My Baka Kouhai

Inspiration By: Nisa's Baka Kouhai

NARUTO © Masashi Kishimoto

My Baka Kouhai © anak v.s bunda

Baka Kouhai © Oke, baka kouhai milik Nisa –dibakar-

Warning : Sedikit OOC, AU.

A/N :

Para senior : Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata, Rock Lee, Inuzuka Kiba, Tenten, Aburame Shino.

Para junior : Uzumaki Naruto, Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino, Nara Shikamaru, Akimichi Chouji

-

Hinata masih terlelap di tempat tidurnya ketika jam beker mungilnya berbunyi. Mendengar suara berisik-yang-tak-mengenakkan-telinga itu, Hinata akhirnya terbangun dari tidur lelap.

Ia menggeliat sebentar, "HOAAHM…" Hinata lalu membuka jendela kamarnya. Ia mengerjapkan mata begitu melihat sinar mentari yang terasa hangat di pagi yang dingin ini, membiasakan diri.

"Selamat pagi, dunia…," gumamnya masih dengan suara lemas. Ia lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Mandi ala kadarnya, berpakaian dan menyiapkan sarapan untuk Hanabi.

"Nee-chan…," panggil Hanabi yang masih kelihatan setengah tidur. Ia menguap sambil menggosok-gosok matanya yang berair.

Hinata menoleh dari kegiatannya memotong sayuran dan menyahut, "Ya?"

Hanabi menelengkan kepalanya, tampaknya ia masih belum sadar betul meski sudah berusaha, "Nee-chan bisa mengantar Hanabi ke sekolah pagi ini?" tanyanya.

Hinata melirik jam dinding yang terletak di dapur rumahnya, sebelum kemudian mengangguk mengiyakan.

-

"Pulang sekolah, jangan main kemana-mana, ya… Langsung pulang." Hinata berujar lembut pada Hanabi sesampainya mereka di sekolah adiknya tersebut.

"Hu'um," jawab Hanabi ogah-ogahan.

Ia baru akan melambai pada Hinata ketika tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang memekakkan telinga, "HINA-CHAN!!" Seseorang berambut kuning tampak berlari tergesa menuju Hinata.

Orang yang sudah membuat Hinata tidak makan kemarin malam. Orang yang membuat Hinata pusing karena semua pemikiran memenuhi otaknya. Orang yang sudah membuatnya meragukan diri sendiri…

Ya, orang itu tidak lain-tidak bukan adalah Naruto.

"H-hai.." sapa Naruto canggung begitu sampai di hadapan Hinata yang membeku.

Hinata berusaha menekan segala ucapan yang memaksa ingin keluar. Dengan sedikit nada sinis terselip, ia kemudian berkata lirih, "A.. a.. apa yang kaulakukan disini?"

Naruto menatap mata lavender Hinata. Ekspresi wajahnya tak terbaca, namun setiap orang tahu dia pasti sedang merasa gugup. "Aku…mm, mengantar Konohamaru. Ternyata Konohamaru dan Hanabi itu satu sekolah ya?" kata Naruto setelah berhasil menguasai kegugupannya. Ia lantas mengusap rambut Hanabi seraya nyengir lebar pada adik Hinata itu.

Spontan Hinata menepis tangan Naruto dari adiknya, "Jauhkan tanganmu dari adikku!!" bentaknya sambil menarik Hanabi menjauh dari Naruto. Seakan berusaha melindungi Hanabi dari seorang gembong perampok.

"Hina-chan masih marah soal kemarin?" tanya Naruto seraya mengerutkan alisnya.

Hinata menggigit bibirnya, tampak ragu sejenak sebelum berkata, "Jangan panggil aku dengan panggilan seperti itu!!" ujarnya lalu berbalik pergi meninggalkan Naruto seraya menggandeng Hanabi bersamanya.

Naruto sedikit membelalak saat menyadari Hinata sudah berlari menjauh, "Hina-chan!! Tunggu!!" teriaknya berusaha memanggil kakak kelasnya itu. Namun Hinata tak mendengar (atau pura-pura tak mendengar) panggilannya. Naruto mendesah pasrah. Kepalanya ditundukkan menghadap tanah yang ia pijak.

