Chapter 2

Terlihat sesosok pemuda sedang berjalan dengan menggandeng tangan seorang gadis. Pemuda itu adalah Uchiha Sasuke dan gadis yang digandengnya adalah Haruno Sakura pacarnya. Mereka menapaki jalan menurun dengan perlahan.

"Jangan macam-macam." Sasuke bicara dengan nada datar sambil tetap menatap lurus ke depan.

"Ha?" Sakura menoleh kebingungan dengan perkataan kekasihnya.

"Si Sabaku itu." Jawab Sasuke datar

"Oh, tentu saja tidak Sasuke-kun, aku kan sudah punya kamu, jangan berburuk sangka seperti itu, kau tidak percaya kepadaku?"

"Bukannya tidak percaya, aku hanya takut kehilanganmu. Aku malas mengakuinya, tapi si rambut merah itu –ehm tampan, apalagi dia tadi yang membuat Suna menang, siapa tahu kau tertarik dengan kharismanya."

Sakura sedikit terkejut dengan penuturan panjang lebar kekasihnya, tak biasanya Sasuke bicara sepanjang jalan raya Anyer-Panarukan.

"Kau cemburu ya, tenang saja, aku tidak akan selingkuh kok, hebat dan tampan saja tidak cukup untuk membuatku menyukainya, karena di hatiku hanya ada kamu." Sakura tersenyum sambil melihat ke arah kekasihnya.

"Awas saja, kalau selingkuh aku patahkan kakimu."

"Iya, iya Sasuke-kun." Sakura menjawab sambil tertawa kecil.

"Hn."

Sakura's POV

Sasuke-kun mengantarkanku sampai di depan rumah, aku menyuruhnya masuk dan mengajaknya makan malam bersamaku dan keluargaku.

Hari ini sikap overnya muncul lagi, dia cemburu, padahal kan aku tidak berbuat apa-apa. Dan lagi aku bicaranya sama Sabaku Kankuro bukan sama Sabaku Gaara.

Dia selalu over, aku dan dia satu kelas, kalau di pikir-pikir aku kemana-mana selalu sama dia, dia tidak pernah membiarkan aku bicara dengan lawan jenis kalau tidak ada dia di sampingku bahkan jika hendak menemui Kakashi-sensei pun dia harus ikut.

Tapi jujur saja, memang benar yang di katakan Sasuke, Gaara itu tampan dan berkharisma sama dengan Sasuke.

Tapi tentu saja aku tidak boleh selingkuh, dan aku tidak mau selingkuh, tidak mau.

Sudahlah, aku tidak mau memikirkan hal yang kurang penting, sebaiknya aku cepat-cepat menyelesaikan PRku dan langsung tidur.

Sasuke's POV

Aku masih kepikiran sama pemuda Sabaku itu, aku tahu Sakura tidak bohong kalau dia tidak suka dengan Sabaku. Tapi tetap saja feelingku tidak enak, perasaan manusia bisa berubah sewaktu-waktu, bagaimana kalau pada akhirnya dia sampai berpaling dariku?. Pokoknya aku tidak bisa membiarkan itu,aku harus mempertahankan cintaku.

Lagipula Gaara tidak satu sekolah dengan kami, jadi aku pikir itu aman-aman saja. Aku tidak akan membiarkan Sakura bertemu lagi dengan pemuda Sabaku itu.

Aku masih ingat dulu, cara Sakura memandangi Gaara sepertinya dulu Sakura menyukai Gaara. Tapi kenapa sekarang Sakura seperti tidak tahu Gaara?.

Ya mungkin memang Sakura lupa karena waktu itu usianya 5 tahun, mungkin dia kira itu hanya mimpi, tapi bagiku aku ingat jelas waktu itu, dan aku tidak akan pernah melupakannya.

Gaara's POV

Sesampainya di rumah, kakak-kakakku masih saja menggosip yang bukan-bukan. Malas mendengarkannya akhirnya aku memutuskan untuk ke kamar meninggalkan kakak-kakak yang menggosip tentangku di depan TV.

"Gaara-koi, kau mau kemana? Ini kan sedang mendiskusikan hal seru." Entah kenapa perkataan Temarinee itu terasa sangat menyebalkan buatku.

