikan tiba-tiba, yang membuat kepalanya menempel pada dada Naruto erat. Nafas Hinata tercekat mencium bau citrus yang seingat Hinata tak pernah hilang dari tubuh kakak kembarnya itu sejak mereka kecil, seoalah sudah menjadi bau maskulin Naruto.

"Tidurlah Hinata-chan." Gumam Naruto tanpa sedikitpun membuka mata langitnya.

Hinata tak mampu bergerak untuk beberapa saat walau hanya sekadar mengintip wajah Naruto. Tangan Naruto pada pingganggnya membuat tubuhnya terasa terkunci.

Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.

Blush!

Hinata merasakan wajahnya memanas. Entah kenapa malam ini Hinata merasakan hawa yang berbeda pada Naruto. Padahal apa yang dilakukan Naruto saat ini bukanlah yang pertama kali dilakukannya jika Hinata ingin memiliki teman untuk tidur.

Kakak kembarnya itu bahkan sering sekali mencium dan memeluk Hinata tanpa peringatan dengan alasan selalu gemas melihat wajah imut Hinata yang sering tersipu. Mungkin juga Naruto melakukannya karena Hinata sejak masih kecil cukup lama tinggal di Amerika, jadi Naruto merasakan rindu yang mendalam pada adik kembarnya itu. Untunglah tetap ada saat dimana Naruto menjaga jarak dengan Hinata seolah ingin melindunginya walau mereka berdua masih kecil.

Hinata memberanikan diri untuk menggerakkan tubuhnya dari kuncian tangan Naruto. Hinata mendongakkan kepala birunya untuk menatap wajah terlelap Naruto, dengan bertumpu pada dada Naruto, yang hanya sedikit lebih tinggi darinya.

Dengan bantuan sinar bulan yang menyusup dalam kamar Naruto, Hinata dapat melihat walaupun sedikit samar wajah tampan kakak kembarnya yang tertidur lelap itu. Nafas hangat Naruto yang menerpa wajah Hinata dan bunyi dengkuran halus Naruto yang tertangkap pendengaran Hinata, membuat rona merah semakin bertambah jelas tercipta di wajah ayu Hinata. Hinata tak tahu perasaan apa yang mendorongnya untuk bergerak mendekati wajah Naruto.

Cup.

Sebuah kecupan singkat di daratkan gadis kecil itu pada bibir Naruto, membuat suara dengkuran halus Naruto tak lagi terdengar untuk sementara waktu. Suara dengkuran halus Naruto kembali tendengar saat Hinata menarik bibirnya menjauh dari bibir Naruto.

'Naruto-kun, aku sayang padamu.' Batin Hinata.

Cukup lama Hinata mempertahankan posisinya untuk lebih lama menikmati wajah tampan Naruto. Entah mengapa Hinata merasa semakin dewasa semakin tak terlihat kemiripan antara dirinya dan Naruto. Apalagi sejak kembali ke Jepang satu tahun yang lalu, Hinata sering mendengar omongan orang tentang Hinata yang sebenarnya hanya seorang anak angkat jika dilihat dari ciri fisik keluarga Namikaze.

Pikiran Hinata beberapa waktu belakangan ini sukses teracuni oleh semua gosip yang di dengarnya. Surai biru gelapnya yang tak memiliki kemiripan dengan ayah ataupun ibunya seolah semakin menggoyangkan keyakinan Hinata akan statusnya dalam keluarga Namikaze. Namun tidak seperti Hinata, Naruto tak sedikitpun mau ambil pusing dengan omongan orang di luar sana.

"Apapun yang orang katakan tentang ketidakmiripan kita, kau tetap Namikaze Hinata. Kami semua sayang padamu, Hinata-chan." Hinata tersenyum tipis saat mengingat kembali bagaimana Naruto mencoba menghilangkan keraguan Hinata akan statusnya dalam keluarga Namikaze.

Hinata melingkarkan tangannya pada perut Naruto dan menyandarkan surai biru pendeknya pada dada Naruto.

'Mungkin rasa aneh ini sebagai hukuman karena aku menjauhimu, Naruto-kun.' Putus Hinata yang masih tak tahu arti dari perasaannya saat ini pada Naruto.

'Aku berjanji tak akan peduli lagi pada omongan orang yang meragukan statusku sebagai saudara kembarmu,dan sebagai anak ayah dan ibu. Aku janji aku akan bersikap seperti dulu lagi, Naruto-kun.' Hinata semakin menyamankan dirinya dalam kuncian tangan Naruto.