Sementara itu, Hinata terus berlari menjauh dari Naruto. Perlahan tapi pasti, buliran-buliran bening berjatuhan dari hidungnya –eh, salah! Maksudnya, berjatuhan dari mata lavendernya. XP-

-

Hinata akhirnya sampai ke sekolah. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya nanti jika bertemu dengan Naruto lagi. Maka ia hanya menelusuri koridor sekolah dengan tatapan kosong. Pikirannya sudah melayang entah kemana, sampai ketika ia menabrak seseorang.

"Ah! Hina-chan.. Apa kau baik-baik saja?" tanya sosok dengan cepol yang baru saja ditabrak Hinata.

"Umm-aku baik-baik saja Ten-chan…," jawab Hinata sambil mengusap cepat air mata di pipinya. Meninggalkan jejak-jejak halus bening di sekitar matanya.

"Apa kamu yakin? Jangan bohong Hina-chan, kamu pikir aku baru mengenalmu sehari?" Tenten terlihat tak percaya dengan jawaban Hinata.

Hinata terdiam beberapa saat. Lalu entah apa yang menggerakkan tubuhnya, ia langsung mendekati Tenten dan menangis di pelukan gadis bercepol itu.

Tenten mengerutkan alis, tampak heran namun akhirnya menghela napas. "Umm.. mungkin kau butuh istirahat di UKS…," ujarnya sambil menuntun Hinata menuju UKS.

Tapi Hinata menggeleng.

Tenten memandangnya dengan tatap tanya, "Kalau begitu… apa?"

"A-ah… yang kubutuhkan saat ini… hanya waktu. Kamu mau menemaniku?" jawab Hinata menghentikan tangisnya hingga hanya bersisa isak-isak kecil. Tenten tersenyum penuh pengertian.

"Oke, ada yang ingin kau ceritakan?"

-

Naruto berlari mengitari sekolahnya, mencari Hinata untuk meminta maaf. Namun meski sudah sedari tadi ia berusaha, gadis yang dicarinya itu tidak nampak juga. Seperti sengaja menyembunyikan diri.

"Sudahlah, Naruto.. Tak ada gunanya kau mencari Hinata-senpai. Dia tak akan memaafkan perbuatanmu semalam!" Tiba-tiba seorang gadis berambut pink berkata dengan nada sinis padanya.

Naruto mengerutkan alisnya, "Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.

"Aku melihat kau semalam berdua dengan Hinata-senpai di taman. Dan aku pun melihat apa yang telah kau perbuat kepada Hinata-senpai!" ucap gadis itu angkuh. Senyum licik menghiasi wajahnya yang manis.

Alis pemuda berambut pirang itu mengerut makin dalam, "Lantas, apa urusanmu? Ini urusanku dengan Hina-chan! Tak ada sangkut pautnya denganmu!" bentak Naruto mulai kehabisan sabar.

"Urusanmu urusanku juga!!" seru gadis itu emosi. Ia menghentakkan kakinya keras, menunjukkan kalau ia serius dengan pembicaraan ini.

Mata Naruto berkilat aneh. "Apa hakmu ikut mencampuri urusanku? Kau tak berhak mencampu-" kata-kata yang baru saja ingin dilontarkannya terpotong oleh sang gadis berambut merah muda.

"AKU BERHAK!! Karena aku sayang kamu, Naruto!! Aku sudah lama memendam perasaanku namun kau selalu saja berpaling dariku!! Bisakah kau mengerti perasaanku, Naruto??!" teriak gadis itu. Air mata mulai membayang di pelupuk matanya.

Mata Naruto terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang didengarnya, "Sakura, aku… Kau…," ia terlihat bingung memilih kata. Ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi…

"Aku tahu!! Aku memang tak layak untukmu!! Pergilah!!" kata Sakura membiarkan air matanya berlinang lebih banyak hingga melewati batas dagunya dan tepercik pada tanah itu.