"Apa kau tidak mau menghubungi Sakura?, mumpung aku memiliki nomor ponselnya?" Seringai jahil menghiasai wajah Kankuronii. Yaampun bahkan Kankuronii pun mulai berani menggodaku. Perempatan mulai muncul di dahiku, aku kesal digoda tapi aku harus tetap mempertahankan tampang stoicku.

"Ck." Aku hanya mendecih tak nyaman dan segera meninggalkan mereka tak mau aku berlama-lama di sini, muka stoicku sudah mulai goyah.

"Haha. Mukanya itu lucu sekali, jangan mengambek begitu Gaara." Sambil berjalan menaiki tangga aku masih bisa mendengar suara Kankuronii.

Aku sudah berada di depan kamar, mau melangkahkan kaki masuk, tapi sesaat kemudian.

"GAARA!, KAMU MAU NOMOR PONSELNYA SAKURA TIDAK? KALAU TIDAK MAU AKU HAPUS NIH!." Temarinee teriak-teriak dari bawah. Aku mendengarnya jelas sekali, tapi aku diam berpikir sejenak.

"GAARA! DIHAPUS TIDAK?! AKU HITUNG SAMPAI TIGA YA!". Ih, usil sekali sih Temarinee ini, aku masih bingung kalau pun aku tahu nomornya Sakura terus nomor itu mau di apakan?

"SAATTUUU!" aku bingung, minta nomornya tidak ya?

"DUUUAAAA!" aku semakin gugup, jujur saja aku sangat ingin menelpon Sakura sebenarnya.

"TIIIGGG-"

"JAANGAANN!" aku langsung berteriak sekeras mungkin dan langsung berlari ke bawah. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa dan kemudian terpeleset di anak tangga terakhir.

BBUUAAGGHH.

"HHWWAHAHAHAAHAHA." Kedua saudaraku itu tertawa bersamaan,menyebalkan sekali.

"HAHAHA!GAARA kau lucu sekali!" Kankuronii tertawa terbahak-bahak.

Sip, aku jatuh dengan posisi tidak elit.

"HAHAHAAAHHAA, Seharusnya kau lihat mukamu sendiri saat ini Gaara, benar-benar lucu, kau itu seperti bukan Gaara, sangat tidak keren sekali." Temarinee tertawa tak kalah kerasnya dan tak kalah menjengkelkannya.

Kurang ajar, aku dikerjain. Aku seperti bukan aku, berlarian sambil berteriak, melakukan tindakan ceroboh yang membuatku jatuh dan tampak konyol, yaampun Gaara apa yang merasukimu? Sakura, apa yang sudah kau lakukan padaku?

"Mana nomor ponselnya?"

"Memangnya mau kau apakan nomornya? Menelponnya? Ne.. Gaara-koi sekarang sudah berani menelpon seorang gadis ternyata." Lagi-lagi di goda Temarinee, ingin rasanya aku pergi dari situasi yang menjengkelkan seperti ini.

"Nomormu akan aku kirimkan ke ponselmu." Sahut Kankuronii.

"Hn."

"Kau tidak berterima kasih?" Temarinii cerewet lagi.

"Arigatou." Kataku sedatar mungkin.

"Douitamashita, Oh, ya ngomong-ngomong soal Sakura, aku baru ingat kalo Sakura itu kan anak kecil yang waktu itu tersesat Konoha Amusement Park." Temarinee memulai pembicaraan lagi.

"Ehm, tapi bisa saja kan warna rambutnya saja yang sama?" kata Kankuronii.

"Tapi aku yakin itu Sakura, soalnya aku tidak pernah melihat gadis berambut seperti itu selain Sakura."

"Ehm? Amusement Park apa?" Tanyaku bingung, mereka ini ngomong apa sih?

"Itu lho Gaara, waktu kamu membawa anak pink, kamu bilang dia terpisah dari orang tuanya, dan kita membantu mencari orang tuanya sama-sama." Aku mencoba mengingat sesuatu, dan sekelebat bayangan ingatan mulai muncul.

Aku tetap memasang tampang bingung.