"Oyasuminasai, Naruto-kun." Lirih Hinata yang membuat sebaris senyum tipis di wajah ayunya.

Gerakan naik turun dada Naruto, kehangatan tubuh Naruto, suara dengkuran halus Naruto yang teratur, dan nafas hangat Naruto yang mengenai pucuk kepalanya, entah bagaimana menjadi sihir tersendiri bagi Hinata hingga dapat terlelap tidur hanya dalam hitungan waktu kurang dari 1 menit.

oOo oOo oOo

Namikaze Naruto, 14 Tahun

"Hmm…" Naruto menyandarkan dagunya pada kepala kursi yang dibalik hanya untuk mengawasi dua orang wanita yang sedari tadi sibuk mengacak-ngacak isi lemari Hinata.

"Haruskah kau mendandani adikku serumit itu hanya untuk bertemu dengan Uchiha, Ibu." Gerutu Naruto yang sedari tadi tak dianggap oleh dua wanita kesayangannya itu.

"Kami bahkan tak mengenal mereka!" Tambah Naruto.

"Jangan ikut campur urusan wanita, Naruto!" Kushina berkacak pinggang dengan galak pada Naruto yang sedari tadi tak henti-hentinya menggerutu.

"Hey! Ini urusanku! Dia adikku!" Naruto yang tak terima menegakkan kepalanya dan membalas tatapan menantang dari Kushina.

"Ibu, sudah." Hinata mencoba meredakan kekesalan Kushina. Kushina ganti menatap Hinata garang.

"Kau selalu saja lebih membela Naruto daripada ibu, Hinata!" Protes Kushina.

"Itu karena Hinata-chan lebih sayang padaku daripada kau, Ibu. Hahahahahaha." Naruto tertawa lebar membuat Hinata sedikit sweatdrop melihatnya.

Bletak.

"Ittai!" Naruto refleks mengelus-elus kepalanya yang terasa tumbuh sebuah benjolan akibat jitakan Kushina yang entah sejak kapan sudah berada di depan Naruto saja.

"Jangan pernah tertawa seperti itu di depan rekan kerja ayahmu, atau ibu akan menggantungmu!"Ancam Kushina.

"Kau kejam sekali padaku, Ibu!" Protes Naruto yang masih mengelus-elus kepala benjolnya dengan rambut jabrik kuningnya.

"Itu karena kau susah diatur! Tak bisakah kau bersikap sedikit lebih manis seperti adikmu?!" Keluh Kushina.

"Kalian ini saudara kembar, bagaimana bisa kalian tumbuh sangat berbeda?!" Hinata tersenyum tipis mendengar keluhan Kushina pada kakak kembarnya.

Hinata diam-diam selalu menyukai saat Minato ataupun Kushina membandingkan sifatnya dan Naruto dengan membawa-bawa kata "kembar". Hinata merasa seolah kedua orangtuanya ingin membantunya meneguhkan kembali statusnya sebagai anak kandung mereka dan statusnya sebagai saudara kembar Naruto yang sebenarnya.

"Ibu, ayah memanggilmu." Suara lembut Hinata memaksa Kushina memutar kepala merahnya.

"Eh, benarkah?" Tanya Kushina ragu.

"Ibu tidak mendengar suara ayahmu." Lanjut Kushina. Hinata mengangguk kepalanya pelan dengan sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya sebagai jawaban dari pertanyaan Kushina.

Kushina mengerutkan keningnya. Tak mungkin jika Hinata berani berbohong padanya. Tak seperti Naruto yang sedikit nakal, adik kembar Naruto itu sangat lembut dan selalu berkata jujur seperti ayahnya.

"Baiklah, Hinata. Ibu akan menemui ayahmu dulu." Putus Kushina untuk mempercayai anak perempuannya.

"Jangan kau rusak dandananmu. Mengerti?!" Ancam Kushina sesaat sebelum pergi meninggalkan Hinata berdua bersama Naruto, yang sudah tak lagi menggosok kepala benjolnya, di kamar Hinata.

"Daijobou, Naruto-kun?" Tanya Hinata yang segera mendekat pada Naruto yang masih duduk manis di kursi Hinata yang dibaliknya. Naruto menatap Hinata dengan mata langitnya yang hangat.

"Kau tak perlu berbohong untukku, Hinata-chan." Ucap Naruto dengan nada tak suka.

"Eh, aku tidak berbohong, Naruto-kun." Hinata membela diri.

"Aku memang mendengar ayah memanggil ibu." Jelas Hinata.

"Hountou?!" Tanya Naruto memastikan.

"Un." Hinata mengangguk mantap.