"Sakura…," Naruto membelai lembut pipi Sakura, bermaksud mengusap air mata yang tak henti keluar dari mata emerald di hadapannya. Namun Sakura segera menepis tangan pemuda pirang itu.

Ia membuang muka sambil mendesis lirih, "Pergilah…,"

"Sakura, aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di sini!!" ucap Naruto sambil mengguncang bahu Sakura tak sabar. Mungkin bingung dengan kelakuan plin-plan gadis berambut pink itu.

Sakura menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang semakin mendesak keluar, "Kalau kau tak mau pergi, aku yang akan pergi!" ia bangkit, mengusap air mata di pipinya dan berbalik pergi meninggalkan Naruto. Menghiraukan segala panggilan dari orang yang disukainya itu.

.

.

'Kenapa aku selalu membuat perempuan menangis??'

-

Hinata bersandar di pundak Tenten. Sejak tadi, gadis dengan mata lavender itu hanya terdiam. Tak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Tenten tak mengetahui apa yang ada di pikiran Hinata sekarang. Setiap ia bertanya, Hinata tak akan menjawabnya dan tangisnya justru semakin menjadi.

"Ten-chan…," akhirnya Hinata angkat bicara juga. Tenten sedikit menghela napas lega. Ia menoleh, menatap sahabatnya.

"Ya?"

Hinata terdiam dahulu, "Apa itu cinta?"

Giliran Tenten terdiam, ia mengetuk-ngetukkan jemarinya ke dagu. Berpikir. "Hmm.. apa, ya?" tampaknya gadis bercepol itu tak menemukan kata yang tepat untuk melukiskan apa makna kata pendek itu.

"Apakah kau pernah merasakan apa yang dinamakan cinta?" kembali Hinata bertanya.

Tenten menggeleng, "Err-aku tak tahu…"

"Lalu, bagaimana perasaanmu dengan Neji nii-san?? Apakah perasaan itu yang dinamakan cinta?"

"Mmm.. mmungkin," jawab Tenten setelah terpaku beberapa lama. Rona merah mulai menghiasi pipinya.

"Lalu, apakah cinta itu?" Hinata masih keras kepala dengan pertanyaan sarat makna tersebut.

Tenten menghela napas berusaha bersabar. "Hinata… Cinta itu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kita hanya bisa merasakannya. Perasaan ingin berkorban bisa juga berarti cinta." Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan kembali, "Cinta juga seperti mata pedang. Ia bisa membuat yang merasakannya tersenyum, namun di saat yang sama dapat membuat kita terluka."

Gadis berambut indigo itu mengangguk-angguk mengerti, "Lalu… apakah yang kurasakan ini namanya cinta?"

"Entahlah… Hanya kamu yang dapat menilainya. Tapi sepertinya terlalu cepat bagimu untuk jatuh cinta kepada Naruto. Kamu bahkan belum terlalu mengenalnya, kan?" Tenten berusaha terdengar bijak. Ia mengusap rambut Hinata lembut.

"Tapii.."

"Hinata, biarkanlah semua mengalir apa adanya…Kayak air, gitu…"

"Aku…"

-

Bunyi bel yang berdering kencang itu membuat Hinata dan Tenten sedikit terlonjak. Mereka menoleh ke sekeliling yang mulai sepi, saling berpandangan kemudian mengangguk bersamaan. Seakan saling berkomunikasi lewat tatapan. "Hinata, ayo!"

Dan Hinata mengikuti gerak Tenten menuju kelas 7-1, tempat mereka akan melangsungkan MOS hari kedua. Gadis berambut indigo itu menghela napas panjang sebelum menapaki jalan menuju pintu masuk kelas tersebut. Rasanya mengganjal bila mengingat kejadian kemarin…

Sesaat kemudian, ia sudah menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan segala macam prasangka buruk dan trauma dari dalam pikirannya. Setelah merasa cukup tenang, Hinata kemudian memasuki kelas itu dengan langkah tegap.