"Yah, ternyata kau tidak ingat ya, waktu kau berumur 5 tahun itu lho, pas ulang tahunnya Kaa-san."

"Dia terus menangis sambil memegang tanganmu, kau bahkan memberikan boneka pandamu untuk dia."

"Hn." Aku ingat sekarang, pantas boneka pandaku tidak ada, rasanya aku dulu pernah punya boneka panda.

"Oh ya, waktu festival kembang api beberapa tahun yang lalu kan Gaara juga bertemu dengan seorang gadis pink yang lagi tersesat. Ya kan Gaara?" Kalau yang ini aku benar-benar ingat seratus persen.

"Hn"

"Itu Sakura?" tanya mereka, hebatnya dengan bersamaan.

"Hn."

"Jadi kamu suka Sakura sudah dari dulu ya?"

"Hn."

"Wah, kau sweet sekali Gaara-koi, cinta monyet ternyata." Bisa tidak sih Temarinee tidak mengatakan itu sambil senyum-senyum.

"Aku bukan monyet." Dan aku langsung pergi ke kamarku yang nyaman lagi.

Ketika sampai di kamar, ponselku berbunyi menandakan Kankuronii sudah mengirim nomor Sakura. Aku memandangi ponselku, lebih tepatnya memandangi nomor Sakura. Ketika memikirkan Sakura aku jadi teringat dengan memori samar-samar ketika aku berumur 5 tahun dan memori festival kembang api ketika aku kelas 1 SMP.

Flash Back on

"Gaara-koi, kalau jalan cepat sedikit, nanti kami tinggal lho..." Temarinee ceramah, aku memang sengaja berjalan pelan. Aku sangat risih di sini, aku tidak suka keramaian.

"Kalian di sini saja, aku mau pulang sendiri." Jawabku dengan datar sambil berpaling pergi menjauhi mereka.

"Gaara.." Kankuronii bicara.

"Gaara, jangan begitu kita sudah lama tidak keluar sama-sama." Temarinee menarik tanganku untuk menahan langkahku tapi aku langsung menyentakkan tangannya.

Mereka hanya pasrah melihatku berjalan menjauh.

Di pinggir-pinggir aku lihat banyak penjual makanan, aku sebenarnya lapar jadi aku putuskan untuk melihat-lihat makan sebentar.

Aku mencoba berjalan ke stan-stan makanan itu, tapi terlalu ramai aku jadi malas harus antri dulu. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja. Tapi tiba-tiba ada yang menarik tanganku.

Aku tersentak dan ketika aku lihat, ternyata itu seorang berambut pink. Tapi siapa dia? Aku tidak pernah mengenalnya, tapi aku biarkan dia menyeretku karena melihat rambut pinknya aku merasa seperti de javu.

Aku seperti pernah berjalan dengan gadis berambut pink ini ketika aku masih sangat kecil dulu.

Dia menarikku dengan kuat membawaku jalan entah kemana tanpa menoleh ke belakang sama sekali.

"Sasu, kita ke mana enaknya." Dia tersenyum sambil menoleh kebelakang.

"Kya! Kau siapa?" Dia langsung menghempaskan tanganku yang tadi di pegangnya erat-erat dan di menunjuk-nunjuk kearahku.

"Kau yang siapa? Kenapa tiba-tiba menyeretku."

Dia berpikir sebentar dan akhirnya menjawab dengan muka merah. "Ne, kalau begitu aku minta maaf, aku kira tadi kamu temanku." Dia minta maaf sambil ketawa-ketawa garing.

"Hn." Aku langsung berbalik dan hendak pergi. Tapi..

Ada tangan yang menarik lengan (baju untuk festival, apa namae?). Aku menoleh sambil mengernyitkan alisku yang tak beralis.

"Aku buta arah, bisa temani aku supaya tidak tersesat?" Yaampun, gadis ini merepotkan sekali sih.

"Ayo aku tunjukkan jalan keluarnya."

"Masak mau pulang sekarang sebelum pertunjukan kembang api? Aku ingin melihat kembang api."

'Well, itu urusanmu' aku ingin berkata seperti itu tapi aku tidak tega.

"Lantas maumu apa?" aku menanyainya dengan nada sangat datar.