"Hahahahaha," Naruto lagi-lagi tak mengontrol tawanya.

"Syukurlah jika kau tak berbohong demi aku, Hinata-chan." Hinata mengulum sebaris senyum tipis.

.

.

Sudah hampir 1 jam lamanya Kushina masih belum kembali ke kamar Hinata. Sepertinya kedua orangtuanya membicarakan sesuatu yang penting di bawah sana. Naruto yang sudah mulai bosan menunggu, kini mulai bermain game dari ponselnya di atas ranjang Hinata. Sementara itu Hinata sendiri sibuk merapikan bajunya yang berserakan hampir di seluruh kamarnya karena kegalauan Kushina memilih baju yang cocok untuk dipakai Hinata malam ini.

"Kuso! Aku kalah lagi!" Teriakan Naruto yang begitu tiba-tiba membuat Hinata terlonjak kaget.

"Arggh! Sial! Aku tak bisa mengalahkan Akira di level ini!" Naruto sibuk mengumpat tanpa tahu jika teriakannya sudah mengagetkan adik kembarnya. Hinata menggelengkan kepala birunya heran melihat sikap kekanakan kakak kembarnya sembari melanjutkan kegiatannya membereskan kamar.

"Hahh… Akhirnya selesai juga." Hinata mendudukkan tubuhnya yang terasa lelah di ujung ranjang. Naruto menggulirkan iris safirnya untuk mengawasi adik kembarnya yang sibuk mengelap keringat di dahinya, dalam diam.

"Kau tak sadar, Naruto? Adikmu itu cantik sekali."

Tanpa perintah, ingatan Naruto akan percakapannya siang tadi di kantin sekolah bersama Akira terngiang kembali. Dimana Naruto hanya diam mendengarkan bagaimana Akira bercerita penuh antusias.

"Hinata memiliki mata amethys yang sangat indah."

'Baiklah, jangan salahkan aku tak pernah sadar jika Hinata memiliki mata yang terlihat sangat indah. Aku sudah terlalu terbiasa melihatnya setiap hari.' Batin Naruto dalam hati sambil tetap terpaku pada Hinata yang mulai berjalan mengambil kipas angin.

"Apalagi sikapnya yang sangat lemah lembut dan kepandaiannya dalam hampir segala keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang wanita, menjadikan Hinata gadis paling diincar di sekolah kita, Naruto!"

'Dari kecil Hinata memang seorang gadis yang lemah lembut. Sikap lembutnya itu mungkin turunan dari ayah. Aku yakin kepintarannya juga turunan dari ayah' Naruto tenggelam semakin jauh dalam lamunannya.

"Tak ada laki-laki yang tak menginginkannya."

"Kau laki-laki paling tidak beruntung di dunia ini karena menjadi kakak kembarnya. Hahahaha."

'Hey, tak mungkin bukan aku termasuk laki-laki yang menginginkannya?' Kening Naruto berkerut menyadari lamunannya yang sepertinya mulai terasa tak wajar untuk seorang kakak.

Baiklah, Naruto sadar sejak awal dia mengawasi Hinata dalam diam, ada yang salah dengan mata langitnya yang tak bisa lepas dari Hinata. Entah mengapa saat ini Hinata terlihat begitu cantik dengan surai biru gelap pendek yang berterbangan dipermainkan angin yang tercipta oleh kipas angin Hinata.

Hinata yang tak sadar diperhatikan Naruto asyik sendiri bermain-main dengan kipas anginnya. Entah itu menggerakkan kepala birunya kesamping kanan dan kiri sebagai refleks dia bersenandung kecil di depan kipas angin yang membuyarkan fokus suaranya, atau terkadang mendengus geli dengan sendirinya entah apa yang sedang difikirkannya.

Blush!

Naruto benar-benar sadar jika dirinya semakin terjerat oleh rona merah yang memang sangat mudah bergelanyut manja pada kulit porselen adik kembarnya itu. Naruto tahu ini sudah tidak wajar lagi dalam hubungan antar saudara kembar, namun Naruto berani bersumpah tak punya niat sedikitpun untuk tersipu dengan kecantikan Hinata.

"Naruto!" Iris safir Naruto terbelalak saat suara Kushina berdengung dalam pendengarannya. Diputarnya kepala jabriknya cepat menatap Kushina.

"Ya, Bu?" Jawab Naruto segera masih di tengah rasa kagetnya.

"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Kushina dengan tatapan penuh curiga melihat anak laki-lakinya mengawasi adik kembarnya sendiri dengan wajah tersipu.