"Neji-niisan…," ia berucap pelan ketika dilihatnya sosok berambut panjang yang familiar baginya itu menoleh. Neji hanya mengangguk singkat lalu memberi isyarat pada Hinata untuk mulai bicara. Hinata mendesah pelan, "Jadi begini, di hari kedua MOS ini kita akan melaksakan kegiatan di luar ruangan. Singkatnya, outdoor." Ia mulai bertutur. Neji mengangguk dan melangkah ke depan kelas

"Silahkan kalian keluar dari kelas ini. Berbarislah di lapangan." Perintah Neji kepada adik-adik kelasnya.

Adik-adik kelas mereka itu pun mengangguk, mengiyakan perintah singkat yang diucapkan dengan nada datar dari Ketua OSIS mereka. Seketika kelas itu kosong, hanya bersisa para Panitia MOS dan satu kouhai dengan penampilan mencolok.

Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto.

Ia masih terdiam di bangkunya, dengan tatapan tak lepas dari Hinata. Gadis berambut indigo itu pun merasakan ia sedang diperhatikan. Mendadak, suasana di sekitarnya jadi terasa aneh. Tak nyaman.

Tenten, yang mengetahui kalau Hinata jengah ditatapi begitu lekat oleh Naruto, lalu bergegas menghampiri anak pirang itu. "Hoi, mau apa lagi kamu disini? Tadi nggak denger disuruh ke lapangan?"

-

Naruto berjalan lunglai menuju lapangan sekolah. Ia melihat teman-teman sekelasnya sudah berbaris rapi. Dengan ogah-ogahan, ia pun mengikuti teman-temannya itu. Berbaris rapi sesuai perintah sang Ketua OSIS.

Sialnya… ia berbaris tepat di samping Sakura. Gadis yang baru saja dibuatnya menangis.

Dan benar saja, ketika tatapan mereka berdua bertemu, Sakura dengan cepat membuang mukanya. Tak mau menatap mata Naruto lebih lama. Dan itu tentu saja makin membuat Naruto merasa bersalah.

'Sial…'

Pemuda pirang itu kemudian menarik napas, mencoba memberanikan diri untuk memulai langkah awal, "Sakura..."

-TBC-

From Dilia :

Wekeke! Selese lagi dah, chapter dua inih! Khukhukhu sebenernya sih, udah diketik dari jaman kapan sama Nisa. Tapi yah, karna saya begitu lemot… ermh, akhirnya chapter ini baru selese sekarang… -sweatdrop-

Ah, ya sudahlah. Segitu aja dari saya. Yang jelas saya terima kasih banget sama reviewer kemariiin~ Ripyu lagi ya? Ya? Ya? Ya? Mau? Mau? Mau? -?-

From Nisa :

Bwahaha.. akhirnya bunda selese ngedit chapter dua juga. Aku kira sepuluh tahun lagi baru selese di edit –dilindes traktor-. Ah, lagi males banyak bacot, nih! Review aja deh, ya? Ya? –sambil ngancungin golok-

.

.

And special thanks to :

lil-ecchan, meL de ann, ai miyano, puppet vs Explosion, Kristi Tamagochi, UchIha. kANAta'ana-cHan, la auteur Dani, Inuzumaki Caleb Athena Helen, Kosuke 'Gege' Maeda, BrunoNadhGaravano, himura kyou, kawaii-haruna, kakkoii-chan, Faika Araifa, uthie-chan, Miya Sakura, meilicious lolipopalavigne, Uchiha Yuki-chan, sabaku no panda-kun.

Dilia : Thanks sooooo much! Mind to RIPYU again? Tapi…. Kenapa pen nem kalian susah-susah semua sihh???! –ngamuk gaje-

Nisa : Erm, maap. Ini bunda Dilia lagi korslet.

Dilia & Nisa : Sekali lagi, RIPYU lagi doong~! –tampang malak ala Kakuzu- Yang ripyu jadi pacarnya Jiraiya deh… -?- Makasihhh~