Dia menggigiti bibir bawahnya lalu berkata. "Bagaimana kalau kita ke stan takoyaki?"

"Aku tidak la—KKRRUUYYUKK—par..." Aku malu seketika, benar-benar menghancurkan image coolku.

"Pppfftt.." Dia hendak tertawa, tapi aku melotot –ya walaupun tidak lebar. Dia sepertinya mengerti kalau aku tidak suka di tertawakan.

Kami menuju ke stan takoyaki, setelah mendapatkan takoyaki. Niatku sih makan dengan tenang.

"Namamu siapa?"

"Bukan urusanmu."

"Hmmm." Dia mendengus.

"Jutek banget sih, ganteng-ganteng jutek nyebelin banget sih, dandanannya aneh pula, masak cowok pake eyeliner dasar aneh bin nyebelin." Dia menggerutu pada dirinya sendiri tapi dengan keras sekali sampai-sampai kau bisa mendengarnya.

"Aku bisa mendengarmu." Dia kelihatan gugup ketika aku mengatakan itu.

"hah., ah.., mendengar apa? Haha, aku tidak bicara apa-apa Haha." Lagi-lagi dia tertawa garing.

"Hn."

"Terima kasih ya, sudah mau menolongku." Dia tersenyum tulus dan senyumnya itu benar-benar manis. Melihat senyumnya entah mengapa aku juga ikut tersenyum-walapun sedikit.

Aku bisa melihat mukanya yang memerah ketika melihatku membalas senyumnya.

Aku bisa melihat dia kelihatan sangat gugup sekarang.

"Ah a-aa-a-ano, namaku Ha-aru-no Sa-a—aku-ura." Dia kenapa? Kenapa tiba-tiba gugup begitu, aku benar-benar tidak mengerti.

Dia diam sejenak, menghabiskan takoyakinya yang tinggal sedikit. Kalau punyaku sih sudah habis dari tadi.

"Namamu siapa?" dia bertanya sambil menunduk. Kenapa sih anak ini?

Aku hendak menajwabnya, namun..

"Sakura!" terdengar suara memanggil namanya, kami berdua langsung menoleh ke belakang dan aku mendapati seorang pemuda sebaya denganku sedang menatap ke arah gadis itu cemas.

"SASUKE-KUN!" dia langsung menghampiri pemuda itu. Dia kelihatan senang sekali dan langsung menyambar lengan pemuda itu.

"Sasuke-kun, aku tadi tersesat tapi untung ada dia." Sambil mengarahkan jari telunjuknya kearahku.

Pemuda itu memandangi dengan tatapan tajam, ku balas juga tatapan itu dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.

"Kalian kok malah pasang tampang horor gitu sih. Eh iya aku belum tahu namamu, namamu siapa?" Dia memandangiku sambil tersenyum.

"Sabaku Gaara" dan ketika aku mengatakan itu terdengar suara anak menangis kencang sekali sehingga suaraku tertelan oleh suara tangis itu.

"Hah? Maaf aku tidak dengar.." Dia menyuruhku mengulang.

"Sudahlah, ayo pergi Sakura." Dan sebelum aku menjawab, pemuda menyebalkan itu sudah menyeret Sakura menjauh dariku. Dasar pemuda menyebalkan.

Tapi setelah bertemu Sakura, perasaanku jadi sedikit lebih baik. Rasa sakit setelah kematian Kaa-san sedikit berkurang. Aku senang jika membayangkan senyum Sakura.

"Gadis itu siapa?" tiba-tiba Temarinee muncul.

"Bukan siapa-siapa."

"Kenapa kau tadi bersamanya?" Kankuronii kali ini yang kepo.

"Dia tersesat."

"Oh." Mereka berdua ber'oh' ria secara serempak.

"Ayo keliling lagi, aku ingin melihat kembang api." Tiba-tiba saja aku ingin mengatakan itu. Dan aku sedikit menyunggingkan senyum.

Kedua kakakku langsung terpanah dan ikut tersenyum. Sejak saat itu aku jadi tidak sekasar dulu dengan kakak.

Flash Back off

End of Gaara's POV

TO BE CONTINUED