"Eh, aku tidak melamunkan apa-apa, Ibu. Sung-guh!" Naruto sedikit salah tingkah merasa takut jika ibunya sadar dia sedang melamunkan adiknya sendiri.

'Sial! Apa yang aku pikirkan tentang adikku sendiri?!' Umpat Naruto dalam hati.

"Hahh…" Kushina menghela nafas berat.

"Baiklah. Pergi ke kamarmu dan bersiap-siaplah. 30 menit lagi kita akan berangkat ke rumah keluarga Uchiha." Kushina memutuskan untuk tak memperpanjang urusan ini.

"Baik, Ibu." Tanpa berfikir 2 kali, Naruto melompat turun dari atas ranjang Hinata dan berlari keluar kamar Hinata bahkan tanpa melirik adik kembarnya yang menatapnya bingung.

"Hinata." Kushina segera memanggil Hinata agar tak ikut melamunkan Naruto.

"Iya, Ibu." Jawab Hinata dengan suara lembut.

"Sudah ibu bilang jangan merusak dandananmu, bukan?" Tanya Kushina lembut.

"Lihat, kita harus mengulangnya lagi dari awal sekarang." Tambah Kushina yang segera mengambil posisi duduk disamping Hinata.

"Maaf, Ibu. Aku tak sengaja." Hinata tersenyum ceria kepada Kushina karena merasa sangat bahagia setiap kali Kushina menunjukkan rasa sayangnya sebagai seorang ibu kepada Hinata.

Kushina menatap Hinata dengan tatapan sendu tanpa sepengetahuan Hinata.

Melihat bagaimana Hinata bersenandung kecil dengan wajah merona bahagia membuat perasaan Kushina terusik oleh rasa bersalahnya karena menyembunyikan rahasia besar dari Naruto dan Hinata.

'Maafkan ibu, Hinata.'

"Ibu, apa benar Uchiha Sasuke sangat tampan seperti yang kau ceritakan?" Pertanyaan Hinata memecah lamunan Kushina.

"Un. Dia tampan sekali, Hinata." Jawab Kushina yang cepat-cepat menyungging senyum.

"Ibu punya foto Sasuke di hp ibu. Kau mau lihat, Hinata?" Tawar Kushina yang mulai sibuk menyisir surai biru pendek Hinata yang sedikit rengket oleh angin dari kipas angin yang sekarang sudah dimatikan Kushina.

"Tidak, Ibu." Tolak Hinata cepat.

"A-aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Tambah Hinata dengan tatapan tak fokus.

"Jadi, dari tadi anak ibu tak melepaskan senyumnya karena melamunkan Sasuke?" Goda Kushina kemudian.

"Tidak, Ibu. Aku tidak melamunkan Uchiha Sasuke." Sanggah Hinata cepat dengan sedikit salah tingkah.

"Hihihi," Kushina terkikik geli melihat bagaimana Hinata salah tingkah.

"Kau tak bisa membohongi ibumu sendiri, Hinata."

"Kau menyukai Sasuke bahkan sebelum mengenalnya?"

"Wah, ini pasti yang namanya suratan takdir, Hinata." Kushina tak memberi kesempatan Hinata untuk membela diri.

"A-aku tak pernah bilang aku menyukai Uchiha Sasuke, Ibu!" Protes Hinata.

"Haha. Kau tak perlu merasa malu pada ibumu sendiri, Hinata." Kushina masih keukeu dengan pikirannya jika Hinata tertarik dengan putra bungsu Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku yang memang memiliki wajah diatas rata-rata itu.

"Ibu! Jangan menggodaku!" Protes Hinata dengan wajah merona malu.

oOo TBC oOo

Alhamdulillah udah bisa update chapter 2.

Hehe.

Yosh, minna-san, langsung saja Cand mau kirim-kirim salam buat :

You-san : "Wehehehehe, ohayou, Yu-san. Boleh mulai sekarang Cand panggilnya Yu saja? :p Cand paling suka baca review Yu yang panjang dan detail. Yu benar-benar tahu apa yang Cand mau. Haha. Oya, Yu. Cand penasaran sama review Yu di bakteri cinta tentang Yu jadi benci Naruto-kun. Kok bisa fic Cand buat Yu suka Naruto-ku lagi? Cand bahkan gak memuji tinggi-tinggi Naruto-kun lebih dari chara lain padahal. Yosh kebanyakan kayaknya balesan Cand, ditunggu review tiap Chap ya "

Hqhq-san : "Ini sudah Naruhina, hqhq-san :D Ditunggu review buat Chap ini ya "