[20/50]
11. Matahari
Setiap Luka menatap bola mata Yuuma, ia selalu diingatkan kepada pijar mentari. Ada hangat dan cerah tertuang.
12. Malam
Dua cangkir teh menemani mereka menumpas waktu di balkon rumah lantai dua. Bulan purnama berpijar terang.
13. Kenapa
Yuuma mengenali sepasang keping biru langit itu walau dalam keadaan berbeda. Sorot penuh semangat dan ambisius telah berubah menjadi tatap skeptis penuh curiga dan defensif. Gerak kerlingnya tetap awas dan kritis, namun dalam kesan memandang musuh. Yuuma menelan ludah pahit. Kenapa, kenapa, kenapa? Apa yang menimpa Luka hingga gadis itu mengalami transformasi diri yang signifikan? Bahkan kilau-kilau impian yang selalu bertabur kini raib tanpa jejak, meninggalkan corak kosong.
Kenapa?
14. Kunci
Sebelum pergi, Yuuma menitipkan kunci kamar apartemennya pada Luka. Dulu—itu sudah lama sekali. Tiga tahun berlalu dan Yuuma belum juga kembali dari perjalanan panjangnya. Sejumlah rekannya bilang, mungkin Yuuma tidak akan kembali.
Akan tetapi, Luka menolak pernyataan tersebut. Mengamati lekat-lekat kunci apartemen Yuuma, dia putuskan percaya Yuuma pasti pulang. Suatu hari nanti.
15. Hampa
Hampa adalah ketika kau tak mengacuhkanku
Hampa adalah kau yang meninggalkanku
Hampa adalah saat kauanggap aku butiran debu
Hampa adalah bernapas tanpamu
Hampa, oh hampa
Sungguh hampa adalah—
"… Yuuma, puisimu alay."
16. Mungkin
Mungkin, dunia bisa runtuh melihat kecantikanmu
Mungkin, malaikat akan mendelik iri
Mungkin, iblis 'kan bertepuk lutut
Mungkin, kau terlalu jelita
Terlalu rupawan untuk dunia
Lalu, mengapa tak kau kemari saja
Bersamaku, yang takkan memalingkan muka
Walau sesilau apa keindahanmu
Mungkin, suatu saat—
"… Yuuma dibilang puisimu alay. Gagal puitis."
17. Pencuri
Luka, kau adalah pencuri
Pencuri hatiku
Yang nomor satu
Ooh~ you thief me heart~
Is it feel so romantis I can't hides—
"—DIBILANG BERAPA KALI PUISIMU ALAY TAHU! Lagian grammar-nya juga salah!"
18. Dingin
—"Syair ini kubuat susah-payah demi kamu, Luka, jangan terlalu dingin begitu, dong …"
Yuuma berakhir tersangkut di tiang telepon.
19. Hancur
Betapa kokoro Yuuma sungguh potek akan ketegaan Megurine Luka terhadap perasaan cintanya yang menggebu-gebu.
20. Diam
"Lho, Yum, kok tumben diem-dieman gitu? Nggak ngegombalin Luka lagi?"
Yuuma menatap Oliver dengan mata berkaca-kaca. "Gue kapok diteriakin hantu telepon gembel sama anak kecil, Liv."
hahau maaf besok prompt serius deh #plok
